Sekilas Mengulas “Al Ghazali”

BAB I

PENDAHULUAN

  1. 1.      Latar Belakang Masalah

Al-Ghazali sebagai filosof besar Islam dan controversial di kalangan filusuf-filusuf Islam lainnya, merupakan sesosok figure yang banyak mendatangkan debat dalam Islam, baik pro maupun kontra. Tetapi dibalik itu semua al-Ghazali merupakan filosof dan Sufi di kalangan Islam. Namun di satu sisi, al-Ghazali di sebut sebagai penyebab kemunduran pemikiran filsafat dalam Islam, karena ucapan nya yang pedas dan tajam terhadap para filosof Islam yang di nilainya menyimpang. Tetapi disisi lain, ia juga di anggap sebagai filosof terbesar sepanjang sejarah peradaban islam. Nurkholis Madjid menyebutkan al-Ghazali dimata banyak sarjana modern Muslim maupun bukan Muslim adalah orang terpenting sesudah Nabi Muhammad SAW. Di tinjau dari segi pengaruh dan peranannya menata dan mengukuhkan ajaran-ajaran keagamaan. Bahkan HAR Gibb, seorang orientalis Barat, menempatkan al-Ghazali sejajar dengan St. Agustinus dan Martin Luther, dan menyatakan bahwa al-Ghazali mempunyai perjalanan religious yang menawan dan telah berusaha mencari realitas  tertinggi lewat seluruh keagamaan.

Pengkritikan al-Ghazali terhadap filosof Muslim dalam bukunya Thahafut al-Fhalasifah bukanlah pengkritikan terhadap keseluruhan para filosof Muslim. Namun pengkritikannya terhadap Metafisikannya al-Farabi dan Ibnu Sina yang Neo-platonis. Tuduhan al-Ghazali terhadap Ibn Sina dan al-Farabi tidaklah tepat terutama dengan ke qodiman alam, kebangkitan alam dan ketidaktahuan Tuhan terhadap hal-hal yang partikular. Padahal kedua filosof itu tidak persis mengatakan demikian.

Dalam pemikiran Al-Ghazali tentang alam indera yang kasat mata dan yang tidak, ia membaginya menjadi dua bagian: pertama, alam yang tampak mata atau alam indera yaitu berupa yang bisa di lihat oleh idera kita. Kedua, alam kasat mata atau supranatural yaitu dimana alam ini tidak bisa di lihat oleh indera penglihatan (mata).

 

  1. 2.      Rumusan Masalah

Dari rumusan ini kita bisa mengambil

  1. Dari manakah asal al-Ghazali
  2. Bagaimanakah pemikiran-pemikiran
  3. Apa saja yang telah beliau sumbangkan terhadap dunia islam 
  4. 3.      Tujuan dan Kegunaan

Sebagaiman yang telah ketahui bahwa al-Ghazali adalah seorang filusuf yang banyak mengundang kontroversi maupun debat. Tidaklah semua kritikan beliau terhadap para filosof Muslim itu mengakibatkan kemunduran pada kaum filosof namun, berkat kritikannya para filosof Muslim semakin berkreasi dan kritis terhadap tulisan-tulisan maupun yang lainnya. Karena bagi kalangan filosof sebuah pengkritikan merupakan hal yang wajar. Al-Ghazali membawa pengaruh yang sangat besar kesali terhadap dunia Islam

Adapun tujuan untuk mempelajari Biografi al-Ghazali antara lain:

v  Lebih mengenali sosok al-Ghazali secara mendalam.

v  Membaca dan memahami pemikiran-pemikirannya.

v  Menyelami lautan ilmu al-Ghazali

 

 

