Sejarah Filsafat Islam

BAB I

PENDAHULUAN

 

Banyak mahasiswa mengira filsafat banyak bertentangan dengan Al-Quran dan Hadits. Ini merupakan dampak dari asumsi Barat yang cenderung tidak setuju dengan Islam. Padahal kenyataannya, pembahasan filsafat justru berkaitan dengan masalah yang tidak ditemukan penegasannya dalam Al-Qur’an dan Hadits (zanny al-dalalah) seperti halnya hasil ijtihad para filosof.

Filsafat Islam adalah berfikir secara sistematis, radikal dan universal tentang hekekat segala sesuatu berdasarkan ajaran Islam. Singkatnya filsafat Islam itu adalah Filsafat yang berorientasi kepada Al-Qur’an, mencari jawaban mengenai masalah-masalah asasi berdasarkan wahyu Allah. Jadi ciri utama filsafat Islam adalah berfikir tentang segala sesuatu, dapat berfikir teratur, tidak cepat puas dalam penemuan sesuatu, selalu bertanya dan saling menghargai pendapat orang lain.

Filsafat adalah induknya segala ilmu. Sebagai induk segala ilmu, maka filsafat mempengaruhi ilmu-ilmu lainnya, seperti ilmu fiqih, ilmu kalam, tafsir dan sebagainya. Berbicara mengenai hukum fiqih, maka fiqih sendiri bengandung arti mengerti dan memahami. Untuk memahami diperlukan pikiran dan penggunaan akal. Selain itu fiqih juga memakai ijtihad yang pada intinya adalah pemakaian akal untuk dalil-dalil yang bersifat dzonny dan terhadap kasus-kasus hukum yang tidak jelas atau sama sekali tidak ada dasarnya baik dalam Al Qur’an maupun Hadits.

Demikian juga untuk menafsirkan Al Qur’an, menjelaskan hubungan manusia dengan Allah dalam ilmu Tasawuf, menjelaskan kandungan Hadits, banyak sekali digunakan pemikiran. Dengan demikian filsafat sangat besar pengaruhnya terhadap ilmu pengetahuan.

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

 

2.1     Definisi Filsafat

Filsafat berasal dari kata majemuk dalam bahasa yunani “philosophia/philosophos” yang berasal dari dua kata yaitu philos yang berarti cinta (loving) dan sophia/sophos yang berarti pengetahuan atau kebjaksanaan (wisdom). Jadi, filsafat berarti cinta pada pengetahuan atau kebijaksanaan. Cinta disini berarti ingin mencapai atau mendalami sesuatu hal yang diinginkan.[1] Orang yang cinta kepada pengetahuan atau ‎kebijaksanaan disebut philosophos atau dalam bahasa Arab failasuf (filsuf). ‎Pencinta pengetahuan atau kebijaksanaan adalah orang yang menjadikan ‎pengetahuan sebagai usaha dan tujuan hidupnya, atau orang mengabdikan ‎hidupnya kepada pengetahuan.

Adapun kata filosof itu sendiri pertama kali dikenal pada masa Pythagoras, kemudian mulai populer pada masa Socrates dan Plato. Namun di buku Hasyimsyah Nasution, kata philosophia bertahan mulai Plato sampai Aristoteles.

Kata majemuk dalam bahasa yunani tersebut dibawa oleh orang arab dan disubtitusi dengan kata “falsafa” yang mengikuti wazan fa’lala dalam bahasa arab. Kemudian ditarik ke Kamus besar bahasa Indonesia (1989) dengan kata filsafat yang artinya pengetahuan dan penyelidikan dengan akal budi tentang hakikat segala yang ada, sebab, asal dan hukumnya, ini berarti filsafat berisi tentang dasar dari segala dasar dalam menyelidiki sesuatu tanpa batas sampai ke akar-akarnya. Contohnya ketika ingin mengetahui tentang api, hakikat api, dan asal api.[2]

Dalam bukunya filsafat islam, Sirajuddin Zar mengatakan bahwa filsafat adalah hasil proses berpikir rasional dalam mencari hakikat sesuatu secara sistematis, universal, dan radikal. Adapun objek pembahasaanya ada tiga hal yaitu pertama, al-wujud (ontologi) yang menjawab pertanyaan what (apa). Kedua, al-ma’rifat (epistemologi) yang menjawab pertanyaan how. Dan ketiga, al-qayyim (aksiologi) yang menjawab pertanyaan what for.[3]

