Mengenal Sosok “Jabir Bin Hayyan”

  1. Biografi Jabir bin Hayyan

Jabir Ibnu Hayyan yang merupakan seorang ilmuwan dan filsuf terkemuka memiliki nama lengkap  Abu Musa Jabir Ibnu Hayyan Al Azdi yang di Barat dikenal dengan nama Geber. Beliau lahir di Thus, Khurasan, Iran pada tahun 721 M atau sekitar abad ke-7.  Jabir adalah seorang yang berketurunan Arab, namun ada juga yang mengatakan bahwa ia adalah orang Persia. Ayahnya bernama Hayyan al-Azdi berasal dari suku Arab Azd adalah seorang yang ahli di bidang farmasi dari kabilah Yaman yang besar yaitu kabilah Azad yang sebagian besar dari mereka berhijrah ke Kufah setelah rubuhnya Bendungan Ma’rib[1]. Disamping seorang yang ahli di bidang farmasi, ayahnya juga merupakan seorang yang mendukung Dinsati Abbasiyah dan ikut serta membantu meruntuhkan Dinasti Umayyah. Pada masa kekuasaan Bani Umayyah, ia hijrah dari Yaman ke Kufah yang di mana merupakan salah satu kota pusat pergerakan syi’ah di Iraq. Ketika ayahnya sedang melakukan pemberontakan, ia tertangkap oleh pasukan Dinasti Umayyah di Khurasan, kemudian ia dieksekusi dan dihukum mati. Setelah ayahnya meniggal, Jabir dan keluarganya kembali ke Yaman dan ia mulai mempelajari al-Qur’an dan berbagai ilmu lainnya dari seorang ilmuwan yang bernama Harbi al-Himyari.[2]

Jabir kembali ke Kufah setelah Abbasiyah berhasil menumbangkan Umayyah dan mulai merintis karirnya di bidang kimia. Ketertarikannya dalam bidang ini yang membuatnya terus mendalaminya sehingga menjadi seorang ahli dalam kimia bisa jadi dikarenakan oleh profesi ayahnya sebagai seorang peracik obat. Sejak saat itu Jabir menuntut ilmu dari seorang imam mahsyur, dan sekaligus dia merupakan seorang pengikut dari imam ke-enam syiah tersebut, yaitu Imam Ja’far as-Shadiq. Bahkan Jabir juga sempat belajar dari Pangeran Khalin Ibnu Yazid.[3] Jabir kemudian mempelajari ilmu kedokteran pada masa Kekhalifahan Abbasiyah di bawah pimpinan Harun Ar-Rasyid dari seorang guru yang bernama Barmaki Vizier. Jabir pun terus bekerja dan bereksperimen dalam bidang kimia dengan tekun di sebuah laboratorium dekat Bawaddah di Damaskus dengan ciri khas eksperimen-eksperimennya yang dilakukan secara kuantitatif, bahkan instrument-instrument yang digunakan untuk eksperimentnya ia buat sendiri dari bahan logam, tumbuhan dan hewani.

Di laboratoriumnya itulah Jabir berhasil menemukan berbagai penemuan besar yang sangat bermanfaat sampai saat ini, bahkan di laboratorium itu pula telah ditemukan berbagai peralatan kimia miliknya, dan setelah sempat berkarir di Damaskus Jabir dikatakan kembali ke Kufah setelah terjadi tragedi Baramikah dikarenakan sikap dari para Menteri Abbasiyah yang menduduki jabatan sejak tahun 705 M telah berubah kepadanya dikarenakan kesombongan mereka dan banyaknya sumber sejarah yang diselewengkan. Sekembalinya ke Kufah tak banyak lagi yang mengetahui tentang keberadaannya, namun dua abad setelah kematiannya barulah ditemukan laboratoriumnya seperti yang telah disebutkan tadi di atas. Di dalamnya didapati peralatan kimianya yang hingga kini masih mempesona, dan sebatang emas yang cukup berat.

