Menguak Sosok “Mulla Hadi Sabzawari”

BAB I

PEMBAHASAN

 

  1. 1.     Biografi Haji Mulla Hadi Sabzawari

Haji Mulla Hadi dilahirkan pada tahun 1212/1797-98 di Sabziwar, Khurasan, kota yang terkenal karena banyak dikenal Sufinya dan juga karena aliran-aliran Syi’ah, bahkan sebelum periode Safawi. Beliau adalah seorang filsuf muslim terkenal Iran, seorang mistikus, teolog dan penyair. Beliau lahir dari keluarga pedagang dan pemilik lahan. Beliau menyelesaikan pendidikan awalnya dalam bidang gramatika dan bahasa Arab, beliau telah menulis sebuah risalah kecil di usia tujuh tahun. Pada usia sepuluh tahun, ayahnya meninggal dan beliau berangkat ke Masyhad untuk melanjutkan Studi dalam bidang fiqh, logika, matematika, dan Hikmat selama sepuluh tahun berikutnya dengan Mulla Husay. Semenjak itu, kecintaanya terhadap ilmu-ilmu intelektual menjadi begitu besar dan untuk ini Haji meninggalkan Masyhad menuju Isfahan, seperti yang dilakukan Mulla Shadra dua ratus lima puluh tahun sebelumnya, untuk bertemu dengan otoritas agung masa itu di bidang Hikmat. Di kota ini, beliau menghabiskan delapan tahun belajar di bawah Mulla Isma’il Isfahan dan Mulla ‘Ali Nuri, keduanya adalah otoritas terkemuka dalam madzhab Akhund (panggilan Mulla Shadra).[1]

Setelah selesai pendidikan formalnya, beliau kembali ke Masyhad danmulai mengajar meskipun para ulama di Masyhad tidak memiliki minat yang sama dalam filsafat sebagaimana di Isfahan. Beliau mengajar selama lima tahun, dan setelah itu beliau berangkat Haji ke Mekkah. Setelah beliau kembali ke Persia, yang telah ditinggalkan tiga tahun, beliau kemudian tinggal setahun di Kirman dimana beliau menikah dan menetab di Sabziwar untuk mendirikan sekolah sendiri. Popularitasnya menjadi semakin besar sehingga memiliki para murid dari seluruh Persia, India dan arab. Disini beliau mengisi hidupnya selama empat puluh tahun untuk mengajar, menulis dan melatih murid-muridnya. Beliau hidup dengan sangat sederhana  dan spiritualitasnya banyak menyerupai guru Sufi ketimbang sekedar Hakim yang terpelajar. Beliau wafat pada tahun 1289/1878. Beliau menjadi tokoh spiritual dan intelektual yang paling terkenal dan terbesar, dan semenjak itu dianggap sebagai salah seorang tokoh yang dominan dalam kehidupan intelektual di dunia syiah[2].

  1. 2.     Karya-karyanya

Beliau mengarang sejumlah Syair yang dikumpulkan dalam Diwannya yang terdiri dari syair-syair penuh inspirasi gnoistik dalam bahasa Persia dan syair-syair dalam bahasa Arab tentang Hikmah dan Logika. Berikut karya-karyanya:

  1. Al-La’ali, syair berbahas Arab tentang Logika.
  2. Ghurar al-Fara’idh atau Syarh-I Manzumah, Syair berbahasa arab dengan syarah tentang Hikmah.
  3. Diwan ditulis dalam Bahasa Persia dengan nama samaran Asrar.
  4. Du’ai Kabir, syarah atas Du’ai Shabah.
  5. Asrar  al-Hikam, ditulis atas permintaan Nashir al-Din Syah, tentang Hikmat:
  6. Komentar atas karya-karya Mulla Shadra seperti, Asfar, Mafatih al-Ghayb, al-Mabda ‘wa al-Ma’ad Dan Syawahid al-Rububiyya.
  7. Syarah atas komentar al-Syuhuti terhadap alfiyyah karya Ibn Malik, tentang tata bahas.
  8. Syarah atas Matsnawi karya Jalal-al-Din Rumi.
  9. Syarah atas Nibras, tentang rahasia-rahasia ibadah.
  10. Syarah atas nama-nama Tuhan.
  11. Syarah atas Syarh-I Tajrid Karya Lahiji.
  12. Rah Qarah dan Rahiqdalam retorika.
  13. Hidayat al-Thalibin, risalah dalam bahasa Persia tentang kenabian dan Imamah yang belum diterbitkan.
  14. Pertnyaan-pertanyaan dan jawaban-jawaban tentang Irfan.
  15. Risalah tentang perdebatan antara Mulla Muhsin Faidh dan Syakh Ahmad Ahsha’i[3].

