Definisi, Tujuan, dan Dasar-dasar Akhlak

Mukodimah

B4L4Nkz4kPengkajian tentang akhlak merupakan sebuah kajian yang penting untuk dilakukan, hal ini disebabkan, akhlak –yang baik kemudian akan berperan sebagai sistem perilaku yang akan menciptakan harmonisasi dalam kehidupan manusia. Jika kita renungkan, diutusnya nabi Muhammad merupakan sebuah misi besar untuk manusia, yakni untuk menyempurnakan akhlak, sebagaimana yang tergambar dalam qoulnya:” iniy bu’itstu li utamima makarim al akhlaq” (sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak). Kesempurnaan akhlak seolah-olah menjadi tujuan utama dari diutusnya Nabi SAW. Mungkin ini berkaitan erat dengan karakter khas manusia yang merupakan makhluk sosial yang tidak bisa lepas dari interaksi dari sesama, sehingga dibutuhkan sebuah sistem yang kemudian akan menciptakan sebuah keharmonisan dalam kehidupan.

Akan tetapi sebelum jauh membahas kajian-kajian inti mengenai akhlak, penting kiranya bagi kita untuk mengetahui pengertian, tujuan dan dasar-dasar akhlak terlebih dahulu untuk dijadikan sebagai sebuah gambaran dasar pengkajian inti dari akhlak.

Dalam makalah ini, penulis akan mencoba untuk menguraikan pengertian akhlak yang diambil dari beberapa tokoh, kemudian memberikan sedikit gambaran mengenai tujuan dari akhlaq dan selanjutnya adalah pembahasan tentang hal-hal yang mendasari akhlak.

Sebagai sebuah gambaran awal, kita harus membedakan Akhlak dengan ilmu akhlak. “Ilmu akhlak” adalah ilmunya yang bersifat teoritis yang akan membahas bagaimana itu sombong, ria, dengki dan lain sebagainya, sedangkan apa yang disebut dengan “akhlak” adalah sesuatu yang bersifat praktis. Meskipun mata kuliah ini berjudul akhlak, akan tetapi kami—penulis lebih setuju jika mata kuliah ini dinamakan mata kuliah “ilmu akhlak” karena apa yang kemudian akan kita bahasa adalah seputar teori-teori tentang akhlak. Walaupun demikian, besar harapan setelah mempelajari bidang ilmu ini kami tidak sekadar mengetahui teori-teori tentang akhlak saja, akan tetapi lebih jauh kami bisa menerapkannya dalam kehidupan.

A.    Definisi Akhlak

Secara etimologi akhlak merupakan jamak dari kata khuluqun yang berarti budi pekerti, perangai, tabiat dan tingkah laku. Kalimat ini merupakan kalim at persesuaian dari kata kholqun yang artinya kejadian, kata ini erat kaitannya dengan khaliq yang berarti dicipta dan makhluq yang berarti dicipta[1]. Untuk melihat hubungan tersebut, kita bisa melihat bagan dibawah ini:

Benarlah bahwa manusia itu merupakan makhluk dua dimensi sebab Allah sebagai khaliq menciptakan manusia sebagai makhluq dengan dilengkapai dengan dua aspek penting, yakni aspek kholqun sebagai sisi fisik, yakni sesuat yang nampak dan dapat dinilai dengan panca indera kita, sebagai contoh, kita mengatakan Fatimah ber khalq baik, itu artinya kita mengatakan Fatimah adalah orang yang berpenampilan lahiriah baik atau rupawan dan aspek khuluqun sebagai aspek non-fisik, yakni sesuatu yang tidak bisa kita nilai dengan menggunakan panca indera kita. Sebagai contoh ketika kita mengatakan bahwa Ali itu berkhulq baik, itu berarti kita mengatakan kalau Ali merupakan orang dengan karakter batin yang baik[2].

Dalam bahasa Indonesia akhlaq setara dengan budi pekerti, dimana budi pekerti itu berasal dari kata majemuk yakni ‘budi’ yang berasal dari bahasa sansekerta yang berarti kesadaran atau menyadarkan dan ‘pekerti’ yang berasal dari bahasa Indonesia yang berarti kelakuan[3], yang dalam bahasa yunani sepadan dengan etika yang berasal dari kata ethos yang berarti kebiasaan.