BAB II

  1. 1.      Riwayat Al Ghazali

Al Ghazali memiliki nama lengkap Abu Hamid Muhammad ibn Muhammad ibn Muhammad al-Ghazali al-Thusi.  Dalam tulisan Drs. Aslan Hadi di jelaskan bahwa kata “al-Ghazali” tersebut sering diucapkan dengan dua jenis sebutan. Pertama “al-Ghazzali” (double z) dan yang kedua “al-Ghazali” (menggunakan satu huruf z). Nama al-Ghazzali dengan dua huruf “z” di ambil dari kata “Ghazal”, artinya tukang pemintal benang. Sebutan ini sesuai dengan pekerjaan ayah al-Ghazali yang memiliki profesi sebagai pemintal benang. Sedangkan sebutan yang kedua “al-Ghazali”  (dengan satu huruf  z), di ambil dari kata “Ghazalah”, sebuah nama kampung di wilayah Thus, Khurasan provinsi Persia Utara, tempat dimana al-Ghazali di lahirkan pada tahun 450 H. atau 1058 M. Dikalangan umum, sebutan terakhir itulah yang banyak di pakai orang[1]. Dan karena alasan itu pula Abu Hamid (sebenarnya Hamid adalah nama kenangan putra yang telah meninggal, dan nama aslinya adalah Muhammad) terkenal dengan nama panggilan al-Ghazali. Di daerah Ghazal inilah al-Ghazali memulai hidupnya dengan belajar ilmu fiqih (hukum).

Sekarang ini, nama al-Ghazali sangat populer di kalangan Akademik, Cendekiawan, Fhilosof, Intelektual terutama santri di kalangan Indonesia, serta memberi pengaruh besar terhadap ilmu pengetahuan dan etika. Popularitas tersebut, ternyata bertolak belakang dengan kehidupan al-Ghazali sewaktu kecil. Secara ekonomis al-Ghazali di lahirkan dan di besarkan dari kalangan keluarga miskin. Ayahnya seorang pemintal benang, memiliki penghasilan yang tidak begitu besar. Untuk menyekolahkan al-ghazali dan saudaranya bernama Ahmad, ayahnya menitipkan kedua anaknya kepada salah satu sahabatnya yang juga seorang guru dan ahli fiqih, yang bernama Ahmad bin Muhammad al- Razakani.[2] Dari gurunya tersebut, yang juga dikenal sebagai Sufi, ayahnya berharap kelak kedua anaknya memiliki pengetahuan yang luas dan mendalam. Toko Sufi inilah guru pertama al-ghazali dari sinilah al-ghazali dan saudaranya mendapatkan berbagai macam ilmu pengetahuan.

Setelah al-Ghazali dan saudaranya belajar dengan Ahmad bin Muhammad. Karena dirasa ayahnya sudah tidak mampuh lagi mencukupi kebutuhan al-Ghazali dan saudaranya, ayahnya memasukkan kedua anaknya kesekolah yang memberikan beasiswa dan biaya hidup gratis kepada murid-muridnya. Sekalipun sekolah ini sederhana, namun sekolah ini memiliki tenaga pengajar yang sangat alim dan mendalam dalam ilmunya. Salah satu pengajarnya adalah seorang Sufi yang bernama Yusuf al-Nassaj. Ia belajar tasawuf, Yusuf ini merupakan guru utama bagi al-Ghazali.

Selain itu, al-Ghazali belajar fiqih kepada Abu Nashr al Isma’ili, di Jurjan, tepatnya di Mazardaran. Setelah al-ghazali tamat belajar di jurjan beliau melanjutkan ke Naisabur, tepatnya di “Nidzamiyah” mendalami teologi, hukum Islam, filsafat, logika, sufisme dan ilmu-ilmu alam. Kepada seorang teolog besar asyariyah bernama Abu al-Maali al-juwaini, lebih di kenal dengan panggilan Imam Haramain. Disamping al- Ghazali belajar, beliau juga di angkat sebagai asisten pengajar al juwain. Dan di tempat ini beliau menulis karya pertama yang berjudul Al-Mankhul Min Ilm al-Khusul (Ikhtisar Ilmu Tentang Prinsip-prinsip) berbicara tentang metodologi dan teori hukum.