Tak hanya penemuan-penemuannya yang luar biasa yang telah ia ciptakan, namun pemikirannya juga sangat berpengaruh bagi para ilmuwan muslim lainnya seperti Al-Razi (9 M), Tughrai (12 M) dan Al-Iraqi (13 M). Bahkan tidak hanya itu, buku-buku yang ditulisnya pun sangat berpengaruh bagi perkembangan kemajuan ilmu kimia di Eropa. Dan Jabir pun tutup usia pada tahun 815 M di kota Kufah.

 

  1. Karya-karya Tulis Jabir Ibnu Hayyan

Sebenarnya mungkin terjadi adanya semacam “perkumpulan” atau persaudaraan” yang menggunakan nama Jabir untuk karya tulis mereka sebagai suatu lambang bagi fungsi suatu intelek dan suatu pandangan yang mengakibatkan banyaknya orang yang agak ragu  dalam keotentikan karya-karya tersebut. Karya yang jumlahnya sangat besar dan dalam pustaka Jabiriyah ini sebagian besar membahas hampir tentang semua hal mulai dari kosmologi, astrologi, alkhemi bahkan sampai musik, huruf dan angka.

Namun demikian, tokoh yang dikenal sebagai “The father of modern chemistry” ini tidak hanya ahli di bidang kimia namun juga telah banyak menyumbangkan ilmunya di berbagai bidang ilmu di bidang farmasi, fisika, filosofi dan astronomi. Jabir Ibnu Hayyan terbukti telah mampu mengubah persepsi tentang berbagai kejadian alam yang pada saat itu dianggap sebagai sesuatu yang tidak dapat diprediksi, menjadi suatu ilmu sains yang dapat dimengerti dan dipelajari oleh manusia.[4]

Jabir tak pernah puas dan terus mengembangkan penelitiannya di bidang kimia sampai pada batas yang tak tertentu yang membuat Jabir memiliki karya dalam bidang kimia mencapai 500 studi kimia, namun hanya sebagian sajalah yang berhasil sampai pada zaman Renaisance. Dan diantara bukunya yang terkenal diantaranya adalah:

1)      Al Hikmah Al Falsafiyah yang diterjemahkan ke dalam bahasa Latin dan berjudul Summa Perfecdonis. Dan berikutnya di tahun 1678, ilmuwan Inggris lainnya, Richard Russel, mengalihbahasakan karya Jabir ini dengan judul Summa of Perfection.

2)      Kitab al Rahmah,

3)      Kitab al Tajmi,

4)      Al Zilaq al Sharqi,

5)      Book of The Kingdom, (diterjemahkan oleh Berthelot).[5]

6)      Book of Eastern Mercury, (diterjemahkan oleh Berthelot).[6]

7)      Book of Balance (diterjemahkan oleh Berthelot).[7]

8)       Al Khowash,

9)       Shifah al Kaun (kosmologi),

10)   Al Hikmah al-Mashunah,

11)   Ath-Thobi’ah,

12)   Shunduq al-hikmah (Rongga Dada Kearifan), merupakan sebuah manuskrip.

13)   Al-Lahut,

14)   Ath-thobi’ah al Fa’ilah al-ula al-Mutaharrikah,

15)   Kitab as-Sumum,

16)   Asror al-Hikmah,

17)   As-Sir al-Maknun,

18)   At-Takhlish,

19)   Al-Ihraq,

20)   Al-Ibdah,

21)   Shubh an-Nufus,

22)   As-Sir al-Maktum,

23)   Al-Ijaz,

24)   Al-Juf al-Aswar,

25)   Nihayah al-Itqan,

26)   Istiqsha’at al-Mu’allim,

27)   Al-Kimia al-Jabiriyyah,

28)   Kitab as-Sab’in

29)   Az-Zuhra. Pada abad pertengahan, orang-orang Barat mulai menerjemahkan karya-karya Jabir Ibnu Hayyan ke dalam bahasa Latin, dan dari ke-tujuh puluh kitab yang diterjemahkan itu salah satunya adalah kitab yang paling terkenal yaitu kitab ini yang diterjemahkan menjadi Book of Venus dan,

30)   Kitab Al-Ahjar yang diterjemahkan menjadi Book of Stones.

31)  Al Kimya. Terjemahan Kitab Al Kimya bahkan telah diterbitkan oleh ilmuwan Inggris, Robert Chester pada 1444, dengan judul The Book of the Composition of Alchemy.