Sedangkan di buku filsafat Islam Hasyimsyah Nasution menjelaskan bahwa pada masa Heroklaitos (540-480 SM) kata filsafat dipakai untuk menerangkan bahwa hanya Tuhanlah pemilik hikmah. Dan manusia hanya bertugas mencari hikmah tersebut. Lalu pada masa Socrates (470-399 SM), filsafat adalah pengetahuan sejati. Ini adalah usaha untuk menentang kaum sophis yang menamakan dirinya para bijaksana karena ia sadar bukan orang yang sudah bijaksana (sophos), tetapi hanya mencintai kebijaksanaan dan berusaha mencarinya.[4]

Di sini, filsafat merupakan gabungan dari dua kata yaitu “fil” (barat) dan “safat” (arab). Kemudian diartikan sebagai hasil kerja berpikir dalam mencari hakikat segala sesuatu secara sistematis, radikal, dan universal.

Dalam buku sejarah filsafat Islam Majid Fakhri, kata falsafah sepadan dengan hikmah illahiyyah atau teosofi. Dan kata hikmah itu sendiri tercantum dalam Al-Quran lebih dari 20 kali. Hal ini memang dapat dibenarkan karena filsafat Islam berlandaskan pada prinsip keesaan Tuhan atau tauhid.[5]

Lalu dalam buku lain, Seyyed Hossain Nasr secara singkat berhasil mengumpulkan definisi filsafat yang diambil dari Yunani dan lazim bagi kalangan filosof Islam sebagai berikut :

  1. Filsafat adalah pengetahuan tentang segala yang ada qua maujud-maujud (assya’ al maujudah bi ma hiya maujudah).
  2. Filsafat adalah pengetahuan tentang yang ilahiyah dan insaniyah.
  3. Filsafat mencari perlindungan dalam kematian, maksudnya, cinta pada kematian.
  4. Filsafat adalah (upaya) menjadi seperti Tuhan  dalam kadar kemampuan manusia.
  5. Filsafat adalah seni (shina’ah) tentang seni-seni dan ilmu tentang ilmu-ilmu.
  6. Filsafat adalah prasyarat bagi hikmah.[6]


2.2     Sekilas Tentang Hikmah

Barat mengatakan bahwa Filsafat Islam itu hanya mengulang apa yang telah dipahami dan ditemukan dalam filsafat Yunani, sampai abad perkembangan filsafat Islam dianggap abad kegelapan dan jarang ditelusuri. Apabila alasannya dari pengalih bahasaan dan istilah Yunani yang diserap ke dalam bahasa arab, sepertinya itu tidak cukup. Filsafat Islam tetap teguh pada wahyu Allah; Al-Qu’ran dan hadist sebagai sumber dasarnya, perkembangan masih terus menerus sampai sekarang.

Tentang istilah filsafat, sebenarnya Al-Qur’an sudah memiliki istilah sendiri, yaitu hikmah. Kadang hikmah diartikan sama persis dengan filsafat, namun ada juga yang menganggapnya berarti lebih dalam dan lebih mengena pada Islam. Dan kemudian hikmah diartikan juga teosofi, yaitu kebijaksanaan ilahi. Ini artinya hikmah memiliki artian lebih sempit lagi dari filsafat.

Seorang ahli hikmah, hakim, bukan hanya dapat membahas konsep-konsep mental secara cerdas, tapi juga hidup sesuai kebijaksanaan yang telah ia ketahui dan dipahami. Hikmah menurut Suhrawardi identik dengan pelepasan diri dari tubuh dan pendakian ke dunia cahaya, mensyaratkan kesempurnaan daya rasional dan kesucian jiwa.

Kalaupun tetap disebut filsafat, bagi Islam fisafat tidak hanya pengetahuan teoritis dan “menjadi sebuah dunia intelijebel yang mencitrakan dunia intelijibel yang objektif” melainkan juga keterceraian dari hawa nafsu dan kesucian jiwa dari cemaran-cemaran materilnya, begitulah kata Mulla Shadra.[7]

Sekali lagi, bagi Islam filsafat sebagai realitas yang mengubah pikiran dan sekaligus jiwa, serta realitas yang pada hakikatnya tidak pernah bisa dipisahkan dari kemurnian dan kesucian spiritual jiwa tertinggi yang merupakan implikasi dari istilah hikmah dalam konteks Islam.[8]