Nah dari sini sebenarnya, siapakah sebenarnya al-Ghazali itu dan bagaimana sejarah petualangan filsafatnya? Menurut Qardlawi, al-Ghazali adalah salah seorang pemikir filsafat kemanusiaan. Al-Ghazali juga di juluki sebagai “Permata Sepanjang” Masa. Beberapa julukan yang menandakan kelebihannya tersebut, mengantarkan al- Ghazali kepada pemberian gelar sebagai “Hujjatul Islam” (Sang Pembela Agama) dan “Zainuddin” (Hiasan Agama).

Pada saat itu, popularitas Al-Ghazali sedang naik daun sebagai alim ulama yang sangat kesohor dan sudah terdengar dimana-mana. Sehingga banyak para alim ulama yang ingin bertemu dengannya hanya untuk mendengarkan pendapat dan pemikirannya Al-Ghazali. Maka tidak heran, Al-Ghazali berkunjung ke Muaskar setelah wafatnya sang Guru Imam Haramain (tahun 478 H/1058 M), seorang menteri Nizamul Mulk dari pemerintahan dinasti saljuk yang memiliki kekuasaan yang luas, menyambutnya dengan gembira. Di daerah ini, beliau mendapat kehormatan untuk berdebat dengan para ulama. Dari perdebatan yang di menangkannya ini, namanya semakin populer dan di segani karena keluasan ilmunya. Menteri ini mempunyai keinginan yang sangat besar agar al-Ghazali bisa berada di negerinya, tinggal menetap sebagai warga negaranya. Untuk mewujudkan keinginannya tersebut, maka pada tahun 483 H/1090 M. Sang menteri mengambil inisiatif dengan cara mengangkat al-Ghazali menjadi seorang guru utama, dengan tugas memberikan kuliah rutin selama dua minggu sekali di hadapan para pembesar istana dan pakar negeri tersebut. Kegiatan ini dilakukan oleh al-Ghazali selama empat tahun lamanya. Selain itu, al-Ghazali di angkat sebagai penasehat perdana menteri. Pengalaman hidup al-Ghazali di sekolah Nizhamiyah ini di jelaskan dalam bukunya Al-Munqiz min al-Dhalal.[3] Selama mengajar di madrasah ini dengan tekunnya al-Ghazali mendalami filsafat secara otodidak, terutama pemikiran al-Farabi, Ibnu Sina, Ibn Miskawaih, dan Ikhwan al-Shafa’ penguasaannya terhadap filsafat terbukti dalam karyanya, seperti: Al-Maqashid al-Falsafah dan Tahafut al-Falasifah.

Perlu diketahui bahwa al-Ghazali di angkat sebagai guru besar pada umur tiga puluh empat tahun, walaupun umurnya masih muda. Banyak para ulama besar yang berguru kepadanya. Diantara yang berguru kepadanya adalah Abu al-Khittab dan Ibnu Aqil, dua orang toko ini adalah bermazhab Hambali.