Diantara tulisan-tulisan ini, yang paling terkenal adalah Syarh-I Manzumah yang, bersama asfar karya Mulla Shadra, al-Syifa’  karya Ibn-Sina dan Syarh al-Isyarat Karya al-Din Thusi, menjadi teks-teks penting tentang Hikmat. Karya ini terdiri dari serangkaian syair tentang masalah-masalah penting Hikmat yang disusun pada 1239/1823, yang komentar dan Syarahnya ditulis Beliau sendiri pada tahun 1260/1844. Buku tersebut berisi ringkasan lengkap tentang Hikmat dalam bentuk yang jelas dan sistematis. Buku ini begitu popular selama ratusan tahun sehingga semenjak masa penulisanya telah banyak melahirkan komentar atasnya, termasuk komentar Muhammad Hidaji dan Mirza Mehdi Asytiyani, di samping sarah Muhammad Taqi Amuli berjudul Durar al-Fawa’id yang merupakan syarah yang paling komprehensif. Tulisan beliau yang lain, khususnya Asrar al-Hikam, menarik perhatian khusus karena, seperti dikemukakan beliau sendiri dalam pendahuluan, buku ini membahas Hikamat yang diambil dari wahyu Islam (Hikmat-I imani) dan bukan sekedar dari filsafat Yunani (Hikmat-I yunanai). Meskipun komentar atas mustnawi juga sangat penting, popularitas Haji terutama karyanya Syarh-I Manzumah[4].

  1. 3.     Sumber-Sumber Pemikirannya.

Haji Mulla Hadi Sabzavari tidak dapat disebut sebagai pendiri madzhab baru; sebaliknya dia memperluas dan memperjelas ajaran-ajaran Mulla Shadra tanpa menyimpang dari sifat-sifat dasar ajaran-ajaran Akhund. Karena itu sumber-sumber tulisan beliau sama dengan sumber-sumber yang telah diuraikan dalam Studi tentang Mulla Shadra, yaitu ajaran-ajaran gnoistik yang kebanyakan diambil dari ajaran-ajaran Ibn ‘Arabi, para imam Syi’ah, teosofi Israqi dan filsafat paripatetik[5].

Dalam tulisan-tulisannya, beliau banyak bersandar pada Asfar  karya Mulla Shadra, Qabasat Karya Mir Damad, komentar atas Hikmat al-Isyraq karya Suhrawardi oleh Quthb al-Din al-Syirazi, Syarh al-Isyarat karya Nashir al-Din Thusi dan Syawariq karya Lahiji. Secara umum beliau tidak banyak bersandar pada pembacaan terhadap berbagai teks sebanyak pada meditasi dan perenungan terhadap aspek-aspek metafisika. Sumber utama pengetahuanya seperti Mulla Shadra, adalah imam batin atau malaikat pembimbingnya beliau tercerahkan dengan pengetahuan alam ma’qulat (intelligibles). Tentang sumber-sumber formal ajaran-ajaranya, seseorang pertama-tama harus menyebut Akhund dan, kedua, guru-guru dan murid-murid Akhund yang sebagian diantaranya telah disebutkan[6].

