Perbedaan Mendasar Filsafat Islam dan Barat__

  1. I.      Latar Belakang Filsafat Barat dan Islam
  2. A.     Filsafat Barat

filsafatSejak manusia ada filsafat pun sudah ada, karena arti dari filsafat secara sederhana adalah cinta kebijaksaan, kebenaran pertama, pengetahuan yang luas, kebajikan intelektual. Hal semacam ini tentu sudah ada, karena pada dasarnya manusia adalah makhluk yang berakal yang selalu ingin mencari tahu segala sesuatu dalam hidupnya. Hanya saja untuk istilah filsafat itu sendiri baru muncul pada zaman Yunani Kuno dan dari sanalah istilah filsafat itu lahir, dan kebanyakan kalangan barat menganggap bahwa Yunanilah yang dianggap sebagi tanah kelahiran filsafat, sehingga seringkali kalangan barat mengesampingkan pemikiran filsafat yang berasal dari luar Yunani, seperti filsafat China dan India, karena dianggap tidak bersentuhan dengan peradaban Yunani.

Jika ditelusuri lebih jauh mengenai arah perkembangan filsafat. Maka akan diketahui bahwa awal kemunculan pemikiran filsafat itu ada ketika adanya sebuah peradaban atau mungkin peradaban itu muncul karena adanya filsafat. Secara umum peradaban yang mempunyai hubungan dengan Yunani kuno adalah peradaban yang ada di Mesopotamia (kaldan/Irak), kemudian menyebar ke Alexandria dan dari sanalah orang-orang Yunani belajar filsafat. Pada awalnya orang-orang Yunani adalah orang yang lebih mempercayai mitos dan dongeng-dongeng sebagai kebenaran daripada menggunakan akalnya.

Pada abad 6 SM barulah bermunculan orang-orang yang menentang kepercayaan yang berdasarkan mitos kepada kebebasan berpikir untuk menelusuri semua misteri yang ada. Para pemikir itu menginginkan jawaban dari segala misteri yang ada di alam ini haruslah dapat diterima akal (rasional). Karena adanya kebebasan berpikir inilah kemudian muncul berbagai konsep berdasarkan akal murni.

Dalam buku filsafat umum yang ditulis Muzairi, menyebutkan ada tiga faktor yang menyebabkan munculnya filsafat di Yunani, yaitu:

  1. Bangsa Yunani yang kaya akan mitos, dimana mitos dianggap sebagai awal dari upaya orang untuk mengetahui atau mengerti. Kemudian mitos itu disusun secara sistematis yang untuk sementara kelihatan rasional sehingga muncul mitos selektif dan rasional, seperti syair karya Homerus, Orpheus dan lain-lain.
  2. Karya sastra Yunani yang dapat dianggap sebagai pendorong kelahiran filsafat Yunani, karya Homerus mempunyai kedudukan yang sanat penting untuk pedoman hidup orang-orang Yunani yang didalamnya mengandung nilai-nilai edukatif.
  3. Pengaruh ilmu-ilmu pengetahuan yang berasal dari Babylonia (Mesir) di lembah Sungai Nil. Kemudian berkat kemampuan dan kecakapannya ilmu-ilmu tersebut dikembangkan sehingga mereka mempelajarinya tidak didasarkan pada aspek praktisnya saja, tetapi juga aspek teori kreatif.[1]
  4. B.     Yunani Kuno dan Yunani Klasik

Filsafat yang ada di Yunani bisa dibagi dalam dua periode, yaitu periode Yunani Kuno dan Yunani Klasik. Pada awal perkembangannya hal yang banyak dikaji adalah yang berkenaan dengan alam (Yunani Kuno). Tokoh-tokohnya yang terkenal pada periode Yunani Kuno adalah Thales, Phytagoras, Xenophones dan Demokritos. Mereka lebih banyak membahas tentang alam dan asal mula kejadian alam (kosmosentris). Seperti Thales yang oleh Aristotoles dianggap sebagai The Father of Philosophy. Dia mengatakan bahwa asal mula alam adalah air dan berakhir menjadi air pula.

Phytagoras merupakan seorang yang ahli matematika sehingga dia mengatakan bahwa substansi dari alam raya ini adalah bilangan sebagai pokok dasarnya, karena segala gejala alam merupakan ekspresi indrawi dari perbandingan-perbandingan matematis. Dan setiap bilangan itu memiliki kekuatan dan arti sendiri-sendiri. Dia juga yang menggunakan istilah philosophos yang kemudian menjadi philosophy yang disebarkan oleh Socrates.

Pada masa Yunani Klasik pembahasan dari alam mulai bergeser pada pembahasan tentang manusia (Antrophosentris). Tokoh-tokoh yang terkenal pada masa ini adalah Socrates yang banyak membicarakan tentang moral dan berusaha mengajak para pemuda untuk berpikir dan menemukan kebijaksanaan dengan menjadi manusia yang bermoral dan beretika. Socrates mempunyai murid yang bernama Plato. Platolah yang menuliskan riwayat hidup gurunya, karena Socrates tidak meninggalkan tulian satu pun. Plato mengemukakan tentang ide (alam ide) dan pengalaman. Namun pendapat Plato ini ditentang alam ide oleh muridnya sendiri, Aristoteles, yang mengatakan bahwa realitas yang sesungguhnya bukan pada alam ide tapi pada kenyataan yang kongkret. Aristoteles sangat berjasa dalam mengembangkan metode berpikir secara sistematis yang biasa disebut logika formal, walaupun istilah yang digunakan Aristoteles adalah analitika dan logika baru dimunculkan oleh muridnya yaitu Cicero.

Kemudian filsafat Yunani Klasik mengalami kemerosotan setelah mencapai puncaknya (Arisitoteles) dan terjadi kekosongan pemikiran, karena tidak adanya buah pemikiran yang dihasilkan seperti Plato dan Aristoteles. Barulah lima abad kemudian filsafat kembali muncul di belahan Eropa (kekaisaran Romawi), namun dengan kondisi yang sangat terikat oleh gereja. Gereja melarang para pemikir melakukan penyelidikan-penyelidikan yang menggunakan rasio terhadap agama dan jika bertentangan dengan ajaran gereja akan dihukum berat. Kebebasan berpikir pun sangat dibatasi, filsafat hanyalah pelayan bagi gereja. Sehingga masa ini bisa dikatakan masa kegelapan filsafat dan ilmu pengetahuan.

Barulah setelah masa renaisans filsafat dan ilmu pengetahuan mulai berkembang lagi, bahkan lebih pesat. Perkembangan selanjutnya bersifat sekuler, yaitu pemisahan antara filsafat dan ilmu pengetahuan dengan doktrin-doktrin agama.

  1. C.      Filsafat Barat Setetelah Renaisans

Pada masa abad pertengahan bisa dikatakan bahwa filsafat barat dalam keadaan yang terpuruk. Kebebasan berpikir sangat dibatasi dan dibelunggu oleh sebuah institusi keagamaan yang bernama gereja. Setiap orang harus memilih antara agama dan ilmu pengetahuan, jika dia memilih sebagai orang yang taat pada Tuhan (gereja), maka dia harus memutuskan hubungan dengan ilmu pengetahuan, karena ilmu pengetahuan (filsafat) dianggap menentang agama. Kalaupun ada, maka semuanya harus tunduk pada gereja.

Setelah perang salib perkembangan ilmu pengetahuan di Barat mulai berkembang dan perdaganganpun berkembang dengan pesat, selain itu banyak penemuan-penemuan geografis dan percetakan buku yang terjadi pada pertengahan abad xv, pusat-pusat kota jatuh pada pemilik bank dan orang yang punya uang dan terjadi peralihan ekonomi dari perekonomian rumah tangga ke perekonomian kapitalisme. Kota-kota Bandar mengalami kemajuan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Banyaknya muatan barang dan luasnya perdagangan dengan pelayaran ke daerah-daerah yang jauh yang memunculkan para banker, pasar bursa, adanya perserikatan para pedagang, pengrajin, dan pengusaha untuk memperluas hasil produksinya. Semua itu mengakibatkan adanya sebuah sistem monopoli kekuasaan uang (kapitalisme).  Para raja dan rohaniawan hanyalah wayang-wayang yang dikendalikan oleh kapitalis.

Kapitalisme dan liberalisme awal ini memunculkan kebebasan individu yang tak terikat lagi oleh iman gereja. Individu-individu ini bebas berpikir dan berusaha mencari kebenaranya masing-masing, kebebasan ini mengakibatkan berkembangya ilmu pengetahuan dengan pesat. Yang akhirnya ilmu pengetahuan (filsafat) dapat mengalahkan dominasi gereja dan terjadilah sekulerisasi dan otonomi manusia. Dengan latar belakang seperti ini, maka kebanyakan filosof barat banyak bersandar pada kebenaran rasional dan indrawi serta tidak mempercayai wahyu ilahi atau yang bersumber dari hati.