Di tengah-tengah mengalirnya pengakuan, kekaguman atas kealiman dirinya. Al-Ghazali di landa skeptis yang hebat, yang di sebabkan keraguannya terhadap hakikat kebenaran ilmu pengetahuan yang dimiliki manusia. Karean skeptis nya itu, al-Ghazali menderita penyakit selama dua bulan, dan sulit di obati. Karena itu, al-Ghazali tidak dapat menjalankan tugasnya sebagai guru besar di Madrasah Nizhamiyah. Maka sekitar tahun 488 H, beliau berhenti mengajar, lalu meninggalkan Baghdad menuju Kota Damsyk, menjalani hidup menyendiri, mencari ketenangan, jauh dari keramaian umum dan melakukan kontemplasi. Keadaan demikian berlangsung kurang lebih selama 10 tahun (sepuluh tahun)[4]. Dalam rentang waktu tersebut, al-Ghazali sering pindah-pindah tempat dimulai ke Damaskus, Yerussalem, Mekkah, dan kembali lagi ke Damaskus dan terakhir ke Baghdad. Pernah menetap di Hamadan, daerah Iran untuk beberapa waktu lamanya, lalu pindah ke Thus (setelah melakukan ibadah Haji), Palestina, Mekkah, Madina. Kemudian atas permintaan putra sultan Nidzamul Mulk bernama Fakhru Mulk, al-Ghazali kembali lagi mengajar di perguruan Nidzamiyah di Naisabur, pada tahun 499 H. Namun kegiatan mengajarnya tidak berlangsung lama. Beliau meminta berhenti dan kembali lagi ke Thus, lalu mendirikan sebuah perguruan dan Khanaqah (semacam kolese) bagi kaum Sufi. Letaknya dekat dengan rumah Al-Ghazali. Kegiatan yang di lakukan di Khanaqah berlangsung di jalani sampai Imam Al-Ghazali meninggal dunia pada tahun 505 H (111 M)[5].

Al ghazali menemukan kenyataan bahwa terdapat empat golongan yang mencari kebenaran. Diantaranya[6] :

Pertama, Ahli ilmu kalam (teolog) yang mengaku pandai melakukan spekulasi intelektual dan penalaran bebas. Kedua, Bathiniyah atau Ta’limiyah, yang mengaku menerima pelajaran dari Imam yang maksum (bebas dari kesalahan). Ketiga, Kaum filosof yang mengaku ahli mantiq (logika) dan pembuktian. Keempat, Golongan Sufi yang mengaku sebagai ahli Musyahadah Wal Mukhasyafah (orang yang dapat menyaksikan rahasia yang tidak bisa di jangkau oleh akal).

  1. 2.      Karya-karya al Ghazali

Karya Al-Ghazali diperkirakan mencapai 300 buah judul tetapi juga ada yang mengatakan 400 judul buku, secara umum kitab al-Ghazali di bagi menjadi enam jenis, diantaranya adalah :

  1. A.    Fiqih

v  Al basith

v  Al washit

v  Al wajiz

v  Khulashah

  1. B.     Ushul fiqh :

v  Al mankhul

v  Al-Mustashfa

  1. C.    Filsafat, Logika dan Kalam :

v  Mi’yar al-Ilhm (Kriteria Ilmu-ilmu).

v  Muhiqq al-Nadhar

v  Maqashid al-Falasifah (Tujuan-tujuan Para Filsuf), sebagai karangan nya yang pertama dan berisi masalah-masalah filsafat.

v  Tahafut al-Falasifah (Kekacauan Pikiran Para Filsuf), buku ini dikarang sewaktu Beliau berada di Baghdad tatkala jiwanya dilanda keragu-raguan. Dalam buku ini, al-Ghazali mengecam filsafat dan filsuf dengan keras.

v   Al-Munqidz min al-Dhalal (Penyelamat Dari Kesesatan), buku ini merupakan sejarah perkembangan alam pikiran al-Ghazali sendiri dan merepleksikan sikapnya terhadap beberapa macam ilmu serta jalan mencapai Tuhan.

v  Al-Iqtishad fi al-‘Itiqad (Moderasi Dalam Akidah)

v  Taishal al Tafriqah

v  Qawaid al Aqaid

v  Al Maqshud al Asma fil al Syahri Asma Ilahi al Husna

v  Al Qisthas al Mustaqim (Neraca yang Lurus)

v  Iljam al Awwam fil al Ilmi al Kalam (Belenggu bagi yang Awam)

v  Jawahir al Quran

v  Kimia as Sa’adah (Kimia Kebahagiaan)

v  Ma’ariju al Quds

v  Misykatul Anwar (Lampu yang Bersinar Banyak), buku ini berisi pembahasan tentang akhlak dan tasawuf.

