Landasan Teori “Tinjauan Pustaka dan Kerangka Berfikir”

BAB I

PENDAHULUAN

  1. A.  Latar Belakang

Memahami landasan teori sebagai jembatan antara rumusan masalah dan hipotesis adalah hal yang perlu diberi perhatian secara khusus. Apabila ada kekeliruan dalam menentukan landasan teori maka akan berimplikasi pada kerangka berpikir yang akan dibangun dalam penelitian, dan secara otomatis hipotesis pun bisa melenceng, atau bahkan keliru total. Dan akan lebih sia-sia lagi bila ternyata teori yang kita susun kurang komprehensif sehingga tanpa sepengetahuan kita ternyata sebetulnya hipotesis yang telah disusun sudah ditemukan teorinya. Oleh karena itu, landasan teori dan kerangka berpikir merupakan jembatan yang harus dibangun dengan sistematis dan kokoh.

  1. B.  Rumusan Masalah
  2. Apa itu kajian pustaka, landasan teori, dan kerangka berpikir?
  3. Bagaimana melakukan tinjauan pustaka serta menyusun landasan teori dan kerangka berpikir dengan baik?
  4. Apa manfaat kajian pustaka, landasan teori, dan kerangka berpikir?
  5. Bagaimana korelasi antara kajian pustaka, landasan teori, dan kerangka berpikir?

 

  1. C.  Tujuan
  2. Memahami dan mengenal kajian pustaka, landasan teori, dan kerangka berpikir dalam penelitian ilmiah.
  3. Dapat melakukan tinjauan pustaka serta menyusun landasan teori dan kerangka berpikir dengan baik.
  4. Memahami manfaat penggunaan kajian pustaka, landasan teori, dan kerangka berpikir dalam penelititan ilmiah.
  5. Mengetahui korelasi antara kajian pustaka, landasan teori, dan kerangka berpikir.

JJJ

 

BAB II: PEMBAHASAN[~2B~1]

A

gar dapat memahami pembahasan landasan teori dengan baik, maka variable penelitian perlu dimengerti terlebih dahulu. Maka pertama-tama akan dibahas dulu sedikit tentang variable penelitian. Variable adalah suatu sebutan yang dapat diberi nilai angka (kuantitatif) atau nilai mutu (kualitatif).[1] Ia merupakan gabungan dari dua kata yaitu vary (berubah) dan able (dapat). Jadi variable merupakan pengelompokan secara logis dari lebih dari dua atribut objek yang diteliti.[2] Sebagai contoh dari atribut adalah mahasiswa tingkat satu, tingkat dua, tingkat tiga dan tingkat empat. Maka variabelnya adalah tingkat masa belajar mahasiswa. Dari variabel maka nanti akan dilakukan pendataan atas nilai variabel dari objek-objek. Contoh:

 

Tabel variabel penelitian

Variabel Variasi Variasi Nilai
Masa belajar mahasiswa Tingkat masa belajar mahasiswa 1, 2, 3, dan 4
Prestasi Tingkat prestasi Baik…buruk
Usia Tingkat usia 17, 18, 19, 20, dst.

 

Tabel 1: table contoh variabel

 

Variabel itu secara umum terbagi menjadi variable bebas dan terikat. Variable bebas adalah variable yang mempengaruhi sedangkan variable terikat adalah variable yang dipengaruhi. Akan tetapi variable bebas dijabarkan lagi karena pengaruhnya yang beraneka sehingga variable penelitian terdiri dari 4 kategori, yaitu variable bebas, variable terikat, variable moderator,dan  variable antara. Variable terikat dinotasikan dengan Y sedangkan variable bebas dinotasikan

 

dengan X, ada yang menotasikan variable moderator dan variable antara dengan X juga karena perannya juga seperti variable X yaitu mempengaruhi variable Y, dan ada juga yang menotasikan keduanya dengan huruf Z.

  1. Variabel Bebas (Independence variable)

Varibel ini adalah variable yang mempengaruhi. Variable bebas menjadi sebab perubahan atau timbulnya variable terikat.

  1. Variable Terikat (dependent variable)

Varibel yang satu ini merupakan factor utama yang ingin dijelaskan atau diprediksi dan dipengaruhi oleh beberapa factor (Robbins,29: 23).[3] Sebagai contoh, bila ingin melakukan penelitian pengaruh tingkat pendidikan terhadap kesejahteraan hidup secara ekonomi, maka kita dapat menjadikan tingkat pendidikan terakakhir adalah variable bebas dan pendapat per bulan adalah variable terikatnya.

Table variabel terikat

Tingkat Pendidikan terakhir Pendapatan per bulan
SD, SMP, SMA, S1 < 1.000.000

1.000.000 – 2.500.000

> 2.500.000

Tabel 2: Tabel contoh variabel

  1. Variable Moderator (Moderator Variable)

Varibel ketiga ini disebut juga variable bebas kedua. Ia memiliki pengaruh pada variable terikat dengan kuat dan dalam jangka waktu tertentu tidak memberi perubahan pengaruh pada variable terikat. Ia bagaikan pihak ketiga yang mempengaruhi hubungan dua variable yang pertama. Seperti adanya anak yang mempengaruhi kemesraan ayah dan ibu. Berarti anak adalah variable moderatornya.

 

  1. Variable Antara (Intervening Variable)

Yang terakhir ini adalah variable yang menghubungkan antara variable bebas dan terikat yang dapat memperkuat dan memperlemah hubungan namun tidak dapat diamati dan diukur. Contohnya adalah pengaruh ibu terhadap anak akan semakin kuat setelah berkeluarga. Maka di sini keluarga adalah varibel antara.

Berikut rumus-rumus untuk menghitung variabel penelitian.

 

 

 

Gambar 3: Rumus-rumus menghitung variabel

 

Contoh variabel dalam penelitian.

 

 

 

 

 

 

Gambar 4: Variabel penelitian.

