Hakikat Manusia

  1. A.    Hakikat Manusia

pensilSebelum penulis membedah lebih jauh hakikat manusia, alangkah baiknya penulis menjelaskan terlebih dahulu apa itu hakikat. Hahikat berasal dari bahasa Arab al-haqiqat, yang berarti kebenaran dan esensi. Dalam pengertian ini, al-Jurjani mendefinisikannya dengan “yang menyebabkannya sesuatu menjadi dirinya”. Begitu pula dengan Ibn Sina yang memberikan definisi yang tidak jauh berbeda dengan al-Jurjani, yaitu “kekhususan eksistensi sesuatu yang juga menyebabkannya ada karenanya”.

Dengan itu, hakikat mengandung makna sesuatu yang tetap, tidak berubah-ubah, yaitu identitas esensial yang menyebabkan sesuatu dari dirinya sendiri dan membedakannya dari yang lainnya.[1] Dan manusia itu sendiri, harus terdiri dari jasad, tumbuh, mengindra, bergerak dengan kehendaknya, dan berfikir.  Dengan itu manusia mempunyai identitas esensial yang tetap, tidak berubah-ubah, yaitu al-nafs (substansi yang berdiri sendiri, tidak bertempat) dan merupakan tempat pengetahuan-pengetahuan intelektual berasal dari alam al-malakut.

Disisi lain, jika kita lihat dalam konteks perbandingan dengan bagian-bagian alam lainnya, para akhli telah banyak mengkaji perbedaan antara manusia dengan makhluk-makhluk lainnya terutama dengan makhluk yang agak dekat dengan manusia yaitu hewan. Secara umum komparasi manusia dengan hewan dapat dilihat dari sudut pandang Naturalis/biologis dan sudut pandang sosiopsikologis. Secara biologis pada dasarnya manusia tidak banyak berbeda dengan hewan, bahkan Ernst Haeckel (1834 – 1919) mengemukakan bahwa manusia dalam segala hal sungguh-sungguh adalah binatang beruas tulang belakang, yakni binatang menyusui, demimikian juga Lamettrie (1709 – 1751) menyatakan bahwa tidaklah terdapat perbedaan antara binatang dan manusia dan karenanya manusia itu adalah suatu mesin.

Kalau manusia itu sama dengan hewan, tapi kenapa manusia bisa bermasyarakat dan berperadaban yang tidak bisa dilakukan oleh hewan?, pertanyaan ini telah melahirkan berbagai pemaknaan tentang manusia, seperti manusia adalah makhluk yang bermasyarakat (Sosiologis), manusia adalah makhluk yang berbudaya (Antropologis), manusia adalah hewan yang ketawa, sadar diri, dan merasa malu (Psikologis), semua itu kalau dicermati tidak lain karena manusia adalah hewan yang berfikir/bernalar (the animal that reason) atau Homo Sapien.

Dengan memahami uraian di atas, nampak bahwa ada sudut pandang yang cenderung merendahkan manusia, dan ada yang mengagungkannya, semua sudut pandang tersebut memang diperlukan untuk menjaga keseimbangan memaknai manusia. Blaise Pascal (1623 – 1662) menyatakan sangatlah berbahaya bila kita menunjukan manusia sebagai makhluk yang mempunyai sifat-sifat binatang dengan tidak menunjukan kebesaran manusia sebagai manusia. Sebaliknya adalah bahaya untuk menunjukan manusia sebagai makhluk yang besar dengan tidak menunjukan kerendahan, dan lebih berbahaya lagi bila kita tidak menunjukan sudut kebesaran dan kelemahannya sama sekali.

Manusia, sama halnya dengan makhluk hidup lain, memiliki seperangkat hasrat dan tujuan. Ia berjuang untuk meraih tujuan-tujuannya dengan didukung oleh pengetahuan dan kesadarannya. Dan perbedaan antara keduanya terletak pada dimensi pengetahuan kesadaran dan tingkat tujuan mereka.[2]

  1. B.     Manusia dalam Pandangan Islam

Sebagai mana yang dikatakan sebelumnya, bahwa manusia memiliki posisi yang dinamis. Begitu pula dalam al-Qur’an manusia bisa mencapai kemuliaan dan sebaliknya bisa mencapai kehinaan. Dan manusia dinobatkan jauh mengungguli alam surge, bumi, dan bahkan para malaikat, tetapi pada saat yang sama ia bisa lebih hina dari setan yang terkutuk bahkan binatang sekalipun.