  1. D.    Tasawuf :

v  Ihya ‘Ulum al-Dhin (Menghidupkan kembali Ilmu-ilmu Agama), buku ini merupakan karyanya yang terbesar yang dikarangnya selama beberapa tahun dalam keadaan berpindah-pindah antara: Damaskus, Yerusalem, Hijaz, dan Thus yang berisi paduan antara fiqih, tasawuf, dan filsafat.

v  Bidaya al Hidaya

v  Minhajul Abidin (Jalan Mengabdikan diri Kepada Tuhan)

v  Mizan al Anwar Mi’raj al Salihin

v  Ayyuhal Walad (Wahai Pemuda)

  1. E.     Perbandingan Agama :

v  Al Qaul al Jamil fil al Raddi ala Man Ghayyar al Injil

v  Fadhaihu al Bathiniyah (Padamnya Hati Nurani)

v  Hujja al Haq

v  Mufasshal al Khilaf

v  Al Raddu al Jamil li Ilahiyat Isabi Shabri al Injil

  1. F.     Psikologi, Ekonomi, Sosiologi :

v  Al Ilmu

v  Asrar al Zakat

v  Kasbu al Maisyah

v  Al Halal wa al Haram

v  Al Bakhlu

v  Al Zuhd

Al-Ghazali membagi umat manusia ke dalam tiga golongan:

  1. Golongan orang-orang awam.
  2. Golongan orang–orang pilihan (khawas, elect) yang akalnya tajam dan befikir secara mendalam.
  3. Golongan orang-orang dialektis yang selalu ingin berdebat.
  4. 3.      Pemikiran Al-Ghazali

 

  1. A.    Alam indera dan kasat mata

Dalam tingkatan dengan tingkatan dan ‘kualitas’ sesuatu, Al-Ghazali membagi realitas dalam dua bagian; alam yang tampak mata atau ‘alam indera’ (alam syahadah), dan alam tidak kasat mata atau supranatural (alam al-malakuut atau alam ghaib). Perbandingan antara dua alam ini adalah seperti kulit dengan isinya, bentuk luar sesuatu dengan ruhnya, kegelapan dengan cahaya, kerendahan dengan ketinggian. Alam malakut disebut alam atas, alam ruhani dan alam nurani, sementara alam syahadah adalah alam bawah, alam jasmani dan alam gelap.

Al-Ghazali mengumpulkan perbandingan dan tingkat kedua alam ini dengan cahaya bulan yang menerobos masuk rumah lewat lubang angin dan jatuh di atas sebuah cermin yang membiaskan cahaya tersebut kepada dinding di depannya lalu membiaskan lebih lanjut ke lantai sehingga meneranginya. Selanjutnya menurut Al-Ghazali realitas yang ada ini juga tersusun secara hierarkis, sebagaimana hirarki cahaya diatas, dimana cahaya yang paling dekat dengan sumber cahaya pertama dinilai lebih sempurna dibanding cahaya-cahaya dibawahnya. Di mulai dari alam indera yang merupakan ralitas paling bawah dan rendah, naik pada alam gaib pertama, naik pada alam gaib kedua dan seterusnya sampai pada alam paling ghaib dan bertemu dengan sumber pertama dan utama : tuhan yang segala realitas ada dalam kekuasaan dan perintahnya.