Jadi, akhlaq itu adalah perilaku yang dilakukan atas dasar kesadaran.

Secara terminologi, ada beberapa definisi yang dikemukakan oleh pakar dengan redaksi yang sedikit berbeda akan tetapi memiliki maksud yang hampir sama, atau bahkan sama[4].

  1. Ibn Miskawaih

“keadaan jiwa seseorang yang mendorongnya untuk melakukan perbuatan-perbuatan tanpa melalui pertimbangan pikiran (terlebih dahulu).

  1. Imam Ghazali

“akhlaq adalah sesuatu yang tertanam dalam jiwa yang dari padanya timbul perbuatan-perbuatan dengan mudah dengan tidak memerlukan pertimbangan pikiran (terlebih dahulu)

  1. Prof. Dr. Ahmad Amin

“Akhlaq  merupakan kehendak yang dibiasakan. Artinya kehendak itu ketika membiasakan sesuatu, kebiasaan tersebut dinamakan akhlaq.

Ketika melihat definisi yang dibawakan oleh Ahmad amin, saya teringat Ibrahim Elfiky dalam buku terapi berpikir positif mengutip perkataan dari Aristoteles: “kamu adalah apa yang kamu lakukan berulang-ulang”. Hal ini menyiratkan bahwa perlakuan apapun dalam hidup kita, yang dilakukan secara berulang akan berubah menjadi akhlaq, baik atau pun buruk, mungkin dari sinilah muncul istilah akhlaq baik dan akhlaq buruk. Contohnya: untuk pertama kalinya orang yang kikir memberikan sesuatu yang dia miliki akan terasa sangat berat, akan tetapi jika perbuatan memberi itu diulang-ulang maka pada satu titik perbuatan memberi itu akan menjadi bagian darinya. karena akhlaq merupakan sesuatu yang dibiasakan, akhlaq berkaitan erat dengan tarbiyyah atau pembinaan jiwa. Akhlaq merupakan produk, Akhlaq yang kita miliki berhubungan erat dengan pembinaan yang kita lakukan kepada diri kita, jika pembinaannya baik, maka akhlaq kita baik dan sebaliknya.

Input

(Pembinaan)

Output

(Akhlaq)

Baik Baik
Buruk Buruk

Manusia merupakan sebaik-baiknya ciptaan Allah, sebagai mana yang dikatakan dalam Surah At-Tin:4 “bahwa sesungguhnya kami telah menciptakan manusia dari sebaik-baiknya bentuk” . mungkin penjelasan dari Al Ghazali yang mengenai level penciptaan[5] akan membantu menjelaskan ayat diatas:

Makhluk

Akal

Syahwat

Malaikat

ü

­-

Hewan

-

ü

Manusia

ü

ü

Karena manusia memiliki dua aspek sekaligus yang hanya salah satu dari keduanya dimiliki oleh malaikat dan hewan, maka salah satu dari keduanya akan mengungkung manusia. Manusia yang terkungkung oleh syahwatnya, derajatnya akan menjadi lebih hina dibandingkan dengan hewan, dan sebaliknya, jika manusia dikuasai oleh akalnya, maka manusia akan menjadi lebih mulia dari malaikat.

Dari sana kita bisa melihat kaitan erat antara akhlaq dengan akal. Akal berfungsi sebagai timbangan baik buruknya sebuah perbuatan dan tentu saja sebagai fitrahnya manusia akan lebih cenderung pada hal yang baik-baik, namun kemudian pembinaan kita terhadapa apa yang kita cenderungi akan lebih mempengaruhi bagaimana akhlaq kita, oleh sebab itu pembinaan dan pengarahan yang baik menjadi penting untuk baik buruknya akhlaq kita. Selain dibekali oleh akal, manusia juga dibekali dengan sesuatu yang bernama kebebasan (free will) atau kehendak bebas, oleh sebab itu manusia bisa memilih sesuka kehendaknya apa yang akan dia lakukan dengan alasan yang logis. Orang yang memilih melakukan perbuatan baik, artinya ia memiliki alasan logis atas pilihannya sebab dia sudah memperkirakan efek buruk dari perbuatan tidak baik jika ia melakukannya.

