Perbedaan Mendasar “Penelitian Kualitatif dan Kuantitatif”

BAB II

PEMBAHASAN

  1. 1.          Pengertian Metode Kualitatif Dan Metode Kuantitatif

Berdasarkan jenis data dan cara pengolahannya, secara umum, penelitian dapat dibedakan atas penelitian kualitatif dan penelitian kuantitatif. Sebelum kita memperbincangkan kedua objek kajian tersebut alangkah baiknya kita mencari tahu “dari manakah kata itu berasal?”. Dalam KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) disebutkan bahwa kata kualitatif merupakan satu kata dengan Kualitas yang memiliki arti tingkat baik buruknya sesuatu berdasarkan kadar. Sementara kata kuantitatif satu kata dengan Kuantitas yang memiliki arti banyaknya, dalam artian benda berdasarkan jumlahnya.

Dan penelitian itu sendiri berarti penyelidikan yang hati-hati dan kritis dalam mencari fakta dan prinsip-prinsip, suatu penyelidikan yang amat cerdik untuk menetapkan sesuatu.[1] Karena penelitian adalah terjemahan dari kata Inggris “research” yang berasal dari kara “re” yang berarti “kembali” dan “to search” yang berarti mencari. Dengan demikian, arti sebenarnya dari research adalah “mencari kembali”. Dan tidak lepas dari pembahasan diatas, kita sering menemukan kata metodologi, yang mana metodologi adalah proses, prinsip, dan prosedur yang kita gunakan untuk mendekati problem dan mencari jawaban.[2]

  1. A.      Definisi Kualitatif

Menurut Strauss dan Corbin (1997: 11-13), yang dimaksud dengan penelitian kualitatif adalah jenis penelitian yang menghasilkan penemuan-penemuan yang tidak dapat dicapai (diperoleh) dengan menggunakan prosedur-prosedur statistik atau cara-cara lain dari kuantifikasi (pengukuran). Penelitian kualitatif secara umum dapat digunakan untuk penelitian tentang kehidupan masyarakat, sejarah, tingkah laku, fungsionalisasi organisasi, aktivitas sosial, dan lain-lain. Salah satu alasan menggunakan pendekatan kualitatif adalah pengalaman para peneliti dimana metode ini dapat digunakan untuk menemukan dan memahami apa yang tersembunyi dibalik fenomena yang kadangkala merupakan sesuatu yang sulit untuk dipahami secara memuaskan. Bogdan dan Taylor (1992: 21-22) menjelaskan bahwa penelitian kualitatif adalah salah satu prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif kualitatif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan prilaku yang diamati.[3]

Pendekatan kualitatif diharapkan mampu menghasilkan uraian yang mendalam tentang ucapan, tulisan, dan atau perilaku yang dapat diamati dari suatu individu, kelompok, masyarakat, atau organisasi tertentu dalam suatu seting konteks tertentu yang dikaji dari sudut pandang yang utuh, komprehensif[i], dan holistis[ii]. Penelitian kualitatif bertujuan untuk mendapatkan pemahaman yang sifatnya umum terhadap kenyataan sosial dari perspektif partisipan. Pemahaman tersebut tidak ditentukan terlebih dahulu, tetapi didapat setelah melakukan analisis terhadap kenyataan sosial yang menjadi fokus penelitian. Berdasarkan analisis tersebut kemudian ditarik kesimpulan berupa pemahaman umum yang sifatnya abstrak tentang kenyataan-kenyataan.

Istilah penelitian kualitatif menurut Kirk dan Miller (1986:9) pada mulanya bersumber pada pengamatan kualitatif yang dipertentangkan dengan pengamatan kuantitatif.[4] Penelitian kualitatif ini bersifat deskriptif[iii]. Artinya, data yang dianalisis dari gejala-gejala yang diamati, yang tidak harus selalu berbentuk angka atau koefisien[iv] antar variabel[v]. Dan terkadang pada penelitian kualitaatif, memungkinkan adanya data kuantitatif. Akan tetapi, pada penelitian kualitatif, pengumpulan dan pengolahan data umumnya bersifat pengamatan awal hingga akhir. Maka, penyajian analisis data pun akan sedikit berbeda dengan penelitian jenis kuantitatif. Karna itulah penelitian kualitatif lebih condong berada dibawah paradigma fungsionalisme[vi], objektivisme[vii], dan fakta sosial.