 

 

VARIABEL PENELITIAN

JJJ

 

  1. A.  Landasan Teori[~2B~2]
  2. Pengertian landasan teori

Dalam mempelajari metode penelitian yang baik dan benar, seseorang kiranya mampu memahami dan mengerti secara baik terlebih dahulu tentang apa itu landasan teori, apa itu yang dimaksud dengan landasan teori dalam penelitian. Ini merupakan hal yang sangat pengting yang perlu diperhatikan, diketahui, dan dipahami oleh siapapun mereka yang ingin melakukan penelitian, karena tanpa mengetahui dan memahami hal tersebut maka akan sulit bagi mereka untuk dapat melakukan penelitian dengan baik dan benar, selain itu pula mereka tidak akan mendapatkan hasil penelitian yang valid dan benar apabila mereka tidak memahami terlebih dahulu apa itu landsasan teori.

Definisi landasan teori dalam metodologi penelitian kualitatif berbeda dengan landasan teori dalam metodologi penelitian kuantitaf. Karenanya, definisi mengenai landasan teori dari kedua jenis metodologi penelitian ini perlu dipaparkan secara terpisah. Perbedaan ini terjadi karena metode yang digunakan dalam kedua metodologi penelitian ini berbeda satu sama lainnya. Selain itu, perbedaan ini pula disebabkan oleh berbedanya jenis kedua landasan teoritis keduanya.

Berikut pendapat para pakar atau ahli mengenai definisi teori dalam penelitian:

Menurut Wiliam Wiersma (1986) dalam (Sugiono, 2010)[4], menyatakan bahwa: A theory is a generalization or series of generalization by which we attemp to explain some phenomena in a systematic manner. Teori adalah generalisasi atau kumpulan generalisasi yang dapat digunakan untuk menjelaskan berbagai fenomena secara sistematik.”

Selanjutnya menurut Cooper and Schindler (2003) masih dalam (Sugiono, 2010)[5], mengemukakan bahwa: A theory is a set of systematically interrelated concept, definition, and proposition that are advanced to explain and predict phenomena (fact). Teori adalah seperangkat konsep, definisi, dan proposisi yang tersusun secara sistematis sehingga dapat digunakan untuk menjelaskan dan meramalkan fenomena.”

Sedangkan menurut Sugiono (2010)[6], menjelaskan bahwa teori adalah alur logika atau penalaran, yang merupakan seperangkat konsep, definisi, dan proposisi yang disusun secara sistematis.

Lebih lanjut Sugiono (2010)[7], menjelaskan tentang apa itu deskripsi teori. Ia menjelaskan bahwa deskripsi teori dalam suatu penelitian adalah teori-teori yang relevan yang dapat digunakan untuk menjelaskan tentang variabel yang akan diteliti, serta sebagai dasar memberi jawaban sementara terhadap rumusan masalah yang diajukan (hipotesis), dan penyusunan instrumen penelitian.

Dari definisi-definisi di atas dapat diambil kesimpulan yang gamblang dan mudah dipahami bahwa landasan teori adalah seperangkat konsep, definisi, dan proposisi yang disusun secara rapih dan sistematis mengenai variabel-variabel yang ada dalam penelitian. Jadi, penjelasan definisi, konsep, dan proposisi mengenai variabel-variabel dalam penelitian itu disebut landasan teori yang kemudian menjadi dasar yang kuat bagi penelitian yang dilakukan, dengan demikian maka penelitian itupun akan menghasilkan sebuah kesimpulan teori baru yang valid dan solid.

Untuk lebih memperjelas pemahaman mengenai definisi landasan teori, berikut dihadirkan contoh konkret mengenai landasan teori: penelitian mengenai “Hubungan filsafat dengan dialog antar agama di Indonesia.”

Salah satu fungsi terpenting filsafat adalah bahwa ia menyediakan dasar dan sarana sekaligus bagi diadakannya dialog di antara agama-agama yang ada di Indonesia pada umumnya dan secara khsus dalam rangka kerja sama antar-agama dalam membangun masyarakat adil-makmur. Jadi filsafat adalah dasar yang baik dan tepat bagi dialog antar-agama, karena argumentasinya mengacu pada manusia dan rasionalitas pada umumnya, tidak terbatas pada pendekatan salah satu agama tertentu, itu pun tanpa mengurangi pentingnya sikap beragama. Justru para agamawan memerlukan filsafat supaya dapat bicara satu sama lain dan bersama-sama memecahkan masalah-masalah sosial dan masalah-masalah nasional.

  1. Cara membangun landasan teori

Membangun landasan teori yang baik dan benar dalam proses penelitian merupakan hal yang mutlaq penting karena ia menjadi pondasi dan landasan bagi suatu penelitian. Kualitas penelitian dapat ditentukan dari landasan teori yang ada dalam penelitian tersebut, apabila landasan teorinya kokoh maka penelitian tersebut dapat menghasilkan kesimpulan penelitian yang kokoh pula namun begitu pula sebaliknya, apabila landasan teori dalam penelitian tersebut lemah atau bahkan tak berdasar yakni tidak memiliki bukti yang konkrit, maka hasil penelitian tersebut dapat dikatakan lemah atau bahkan tak bernilai. Oleh karena itu, dalam hal ini seorang peneliti harus mengetahui dan menerapkan langkah-langkah yang baik dan benar dalam membangun landasan teori agar penelitian yang dilakukannya dapat menghasilkan kesimpulan atau tesis yang kokoh dan bernilai seperti yang diharapkan.

Sugiono (2010)[8], memaparkan bahwa untuk dapat membangun landasan teori yang baik dan benar seorang peneliti harus menerapkan beberapa langkah-langkah berikut:

  1. Tetapkan nama variabel yang diteliti dan jumlah variabelnya.
  2. Cari sumber-sumber bacaan (buku, kamus, ensiklopedia, journal ilmiah, laporan penelitian, skripsi, tesis, dan disertasi) yang sebanyak-banyaknya dan yang relevan dengan setiap variabel yang diteliti.
  3. Lihat daftar isi setiap buku dan pilih topik yang relevan dengan setiap variabel yang akan diteliti. Untuk referensi yang berbentuk laporan penelitian, lihat judul penelitian, permasalahan, teori yang digunakan, tempat penelitian, sampel sumber data, teknik pengumpulan data, analisis, kesimpulan, dan saran yang diberikan).
  4. Cari definisi setiap variabel yang akan diteliti pada setiap sumber bacaan, bandingkan antara satu sumber dengan sumber yang lain dan pilih definisi yang sesuai dengan penelitian yang akan dilakukan.
  5. Baca seluruh isi topik buku yang sesuai dengan variabel yang akan diteliti, lakukan analisa, renungkan, dan buatlah rumusan yang dengan bahasa sendiri tentang isi setiap sumber data yang dibaca.
  6. Deskripsikan teori-teori yang telah dibaca dari berbagai sumber ke dalam bentuk tulisan dengan bahasa sendiri. Sumber-sumber bacaan yang dikutip atau yang digunakan sebagai landasan untuk mendeskripsikan teori harus dicantumkan.