2.3     Filsafat Islam

Secara khusus disini, filsafat Islam menurut Ibrahim Madkur adalah pemikiran yang lahir dalam dunia islam untuk menjawab tantangan zaman, yang meliputi Allah dan alam semesta, wahyu dan akal, agama dan filsafat. Menurut Ahmad Fu’ad Al-Ahnawy adalah pembahasan tentang alam dan manusia yang disinari ajaran islam. Dan menurut M. Athif Al-‘Iraqy adalah pokok atau dasar pemikiran filosof yang dikemukakan para filosof muslim.[9]

Sedangkan secara umum menurut Hasyimsyah Nasution, filsafat Islam berarti hasil pemikiran filosof tentang ketuhanan, kenabian, manusia, dan alam yang disinari ajaran Islam dalam suatu aturan pemikiran yang logis dan sistematis.[10]

Selain itu, bagi Haidar Bagir filsafat Islam bukanlah “pengetahuan absurd”, tetapi ia memiliki manfaat yang begitu besar bagi kelangsungan hidup manusia di muka bumi ini. Filsafat Islam dapat menjadi diagnosis atas ragam persoalan kemanusiaan. Karena hakikat dari filsafat itu adalah menjawab dan memecahkan setiap problem manusiawi yang secara kodrati pasti tidak bisa lepas dari permasalahan.

2.3.1   Karakteristik Filsafat Islam

Filsafat Islam memiliki karakteristik khusus. Antara lain yang pertama, membahas masalah yang sudah pernah dibahas filsafat yunani dan lainnya. Dan ditambahkan dengan hasil-hasil pemikiran mereka sendiri. Setidaknya, terdapat tiga masalah yang dapat kita diketemukan dalam khazanah ini, yaitu peripatetisme (Masysya’iyyah), iluminasi (Israqiyyah) dan teosofi transenden (al-hikmah al-muta’aliyah). Kedua, membahas masalah yang belum pernah dibahas sebelumnya. Contoh filsafat kenabian (al-nazhariyyat al-nubuwwat). Ketiga, ada perpaduan antara agama dan filsafat, akidah dan hikmah, wahyu dan akal.

Al-Qur’an dan Hadist, sebagai sumber inspirasi filsafat Islam yang sakral—sebagaimana yang diungkapkan oleh Hossein Nasr   dapat dipahami menjadi kajian pertama yang harus diyakini dulu kebenarannya sebelum memasuki pengkajian tentang filsafat. Maksudnya, Islam melandaskan filsafatnya pada pemahaman hermeneutika terhadap teks sakral dan juga menyingkap makna batinnya serta menemukan hakikat kenabian, sehingga filsafat selalu berjalan setara dengan Al-Qur’an dan hadist. Oleh karena itu, dalam pandangan Seyyed Hossein Nasr, filsafat Islam itu menuntut pada filsafat Profetik.[11]

Filsafat itu memberdayakan akal dan logika, kegiatan berpikir adalah rutinitas seorang filosof. Walaupun Islam memiliki syari’ah yang cukup hanya untuk diikuti, namun dalam hal yang sifatnya berkaitan dengan keyakinan, keimanan, tetap harus berpikir menggunakan akal dan justru tidak boleh sekedar mengikuti (taklid buta). Sedikit pembenaran tentang pentingnya berpikir dan mempelajari filsafat dalam islam dapat ditemukan pada beberapa kutipan Al-Qur’an sebagai berikut:

  • Surat Ar Rum ayat 8

أَوَلَمْ يَبَفَكَّرُوْا فِيْ أَنْفُسِهِمْ

Dan mengapa mereka tidak memikirkan tentang (kejadian) diri mereka?

  • Surat Ali Imran ayat 190

إِنَّ فِيْ خَلْقِ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ الَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَأَيَاتِ لِّأُوْلِي الْأَلْبَابِ

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian siang dan malam terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang berakal.

  • Dan juga dalam surat Ar-Rum ayat 21

إِنَّ فِيْ ذَلِكَ لَأَيَاتِ لَّقَوْمِ يَّتَفَكَّرُوْنَ

Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berpikir.

