Mengenal Filsuf Muslim Pasca Ibnu Rushd “Nashiruddin At-Thusi”

  1. A.     Sekilas tentang Nashiruddin At-Thusi

gal557249905Nama lengkapnya adalah Abu Ja’far Muhammad ibn Muhammad ibn Al-Hasan Nashiruddin Al-Tusi. Ia lahir pada 18 Februari 1201 di kota Tus dekat Meshed, Persia –sekarang sebelah timur laut Iran. Beliau di kenal dengan sebutan Nashiruddin al-Tusi, meskipun demikian beliau juga mempunyai beberapa nama berbeda oleh sebab kemasyhurannya, antara lain Muhaqqiq Al-Tusi, Khuwaja Tusi dan Khuwaja Nasir. Al-Tusi pun dikenal sebagai ilmuwan serba bisa. Beragam ilmu pengetahuan dikuasainya, seperti astronomi, politik, biologi, kimia, matematika, filsafat, kedokteran hingga ilmu agama Islam.

Sejak usia belia, Tusi sudah mendapatkan pendidikan agama dari ayahnya dan pengetahuan logika, fisika, metafisika dari pamannya. Ketika menginjak usia muda, kondisi keamanan kian tak menentu. Pasukan Mongol dibawah pimpinan Jengis Khan yang brutal dan sadis bergerak cepat dari Cina ke wilayah barat. Sebelum tentara Mongol menghancurkan kota kelahirannya, beliau sudah mempelajari dan menguasai beragam ilmu pengetahuan.  Karena keahliannya, akhirnya ia direkrut penguasa dinasti Nizari Ismailiyah. Selama mengabdi, ia mengisi waktunya dengan menulis beragam karya penting tentang logika, filsafat, matematika serta astronomi. Karya pertamanya adalah kitab Akhlaqi Nasiri yang ditulisnya pada 1232.

Pasukan Mongol yang dipimpin Hulagu Khan cucu Jengis Khan pada tahun 1251 menguasai istana Alamut dan meluluh-lantakannya. Al-Tusi selamat, karena Hulagu ternyata sangat berminat terhadap ilmu pengetahuan. Beliau pun diangkat Hulagu menjadi penasihat di bidang ilmu pengetahuan, bahkan diangkat sebagai wazir dan pengawas lembaga-lembaga agama pemerintahan Mongol. Karenanya, ia dapat meningkatkan pengaruh Imamiyah di Irak dan Iran, bahkan kecenderungan intelektualnya semakin bertambah saat Hulagu membangun observatorium untuknya. Beliau juga menulis biografi raja Mongol, yang berjudul Peraturan dan Kebiasaan Raja-raja Kuno, yang berisi nasihat-nasihat keuangan negara dan administrasi pemerintahan.

Karir ilmu pengetahuan dan kontribusinya terhadap dunia Islam sungguh besar. Ia wafat pada 26 Juni 1274 di Baghdad. Meski begitu, jasa dan kontribusinya dalam pengembangan ilmu pengetahuan masih tetap dikenang hingga saat ini.

 

  1. B.      Integralitas Pemikiran

 

Abad 13 adalah masa kritis “kekhalifahan” Islam, sehingga sangat sedikit pemikiran politik yang berkembang. Bahkan sulit menemukan pemikir politik yang orisinal pada periode pasca-mongol tersebut. Akan tetapi kita mengenal Nasiruddin Al Tusi, seorang pemikir cemerlang yang memainkan peran intelektual dan pemikiran pemerintahan pada masanya. Beliau mempelajari filsafat Yunani dan filsafat Islam seperti karya-karya Aristoteles, Al Farabi, Ibn Sina dan sebagainya. Beliau juga dikenal ahli dalam bidang teologi dan fikih yang sangat berpengaruh di Nisapur, sebuah kota yang menjadi pusat peradaban berpengaruh.

Beliau juga dikenal sebagai seorang astrolog handal serta menguasai matematika. Walaupun keahliannya ini menjadikannya tidak bebas dan dipaksa bekerja hampir dua puluh tahun sebagai astrolog di sebuah benteng Alamut dibawah kekuasaan dinasti Nizari-Ismailiyah. Menurut Antony Black, At Thusi tidak pernah menjadi pengikut Ismailiyah, kendati ide-ide Ismailiyah muncul dalam karyanya, yang kelihatannya telah diedit sebagian dikemudian hari. Bisa jadi at-Thusi juga menulis sebuah ringkasan tentang ajaran-ajaran Nizari Ismailiyah yang berjudul ‘Rawdhah al Taslim’ atau Tashawurat.

Dalam pemikiran agama, al-Tusi mengadopsi ajaran-ajaran neo-Platonik Ibn Sina dan Suhrawardi, yang keduanya ia sebut, demi alasan-alasan taktis, “orang bijak” (hukuma) bukan sebagai Filsuf. Akan tetapi, berbeda dari Ibn Sina, ia berpendapat bahwa eksistensi Tuhan tidak bisa dibuktikan, akan tetapi sebagaimana doktrin Syiah, manusia membutuhkan pengajaran yang otortatif, sekaligus filsafat. Ini menunjukkan kecenderungan teologi mistisnya.

Dalam pemikiran politik, al Tusi cenderung menyintesiskan ide-ide Aristoteles dan tradisi Iran. Ia menggabungkan filsafat dengan genre Nasehat kepada Raja, sehingga ia tetap memelihara hubungan antara Syiah dan filsafat. Buku etika-nya disajikan sebagai sebuah karya filsafat praktis. Karya ini membahas persoalan individu, keluarga, dan komunitas kota, provinsi, desa atau kerajaan. Pembahasan bagian I menggunakan etika Miskawaih, bagian II menggunakan ide Bryson dan Ibn Sina, dan bagian III menggunakan pemikiran Al Farabi. (Akhlaqi Nasiri, hlm. 187).

Nasiruddin Al Tusi bermaksud menyatukan filsafat dan fikih berdasarkan pemikiran bahwa perbuatan baik mungkin saja didasarkan atas fitrah atau adat. Fitrah memberikan manusia prinsip-prinsip baku yang dikenal sebagai pengetahuan batin dan kebijaksanaan. Sedangkan adat merujuk pada kebiasaan komunitas, atau diajarkan oleh seorang nabi atau imam, yaitu hukum Tuhan, dan ini merupakan pokok bahasan fikih. Keduanya dibagi lagi menjadi norma-norma untuk 1). Individu, 2). Keluarga, dan 3). Penduduk desa atau kota. Menurutnya filsafat mempunyai kebenaran-kebenaran yang tetap sedangkan fikih ataupun hukum Tuhan mungkin berubah karena revolusi atau keadaan, perbedaan zaman dan bangsa serta terjadinya peralihan dinasti.  Beliau menafsirkan Negara atau dinasti seperti dawlah menurut pandangan Ismailiyah, hal ini terlihat dari pandangannya tentang perubahan pada hukum Tuhan oleh nabi-nabi, penasiran fuquha dan juga para imam. Sehingga at-Tusi menganggap syariat sebagai suatu tatanan hukum yang tidak mutlak dan final, sebagaimana diyakini kalangan Sunni.

  1. C.       Pemikirannya
  2. Sosial-Politik

Nashiruddin at-Thusi adalah seorang pemikir politik prolifik. Dengan keahliannya yang sangat komplit, at-Thusi mampu menyuguhkan sebuah pemikiran idealis tentang politik. Hal ini dapat dilihat ketika Thusi, pertama-tama mengkaji tentang kemanusiaan sebagai tahap awal munculnya politik dalam diri manusia, kemudian Ia juga membahas bagaimana fitrah manusia sebenarnya. Kedua adalah tentang masyarakat politik, beliau menjelaskan elemen-elemen masyarakat politik, seperti adanya kerja sama dalam bidang ekonomi, elemen keadilan, dan bahkan elemen cinta. Untuk itulah akan kita lihat pemikiran sosio-politiknya yang khas. Kemudian setelah terbentuk masyarakat politik, Thusi juga menjelaskan adanya kelompok masyarakat dengan status yang berbeda berdasarkan kemampuan dan usaha mereka masing-masing. Hal ini sangat dipengaruhi oleh pandangan Aristoteles. Dan kesemuanya itu akan sangat jelas dan khas dalam pandangannya tentang Negara aktual yang bercorak Nasihat kepada Raja atau pemimpin, yang mengisyaratkan adanya sebuah “persatuan spiritual” dalam mencapai kesempurnaan dan kebahagiaan.

2. Kemanusiaan

Pemikiran politik al Thusi didasarkan atas pandangan tentang kemanusiaan sebagai jalan tengah antara tingkatan intelektual dan spiritual yang lebih tinggi dengan tingkatan lahir yang fana. Pendapat ini mirip dengan pemikiran Al Farabi, bahwa setiap orang mampu mencapai kebahagiaan abadi, tergantung pada upaya masing-masing. Pandangan tentang kebebasan manusia ini berjalan seiring dengan pandangan keluhuran fitrah manusia. Menurutnya, manusia diciptakan Tuhan sebagai makhluk paling mulia, akan tetapi kesempurnaannya menjadi tanggung jawab penalarannya sendiri yang merdeka.