  1. Segi-Segi Positif Manusia

Jika kita lihat dari segi makhluk ciptaan Tuhan maka Manusia memiliki posisi sebagai khalifah Tuhan di bumi, dan jika kita bandingkan dengan semua makluk yang lain manusia merupakan makhluk yang mempunyai kapasitas inteligensia yang paling tinggi. Dan manusia adalah makhluk yang mempunyai kecenderungan dekat dengan Tuhan. Dengan kata lain, manusia sadar akan kehadiran Tuhan jauh di dasar sanubari mereka. Jadi segala keraguan dan keingkaran kepada Tuhan muncul ketika manusia menyimpang dari fitrah mereka sendiri. Bahkan dalam QS. Al-Rum: 43 dikatakan:

Artinya: “Oleh karena itu, hadapkanlah wajahmu kepada agama yang Lurus (Islam) sebelum datang dari Allah suatu hari yang tidak dapat ditolak (kedatangannya): pada hari itu mereka terpisah-pisah[3].” (QS. Al-Rum: 43)

Dalam fitrahnya manusia memiliki unsur surgawi yang luhur, berbeda dengan unsur badani pada binatang, tumbuhan dan benda-benda tak bernyawa. Unsur-unsur itu merupakan suatu senyawa antara alam nyata dan metafisis, antara rasa dan nonrasa (materi), antara jiwa dan raga. Dan penciptaan manusia benar-benar telah diperhitungkan secara teliti, bukan suatu kebetulan. Karenanya manusia merupakan suatu makhluk pilihan. Terlebih lagi manusia adalah makluk yang diberi kebebasan dan merdeka, namun tidak terlepas dari tanggung jawab dari setiap apa yang mereka lakukan.

Manusia adalah makhluk yang diberi karuniai pembawaan yang mulia dan martabat. Tuhan, pada kenyataannya, telah menganugrahi manusia keunggulan-keunggulan atas makhluk-makhluk lain. Manusia akan menghargai dirinya sendiri hanya jika mereka mampu merasakan kemuliaan dan martabat tersebut, serta mau melepaskan diri mereka dari kepicikan segala jenis kerendahan budi, penghambaan dan hawa nafsu. Serta manusia memiliki kesadaran moral dan dapat membedakan yang baik dan buruk melalui inspirasi fitri yang ada pada mereka.

Tuhan memberi manusia Jiwa yang tidak akan pernah damai, kecuali dengan mengingat Allah. Keinginan mereka tidak terbatas, mereka tidak pernah puas dengan apa yang telah mereka peroleh. Selain itu, manusia lebih berhasrat untuk ditinggikan ke arah perhubungan dengan Tuhan Yang Maha Abadi. Karena itulah, segala bentuk karunia duniawi diciptakan untuk kepentingan manusia. Jadi manusia berhak memanfaatkan itu semua dengan cara yang sah.

Tuhan menciptakan manusia agar mereka menyembah-Nya. Tunduk patuh kepada Tuhan menjadi tanggung jawab manusia. Karena itulah, manusia tidak dapat memahami dirinya, kecuali dalam sujudnya kepada Tuhan dan dengan mengingat-Nya. Dalam artian, jika mereka melupakan Tuhan maka mereka akan lupa akan dirinya. Dan jika manusia meninggal, maka setiap realitas yang tersembunyi akan dihadapkan kepada manusia, dan selubung ruh mereka akan disingkapkan. Dan sesungguhnya dalam banyak hal, manusia tidak mengejar satu pun tujuan kecuali mengharap keridhaan Allah. Dalam artian kehidupan manusia tidak semata-mata motivasi-motivasi dunia saja.

  1. Segi-Segi Negatif Manusia

Tidak hanya segi positifnya saja, segi-segi negative manusia juga di sebutkan dalam al-Qur’an, bahkan dalam bentuk celaan-celaan. Seperti dalam beberapa ayat al-Qur’an:

Artinya: “Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat[4] kepada langit, bumi dan gunung-gunung, Maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu Amat zalim dan Amat bodoh”. (QS. Al-Ahzab:72)

Artinya: “Ketahuilah! Sesungguhnya manusia benar-benar melampaui batas,  karena Dia melihat dirinya serba cukup”. (QS. Al-Alaq: 6-7)

Daftar Pustaka

  1. Muthahhari, Murtadha, 2007, Membumikan Kitab Suci (Manusia dan Agama), Mizan: Bandung.
  2. Kazhim, Musa, 2007, The Secret if Your Spiritual DNA (Mengelola Fitrah untuk Kesuksesan dan Kemuliaan Hidup), Mizan: Bandung.
  3. Suwardi, Muhammad, 2010, The Mystery of Human Organ (Menguak Rahasia Allah pada Manusia), Upuk Press: Jakarta Selatan.
  4. Nasution, Dr. Muhammad Yasir, 2002, Manusia Menurut Al-Ghazali, Raja Grafindo Persada: Jakarta.

[1] Muhammad Yasir Nasution, Manusia Menurut Al-Ghazali, hlm. 71.

[2] Murtadha Muthahhari, Membumikan Kitab Suci (Manusia dan Agama), hlm.71.

[3] Yakni sebahagian mereka berada dalam surga dan sebahagian lagi berada dalam neraka.

[4] Yang dimaksud dengan amanat di sini ialah tugas-tugas keagamaan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s