Kemudian munculah berbagai macam aliran filsafat yang ada di Barat. Diantaranya yaitu, rasionalisme, empirisme dan positivism. Walau mereka berbeda-beda, namun ada satu hal yang sama yaitu, semuanya bersifat antrophosentrisme (berpusat pada manusia).

  1. Rasionalisme

Rasionalisme dapat didefinisikan sebagai paham yang menekankan pikiran sebagai sumber utama pengetahuan dan pemegang otoritas terakhir bagi penentuan kebenaran. Manusia dengan akalnya memiliki kemampuan untuk mengetahui struktur dasar alam semesta secara apriori. Pengetahuan diperoleh tanpa melalui pengalaman inderawi.[2]

Tokoh-tokoh aliran ini yaitu, Rene Descartes, Leibniz, Cristian Wolff dan Spinoza. Dari tokoh-tokoh ini Descarteslah yang menjadi tokoh sentral dalam aliran rasionalisme dan disebut sebagai babak filsafat modern. Walau kebanyakan kaum rasionalis menafikan adanya Tuhan, namun Descartes masih memberi ruang pada Tuhan dengan asumsi Tuhan yang menciptakan akal, juga Tuhan yang mencipatakan alam semesta. Tuhan bagi kaum rasionalis seperti seorang matematikawan agung yang telah meletakan dasar rasionalis pada manusia.

Mereka menolak pengetahuan yang didapat dari cerapan inderawi dengan mengatakan bahwa pengetahuan yang didapat dari pengetahuan inderawi itu sifatnya berubah-ubah, sehingga tidak bisa dijadikan landasan sebagai keputusan akhir dalam ilmu pengetahuan. Metode yang digunakan berupa metode deduktif sebagaimana terdapat dalam logika, matematika, dan geometri.

  1. Empirisme

Istilah “empirisme” berasal dari Yunani “empeiria” yang berarti “pengalaman”. Bertolak belakang dengan rasionalisme yang memandang akal budi sebagai satu-satunya sumber dan penjamin kepastian kebenaran pengetahuan, empirisme memandang hanya pengalamanlah sumber pengetahuan manusia.[3]

Tokoh-tokohnya yaitu David Hume, John Locke, dan Bishop Barkeley. Mereka mengatakan bahwa apapun yang ada dalam benak manusia, semuanya itu berdasarkan pengalaman. Sangat mustahil kita mengetahui sesuatu tanpa pernah mengalami terlebih dahulu, oleh karenanya metode yang digunakan adalah induksi. Epistemology yang mereka gunakan adalah nihil est intelectu quod non antea fuerit in sensu[4] (tidak satu pun yang ada dalam pikiran yang tidak terlebih dahulu terdapat pada data-data inderawi.

Dalam bukunya Donny Gahral Adian dan Akhyar Yusuf Lubis, Pengantar Filsafat Ilmu Pengetahuan menyebutkan bahwa Perkembangan awal empirisme pada abad 17 disebut juga empirisme atomistic, karena memahami data-data inderawi yang terpilah-pilah dan tidak punya hubungan satu sama lain. Sedangkan perkembangan pada abad 20 bisa disebut juga dengan empirisme logis atau positivism yang membatasi pengalaman sebatas apa yang dipahami dan bahasa merupakan gambaran kenyataan. Namun empirisme logis ini ditentang oleh empirisme radikal atau pragmatism yang mengatakan bahwa pengalaman adalah seluruh peristiwa yang dialami oleh manusia baik cipta, rasa dan karsa serta interaksinya dengan alam disekitarnya.

  1. Positivisme

Positivisme merupakan kelanjutan dari empirisme. Hanya saja positivisme membatasi pengalaman sebagai sesuatu yang bisa diamati saja. Banyaknya penemuan teknologi dan sains serta revolusi industri Inggris pada abad 18 menjadi penyebab kemunculan positivisme. Positivisme mengistirahatkan kerja filsafat dari spekulasinya tentang metafisika. Fungsi filsafat hanyalah menemukan prinsip-prinsip umum yang sama dengan ilmu pengetahuan dan darinya umat manusia dibimbing dalam hidupnya.

Tokoh positivisme yaitu, Henri Saint Simon dan muridnya Auguste Comte. Comte membuat tiga tahap perkembangan sejarah yaitu;

  1. Teologis, pada tahap ini manusia menganggap bahwa semua kejadian yang ada di alam berkaitan langsung dengan kekuatan ilahi. Ini pun masih bisa dibedakan dalam beberapa sub bagian yaitu, animisme dinamisme, politheisme dan monotheisme.
  2. Metafisis, pada tahap ini kekuatan ilahi digantikan oleh prinsip-prinsip metafisika yaitu kodrat.
  3. Positivis-Ilmiah, pada tahap ini manusia mulai meninggalkan kekuatan absolut baik yang berupa ilahiah maupun yang kodrati dan beralih pada observasi, pengukuran dan kalkulasi guna memahami hukum di jagad raya ini.

Positivisme berubah menjadi semacam doktrin keagamaan dengan cara melembagakan pandangan objektif-positivisnya pada semua jenis ilmu baik ilmu pengetahuan alam maupun ilmu pengetahuan sosial harus berada dibawah payung positivisme. Dan pandangan inilah yang mendominasi pandangan dunia pada abad 20.

Itulah sedikit pembahasan sejarah perkembangan filsafat yang ada di Barat. Pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana dengan orang yang berada di belahan dunia selain barat yang menganut filsafat barat, apakah ia juga termasuk tokoh filsafat barat? Kita bisa mengatakan bahwa secara geografis, filsafat barat adalah filsafat yang muncul di dunia barat, namun setelah filsafat itu menjadi sebuah aliran/pemikiran. Maka ketika orang itu mengekor pada pandangan barat ia termasuk di dalamnya, walaupun ia seorang timur sekalipun.

  1. D.     Kemunculan Filsafat Islam
  2. 1.        Aspek Doktrin

Sebelum filsafat dikenal oleh kaum Muslim, mereka terlebih dahulu mengenal ilmu kalam. Ilmu yang mempelajari tentang ketuhanan dan berbagai cabangnya, termasuk di dalamnya tentang kenabian dan hari akhir. Awal mula kemunculan ilmu kalam adalah perdebatan mengenai Al-qur’an itu qadim atau hadits, namun benihnya sudah ada sejak Nabi Muhammad wafat. Yaitu siapakah pengganti atau pemimpin setelah beliau wafat. Dan mulai terlihat dengan jelas ketika terjadinya perpecahan diantara umat Islam pada perang shiffin antara Sayyidina Ali bin Abi Thalib dan Muawiyah bin Abu Sufyan.

Dalam perang shiffin terjadilah peristiwa tahkim yaitu pihak Muawiyah meminta damai dan kembali pada kitabullah sambil mengangkat mushaf Qur’an. Awalnya Sayidina Ali menolak, namun sebagian pengikutnya memaksa agar kembali pada kitabullah yang akhirnya beliau menyetujuinya. Pada saat itu Muawiyah meminta agar kepemimpinan umat dipilih oleh rakyat dan mengosongkan terlebih dahulu kepemimpinan yang sudah ada dan masing-masing pihak mengutus delegasinya. Pihak Sayidina Ali mengutus Abu Musa al-Al’asyari dan pihak Muawiyah mengutus Amr bin ‘Ash. Dengan siasatnya yang cerdik Amr bin ‘Ash berhasil memenangkan kepemimpinan Muawiyah dan menurunkan Sayidina Ali.

Setelah peristiwa tersebut umat Islam terpecah menjadi tiga golongan yaitu pengikut setia Sayidina Ali yang kemudian dikenal dengan sebutan Syi’ah, golongan yang keluar dari barisan Sayidina Ali yang merasa kecewa dengan hasil keputusan yang didapat, padahal merekalah yang menyuruh beliau untuk menerima perdamaian dengan Muawiyah, mereka kemudian disebut kaum Khwarij. Dan golongan yang tidak berpihak pada keduanya dan menangguhkan penilaian (salah dan benar) terhadap keduanya, golongan ini dikenal dengan kaum Murjiah.

Golongan-golongan ini kemudian menjadi semacam madzhab yang mempunyai doktrinnya sendiri-sendiri dengan mencari pembenaran Al-Qur’an dan Hadits. Sebagaimana yang dilakukan kaum khwarij yang menganggap kafir yang bukan dari golonganya dan harus membunuh aktor dalam peristiwa tahkim, yaitu Sayidina Ali, Muawiyah bin Abi Sufyan, Amr bin Ash dan Abu Musa al-Asy’ari, karena mereka dianggap kafir.