Langkah-langkah di atas perlu diperhatikan oleh siapapun yang ingin melakukan suatu penelitian, karena dengan demikian maka ia akan dapat menyusun landasan teori penelitian itu dengan kokoh dan pada ahirnya ia bisa mendapatkan hasil penelitian yang valid dan ilmiah seperti yang diharapkan.

 

  1. Fungsi landasan teori

Teori dalam penelitian memiliki fungsi yang sangat mendasar dalam langkah-langkah dan proses penelitian. terutama dalam penelitian kuantitatif, keberadaan landasan teori menjadi komponen yang sangat penting sebagai penentu kevalidan dan keilmiahan suatu penelitian. sedangkan dalam metode penelitian kualitatif, keberadaan landasan teori tidak begitu penting karena landasan teori dalam metode penelitian kualitatif hanya menjadi pertimbangan atau penentu untuk dilakukannya suatu penelitian yang bersifat kualitatif tersebut atau tidak.

Cooper dan Schindler (2003) dalam (Sugiono, 2010)[9], menyatakan bahwa fungsi teori dalam penelitian adalah untuk:

  • Theory narrows the range of fact we need to study.
  • Theory suggest which research approaches are likely to yield the greatest meaning.
  • Theory suggest a system for the research to impose on data in order to classify them in the most meaningful way.
  • Theory summarizes what is known about object of study and states the uniformities that lie beyond immediate observation.
  • Theory can be used to predict further fact that should be found.

Selanjutnya menurut William Wiersma (1986) masih dalam (Sugiono, 2010)[10], menyatakan bahwa fungsi teori adalah:

Helps provide a frame work by serving as the point of departure for persuit of a research problem. The theory identifies the crucial factors. It provides a guide for systematizing and interrelating the various facets of research. However, besides providing the systematic view of the factors under study, the theory also may every well identify gaps, weak points, and inconsistencies that indicate the need for additional research. Also, the development of the theory may light the way for continued research on the phenomena under study. Another function of theory is provide one or more generalization that can be test and used in practical applications and further research.”

Dan berikutnya menurut Sugiono (2010)[11], memaparkan bahwa terdapat tiga fungsi teori yaitu:

  1. Digunakan untuk memperjelas dan mempertajam ruang lingkup, atau konstruk variabel yang akan diteliti.
  2. Untuk merumuskan hipotesis dan menyusun instrumen penelitian, karena pada dasarnya hipotesis itu merupakan pernyataan yang bersifat prediktif.
  3. Digunakan untuk mencandra dan membahas hasil penelitian, sehingga selanjutnya digunakan untuk memberikan saran dalam upaya penelitian pemecahan masalah.”

Pada umumnya disebutkan bahwa teori dalam penilitian itu memiliki 3 fungsi. Ketiga fungsi ini tergantung pada bagaimana teori itu berperan dalam menyikapi variabel-variabel dalam penelitian. Berikut tiga fungsi dari teori beserta penjelasannya:

  1. Menjelaskan (explanation)

Teori yang berfungsi menjelaskan ini adalah untuk menjelaskan tentang variabel yang akan diteliti. Pertanyaan apa dan mengapa dapat menghasilkan jawaban yang berupa teori penjelasan dari variabel-variabel dalam suatu penelitian. Contohnya seperti pertanyaan mengapa filsafat menjadi induk ilmu pengetahuan. Dapat dijawab dengan teori yang berfungsi menjelaskan.

 

  1. Meramalkan (prediction)

Teori yang berfungsi meramalkan ini dapat digunakan untuk meramalkan suatu variabel dalam penelitian untuk mengetahui apa yang akan terjadi jika suatu hal dilakukan terhadap variabel tersebut. Biasanya pertanyaan atau masalah yang muncul mengenai teori ini adalah bagaimana jika dan apa yang akan terjadi, dari pertanyaan ini akan muncul jawaban berupa teori yang berfungsi meramalkan.

  1. Pengendalian (control)

Teori yang berfungsi mengendalikan ini adalah berfungsi untuk memberikan solusi atau jalan keluar dari suatu masalah yang ada atau memberi petunjuk tentang apa yang perlu dilakukan agar suatu hal dapat berjalan harmonis seperti yang diharapkan.

Peran landasan teori dalam penelitian kualitatif berbeda dengan penelitian kuantitatif. Berkaitan dengan penjelasan tentang perbedaan peran antara penelitian kuantitatif dan kualitatif ini dijelaskan dalam paragraf berikut:

“Landasan teori dimanfaatkan sebagai pemandu agar fokus penelitian sesuai dengan fakta di lapangan. Selain itu landasan teori juga bermanfaat untuk memberikan gambaran umum tentang latar penelitian dan sebagai bahan pembahasan hasil penelitian. Terdapat perbedaan mendasar antara peran landasan teori dalam penelitian kuantitatif dengan penelitian kualitatif. Dalam penelitian kuantitatif, penelitian berangkat dari teori menuju data, dan berakhir pada penerimaan atau penolakan terhadap teori yang digunakan; sedangkan dalam penelitian kualitatif peneliti bertolak dari data, memanfaatkan teori yang ada sebagai bahan penjelas, dan berakhir dengan suatu “teori”.”[12]

 

LANDASAN TEORI

JJJ

 

  1. B.  Tinjauan Pustaka
  2. Pengertian tinjauan pustaka

Dalam proses penelitian terutama penelitian jenis kuantitatif, tinjauan pustaka merupakan hal yang sangat urgen, karena hal itu menentukan apakah penelitian kuantitatif itu bersifat ilmiah atau tidak. Sedangkan dalam penelitian kualitatif, tinjauan pustaka menjadi hal yang bersifat opsional artinya boleh melakukan tinjauan pustaka ataupun tidak, karena penelitian kualitatif biasanya menggunakan pendekatan langsung dengan objek yang akan diteli. sebab tinjauan pustaka ini merupakan hal yang urgent dalam penelitian, maka perlu dibahas secara cermat mengenai definisi tinjauan pustaka, meskipun tinjauan pustaka ini telah menjadi hal yang cukup mafhum dikalangan para peniliti, namun tetap perlu diadakan pengkajian mengenai definisi dari tinjauan pustaka agar tinjauan pustaka yang dilakukan benar sesuaui dengan koridor yang berlaku serta dapat menghadirkan kesimpulan yang diharapkan.