Bila kebenaran Al-Qur’an sudah disepakati, yang jadi persoalan sekarang adalah kebenaran tentang Hadist. Sampai sekarang Hadist Islam dibagi dua, yaitu Hadist Syi’ah dan Hadist Ahlussunnah. Yang menjadi perbedaan adalah adanya Ahlul Bayt Nabi yang diyakini oleh kaum Syi’ah sebagai sumber Hadist juga. Dan entah apakah ada  kaitannya dengan ini, Syi’ah memiliki perkembangan filsafat lebih besar dibandingkan Ahlussunnah. Sempat terjadi penurunan minat terhadap filsafat pada kaum Ahlussunnah setelah terjadi pertentangan tentang filsafat yang berpuncak pada polemik antara Ibn Rusyd dan Al-Ghazali sekitar abad 12 M dan mulai kembali bangkit lagi baru abad 20 M.

2.3.2   Keraguan Barat Terhadap Filsafat Islam

Pada era tahun 70-an, para penulis Barat tentang Islam, seperti disinyalir oleh Majid Fakhri, cenderung melihat filsafat Islam sebagai mata rantai, atau, lebih tepatnya “jembatan emas” yang menghubungkan Eropa kuno (Yunani) dengan Eropa modern. Dengan kecenderungan, yang bisa disebut Europo-sentris ini, mereka umumnya berpendapat bahwa filsafat Islam telah berakhir dengan kematian Ibn Rusyd (w.1196). Karena lewat Ibn Rusydlah, maka pemikiran Yunani kuno telah dikembalikan atau dipulihkan ke Eropa. Dengan begitu maka berakhirlah peran filsafat Islam sebagai jembatan bagi pemikiran filsafat Eropa kuno dan Eropa modern. Demikian juga dengan mentalitas seperti itu, banyak penulis Barat yang melihat bahwa Islam tidak sungguh-sungguh memiliki filsafat, karena filsafat yang dikembangkan di dunia Islam selama ini, pada hakikatnya adalah filsafat Yunani, sedangkan Islam tidak punya filsafat sendiri.[12]

Tenneman dan E Rennan memberikan beberapa alasan mengapa Islam mereka anggap tidak bisa memiliki filsafat, sebagai berikut :[13]

1.         Adanya kitab suci Al-Qur’an yang menegasikan kebebasan atau kemerdekaan        berpikir.

2.         Karakter bangsa Arab yang tidak mungkin berfilsafat.

3.         Bangsa Arab adalah ras Semit (al-samy), termasuk ras rendah bila dibandingkan    dengan bangsa Yunani ras Aria (al-ary). Ras Semit mempunyai daya nalar yang      lemah dan tidak mampu berfilsafat, yang hanya dimiliki oleh ras Aria.

Alasan-alasan yang dikemukakan diatas tidak mempunyai dasar sama sekali, bahkan mengandung kezaliman. Seperti kitab suci Al-Qur’an dituding menegasikan kebebasan berpikir, padahal faktualnya tidak sedikit ayat-ayat Al-Qur’an yang menganjurkan dan mendorong pemeluknya banyak berpikir dan melakukan pengamatan dan penelitian dalam berbagai bidang serta mencela orang-orang yang tidak menggunakan akalnya.

Dengan demikian, tidak dapat disangsikan lagi bahwa salah satu jasa Islam ialah memobilisasi akal, pembuka, dan penggerak akal manusia dalam kehidupan jasmani dan rohani. Dalam kesejarahan usaha ini telah dimulai sejak periode Rasulullah SAW, terutama dalam menggali ketentuan hukum agama dari sumbernya. Hal ini tercermin dalam Hadist ketika sahabat Mu’az bin Jabal diutus ke negeri Yaman. Dalam Hadist itu Nabi bertanya kepada Mu’az apa yang akan dilakukannya di Yaman jika tidak menemukan ketentuan hukum dalam Al-Qur’an dan Hadist, dan Nabi waktu itu hendak memutuskan suatu perkara. Mu’az menjawab bahwa ia akan memakai akalnya.

Sementara itu, alasan mereka yang mengatakan bahwa karakter bangsa Arab yang tidak mungkin berfilsafat juga perlu dipertanyakan. Jika yang mereka maksud adalah bangsa Arab sebelum Islam memang benar. Bangsa Arab sebelum Islam tidak mengenal filsafat dan juga tidak menaruh perhatian terhadap ilmu pengetahuan dan peradaban seperti yang telah dicapai oleh bangsa sekitarnya, seperti Mesir, Yunani, Keldani, Persia, dan India. Agaknya hal ini disebabkan ketertawanan mereka dengan kondisinya, yakni tidak banyaknya di kalangan mereka orang yang pandai baca tulis sebagai syarat pokok untuk munculnya peradaban intelektual. Pada pihak lain mereka hidup dalam kesukuan yang terisolasi di jazirah Arab.