Alam Ghaib yang disebut juga alam ilahiah, meski tidak bisa disaksikan dengan mata indera, tetapi beliau bisa disaksikan dengan mata hati (al-bashiroh) yang telah tersucikan. Menurut Al-Ghazali ketidakmampuan mata indera untuk menangkap realitas ghaib disebabkan adanya kelemahan yang ada pada dirinya, yakni:

  • Pertama, mata indera tidak mampu melihat dirinya, sedang mata hati mampu mencerap dirinya juga sesuatu yang di luar dirinya.
  • Kedua, mata indera tidak dapat melihat sesuatu yang terlalu dekat atau terlalu jauh, sementara bagi mata hati soal jauh dan dekat adalah sama.
  • Ketiga, mata indera tidak mampu melihat sesuatu yang dibalik hijab (tabir) sementara mata hati bisa bergerak bebas, bahkan disekitar arassy (singgasana tuhan), kursy dan segala sesuatu yang berada dibalik selubung langit.
  • Keempat, mata indera hanya mampu menangkap bagian luar serta bagian permukaan segala sesuatu dan bukan bagian dalamnya atau hakekat, sementara mata hati mampu menerobos bagian dalam segala sesuatu dan rahasia-rahasianya.
  • Kelima, mata indera hanya mampu mengkap sebagian kecil dari realitas, beliau tidak mampuh menangkap sesuatu yang terjangkau nalar dan perasaaan, seperti rasa cinta, rindu, bahagia dll.
  1. B.     Partkular & Universal

Dari sisi essensial Al-Ghazali membagi realitas dalam dua bagian, yakni partikular (juziyyat) dan universal (kulliyat). Partikular diklasifikasikan menurut 10 kategori Aristoteles, yakni 1 substansi (jauhar) dan 9 aksiden (aradh). 9 aksiden itu adalah:

  • Kuantitas (kammiyah)
  • Kualitas (kaifiyah)
  • Relasi (idhofah)
  • Dimana (aina)
  • Kapan (mata)
  • Postur (wadla)
  • Possesi (lahu)
  • Aksi (an yaf’ala)
  • Passi (an yanfa’ ila)

Selanjutnya tentang Universal, Al-Ghazali membagi dalam dua bagian:

  • Yang pertama, universal essensial (dzati) yang mencangkup genus (jins), spesies (nau) dan differense (fasl)
  • Yang kedua, universal aksidental (aradh), baik yang khusus, seperti ‘tertawa’ pada manusia, atau yang umum seperti ‘gerak’ pada materi.

Universal essensial adalah makna abstrak tanpa melihat atribut-atribut luar yang menyertainya, sedangkan universal aksidental adalah konsep abstrak yang merupakan generalisasi dari adanya kesamaan-kesamaan dari partikular-paritikular. Perbedaan diantara keduanya adalah bahwa yang pertama ada dalam konsep mental sekaligus dalam realitas aktual, yakni bahwa esensi dari universal tersebut memang benar-benar wujud alam realitas, sementara yang kedua hanya ada dalam konsep mental, tidak ada dalam realitas aktual, karena tidak mungkin sesuatu  yang satu menjadi atribut bagi berbagai partikel lainnya dalam waktu yang bersamaan.

Dengan konsep parikular-universal tersebut, al-Ghazali termasuk juga Al-Farabi, bisa dianggap sebagai’ realis baru’ yang Platonik-Aristotelian tetapi tidak Aristotelian dan tidak Platonik. Tidak Aristotelian karena Al-Ghazali mengakui adanya alam ghaib sebagai realitas objek metafisis, sesuatu yang tidak dikenal oleh Aristoteles. Juga tidak Platonik karena masih menganggap adanya substansi partikular, sesuatu yang tidak diakui Plato. Al-Ghazali menggunakan konsep ini tidak hanya dalam metafisika, tetapi juga menjadikannya sebagai landasan bagi prinsip-prinip yuriprudensi (ushulul fiqh) yang digagasnya yang kemudian hari dikembangkan lebih jauh dan serius oleh Syathibi (w.1388) dalam karyanya al-Muwafaqot.