Tinjauan pustaka adalah proses pencarian data dari berbagai referensi yang ada mengenai objek penelitian yang akan diteliti. Selain itu ada beberapa pendapat mengenai definisi tinjauan pustaka ini dari beberapa ahli, berikut pendapat mereka tentang tinjauan pustaka:

Menurut Cooper (1988) dalam (Punaji Setyosari, 2012)[13] mendefinisikan kajian pustaka sebagai berikut:

a literature review uses as its database reports of primary or original scholarship, and doesn’t report new primary scholarship itself. The primary reports used in the literature maybe verbal, but in majority of cases reports are written documents. The types of scholarship maybe empirical, theoretical, critical/analytic, or methodological in nature. Second a literature review seeks to describe, summarize, evaluate, clarify and/ or integrate the content of primary report.”

 

            Sedangkan menurut Randolp (2009) masih tetap dalam (Punaji Setyosari, 2012)[14], mendefinisikan kajian pustaka: “As an information analysis and syntesis, focusing on findings out not simply bibliographic citations, summarizing the substance of the literature and drawing conclusion from it.”

Kemudian menurut Conny R. Semiawan (2010), menyatakan bahwa tinjauan pustaka atau literature review adalah bahan yang tertulis berupa buku, jurnal yang membahas tentang topik yang hendak diteliti.

Demikian pendapat dari beberapa ahli mengenai definisi kajian pustaka atau tinjauan pustaka, namun secara umum dapat disimpulkan bahwa tinjauan pustaka adalah bahasan atau bahan-bahan bacaan yang terkait dengan suatu topik atau temuan dalam penelitian atau dalam bahasa lain dapat dijabarkan bahwa kajian pustaka merupakan sebuah uraian atau deskripsi tentang literature yang relevan dengan bidang atau topik tertentu.

  1. Cara melakukan tinjauan pustaka yang baik

Dalam hal ini sebagian besar orang tentunya sudah tahu bagaimana melakukan tinjauan pustaka, namun kiranya perlu diuraikan kembali secara lebih mendalam mengenai tata cara melakukan tinjauan pustaka yang baik dan benar agar proses dan hasil penelitian yang dilakukan benar-benar dapat dipertanggung jawabkan secara ilmiah.

Menurut Sandjadja dan Albertus Heriyanto (2006)[15], Kiat sederhana untuk melakukan tinjauan pustaka adalah sebagai berikut:

  1. Kumpulkan kepustakaan yang diperkirakan ada hubungan atau relevan dengan masalah penelitian.
  2. Periksa sumber pendahuluan atau abstrak dari karangan tadi.
  3. Mulailah membaca dengan cermat dan kritis untuk penalaran.
  4. Membuat pencatatan yang diperlukan.
  5. Sediakan kartu pos atau kertas tebal sebesar kartu pos untuk mencatat hal-hal penting yang dibaca dari kepustakaan terlpilih.
  6. Tuliskan pada kertas tadi judul karangan, nama pengarang, volume, nomor halaman dan kata kunci karangan tersebut. Kegiatan ini akan mempermudah upaya penulisan Daftar Kepustakaan di laporan penelitian.
  7. Catatlah hal-hal yang relevan.
  8. Melakukan penalaran deduktif dan induktif biasanya akan ditemukan jawaban sementara atau hipotesa dari masalah penelitian.

Berkaitan dengan sumber yang diperoleh, terdapat dua jenis sumber dalam melakuan tinjauan pustaka yaitu sumber primer dan sumber sekunder. Sandjadja dan Albertus Heriyanto (2006)[16], menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan sumber primer adalah semua karangan asli yang ditulis oleh orang yang secara langsung mengalami, melihat atau mengerjakannya.  Dari penjelasan tersebut kemudian dapat dipahami bahwa sumber primer dapat ditemukan dalam  jenis-jenis karya sebagai berikut: Laporan Penelitian, Tesis, Disertasi, Jurnal dan Buletin. Kemudian masih menurut Sandjadja dan Albertus Heriyanto (2006)[17], menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan sumber sekunder adalah tulisan mengenai penelitian orang lainyang disajikan dalam bentuk komentar atau tinjauan oleh orang yang secara tidak langsung mengamati atau ikur serta terlibat.

Sesuai dengan penjelasan di atas tentang sumber sekunder, maka dapat disebutkan bahwa contoh-contoh dari sumber sekunder adalah jenis-jenis karya tulis dalam bentuk sebagai berikut: Buku Teks, Ensiklopedi, Kamus, Manual (Buku Pegangan), Abstrak dan Indeks.

Sumber bacaan baik itu sumber primer maupun sumber sekunder yang baik haruslah memenuhi tiga kriteria, yaitu relevansi, kelengkapan dan kemutahiran (kecuali penelitian sejarah, penelitian ini justru menggunakan sumber-sumber bacaan lama). Relevansi berkenaan dengan kecocokan antara variabel yang diteliti dengan teori yang dikemukakan, kelengkapan berkenaan dengan banyaknya sumber yang dibaca, kemutahiran berkenaan dengan dimensi waktu. Makin baru sumber yang digunakan maka akan semakin mutahir teori.