Akan tetapi, jika yang mereka maksud adalah bangsa Arab yang telah memeluk Islam, maka pertanyaan mereka tersebut keliru. Islam telah membawa kehidupan baru bagi bangsa Arab. Dengan Islam mereka dapat  membentuk suatu negara besar  dan memegang tampuk ilmu pengetahuan. Dorongan ajaran Al-Qur’an dan Hadist serta pertemuan dengan bangsa lain yang telah mempunyai peradaban yang tinggi, telah mengubah karakter mereka dari era jahiliyah sebelumnya.

Demikian pula, kelirunya alasan mereka cenderung membedakan antara tingkat pemikiran bangsa Aria dan bangsa Semit. Bangsa Aria adalah bangsa Yunani, yang menurut mereka memiliki penalaran yang tinggi, karenanya bangsa inilah yang mampu berfilsafat. Sementara bangsa Semit adalah bangsa Arab, yang menurut mereka memiliki penalaran yang rendah, sehingga bangsa ini tidak akan mampu berfilsafat atau menciptakan filsafat.

Ras Semit sebelum Islam tidak berfilsafat, karena kondisinya dan bukan karena rendahnya daya intelektual mereka. Ternyata setelah mereka memeluk Islam, kondisi mereka berubah dari jahiliyah, sehingga mereka mampu menguasai dan menciptakan berbagai bidang sains dan pemikiran filsafat. Sejarah mencatat, bangsa Arab yang beragam Islam lebih dahulu menguasai sains dibandingkan dengan bangsa Eropa dan Amerika. Sebenarnya atas jasa orang Islamlah bangsa Barat mengenal filsafat Yunani dan dapat menikmati ilmu pengetahuan atau sains yang mendorong timbulnya renaissance di Eropa yang menjadi cikal bakal timbulnya kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi modern. Oleh karena itu, dalam tingkatan penalaran atau intelektual tidak dapat dibedakan antara bangsa di dunia ini. Akan tetapi, yang benar adalah pemegang kendali ilmu pengetahuan di dunia ini bergiliran, silih berganti dari satu bangsa ke bangsa lain. Seperti diketahui, setelah umat Islam, kendali ilmu pengetahuan dipegang oleh bangsa Barat. Melihat pada fenomenanya, bangsa Barat sepertinya akan memasuki masa redup, maka menurut perkiraan, kendali ilmu pengetahuan akan pindah ke bangsa Jepang dan sekitarnya.[14]

Bias Europosentrisme terhadap filsafat Islam ini juga telah menjelaskan kepada kita mengapa filsafat non-peripatetik, tidak pernah betul-betul menjadi perhatian mereka. Karena dari sudut pandang Europosentris, filsafat non-peripatetik tersebut—yakni filsafat isyraqi dan irfani­­­-tidak memiliki relevansi langsung dengan kepentingannya. Dengan kata lain, filsafat Islam tidak pernah betul-betul dilihat dari sudut pandang dirinya sendiri.

Tetapi untunglah kita kemudian memiliki pemikir-pemikir Barat yang tersadarkan dari bias Europosentris tersebut, sehingga mereka mengkaji filsafat Islam, tidak karena yang lain, tetapi karena dirinya sendiri. Diantara tokoh yang paling menonjol adalah Henry Corbin, khususnya untuk filsafat Isyraqi, dan Louis Massignon, untuk tasawuf, khususnya al-Hallaj (w.922). Berkat jasa dari kedua sarjana tersebut, maka sedikit demi sedikit terbukalah mata Barat terhadap eksistensi filsafat Islam, yang memiliki karakteristik tersendiri yang berbeda dengan filsafat Yunani, dan patut diselidiki untuk kepentingannya sendiri.

2.3.3   Alasan Penamaan Filsafat Islam

Sebutan filsafat Islam, bukanlah sebutan yang telah disepakati oleh semua pengkaji filsafat Islam. Beberapa keberatan telah dilayangkan terhadap sebutan filsafat Islam. Ada sementara yang mengatakan bahwa filsafat dan Islam adalah dua entitas yang berbeda dan bahkan sulit untuk disatukan, sehingga nama filsafat Islam tidaklah cocok. Banyak, menurut mereka, ajaran-ajaran filsafat yang jelas-jelas bertentangan dengan agama, misalnya tentang keabadian alam. Oleh karena itu, bagi mereka mungkin sebutan yang lebih cocok adalah filsafat Muslim. Mereka adalah para filosof yang kebetulan beragama Islam, tetapi belum tentu bahwa ajaran-ajaran filosofis mereka didasarkan pada ajaran-ajaran Islam.