32)  Mukhtâr Rasâ`il.

volume 1 berisi berbagai pembahasan yang di antaranya berkaitan dengan filsafat, teologi, ilmu kalam, logika, aspek-aspek teknis kebahasaan, anatomi, mineral, tumbuhan dan hewan, serta pendidikan.  Dalam hal ini, berbagai topik tersebut diklasifikasikan pada dua aspek penting, sesuai dengan orientasi bahasan, yaitu aspek kimia dan kependidikan.  Pembahasan tentang kimia sendiri, dalam pengertian menyangkut konsep-kimia secara umum, dan proses pembelajaran kimia juga banyak terdapat.

Berdasarkan identifikasi kandungan isi terlihat bahwa buku Mukhtâr Rasâ`il volume 1 memiliki cakupan bahasan yang luas, meliputi berbagai disiplin ilmu.  Cakupan selengkapnya dari keseluruhan isi buku tersebut cukup sulit untuk diinventarisir secara lengkap karena beberapa hal.  Di antaranya, kerumitan bahasa dan terminologi yang digunakan.  Sebagian kosa kata yang terdapat pada buku tersebut cukup sulit untuk dicari padanan katanya dalam bahasa Indonesia kontemporer, maupun karena kesulitan untuk memastikan arti yang tepat dari berbagai istilah yang sekarang sulit ditemukan.

33)  Kitab al-Bahts, di sini Jabir bin Hayyan menguraikan panjang lebar tentang pola interaksi muta’allim dan ustadz dalam bentuk interaksi positif yang seimbang,

34)  Al kabir asy-Syamil

 

Sebagian dari bukunya merupakan klarifikasi mengenai para ilmuwan dan pakar kimia Yunani seperti  Pythagoras, Socrates, Plato dan Aristoteles. Bahkan beberapa istilah tehnik yang ditemukan dan digunakan oleh Jabir juga telah menjadi bagian dari kosakata ilmiah di dunia internasional, seperti istilah “Alkali”.

 

  1. III.  Zat-zat Temuan Jabir Bin Hayyan

Diketahui bahwa Jabir Bin Hayyan telah menemukan 19 macam substansi. Substansi dalam istilah modern  kita menyebutnya unsur.

Dalam catatan sejarah, Jabir Ibnu Hayyan adalah orang yang pertama kali menemukan asam belerang, natrium karbonat, pottasium karbonat, dan sepuh. Zat-zat kimia ini sekarang sangat urgen, bahkan hampir menjadi salah satu dasar perkembangan peradaban pada abad 19 dan 20 di bidang kimia, farmasi, pertanian, dan lain lain.[8]

Banyak zat-zat kimia lain yang telah dia temukan yaitu asam asetat dari cuka nitrat, asam sitrat, asam asetat dan juga asam klorida. Kemudian dia mencoba menggabungkan asam klorida dan asam nitrat. Dari itu dia pun menemukan asam super yang sangat keras, disebut juga air raja (aqua regia). Dan ternyata air raja dapat melarutkan emas.  Penemuan ini sangat berarti bagi para ahli kimia untuk mengekstrasi dan memurnikan emas, bahkan di tahun berikutnya ditemukan bahwa temuan-temuan dari reaksi asam dapat digunakan pada logam lainnya.

Jabir Bin Hayyan memang dikenal telah banyak menghasilkan penemuan-penemuan dari asam mineral/ asam anorganik seperti asam sulferik, air raja yang tadi dijelaskan, penyulingan tawas, amonia klorida, pottasium nitrat. Dalam manuskripnya yang berjudul Sandaqal Hikmah (Rogga Dada Kebijaksanaan) terdapat beberapa paparan Jabir tentang asam.

Zat-zat yang diuji coba olehnya sering kali diambil dari benda-benda yang sering kita temui dalam kehidupan sehari-hari, seperti isolasi asam sitrat dan asam tartar yang telah ia coba lakukan. Asam sitrat tersebut diambil dari lemon , sedangkan asam tartarat dari sisa pengendapan (residu) setelah membuat anggur.