  1. B.      Definisi Kuantitatif

Metode kuantitatif adalah ilmu dan seni yang berkaitan dengan tata cara (metode) pengumpulan data, analisis data, dan interpretasi hasil analisis untuk mendapatkan informasi guna penarikan kesimpulan dan pengambilan keputusan. Sementara Render (2006) mengemukakan metode kuantitatif adalah pendekatan ilmiah untuk pengambilan keputusan manajerial dan Ekonomi.

Metode kuantitatif merupakan pendekatan yang menyangkut pendugaan parameter, pengujian hipotesis[viii], pembentukan selang kepercayaan, dan hubungan antara dua sifat (peubah) atau lebih bagi parameter-parameter yang mempunyai sebaran (distribusi normal) tertentu yang diketahui. Metode kuantitatif berlandaskan pada anggapan-anggapan tertentu yang telah disusun terlebih dahulu, jika anggapan-anggapan tersebut tidak sesuai dengan keadaan sebenarnya, apalagi jika menyimpang jauh maka keampuhan metode ini tidak dapat dijamin atau bahkan dapat menyesatkan. Karena itulah paradigma penelitiannya adalah paradigma ilmiah yang berasal dari pandangan positivisme[ix].[5]

  1. C.      Latar Belakang Munculnya Metodologi Kualitatif dan Kuantitatif

Setelah mengenal kedua definisi penelitian tersebut, timbul pertanyaan yang sangat mendasar yaitu, “apakah yang melatar belakangi kedua metodologi tersebut?”. Telah di singgung di atas bahwasannya paradigma kuantitatif berangkat dari pandangan positivisme, yang mana paradigm ini adalah tradisi pemikiran Prancis dan Inggris yang antara lain diilhami oleh David Hume, John Locke, dan Berkeley yang menekankan pengalaman sebagai sumber pengetahuan serta memandang pengetahuan memiliki kesamaan hubungan dengan pandangan aliran filsafat yang dikenal dengan nama positivisme. Positivisme sering juga disebut dengan label lain, seperti emperisme[x], behaviorisme, naturalisme[xi], dan “sainsisme”.[6]

Sementara tradisi pendekatan penelitian kualitatif, berasal dari paradigma Jerman yang Kantian dan Hegelian. Tradisi pemikiran Jerman yang dipengaruhi oleh Plato ini lebih humanistic[xii] karena memandang manusia sebagai manusia, serta lebih terobsesi dan dipengaruhi oleh filsafat rasionalisme (idealism) Plato. Tradisi pemikiran Jerman yang lebih Platonik[xiii], humanistik, dan idealistik itulah yang merupakan akar dari tradisi pendekatan penelitian kualitatif.

  1. 2.         Letak Perbedaan Penelitian Kualitatif dengan Penelitian Kuantitatif

Segala sesuatu yang ada, terlepas dari ia sebuah benda bahkan metode memiliki kekhususan, keistimewaan atau sifat yang unik. Terhusus bagi motode penelitian kualitatif yang membedakan dirinya dengan metode penelitian lainnya. Karena keunikan itu pula, kita jadi tahu dan bisa mengindentifikasi serta mengetahui mana yang metode penelitian kualitatif dan mana metode yang bukan penelitian kualitatif, terutama penelitian kuantitatif.

Untuk melihat perbedaan antara kedua metode penelitian ini, kita dapat mengetahui dari beberapa aspeknya, yaitu sebagai berikut.

  1. A.      Paradigma Penelitian yang Digunakan

Menurut Bogdan dan Biklen (1982:30), paradigma dinamai sebagai kumpulan longgar tentang asumsi yang secara logis dianut bersama, konsep atau proposisi yang mengarahkan cara berfikir dan cara penelitian. Karena diranah penelitian kita perlu membedakan penelitian yang dilakukan terutama untuk kepentingan bisnis atau birokrasi, yang kita sebut sebagai instrumental, dan penelitian yang tujuannya untuk memperoleh pengetahuan abstrak.[7]

Dalam penelitian kualitatif, paradigma yang dipakai adalah paradigma alamiah yang bersumber dari pandangan fenomenologis. Berbeda halnya dengan penelitian kuantitatif, paradigmanya berasal dari pandangan positivism. Dalam penjelasan yang lebih rinci, Lincoln dan Guba (1985: 37) menerangkan bahwa keunikan paradigm alamiah terletak pada lima aksiomanya yaitu sebagai berikut.