Dari beberapa definisi diatas kita bisa mengambil kesimpulan bahwa akhlaq merupakan perbuatan yang dilakukan secara spontan sebagai akibat dari perbuatan tersebut dilakukan secara berulang serta dilakukan dengan kesadaran serta tanpa paksaan dari luar diri.

B.    Tujuan Akhlaq

Sebagai makhluk sosial manusia yang dalam kehidupan kesehariannya selalu berinteraksi dengan sesamanya sudah barang tentu membutuhkan sebuah tatacara atau cara berkomunikasi dengan baik supaya hubungan yang terjalin menjadi hubungan yang harmonis, tidak merugikan orang lain dan diri sendiri dan inilah tujuan dari keberadaan akhlaq.

Seperti sempat disinggung diatas, bahwa manusia merupakan makhluk terbaik ciptaan Allah SWT—terdapat dalam surah At-Tin, tentunya ia memiliki ciri khas tertentu yang kemudian akan membedakannya dengan makhluk lain yang Allah ciptakan. Manusia sangat khas dengan akal yang dimilikinya—sampai rosulullah pernah bersabda”sesungguhya seluruh kebaikan itu dapat dikenali dengan akal”, karena kemudian akal ini akan digunakan oleh manusia sebagai alat timbangan/ penimbang untuk melakukan sebuah perbuatan. Tujuan inti dari akhlak adalah untuk membentuk kehidupan yang harmonis antar sesama manusia.

C.    Prinsip Dasar Akhlak Dalam Islam

Dalam ajaran Islam yang menjadi dasar-dasar akhlak adalah berupa al-Quran dan Sunnah Nabi Muhammad Saw. Baik dan buruk dalam akhlak Islam ukurannya adalah baik dan buruk menurut kedua sumber itu, bukan baik dan buruk menurut ukuran manusia. Sebab jika ukurannya adalah manusia, maka baik dan buruk itu bisa berbeda-beda.[6] Seseorang mengatakan bahwa sesuatu itu baik, tetapi orang lain belum tentu menganggapnya baik. Begitu juga sebaliknya, seseorang menyebut sesuatu itu buruk, padahal yang lain bisa saja menyebutnya baik.

Semua ummat Islam sepakat pada kedua dasar pokok itu (al-Quran dan Sunnah) sebagai dalil naqli yang tinggal mentransfernya dari Allah Swt, dan Rasulullah Saw. Keduanya hingga sekarang masih terjaga keautentikannya, kecuali Sunnah Nabi yang memang dalam perkembangannya banyak ditemukan hadis-hadis yang tidak benar (dha’if/palsu).

Melalui kedua sumber inilah kita dapat memahami bahwa sifat sabar, tawakkal, syukur, pemaaf, dan pemurah termasuk sifat-sifat yang baik dan mulia. Sebaliknya, kita juga memahami bahwa sifat-sifat syirik, kufur, nifaq, ujub, takabur, dan hasad merupakan sifat-sifat tercela. Jika kedua sumber itu tidak menegaskan mengenai nilai dari sifat-sifat tersebut, akal manusia mungkin akan memberikan nilai yang berbeda-beda. Namun demikian, Islam tidak menafikan adanya standar lain selain al-Quran dan Sunnah untuk menentukan baik dan buruknya akhlak manusia.

Selain itu standar lain yang dapat dijadikan untuk menentukan baik dan buruk adalah akal dan nurani manusia serta pandangan umum masyarakat.Islam adalah agama yang sangat mementingkan Akhlak dari pada masalah-masalah lain. Karena misi Nabi Muhammad diutus untuk menyempurnakan Akhlak. Manusia dengan hati nuraninya dapat juga menentukan ukuran baik dan buruk, sebab Allah memberikan potensi dasar kepada manusia berupa tauhid. Allah Swt. berfirman:

Artinya: “Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi”. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)”.” (QS. al-A’raf: 72).