  1. 4.     Filasfat Sabzawari

Filsafat yang dibawa oleh beliau bukanlah filsafat yang tergolong baru dan menjadi pemikiran dengan mazhab filsafat tersendiri, melainkan beliau hanya menjelaskan dan mensistemasikan apa yang sudah di bawa oleh Mulla Sadra. Namun dia bukan hanya membawakan apa yang telah tertulis dari karya-karya Mulla sadra, beliau menjadikan apa yang dibawa oleh Mulla Sadra menjadi pemikiran yang ringan yang mampu dikaji oleh para pemikir dijamannya. Karena seperti yang kita ketahui bahwasanya, karya Mulla Sadra tegolong masih sangat rumit bagi masyarakat umum atau para pelajar yang ingin mengkajinya. Tidak hanya itu, ada dua hal yang dikritik oleh beliau dari filsafat Mulla Sadra yaitu:

–          pertama tentang hakekat pengetahuan yang dalam sebagian tulisanya Akhund menganggapnya sebagai kualitas jiwa manusia, sedangkan beliau menganggap masuk edalam esensinya, seperti wujud itu sendiri, yang melampaui katagori-katagori Aristoteles seperti kualitas, kuantitas dan sebagainya.

–          Dan kedua adalah tentang kesatuan yang memikirkan (aqil) dan yang dipikirkan (ma’qul) yang diterima oleh beliau, tapi megkritik metode untuk menunjukkan validitasnya[7].

Selebihnya pemikiran beliau tentang Filsafat atau Hikamah bisa ditemukan dalam tulisan – tulisan Akhund.

  1. 5.     Metafisika Sabzawari

Seperti yang kita ketahui bahwasanya Suhrawardi membedaka seseorang pencari pengetahuan atau kebenaran itu kedalam tiga golongan, yang pertama adalah Mereka yang memiliki kecakapan nalar diskusif, tetapi tidak memiliki pengalaman mistik yang cukup mendalam, yang kedua adalah Mereka yang memiliki pengalaman mistik yang mendalam – seperti para sufi – tetapi tidak mempunyai kemampuan untuk mengungkapkan pengalaman itu secara diskusif, dan yang terakhir adalah  mereka yang disamping memiliki pengalaman mistik yang mendalam dan otentik, juga memiliki kemampuan nalar dan bahasa diskusif. Dan perpaduan yang sempurna antara pengalaman mistis dan pemikiran analitis menjadi jalan yang ditempuh oleh surahwardi dalam membangun filsafatnya. Ia merumuskanhubungan timbal balik yang esensial antara pengalaman mistis dan penalaran logis sebagai prinsip paling dasar bagi mistisisme dan filsafat.

Orang akan melakukan kesalahan besar, tegasnya, jika ia menduga bahwa “seorang dapat menjadi seorang filosof (secara literal ; anggota dari orang-orang yang memiliki kebijaksanaan) hanya dengan mengkaji buku-buku, tanpa menempuh jalan kesucian (via mystica) dan tanpa memiliki pengalaman langsung akan cahaya – cahaya spiritual. Seperti halnya penempuh (jalan kesucian), yakni sufi yang tidak memiliki daya berpikir analitis hanyalah sufi yang tidak sempurna, begitu juga peneliti (kebenaran) yakni filosof yang tidak memiliki pengalaman langsung tentang misteri-misteri pengetahuan hanyalah filosof yang tak sempuran dan tak berarti[8].

Gagasan pemikiran Suhrawardi ini memiliki pengaruh penting dalam pembentukan filsafat Hikmah. Jika Suhrawardi menganggap “eksistensi (wujud) hanyalah konsep, sesuatu yang hanya mental yang merupakan hasil dari sudut pandang pikiran manusia yang subjektif, dan tak terkait sekali dengan yang nyata di dunia luar, memiliki perbedaan pandangan dengan Mulla Sadra dan Sabzawari, yang bagi mereka “eksistensi”, dalam pengertian actus essendi, sebenarnya adalah realitas. Namun, melalui perenungan, kita menemukan pertentangan itu hanyalah formal dan superfisual. Itu hanyalah masalah rumusan-rumusan yang berbeda, atau agaknya metode-metode pengalaman yang berbeda tentang realitas yang sama. Karena Suhrawardi menempatkan, di tempat “eksistensi”, Cahaya (nur) spiritual dan metafisis sebagai sesuatu yang benar-benar “nyata”, yaitu realitas yang satu dan tunggal yang mempunyai jumlah tingkatan dan tahapan yang tak terbatas dan kaitanya dengan intensitas dan kelemahan, tingkat tertinggi adalah sumber Cahaya (nur al-anwar) dan yang terendah adalah kegelapan (zhulmah).[9]