  1. Aksioma tentang Hakikat Kenyataan
  2. Aksioma tentang Hubungan “Pencari Tuhan” dan “yang Tahu”
  3. Aksioma tentang Kemungkinan Generalisasi
  4. Aksioma tentang Kemungkinan Hubungan Sebab-Akibat
  5. Aksioma tentang Peranan Nilai

Serta perbedaan mendasar paradigma penelitian kuantitatif dan kualitatif adalah kuantitatif selalu memiliki asumsi bahwa fakta social memiliki kenyataan objektif, mengutamakan metode variable dapat diidentifikasikan, etik (pandangan dari luar). Dan memiliki maksud general, prediksi, dan penjelasan kausal.  Dengan menggunakan pendekatan hipotesis dan teori, manipulasi dan control, eksperimentasi, deduktif, analisis komponen, mencari consensus, mereduksi data dengan jalan indicator numerkal. Dan peranannya adalah tidak terikat dan tidak harus memperkenalkan diri, gambaran objektif.[8]

Sementara penelitian kualitatif memiliki asumsi bahwa kenyataan dibangun secara social, mengutamakan bidang penelitian, pariabel kompleks, terkait satu dengan yang lainnya serta sukar diukur, emik (pandangan dalam diri). Dan memiliki maksud mengkontekstualisasi, interpretasi, memahami perspektif ‘subjek’. Menggunakan pendekatan berakhir dengan hipotesis dan teori grounded, muncul dan dapat digambarkan, penelitian sebagai instrument, mencari pola-pola, mencari pluralisme, kompleksitas, hanya sedikit menggunakan indicator numerical, penulisan laporan secara deskriptif. Dan perannya adalah keterlibatan secara pribadi dan pengertian empatik.

B. Perbedaan Mendasar Selain dari Paradigma Penelitian

  1. Maksud Penelitian

Metode kuantitatif berupaya membuat deskripsi objektif tentang fenomena terbatas dan menentukan apakah fenomena dapat dikontrol melalui beberapa intervensi. Sementara secara kualitatif berarti mengembangkan pengertian tentang individu dan kejadian dengan memperhitungkan konteks yang relevan.

  1. Identifikasi Masalah

Metode kuantitatif lebih menggambarkan masalah dalam bentuk keterangan hubungan antar variable, hubungan sebab-akibat (causal), hubungan perbandingan (comparative) atau hubungan asosiatif. Sementara metode kualitatif biasanya dirumuskan secara umum dan luas, tetapi pada saat pengumpulan data melalui wawancara masa2lah itu akan dipersempit.[9]

  1. Pendekatan
    Metode kuantitatif sebisa mungkin menjelaskan penyebab fenomena sosial melalui pengukuran objektif dan analisis numerical. Sementara kualitatif, berasumsi bahwa subject matter suatu ilmu sosial adalah amat berbeda dengan subject matter dari ilmu fisik atau alamiah dan mempersyaratkan tujuan yang berbeda untuk inkuiri dan seperangkat metode penyelidikan yang berbeda. Induktif, berisi-nilai, holistik, dan berorientasi proses.
  2. Asumsi
    Metode Kuantitatif berasumsi bahwa tujuan dan metode ilmu sosial adalah sama dengan ilmu fisik atau alamiah dengan jalan mencari teori yang dites atau dikonfirmasikan yang menjelaskan fenomena. Deduktif, bebas-nilai, terfokus, dan berorientasi pada tujuan. Sementara kualitatif berasumsi perilaku terikat konteks dimana hal itu terjadi dan kenyataan sosial tidak bisa direduksi menjadi variabel-variabel sama dengan kenyataan fisik. Berupaya mencari pemahaman tentang kenyataan dari segi perspektif orang dalam, menerima subjektifitas dari peneliti dan pemeran-serta.
  3. Model Penjelasan

Metode kuantitatif menekankan penemuan fakta sosial tidak berasal dari persepsi subjektif dan terpisah dari konteks. Sementara kualitatif, upaya generalisasi tidak dikenal karena perilaku manusia selalu terikat konteks dan harus diinterpretasikan kasus per kasus.

