Merasa Penting

“apa yang ingin saya peroleh dari orang lain?” yaa, itu adalah sebuah pertanyaan yang muncul dari diri kita untuk diri kita sendiri, sebelum kita melakukan sesuatu untuk orang lain. Kalau kita sudah menjadi begitu rendah dengan mementingkan diri sendiri sehingga kita tidak bisa memberikan sedikit kebahagiaan dan memberikan sedikit penghargaan jujur, tanpa berusaha mendapatkan sesuatu dari orang lain sebagai balasannya, kalau jiwa-jiwa kita ternyata tidak lebih besar daripada apel rusak yang asam, kita akan menemui kegagalan yang memang sudah sepatutnya kita peroleh.

Ya, saya memang menginginkan sesuatu dari orang lain. Saya ingin sesuatu yang sangat berharga, dan saya memperolehnya. Saya memperoleh perasaan bahwa saya telah melakukan sesuatu untuknya tanpa dia mampu melakukan sesuatu pun untuk dikembalikan kepada saya. Itu terdengar seperti perasaan yang mengalir dan bersenandung dalam memori kita, namun itu adalah sebuah jawaban dari “apa yang ingin saya peroleh dari orang lain?” jauh setelah kejadian itu berlalu.

Jika kita hidup tanpa mendapatkan posisi yang tepat, maka kita akan terus berusaha untuk mendapatkan posisi yang kita harapkaan, yaitu sebagai orang yang dianggap penting bagi orang lain. Jika kita tidak merasakan perasaan seperti itu, mungkin kita perlu mempertanyakaan kembali apakah kita ini adalah manusia sebagai mana manusia, ataukah tidak.

Ada satu hokum penting mengenai tindak-tanduk manusia. Kalau kita mematuhi hokum itu, kita hamper tidak akan pernah mendapat kesulitan. Sebenarnya hokum itu kalau dipatuhi akan memberi kita kawan yang tak terhitung jumlahnya, dan kebahagiaan yang konstan. Namun begitu kita melanggar hokum itu, kita akan masuk dalam kesulitan abadi. Hokum itu adalah selalu membuat orang lain merasa dirinya penting. Seperti yang dikatakan teman saya Zaenal Mustofa, “prinsip terdalam pada sifat dasar manusia adalah keinginan untuk dihargai.” Seperti yang sudah saya jelaskan, desakan ini yang telah membedakan kita dari binatang. Desakan inilah yang mengambil tanggung jawab dari peradaban itu sendiri.

Bahkan ada sebuah pepatah yang mengatakan, “lakukanlah kepada orang lain, seperti kau ingin orang lain lakukan kepadamu.” Kita ingin memperoleh persetujuan dari mereka yang berhubungan dengan kita. Kita menginginkan pengakuan atas nilai kita yang sesungguhnya. Kita ingin mendapatkan perasaan bahwa kita pentng dalam dunia kita yang kecil. Kita tidak ingin mendengar sanjungan murah yang tidak tulus, tetapi kita haus akan penghargaan yang tulus. kita ingin kawan-kawan dan rekan kita menjadi tulus dalam penerimaan dan murah hati dalam memberi penghargaan, kita semua menginginkan hal itu.

Maka dari itu, mari kita patuhi aturan emas di atas, dan berikan kepada orang lain apa yang kita harapkan diberikan kepada kita. Dan cobalah untuk melayani orang lain, sebagaimana kita senang dilayani orang lain. Bagaimana? Kapan? Di mana? Jawabannya adalah setiap waktu, di mana saja. Karena setiap orang haus akan sebuah penghormatan dan mereka menempatkan diri mereka pada kelas yang sangat tinggi, yaitu sebagai orang yang terpenting yang hidup di alam semesta ini.

By. TaRa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s