Mereka pun kemudian terpecah-pecah lagi dan semuanya mengatakan bahwa apa yang mereka yakini adalah dari Qur’an dan hadits. Mereka menggunakan dalil naqli sekigus dalil aqli. Dan belakangan munculalah kaum Mu’tazilah dengan teologi rasionalnya yang banyak meminjam konsep-konsep Yunani dalam hal logika tanpa mengikatkan diri pada ajaran filsafat Yunani.

Kaum Mu’tazilah meletakan dasar kebebasan berpikir dan kebebasan berkehendak dalam teologinya. Mereka menggunakan alat yang bernama logika formal yang biasa digunakan oleh filsafat dalam mencari kebenarannya. Dan dari sinilah benih filsafat Islam ditanamkan.

  1. 2.      Aspek Sejarah

Latar belakang kemunculan filsafat Islam adalah karena adanya penerjemahan buku-buku filsafat Yunani kedalam bahasa arab yang tersimpan di perpustakaan kuno daerah-daerah yang telah dikuasai oleh kaum muslim, seperti Alexandria, Antioch, Edessa, Harran dan Judinsapur. Kota-kota tersebut dulunya adalah pusat ilmu pengetahuan.

Pada masa berakhirnya Bani Umayah dan permulaan Bani Abbasiyyah penerjemahan buku-buku yang berbahasa Yunani atau pun Suryani diterjamahkan dengan bantuan orang-orang terpelajar dari berbagai pusat tersebut. Penerjemahan tersebut memakan waktu sekitar 150 hingga 200 tahun. Pada masa berikutnya bahasa Arab menjadi bahasa ilmu pengetahuan selama 700 tahun.

Penerjemahan di masa Harun Ar-Rasyid (786-809 M) difokuskan pada karya-karya Aristoteles dan karya-karya bangsa Persia.kemudian dilanjutkan oleh Al-Makmun yang dikenal sangat tertarik dengan kebebasan berpikir yang berkuasa 813-833 M. Beliau mengadakan hubungan kenegaraan dengan raja-raja romawi, Bizantium yang berpusat di Konstantinopel.

Dengan adanya berbagai macam interaksi dengan dunia luar dan penerjemahan buku inilah yang mengakibatkan kemunculan filsafat di dunia Islam. Metode-metode filsafat mulai digunakan dalam menafsirkan ajaran Islam yang bersumber dari Qur’an dan Hadits. Seperti yang dilakukan Al-Kindi yang dikenal sebagai babak filsuf Islam atau Arab yang menafsirkan Qur’an secara rasional bahkan dengan cara filosofis.

Pada awal kemunculannya corak filsafat Islam kebanyakan beraliran paripatetik yang dipengaruhi oleh filsafat Yunani khususnya Aristoteles. Walau demikian bukan berarti filosof muslim hanya mengekor pada pemikiran Yunani, melainkan melakukan kritik dan menambahkah permasalahan-permasalahan baru yang harus diselesaikan. Permasalahan-permasalahan ini sebelumnya tidak ada pada masa Yunani. Selain paripatetik ada juga aliran Iluminisionis dan Hikmah Muta’aliyah yang merupakan ciri khas pemikiran/filsafat Islam.

Itulah sejarah singkat tentang lahirnya filsafat Islam, yang memunculkan banyak tokoh filsafat di dunia Islam seperti, Al-Kindi, Ibnu Sina, Ar-Razi, Al-farabi, Suhrawardi, At-Thusi, Ibnu Rusyd, Ibnu Bajah, Ikhwanus Shafa, Mulla Shadra dll. Yang masing-masing mempunyai pemikirannya sendiri-sendiri.

  1. II.                 Perbedaan isu-isu filsafat Islam dan Barat

 

  1. 1.        Isu-isu filsafat Islam.
    1. Metafisika.

Didalam isu-isu filsafat Islam mengenai pembahasan metrafisika, kami mengambil teori dari Abu Muhammad ibn Muhammad ibn Tarkhan ibn Auzalagh, yang terkenal dengan nama Alfarabi. Seorang filosof yang lahir pada tahun 257H (870M).

Dalam karyanya yang berjudul Falsafah Aristhuthahlis, ia menjelaskan bahwa metafisika itu adalah ilmu yang mempelajari eksistensi-eksistensi (maujud-maujud), dan ada muatan ganda yaitu tentang wujud dan teologi. Artinya bahwa metafisika itu ilmu yang mempelajari tentang konsep-konsep umum tentang wujud, spesies aksiden, kesatuan, sedangkan teologi itu sendiri adalah sebagai bagian dari ilmu universal tersebut, karena Tuhan secara umum adalah prinsip wujud. Menurut al-Farabi ada tiga masalah penting mengenai metafisika yaitu esensi, eksistensi sesuatu, pokok utama segala yang maujud, dan dan prinsip utama mengenai gerak dasar menurut ilmu pengetahuan.

Al-Farabi memulai pembahasan mengenai wujud pertama, sifat-sifat, dan cara-cara-Nya menimbulkan segala sesuatu melalui proses emanasi. Wujud pertama ini menurutnya itu adalah sebagai sebab pertama atau penyebab bagi yang lain. Bersifat sempurna, kekal abadi, terhindar dari keterbatasan, berbeda dengan wujud yang merupakan akibat dari-Nya, wujudnya bukan atas dasar suatu tujuan karena jika begitu, maka tujuan itu adalah lebih awal dari-Nya, tentu yang dimaksud disini adalah Tuhan.

Al-Farabi membagi wujud menjadi dua: wajib al-wujud yang merupakan wujud niscaya dan mumkin al-wujud yang wujudnya itu tidak niscaya, karena wujudnya bergantung pada wujud yang sebelumnya. Dan untuk menerangkan sifat-sifat-Nya itu al-Farabi merujuk pada Al-Quran seperti al-‘alim, al-hakim, al-haq dan sebagainya.

Emanasi pada dasarnya itu bermula pada bentuk tunggal dan bertingkat sampai akhirnya menimbulkan atau menciptakan segala sesuatu yang beraneka ragam. Wujud Allah itu adalah wujud mutlak yang berfikir, sebelum adanya wujud-wujud selain diri-Nya. Yaitu berfikir tentang dirinya yang akhirnya memancarkan akal pertama. Dan akal pertama ini juga berfikir tentang Allah dan terpancarlah akal kedua, kemudian proses ini berjalan terus menerus sampai pada akal yang kesepuluh. Dan akal kesepuluh ini adalah wujud terendah dalam tingkatan-tingkatan wujud immaterial, dimana akal kesepuluh ini sebagai adalah akal terakhir.

Secara lebih jelas proses terjadinya emanasi menurut al-Farabi dapat dijelaskan demikian: Tuhan sebagai wujud pertama dan akal murni dengan menjadikan dirinya sebagai subjek dan sekaligus objek melakukan ta’aqqul (berpikir) sehingga terjadilah pelimpahan. Wujud pertama lahir (wujud kedua dalam urutan emanasi disebut al-Aql al-Awwal). Akal pertama lalu berpikir, memikirkan dirinya sendiri memunculkan al-aqlu al-sani (akal kedua) dan bertaaqqul terhadap dirinya sendiri melahirkan al-samaul ula (langit pertama). Dengan munculnya langit pertama, mulai dari sini emanasi tunggal berubah menjadi plural. Akal kedua atau wujud ketiga berpikir tentang wujud pertama melahirkan al-aqlu al-salis (akal ketiga) atau wujud keempat atau taaqul-nya terhadap dirinya sendiri menimbulkan kurratu al-kawakib atau sabitah (bintang-bintang) begitulah seterusnya taaqul akal atau wujud keempat melimpahkan akal keempat atau wujud kelima hingga sampai akal kesepuluh atau wujud ke sebelas.

  1. Moral

Berbeda yang kami jelaskan pada filsafat moral dari barat yakni dari seorang filosof David Hume, yang akan dibahas berikut. Namun sekarang adalah pembahasan mengenai pandangan filsafat moral dari seorang filsafat Islam Abu Bakar Muhammad bin Zakaria Ar-Razi (864-925M), yang lebih dikenal dengan Ar-Razi.

Ar-Razi, menjelaskan tentang filsafat moralnya itu dengan baik, ia menjelaskan tentang tindakan-tindakan, atau sifat-sifat buruk, seperti iri hati, dusta, dan ia juga menjelaskan tentang kebahagiaan, kesenangan dan yang lainya.