Mengenai kecenderungan moral manusia, at-Thusi menyatakan bahwa sebagian manusia menurut fitrahnya baik, sedangkan yang lain baik menurut hukum agama”. (Akhlaqi Nasiri. hal 210). Beliau menyimpulkan bahwa kesejahteraan manusia membutuhkan; pertama, pengaturan dunia materi oleh akal, melalui seni dan keterampilan. Kedua, membutuhkan pendidikan, disiplin dan kepemimpinan. Menurutnya manusia pada awal penciptaannya diadaptasikan pada dua keadaan ini, yaitu fisik dan intelektual, sehingga diperlukan para nabi dan filsuf, imam, pembimbing, tutor dan instruktur.

3. Masyarakat dan Politik

Di dalam menjelaskan adanya kerja sama dan organisasi sosial yang beliau sebut sebagai masyarakat politik, sebuah masyarakat yang tercipta karena secara fitrah manusia adalah makhluk sosial dan mempunyai kebebasan dalam berpikir. Disni Nashiruddin at-Thusi membaginya kedalam tiga elemen dasar terciptanya masyarakat politik tersebut.

Elemen pertama adalah bidang ekonomi politik, khususnya keterampilan. Kebutuhan hidup manusia disediakan oleh ‘pengaturan teknik (tadbir al-shna’i) seperti penanaman bibit, panen, membersihkan, menumbuk dan memasak’. Menurutnya, untuk alasan ini Kebijaksanaan Tuhan meniscayakan perbedaan hasrat dan pendapat manusia, sehingga setiap manusia menghasratkan pekerjaan yang berbeda-beda, ada yang menginginkan pekerjaan mulia, ada yang hina, dan kenyataannya kedua-duanya sama-sama merasa gembira dan puas.

Kemudian yang menarik disini ketika Thusi berpendapat bahwa keterampilan ini sangat bergantung pada uang. Menurutnya “uang” merupakan sebuah “instrumen keadilan”. Uang adalah hukum yang lebih rendah, mediator yang adil antara manusia dalam berhubungan ekonomi, bahkan dapat dikatakan juga bahwa uang adalah merupakan “keadilan yang diam”. Selain uang, keterampilan pun bergantung pada oraganisasi sosial. Menurutnya, karena manusia harus bekerja sama, maka spesies manusia pada hakikatnya membutuhkan perpaduan, yakni terbentuknya kehidupan sipil atau tamaddun. Karena itu manusia pada dasarnya adalah penduduk kota atau warga Negara.

Selanjutnya yang dibutuhkan sebuah warga Negara adalah suatu manajemen khusus, yaitu syiasah atau pemerintahan. Pemerintahan dibutuhkan karena pertukaran moneter antar manusia kadang-kadang membutuhkan arbitase. Maka menurutnya elemen kedua dalam masyarakat politik adalah “keadilan”. Dalam hal ini at-Thusi sangat terpengaruh oleh Plato yang memandang keadilan sebagai inti kebajikan, harmoni keberagamaan. Kemudian ia melanjutkan bahwa keadialan di kalangan manusia tidak dapat dijalankan tanpa tiga hal; perintah Tuhan (numus-I ilahi), seorang pemberi keputusan diantara manusia (hakim) dan uang. (Akhlaq-i Nasiri hal 97, 190).

Elemen terakhir yang mungkin paling unik adalah penjelasannya tentang asosiasi manusia dengan “cinta”, yang menurutnya memainkan peran lebih sentral dari pada teori sosial Islam lainnya. “Cinta” melahirkan kehidupan yang beradab (tamadun) dan persatuan sosial. Baginya cinta merupakan “penghubung semua masyarakat”. Cinta mengalir dari fitrah manusia itu sendiri (Mungkin ini diambil dari gagasan neo-Platonis). Menurutnya semakin kita tersucikan, semakin kita menjadi substansi-substansi sederhana yang mengetahui bahwa “tidak ada perbedaan antara memaknai atau mengabaikan sifat fisik” dan bahkan mencapai “kesatuan batin” melalui cinta satu sama lain. Sebagai contoh, At-Thusi memandang umat Islam terdiri atas asosiasi tunggal, sebagaimana pengertian Aristoteles. Sikap saling membantu dan mencintai serta kerja sama membimbing manusia untuk mencapai kesempurnaan. Hal ini secara tidak langsung melahirkan kemanunggalan semua orang pada Manusia Sempurna, sebagaimana diajarkan dalam doktrin Syiah Ismailiyah. Disini dapat kita lihat sepertinya Al Thusi telah berhasil mengintegrasikan pemikiran Aristoteles dan Syiah secara lebih mendalam.

Secara lebih khusus, Al Thusi seperti pemikir muslim lainnya memandang pemerintahan atau syiasah dalam kaitannya dengan perhatian pada karakter dan hak-hak istimewa pemimpin, yang beliau sebut sebagai raja (Malik). Beliau sangat rinci didalam menjelaskan adanya empat tipe pemerintah dari pemikiran filsafat Aristoteles, yaitu; pemerintahan yang mementingkan keagungan raja, kekuasaan, kemuliaan dan komunitas. Al Tusi hendak mengatakan bahwa keempat aspek itu sama-sama terdapat dalam sebuah pemerintahan; raja adalah sebuah “pemerintahan dari berbagai pemerintahan” yang berfungsi untuk mengorganisasikan ketiga aspek lainnya (Akhlaq-i Nasiri hlm. 191).

Disini at-Tusi tampaknya mengaitkan pandangannya dengan pemerintahan yang bernuansa keagamaan. Pemerintahan umat berurusan dengan peraturan-peraturan keagamaan dan dengan keputusan-keputusan intlektual. Walaupun at-Thusi barangkali merujuk pada “pemerintahan oleh rakyat untuk kebaikan bersama (politea), beliau tidak menafsirkannya dalam pengertian pemerintahan oleh rakyat, sebagaimana demokrasi. Namun, menurutnya pemerintahan seperti itu harus dipimpin oleh seorang istimewa yang ditunjuk oleh Tuhan dan agar rakyat mengikutinya. Dimana menurut pandanganYunani kuno disebut sebagai “pemilik Hukum” dan kaum Muslim menyebutnya dengan Syariat. Disini beliau menjadi sedikit berbeda dengan Al Farabi, dan menganggap bahwa pemerintahan “oleh rakyat” adalah bentuk pemerintahan yang baik. Dan mungkin kalau ditarik lebih jauh lagi pada masa sekarang, konsep sederhana Thusi tentang pemerintahannya ini sebagai awal perkembangan Syiah Imamiyah dan bahkan yang melahirkan Republik Islam yang pertama di Iran oleh Imam Khomeini.

4. Terbentuknya Kelompok-kelompok Politik

Sebagaimana Al Farabi yang mencoba mengklasifikasikan manusia berdasarkan pembagian kerja dan kecenderungan individu dalam pemenuhan kebutuhannya, Nashiruddin al Thusi juga membagi komunitas manusia ke dalam ; 1) keluarga, 2) Kedaerahan, 3) kota, 4) Komunitas besar, umam-I kabir, sebuah bangsa, dan 5) penduduk dunia. Yang menjadi menarik disini adalah bagaimana menghubungkan komunitas-komunitas tersebut? Al Thusi mengajukan sebuah pengajaran filsafat yang tercipta pada konsep tentang kepemimpinan (rais). Walaupun setiap kelompok mempunyai pemimpin masing-masing, kepala keluarga adalah bawahan dari kepala daerah, dan seterusnya, dan semuanya merupakan bawahan dari pemimpin dunia, sang pemimpin Mutlak bagi kehidupan politik manusia. Kelangsungan dan kesempurnaan setiap individu sangat tergantung pada komunitas yang terakhir ini (Akhlaq-i Nasiri hlm. 155).

Komunitas universal ini kemudian bergantung pada ilmu politik (hikmat-i al-madani) “kecakapan tertinggi” yang mengungguli seluruh kecakapan lainnya, yang menjadi “kajian hukum universal/Qawanin, yang menghasilkan manfaat terbaik bagi mayoritas, karena mereka diarahkan, melalui kerjasama, menuju kesempurnaan sejati. (Akhlaq-i Nasiri hlm. 192). Menurutnya pengetahuan tertinggi mengenai hikmah merupakan fondasi keteraturan sosial.

Lebih rinci lagi, dan mungkin ini yang membedakannya dengan Al Farabi tentang pembagian kelas sosial, nampak At-Thusi sangat kontekstual terutama pada ranah hidupnya, yaitu khas Iran-Islam. Pengelompokan itu meliputi; 1). “Ahli pena” yaitu orang-orang yang pakar dalam ilmu pengetahuan, yang meliputi fikih, dokter, penyair, ahli geometri, astronom, dan keberadaan dunia sangat bergantung kepadanya. 2). “ahli pedang” yaitu para tentara dan prajurit. 3). “ahli bisnis” termasuk diantaranya para pedagang, pekerja terampil, dll. Dan 4). Petani.