Dapat di peroleh disini pandangan akhund mengenai kefundamentalan wujud dan gradasi wujud

  1. Dalil Isolatul wujud :
  • Setiap kuiditas berbeda dari kuiditas yang lain. Dan tidak mungkin terjadi kesatuan wujud yang hakiki. Seperti; kuiditas pohon berbeda dengan kuiditas hijau, kuiditas air berbeda dengan kuiditas buah, begitupun kuiditas daun berbeda dengan kuiditas akar, padahal semua itu tergabung dalam satu realitas wujud yang bernama pohon. Ketidaksamaan ini mengakibatkan mustahil terjadinya wujud potensial materi sebelum menjadi realitas wujud di alam eksistensi. Sehingga solusinya adalah, untuk mencapai kesatuan wujud dengan kuiditas yang beraneka ragam dapat ditempuh dengan menegaskan kehakikian eksistensi yang merupakan hakikat wujud yang majazi
  • Setiap Qua-wujud selalu melahirkan efek, dan sesuatu akan kita anggap memiliki efek karena eksistensinya nyata atau dapat dirasakan. Karena bagaimana mungkin benda yang tidak berwujud dapat melahirkan efek. Maka dari itu, “yang asasi adalah eksistensi bukan kuiditas”
  • Kuiditas itu netral dalam hal intensitas dan kelemahan, prioritas dan posterioritas. Artinya, terlepas dari eksistensi, kuiditas tidak intens dan tidak lemah, tidak prioritas dan tidak posterioritas. Padahal dalam setrata wujud, setiap realitas memiliki tingkatan yang berbeda seperti, sensible, berakal, berperasaan, kasar, lunak dan lain sebagainya. Maka jika esistensi tidak dianggap asasi dan real, maka atribut-atribut (sifat aksidental) itu tidak mungkin terjadi, karena bagaimana mungkin sesuatu yang tidak memiliki atribut melahirkan realitas-realitas yang beratribut.
  • Para filosof meyakini bahwa Tuhan tidak memiliki mahiyah, karena dia adalah wujud murni. Dia-lah yang memeberikan wujud terhadap semua selainya. Oleh karena itu, jika mahiyah yangmemiliki realitas eksternal secara objektif, maka akan kelaziman Tuhan pun memiliki mahiyah. Padahal sebagaimana kita ketahui bahwa tidak mungkin Tuhan memiliki mahiyah karena akan meniscayakan keterbatasan.
  1. Gradasi wujud

Yang dimakud dengan gradasi wujud adalah sebuah konsep wujud yang walaupun wujud bersifat uivokal, akan tetapi korespondensinya dengan misdak-misdaknya berbeda-beda. Misdaq wujud satu dengan yang misdaq qujud lainnya berbeda-beda; ada yang lebih awal, lebih akhir, lebih kuat, lebih lemah, dan seterusnya.

  1. 6.     Esensi Dan Eksistensi

Seperti halnya filsafat pada umumnya, filsafat Hikmah adalah filsafat yang mencari kebenaran dari realita yang ada. filsafat yang membahas wujud sebagaimana wujud. Kita berpikir bahwa kita ada, maka apa yang kita saksikan juga ada dari itu kita merespon karena kita menganggap ada. Filsafat secara umum mencoba menjelaskan sesuatu yang nyata.

Filsafat ini ingin mengenali wujud yang bermuara kepada satu wujud. Wujud-wujud ini memiliki rangkaian sebab yang berakhir  kepada sebab pertama (kausaprima). Dan kausaprima ini adalah Allah SWT. Dan karena itu ujung dan akhir dari semua ini adalah Allah. Maka dari itu filsafat ini disebut al-Hikmah al-Illahiyah.