Ia dalam teorinya tentang kesenangan, menjelaskan bahwa kebahagiaan ialah kembalinya apa yang telah tersingkir dari kemudharatan, seperti orang yang meninggalkan tempat teduh menuju tempat yang terkena sinar matahari yang panas akan senang ketika kembali ketempat teduh.[5]

Keseluruhan etikanya difokuskan pada himbauan akal yang mengontrol hawa nafsu, yaitu penting memerangi, dan menekan dan mengendalikan hawa nafsu. Mungkin inilah perbedaanya dengan David Hume yang mengatakan moralitas itu tidak ada kaitanya dengan akal. Sedangkan Ar-Razi yang sudah dikatakan diatas akal yang memfokuskan kajianya mengenai ini dengan himbauan akal. Dari sini kita sudah bisa menemukan perbedaanya antara David Hume dari filsafat Barat dan Ar-Razi dari filsafat Islam.

  1. Jiwa

Pada pembahasan jiwa kali ini mengenai pandangan filsafat Islam tentang jiwa, ada beberapa tokoh filosof yang kami sajikan salah satunya dari ikhwan Ash-Shafa.

Ikhwan Ash-Shafa juga mengatakan bahwa manusia itu terdiri dari dua unsur, yang pertama adalah tubuh yang bersifat materi yang terdiri dari air, tanah, api dan udara. Kemdian yang kedua adalah jiwa yang bersifat immateri. Masuknya jiwa kedalam tubuh yaitu karena jiwa melakukan kesalahan seperti Nabi Adam As dan Hawa. Karena kesalahan itu jiwa yang tadinya dialam rohani turun kebumi dan merasuk ketubuh, yang tadinya punya banyak pengetahuan karena masuk kedalam tubuh jiwa menjadi lupa, jadi mengetahui apa-apa. Yang ada hanyalah pengetahuan secara potensi. Namun karena jiwa memiliki tubuh jadi ia bisa kembali mendapatkan dan menerima pengetahuan secara actual.

Ketika jiwa itu kembali menerima dan mendapatkan pengetahuan dengan benar, jiwa manusia menjadi suci, dalam hal ini ia menyebutnya sebagai malaikat dalam potensi, kemudian ketika manusia mengalami kematian lepasnya jiwa dari tubuh, barulah jiwa mengaktual menjadi malaikat. Sebaliknya jika jiwa manusia kebanyaan dosa dan kotor, maka disebut setan dalam potensi, kemudian setelah mati barulah jiwa mengaktual menjadi setan.

Berbeda dengan Nasiruddin Ath-Thusi (1201M) yang membagi jiwa kedalam tiga bagian yaitu jiwa manusiawi, hewani, dan yang terakhir jiwa imajinatif. Jiwa manusiawi ditandai dengan adanya akal, dari sini ia membagi akal toeritis dan akal praktis. Akal teoritis merupakan potensialitas, yang perwujudanya adalah konsep yang menjadi nyata terlihat dan pengetahuan. Sedangkan akal praktis itu terkait dengan tindakan-tindakan yang disengaja atau tidak disengaja.

Jiwa imajinatif berkaitan dengan gambaran-gambaran rasa atau perasaan, yang mana jika ia disatukan dengan jiwa hewani yang terjadi adalah kehancuran karena jiwa hewani itu hanya mendorong kita akan kepuasan dan kesenangan (hawa atau nafsu). Namun jika disatukan dengan yang jiwa manusiawi maka akan akan ikut bergembira atau bersedih bersema jiwa itu.

Ar-Razi membagi tentang manusia itu badan dan roh atau jiwa, orang-orang yang mengatakan hal ini berbeda pendapat dalam penetapan spesifik ini:

a)     Empat macam komponen atau campuran yang kemudian mewujudkan badan ini.

b)     Maksudnya adalah darah.

c)      Roh yang lembut dan muncul disisi kiri dari hati, dan mengakses sel-sel keseluruh anggota badan.

d)     Roh yang naik didalam hati ke otak, kemudian membentuk proses yang selaras untuk menerima kekuatan menghafal dan berfikir dan mengingat.

e)     Fisik yang berbeda dengan badan yang dapat diraba ini yang bersifat tinggi, ringan, hidup, yang menyebar kesuluruh tubuh dan memberi pengaruhnya yang berupa rasa dan gerakan.[6]

Bisa kita bandingkan dengan pembahasan jiwa yang dibahas Plato dengan teori jiwa tripatitnya yang kami bahas berikut, mungkin terlihat sama dengan milik At-Thusi namun dalam istilah berbeda, tapi Ath-Thusi sedikit lebih lengkap karena ia membagi lagi konsep jiwa manusiawinya yang dalam istilah pembahasan Plato disebut akal. Sedangkan Ikhwan Ash-Shafa agak sedikit sederhana. Dan Ar-Razi yang berbeda penjelasanya dan pembagianya, namun ada sedikit kesamaan.

  1. Eskatologi.

Masalah kebangkitan adalah salah satu masalah filsafat dan juga teologi, ini terkait dengan mungkin ataukah mustahil ada kehidupan setelah mati, atau menghidupkan kembali apa-apa yang sudah mati. Demikian juga kaitanya dengan masalah jiwa itu kekal atau tidak,dan terdiri dari apakah tubuh itu, bisa juga apasih tubuh manusia itu, karena dari situ kita bisa melihat bahwa jika manusia dibangkitkan kembali dari kematianya, maka yang bangkit itu jiwa atau tubuh (raga) nya.

Para filosof juga berbeda pendapat mengenai masalah kebangkitan apakah tubuh dan jiwa atau kah jiwa saja yang dibangkitkan. Namun salah satu dari filosof Islam yaitu Ibn Sina (Avicienna) percaya kebangkitaan. Dalam salah satu bukunya Al-Syifa, dan Al-Isyarat, dia ingin membuktikan bahwa pahala dan dosa itu dibagikan secara merata kepada tubuh (badan) dan jiwa. Ia mengatakan bahwa bukti kebangkitan dapat diambil dari pengetahuan agama, namun untuk membuktikan kebenaran kejadianya, itu kita harus melihat pada syariah dan hadis nabi, yakni tentang terjadinya kebangkitan jasmani, kebahagiaan jiwa dan kesengsaraannya dapat dibuktikan secara rasional melalui deduksi logika dan Al-Quran dan Hadis yang diakui oleh nabi.[7] Filosof Shadr Al-Din Syirazi juga membahas tentang kebangkitan, dan ia juga sama membuktikannya dengan Al-Quran dengan Sunnah.

Masalah mengenai jiwa atau badan yang bangkit ataukah dua-duanya itu merupakan masalah yang bukan sederhana, karena begitu banyak pendapat mengenai hal ini. Ada golongan yang menyatakan yang mati itu adalah roh atau jiwa dengan dalil bahwa tidak ada yang kekal kecuali Allah semata, Allah berfirman “dan, tetap kekal wajah Rabbmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan.” (Ar-Rahman: 27).

Sebagian orang yang menyatakan bahwa badan itulah yang mati dengan argumrn banyak hadis menunjukan kenikmatan dan siksaan roh setelah mati, Allah berfirman: “Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur dijalan Allah itu mati, bahkan mereka itu hidup disisi Rabbnya dengan mendapati rezki, mereka dalam keadaan gembira disebabkan karunia yang diberkan-Nya kepada mereka, dan mereka bergirang hati terhadap orang-orang yang masih tinggal dibelakang.” (Ali Imran: 169-170).

Ysng menyatakan badan dan roh yang hidup adalah sebagai berikut “Hai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Rabbmu dengan hati yanga puas lagi diridhai-Nya. Maka masuklah kedalam jama’ah hamba-hambaku, dan masuklah kedalam surgaku.(Al-Fajr: 27-30). Dan Allah berfirman, “Yang telah menciptakan kamu lalu menyempurnakan kejadianmu dan menjadikanya (susunan tubuh) mu seimbang. “ (Al-Infithar: 7). Dapat kita ketahui dari sini bahwa suatu jiwa atau roh membentuk rupa tertentu dibadan, yang membedakanya dengan yang lain. Ia badan yang baik dan yang buruk akan memperoleh hasil dari kebaikan dan keburukannya dan roh yang baik dan yang buruk juga akan memperoleh kebaikan dan keburukanya.[8]

  1. Kenabian

Banyak pandangan mengenai teori kenabian menurut beberapa filosof, beberapa teori ini beraneka ragamnya, dari mulai Ar-Razi, Al-Farabi, Ibn miskawih, sampai Nasiruddin At-Thusi. Kami mewakilkan teori kenabian berdasarkan para filosof ini.

Ar-Razi adalah seorang filsafat rational murni, Ia sangat menjunjung tinggi akal. Katanya manusia mempunyai akal yang membedakan dari hewan dan yang lainya, yang bisa memperoleh banyak pengetahuan, bahkan akal bisa mengetahui pengetahuan tentang Tuhan. Ia berpendapat bahwa manusia itu tidak butuh nabi dalam bukunya Naqd al-adyan au fi al-nubuwwah (kritik terhadap agama-agama atau kenabian) nabi tidak boleh atau tidak berhak mengklaim bahwa dirinya itu mempunyai keistimewaan, karena semua manusia dimana Tuhan itu adalah sama, yang membedakan adalah pendidikan dan perkembanganya. Setiap bangsa hanya percaya pada nabinya saja dan tidak mengakui nabi yang lain, dan fanatik terhadap agamanya, sehingga menimbulkan perpecahan dan kekacauan.