Selain kelompok yang lebih cenderung menyebut filsafat ini dengan filsafat Muslim, ada kelompok pengkaji filsafat Islam yang menekankan aspek bahasa, dalam hal ini bahasa Arab, yang menjadi bahasa ilmiah para filosof Muslim ketika mereka menuliskan karya-karya utama mereka. Konsekuensinya adalah mereka lebih cenderung menyebut filsafat ini dengan filsafat Arab. Bahkan Majid Fakhri yang menyebut karya monumentalnya dengan Filsafat Islam (Islamic Philosophy) juga malah sepertinya menganggap nama filsafat Arab lebih tepat ketimbang filsafat Islam dan filsafat Muslim.

Selain kedua nama tersebut ada juga yang mengusulkan nama lain, yaitu “filsafat dalam Islam”, karena inilah filsafat yang dikembangkan oleh para pemikir Muslim dalam masyarakat Islam.

Menurut Seyyed Hossein Nasr dalam bukunya Majid Fakhry “Sejarah Filsafat Islam” mengatakan bahwa filsafat Islam disebut Islam bukan hanya karena pemekarannya di dunia Islam dan di tangan orang-orang muslim, melainkan lebih utama karena seluruh prinsip, inspirasi, dan pokok soalnya bermuara pada sumber-sumber wahyu Islam. Bahkan filsafat Islam itu sangat mempunyai posisi keunikan sendiri. Keunikannya dalam ranah perjalanan tritunggal ruh-akal-raga mendaki puncak-puncak kesempurnaan spiritual, intelektual, dan ritual manusia. Itulah makna sejati filsafat sebagai perpaduan antara kebijakan aktif (philo atau cinta) dan kebijakan intelektual (sophos).[15]

Namun Profesor Mulyadhi Kartanegara dalam bukunya “Gerbang Kearifan” lebih cenderung dengan sebutan filsafat Islam dengan beberapa alasan:

(1) Ketika filasafat Yunani diperkenalkan ke dunia Islam, Islam telah menyusun sistem teologi, yang sangat menekankan keesaan Tuhan, dan hukum syari’ah, yang menjadi pedoman bagi siapapun. Pandangan syari’ah ini begitu dominan, sehingga tidak ada sistem apapun, termasuk filsafat, dapat diterima kecuali sesuai dengan ajaran pokok Islam yaitu tauhid, dan pandangan hidup syari’ah yang bersandar pada ajaran tauhid tersebut. Ketegangan antara al-Kindi dan Abu Ma’syar, yang memandang filsafat sebagai bid’ah, adalah bukti historis adanya dorongan Islamisasi filsafat Yunani di dunia Islam. Filsafat tidak pernah bisa betul-betul berkembang secara independen di dunia Islam, karena dominasi pandangan syari’ah. Oleh karena itu, ketika memperkenalkan filsafat Yunani, para filosof Muslim selalu memperhatikan kecocokannya dengan pandangan fundamental Islam. Dengan demikian, disadari atau tidak telah terjadi “pengislaman” terhadap filsafat oleh para filosof Muslim.

(2) Sebagai seorang pemikir, filosof Muslim adalah pemerhati filsafat asing (Yunani) yang kritis. Ketika dirasakan adanya kekurangan yang diderita filsafat Yunani, maka tanpa ragu-ragu lagi, pemikir Muslim akan mengkritik secara sangat mendasar. Sekalipun Ibn Sina (w.1037) sering digolongkan sebagai filosof Peripatetik (pengikut Aristoteles), tetapi ia tidak segan-segannya mengkritik pandangan Aristoteles, Sang Guru Pertama, dan menyempurnakannya dengan teori yang baru. Hal ini bisa dilihat dari kritik Ibn Sina terhadap argumen kosmologis Aristoteles tentang keberadaan Tuhan, yang dipandangnya tidak memadai dan digantikan dengan argumen ontologis yang lebih fundamental. Demikian juga kritik yang dilontarkan al-Ghazali terhadap filsafat pada umunya, dan Suhrawardi (w.1191) serta Ibn Taymiyyah (w.1305) terhadap logika Aristoteles adalah bukti yang nyata dari sikap kritis para filosof Muslim terhadap sistem filsafat yang datang dari luar. Akibat daya kritis yang hebat tersebut, maka filsafat Yunani mengalami transformasi radikal sehingga menciptakan filsafat yang khas, yang berbeda dari filsafat manapun, baik yang sebelumnya (filsafat Yunani), maupun sesudahnya (filsafat Barat).