  1. Fungsi tinjauan pustaka

Tinjauan pustaka sebagai proses penting dalam penelitian tentu memiliki fungsi yang sangat mendasar bagi jalannya proses penelitian. Tanpa melakukan tinjauan pustaka maka akan sulit bagi seseorang untuk dapat melakukan suatu penelitian, terutama bagi penelitian kuantitatif, tinjauan pustaka menjadi aktivitas yang sangat mendasar karena dalam penelitian kuantitatif sebagian besar sumber informasi dan pembahasan mengenai objek penelitian terdapat dalam tinjauan pustaka. Selain itu dalam metode penelitian kuantitatif juga, landasan teori yang menjadi hal dasar bagi pondasi penelitian kuantitatif itu diperoleh secara pasti dari tinjauan pustaka. Karenanya, tinjauan pustaka menjadi dasar dan sumber utama dari metode penelitian kuantitatif.

Berikut pemaparan tentang fungsi-fungsi tinjauan pustaka dalam penelitian dari beberapa perspektif para ahli:

Menurut Sandjadja dan Albertus Heriyanto (2006)[18], tinjauan kepustakaan dapat digunakan untuk hal-hal berikut ini:

v  Memperdalam pengetahuan khususnya tentang hubungan antar variabel penelitian.

v  Menkaji teori dasar yang berkaitan dengan masalah yang diteliti.

v  Mengkaji temuan penilitian sejenis atau yang pernah dilakukan sebelumnya.

v  Menemukan metode atau cara pendekatan pemecahan masalah.

v  Mendapatkan cara mengevaluasi ataupun menganalisa data.

v  Mencari informasi aspek penelitian yang belum tergarap.

v  Memperkaya ide-ide.

Kemudian menurut Gall dan Borg (2003) dalam Punaji Setyosari (2010)[19], mengemukakan bahwa kajian pustaka memiliki fungsi sebagai berikut:

  • Membatasi masalah penelitian.
  • Menemukan arah baru penelitian.
  • Menghindari pendekatan yang kurang berhasil.
  • Memperoleh pemahaman metodologis.
  • Mengidentifikasi rekomendasi untuk penelitian lanjutan.
  • Mencari dukungan dari teori utama.

Dari pemaparan-pemaparan di atas mengenai fungsi tinjauan pustaka, maka dapat diambil kesimpulan bahwa tinjauan pustaka memang merupakan bagian penting dalam penlitian yang kita lakukan, keberadaannya tidak dapat dipisahkan dengan penlitian, karena ia meruapak sumber informasi mengenai topik yang ingin diteliti dalam suatu penelitian agar dapat menghasilkan teori-teori yang valid sesuai seperti yang diharapkan.

 

 

 

Clip Art tentang aktivitas menjelaskan suatu pelajaran

 

 

 

 

 

 

Gambar 5: Clip Art seorang pengajar

 

 

TINJAUAN PUSTAKA

JJJ

 

  1. C.  Kerangka Berpikir
  2. Pengertian

Sugiyono (2010)) mencoba menjelaskan tentang kerangka berpikir dengan mengutip dari Uma Sekaran (1992) dengan menuliskan bahwa kerangka berpikir merupakan model konseptual tentang bagaimana teori berhubungan dengan berbagai factor yang telah didentifikasi sebagai masalah yang penting. Sehingga dari situ saja kita sudah dapat mengidentifikasikan mana variable bebas (X) dan mana variable terikatnya (Y), atau bahkan ada juga variable moderat dan intervening yang perlu turut member peran dalam penelitian yang akan dilakukan.

Seorang peneliti harus menguasai teori-teori ilmiah sebagai dasar bagi argumentasi dalam menyusun kerangka pemikiran yang membuahkan hipotesis. Kerangka pemikiran ini merupakan penjelasan sementara terhadap gejala-gejala yang menjadi objek permasalahan (Surasumantri, 1986). Kerangka berpikir merupakan sintesa tentang hubungan antar variable yang disusun dari berbagai teori yang telah dideskripsikan.[20]

Diagram kerangka berpikir

 

Gambar 6: Kerangka berpikir merupakan hipotesis yang berperan sebagai jawaban sementara.[21]

Dari teori maka akan terbentuk kerangka berpikir. Dan dari kerangka berpikir tersebut, kita dapat menyusun model terlebih dahulu sebelum hipotesis. Kalau teori merupakan bentuk proposisi tentang pandangan mengenai fenomena pada realitas terkait objek penelitian, adapaun model merupakan gambaran abastraksi kenyataan yang merepresentasikan saran pemecahan penelitian.

Selain itu, dalam pandangan Dedy Mulayana (2001), kerangka berpikir dibahasan dengan kerangka teori. Menurutnya pemaparan kasus pada jurnalisme merupakan bahan kerangka teori untuk penelitian ilmiah. Jadi kasus yang ditulis jurnalis sebetulnya adalah bahan mentah penelitian ilmiah.

  1. Cara menyusun Kerangka Berpikir

Ubahnya kerangka berpikir yang disusun dalam pola pada umumnya, kerangka berpikir dalam penelitian juga tidak jauh berbeda. Awalnya kita sudah menyusun teori-teori dari setiap variable sampai pada analisa. Maka kerangka teori cukup mensistesis hasil analisa setiap teori dari variable. Dan dalam hal ini kita tidak lagi menggunakan bahasa teori yang kita ambil, melainkan pemahaman kita sendiri yang memainkan peran. Jadi semakin baik pemahaman kita terhadap landasan teori yang dikaji dan juga analisa teorinya, maka semakin baik pula  kerangka berpikirnya. Ada beberapa tips yang dapat membantu menyusun kerangka berpikir dengan tepat:

  1. Menguasai teori-teori ilmiah sebagai dasar argumentasi.
  2. Menganalisa variable-variabel yang terkait dalam permasalahan.
  3. Membahasakan sendiri hasil pemahaman dan analisa landasan teori.
  4. Dapat menggunakan bahasa asosiatif seperti: jika begini maka begitu, semakin yang ini begini maka yang itu semakin begitu.