Alhikmah al ilahiyah membahas wujud dan semua hal yang berhubungan dengan wujud maupun maujud. Hikmah al-Ilahiyah itu membahas wujud tanpa kaitan apapun. Contohnya adalah meja itu ada, dan disini filsafat itu tidak membahas mejanya melainkan membahas adanya. Maka dari itu filsafat bersifat Universal, yaitu tentang ada yang Universal, bukan membahas sesuatu yang particular seperti; meja, kursi dll

Pembahasan tentang wujud atau yang biasa kita sebut dengan eksistensi tidak akan pernah terpisah dengan pembahasan tentang esensi. Kedua pembahasan ini merupakan salah satu tesis filosofis yang paling mendasar dalam pemikiran Islam, pembedaan itu dapat dikatakan sebagai langkah awal dalam pemikiran metafisika ontologis di kalangan muslim; ia menjadi dasar bagi bangunan seluruh struktur metafisika Muslim.[10]

Segala sesuatu mengandung dua lapis prinsip ontologis, masing masing benda yang kita temui di dunia sebenarnya terdiri dari “esensi”/ “quiditas” dan eksistensi. Segala sesuatu berbeda dengan yang lain , tidak ada sesuatu didunia ini yang sam dengan yang lainya. Contohnya sebuah pohon, dia adalah sebuah poho, dia bukan dan tidak dapat menjadi kambing. Namun semua benda yang berbeda ini memiliki satu kesamaan yaitu mengenai eksistensinya, bahwa benda-benda itu semua ada. mereka semua sama-sama ada meski memiliki subjek-subjek proposisi yang berbeda-beda.

Jadi apapun yang ditemukan di dunia, seperti di katakana Sabzawari adalah zawj tarkibi, atau dualitas yang terdiri dari esensi dan eksistensi, yang pertama adalah sesuatau yang dengannya setiap benda dibedakan dengan benda yang lain, dan yang kedua adalah factor dimana semua benda sama-sama dan tanpa kecuali ambil bagian. Kenyataan fundamental tentang dua factor ontologis inilah yang disebut Sabzawari ketika beliau mengatakan  bahwa “eksistensi” adalah prinsip kesatuan, sedangkan “esensi” hanya menimbulkan debu keberagaman[11].

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

KESIMPULAN

 

Haji Mulla Hadi Sabzawari adalah Filosof Terbesar Syiah abad ke 13, adalah sosok penting dalam memperkenalakan Filsafat Islam khususnya Filsafat Hikmah Muta’aliyah Mulla Sadra. Dengan melihat sekilas karya-karya Sadra yang berjilid-jilid, yang akan membuat seserang tersesat tanpa pembimbing yang memadai, dan membandingkan mereka dengan bentuk Syarh-I Manzumah yang jelas cukuplah dilihat jasa apa yang diberikan Haji kepada Hikmat secara umum dan Kepada Mazhab Mulla Sadra secara khusus. Haji melicinkan jalan untuk mengkaji Mulla Sadra, dan tulisan-tulisanya dapat dianggap sebagai pendahuluan yang sangat baik bagi ajaran-ajaran Mulla Sadra.

Filsafat yang dibawa oleh beliau bukanlah filsafat yang tergolong baru dan menjadi pemikiran dengan mazhab filsafat tersendiri, melainkan beliau hanya menjelaskan dan mensistemasikan apa yang sudah di bawa oleh Mulla Sadra. Namun dia bukan hanya membawakan apa yang telah tertulis dari karya-karya Mulla sadra, beliau menjadikan apa yang dibawa oleh Mulla Sadra menjadi pemikiran yang ringan yang mampu dikaji oleh para pemikir dijamannya. Karena seperti yang kita ketahui bahwasanya, karya Mulla Sadra tegolong masih sangat rumit bagi masyarakat umum atau para pelajar yang ingin mengkajinya.

 

 


[1]Struktur Metafisika Sabzawari, Thosiko Izutsu , hal viii

[2] Ibid., hal, ix

[3] Ibid., hal, x

[4] Ibid., hal, x

[5] Ibid., hal, xi

[6] Ibid., hal, xi

[7] Ibid., hal, xii

[8] Ibid., hal, 6

[9] Ibid., hal, 7

 

[10] Ibid., hal, 37

[11] Ibid., hal, 39

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s