Ada lagi temuan lain dari tokoh yang berhasil memasukkan terma ‘alkali’ dalam kosakata sains ini , yaitu sebuah zat aditif yang dapat mencegah karat pada besi dan membuat bahan tekstil kedap air. Dan masih banyak penemuan Jabir Bin Hayyan. Pengetahuannya ini juga ia diaplikasisan untuk pembuatan besi dan logam lainnya serta untuk  penggunaan mangan dioksida pada pembuatan gelas kaca,

 

  1. Instrumen dan Teori Kimia

Jabir sudah lebih dulu menggunakan kaca sebagai bahan baku peralatan penelitian kimia. Adapun instrumen kimia yang telah didisain oleh  Jabir diantaranya retort, pippet dan test tube. Dan ketiga masih digunakan serta dikembangkan hingga saat ini.

 

 

 

Jabir ibnu Hayyan telah dianggap sebagai orang pertama yang menemukan hukum perbandingan tetap. Dan juga merupakan orang yang pertama menuliskan teori tentang pemanasan wine akan menimbulkan gas yang mudah terbakar. Hal ini yang kemudian menjadi sebuah jalan bagi Al-Razi dalam menemukan etanol.

Jabir Ibnu Hayyan membuat instrumen pemotong, peleburan dan pengkristalan. Ia menyempurnakan proses dasar sublimasi, penguapan, pencairan, kristalisasi, pembuatan kapur, penyulingan, pencelupan, pemurnian, sematan (fixation), amalgamasi, dan oksidasi-reduksi.[9] Semua teknik telah ia siapkan sebelumnya, ia juga telah membedakan antara penyulingan langsung menggunakan bejana basah dan penyuligan tak langsung menggunakan bejana kering, dan Jabir lah yang pertama kali mengklaim bahwa air hanya dapat dimurnikan melaui proses penyulingan. Penemuan lainnya dalam bidang kimia yang dikenal hanya satu-satunya di dunia yaitu dalam pereparasi asam tartar, asam sitrat, asam sendawa dan hidroklorik. Bahkan dalam tulisan Max Mayerhaff, bahkan disebutkan, jika ingin mencari akar pengembangan ilmu kimia di daratan Eropa, maka carilah langsung ke karya-karya Jabir Ibnu Hayyan.[10]

 

 

Ibnu Hayyan membagi substansi menjadi 3 kategori, yaitu spirit, metal, dan non-malleable (bahan campuran):

  1. Air (spirits), yakni yang mempengaruhi penguapan pada proses pemanasan, seperti pada bahan camphor (kamper), arsenik, amonium klorida, dan sulfur.
  2. Metal (benda logam), yang dapt ditempa, berkilat, menghasilkan suara. Seperti pada emas, perak, timah, tembaga, besi.
  3. Benda, bahan mineral yang tidak dapat ditempa dan dapat dikonversi menjadi semacam bubuk. Contohnya batu dan arang.[11]

Adapun saat ini zat terbagi menjadi metal dan non-metal.

Mengenai  kombinasi kimiawi, Jabir mendefinisikannya sebagai penyatuan elemen-elemen dalam partikel yang kecil sekali dan tak kasat mata tanpa ada yang kehilangan karakter-karakternya. Bila diamati teori ini tidak berbeda jauh dengan teori yang dikemukakan oleh John Dalton (1844), ahli kimia dari Inggris, mengenai atom. Gagasan Dalton sebagai berikut:

Selama reaksi kimia atom-atom dapat bergabung, atau kombinasi atom-atom dapat pecah menjadi atom-atom yang terpisah, tetapi atom-atom itu sendiri tak berubah[12]

Reaksi kimia hanya melibatkan penataulangan atom-atom sehingga tidak ada atom yang berubah akibat reaksi kimia[13]

Lalu mari kita lihat pernyataan sepuluh abad sebelumnya dari Jabir Bin Hayyan mengenai hal tersebut dalam kitabnya yang telah diterjemah kan ke dalam bahasa latin dengan judul Summa Perfecdonis (al Hikmah Al Falsafiyyah):