Prinsip Akhlak dalam Islam terletak pada Moral Force. Moral Force Akhlak Islam adalah terletak pada iman sebagai Internal Power yang dimiliki oleh setiap orang mukmin yang berfungsi sebagai motor penggerak dan motivasi terbentuknya kehendak untuk merefleksikan dalam tata rasa, tata karsa, dan tata karya yang kongkret. Dalam hubungan ini Rosulullah Saw, bersabda:

“Orang mukmin yang paling sempurna imannya ialah yang terbaik akhlaknya. Dan sebaik-baik diantara kamu ialah yang paling baik kepada istrinya”

Selain itu yang menjadi dasar pijakan Akhlak adalah Iman, Islam, dan Islam. Al-Qur’an menggambarkan bahwa setiap orang yang beriman itu niscaya memiliki akhlak yang mulia yang diandaikan seperti pohon iman yang indah hal ini dapat dilihat pada surat Ibrahim ayat 24, yang berbunyi:

Artinya:Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit, pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Tuhannya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat. Dan perumpamaan kalimat yang buruk seperti pohon yang buruk, yang telah dicabut dengan akar-akarnya dari permukaan bumi; tidak dapat tetap (tegak) sedikit pun. Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat; dan Allah menyesatkan orang-orang yang lalim dan memperbuat apa yang Dia kehendaki”.

Dari ayat diatas dapat kita ambil contoh bahwa ciri khas orang yang beriman adalah indah perangainya dan santun tutur katanya, tegar dan teguh pendirian (tidak terombang ambing), mengayomi atau melindungi sesama, mengerjakan buah amal yang dapat dinikmati oleh lingkungan. Namun disisi lain, sebenarnya masih banyak teori-teori yang berbicara mengenai dasar-dasar akhlak dengan menafikan pemikiran Islam, seperti relativisme akhlak. Yang mana berkat pembuktian realisme, maka kemutlakan akhlak adalah pendapat yang sahih dan relativisme akhlak tidak dapat diterima.[7]

Ada sebuah ungkapan yang mengatakan bahwa, kita akan memanen apa yang kita tanam. Dari ungkapan tersebut dapat kita tarik benang merah, bahwasannya apa yang kita lakukan tidak ada hubungannya dengan sesuatu diluar diri kta, karena hubungan perbuatan kita berhubungan langsung dengan Tuhan. Tanpa ada pihak ke-3. Oleh karena itulah dasar Ahklak memerlukan Disipln Moral.

Kant, filosof Jerman berpendapat bahwa Rasio Spekulatif, yaitu agen didalam mekanisme tidak bernilai tinggi; namun rasio praktis, yaitu agen dari pelaksanaan hal-hal praktis, yang juga dimaknai sebagai “kesadaran akhlak” memiliki kegunaan yang pasti dan printah-printahnya bersifat mengikat.[8] Dan hal ini sering di maknai sebagai “kesadaran akhlak”.

D.    Ruang Lingkup Akhlak Islam

  1. Akhlak terhadap diri sendiri meliputi kewajiban terhadap dirinya disertai dengan larangan merusak, membinasakan dan menganiyaya diri baik secara jasmani (memotong dan merusak badan), maupun secara rohani (membirkan larut dalam kesedihan).
  2. Akhlak dalam keluarga meliputi segala sikap dan perilaku dalam keluarga, contohnya berbakti pada orang tua, menghormati orang tua dan tidak berkata-kata yang menyakitkan mereka.
  3. Akhlak dalam masyarakat meliputi sikap kita dalam menjalani kehidupan soaial, menolong sesama, menciptakan masyarakat yang adil yang berlandaskan Al-Qur’an dan hadist
  4. Akhlak dalam bernegara meliputi kepatuhan terhadap Ulil Amri selama tidak bermaksiat kepada agama, ikut serta dalam membangun Negara dalam bentuk lisan maupun fikiran.
  5. Akhlak terhadap agama meliputi berimn kepada Allah, tidak menyekutukan-Nya, beribadah kepada Allah. Taat kepada Rosul serta meniru segala tingkah lakunya.