Disini kita melihat bahwa tujuan ilmu politik adalah menciptakan keseimbangan diantara berbagai lapisan komunitas, baik secara vertikal maupun horisontal. Sebuah keadilan yang tercipta antara pemimpin utama, dibawahnya, dan seterusnya, dan juga keadilan dalam suatu lapisan masyarakat. Dari tujuan ini, kemudian yang menjadi pertanyaan adalah apakah mempelajari ilmu politik itu diwajibkan bagi setiap orang? Itu juga yang menjadi pertanyaan At-Thusi. Mungkin dalam hal ini kita bisa setujui Antony Black yang berpendapat bahwa disinilah muncul sebuah sentiment egalitarian, yang mungkin lebih dekat dengan keilmuan Sunni dari pada Syiah. Sejauh pembacaan terhadap pemikiran politik at-Thusi, mengisyaratkan akan adanya pembelajaran tentang ilmu politik bagi semua orang. Tetapi bagaimanapun juga, tujuan politik adalah kebajikan, dan bahwa setiap orang harus belajar untuk mencapai kesempurnaan ini.

Menjadi menarik pula ketika at-Thusi menyebut asosiasi seluruh dunia dibawah “pimpinan imam”, sebagai “Kota Utama”. Selain mirip dengan pemikiran Al Farabi, hal ini mengisyaratkan pandangannya tentang komunitas Syiah (mungkin imamiyah) sebagai kota Utama yang ia maksudkan. Menurutnya, Kota Utama digambarkan sebagai komunitas orang-orang yang selaras dalam pandangan dan perbuatan, sebuah komunitas spiritual yang saling berhubungan satu sama lain. Penduduk Kota Utama, kendati beragam di seluruh dunia, namun dalam realitas mereka saling bersepakat dalam jalinan kasih sayang, sehingga keseluruhan tampak satu. (Akhlaq-i Nasiri hlm. 215).

Sebagai wujud kekhasan teori sosio-politiknya, Al Thusi membahas lebih dalam sebuah Negara aktual yang dipimpin seorang raja “agung” (Badshah) dalam wacana Nasihat kepada Raja. Mungkin bahasan ini hampir sama dengan bahasan mengenai Kota Ideal, tetapi ini berbeda dalam cara pencapaiannya. Menurut At-Thusi, jika kerajaan ingin mencapai kesuksesan, ia harus mempunyai “persatuan spiritual”. Pandangan ini sangat jelas terlihat dalam konsepnya tentang elemen cinta, bahwa sesungguhnya ketika seluruh penduduk sudah menyadari akan kesatuan sebagai satu tubuh, maka kerja sama dan saling tolong menolong akan tercipta dengan sendirinya. Semua ini ia ibaratkan seperti kerjasama organ dalam tubuh manusia. Tingkat persatuan spiritual semacam itu menentukan kemajuan dan kemunduran Negara.

Di Negara-negara aktual, kewajiban pemimpin adalah memikirkan keadaan rakyatnya dan mengabdikan dirinya untuk menjaga keadilan. Artinya, secara khusus tugas kepala Negara adalah menjaga keseimbangan antara kelompok-kelompok sosial. Sehingga pemimpin harus menghindarkan diri dari dominasi kelompok. Maka secara tidak langsung, jelas terlihat pemikiran sosio-politik Nasruddin At-Tusi ketika menjadikan status, atau kelas sebagai perhatian utama pemerintah.

BAB III

  1. A.     Biografi Al Ghazali

Al Ghazali memiliki Nama lengkap Abu Hamid Muhammad ibn Muhammad ibn Muhammad al-Ghazali al-Thusi.  Dalam tulisan Drs. Aslan Hadi di jelaskan bahwa kata “al-Ghazali” tersebut sering diucapkan dengan dua jenis sebutan. Pertama “al-Ghazzali” (double z) dan yang kedua “al-Ghazali” (menggunakan satu huruf z). Nama al-Ghazzali dengan dua huruf “z” di ambil dari kata “Ghazal”, artinya tukang pemintal benang. Sebutan ini sesuai dengan pekerjaan ayah al-Ghazali yang memiliki profesi sebagai pemintal benang. Sedangkan sebutan yang kedua “al-Ghazali”  (dengan satu huruf  z), di ambil dari kata “Ghazalah”, sebuah nama kampung di wilayah Thus, Khurasan provinsi Persia Utara, tempat dimana al-Ghazali di lahirkan pada tahun 450 H. atau 1058 M. Dikalangan umum, sebutan terakhir itulah yang banyak di pakai orang[1]. Dan karena alasan itu pula Abu Hamid (sebenarnya Hamid adalah nama kenangan putra yang telah meninggal, dan nama aslinya adalah Muhammad) terkenal dengan nama panggilan al-Ghazali. Di daerah Ghazal inilah al-Ghazali memulai hidupnya dengan belajar ilmu fiqih (hukum).

Sekarang ini, nama al-Ghazali sangat populer di kalangan Akademik, Cendekiawan, Fhilosof, Intelektual terutama santri di kalangan Indonesia, serta memberi pengaruh besar terhadap ilmu pengetahuan dan etika. Popularitas tersebut, ternyata bertolak belakang dengan kehidupan al-Ghazali sewaktu kecil. Secara ekonomis al-Ghazali di lahirkan dan di besarkan dari kalangan keluarga miskin. Ayah nya seorang pemintal benang, memiliki penghasilan yang tidak begitu besar. Untuk menyekolahkan al-ghazali dan saudaranya bernama Ahmad, ayahnya menitipkan kedua anaknya kepada salah satu sahabatnya yang juga seorang guru dan ahli fiqih, yang bernama Ahmad bin Muhammad al- Razakani.[2] Dari gurunya tersebut, yang juga dikenal sebagai sufi, ayahnya berharap kelak kedua anaknya memiliki pengetahuan yang luas dan mendalam. Toko sufi inilah guru pertama al-ghazali dari sinilah al-ghazali dan saudaranya mendapatkan berbagai macam ilmu pengetahuan.

Setelah, al-Ghazali dan saudaranya belajar dengan Ahmad bin Muhammad. Karena dirasa ayahnya sudah tidak mampuh lagi mencukupi kebutuhan al-Ghazali dan saudaranya, ayahnya memasukkan kedua anaknya kesekolah yang memberikan beasiswa dan biaya hidup gratis kepada murid-muridnya. Sekalipun sekolah ini sederhana, namun sekolah ini memiliki tenaga pengajar yang sangat alim dan mendalam dalam ilmunya. Salah satu pengajarnya adalah seorang sufi yang bernama Yusuf al-Nassaj. Ia belajar tasawuf, Yusuf ini merupakan guru utama bagi al-Ghazali.

Selain itu, al-Ghazali belajar fiqih kepada Abu Nashr al Isma’ili, di Jurjan, tepatnya di Mazardaran. Setelah al-ghazali tamat belajar di jurjan beliau melanjutkan ke Naisabur, tepatnya di “Nidzamiyah” mendalami teologi, hukum Islam, filsafat, logika, sufisme dan ilmu-ilmu alam. Kepada seorang teolog besar asyariyah bernama Abu al-Maali al-juwaini, lebih di kenal dengan panggilan Imam Haramain. Disamping al- Ghazali belajar, beliau juga di angkat sebagai asisten pengajar al juwain. Dan di tempat ini beliau menulis karya pertama yang berjudul Al-Mankhul Min Ilm al-Khusul (Ikhtisar Ilmu Tentang Prinsip-prinsip) berbicara tentang metodologi dan teori hukum.

Nah dari sini sebenarnya, siapakah sebenarnya al-Ghazali itu dan bagaimana sejarah petualangan filsafatnya? Menurut Qardlawi, al-Ghazali adalah salah seorang pemikir filsafat kemanusiaan. Al-Ghazali juga di juluki sebagai “Permata Sepanjang” Masa. Beberapa julukan yang menandakan kelebihannya tersebut, mengantarkan al- Ghazali kepada pemberian gelar sebagai “Hujjatul Islam” (Sang Pembela Agama) dan “Zainuddin” (Hiasan Agama).

Pada saat itu, popularitas Al-Ghazali sedang naik daun sebagai alim ulama yang sangat kesohor dan sudah terdengar dimana-mana. Sehingga banyak para alim ulama yang ingin bertemu dengannya hanya untuk mendengarkan pendapat dan pemikirannya Al-Ghazali.