  1. Hubungan Peneliti dengan Subjek

Metode kuantitatif, berasumsi bahwa cara ini dapat menemukan hukum yang menambah pada prediksi yang dapat dipercaya dan pada kontrol tentang kenyataan/fenomena. Mencari keteraturan dalam sampel individu; analisis statistik menyatakan kecenderungan tentang perilaku dan kecenderungan sudah cukup kuat untuk memperoleh nilai praktis. Sementara kualitatif, peneliti secara aktif berinteraksi secara pribadi. Proses pengumpulan data dapat diubah dan hal itu bergantung pada situasi. Peneliti bebas menggunakan intuisi dan dapat memutuskan bagaimana merumuskan pertanyaan atau bagaimana melakukan pengamatan. Individu yang diteliti dapat diberi kesempatan agar secara sukarela mengajukan gagasan dan persepsinya dan malah mengantisipasi dalam analisis data.

  1. Metode Penelitian

Metode kuantitatif mengutamakan terstruktur, formal, ditentukan terlebuh dahulu, tidak luwes, dijabarkan secara rinci terlebih dahulu sebelum penelitian dilakukan dapat diteliti; konteks situasi diabaikan atau dikontrol. Data dikumpulkan dalam beberapa interval dan memfokus pada pengukuran yang tepat. Sementara kualitatif, historical, etnografis, dan studi kasus. Intervensi dan berupaya agar gangguan sesedikit mungkin.

  1. Hipotesis

Metode kuantitatif menekankan deskriptif, korelasional, perbandingan-kausal, dan eksperimen. Sementara kualitatif cenderung untuk mencari dan menemukan dan menyimpulkan hipotesis, hipotesis dilihat sebagai sesuatu yang tentatif, berkembang, dan didasarkan pada suatu studi tertentu.

  1. Pengukuran

Metode kuantitatif selalu cenderung hampir selalu mengetes hipotesis. Hipotesis dilihat sebagai sesuatu yang khusus, dapat dites, dan dinyatakan sebelum sesuatu studi dilakukan. Sementara kualitatif cenderung memiliki prosedur yang sedikit subjektif; peneliti memiliki kemampuan untuk mengamati dan berinteraksi dengan manusia lainnya dan dengan lingkungan; percaya bahwa kemampuan manusia diperlukan untuk melaksanakan tugas yang rumit dan terhadap dunia yang sangat bervariasi dan yang selalu berubah.

  1. Review Kepustakaan

Metode kuantitatif cenderung memiliki tujuan pengukuran yang objektivitas, memberi makna pada scoring dan pengumpulan data tidak dipengaruhi oleh nilai-nilai peneliti, ‘bias’ dan persepsi; banyak bergantung pada tes, skala dan kuesioner terstruktur yang dapat diadministrasikan pada kondisi baku terhadap seluruh individu dalam sampel dan prosedur untuk scoring data dirinci secara tepat untuk meningkatkan kemungkinan terjadinya bahwa setiap dua skor memperoleh hasil yang sama. Akhirnya, baku dan numerical. Sementara kualitatif cenderung terbatas, sebagai acuan teori, dan tidak mempengaruhi studi. Tidak dilakukan untuk mengkaji teori karena dengan cara ini bukan dengan cara ini bukan mengkaji teori tetapi menemikan teori dari data.

  1. Sifat Penelitian

Metode penelitian kualitatif bersifat antara lain kebenaran bersifat relative, tafsiriahdan interpretatf. Sedangkan dalam metode kuantitatif lebih bersifat behavioristic-mekanistik-empiristik.

  1. Statregi Pengumpulan Data

Metode kuantitatif cenderung bersifat numeric, variable dioperasionalkan, kode dikuantifikasikan, statistical, dihitung dan diadakan pengukuran. Sementara metode kualitatif, Pengumpulan dokumen, pengmatan berperan serta (participant observation), wawancara tidak terstruktur dan informal, mencatat lapangan secara intensif, menilai artifak[xiv].[10]

  1. Masalah

Metode kuantitatif selalu mengutamakan mengontrol variable, validitas. Sementara kuantitatif cenderung Memakan waktu, prosedur tindakan baku, reliabilitas-keabsahan data.