Mungkin karena pendapatnya yang ekstrim ini bukunya-bukunya dimusnahkan. Tapi perlu digaris bawahi bahwa ia adalah seorang filosof rasional murni. Banyak orang beranggapan bahwa Ar-Razi itu zindik bukan Islam. Menurut Abd al-Lathif Muhammada al-Abad, mereka tidak melihat karya-karyanya yang lain, Ar-Razi mengakui adanya Tuhan yang Maha Bijaksana dan hari akhir bahkan dalam kitabnya Sirr al asrar atau Bar’u al sa’an ia tidak lupa shalawat kepada nabi.

Al-Farabi dengan teori kenabianya itu karena termotivisir pemikiran filosof sebelumnya yang berpendapat bahwa manusia tidak butuh nabi, karena filosof juga bisa menangkap hal-hal yang diluar jangkauan indera dan sehingga dapat berhubungan dengan akal 10 (jibril).

Menurutnya manusia dapat berhubungan dengan akal Fa’al itu dengan dua cara: pertama penalaran, renungan pikiran dan kemudian yang kedua adalah imajinasi, intuisi atau ilham. Cara yang pertama itu hanya mungkin diraih oleh orang-orang pilihan yang sudah melatih akalnya, dalam hal ini kita sebut filosof. Sedangkan cara yang kedua itu hanya nabi yang bisa karena mempunyai daya intuisi yang tinggi, disamping itu nabi dianugerahi akal dengan kekuatan suci, dan nabi juga berhubungan dengan akal 10 secara langsung.

Al-Farabi mennjelaskan bahwa perbedaan antara filosof dan nabi itu adalah bahwa setiap nabi itu filosof, namun setiap filosof belum tentu nabi.

Bagaimana dengan Nasiruddin At-thusi? Ia menjelaskan bahwa mempunyai sifat seperti kebebasan bertindak, sehingga hal ini menimbulkan konsekuensi terjadinya kekacauan didunia, oleh karena itu manusia perlu peraturan Tuhan yang suci untuk membibing manusia. karena Tuhan tidak terjangkau maka manusia memerlukan nabi, yang nantinya bisa mengatur kehidupan social, politik, dan moralitas manusia.

Sedangkan Ibn Miskawih penjelasanya hampir sama dengan al-Farabi. Manusia itu butuh nabi karena nabi itu sumber informasi-informasi untuk mengetahui sifat-sifat Tuhan dan moralitas dengan yang baik. Menurutnya filosof memperoleh pengetahuan itu pertama dari daya indera, terus kedaya khayal, kemudian kedaya pikir, dan bisa berhubungan dengan akal aktif (Jibril), sedangkan nabi mendapatkan secara langsung dari akal aktif atau jibril.

  1. 2.      Isu-isu filsafat Barat.

a. Moral

David Hume (1711-1776) seorang tokoh utama empirisme, yang mengatakan bahwa manusia tidak mungkin mengetahui sesuatu atau pengetahuan diluar pengalaman. Dairi sini maka sudah tentu Hume menyankal segala masalah metafisika.

Mengenai masalah etika atau moral hume mengatakan bahwa tidak ada yang baik dan buruk, artinya dalam penilaian suatu kejadian atau tindakan itu pada dirinya tidak ada baik dan tidak ada buruk (jahat). Yang ada ada adalah penilaian dari emosi atau perasaan kita mengenai suatu kejadian itu. Contohnya adalah ketika ada seorang anak memukul ayahnya, dalam kejadian ini itu sesungguhnya tidak baik atau buruk, artinya baik dan buruk itu tidak kelihatan. Barulah ketika emosi atau perasaan kita bereaksi dengan spontan menilai ini seperti ini, atau itu seperti itu.

Maka menutut David Hume moralitas itu hanya hal mengenai perasaan. Seluruh moralitas hanyalah satu sistem yang denganya kita mengatur pengalaman yang menyenangkan dan yang tidak menyenangkan dengan cara yang berguna bagi kehidupan bersama.

Dengan demikian Hume berbeda dengan filsafat tradisional yang beranggapan bahwa bersifat moral itu adalah yang menurut pada akal. Penjelasanya yaitu bahwa didalam diri manusia itu terdapat akal budi dan emosi, ketika emosi mucul secara spontan kemudian akal budi mengetahui mana yang benar mana yang salah, maka akal memberitahu atau mengarahkan emosi bertindak kepada yang baik.

Hume menyatakan moralitas itu tidak ada kaitanya dengan akal budi. Misalkan kita contohkan ketika kita marah pada seorang teman kita karena suatu hal, tentunya teman kita adalah objek sasaran kita, tapi kita malah menluapkan kemarahan kita dengan tindakan merusak tanaman atau memukul pohon, tentunya tindakan ini tidak rational. Atau ketika kita merasa takut setentgah mati ketika melihat bayangan yang besar, padahal itu hanyalah bayangan dari seseorang atau suatu benda, ini juga tidak rasional. Maka dari itu ia mengatakan bahwa pandangan moral itu tidak ada sangkut pautnya dengan akal. Kemudian mengenai penilaian-penilaian moral juga tidak ada hubunganya dengan akal. Nilai-nilai moral atau tindakan baik atau jahat itu tidak melekat pada sifat orang itu dan tindakanya, karena ini hanya merupakan reaksi dari pengamat yang menilainya.

Manusia secara alami meminatidan menyukai kenikmatan dan membenci sekaligus menolak apa yang terasa tidak nyaman dan tidak enak pada dirinya. Maka dari itu moralitas hanyalah masalah perasaan. Kemudian bagaimanakah cara penilaian moral itu? Hume mengatakan bahwa moralitas mesti berdasarkan emosi hati manusia yang tidak egois menguntungkan diri sendiri. Menurut Hume perasaan ini disebut sebagai cinta kemanusiaan. Karena didalam setiap individu-individu seseorang memiliki cinta kemanusiaan, inilah yang menjadi dasar moralitas umum dan dasar moralitas manusia.

b. Jiwa

Plato mengamati bahwa manusia itu mempunyai esensi. Disamping tubuh (raga) manusia juga mempunyai jiwa, dan ini bukan merupakan hal yang sederhana. Manusia mempunyai tiga elmen, yang pertama adalah yang membedakan manusia dengan yang lainya yaitu akal untuk berfikir, dan kemampuan menggunakan bahasa, kemudian yang kedua adalah elmen rohaniah yaitu rasa benci, cinta, ambisi, semangat, kemarahan, melindungi diri dan yang lainya, kemudian yang terakhir yaitu yang ketiga adalah nafsu badaniah ang berupa dorongan untuk memuaskan hasrat, dan kebutuhan.

Plato menjelaskan ketiga elmen tersebut bahwa elmen pertama yaitu akal adalah tingkatan paling tinggi karena dapat menilai dan mengetahui mana yang benar dan mana yang salah, oleh karena itu akal menduduki tingkatan pertama, kemudian tingkatan yang kedua itu adalah elmen rohaniah dam yang terakhir itu adalah hawa nafsu merupakan elemen pada tingkatan terendah. Teori ini disebut dengan teori jiwa tripatit.

Jadi bisa dilihat dari penjelasan singkat mengenai teori jiwa tripatit ini, kita bisa tarik kesimpulan karena kemampuan manusia dalam tingkah berfikir itu berbeda-beda, buktinya ada yang bisa menjadi dokter, filosof, bahkan tukang cuci dsb. Tergantung manusia itu sendiri menggunakan akalnya seberapa jauh. Begitu juga mengenai hawa nafsu dan kerohaniaan, manusia mempunyai kecendrungan berbeda, dan juga tingkatanya.

Didalam jiwa juga mempunyai konflik, ketika tingkatan tertinggi dari elmen pertama akal, akan dihadapkan kepada situasi-situasi tertentu. Misalkan ketika seseorang menemukan dalam jumlah besar, hawa nafsu mendorong untuk mengambilnya, tetapi akal berkata lain, untuk mengambil uang itu karena bukan miliknya. Lalu bagaimana mengatasi konflik jiwa, agar kualitas jiwa meningkat? Plato menganalogikan seperti berikut: manusia sebagai akal, elmen rohani sebagai singa, kemudian hawa nafsu sebagai naga berkepala banyak. Untuk menyatukan jiwa atau meningkatkanya yaitu dengan cara membujuk singa untuk membantu manusia menjaga naga agar tetap terawasi.