Air raksa (merkuri) dan belerang (sulfur) bersatu membentuk satu produk tunggal, tetapi adalah salah menganggap bahwa produk ini sama sekali baru dan merkuri serta sulfur berubah keseluruhannya secara lengkap. Yang benar adalah bahwa, keduanya mempertahankan karakteristik alaminya, dan segala yang terjadi adalah sebagian dari kedua bahan itu berinteraksi dan bercampur, sedemikian rupa sehingga tidak mungkin membedakannya secara seksama. Jika dihendaki memisahkan bagian bagian terkecil dari dua kategori itu oleh instrumen khusus, maka akan tampak bahwa tiap elemen (unsur) mempertahankan karakteristik teoretisnya. Hasilnya adalah suatu kombinasi kimiawi antara unsur yang terdapat dalam keadaan keterkaitan permanen tanpa perubahan karakteristik dari masing-masing unsur.[14]

IV.A. Metode Ilmiah Eksperimen

Kita beralih pada metode penelitiannya. Sebagai pakar sains, dia memperkenalkan metode riset dan eksperimental untuk penelitian kimia secara kuntitatif dan bahannya diambil dari logam, tumbuhan dan hewan. Hal ini terkait erat dengan persoalan epistemologi. Yang kita ketahui saat ini metode eksperimentasi dipelopori oleh David Hume. Namun ternyata Jabir sudah jauh lebih dulu menggunakan metode ini untuk kajian saintisnya. Jabir bin Hayyan menulis dalam  Kitab Al- Sab’in halaman 464:

….فمن عرف ميزانها عرف كل ما فيها و كيف تركبت, و الدربة تخرج ذلك.  فمن كان دربا كان عالما حقا و من لم يكن دربا لم يكن عالما.  و حسبك بالدربة فى جميع الصنائع, إن الصنائع الدرب يحذق و غير الدرب يعطل

Barang siapa yang mengerti proporsi zat (mizan) nya, maka dia akan mengetahui setiap bagian zat itu sendiri dan bagaimana pembentukannya. Dengan eksperimen, akan menghasilkan kepastian akan hal itu.  Barang siapa yang melakukan eskperimen, dia akan menjadi ilmuwan sejati. Adapun orang yang tidak melakukan eksperimen, dia tidak akan menjadi ilmuwan.  Proses kimia harus dilakukan dengan eksperimen, karena dengan eksperimen orang akan menjadi mahir, dan tanpa eksperimen ilmu seseorang tak berarti apa-apa.

 

Dalam Kitab al-Qadīm  halaman 546-547:

فاعلم يا أخي و اشكره إذ فضلك على كثير ممن خلقك و أدم الدرس تظفر بالبغية.  ولا تجربن منها حتي تستقصي درسها و تجمع فصولها و يتخيل لك ما ذكرناه, فيها أمر ذو نظام و تدبير و ترتيب إما بطريق الميزان او بطريق التد بير.  فإذا تخيل لك ذلك فأوقع حينئذ التجربة عليه, فإنه – و حق سيدي – يتم و يضح من أول وهلة و بأول تدبير كما قال الحكماء: إنه لعب الصبيان و عمل النساء.

 

Kutipan diatas menyatakan bahwa perlu adanya pengetahuan teoritis yang kemudian diikuti oleh percobaan dalam rangka membuktikan apakah beanr atau tidak teori tersebut. Sebagaimana juga dikatakan dalam Jabir bin Hayyan wa ‘Ilm al-Kimiyya’:

إن كل صنعة لا بد لها من سبوق العلم في طلبها للعمل

Setiap praktek rekayasa (kimia) harus didahului oleh penguasaan ilmu terlebih dahulu

Namun bagaimanapun juga eksperimen tidak menjamin kesalahan bisa luput, dia mengatakan dalam kitab al-Khawwash al-Kabir  halaman  322 :

و الله قد عملته بيدي و بعقلي من قبل و بحثت عنه حتى صح و امتحنته فما كذب ..