  1. 3.       Korelasi Antara Metode Kualitatif Dan Metode Kuantitatif

Kebanyakan orang memandang setiap perbedaan memiliki keunggulan dan kelemahan masing-masing, dan memiliki fanatisme berpikir terhadap paradigma yang ada, serta mempertahankan apa yang diyakini, memakai satu landasan berpikir dan mengabaikan yang lain tanpa terbuka untuk mencari tahu apakah korelasi[xv] yang terjadi diantara keduanya. Setelah kita memahami pengertian metodologi kualitatif dan metodologi kuantitatif serta penjelasan tentang perbedaan dan keunggulan masing-masing perlu digaris bawahi juga mengenai korelasi antara kedua metodologi ini, yang merupakan penjabaran yang lebih dalam untuk memahami keunikan dan hubungan yang terjalin antara keduanya, apakah metode satu lebih unggul dari yang lainya ataukah kedua metode ini saling melengkapi.

Manusia adalah mahluk dua dimensi jika di pandang dalam kacamata filsafat dan tasawuf, oleh karena itu manusia memiliki dua dimensi yang tidak bisa terlepas dari unsur manusia. Manusia adalah mahluk matrealis, atau terkandung di dalam diri manusia sebagai mahluk materi dan juga mahluk spiritualis, karena tidak bisa kita menafikkan bahwa manusia memiliki jiwa yang tidak berhubungan dengan dunia materi.

Dari uraian di atas dapat dipahami bahwa untuk memahami manusia dan segala tindakan atau akibat yang ditimbulkan manusia, kita tidak bisa terlepas dari kedua dasar landasan ini. Seperti yang telah kita singgung diatas bahwasanya kedua paradigma ini memeliki dasar filosoifis masing-masing, yaitu aliran positivisme[xvi] dan rasionalisme[xvii]. Aliran positivisme melahirkan paradigma kuantitatif dan aliran rasionalisme melahirkan paradigma kualitatif

Di zaman modern ini yang condong memakai paradigma positivis menganggap bahwa metode kuantitatif lebih objektif dan lebih empiris, atau dapat dianalisis kebenaranya. Metode kuantitatif digunakan untuk menggambarkan pendekatan-pendekatan yang dikembangkan dalam ilmu pengetahuan alam dan penelitian sosial, karena metode kuantitatif adalah pendekatan ilmiah untuk pengambilan keputusan manajerial dan ekonomi dan merupakan pendekatan yang menyangkut pendugaan parameter, pengujian hipotesis[xviii], pembentukan selang kepercayaan, dan hubungan antara dua sifat (peubah) atau lebih bagi parameter-parameter yang mempunyai sebaran (distribusi normal) tertentu yang diketahui

Kant menolak tegas argument tradisi pemikiran positivisme ala Prancis dan Inggris yang terlampau empirisme dan mereduksi[xix] jiwa manusia menjadi tak lebih dari film kamera. Penolakanya bertolak dari kenyataan sejarah umat manusia itu sendiri, yang selamanya diwarnai oleh ide-ide besar, padahal ide-ide tersebut bukanlah “gambaran hasil potret” pengalaman empirik[xx] contoh konkretnya seperti ide-ide tentang Tuhan, alam akhirat, surga dan neraka. Ide-ide tersebut telah sedemikian lama hidup dalam pandangan jiwa umat manusia dan secara kuat mempengaruhi perilaku mereka sehari-hari. Apakah ide-ide tadi merupakan hasil potret pengalaman empiris umat manusia? Jawabanya jelas tidak, karena Tuhan, alam akhirat, surga dan neraka tak pernah muncul dalam dunia observasi dan pengalaman empiris manusia[11].