Maka tidak heran, Al-Ghazali berkunjung ke Muaskar setelah wafatnya sang Guru Imam Haramain (tahun 478 H/1058 M), seorang menteri Nizamul Mulk dari pemerintahan dinasti saljuk yang memiliki kekuasaan yang luas, menyambutnya dengan gembira. Di daerah ini, ia mendapat kehormatan untuk berdebat dengan para ulama. Dari perdebatan yang di menangkannya ini, namanya semakin populer dan di segani karena keluasan ilmunya. Menteri ini mempunyai keinginan yang sangat besar agar al-Ghazali bisa berada di negerinya, tinggal menetap sebagai warga negaranya. Untuk mewujudkan keinginannya tersebut, maka pada tahun 483 H/1090 M. Sang menteri mengambil inisiatif dengan cara mengangkat al-Ghazali menjadi seorang guru utama, dengan tugas memberikan kuliah rutin selama dua minggu sekali di hadapan para pembesar istana dan pakar negeri tersebut. Kegiatan ini dilakukan oleh al-Ghazali selama empat tahun lamanya. Selain itu, al-Ghazali di angkat sebagai penasehat perdana menteri. Pengalaman hidup al-Ghazali di sekolah Nizhamiyah ini di jelaskan dalam bukunya Al-Munqiz min al-Dhalal.[3] Selama mengajar di madrasah ini dengan tekunnya al-Ghazali mendalami filsafat secara otodidak, terutama pemikiran al-Farabi, Ibnu Sina, Ibn Miskawaih, dan Ikhwan al-Shafa’ penguasaannya terhadap filsafat terbukti dalam karyanya, seperti: Al-Maqashid al-Falsafah dan Tahafut al-Falasifah.

Perlu diketahui bahwa al-Ghazali di angkat sebagai guru besar pada umur tiga puluh empat tahun, walaupun umurnya masih muda. Banyak para ulama besar yang berguru kepadanya. Diantara yang berguru kepadanya adalah Abu al-Khittab dan Ibnu Aqil, dua orang toko ini adalah bermazhab Hambali.

Di tengah-tengah mengalirnya pengakuan, kekaguman atas kealiman dirinya. Al-Ghazali di landa skeptis yang hebat, yang di sebabkan keraguannya terhadap hakikat kebenaran ilmu pengetahuan yang dimiliki manusia. Karean skeptis nya itu, al-Ghazali menderita penyakit selama dua bulan, dan sulit di obati. Karena itu, al-Ghazali tidak dapat menjalankan tugasnya sebagai guru besar di Madrasah Nizhamiyah. Maka sekitar tahun 488 H, ia berhenti mengajar, lalu meninggalkan Baghdad menuju kota Damsyk, menjalani hidup menyendiri, mencari ketenangan, jauh dari keramaian umum dan melakukan kontemplasi. Keadaan demikian berlangsung kurang lebih selama 10 tahun (sepuluh tahun)[4]. Dalam rentang waktu tersebut, al-Ghazali sering pindah-pindah tempat dimulai ke Damaskus, Yerussalem, Mekkah, dan kembali lagi ke Damaskus dan terakhir ke Baghdad. Pernah menetap di Hamadan, daerah Iran untuk beberapa waktu lamanya, lalu pindah ke Thus (setelah melakukan ibadah Haji), Palestina, Mekkah, Madina. Kemudian atas permintaan putra sultan Nidzamul Mulk bernama Fakhru Mulk, al-Ghazali kembali lagi mengajar di perguruan Nidzamiyah di Naisabur, pada tahun 499 H. Namun kegiatan mengajarnya tidak berlangsung lama. Beliau meminta berhenti dan kembali lagi ke Thus, lalu mendirikan sebuah perguruan dan Khanaqah (semacam kolese) bagi kaum sufi. Letaknya dekat dengan rumah Al-Ghazali. Kegiatan yang di lakukan di Khanaqah berlangsung di jalani sampai Imam Al-Ghazali meninggal dunia pada tahun 505 H (1111 M)[5].

Al-Ghazali menemukan kenyataan bahwa terdapat empat golongan yang mencari kebenaran. Diantaranya[6]:

Pertama, Ahli ilmu kalam (teolog) yang mengaku pandai melakukan spekulasi intelektual dan penalaran bebas. Kedua, Bathiniyah atau Ta’limiyah, yang mengaku menerima pelajaran dari Imam yang maksum (bebas dari kesalahan). Ketiga, Kaum filosof yang mengaku ahli mantiq (logika) dan pembuktian. Keempat, Golongan sufi yang mengaku sebagai ahli Musyahadah Wal Mukhasyafah (orang yang dapat menyaksikan rahasia yang tidak bisa di jangkau oleh akal).

Al-ghazali sangat di pengaruhi oleh Al-Quran, Muhammad, Abu al-Hasan, Imam Syafi’I, Al-Juwaini, dan Avicenna. Dan al-Ghazali juga mempengaruhi Ibn Rusyd, Nicholas of Autrecourt, Thomas Aquinas, Abdul Qadar Bedil, Descartes, Maimodes, Ramon Marti, Fakhruddin Razi, Ahmad Sirhindi, dan Shah Walilullah.

Al-Ghazali mempunyai minat dalam Teologi, Filsafat Isilam, Fiqih, Sufisme, Mistisme, Psikologi, Logika, dan Kosmologi.

  1. B.     Karya-karya al Ghazali

Karya Al-Ghazali diperkirakan mencapai 300 buah judul tetapi juga ada yang mengatakan 400 judul buku, secara umum kitab al-Ghazali di bagi menjadi enam jenis, diantaranya adalah:

  1. Fiqih
  • Al basith
  • Al washit
  • Al wajiz
  • Khulashah

 

  1. Ushul fiqh :
  • Al mankhul
  • Al-Mustashfa

 

  1. Filsafat, Logika dan Kalam :
  • Mi’yar al-Ilhm (Kriteria Ilmu-ilmu).
  • Muhiqq al-Nadhar
  • Maqashid al-Falasifah (Tujuan-tujuan Para Filsuf), sebagai karangan nya yang pertama dan berisi masalah-masalah filsafat.
  • Tahafut al-Falasifah (Kekacauan Pikiran Para Filsuf), buku ini dikarang sewaktu ia berada di Baghdad tatkala jiwanya dilanda keragu-raguan. Dalam buku ini, al-Ghazali mengecam filsafat dan filsuf dengan keras.
  •  Al-Munqidz min al-Dhalal (Penyelamat Dari Kesesatan), buku ini merupakan sejarah perkembangan alam pikiran al-Ghazali sendiri dan merepleksikan sikapnya terhadap beberapa macam ilmu serta jalan mencapai Tuhan.
  • Al-Iqtishad fi al-‘Itiqad (Moderasi Dalam Akidah)
  • Taishal al Tafriqah
  • Qawaid al Aqaid
  • Al Maqshud al Asma fil al Syahri Asma Ilahi al Husna
  • Al Qisthas al Mustaqim (Neraca yang Lurus)
  • Iljam al Awwam fil al Ilmi al Kalam
  • Jawahir al Quran
  • Kimia as Sa’adah (Kimia Kebahagiaan)
  • Ma’ariju al Quds
  • Misykatul Anwar (Lampu yang Bersinar Banyak), buku ini berisi pembahasan tentang akhlak dan tasawuf.

 

  1. Tasawuf, Etika, dan Pendidikan :
  • Ihya ‘Ulum al-Dhin (Menghidupkan kembali Ilmu-ilmu Agama), buku ini merupakan karyanya yang terbesar yang dikarangnya selama beberapa tahun dalam keadaan berpindah-pindah antara: Damaskus, Yerusalem, Hijaz, dan Thus yang berisi paduan antara fiqih, tasawuf, dan filsafat.
  • Bidaya al Hidaya
  • Minhajul Abidin (Jalan Mengabdikan diri Kepada Tuhan)
  • Mizan al Anwar Mi’raj al Salihin
  • Ayyuhal Walad

 

  1. Perbandingan Agama :
  • Al Qaul al Jamil fil al Raddi ala Man Ghayyar al Injil
  • Fadhaihu al Bathiniyah
  • Hujja al Haq
  • Mufasshal al Khilaf
  • Al Raddu al Jamil li Ilahiyat Isabi Shabri al Injil

 

  1. Psikologi, Ekonomi, dan Sosiologi :
  • Al Ilmu
  • Asrar al Zakat
  • Kasbu al Maisyah
  • Al Halal wa al Haram
  • Al Bakhlu
  • Al Zuhd

 

  1. C.      Ilmu laduni

Sebelum kita membahas tentang ilmu laduni ada baiknya kita membahas apa sebenarnya ilmu itu, dan bagaimana cara mendapatkannya serta kiat-kiat apa saja yang harus di tempuh.

Ilmu merupakan gambaran jiwa yang berakal yang konstan terhadap segala sesuatu. Jiwa yang berakal dengan sendirinya menggambarkan secara mendasar bahan-bahan materi, metodologi, kimia, mutiara serta zatnya. Sedangkan orang yang berilmu adalah lautan yang mengetahui dan yang menggambarkan. Adapun objek ilmu adalah zat sesuatu yang ilmunya terukir pada jiwa.