“Saya pertama kali mengetahuinya dengan melalui tangan dan otak saya dan saya menelitinya hingga sebenar mungkin dan saya mencari kesalahan yang mungkin masih terpendam”.[15]

IV.B. Klasifikasi Ilmu

Jabir juga memiliki pemikiran tentang pengelompokan ilmu pengetahuan. Pandangannya tentang klasifikasi ilmu pengetahuan cenderung dipengaruhi oleh prinsip dualitas, dan karenanya juga terkesan dikotomis.   Dalam argumentasi yang panjang lebar, Jabir menuliskan bagian khusus yang berbicara tentang klasifikasi ilmu pengetahuan, dan menjadikannya sebagai bagian awal dari Kitâb al-Hudud dan juga terdapat dalam kitab Mukhtâr Rasâ`il, hal. 100-108. Jabir bin Hayyan membagi ilmu pengetahuan menjadi dua bagian, yaitu ilmu Agama dan ilmu Dunia.  Ilmu Agama dibagi menjadi 2 kelompok ilmu, yaitu ilmu-ilmu Syar’iyyan dan ilmu-ilmu ‘aqliyan.  Adapun ilmu ‘aqliyan dibagi lagi menjadi ilmu hurûf dan ilmu ma’ani.  Selanjutnya ilmu huruf dibagi lagi menjadi ilmu Thabi’i dan ilmu Ruhani. Ilmu Thabi’i dibagi menjadi empat bagian, yaitu Panas, Dingin, Kering dan Lembab.   Ilmu yang bersifat Ruhani dibagi lagi menjadi dua bagian, yaitu ilmu Nûrâni dan Zhulmânîy. Sementara itu, ilmu Ma’ânî dibagi juga menjadi 2 bagian yaitu ilmu yang bersifat Falsafiyan dan ilmu Ilâhiyan.  Sedangkan ilmu Syar’iyyan terbagi menjadi ilmu-ilmu yang Zâahiran dan Bâthinan.   Sementara itu,  ilmu Dunia juga dibagi menjadi dua kelompok, yaitu ilmu Syarifan dan  Wadh’iyan (Buatan).[16]

IV.C. Alkhemi, Bukan Kimia

Sepanjang kita mengkaji Jabir ibnu Hayyan di sini, banyak penemuan-penemuan ‘kimia’ yang didapatkan olehnya. Sekali lagi, perlu ditekankan bahwa kimia yang dari tadi kita bahas, bukan alkhemi. Dan sebetulnya Jabir Ibnu Hayyan itu tokoh alkhemi, bukan hanya kimia.

Menilik sejarah ilmu sains ini, kimia itu adalah peranakan dari alkhemi. Jadi yang pertama dikaji adalah alkhemi. Mesir lah yang mengawalinya, alkhemi dipandang sebagai ilmu yang memiliki sudut pandang sakral. Alkhemi adalah pengetahuan tentang filsafat alam, dia memandang sesuatu dengan dua dimensi yaitu sebagai bagian dari kosmos dan juga adanya jiwa di dalamnya. Dalam bahasa inggris, jiwa disebut dengan soul dan dibedakan dengan spirit. Soul tidak setinggi spirit yang erat kaitannnya dengan Tuhan walaupun jarang sekali disebutkan maksudnya mengarah pada Tuhan.

Oleh karena itu, alkhemi dulu dianggap sebagai ilmu sihir juga. Setelah berkembang di Yunani, Cina, dan India, akhirnya Romawi juga turut menerima alkhemi. Namun Romawi mengubah kacamata untuk melihat alkhemi, ia menjadi awal perubahan pandangan nilai sakral dalam alkhemi. Dan nampaknya alkhemi yang diinginkan Romawi serupa dengan kimia yang sering kita pahami.

Seiring waktu berjalan, Islam pun membuka diri untuk mengkaji alkhemi. Salah satu tokohnya adalah Jabir Ibnu Hayyan. Jabir Ibnu Hayyan menggunakan kacamata awal untuk melihat alkhemi. Maka sebenarnya kimia yang dikaji olehnya tidak hanya ilmu zat-zat, alat-alat dan percobaan-percobaan larutan semata, dia seringkali memaparkan unsur esoteris dari temuan-temuannya. Kiranya itulah yang menjadi salah satu latar belakang Jabir disebut juga seorang ahli sains sekaligus ahli angka, dan sufi.