Contoh Pengkajian kerangka teori:

Kepuasan Kerja (Y)

Pengertian

Davis (2002: 105), mendefinisikan kepuasan kerja sebagai seperangkat pegawai tentang menyenangkan atau tidaknya pekerjaan mereka. Ada perbedaan penting antara perasaan ini dengan unsure lainnya dari sikap karyawan, adapun Robbins (2009: 113) memandang kepuasan kerja sebagai “… a positive feeling about a job, resulting from an evaluation of its characteristics. Greenberg (2003: 148), mendiskripsikan kepuasan kerja sebagai sikap positif atau negative yang dilakukan individu terhadap pekerjaan mereka. Selain itu, Gibson (2000: 106) menyatakan kepuasan kerja sebagai sikap yang dimiliki para perkerja tentang perkerjaan mereka. Hal itu merupakan hasil dari persepsi mereka tentang pekerjaan. (Kutipan Teori)

Kepuasan teori kerja merupakan respons afektif atau emosional terhadap berbagai segi atau aspek pekerjaan seseorang sehingga kepuasan kerja bukan merupakan konsep tunggal. Seseorang dapat relatif puas dengan salah satu aspek pekerjaan dan tidak puas dengan satu atau lebih aspek lainnya. Kepuasan kerja merupakan sikap (positif) tenaga kerja terhadap pekerjaannya, yang timbul berdasarkan penilaian terhadap situasi kerja. Penilaian ini dapat dilakukan terhadap salah satu pekerjaannya. Penilaian dilakukan sebagai rasa menghargai dalam mencapai salah satu nilai penting dalam pekerjaan. Karyawan yang puas lebih menyukai situasi kerjanya daripada tidak menyukainya, (Analisis Peneliti)

Locke (kritner & KEnicki 2008: 105), mendefinisikan kepuasan kerja sebagai… a pleasurable emotional state resulting from the appraisal of one’s job or job experience. (Kutipan Teori)

Locke mancatat bahwa perasaan yang berhubungan dengan kepuasan dan ketidakpuasan kerja cenderung mencerminkan penaksiran dari karyawan tentang pengalaman kerja pada lampau, saat ini, dan harapan masa depan. Sehingga dapat disimpulkan bahwa terdapat dua usur penting dalam kepuasan kerja, yaitu nilai-nilai pekerjaan dan kebutuhan dasar. (Analisis Peneliti)

 

Konsep Teori

Dua Faktor Herzberg

Herzberg (Greenberg, 2008: 221), memandang kepuasan kerja sebagai “A theory of job satisfaction suggesting that satisfaction stem from different groups of variables. (Kutipan Teori). Prinsip teori ini ini merupakan kepuasan kerja dan ketidakpuasan kerja merupakan dua hal yang berbeda. Ketidakpuasan sangat berhubungan dengankeadaansekitar pekerjaan itu sendiri seperti kondisi kerja, penggajian, kemanan, kualitas supervise, dan berhubungan dengan orang lain lebih daripada perkerjaan itu sendiri. Factor ini mencegah terjadinya reaksi negative. Hezberg menyebutnya sebagai factor hygiene. Sebaliknya, kepuasan juga berhubungan dengan factor-faktor yangber kaitan dengan perkerjaan itu sendiri atau hasil yang didapat dari pekerjaan itu seperti kesempatan promosi, perkembangan, pencapaian hasil di pekerjaan. Hal ini berkaitan erat dengan kepuasan kerja dan disebut motivators. (Resume dan Analisis Peneliti)

Implikasi teori ini penting bagi para pemimpin agar dpat memerhatikan factor apa saja yang akan meningkatkan kepuasan kerja seseorang. Perbaikan gaji, kondisi kerja saja tidak akan menimbulkan kepuasan, tetapi hanya mengirangi ketidakpuasan. (Analisis Peneliti). Herzberg mengatakan bahwa, kelompok motivator atau satisfiers lah yang dapat memicu orang agar berkerja dengan baik dan bergairah. Teori ini menarik karena adanya pemusatan tentang kepuasan kerja dan ketidakpuasan kerja. Selama ini keduanya dianggap controversial. Itulah sebabnya teori ini mendapat banyak perhatian dan tanggapan dari para ahli. Dari teori –teori yang ada diatas, pemilihant eori mana yang akan dipakai tergantung pada tujuan pemakaiannya (Analisis Peneliti)

Faktor yang memengaruhi Kepuasan Kerja

Colquitt (2009; 107), mengidentifikasikan factor yang memengaruhi kepuasan kerja adalah pay satisfaction, menunjukkan rasa karyawan tentang gaji termasuk berapa besar gaji yang diterima, kebukupan penghasilan. (Kutipan Teori). Gaji yang diterima selain untuk pemenuhan kebutuhan dasar, uang juga merupakan symbol dari pencapaian (achievement), keberhasilan, dan pengakuan/penghargaan.

Jika individu memersepsikan gajinya terlalu rendah perkerja akan merasa tidak puas, artinya tidak ada dampak pada motivasi kerjanya. Gaji atau imbalan akan memepunyai dampak terhadap motivasi kerja seseorang jika besarnya imbalan disesuaikan dengan tinggi prestasi kerjanya. (Anaisis Peneliti)

Dari beberapa teori yang dikemukakan dapat disintesiskan bajwa kepuasan kerja adalah sikap positif karyawan meliputi perasaan dan tingkah laku terhadap pekerjaannnya mellui penilaian salah satu pekerjaan sebagai rasa menghargai dalam mencapai salah satu nilai penting pekerjaan.

Kriteria Pengukuran Kepuasan Kerja

Menurut Herzberg (1959), ciri perilaku pekerja yang puas yaitu mereka mempunyai motivasi untuk berkerja yang tinggi, mereka lebih senang dalam  melakukan pekerjaannya. Adapun ciri pekerja yang kurang puas yaitu mereka malas berangkat ke tempat kerja dan malas dengan pekerjaannya. Tingkah laku karyawan yang malas tentunya akan meimbulkan masalah bagi perusahaan berupa tingkat absensi yan tinggi, keterlambatan kerja, dan pelanggaran disiplin lainnnya. Sebaliknya, tingkah laku karyawan yang merasa puas akan menguntungkan bagi persahaan.

Sedangakan variabel bebasnya dalam kasus ini adalah motivasi. Maka serupa dengan variabel terikat tadi, dijabarkan dulu pengertian motovasi, konsepnya, dan factor-faktornya disertai kutipan teori dan analisis peneliti dari teori-teori tersebut. kemudian setiap analisis disintesisiskan. Barulah pada bagian terakhir adalah menulis konstruknya.