Ilmu tauhid adalah ilmu yang paling baik dan paling sempurna. Ilmu ini penting sekali dan sangat mendasar, serta wajib diperoleh oleh orang yang berakal. Sebagaimana sabda Nabi saw “mencari ilmu wajib bagi setiap muslim” (Al-Hadist). Bahkan diperintahkan oleh Nabi saw. Nabi bersabda “carilah ilmu meski harus ke negri cina”. Ilmu sangatlah mulia di bandingkan dengan yang lain. Selanjutnya setelah kita mengetahui pentingnya ilmu maka kita harus mengetahui jiwa, dimana jiwa adalah tempat berbagai macam  ilmu, hal ini di sebabkan jasmani bukanlah tempat bagi ilmu, karena jasmani berpenghabisan, tidak akan memuat banyak ilmu dan tidak akan menanggung ilmu kecuali kekurangan dan tercacat. Sedangkan jiwa akan menerima bagi semua disiplin ilmu tanpa penolakan, keraguan, dan kesempitan.

Ilmu dibagi menjadi dua bagian. Pertama bersifat syariat dan yang kedua bersifat akal. Ilmu syariat banyak dianggap bersifat akal menurut ahlinya dan ilmu akal banyak dianggap bersifat syariat menurut akalnya.

Ilmu syariat dibagi menjadi dua bagian:

  1. a.  Ilmu ushul (pokok) atau ilmu tauhid

Ilmu ini membicarakan tentang zat Allah, sifat-sifatNya yang terdahulu, sifat-sifatNya yang teraktualisasi dan sifat-sifatNya yang ada dalam sejumlah nama-nama-Nya. Ilmu ini juga membicarakan tentang para Nabi, para sahabat, para imam setelah mereka, hal kematian, kehidupan, kebangkitan (ba’ats), hari kiamat, hari pembalasan, dan tentang pembalasan Allah saw.

  1. b.  Ilmu furu’ (cabang)

Ilmu itu ada yang bersifat ilmiah teoritis, dan ada juga yang bersifat praktis. Ilmu ushul termasuk kategori ilmiah teoritis, sedangkanilmu furu’ termasuk katagori praktis. Ilmu praktis terbagi menjadi tiga bagian pokok, yaitu:

  1. Hak Allah yaitu rukun-rukun ibadah seperti bersuci, salat, zakat, haji, zikir, hari raya, hari jumat, dan semu yang berkaitan dengan ibadah-ibadah wajib dan sunah.
  2. Hak hamba yaitu segala hal yang berkaitan dengan tata pergaulan manusia. Hak hamba ini berkaitan dengan dua aspek, yaitu :

v  Aspek muamalah yaitu urusan jual beli, perseroan, pemberia hadiah, bagi hasil dalam bisnis, hutang piutang.

v  Aspek muaqadah (perjanjian kesepakatan) yaitu pernikahan, perceraian, pembebasan budak belian, pembagian harta warisan, dan hak-hak hamba yang lainnya. Pada umumnya dua sisi ini di sebut ilmu fiqih.

  1. Hak jiwa yaitu ilmu akhlak (budi pekerti). Akhlak yang buruk mestilah di buang dan di tinggalkan dan di hilangkan.

Ilmu akal adalah suatu ilmu yang memutuskan salah dan benar, ilmu ini memiliki tiga tingkatan:

Tingkatan pertama adalah matematika dan logika. Matematika memuat ilmu hitung dan geometri yaitu ilmu pengukuran dan bentuk tataruang, contohnya ilmu Astronomi, ramalan cuaca, serta segala yang terkait.

Adapun logika berfokus pada batasan dan rumus-rumus suatu yang diketahui  dengan kontemplasi. Hal ini dilakukan dengan metode silogisme dan pembuktian keilmuan yang diperoleh dengan benar.

Tingkatan kedua adalah ilmu ilmiah (ilmu aksi dan reaksi alam). Para pakarnya berkonsentrasi pada jasmaniah badan, factor-faktor alam, unsur dan aksiden, gerak dan diam, dan metabolism segala sesuatu. Dari sinilah lahir teori tingkatan-tingkatan realitas, pembagian jiwa, metabolism badan jasmani, cara kerja indera dan mengetahui apa yang diinderakannya. Kemudian barulah keluar ilmu pengobatan, ilmu anatomi tubuh, penyakit, obat-obatan serta pengobatannya.

Ilmu ilmiah ini berakhir pada ilmu pembuatan zat kimia (farmasi) yang di gunakan untuk bagi jasmani yang sakit.

Tingkatan ketiga adalah merupakan ilmu tertinggi dari ilmu akal, yaitu teori-teori tentang realitas. Pembagiannya ada yang wajib dan ada yang mungkin

Tingkatan yang ketiga ini berujung pada ilmu-ilmu kenabian, hal mu’jizat, karamah, teori jiwa yang suci, hal tidur dan bangun serta tingkatan-tingkatan mimpi.

  1. D.     Metode keberhasilan mendapatkan ilmu   

Untuk memperoleh suatu ilmu ternyata tidaklah mudan dan instan ada metode-metodenya:

Metode pertama, proses belajar manusiawi, adalah metode yang umum, terinderakan, dipakai oleh semua yang berakal. Proses ini memiliki dua sisi.

  • Sisi pertama adalah dari luar, yaitu di peroleh dengan belajar biasa.
  • Sisi kedua adalah dari dalam yaitu diperoleh dengan proses berfikir. Berfikir secara bathiniyah setingkat dengan belajar dengan secara zahir.

Ilmu laduni adalah rahasia-rahasia cahaya ilham

Ada tiga pandangan untuk memperoleh ilmu laduni :

a)     Ilmu diperoleh karena mendapatkan anugerah keberuntungan dari Allah.

b)     Ilmu diperoleh melalui cara riyadhah (mendekatkan diri pada Allah) yang benar.

c)      Ilmu diperoleh melalui tafakkur (berfikir). Jika jiwa belajar dan  senang pada suatu ilmu, kemudian berfikir pada objek yang sudah di ketahuinya dengan mengikuti syarat-syarat   berfikir,  akan terbuka bagi jiwa pintu-pintu kegaiban.

BAB IV

 

  1. A.      Karya-Karya al-Ghazali yang terkenal

 

  1. 1.        Ihya Ulumuddin

Ihya dinilai oleh banyak pakar sebagai kitab amat monumental dan paling terkenal, di banding karya-karya al-Ghazali yang lain. Dikalangan kaum muslimin, Ihya di anggap sebagai warisan al-Ghazali yang mempunyai pengaruh cukup besar. Sampai-sampai sebagian orang menyatakan bahwa hampir saja kitab Ihya memiliki pengaruh seperti al-Quran.

Penghargaan kaum muslimin terhadap kitab Ihya, yang terkesan agak berlebihan ini, tampaknya bukan tanpa alasan. Perlu diketahui juga, isi kitab Ihya amat luas, meliputi bidang-bidang dan materi-materi yang sangat beragam mengenai berbagai aspek kehidupan. Di dalamnya, terkupas persoalan hukum, sosiologi, psikologi, ekonomi, ilmu pengetahuan dan pendidikan. Terutama pada Bab Al-Arba’ah dan Bab al-Arba’in.

Disamping itu juga, isi kitab Ihya juga menggambarkan bagaimana penekanan al-Ghazali terhadap kaidah-kaidah umum yang di sepakati. Bagi mereka yang membaca kitab ihya dengan penuh ketelitian, niscaya akan mendapatkan kesimpulan bahwa al-Ghazali ingin sekali menekankan agar kita berdiri pada garis kebenaran atau jalan yang dipenuhi oleh norma atau kaidah dan aturan-aturan tertentu.

Tetapi sangat disayangkan, kebesaran dan kebenaran kitab Ihya belum sepenuhnya bisa diterima oleh beberapa tokoh. Salah satunya mereka mempersoalkan tentang kutipan dan pemilihan hadits. Pada umumnya tokoh-tokoh tersebut menyatakan bahwa hadits-hadits yang dikutip al-Ghazali dalam kitab ihya kurang bisa dipertanggung jawabkan. Dalam kitab al rasul wal ilmu, al Qardawi menilai bahwa al-Ghazali di dalam dua kitabnya, yakni al ilmu dan ihya ulumuddin, telah mengemukakan limapuluh lima buah hadits, tiga belas diantaranya berupa hadits Shahih dan Hasan, sedangkan sisanya hadits Dhaif.  Bahkan Ibn al-Jausi menyatakan bahwa kitab ihya al-Ghazali banyak menyebutkan hadits-hadits maudhu, sementara yang shahih hanya sedikit saja. Ibnu katsir juga mempunyai pendapat yang sama seperti al-Jausi, walaupun dalam beberapa hal ibnu katsir memberikan pujian kepada al-Ghazali. Ibnu Katsir mengatakan bahwa kitab Ihya al-Ghazali adalah kitab yang sangat unik. Di dalamnya termuat bermacam-macam ilmu dan syariah, penuh dengan ajaran-ajaran tasawuf dan gerakan hati. Hanya saja di dalamnya juga berisi banyak hadits yang mungkar, gharib dan maudhu.

  1. 2.      Al Munqidz Min al-Dhalal 

Masalah-masalah kebenaran dan pertentangan al-Ghazali dengan para filusuf, bisa kita baca dalam kitab al-Munqidz. Al-Munqidz mengungkapkan perbedaan pendapat antara al-Ghazali dengan para filusuf yang lainnya. Bahkan, dengan tegas dan jelas al-Ghazali berani mengkafirkan seorang filusuf dalam hubungannya dengan pemikiran-pemikiran mereka.