Dari kedua pandangan di atas sungguh disayangkan jika lebel “kaulitatif” dan “kuantitatif” menjadi dua metode yang bertentangan. Sementara peneliti kuantitatif menilai metode kualitatif kurang objektif dan sebaliknya peneliti kualitatif menilai metode kuantitatif kurang teoritis dan kritis. Kedua pandangan diatas nampaknya telah luput dari pengertian-pengertian yang sesungguhnya. Akibatnya, peneliti terkadang tidak melihat potensi-potensi yang dimiliki oleh setiap metode. Para akademis menjadi lebih terpaku dalam urusan dukung mendukung antara satu metode dengan metode yang lain. Pemisahan metode secara bertetangan ini berbahaya bagi pemahaman metode-metode penelitian dan analisis. Contoh kasus; Para cendikiawan budaya, khususnya, sering kali sangat keras menyerang pendekatan-pendekatan kuantitatif, yang mereka anggap sebagai vulgar dan janggal. Dalam apa yang disebut James D. Halloran sebagai “tirani absolutisme[xxi] dari non absolutisme” (1998 : 30), banyak peneliti menolak untuk merenungkan adanya kemungkinan bahwa  peneliti kuantitatif mungkin bisa memberikan mereka wawasan-wawasan tertentu. Pada saat yang sama, para cendikiawan dari tradisi kuantitatif menganggap bahwa rule of evidence yang digunakan oleh para peneliti kajian budaya bersifat mengada-ada. Mereka lantas mengkritik kajian budaya karena bersifat subjektif dan tidak konsisten. Sesungguhnya, peneliti dari kedua tradisi bekerja dengan komitmen, ketekunan, dan integritas[xxii] untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang mereka pertimbangkan penting. Prasangka, bias, dan pengabaian mencegah para pendukung paradigma tertentu untuk melihat betapa berharganya pendekatan atau paradigm yang lain[12].

Dari sini jelaslah bahwa kedua metodologi ini memiliki korelasi yang saling menguatkan untuk mencari fakta yang ada pada manusia, karena seperti yang telah kita bahas bahwasanya manusia adalah mahluk dua dimensi yang tidak bisa terlepas dari keduanya, manusia sebagai mahluk materi memiliki peranan penting mengenai jumlah dan fakta-fakta empiris, sedangkan manusia sebagai mahluk spiritualis juga memiliki peran penting mengenai kedalaman jiwa dan kehendak yang tidak bisa di ukur secara empiris. Kedua metode ini memiliki peran masing-masing yang sangat penting, tergantung objek kajian apa yang akan diteliti dan para peneliti dapat memilih berjenis-jenis metode mana yang cocok dalam melaksanakan penelitiannya.

  1. 4.       Manfaat Metodologi Kualitatif Dan Metodologi Kuantitatif

Metodologi penelitian yang memiliki peran sebagai cara, proses, prinsip, prosedur atau tuntuna sistematis[xxiii] untuk menemukan pengetahuan agar menjadi karya ilmiah yang bisa dikaji dan di analisis kebenaranya sehingga menjadi bermanfaat bagi perkembangan ilmu pengetahuan, memiliki peran yang signifikan untuk menemukan pengetahuan baru atau mengembangkan pengetahuan yang ada. Maka dari itu, baik metodologi kualitaif dan dan metodologi kuantitatif mempunyai tujuan masing-masing dan manfaatnya bagi perkembangan ilmu pengetahuan.

Seperti yang telah di uraikan di atas mengenai peran yang unik masing-masing ilmu metodologi ini, kedua metodologi ini memiliki tujuan penelitiannya masing-masing. Metode kualitatif ditujukan untuk empat hal, yaitu sebagai berikut:

  1. Menemukan pola hubungan yang bersifat interaktif.
  2. Mengembangkan realitas yang kompleks.
  3. Memperoleh pemahaman makna.
  4. Menemukan teori[13].

Sementara itu, untuk penlitian kuantitatif tujuanya adalah untuk menunjukkan hubungan antar-variabel, menguji teori, dan mencari generalisasi yang mempunyai nilai prediktif. Glesne dan Peshkin (1992) dalam Alting (2010: 143), yaitu bahwa penelitian kuantitatif memiliki tujuan melakukan generalisasi atas temuan penelitian sehingga darinya dapat digunakan untuk memprediksi situasi yang sama pada populasi lain. Penelitian kuantitatif menjelaskan pula sebab-akibat antar variable yang diteliti. Sedangkan, penelitian kualitatif bertujuan untuk menjelaskan realitas secara konrtekstual. Dalam konteks ini, interpretasi berperan besar pada pemahaman peneliti terhadap fenomena yang menjadi perhatiannya, dan pada pemahaman partisipan terhadap masalah yang diselidiki[14].