Alkhemi terdiri dari dua aspek; elixir dan batu filosof. Elixir (al iksir). Batu filsuf dan elixir secara global menunjukkan tentang jembatan antara kimia yang materi menuju jiwa. Logam, sebagai subjek utama alkhemi, merupakan symbol materi yang menuju kesempuranaan, yaitu elixir. Symbol logam tertinggi yang paling sempurna adalah emas. Dari ketidakberhargaan menuju keberhargaan, dari sulfur dan merkuri berubah menuju emas. Elixir disebut-sebut berasal dari bubuk kering yang dibuat sebuah batu mistik bernama batu filsuf. Dalam Sains dan Peradaban di dalam Islam, Hossein Nasr nampaknya menyebut batu filsuf dengan materia prima, suatu substansi jiwa yang harus ditemukan sebelum jiwa yang ditransformsikan oleh cahaya akal. Alkhemi  ingin  menjelaskan bagaimana transformasi materi cenderung untuk kembali kepada esensi nonmaterinya yang sempurna.

Jabir amat menaruh perhatiaanya pada prinsip keseimbangan, balance. Alkhemi itu mempelajari tentang ‘sesuatu’. Pada setiap sesuatu terdapat 2 dimensi yaitu; kosmos dan jiwa. Dan memang begitulah seharusnya Alkhemi, dia mencoba menerawang  sesuatu dari posisinya sebagai bagian dari kosmos kemudian menembus untuk menemukan rahasia di baliknya, aspek nonaterinya. Kedua dimensi ini dapat terjadi hanya melalui prinsip keseimbangan. Prinsip keseimbangan ini adalah keseimbangan sifat-sifat yang berarti harmoni antara berbagai tendensi Jiwa Dunia, yang menentukan dan mengatur sifat dasar[17]. Mengenai harmonisasi prinsip keseimbangan ini, Jabr memiliki pandangan yang ontologis sebagaimana Phytagoras.

Jabr diketahui menjadikan Phytagoras sebagai salah satu rujukannya. Setelah mencocokkan prinsip keseimbagannya dengan harmoni Phytagoras, dia mengaitkannya dengan rasio sempurna pada musik.

Seorang bijak tertentu meenyamakan [perbandingan] dengan rasio music [untuk membuktikan bahwa sumber dari mana benda [dunia fana] ini diturunkan adalah sempurna, [sekurang-kurangnya] sejauh hal ini bersesuaian dengan pancaran yang disinarkan oleh bintang-bintang dan perbandingan [numeric] nya … … .

Peniruan yang dibicarakan oleh orang bijak ini membawa kepada music, tetapi ia tidak menghasilkan rasio yang sempurna dan sublime … yang terdapat antara 11/2 dan 11/3, yang membawa rasio antara duan dan satu[sehubungan dengan deret 1 : (1+1/3) : (1+1/2) : 2]. Perbedaan ini disebabkan oleh kenyataan bahwa nilai derajat pertama itu diragukan. Jika dianggap bahwa derajat kedua yalah empat, yang ketiga yalah enam dan yang keempat adalah delapan maka rasio itu memang bisa demikian. Tapi rasio ini tidak bisa sempurna, karena ada empat suku [derajat]; suku rasio sempurna selamanya tiga, yaitu awal, tengah dan akhir, inilah Trinitia yang mengajarkan kita tentang alam itu sendiri dan yang merupakan tanda kesempurnaan…

Sebab itu saya katakan: jika dianggap ada empat derajat seperti disebut tadi dan bahwa [sebaiknya, rasio] yang punya medium dengan keseimbangan paling baik adalah rangkap tiga, maka derajat dari sifat-sifat itu [yang menyamai rasio music] haruslah [dibatasi hingga] tiga, yakni derajat satu, dua, dan tiga, sehingga relasi yang seimbang dan sempurna, yaitu [1+1/2] : [1+1/3] : 2 berdasarkan atasnya. Ini rasio seimbang irama [music], yang tidak cenderung melewati batas. Barang siapa yang hendak membuat rasio, antara tabiat dan derajat dari sifat-sifat serupa dengan rasio yan terdapat antara planet-planet dan rasio pada gerak pertama [seperti dikatakan ahli astrologi, theurgis, dan filosof] dapat dengan mudah melakukannya, inilah prinsip dasarnya].[18]

Selain itu, dia juga tak jarang menyebut-nyebut adanya perkawinan untuk menghasilkan perubahan. Perkawinan 2 logam, sulfir dan merkuri , dapat menghasilkan logam lain yang lebih sempurna yaitu emas. Bahkan dikatakan olehnya emas adalah logam paling sempurna. Dan keseimbagan lah yang menjadi kunci berhasilnya 2 gender melahirkan anak. Anak yang dilahirkan inilah hasil dari perubahan. Dan yang berubah adalah subsatansinya.