Artinya dari analogi diatas bahwa elmen-elmen itu harus semuanya digunakan dalam artian semuanya harus seimbang antara elmen satu dengan elmen yang lainya untuk menyatukan jiwa Begitulah salah satu teori jiwa filsafat barat, yang kami ambil dari seorang filosof yaitu Plato.

  1. III.               Metodologi Filsafat Islam dan Barat

Filsafat juga memiliki metodenya sendiri. Namun pada bidang filsafat paling sulit bicara mengenai satu metode filsofis, dikarenakan ada berbagai macam aliran filsafat, maka ada berbagai macam juga metode yang digunakan, namun filsafat tetap mengikuti hakekat umum.

  1. A.     Metode dan objek filsafat

Pada bidang filsafat, metode dan objek formal tidak dapat dipisahkan. Seperti masing-masing filsafat menentukan objek formal filsafat menurut pemahamnya sendiri-sendiri, begitu juga mereka masing-masing mempunyai metodenya dan logikanya, sesuai dengan objek formal itu dan uraian teorinya. Jadi jelaslah adanya perbedaan antara realisme aristoteles, idealisme, positivisme, materialisme, eksistensialisme. Filsafat berbicara mengenai metodenya sendiri. Yang mana metodenya itu dijelaskan, dibela, dipertanggung jawabkan.

Menurut Louis Katt Soff objek filsafat itu bukan main luasnya, yaitu meliputi segala pengetahuan manusia serta segala sesuatu yang ingin diketahui manusia

Objek filsafat ada dua, yakni:

1. Objek materia filsafat ialah Sarwa-yang-ada, yang pada garis besarnya dapat dibagi atas tiga persoalan pokok:

a. Hakekat Tuhan;

b. Hakekat Alam dan

c. Hakekat Manusia.

2. Objek forma filsafat ialah usaha mencari keterangan secara radikal (sedalam-dalamnya sampai ke akarnya) tentang objek materi filsafat (sarwa-yang-ada)

Adapun objek Filsafat Islam ialah objek kajian filsafat pada umumnya yaitu realitas, baik yang material maupun yang ghaib. Perbedaannya terletak pada subjek yang mempunyai komitmen Qur’anik.

  1. B.     Pemakaian metode-metode ilmiah umum

Masing-masing metode filsafat juga dengan sendirinya mamakai dan menghayati unsur-unsur metodis umum seperti pencerapan, rasio, induksi, deduksi dan sebagainya. Namun setiap filsafat menerapkannya menurut gayanya sendiri. Kadang-kadang cara dan tekanan khusus itu nampak dalam nama aliran filsafat (segi subjektif); rasionalisme, pragmatisme, fenomenologi, positivisme, empirisme. Namun lebih kerap nama aliran   objek formal (segi objektif); realiasme, idealisme, meterialisme, monisme, essensialisme, vitalisme. Tetapi bagaimanapun mereka harus memberi arti dan fungsi kepada semua unsur metodis umum.

  1. C.      Metode filsafat yang khas

Kekhasan metode filsafat merupakan masalah yang paling pokok, namun itu juga merupakan hal yang paling sulit dijawab. Rupanya tidak ada metode filsafat umum. Masing-masing filsafat menunjukan haknya bahwa dialah yang mempunyai metode umum yang dimaksudkan itu, dan menolak metode lain.

Maka dalam usahanya untuk menggambarkan metode filsafat umum, banyak ahli metodologi lari kembali ke unsur-unsur metodis umum saja, dengan berkata misalnya bahwa bagi filsafat berlakulah metode induktif-deduktif. Namun itu belum cukup. Metode filsafat umum tidak dapat ditemukan dengan menyaring semua metode filsafat saja, dan menyuling darinya sesuatu yang murni. Penentuan metode filsafat adalah usaha filosofis, yang melibatkan pula pemahaman tentang filsafat dan tentang objek formalnya.

  1. D.     Metode-metode filsafat konkrit

Sepanjang sejarah filsafat telah dikembangkan sejumlah metode-metode filsafat yang berbeda dengan cukup jelas. Yang paling penting dapat disusun menurut garis historis sebagai berikut:

  1. Metode kritis: Sokrates, Plato.

Bersifat analisa istilah dan pendapat. Merupakan hermeneutika, yang menjelaskan keyakinan, dan memperlihatkan pertentangan.dengan jalan bertanya (berdialog), membedakan, membersihkan, menyisihkan dan menolak, akhirnya ditemukan hakikat.

  1. Metode intuitif: Plotinus, Bergson.

Dengan jalan introspeksi intuitif, dan dengan pemakaian simbol-simbol diusahakan pembersihan intelektual (bersama dengan persucian moral), sehingga tercapai suatu penerangan pikiran. Bergson: dengan jalan pembauran antara kesadaran dan proses perubahan tercapai pemahaman langsung mengenai kenyataan.

  1. Metode skolastik: Aristoteles, Thomas Aquinas, filsafat abad pertengahan.

Bersifat sintesis-deduktif. Dengan bertitik tolak dari definisi-definisi atau prinsip-prinsip yang jelas dengan sendirinya.

  1. Metode matematis: Descartes dan pengikutnya.

Melalui analisa mengenai hal-hal komplek dicapai intuisi akan hakekat-hakekat ‘sederana’ (ide terang dan berbeda dariyang lain); dari hakekat-hakekat itu dideduksikan secara metematis segala pengertiam lainnya.

  1. Metode empiris: Hobbes, Locke, Berkelay, Hume.

Hanya pengalamanlah yang menyajikan pengertian benar, maka semua pengertian (ide-ide) dalam introspeksi dibandingkan dengan cerapan-cerapan (impressi) dan kemudian disusun bersama secara geometris.

  1. Metode transendental: Kant, neo-skolastik.

Bertitik tolak dari tepatnya pengertian tertentu, dengan jalan analisa diselidiki syarat-syarat apriori bagi pengertian sedemikian.

  1. Metode dialektis: Hegel, Marx.

Dengan jalan mengikuti dinamik pikiran atau alam sendiri, menurut triade tesis, antitesis, sintesis dicapai hakikat kenyataan.

  1. Metode fenomenologis: Husserl, eksistensialisme

Dengan jalan beberapa pemotongan sintesis (reduction), refleksi atas fenomin dalam kesadaran mencapai penglihatan hekekat-hekekat murni.

  1. Metode neo-positivistis.

Kenyataan dipahami menurut hakikatnya dengan jalan mempergunakan aturan-aturan seperti berlaku pada ilmu pengetahuan positif (eksakta).

  1. Metode analitika bahasa: Wittgenstein.

Dengnan jalan analisa pemakaian bahasa sehari-hari ditentukan salah tidaknya ucapan-ucapan filosofis.

  1. E.      Metode yang digunakan untuk mencapai pengetahuan
  • Metode empiris : adalah metode pengetahuan yang didapat dari  pengalaman atau dari indra. Namun ada beberapa kelemahan dalam metode ini, diantaranya pernyataan bahwa  kesimpulan rasional tidak harus melalui metode empiris  tapi kesimpulan harus melalui metode rasional.
  • Metode naratif (pemberitaan) : adalah metode mendapatkan pengetahuan dari berita-berita dengan membaca dan mendengar. Ulama ushul fiqh menggunakan metode ini, misalnya untuk menggunakan hukum dengan dalil (pemberitaan dari orang lain) Syarat utama adalah jujur. Metode naratif tidak bisa berdiri sendiri dan harus ditopang oleh metode lain. Mungkin metode ini hanya ada dalam islam karena mengambil sumber teks dari quran & hadist.
  • Metode intuitif : adalah metode mendapatkan pengetahuan  yang didapat dari intuisi dan secara langsung (tanpa parantara). Dalam pengetahuan tedapat tiga unsur yakni aaalim, ma’lum & pengetahuan(orang yang mengetahui,diketahui dan pengetahuan). Contoh pengetahuan tentang diri, antara yang mengetahui dan diketahui bersatu (S dan O menyatu) sehingga pemahaman menganai diri anda  tanpa melalui konsep disebut juga pengetahuan khuduri (hadir dalam diri kita)
  • Metode rasional : murni datang dari kemampuan tertentu dalam jiwa manusia yang bernama rasio atau akal yang memiliki bebrapa kemampuan, salah satunya berfikir, hal inilah yang membedakan manusia dari dengan mahluk lainnya. Kita menghasilkan pengetahuan dari perbuatan yang dilakukan oleh akal dengan berfikir yakni menggunakan metode rasional. Tanpa adanya metode rasional, maka metode naratif dan empiris tidak dapat memperoleh pengetahuan. Intuisi yang paling prinsip, kemudian menggunakan metode rasional, dalam studi apapun termasuk agama yan harus kita lakukan adalah berfikir.
  1. IV.               Perbedaan Fisafat Islam dan Barat (dari segi kelompok, metodologi &teori)
  2. A.     Filsafat islam
  3. 1.        Paripatetik [9]