Dalam proses perjalanan kehidupannya, al-Ghazali pernah melakukan intropeksi dan koreksi diri. Hal ini, ia akui dalam kitab al Munqidz ini. Intropeksi dan koreksi diri al-Ghazali meliputi masalah-masalah keilmuan, penyerahan al-Ghazali kepada Tuhan dan bagaimana gambarannya ketika ia hendak masuk ke dunia tasawuf. Al Munqidz memaparkan tentang pembagian dan syarat-syarat untuk mengenal ilmu, ketidak mampuan akal, cahaya kenabian, kebenaran, keraguan terhadap pemikiran filosof dan mutakallimin, definisi Ilmu Yaqin serta tentang keraguan. Teori keraguan dari al-Ghazali yang diulas dalam kitab al Munqidz dijadikan landasan metode berfikir oleh Descartes.

Secara epistemologinya, buku ini mampu menjelaskan dengan kritis kriteria ilmu, kemampuan indera dan rasio, seraya menekankan bahwa “intuisi” merupakan sumber final pengetahuan di dalam mencapai kebenaran sejati. Secara tidak langsung al-Ghazali ingin mengatakan bahwa rasio atau akal bukanlah satu-satunya sumber ilmu pengetahuan yang bisa dipertanggungjawabkan secara mutlak.

  1. 3.      Faisal al-Thariqah Bain al-Islam wa al-Zindiqiyah.

Dalam buku ini al-Ghazali menjelaskan tentang syarat-syarat memberi definisi kafir kepada seseorang, tentang perbedaan pendapat dan wujud sesuatu.

Mengenai adanya wujud, dalam kitabnya faishal, al-ghazali menjelaskan bahwa wujud memiliki lima tingkatan :

Pertama, Wujud Dzati adalah wujud hakiki, diluar perasaan dan akal. Kedua, Wujud Hissy adalah sesuatu yang terdapat di dalam kekuatan bashirah (penginderaan), tetapi keberadaannya di luar penglihatan mata. Ketiga, Wujud Khayali adalah wujud yang merupakan gambaran dari sesuatu yang nyata setelah sesuatu yang nyata itu hilang dari indera. Empat, Wujud Aqli adalah dimana segala sesuatu itu memiliki ruh, memiliki hakikat, memiliki makna. Lima, Wujud Syubhy adalah sesuatu yang selayaknya tidak di wujudkan: tidak dalam bentuknya, hakikatnya, tidak diluarnya, tidak di dalamnya perasaan, tidak di dalamnya khayal dan tidak pula di dalam akal.

  1. 4.      Al-Mustasyfa

Kitab ini, terkenal sebagai hasil ringkasan dari kitab Tahdzib al-Ushul yang nyaris hilang dari khazanah ilmu pengetahuan islam. Kitab ini tergolong sebagai kitab yang paling terakhir yang ditulis oleh al-Ghazali, kurang lebih dua tahun sebelum al-Ghazali wafat. Buku ini berisi tentang klasifikasi ilmu, akal, dan fiqh. Di kitab ini al-Ghazali memberi klasifikasi ilmu dalam dua jenis. Pertama, Ilmu Akal murni seperti matematika dan ilmu bangunan. Kedua, Ilmu Agama murni adalah ilmu hadits dan tafsir.

Tentang keterbatasan akal dalam buku ini dijelaskan sebagai berikut:

Akal akan mampu menunjukkan kebenaran seorang Nabi. Namun, peran akal akan berakhir pada sebuah titik, sehingga kemudian menerima apa yang dibawa oleh para Nabi dan Rasul itu, terutama tentang Allah dan hari akhir. Khusus tentang persoalan Allah dan hari akhir tersebut, akal tidak mampu untuk mengenal dzat-Nya, dan juga mampu untuk memustahilkan-Nya.

Oleh banyak kalangan, kitab ini dinilai sebagai salah satu pilar ilmu Ushul Fiqh. Dengan adanya kitab ini, al-Ghazali diakui sebagai salah satu seorang pakar didalam Ilmu Ushul Fiqh, bahkan dikatakan sebagai korektornya.

  1. 5.      Mizan al-Amal

Mizan al Amal adalah kitab relatif awal ditulis oleh al-Ghazali, disamping al Mankhul. Kitab ini berisi antara lain: empat golongan manusia. Pertama, Kelompok manusia yang mengakui kebangkitan dan penyerahan kitab amal (di alam mahsyar), mengakui surga dan neraka, mengakui bahwa al Quran adalah sifat, dan juga berisi hal lainnya. Kedua, Manusia yang tergolong dalam sebagian filusuf Theistik Islam. Mereka mengakui adanya kelezatan yang tidak terbesit dalam hati. Ketiga, Kelompok yang mengingkari adanya kelezatan rasa secara total, baik melalui cara yang hakiki maupun cara yang khayal. Keempat, kelompok yang terdiri dari orang-orang Primitif-Ortodok. Nama-nama mereka tidak terkenal, apalagi disebut sebagai nalar.

Dalam kitab ini al-Ghazali menyarankan agar dalam mencari kebenaran, manusia menggunakan cara berfikir dengan nalar yang bebas, bukan dengan cara taqlid buta. Bahkan, manusia juga dihimbau untuk meragukan terhadap pendapat-pendapat yang diwariskan oleh mazhab-mazhab yang diakui selama ini. Pada bagian akhir tulisan kitab Mizan al Amal, al-Ghazali mengatakan “barang siapa yang tidak ragu, dia tidak akan berfikir. Dan barang siapa yang tidak berfikir, dia adalah buta dan sesat”.

  1. 6.      Iqtishad Fi al-I’tiqad

Buku ini membahas tentang keterbatasan akal, yang kemudian dirangkai dengan perpaduan beserta keseimbangan antara akal dan syara’. Tentang akal, al-Ghazali menulis :

Adapun masalah yang oleh syara telah diputuskan sebagai masalah yang mustahil, maka ia harus ditakwilkan oleh akal. Tentunya yang logis sekali dalam penawilannya. Akal tidak dibenarkan untuk mempersepsikan kepastian yang sudah didengar dari wahyu, dikhawatirkan bisa bertentangan dengan logika akal. Bila akal berhenti karena tidak dapat memberikan keputusan, baik yang mustahil maupun yang jaiz, maka akalpun harus mempercayainya atas dasar petunjuk teks, mengingat ketidak mampuan akal didalam memberikan keputusan mustahil terhadap yang jaiz.                         

Akal juga harus terpadu dan berjalan bersama-sama dengan syara. Al-Ghazali menulis demikian: “ketahuilah bahwa akal bersama-sama dengan syara, adalah cahaya di atas cahaya”. Orang yang melihat dengan pejoratif saja yang memisahkan akal dengan syara.

  1. 7.       Minhajul Abidin

Kitab ini merupakan kitab terakhir yang di tulis oleh al-Ghazali. Di antaranya membahas tentang penting ilmu. Dalam buku ini al-Ghazali menyarankan agar manusia harus terlebih dahulu mencari ilmu, sebelum melangkah kepada hal-hal lain. Selain itu juga menyatakan ada beberapa jenis ilmu, yang apabila ilmu-ilmu tersebut disebarkan secara sembarangan, dikhawatirkan akan menimbulkan fitnah. Dalam sebuah tulisannya:

-Sesungguhnya aku akan menyimpan rahasia-rahasia dari ilmu yang aku miliki, agar tidak diketahui orang lain yang tidak mengerti.

-Wahai Tuhan, seandainya rahasia-rahasia ilmu itu aku sebarkan niscaya orang akan mengatakan diriku sebagai penyembah berhala.

  1. 8.      Tahafut al-Falasifah

Kitab ini paling kontroversi dan banyak di kritik orang. Diantara pengkritik tahafut ada yang mengatakan bahwa isinya menunjukan kalau al-Ghazali telah mengingkari filsafat serta kembali masuk lingkungan tradisioanal. Dengan kitab ini juga, al-Ghazali mengangkat iman lebih tinggi, tidak sebanding dengan akal.

Di dalam buku ini, al-Ghazali mengkritik para filusuf, terutama yang berkaitan dengan al uqul al asyurah (akal sepuluh) dan masalah al aflak (planet-planet), serta mengenai duapuluh kesalahan al-farabi dan ibnu sina.

Selain itu, dalam kitabnya ini al-Ghazali dengan jelas memaparkan maksud kritikannya terhadap kelompok peripatetic, yakni karena ditengarai kelompok ini sangat dipengaruhi neoplatonik dan keluar dari garis konsistensi Aristoteles.

Yang sangat menarik, ia menjelaskan poin-poin kritiknya terhadap pemikiran peripatetic, sekaligus neoplatonik, dengan sangat runtut dan sistematis. Dimana, setiap pemikiran peripatetic dipaparkan sedemikian rupa, kemudian al Ghazali menuliskan kritikannya pada setiap poin tersebut.