E.    Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pembentukan Akhlak

Melihat dari realitas yang ada, kita dapat menarik sebuah benang merah yang mungkin sangat penting yaitu merupakan sebuah keharusan bagi setiap civitas manusia, yaitu yang berkenaan dengan faktor-faktor yang mempengaruhi pembentukan Akhlak manusia yang selalu terekspresikan, antara lain adalah:

1.     Insting (Naluri)

Setiap corak, tindakan dan perbuatan manusia dimotivasi oleh kehendak yang dimotori oleh Insting seseorang (dalam bahasa Arab gharizah). Insting merupakan tabiat yang dibawa manusia sejak lahir. Para Psikolog menjelaskan bahwa insting berfungsi sebagai motivator penggerak yang mendorong lahirnya tingkah laku antara lain adalah:

  1. Naluri Makan (nutrive instinct). Manusia lahir telah membawa suatu hasrat makan tanpa didorang oleh orang lain.
  2. Naluri Berjodoh (seksul instinct). Dalam alquran diterangkan:

Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak”.

  1. Naluri Keibuan (peternal instinct) tabiat kecintaan orang tua kepada anaknya dan sebaliknya kecintaan anak kepada orang tuanya.
  2. Naluri Berjuang (combative instinct). Tabiat manusia untuk mempertahnkan diri dari gangguan dan tantangan.
  3. Naluri Bertuhan. Tabiat manusia mencari dan merindukan penciptanya.

Naluri manusia itu merupakan paket yang secara fitrah sudah ada dan tanpa perlu dipelajrari terlebih dahulu.

2.     Adat atau Kebiasaan

Adat atau Kebiasaan adalah setiap tindakan dan perbuatan seseorang yang dilakukan secara berulang-ulang dalam bentuk yang sama sehingga menjadi kebiasaan. Abu Bakar Zikir berpendapat: perbutan manusia, apabila dikerjakan secara berulang-ulang sehingga mudah melakukannya, itu dinamakan adat kebiasaan.

3.     Wirotsah (keturunan)

Berpindahnya sifat-sifat tertentu dari pokok (orang tua) kepada cabang (anak keturunan). Sifat-sifat asasi anak merupakan pantulan sifat-sifat asasi orang tuanya. Kadang-kadang anak itu mewarisi sebagian besar dari salah satu sifat orang tuanya.

4.     MILIEU

Dalam artian sesuatu yang melingkupi tubuh yang hidup meliputi tanah dan udara sedangkan lingkungan manusia, ialah apa yang mengelilinginya, seperti negeri, lautan, udara, dan masyarakat. Milieu ada 2 macam:

a.     Lingkungan Alam

Alam yang melingkupi manusia merupakan faktor yang mempengaruhi dan menentukan tingkah laku seseorang. Lingkungan alam mematahkan atau mematangkan pertumbuhn bakat yang dibawa oleh seseorang. Pada zaman Nabi Muhammad pernah terjadi seorang badui yang kencing di serambi masjid, seorang sahabat membentaknya tapi nabi melarangnya. Kejadian diatas dapat menjadi contoh bahwa badui yang menempati lingkungan yang jauh dari masyarakat luas tidak akan tau norma-norma yang berlaku.

b.    Lingkungan pergaulan

Manusia hidup selalu berhubungan dengan manusia lainnya. Itulah sebabnya manusia harus bergaul. Oleh karena itu, dalam pergaulan akan saling mempengaruhi dalam fikiran, sifat, dan tingkah laku. Contohnya Akhlak orang tua dirumah dapat pula mempengaruhi akhlak anaknya, begitu juga akhlak anak sekolah dapat terbina dan terbentuk menurut pendidikan yang diberikan oleh guru-guru disekolah.

 Kesimpulan

Akhlak adalah segala sesuatu yang menyiratkan bahwa perlakuan apapun dalam hidup kita, yang dilakukan secara berulang, serta dilakukan secara spontan dengan tanpa memikirkannya, terlepas itu baik atau buruk. Dan akhlak hanya bisa dinisbatkan kepada manusia, karena manusia memiliki dua aspek sekaligus yang hanya salah satu dari keduanya dimiliki oleh malaikat dan hewan, maka salah satu dari keduanya akan mengukung manusia.

Akhlak memiliki posisi yang sangat penting, karena sebagai mahluk social pasti membutuhkan banyak komunikasi, dan komunikasi yang baik hanya akan terjalin dengan menggunakan akhlak yang baik.