Istilah paripatetik merujuk kepada istilah Aristoteles yang selalu berjalan mengelilingi muridnya. Beberapa filosof yang dikategorikan dalam aliran ini adalah Al-Kindi, Alfarabi, Ibn Sina, Ibn Rusyd dan Nasruddin Thusi. Ciri khas aliran ini dari segi metodologis atau epistemologis adalah:

  • Penjelasan filosof paripatetik bersifat sangat diskursif (bahsi) yakni mengunakan logika formal yang didasarkan pada penalaran akal yang dikenal juga dengan sebutan silogisme.
  • Mengguunakan konsep ilmu hushuli (perolehan) yakni diketahui secara tidak langsung melalui perantara.
  • Sangat mengandalkan rasional, sehingga kurang memperhatikan intiutif.
  • Mempercayai Hylomorfisme, yaitu ajaran yang mengatakan bahwa apapun yang ada di dunia ini terdiri atas dua unsur utama, yakni materi (hyle) dan bentuk (morfis). Bentuk-bentuk benda bersifat kategoris.
  • Adanya teori emanasi yang membedakan dengan aristotelianisme murni.
  • Dalam teori wujudnya, ibn sina mengatakan wujud adalah yang nyata/real.

Berkaitan dengan masalah emanasi ini, awalnya Alfarabi kecewa atas buku metafisika Aristoteles yang tidak banyak membicarakan masalah ketuhanan yang merupakan tema pokok dalam Islam, begitu juga Ibn Sina merasa kecewa dengan hal itu. Kemudian Alfarabi menemukan teori emanasi Plotinus, pendiri aliran neo-platonik. Dan akhirnya Alfarabi dapat menghasilkan teori emanasi yang lebih cangih di banding Plotinus. Dan kemudian di susul pula dengan teori emansi Ibn Sina yang lebih cangggih dari teori emanasi Alfarabi.

Kemudian, berkaitan dengan teori hylomorphis Aristoteles, Ibn Sina mengemukakan bahwa “ dunia secara keseluruhan ada bukan karena kebetulan, tetapi ia diberikan oleh tuhan, ia diperlukan dn keperluan ini diturunkan dari tuhan”. Inilah prinsip Ibn Sina tentang eksistensi. Dari sudut pandang metafisik, teori tersebut berupaya melengapi analisis Aristoteles tentang suatu maujud menjadi dua elemen yang diperlukan, yaitu bentuk dan materi.

Ibn sina mengatakan bahwa bentuk dan materi itu hanya bergantung kepada tuhan (akal aktif) dan lebih jauh lagi bahwa eksistensi yang tersusun juga tidak hanya disebabkan oleh bentuk dan materi saja, tetapi harus terdapat “ sesuatu yang lain “ . akhirnya ia menjelaskan kepada kita bahwa “ segala sesuatu kecuali Allah yang Esa yang esensi-Nya adalah tunggal dan maujud, memperoleh eksistensinya dari sesuatu yang lain didalam dirinya sendiri, ia layak untuk mendapatkan  ketidakadaan yang mutlak. Sekarang ia bukan materi sendiri tanpa bentuknya, atau bentuk sendiri tanpa materinya yang layak mendapatkan ketidakadaan itu, tetapi adalah semuanya ( bentuk dan materi).

  1. 2.      Illuminasi (Isyroqi)

Aliran ini diidrikan oleh Suhrawardi Al-maqtul. Adapun metodologi yang digunakan adalah:

  • ia mencoba memberikan tempat yang penting bagi metode intuitif / irfani
  • berkaitan dengan pengalaman mistis, maka illuminasi menggunakan konsep ilmu hudhuri,karena dalam pengertian mistis seperti itu objek penelitian telah hadir pada diri seseorang sehingga modus pengenalan seperti ini serring disebut ilmu hudhuri
  • Memiliki konsep Metafisika cahaya, Tuhan adalah cahaya diatas cahaya (nurul anwar) yang merupakan sumber dari segala cahaya.
  • Benda-benda tidak memiliki definisi kategoris sebagaimana yang dipercayai kelompok paripatetik, yang membedakan hanyalah intensitas cahaya yang dimikinya, semakin banyak cahaya semakin tinggi derajatnya contohnya, hewan dan manusia tidak bisa dibedakan secara kategoris melalui esensinya tetapi disebabkan kenyataan bahwa manusia memiliki cahaya lebih dibanding hewan. Jadi bentuk-bentuk benda lebih bersifat relatif (lebih atau kurang).
  • Bagi Suhrawardi essensilah yang real, bukan eksistensi
  • Teori emanasi iluminassionis lebih ekstensif dibanding kaum peripatetik, baik dari segi istilah, struktur, maupun jumlah akal maupun malaikat-malaikat yang muncul dalam bagian teori emanasi.

Suhrawardi pernah mengklasifikasi pencari kebanaran kedalam tiga kelompok : pertama, mereka yang memiliki pengalaman mistik yang mendalam tetapi tidak mempunyai kemampuan untuk mengungkapkan pengalaman secacra diskursif. Kedua, mereka yang memiliki kecakapan nalar diskursif tetapi tidak memiliki pengalaman mistis yang cukup mendalam, ketiga mereka yang disamping memiliki pengalaman mistis yang mendalam dann otentik juga memiliki kemampuan nalar  dan bahasa diskursif.

  1. 3.      Hikmah Muta’aliyah

Aliran ini diwakili oleh Mulla Sadra yang mana ia berhasil menistensiskan ketiga aliran filsafat sebelumnya, yakni paripatetik, iluminasi dn irfani. Adapun karakteristik filsafat hikmah ini adalah:

  • Mereka tidak hanya percaya pada akal diskursif tapi juga percaya pada pengalaman mistik
  • Membicarakan adanya kesatuan antara akal dan ma’qul, karena yang dipikirkan tidak mungkin secara rasional ada tanpa yang berpikir (Tidak mungkin ada ma’qul tanpa akal).
  • Memiliki konsep wahdatul wujud, jika Suhrawardi mengatakan yang utama (prinsipil) adalah essensi/mahiyyah, Mulla Sadra mengatakan yang utama adalah wujud/ eksistensi. Esensi hanyalah sebatas yang kita pahami/ konsep, sedangkan wujud sejati adalah eksistensi. sebelum kita meyakini bahwa sesuatu itu ada, kita harus meyakini terlebih dahulu bahwa ada itu sendiri adalah ada
  • Dalam konsep wahdatul wujudnya, yang membedakan wujud yang satu dengan yang lain bukanlah kewujudan mereka (eksistensi??) tapi esensi-esensi mereka. Wujud tuhan dan wujud kerikil tidaklah berbeda dari sudut kewujudan tetapi berbeda dalam sudut derajat dan gradasi/tasykik.
  • Adanya penemuan teori “perubahan trans-substansial”, yakni perubahan bisa terjadi bukan hanya pada tingkat aksidental tetapi juga substansial.

Jika selama ini kita percaya bahwa subsatansi hewan telah fixed tidak bisa berubah menjadi yang lain, ia mengakui bahwa substansi tidaklah begitu fix ia dapat berubah secara signifikan. Ia juga mengatakan bahwa perubahan substansial itu terjadi karena bentuk-bentuk material yang selalu berubah-rubah. Sehingga mula sadra pun dikenal sebagi filosof proses.

  1. B.     Filsafat barat
  2. 1.        Aristoteles

Dalam filsafat paripatetik, dikenal suatu teori yang dinamakan dengan “ hylomorpise” yang mana teori tersebut merujuk kepada Aristoteles ,  yaitu ajaran yang mengatakan bahwa apapun yang ada di dunia ini terdiri atas dua unsur utama, yakni materi (hyle) dan bentuk(morfis). Pembicaraan metafisika Aristoteles mengenai soal materi dan wujud ini lebih tepat dimulai dengan doktrin Aristoteles tentang Universalia. Sedangkan jalan untuk memahami universalia kita harus terlebih dahulu memehami doktrin akal biasa (common sense).[10]

Wujud dan materi tidak dapat dipisahkan. Materi dalam bahasa Yunani disebut hule dapat disebut bahan yang masih berada dalam proses atau produk (Edel 1982). Materi dikatakan juga sebagi unsur kemungkinan dan perubahan yang paling sederhana yang terdapat dalam suatu hal. Sedangkan wujud (morphe) bersifat tetap, permanen, dan dikenal (Amstrong 1949). Meskipun materi tidak menentukan dirinya sendiri, tetapi ia juga memiliki kemampuan menentang kekuatan yang meembentuknya, jadi tidak semata-mata bersifat passif. Akibatnya materi tidak pernah berbentuk yang sempurna, terus menerus akan mengalami perubahan wujud sebagai potensi. Teori aristoteles mengenai wujud dan materi ini berkaitan dengan konsep potensi dan aktus.