  1. 9.      Maqashid al-Falasifah 

Buku ini merupaka buah dari hasil prakasa filosofnya selama tiga tahun setelah al-Ghazali mengalami masa-masa skeptisis yang sangat berat. Buku ini diberi judul Maqashid al Falasifah (tujuan para filosof), yang dimana ia menyatakan bahwa tujuan yang sebenarnya adalah untuk menjelaskan ajaran-ajaran para filusuf, sebagai persiapan untuk menolak pandangan mereka dalam sebuah karya berikutnya yaitu tahafut al falasifah.

Buku ini ditulis sangat cekatan, sehingga seorang pembaca yang kurang teliti akan menyimpulkan bahwa ia merupakan karya dari seorang Neoplatonis konvensional. Perlu diketahui bahwa kitab ini, bersama-sama dengan mi’yar al-ilm dan tahafut falasifah merupakan kitab-kitab yang telah membentuk sebuah trilogy filosofis yang sangat penting artinya bagi usaha untuk mempelajari sejarah perjuangan antara para teolog dan filsuf islam. Khusus mengenai kitab Mi’yar al-Ilmi dapat kita temukan dalam buku pedoman (manual) yang penting tentang logika Aristotelian, yang di dalamnya memuat tentang kriteria-kriteria ilmu.

BAB V

  1. A.     Konsep hati

 

Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al-Ghazali atau yang akrab dipangggil al-Ghazali, telah mewariskan banyak penemuan dan pemikiran. Ia merupakan pemikir muslim besar yang telah menguasai banyak bidang dan yang lebih dikenal dengan pemikirannya dalam bidang agama, filsafat, dan sufisme.

Bukan hanya itu, dalam bidang lain seperti kedokteran, ia juga telah meyumbangkan pemikiran dan jasa yang besar dalam kedokteran modern melalui penemuan sinoatrial node atau nodus sinuatrial. Dalam istilah kedokteran, sinoatrial node merupakan kumpulan mokroskopis dari jaringan urat jantung atau sel-sel. Jaringan atau sel itu terletak pada ujung teratas sulcul terminalis, pada persimpangan vena-vena puncak dan atrium kanan. Denyutan jantung secara normal bersumber dari node ini yang biasa disebut dengan node Keith dan Flack sebagai penemu teori tersebut pada tahun 1907. Mereka adalah A Keith ahli anatomi dan antropologi dari Skotlandia dan MW Flack fisiolog dari Inggris.

Merujuk kepada penelitian sejarah dan pengkajian atas pemikiran-pemikiran al-Ghazali, ternyata dia adalah orang yang pertama kali menemukan hal yang terkait dengan sinoatrial node, dan ini terungkap dalam beberapa buku karyanya, diantarany yaitu, Al-Mundiqh min al-Dhalal, Ihya Ulum al-Din dan Kimia al-Sa’dat. Saat menjelaskan tentang hati sebagai pusat  pengetahuan intuitif serta rahasianya, ia berbicara tentang suatu titik dalam hati. Al-Ghazali selalu merumuskan suatu titik ini sebagai suatu mata batin yang menemukan ilhamnya.  Penjelasan tentang hal ini dapat ditemukan dalam bukunya yang berjudul al-Munqidh min al –Dhalal.

Al-Ghazali menjelaskan bahwa di dalam hati terdapat suatu insting yang ia disebut sebagai cahaya Tuhan. Selain itu ia juga menyebutnya sebagai mata hati, anak hati, dan keintiman hati serta rahasia hati, dan semua hal itu ia sebutkan dalam buku karyanya yaitu Ihya. Jika membandingkan konsep titik hati al-Ghazali dengan sinoatrial node, terungkap bahwa konsep al-Ghazali memiliki kaitan erat dengan sinoatrial node, dan menurutnya titik hati itu tidak dapat dilihat dengan alat-alat sensoris, sebab, al-Ghazali menjelaskan bahwa titik hati itu bersifat mikroskopis. Apa yang diungkapkannya itu sama dengan pendapat atau pandangan yang dilontarkan oleh para ahli kedokteran modern. Ia juga mengatakan bahwa titik hati secara simbolis merupakan cahaya seketika yang membagi-bagikan cahaya Tuhan.

Titik hati itu pun bersifat elektrik, menurut pemikiran modern, dalam satu detik sebuah impuls elektrik yang berasal dari sinoatrial node mengalir ke bawah lewat atria dalam sebuah gelombang setinggi 1/10 milivolt yang menyebabkan otot-otot atria berkontraksi. Di sisi lain, pada masa modern ini para ahli anatomi menyatakan bahwa pembentukan tindakan secara potensial berasal dari hati, yaitu ketika kontraksi jantung yang merupakan gerakan spontan yang terjadi secara independen dalam sistem syaraf. Ternyata pandangan itu sejalan dengan pemikiran al-Ghazali. Menurutnya, bahwa hati itu merdeka dari pengaruh otak seperti yang tercantum dalam al-Munqidh min al-Dhalal. Para pemikir modern sendiri menyatakan bahwa suatu tindakan kadang terjadi lewat mekanisme yang tak seorang pun tahu mengenai hal itu.

Al-Ghazali mengungkapkan bahwa tindakan yang terjadi melalui mekanisme yang tidak diketahui itu sebenarnya disebabkan oleh sinoatrial node. Dijelaskan pula bahwa penguasa misterius tubuh yang sebenarya adalah titik hati itu, bukan otak. Al-Ghazali tidak hanya menggambarkan dimensi fisik sinoatrial node, namun ia juga menggambarkannya dalam dimensi metafisik. Hal ini jauh berbeda dengan pandangan para pemikir sekuler yang hanya mampu menggambarkan sinoatrial node secara fisik semata. Bahkan secara metafisik, al-Ghazali menggambarkan sinoatrial node sebagai pusat pengetahuan intuitif atau inspirasi ketuhanan yang bisa berfungsi sebagai peralatan untuk menyampaikan pesan-pesan Tuhan kepada hambanya. Lebih jauh lagi al-Ghazali menyatakan bahwa orang-orang yang bisa memungsikan sinoatrial node secara maksimal adalah mereka yang telah mencapai penyucian diri, yaitu mereka yang selalu mendekatkan diri kepada Allah swt.

Selain meniggalkan hasil pemikiran tentang sinoatrial node ini, pemikiran al-Ghazali telah banyak berserak. Pengaruhnya sangat luas di dunia islam. Semua terbukti, bahkan hingga saat ini banyak karya dan pemikirannya menjadi kajian oleh para pemikir-pemikir Islam. Bahkan pengaruh pemikirannya juga sampai kepada para pemikir non-muslim, terutama dalam kajian filsafat. Banyak juga cendikiawan Barat yang menyebut al-Ghazali sebagai cendikiawan Muslim terbesar, ini dikarenakan pemikiran-pemikirannya yang memberikan pengaruh kuat di dunia Barat.

BAB VI

JIWA

  1. A.     Pengertian Jiwa

Kata jiwa berasal dari bahasa arab, yaitu nafs, yang secara harfiyah dapat diartikan sebagai jiwa, atau dalam bahasa inggris disebut dengan soul atau spirit. Dalam tradisi keilmuan islam, kajian manusia justru mendapat perhatian penting. Dan hampir semua ulama, kaum sufi dan filosof muslim ikut berbicara tentangnya. Dengan menganggapnya sebagai bagian yang lebih dahulu diketahui oleh seorang manusia. Karena dimensi jiwa dalam islam lebih tinggi dari sekedar dimensi fisik, karena jiwa merupakan bagian metafisika. Ia sebagai penggerak dari seluruh aktivitas fisik manusia. Meskipun saling membutuhkan antara jiwa dan jasad, namun peran jiwa akan lebih banyak mempengaruhi jasad.

Maka dari itu, sangat penting sekali membahas tentang jiwa, sebagai mana islam menjelaskan tentang jiwa baik dari eksistensi, potensi, maupun haklikatnya. Karena jiwa merupakan jiwa kauniya dimana peran akal menjadi utama dalam hal ini. Selain memudahkan manusia mengetahui eksistensi dirinya juga terpenting mengetahui jiwanya akan memudahkan manusia mengenal Tuhannya.

Dalam pandangan sufi jiwa mencakup sebuah model jiwa manusia yang didasari oleh prinsip evolusi. Jiwa memiliki tujuh aspek atau dimensi, yaitu: mineral, nabati, hewani, pribadi, insani, dan jiwa rahasia, serta jiwa maharahasia.masing-masing kitamemiliki tujuh tungkat kesadaran.[7]

Jiwa berfikir, (nafs nathiqoh) atau dalam al-qur’an disebut dengan nafs muthmainnah. Jiwa ini adalah esensi yang hidup, aktif dan rasional. Jiwa atau jasad adalah perangkat tubuh manusia yang kasar dan empiris. Ia terdiri dari bagian-bagian keras dan kuat serta melaksanakan tugas-tugas berjalan, gerakan, penginderaan, yang diperintahkan oleh ruh. Ruh ini tidak menunjukkan pada ilmu, serta tidak mengetahui jalan mahluk dan kebenaran pencipta. Ia merupakan kehidupan, disaat jasad hidup, dan ia akan mati seiring jasad mati. Maka dari itu al-Ghazali kemudian membaginya ke dalam tiga bagian, yaitu: jasad, ‘Aradh, serta Jawhar.