(3) Alasan ketiga adalah adanya perkembangan yang unik dalam filsafat Islam akibat dari interaksi antara Islam sebagai agama, dan filsafat Yunani. Akibatnya, para filosof Muslim telah mengembangkan filsafat dalam bidang-bidang tertentu yang tidak pernah dilakukan para filososf sebelumnya. Sebagai contoh kita bisa melihat dikembangkannya filsafat kenabian (nubuwwah) oleh hampir semua filosof besar dari al-Farabi hingga Mulla Shadra, yang tentunya membuat filsafat Islam semakin unik.

Dari ketiga alasan tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa memang ada sesuatu yang disebut filsafat Islam, karena filsafat Islam, yang telah berkembang dalam atmosfer keislaman yang kuat, telah melahirkan sebuah sistem filsafat yang khas, yang lain daripada yang lain, yang paling tepat kita sebut dengan filsafat Islam.[16]

BAB III

PENUTUP

3.1       Kesimpulan

            Filsafat berasal dari kata majemuk dalam bahasa yunani “philosophia/philosophos” yang berasal dari dua kata yaitu philos yang berarti cinta (loving) dan sophia/sophos yang berarti pengetahuan atau kebjaksanaan (wisdom). Jadi, filsafat berarti cinta pada pengetahuan atau kebijaksanaan. Cinta disini berarti ingin mencapai atau mendalami sesuatu hal yang diinginkan.

Dalam bukunya filsafat islam, Sirajuddin Zar mengatakan bahwa filsafat adalah hasil proses berpikir rasional dalam mencari hakikat sesuatu secara sistematis, universal, dan radikal. Adapun objek pembahasaanya ada tiga hal yaitu pertama, al-wujud (ontologi) yang menjawab pertanyaan what (apa). Kedua, al-ma’rifat (epistemologi) yang menjawab pertanyaan how. Dan ketiga, al-qayyim (aksiologi) yang menjawab pertanyaan what for.

Secara khusus disini, filsafat Islam menurut Ibrahim Madkur adalah pemikiran yang lahir dalam dunia islam untuk menjawab tantangan zaman, yang meliputi Allah dan alam semesta, wahyu dan akal, agama dan filsafat. Menurut Ahmad Fu’ad Al-Ahnawy adalah pembahasan tentang alam dan manusia yang disinari ajaran islam. Dan menurut M. Athif Al-‘Iraqy adalah pokok atau dasar pemikiran filosof yang dikemukakan para filosof muslim.

Sedangkan secara umum menurut Hasyimsyah Nasution, filsafat islam berarti hasil pemikiran filosof tentang ketuhanan, kenabian, manusia, dan alam yang disinari ajaran islam dalam suatu aturan pemikiran yang logis dan sistematis.

Filsafat Islam memiliki karakteristik khusus. Antara lain yang pertama, membahas masalah yang sudah pernah dibahas filsafat yunani dan lainnya. Dan ditambahkan dengan hasil-hasil pemikiran mereka sendiri. Setidaknya, terdapat tiga masalah yang dapat kita diketemukan dalam khazanah ini, yaitu peripatetisme (Masysya’iyyah), iluminasi (Israqiyyah) dan teosofi transenden (al-hikmah al-muta’aliyah). Kedua, membahas masalah yang belum pernah dibahas sebelumnya. Contoh filsafat kenabian (al-nazhariyyat al-nubuwwat). Ketiga, ada perpaduan antara agama dan filsafat, akidah dan hikmah, wahyu dan akal.

Orang Barat meragukan tentang keberadaan filsafat Islam dan menganggap Islam tidak bisa memiliki filsafat. Tenneman dan E Rennan memberikan beberapa alasan mengapa Islam mereka anggap tidak bisa memiliki filsafat, yaitu adanya kitab suci Al-Qur’an yang menegasikan kebebasan atau kemerdekaan berpikir, karakter bangsa Arab yang tidak mungkin berfilsafat, bangsa Arab adalah ras Semit (al-samy), termasuk ras rendah bila dibandingkan dengan bangsa Yunani ras Aria (al-ary). Ras Semit mempunyai daya nalar yang lemah dan tidak mampu berfilsafat, yang hanya dimiliki oleh ras Aria.