Ajaran Islam menjadikan Al-Qur’an dan As-Sunnah sebagai dasar akhlak, dan menjadikan kedua sumber tersebut sebagai ukuran baik dan buruknya sebuah akhlak. Serta Islam tidak menapikan akal dan nurani sebagai alat untuk menentukan nilai baik dan buruk.

Selain itu akhlak dalam islam terletak pada Moral Force yang merupakan Internal Power yang dimiliki oleh setiap orang mukmin yang berfungsi sebagai motor penggerak dan motivasi terbentuknya kehendak untuk merefleksikan dalam tata rasa, tata karsa, dan tata karya yang kongkret.

Ruang lingkup akhlak islam itu sendiri meliputi beberapaasfek yang sangat berkaitan dalam kehidupan, seperti akhlak terhadap diri sendiri, akhlak dalam berkeluarga, akhlak dalam masyarakat, akhlak dalam bernegara, dan akhlak terhadap agama.

Semua aktivitas yang kita lakukan tidak akan pernah lepas dari semua poin-poin diatas, karena kita sebagai manusia tidak akan pernah lepas dari ruang lingkup tersebut.

Jika kita lihat dari realitas yang ada, kita bisa menarik benang merah dari setiap civitas manusia, yang berkenaan dengan fakto yang mempengaruhi pembentukan akhlak manusia yang selalu terekspresikan, seperti insting (naluri) yang meliputi: naluri berjodoh, naluri keibuan, naluri makan, naluri berjuang, naluri bertuhan.

Selain itju yang menjadi factor yang mempengaruhi pembentukan akhlak manusia adalah adat atu kebiasaan yang dilakukan berulang-ulang, wirosat (keturunan), dan milieu dalam artian sesuatu yang melingkupi tubuh yang hidup meliputi tanah dan udara.

Secara global milie terbia kepada dua macam, yaitu: pertama, lingkungan alam yang merupakan factor yang mempengaruhi dan menuntukan tingkah laku seseorang. Kedua, yaitu lingkungan pergaulan dalam artian hubungan dengan manusia yang lainnya yangdapat mempengaruhi akhlak seseorang terutama dalam fikiran, sifat dan tingkah laku.

 DAFTAR PUSTAKA

  1. DR. Marjuki, 2009, Akhlak Mulia (Pengantar Studi Konsep-Konsep Dasar Etika Dalam Islam), Debut Wahana Press: Yogyakarta.
  2. Misbah, Mujtaba, 2008, Daur Ulang Jiwa, Al-Huda: Jakarta.
  3. Lahiji, Syehk ZA Qurbani, 2011, Risakah Sang Imam (Ajaran Etika Ali Bin Abi Thalib), Al-Huda: Jakarta.
  4. Al Ghazali, 1995, Ringkasan Ihya’ulumuddin, Amani: Jakarta.
  5. Yazdi Misbah, 2006, meniru Tuhan, Al Huda, Jakarta.
  6. Pur Majid Rasyid, 2003, membenahi Akhlak mewariskan kasih sayang,cahaya, Bogor.
  7. Muthahhari Murtadha, 2004, filsafat Moral Islam, Al Huda, Jakarta.
  8. Zahrudin dan Sinaga Hassanudin, 2004, pengantar studi filsafat, 2004, raja grafindo persada, Jakarta.

[1] HA. Mustofa, Akhlak Tasawuf, Pusaka Setia, Bandung, Hal.11

[2] M.T. Misbah Yazdi, Meniru Tuhan, Al Huda, Jakarta, Hal. 1

[3] Zahruddin dan Hasanuddin Sinaga, Pengantar Studi Akhlak, Rajawali Pers, Jakarta, Hal. 39

[4] Ibid, Hal. 3

[5]Ibid, hal 14

[6] DR. Marjuki, Akhlak Mulia (Pengantar Studi Konsep-Konsep Dasar Etika Dalam Islam), hlm. 34

[7] Mujtaba Misbah, Daur Ulang Jiwa, hlm. 102

[8] Syekh Z A Qurbani Lahiji, Risalah Sang Imam (Ajaran Etika Ali Bin Abi Thalib), hlm. 38

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s