  1. C.    Wujud Aktual dan Potensial

Dalam kaitannya dengan pengetahuan dan apa yang ditangkap oleh nalar manusia, Al-Ghazali membangun realitas menjadi dua, yakni:

  • Wujud aktual, yakni segala realitas yang mempunyai eksistensi diluar mental atau persepsi manusia. Beliau mempunyai hakekat pada dirinya sendiri. Realitas ini mencakup semua partikular , baik yang sensual (segala materi dengan segala sifat fisisnya, seperti warna, bau, bentuk, ukuran) maupun partiklular non sensual (yakni segala sesuatu yang ada dalam diri kita senidiri yang diketahui secara apriori, seperti potensi panca indera, kemampuan, kehendak, akal dan seterusnya)
  • Wujud potensial, yakni segala realitas yang eksistensinya hanya ada dalam mental atau pikiran manusia. wujud ini terbagi tiga bagian, yaitu :
    • Wujud al Hissi, adalah sesuatu dalam potensi indera sebagai ‘ sense datum’ yakni hasil persepsi langsung indera terhadap objek dan penampakan dunia luar terhadap indera yang penampakan tersebut bukan merupakan substansi objek yang sesungguhnya melainkan hanya halusinasi , seperti apa yang dilihat orang tidur atau orang sakit.
    • Wujud Khayali, adalah gambar sebuah objek yang ada dalam potensi khayal (common sense). Maksudnya data sudah terinternalisasi dalam mental dan disimpan dalam potensi memory seseorang. Kedua wujud ini oleh oleh kaum realisme kritis dipandang sebagai’ sense data’ yang menghubungkan pikiran subjek dengan objek.
    • Wujud al-Aqli, adalah makna abstrak yang ditangkap oleh rasio dari sebuah objek, berdasarkan sense data (wujud al-hissi dan wujud khayali), tetapi sudah terlepas dari pengaruh indera dan khayal itu sendiri. Seperti pemahaman bahwa manusia adalah hewan berfikir.

Manurut syaiful anwar, konsep Al-ghazali tentang wujud aktual dan potensial tersebut diambil dari pemikiran Al-Farabi dan Ibnu Sina, yang kemudian sekarang dianut oleh ‘realisme kritis’ di barat. Selanjutnya dalam kaitannya dengan pemikiran ontologis, konsep wujud aktual dan potensial berkaitan dengan ‘kontigensi’ dan ‘necessitas’. Tidak jauhbeda dengan Al-Farabi, dalam konsep Al-Ghazali, wujud aktual adalah sesuatu yang telah ada secara konkret, nyata dan disebut ‘necessitas’ (wajibul wujud). Sementara itu wujud potensial adalah sesuatu yang masih ada dalam konsep atau ide dan siap menjadi wujud konkret yang mengenal ruang dan waktu. Namun, wujud potensial ini masih posisi mumkin al-wujud  atau disebut ‘kontigensi’ dimana kemungkinan adanya tidak lebih kuat dari tiadanya, sehingga ia akan tetap dalam kondisi seperti itu  selama belum berubah menjadi realitas yang aktual. Bagi Al-Ghazali imkan (kontigensi) tidak ekuivalen dengan realitas dan wujud (necessitas) dan imtina (kumustahilan) hanya hukum rasio yang tidak harus mempunyai objek secara aktual. Sebab, jika imkan butuh sandaran realitas aktual berupa materi, maka kemustahilan juga membutuhkannya. Sesuatu yang tidak diterima nalar.

Berkaitan dengan at-tahafut falasifah

Dalam persoalan ini, terlepas dari besarnya pengaruh dan jasa al-Ghazali, setidaknya ada tiga hal yang patut dicermati

  • Pertama, Bahwa ia sesungguhnya hanya menyerang persoalan metafisika, khususnya metefisika Al-Farabi dan ibnu Sina yang neo-platonis, tidak menyerang pemikiran filsafat secara keseluruhan.
  • Kedua, bahwa tuduhan Al-Ghazali terhadap doktrin Al-Farabi dan Ibn Sina adalah tidak tepat. Terutama berkaitan dengan keqodiman alam, kebangkitan ruhani dan ketidaktahuan tuhan terhadap hal-hal yang partikular, padahal kedua tokoh filosof Muslim ini sebenarnya tidak meyatakan persis seperti yang dituduhkan.
  • Ketiga, tentang penilaian Al-Ghazali pada Al-Farabi dan Ibn Sina dalam kaitannya dengan Aristoteles.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