Sedangkan contoh kerangka beripikirnya apabila kita melanjutkan penelitian hubungan Motivasi kerja dengan Kepuasan kerja adalah sebagai berikut: manfaat motivasi yang utama ialah menciptakan gairah kerja, sehingga kepuasan kerja meningkat. Sementara itu, manfaat yang diperoleh karena bekerja dengan orang-orang yang termotivasi adalah pekerjaan dapat diselesaikan dengan tepat. Artinya, perkerjaan diselasikan sesuai standar skala waktu yang ditentukan, serta orang senang melakukan pekerjaannya. Sesuatu yang dikerjakan karena ada motivasi yang mendorongnya akan membuat orang senang mengerjakannya.

Karyawan yang tidak merasa puas terhadap pekerjaannya cenderung akan melakukan penarikan atau penghindaran diri dari situasi pekerjaan baik yang bersifat fisik maupun psikologis.

Bila seseorang termotivasi, ia akan berusaha berbuat sekuat tenaga untuk mewujudkan apa yang diinginkannya. Namun belum tentu uapaya yang keras itu menghasilkan kepuasan kerja yang diharapkan, apabila tidak disalurkan dalam arah yang dikehendaki organisasi. Oleh karena itu, upaya harus diarahkan dan lebih konsisten dengan tujuan ke dalam sasaran organisasi.

Sementara itu, kepuasan kerja diartikan kepuasan yang bersifat individual, semakin banyak aspek dalam pekerjaan yang sesuai dengan keinginan individu, semakin tinggi tingkat kepuasan yang dirasakan. Kepuasan kerja sebenarnya merupakan keadaan di mana seorang pekerja merasa bangga, senang, diperlakukan adil, diakui, dan diperhatikan oleh atsan, dihargai, merasa aman karena perkerjaannya dapat menghasilkan sesuatu yang memenuhi kebutuham, keinginan, harapan, dan ambisi pribadinya sehingga ia merasa puas secara lahir batin.

Dari uraian di atas dapar diduga bahwa motivasi kerja berpengaruh pusitif terhadap kepuasan kerja. Dengankata lain, makin kuat motivasi kerja, makin tinggi kepuasan kerja. Sebaliknya, makin lemah motivasi kerja, makin rendah kepuasan kerja.

Dan model teoritiknya dapat digambarkan sebagai berikut:[22]

Model teoritik kerangka berkpikir

 

Gambar 7: Model bagan teoritik kerangka berpikir

 

  1. Manfaat Kerangka Berpikir

Kerangka berpikir sangat berguna dalam perumusan hipotesis, terutama yang menggunakan metode deduktif. Pada metode deduktif teori tak hanya sebagai alat penting untuk menyusun hipotesis, tapi juga paradigm penelitiannya. Nantinya, hasil penelitian akan menjawab apakah teori; diterima, atau diragukan atau mungkin dibantah. Adapun dalam penelitian kualitatif, yaitu penelitian dengan metode induksi, bertolak dari data, memanfatkan teori yang ada sebagai bahan penjelas, dan berakhir dengan suatu “teori”.[23]

Kerangka berpikir ini nantinya akan dikonfirmasikan kembali menjadi hipotesis. Malah tak jarang penelitian maupun ulasan tentang laporan penelitian itu sendiri tidak memaparkan kerangka berpikir secara khusus karena sudah termaktub dalam hipotetis. Lagipula pada dasarnya landasan teori dikumpulkan tujuannya untuk penyusunan hipotesis.

Model seorang yang memiliki kerangka berpikir yang baik ia akan merasa berhasil dalam penelitiannya.

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 8: Clip art seorang yang memiliki kerangka berpikir

 

 

  1. D.  Korelasi Antara Kajian Pustaka, Landasan Teori, dan Kerangka Berpikir

Penelitian ilmiah merupakan kegiatan yang harus dilakukan secara sistematis logis sehingga secara teknis kegiatan penelitian tersusun dengan rapi demi hasil penelitian yang seakurat mungkin dan dapat dipahami. Salah satu sistem dalam penelitian ilmiah adalah adanya konstruksi landasan teori, yaitu jembatan yang menjadi perantara antara rumusan masalah dan hipotesis.

Setiap penelitian, secara umum terdiri dari penelitian kualitatif dan kuantitatif, memiliki sikap masing-masing terhadap teori dan hasil kajian pustaka lainnya. Sehingga boleh jadi hanya sintesa analisis teori yang akan ditarik pada kesimpulan, yaitu pada penelitian kuantitatif, atau mungkin juga dalam kegiatan penelitian teori akan ditoleh lagi saat penelitian, yaitu terutama pada penelitian dengan metode kualitatif. Akan tetapi hal ini tidak menggugurkan skema penyusunan landasan teori dan kerangka berpikir secara umum. Yang berbeda hanyalah dalam penyajian laporan hasil penelititan.

Diagram hubungan antara kajian pustaka, landasan teori, dan kerangka berpikir

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 9  : Diagram keterkaitan antara Kajian Pustaka, landasan teori, dan kerangka berpikir.[24]

 

BAB III: KESIMPULAN

Dari semua uraian di atas dapat diambil kesimpulan bahwa setelah masalah itu dirumuskan, maka langkah selanjutnya adalah mencari teori-teori, konsep-konsep, generalisasi-generalisasi yang dapat dijadikan landasan teori bagi penelitian yang akan dilakukan itu. Landasan ini perlu ditegakkan agar penilitian itu mempunyai dasar yang kokoh, dan bukan sekedar perbuatan coba-coba (trial and error). Untuk mendapatkan informasi mengenai berbagai hal yang disebutkan di atas itu orang harus melakukan penelaahan kepustakaan. Memang, pada umumnya lebih dari lima puluh persen kegiatan dalam proses penelitian itu membaca. Karena itu sumber bacaan merupakan bagian penunjang yang esensial.