Sebutan filsafat Islam, bukanlah sebutan yang telah disepakati oleh semua pengkaji filsafat Islam. Beberapa keberatan telah dilayangkan terhadap sebutan filsafat Islam. Ada yang menyebutnya dengan nama filsafat Muslim, filsafat Arab, filsafat dalam Islam, dan lain-lain. Namun, menurut Seyyed Hossein Nasr dalam bukunya Majid Fakhry “Sejarah Filsafat Islam” mengatakan bahwa filsafat Islam disebut Islam bukan hanya karena pemekarannya di dunia Islam dan di tangan orang-orang muslim, melainkan lebih utama karena seluruh prinsip, inspirasi, dan pokok soalnya bermuara pada sumber-sumber wahyu Islam. Bahkan filsafat Islam itu sangat mempunyai posisi keunikan sendiri. Keunikannya dalam ranah perjalanan tritunggal ruh-akal-raga mendaki puncak-puncak kesempurnaan spiritual, intelektual, dan ritual manusia. Itulah makna sejati filsafat sebagai perpaduan antara kebijakan aktif (philo atau cinta) dan kebijakan intelektual (sophos).

3.2       Penutup

            Alhamdulillah, akhirnya makalah yang berjudul “Definisi Filsafat Islam” ini dapat terselesaikan juga. Semua itu tidak lepas dari izin, pertolongan,  dan juga rahmat Allah Subhanahu Wata’ala. Dan juga berkat dukungan dan motivasi dari teman-teman yang tercinta yang telah banyak memberikan support dalam penyelesaian makalah ini. Penyusun juga mengucapkan terima kasih kepada dosen yang terhormat yang telah memberikan tugas ini yang insya allah dapat menjadi pelajaran bagi penulis sendiri maupun bagi yang lainnya

Penyusun mengakui dan menyadari bahwa dalam penulisan makalah ini masih terdapat kekurangan  yang tidak lain adalah dari keterbatasan penyusun. Untuk itu, penyusun berharap kepada para pembaca makalah ini bila di dalam makalah ini masih terdapat kekurangan dimohon untuk memberikan masukan, kritik, dan saran yang membangun sehingga dapat menjadi masukan yang berharga bagi penyusun dan menjadi lebih baik dalam menyelesaikan tugas-tugas berikutnya.

DAFTAR PUSTAKA

1. Fakhry, Majid. Sejarah Filsafat Islam: Sebuah Peta Kronologis. 2001. Bandung: Mizan.

2. Kartanegara, Mulyadhi. Gerbang Kearifan. 2006. Jakarta: Lentera Hati.

3. Nasr, Seyyed Hossein. Ensiklopedi Tematis Filsafat Islam. 2003. Bandung: Mizan.

4. Nasution, Hasyimsyah. Filsafat Islam. 2005. Jakarta: Gaya Media Pratama.

5. Zar, Sirajuddin. Filsafat Islam: Filosof dan Filsafatnya. 2004. Jakarta:Raja Grafindo Persada.


[1] Sirajuddin Zar, Filsafat Islam: Filosof dan Filsafatnya (Cet 1. Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2004), hal 2.

[2] Ibid., hal 3.

[3] Ibid., hal 6.

[4] Hasyimsyah Nasution, Filsafat Islam (Cet 4. Jakarta: Gaya Media Pratama, 2005), hal 1

[5] Majid Fakhry, Sejarah Filsafat Islam: Sebuah Peta Kronologis (Cet 1. Bandung: Mizan, 2001), hal xv-xvi

[6] Seyyed Hossein Nasr, Ensiklopedi Tematis Filsafat Islam (Cet 1. Bandung: Mizan, 2003), hal 30

[7] Seyyed Hossein Nasr, op. cit., hal 34

[8] Ibid., hal 35

[9] Sirajuddin Zar, op. cit., hal 15

[10] Sirajuddin Zar, op. cit., hal 10

[11] Seyyed Hossein Nasr, op. cit., hal 50

[12] Mulyadhi Kartanegara, Gerbang Kearifan (Cet 1, Jakarta: Lentera Hati, 2006), hal 17-18

[13] Sirajuddin Zar, op. cit., hal 8

[14] Sirajuddin Zar, op. cit., hal 8-11

[15] Majid Fakhry, op. cit., hal 3

[16] Mulyadhi Kartanegara, op. cit., hal 19-23

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s