  1. Jasad adalah sebagaimana yang telah dikatakan diatas yaitu merupakan bagian kasar.
  2. ‘Aradh (aksiden) adalah ditentukan oleh jasad atau ruh, ia tidak kekal setelah substansi yakni nafs natiqoh kembali kepada sang pencipta.
  3. Sedangkan jawhar (substansi) adalah jiwa yang tak pernah mati, jiwa yang hanya kemali kepada Tuhan, nafs al-muthmainnah.
  4. B.     Konsep Jiwa Al-Ghazali

Ada banyak perbedaan istilah yang digunakan para Sufi untuk mendeskripsikan jiwa, seperti Al-Ghazali yang menjelaskan alasan-alasannya untuk ‘lebih’ memilih istilah hati sebagai acuan mendasar bagi dimensi realitas manusia yang harus diubah oleh kehidupan ruhani. Pendeknya, dia mendefinisikan “hati” sebagai sumber esensi manusia, ‘”ruh” sebagai sumber persepsi dan kesadaran, “jiwa” sebagai diri manusia selama menjalani perubahan, dan “akal” sebagai hati sepanjang ia memahami realitas-realitas dari segala benda. Keempat istilah tersebut mengacu pada subtil manusia dari sudut pandang yang berbeda.

Al-Ghazali pula yang pertama kali membagi kemampuan-kemampuan sensori ke dalam lima macam sensori eksternal, yang disebut pula sebagai al-hawas ad-dzihniyyah al-khamsah:

  1.  Hissi Musytarak (common sense),

yaitu yang menyatukan kesan-kesan yang berada di luar benak, kemudian menuju pada otak dan sementara proses tersebut      berlangsung ada proses lain yakni pemberian makna.

2.  Takhayyal (imagination)

Yang memungkinkan seseorang untuk menyimpan kesan-kesan yang berada di dalam benak yang berasal dari pengalaman.

  1. Tafakkur (reflection)

Yang membawa segala pikiran yang saling bertaut menjadi satu atau terpisah, tetapi di lain hal tidak dapat menciptakan sesuatu yang baru di dalamnya, bila tidak terdapat di dalam pikiran sebelumnya.

  1. Tadhakkur (recollection)

Yang mengingat bentuk-bentuk ekternal dari objek-objek di dalam memori dan mengumpulkan kembali maknanya.

  1. Hafiza (the memory)

Dimana kesan-kesan diterima melalui panca indera dan disimpan.

Kemudian Al-Ghazali membagi nafs kepada tiga kategori berdasarkan pembagian dalam Al-Qur’an

  1. Nafs Ammarah

Yaitu jiwa yang memperturutkan dan memuaskan nafsu dan lebih condong pada keburukan atau kejahatan.

2.  Nafs Lawwamah

Yaitu jiwa yang berperan untuk mengarahkan manusia untuk mengikuti “kata hati” kepada yang benar atau yang salah.

3.  Nafs Muthmainnah

Pada hal ini, jiwa telah mencapai tahap yang hakiki, jiwa mampu mengendalikan hawa nafsu dalam keadaan apapun, jiwa mendapatkan tempat yang paling mulia, pemilik jiwa seperti ini sangat dekat dengan Tuhannya, jiwa kembali suci sesuai dengan fitrahnya, untuk menyatu dengan Dzat Yang Maha Suci.

  1. C.      Daya Jiwa Rasional menurut Al-Ghazali

Dengan mengikuti metode al-Farabi dan Ibn Sina, al-Ghazali membagi jiwa manusia menjadi daya teoritis dan daya praktis, serta masing-masing diberi istilah akal sesuai dengan fungsinya. Al-Ghazali menjelaskan fungsi masing-masing dari kedua daya jiwa tersebut dengan menukil secara harfiah dari pendapat Ibnu Sina tentang jiwa rasional dan fungsi-fungsinya yang ada di dalam buku an-Najat, dan buku Ahwal an-Nafs  .

Daya praktis adalah daya yang bertanggung jawab mengatur badan. Melalui kerja sama dengan daya hasrat, daya praktis mendorong manusia melakukan berbagai perilaku parsial yang khusus berkaitan dengannya, semisal rasa malu, segan, tertawa, dan menangis. Kerja sama daya praktis dan daya fantasi serta daya wahm ini melahirkan kesimpulan berbagai keahlian, keterampilan, dan profesi. Sedangkan kerjasama antara daya praktis dan dengan daya teoritis atau akal teoritis melahirkan berbagai ide moral, mislanya; kejujuran, kebohongan, keburukan, kebaikan, keadilan, dan keindahan.

KESIMPULAN

 

Berdasarkan uraian di atas, ada beberapa hal yang perlu di sampaikan. Bahwa al-Ghazali merupakan seorang filosof yang sangat berperan dan berpengaruh besar dalam filsafat dunia islam. Banyak karya-karyanya yang sangat bernilai dan bermakna, dan tidak sedikit karyanya di jadikan pedoman atau pegangan bahkan kitab nya yang di kaji di kalangan pesantren khususnya di Indonesia.

Al-Ghazali dalam pemikirannya tentang pengetahuan, beliau membagi menjadi dua yaitu:

  • Wujud aktual, yakni segala realitas yang mempunyai eksistensi diluar mental atau persepsi manusia. Ia mempunyai hakekat pada dirinya sendiri. Realitas ini mencangkup semua partikular, baik yang sensual (segala materi dengan segala sifat fisisnya, seperti warna, bau, bentuk, ukuran).
  • Wujud potensial, yakni segala realitas yang eksistensinya hanya ada dalam mental atau pikiran manusia. wujud ini terbagi tiga bagian, yaitu :
    • Wujud al Hissi, adalah sesuatu dalam potensi indera sebagai ‘ sense datum’ yakni hasil persepsi langsung indera terhadap objek dan penampakan dunia luar terhadap indera yang penampakan tersebut bukan merupakan substansi objek yang sesungguhnya melainkan hanya halusinasi , seperti apa yang dilihat orang tidur atau orang sakit.
    • Wujud Khayali, adalah gambar sebuah objek yang ada dalam potensi khayal (common sense). Maksudnya data sudah terinternalisasi dalam mental dan disimpan dalam potensi memory seseorang. Kedua wujud ini oleh oleh kaum realisme kritis dipandang sebagai’ sense data’ yang menghubungkan pikiran subjek dengan objek.

Wujud al-Aqli, adalah makna abstrak yang ditangkap oleh rasio dari sebuah objek, berdasarkan sense data (wujud al-hissi dan wujud khayali), tetapi sudah terlepas dari pengaruh indera dan khayal itu sendiri. Seperti pemahaman bahwa manusia adalah hewan berfikir.

DAFTAR PUSTAKA

  1. Washil, Sobri. Tesis Program Pasca Sarjana Ilmu Pengetahuan Budaya dan Sastra. Peripatetic dan kritik Al-Ghozali terhadapnya, Depok: 2000.
  2. Prof. Dr. Praja, Juhaya S. Aliran-aliran Filsafat dan Etika. Jakarta: Kencana, 2005.
  3. Dr. Nasution, Hasyimsyah. Filsafat Islam. Jakarta: Gaya Media Pratama, 1999.
  4. Sholeh, Khudroti Ahmad. Wacana Baru Filsafat Islam. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2004.
  5. Al-Ghazali, Imam. Ilmu Huduri. Jakarta: Hikmah, 2003.
  6. Prof. Dr. Juhaya Espraja Ma, pengantar filsafat Islam. Bandung: Pustaka Setia 2002.
  7. Imam al-Ghazali. Ihya ‘Ulumuddin, jilid 7. Bandung: pustaka 2005.
  8. Dr. Mahmud Hamdi Zaqzuq. Al-Ghazali sang Sufi Sang Filosof. Bandung: pustaka

1981.

 

 


[1] Hadi, aslam. Metafisika beberapa filosof islam, Rajawali Press. Jakarta : 1988, hal 57.

[2] Nasution, Hasyimsyah. Filsafat Islam,  Gaya Media Pratama. Jakarta : 1999, Hal 78

[3] Nasution, Hasyimsyah. Filsafat Islam, Gaya Media Pratama. Jakarta : 1999, Hal 78

[4] Nasution, Hasyimsyah. Filsafat Islam, Gaya Media Pratama. Jakarta : 1999. Hal 79

[5] Nasution, Hasyimsyah. Filsafat Islam, Gaya Media Pratama. Jakarta  : 1999. Hal 79

[6] Sobri wasil. Thesis. Depok 2000

[7] Robert Frager. Hati, Diri, dan Jiwa (cetakan I; Jakarta: Serambi, 2002), hal 32

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s