Semua penelitian bersifat ilmiah, oleh karena itu semua peneliti harus berbekal teori. Dalam penelitian kuantitatif, teori yang digunakan harus sudah jelas, karena teori di sini akan berungsi untuk memperjelas masalah yang diteliti, sebagai dasar untuk merumuskan hipotesis, dan referensi untuk menyusun instrumen penelitian. oleh karena itu landasan dalam teori dalam proposal penelitian kuantitatif harus sudah jelas teori apa yang dipakai dalam penelitian tersebut.

Kerangka berpikir merupakan mode konseptual tentang bagaimana teori berhubungan dengan berbagai faktor yang telah diidentifikasi sebagai masalah yang penting. Kerangka berpikir yang baika akan menjelaskan secara teoritis pertautan antara variabel yang akan diteliti. Jadi secara toritis perlu dijelaskan hubungan antar variabel independen dan dependen. bila dalam penelitian ada variabel moderator dan intervening, maka perlu juga dijelaskan, mengapa variabel itu ikut dilibatkan dalam penelitian. pertautan antar variabel tersebut, selanjutnya dirumuskan ke dalam bentuk paradigma penelitian. oleh karena itu pada setiap penyusunan paradigma penelitian harus didasarkan pada kerangka berpikir.

Kerangka berpikir dalam suatu penelitian perlu dikemukakan apabila dalam penelitian tersebut berkenaan dengan dua variabel atau lebih secara mandiri, maka yang

 

dilakukan peneliti disamping mengemukakan deskripsi teoritis untuk masing-masing variabel, juga argumentasi terhadap variasi besaran variabel yang diteliti.

Seorang peneliti harus menguasai teori-teori ilmiah sebagai dasar bagi argumentasi dalam menyusun kerangka pemikiran yang membuahkan hipotesis. Kerangka pemikiran ini merupakan penjelasan sementara terhadap gejala-gejala yang menjadi objek permasalahan. Kriteria utama agar suatu kerangka pemikiran bisa meyakinkan ilmuan adalah alur pemikiran yang logis dalam membangun suatu kerangka berfikir yang membuahka kesimpulan hipotesis. Jadi kerangka pemikiran merupakan sintesa tentang hubungan antar variabel yang disusun dari berbagai teori yang diseskripsikan. Berdasarkan teori yang telah dideskripsikan tersebut, selanjutnya dianalisis kritis dan sistematis sehingga menghasilkan sintesa tentang hubungan antar variabel yang diteliti. Sintesa tentang hubungan variabel tersebut, selanjutnya digunakan dalam merumuskan hipotesis.

Kajian pustaka dalam melakukan suatu penelitian, keberadaannya dapat menjadi hal yang mutlak penting, karena tanpa adanya tinjauan pustaka ini maka akan sulit bagi seseorang untuk mendapatkan informasi penjelasan mengenai objek yang akan diteliti, karena dalam meakukan proses penelitian, sebelum penelitian itu dilakukan setidaknya seseorang peneliti seharusnya mengetahui gambaran sekilas tentang objek yang akan ditelitinya agar ia dapat melakukan penelitian dengan baik karena telah memiliki bekal informasi terlebih dahulu tentang objek yang akan ditelitinya tersebut. Tinjauan pustaka dalam pembahasan ini secara mendasar berperan dalam merekonstruksi landasan teori dan membangun kerangka berpikir dalam penelitian, keduanya memerlukan adanya tinjauan pustaka supaya pembahasan penelitian tersebut menghasilkan kesimpulan yang ilmiah dan diharapkan.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

  1. Mulyana Dedy. (2001). Metodologi Penelitian Kualitatif: Paradigma Baru Ilmu Komunikasi dan Ilmu Sosial lainnya. Bandung: Remaja Rosydakarya.
  2. Noor Juliansyah. (2011). Metodologi Penelitian: Skripsi, Tesis, Disertasi, & Karya Ilmiah. Prenada Media Group.
  3. Sugiyono. (2010). Metode Penelitian Pendidikan: Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Bandung: Penerbit Alfabeta.
  4. Semiawan Conny R. (2010). Metode Penelitian Kualitatif. Jakarta: Grasindo.
  5. Suryabrata Sumadi. (2011). Metodologi Penelitian. Jakarta: Raja Grafindo Persada.
  6. Sandjadja & Heriyanto Albertus. (2006). Panduan Penelitian. Jakarta: Prestasi Pustaka.

file:///D:/6/info/ Penelitian kualitatif- Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas.htm


[1] Juliansyah Noor, Metodologi Penelitian: Skripsi, Tesis, Disertasi, & Karya Ilmiah, hal. 47.

[2] Ibid, hal. 48.

[3] Ibid, hal. 49.

[4] Sugiono, Metode Penelitian Pendidikan: Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D, hal. 80.

[5] Ibid, hal. 80.

[6] Ibid, hal. 81.

[7] Ibid, hal. 388.

[8] Ibid, hal. 90.

[9] Ibid, hal. 84.

[10] Ibid, hal. 84.

[11] Ibid, hal. 88.

[12] file:///D:/6/info/Penelitian kualitatif – Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas.htm

 

[13] Punaji Setyosari, metode penelitian pendidikan, hal. 84.

[14] Ibid, hal. 85.

[15] Sandjadja & Albertus Heriyanto, Panduan Penelitian, hal. 70.

[16] Ibid, hal. 70.

[17] Ibid, hal. 70.

[18] Ibid, hal. 69.

[19] Punaji Setyosari, metode penelitian pendidikan, hal. 86.

[20] Sugiyono, Metode Penelitian Pendidikan: Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D, Hal. 92.

[21] Juliansyah Noor, Metodologi Penelitian: Skripsi, Tesis, Disertasi, & Karya Ilmiah, Hal. 80.

[22] Ibid, hal. 69-78.

[23] Ibid, hal. 34

[24] Ibid, hal. 67.


 [~2B~1]Terdaoat 4 pembahasan dalam BAB II: PEMBAHASAN ini, namun sebelum itu, dibahas terlebih dahulu mengenai variabel penelitian karena hal ini merupakan langkah awal untuk dapat membangun landasan teori.

 [~2B~2]Pembahasan utama dalam makalah ini, karena ia merupakan hal penting dalam suatu penelitian terutama penelitian kuantitatif.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s