Elemen logam terbagi dalam kulaitas yang secara keselutuhan kualitas elemen itu ada empat; panas, dingin, kering, dan lembab. Setiap anak yang dilahirkan memiliki dua kualitas, zahir dan batin. Kualitas zahir terdiri dari 2 aspek dan batin terdiri dari 2 aspek juga. Sedangkan setiap aspek dibagi lagi menjadi tujuh tingkatan. Sehingga bila dijumlah semuanya ada dua puluh delapan aspek.

Sebagai ahli numeric, Jabir memaparkan nilai esoteric dari angka 28 yang sesuai juga dengan jumlah alphabet arab. Selain 28, Jabir juga mengsakralkan angka 17. Untuk 17, nampaknya Jabir terpengaruh oleh ilmu angka dari Cina, Mang Tang namanya. Dia mengatakan bahwa 17 adalah kunci untuk memahami dunia. 17 juga didapatkan dari kotak angka ajaib yang terdiri dari angka-angka seri segala metal, 1: 3: 5: 7: 8 (jumlahnya 17). Dan jumlah dari angka selainnya (4, 9, 2, 7 dan 6) adalah 28.

4 9 2
3 5 7
6 1 6

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

KESIMPULAN DAN PENUTUP

 

Demikian telah kami paparkan seputar sejarah Jabr Ibnu Hayyan. Dia adalah tokoh besar filsafat Islam yang banyak menaruh perhatian pada kimia. Banyak penemuan-penemuan saintis yang ditemukan olehnya dan tidak sedikit yang masih digunakan hingga saat ini, peralatannya maupun teori-teorinya sebagai dasar pemikiran.

Sebagai seorang muslim yang taat, dia tak pernah melepaskan pemikiran-pemikiran yang dihasilkannya dengan unsur ilahi mistik. Dia merupakan ilmuwan yang menjadikan kimia bukan hanya sebagai bagian dari keluarga besar sains yang kering. Dia mengharmoniskannya dengan unsur esoteris, disebut dengan alkhemi.

Nasr mengatakan dalam Sains dan Peradaban di Dalam Islam, bagi ahli alkhemi, alam merupakan tubuh Logos dan aspek wanita dari Tindakan Ilahi. Ia kini adalah tubuh hidup yang suci, suatu antropos serupa dengan mikrokosma manusia, di seluruhnya ditemukan ‘Nafas Ilahi’ sebagai prinsip yang menghidupkan. Begitupun pandangan Jabr tentang hubungan gender antara alam dan Tuhan.

Sebetulnya dalam sekali pengkajian kimia yang telah dilakukan Jabr. Namun sayangnya belum banyak yang mengkaji pemikirannya. Padahal kimia Jabr dapat menjadi khazanah filsafat Islam yang kaya bila terus dilanjutkan. Pemikirannya dapat menunjukan keesksisan Islam dalam dunia ilmiah, menjelaskan bagaimana alam dan Tuhan berkorelasi.

Maka harapan kami semoga akan ada penelitian lebih lanjut terhadap pemikiran Kimia Jabrian, akan ada yang mau membuka karya-karya Jabr yang kaya itu. Adapun makalah yang kami susun masih jauh dari keseluruhan ide-ide Jabr. Ini hanyalah pengantar kecil menuju kedalam pengetahuannya.


[1].  http://forum.arrahmah.com

[3].  Ibid

 

[5].   Ibid

[6].   Ibid

[7].   Ibid

[9]. Para Filosof Muslim hal 65

[12]  Makalah dalam http://www.scribd.com/doc/55800992/makalah-fisika-teori-atom-dalton, di upload oleh Yunita Angraini, 5 Nopember 2011,  hlmn ix.

[13]  Ibid, hlmn x.

[17] Nasr, Seyyed Hossein, Sains dan Peradaban di Dalam Islam, Hlm 242

[18]  Nasr, Seyyed Hossain. Hlm 242

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s