  1. 2.      Henry Bergson[11]

Ia adalah filosof perancis terkemuka abad 20, Bertrand Russel mengupasnya dengan agak lengkap karena filsafatnya merupakan contoh yang sangat bagus tentang pemberontakan melawan akal yang berawal dari Rousseau secara bertahap makin mendominasi berbagai bidang kehidupan dan pemikiran dunia.

Kalsifikasi filsafat Bergson berbeda dengan yang lainnya. Klasifikasi filsafat yang biasanya dipengaruhi oleh metode atau hasilnya (“empiris dan apriori “adalah klasifikasi menurut metodenya kemudian “realis dan idealis “adalah klasifikasi menurut hasilnya). Upaya untuk mengklasifkasi filsafat Bergson dengan salah satu dari cara tersebut hampir tidak mungkin berhasil, karena filsafatnya hampir mengiris semua bidang yang diakui tersebut.

Salah satu ciri khas filsafat Bergson adalah ia mengganggap waktu dan ruang sangat berbeda. Ruang merupakan karakteristik materi, dan waktu adalah karakteristik esensial kehidupan atau pikiran. Filsafat Bergson membagi antara naluri dan intelek. Naluri sebaiknya disebut intuisi, yang Bergson maksud dengan intuisi adalah naluri yang menjadi tak terpengaruh, sadar-diri, mampu menyesuaikan objeknya dan memperluasnya secara tak terbatas, urainnya tentang kerja intelek tidak selalu mudah untuk diikuti, sedangkan intelek selalu berpikiran seolah-olah tertarik pada kontemplasi materi yang tidak bergerak.

Jika dibolehkan menambahkan ilustrasi filsafat Bergson, kita bisa mengatakan bahwa alam semesta adalah rel kabel yang amat besar yang didalam kehidupan adalah kereta yang berjalan ke bawah. Intelek itu terwujud lantaran melihat kereta yang turun ketika melewati kereta yang naik yang didalamnya kita berada. Sedangkan perhatian kita yang terpusat pda kereta kita sendiri tentu saja adalah naluri atau intuisi. Intelek berkaitan dengan ruang sedangkan naluri atau intuisi beerkaitan dengan waktu.

  1. Plato[12]

Bagi Plato, filsafat adalah semacam visi, yakni visi tentang kebenaran. Visi ini tidak semata-mata bersifat intelektual, tidak juga bersifat kebijaksanaan. “Cinta intelektual terhadap tuhan “dalam filsafat Spinoza sama dengan persatuan erat antara pikir dan rasa. Barangsiapa yang pernah mengerjakan karya kreatif tertentu, pasti pernah mengalaminya dengan taraf yang berbeda-beda, suatu suasana batin dimana setelah lama berupaya keras, tiba-tiba kebenaran atau keindahan muncul atau seolah-olah muncul dengan keagungan yang tak terduga.

Pengalaman ini mungkin hanya menyangkut masalah kecil saja, mungkin pula menyangkut masalah alam semesta.Untuk sesaat pengalaman itu amatlah meyakinkan, keraguan mungkin timbul belakangan. Tetapi untuk sesaat itu yang tampil adalah kepastian yang begitu tegas.   Menurut Plato, sebagian besar karya kreatif yang terbaik dalam bidang seni, ilmu pengetahuan, sastra & filsafat adalah hasil pengalaman demikian.

Namun yang jadi permasalah adalah, apakah dalam konsep pengalaman mistis Suhrawardi terinspirasi dari pengalam Plato???

  1. 4.      Nietzsche & Sartre

Nietzsche sering dianggap sebagai eksistensialis pertama ketika orang membahas filsafatnya. [13]Eksistensialisme adalah gerakan filsafat yang menitikberatkan pada kebebasan manusia. Sedangkan dalam wikipedia [14]dijelaskan bahwa eksisensialisme adalah aliran filsafat yang pahamnya berpusat pada manusia individu yang bertanggung jawab atas kemauannya yang bebas tanpa memikirkan secara mendalam mana yang benar dan mana yang tidak benar. Sebenarnya bukannya tidak mengetahui mana yang benar dan mana yang tidak benar, tetapi seorang eksistensialis sadar bahwa kebenaran bersifat relatif, dan karenanya masing-masing individu bebas menentukan sesuatu yang menurutnya benar.Eksistensialisme mempersoalkan keber-Ada-an manusia, dan keber-Ada-an itu dihadirkan lewat kebebasan.

Gerakana filsafat eksistensialisme dipopulerkan oleh filosof prancis Jean-Paul Sartre (1909-1980). Sukar untuk mengkategorikan eksistensialisme karena pada dasarnya eksistensilisme menolak kategorisasi. Namun demikian, kesamaan yang sangat umum dimiliki para filosof dalam gerakan Ini adalah perhatian mereka terhaddap gerakan kebebasan manusia, keyakinan bahwa umat manusia memiliki kapasitas bawaan untuk memilih tindakan mereka sendiri secara bebas dan tidak ditentukan sebelumnya. Menurut Sartre satu hal yang pasti dimiliki semua orang adalah kebebasan.

Sartre menyatakan bahwa kita dikutuk untuk bebas”. Kita tidak punya pilihan lain selain bebas, dan pura-pura tidak bebas hanyalah merupakan penipuan diri. Nietzsche juga sepakat dengan Sartre bahwa tidak ada dunia objektif, tidak ada fakta mentah, tidak ada kemutlakan. Sartre juga mengatakan bahwa eksistensi manusia mendahului esensinya. Dunia sebagaimana kita memahaminya adalah dunia yang telah kita rekatkan pada diri kita sendiri, bukan dari luar dunia kita.

  1. C.      Tabel perbandingan Metodologi & teori dalam Filsafat Islam & Barat

Berdasarkan penjabaran antara filsafat islam dan barat di atas besarta penjabaran kelompok maupun tokhnya, kami dapt sedikit menyimpulkan bahwa adanya beberapa perbedaan metodologi antara filsafat islam dan barat.

No Filsafat islam Filsafat barat
1 Kelompok : Paripatetik

Tokoh : Alfarabi, Ibn Sina, dll.

Metode : Rasional

Teori : Hylomorfis dan emanasi Alfarabi dan Ibn sina.

Ibn sina mengatakan wujudlah yang real

-

Tokoh : Aristoteles dan

Plotinus

Metode : Rasional

Teori  : Hylomorfis(Aristoteles) dan emanasi Plotinus.

 

2 Kelompok : iluminasi

Tokoh : Suhrawardi

Metode : intuisi

Teori : pengalaman mistik, esensialisme (Suhrawardi mengatakan bahwa esensilah yang real)

-

Tokoh : Plato

Metode : Intuisi

Teori : pengalaman (plato)

3 Kelompok : Hikmah Muta’aliyah

Tokoh : Mulla Sadra

Metode :intuisi (teosofi)

Teori :sub- transendental, eksistensialis (esensi lebih dahulu dibanding eksistensi)??

-

Tokoh : Nietzche, Sartre

Metode : Fenomenologi

Teori : eksistensialis                   ( eksistensi manusia mendahlui esensinya – sartre)

 


[1] Muzairi, Filsafat Umum,(Yogyakarta: Teras, 2009), hal 42

[2]Akhyar Yusuf Lubeis, Pengantar Filsafat Ilmu Pengetahuan, (Depok: Penerbit Koekoesan, 2011), hal. 41

[3] Ibid, hal 45

[4] Ibid, hal 47

[5] Prof. Dr. Juhaya S. Praja, MA Pengantar Filsafat Islam  hal 77.

[6] Ibnu Qayyim Al-Jauziyah “Roh” hal 290-291.

[7] Seyyed Hossein Nasr dan Oliver Leaman “Ensiklopedia Tematis Filsafat Islam”  hal 177.

[8] Ibnu Qayyim Al Jauziyah “Roh” hal 73-74.

[9] Mulyadhi Kartanegara, “ Gerbang kearifan : sebuah pengantar filsafat islam” hal 25-73

[10] Drs. Joko Siswanto “ Sistem-sistem metafisika barat : dari Aristoteles sampai Derida “ hal 10-14

[11] Bertrand Russel ,” Sejarah Filsafat Barat ;  dan kaitannya dengan kondisi sosio-politik dari zaman kuno  hingga sekarang “, hal 1029

[12] Ibid, hal 167

[13] Roy Jackson “seri tokoh filsafat Islam: Friedrich Nietzsche “hal. 123-124

[14] Wikipedia bahasa indonesia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s