Maka dapat disimpulkan bahwa manfaat dari metodologi kualitatif adalah untuk meneliti kondisi objek yang bersifat alamiah, sedangkan metodologi Penelitian kuantitatif adalah metode untuk membuat deskripsi objektif tentang fenomena terbatas dan menentukan apakah fenomena dapat dikontrol melalui beberapa intervensi atau tidak. Dan tujuan dari semua penelitian yaitu untuk menjelaskan, meramalkan atau mengira-ira dan mengontrol kejadian.

BAB III

KESIMPULAN

Hal paling penting yang harus diingat terkait dengan penggarapan penelitian adalah menemukan sesuatu yang bisa kita nikmati untuk dikerjakan. Dan cara penggarapannya adalah berdasarkan jenis data dan cara pengolahannya, yang secara umum, penelitian dapat dibedakan atas penelitian kualitatif dan penelitian kuantitatif.

Perbedaan dari kedua jenis penelitian ini sangat mendasar yaitu bias kita lihat dari paradigma yang membedah penelitian tersebut. Dalam penelitian kualitatif, paradigma yang dipakai adalah paradigma alamiah yang bersumber dari pandangan fenomenologis. Berbeda halnya dengan penelitian kuantitatif, paradigmanya berasal dari pandangan positivism. Selain itu kita bias melihat perbedaan yang mendasar lainnya seperti di ranah maksud penelitian, identifikasi masalah, pendekatan, asumsi, metode penjelasannya, hubungan penelitian dengan subject, metode yang digunakan, hipotesis, pengukuran, reviw kepustakaan, sifat penelitian, strtegi pengumpulan data, dan masalahnya.

Dari kedua pandangan di atas sungguh disayangkan jika lebel “kaulitatif” dan “kuantitatif” menjadi dua metode yang bertentangan. Sementara peneliti kuantitatif menilai metode kualitatif kurang objektif dan sebaliknya peneliti kualitatif menilai metode kuantitatif kurang teoritis dan kritis. Namun tidak bias di pungkiri kedua metodologi ini memiliki korelasi yang saling menguatkan untuk mencari fakta yang ada pada manusia. Serta berperan sebagai cara, proses, prinsip, prosedur atau tuntuna sistematis untuk menemukan pengetahuan agar menjadi karya ilmiah yang bisa dikaji dan di analisis kebenaranya sehingga menjadi bermanfaat bagi perkembangan ilmu pengetahuan.


[1] Moh. Nazir, Metode Penelitian, (Bogor: Ghalia Indonesia, 2005), hal. 12.

[2] Deddy Mulyana, Metodologi Penelitian Kualitatif, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2001), hlm. 145.

[3] Andi Prastowo, Metode Penelitian Kualitatif dalam Perspektif Rancangan Penelitian, (Depok: Ar-Ruzz Media, 2011), hal. 22.

[4] Lexy j. Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatif, (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2009), hlm. 2.

[5] Andi Prastowo, Metode Penelitian Kualitatif dalam Perspektif Rancangan Penelitian, (Depok: Ar-Ruzz Media, 2011), hal. 36.

[6] Burhan Bungin, Metode Penelitian Kualitatif, (Jakarta: PT Rajagrafindo Persada, 2001), hal. 45.

[7] Jane Stokes, How To Do Media and Cultural Studies-Panduan untuk Melaksanakan Penelitian dalam Kajian Media dan Budaya, (Yogyakarta: Benteng, 2003), hal. 18.

[8] Lexy j. Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatif, (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2009), hlm. 56.

[9] Conny R. Semiawan, Metode Penelitian Kualitatif, (Jakarta: PT Grasindo, 2010), hal. 72.

[10] Lexy j. Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatif, (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2009), hlm. 35.