PENUTUP

KESIMPULAN

Berdasarkan uraian di atas, ada beberapa hal yang perlu di sampaikan. Bahwa al-Ghazali merupakan seorang filosof yang sangat berperan dan berpengaruh besar dalam filsafat dunia Islam. Banyak karya-karyanya yang sangat bernilai dan bermakna, dan tidak sedikit karyanya di jadikan pedoman atau pegangan bahkan kitab nya yang di kaji di kalangan pesantren khususnya di Indonesia.

Al-Ghazali dalam pemikirannya tentang pengetahuan, beliau membagi menjadi dua yaitu:

  • Wujud aktual, yakni segala realitas yang mempunyai eksistensi diluar mental atau persepsi manusia. Ia mempunyai hakekat pada dirinya sendiri. Realitas ini mencangkup semua partikular, baik yang sensual (segala materi dengan segala sifat fisisnya, seperti warna, bau, bentuk, ukuran).
  • Wujud potensial, yakni segala realitas yang eksistensinya hanya ada dalam mental atau pikiran manusia. wujud ini terbagi tiga bagian, yaitu :
    • Wujud al Hissi, adalah sesuatu dalam potensi indera sebagai ‘ sense datum’ yakni hasil persepsi langsung indera terhadap objek dan penampakan dunia luar terhadap indera yang penampakan tersebut bukan merupakan substansi objek yang sesungguhnya melainkan hanya halusinasi , seperti apa yang dilihat orang tidur atau orang sakit.
    • Wujud Khayali, adalah gambar sebuah objek yang ada dalam potensi khayal (common sense). Maksudnya data sudah terinternalisasi dalam mental dan disimpan dalam potensi memory seseorang. Kedua wujud ini oleh oleh kaum realisme kritis dipandang sebagai’ sense data’ yang menghubungkan pikiran subjek dengan objek.
    • Wujud al-Aqli, adalah makna abstrak yang ditangkap oleh rasio dari sebuah objek, berdasarkan sense data (wujud al-hissi dan wujud khayali), tetapi sudah terlepas dari pengaruh indera dan khayal itu sendiri. Seperti pemahaman bahwa manusia adalah hewan berfikir.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

  1.   http://www.2lisan.com/2615/biografi-imam-al-ghazali/
  2. Washil, Sobri. Tesis Program Pasca Sarjana Ilmu Pengetahuan Budaya dan Sastra. Peripatetic dan kritik Al-Ghozali terhadapnya, Depok: 2000.
  3. Prof. Dr. Praja, Juhaya S. Aliran-aliran Filsafat dan Etika. Jakarta: Kencana, 2005.
  4. Dr. Nasution, Hasyimsyah. Filsafat Islam. Jakarta: Gaya Media Pratama, 1999.
  5. Sholeh, Khudroti Ahmad. Wacana Baru Filsafat Islam. Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 2004

[1] Hadi, aslam. Metafisika beberapa filosof Islam, Rajawali Press. Jakarta: 1988, hal 57.

[2] Nasution, Hasyimsyah. Filsafat Islam, Gaya Media Pratama. Jakarta : 1999, Hal 78

[3] Nasution, Hasyimsyah. Filsafat Islam, Gaya Media Pratama. Jakarta : 1999, Hal 78

[4] Nasution, Hasyimsyah. Filsafat Islam, Gaya Media Pratama. Jakarta: 1999. Hal 79

[5] Nasution, Hasyimsyah. Filsafat Islam, Gaya Media Pratama. Jakarta: 1999. Hal 79

[6] Sobri wasil. Thesis. Depok 2000

One thought on “Sekilas Mengulas “Al Ghazali”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s