[11] Burhan Bungin, Metode Penelitian Kualitatif, (Jakarta: PT Rajagrafindo Persada, 2001), hal. 46

[12] Stakes, How To Do Media and Cultural Studies, (Bandung: PT Bentang Pustaka, 2003), hal. xii

[13] Prastowo, Metode Penelitian Kualitatif dalam Perspektif Rancangan Penelitian (Jogjakarta: AR-RUZZ MEDIA, 2011) hal. 41.

[14] Prastowo, Metode Penelitian Kualitatif dalam Perspektif Rancangan Penelitian (Jogjakarta: AR-RUZZ MEDIA, 2011) hal. 42.


[i] Komprehensif: bersifat mampu menangkap (menerima) dengan baik serta memperlihatkan wawasan yang luas.

[ii] Holistis: Berhubungan dengan sistem keseluruhan sebagai suatu kesatuan.

[iii] Deskriptif: Bersifat menggambarkan apa adanya.

[iv] Koefisien: Bagian suku yang berupa bilangan atau konstan, biasanya dituliskan sebelum lambang peubah.

[v]Variabel: dapat berubah-ubah, berbeda-beda, bermacam-macam atau unsur yang ikut menentukan perubahan.

[vi] Fungsionalisme: Teori yang menekankan bahwa unsur-unsur di dalam suatu masyarakat atau kebudayaan itu saling bergantung dan menjadi kesatuan yang berfungsi; doktrin atau ajaran yang menekankan manfaat kepraktisan atau hubungan fungsional.

[vii] Objektivisme: Paham atau aliran yang menerima segala sesuatu secara objektif.

[viii] Hipotesis: Sesuatu yang dianggap benar untuk alasan atau pengutaraan pendapat meskipun kebenarannya masih harus dibuktikan (angg2apan dasar).

[ix] Positivisme: Aliran filsafat yang beranggapan bahwa pengetahuan itu semata-mata berdasarkan pengalaman dan ilmu yang pasti.

[x] Empirisme: Aliran ilmu pengetahuan dan filsafat berdasarkan metode empiris atau teori yang mengatakan bahwa semua pengetahuan didapat dengan pengalaman.

[xi] Naturalisme: Usaha untuk menerapkan pandangan ilmiah tentang dunia alamiah pada filsafat dan seni.

[xii] Humanistic: Berasal dari kata humanis yang berarti orang yg mendambakan dan memperjuangkan terwujudnya pergaulan hidup yang lebih baik, berdasarkan asas. Perikemanusiaan, pengabdi kepentingan sesama umat manusia (bersifat kemanusiaan).

[xiii] Platonik: Sepenuhnya spiritual, bebas dari nafsu berahi dan cinta kasih tanpa nafsu.

[xiv] Artifak-Artefak: Benda-benda, seperti alat, perhiasan yang menunjukkan kecakapan kerja manusia (terutama pada zaman dahulu) yang ditemukan melalui penggalian arkeologi.

[xv] Korelasi: hubungan timbal balik atau sebab akibat.

[xvi] Positivisme: aliran filsafat yang beranggapan bahwa pengetahuan itu semata-mata berdasarkan pengalaman dan ilmu yang pasti.

[xvii] Rasionalisme: teori (paham) yang menganggap bahwa pikiran dan akal merupakan satu-satunya dasar untuk memecahkan problem (Kebenaran) yang lepas dari jangkauan Indra, pahm yang lebih mengutamakan (kemampuan) akal daripada emosi atau batin.

[xviii]Hipotesis: Sesuatu yang dianggap benar untuk alasan atau pengutaraan pendapat meskipun kebenarannya masih harus dibuktikan (angg2apan dasar).

[xix] Mereduksi: (reduksi) membuat pengurangan, pemotongan.

[xx] Empiric atau Empiris: Berdasarkan pengalaman.

[xxi] Absolutisme: Mutlak, sepenuhnya, tanpa syarat, tidak dapat diragukan lagi dan nyata.

[xxii] Integritas: mutu, sifat, atau keadaan yang menunjukkan kesatuan yang utuh sehingga memiliki potensi dan kemampuan yang memancarkan kewibawaan; kejujuran.

[xxiii] Sistematis: teratur menurut system; memakai siste; dengan cara yang diatur baik-baik.

By. TaRa & Zain

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s