Sekilas Membedah “Jamaluddin Al-Afghani”

BAB II

Sekilas tentang Jamaluddin Al-Afghani

 

  1. a.      Biogafi Tokoh

Sayyid Jamaluddin Al-Afghani adalah pahlawan besar dan salah seorang putra terbaik islam. Kebesaran dan kiprahnya membahana hingga keseluruh penjuru dunia. Sepak terjangnya dalam menggerakkan kesadaran umat islam dan geakan revolusionernya  yang membangkitkan dunia islam, menjadikan dirinya orang yang dicari oleh pemerintah kolonial ketika itu, pemerintah Inggris. Tapi komitmen dan konsistennya yang sangat tinggi  terhadap nasib umat islam, membuat Al-Afghani tak pernah kenal lelah apalagi menyerah. Sayyid Jamaluddin Al-Afghani adalah salah seorang tokoh penting penggerak pembaruan dan kebangkitan islam pada abad ke -19. Ia disenangi karena akivitas dan gagasan politiknya menjadi inspirasi bagi upaya pembebasan umat islam dari penjajahan bangsa-bangsa barat.

Jamaluddin Al-afghani Lahir pada 1838 M. Ayahnya bernama Sayyid Shafdar, seorang penganut mazhab Hanafi. Konon, Jamaluddin adalah keturunan Rasulullah . Silsilah keluarganya sampai kepada nabi SAW,melalui Husssein bin Ali bin abi Thalib, suami Fathimah putri  Rasulullah. Terdapat perbedaaan mengenai kelahirannya. Sebagian orang mengjkaim bahwa ia adalah oramg Iran, namu ia menyembunyikan ke Syiah-annya  (taqiyyah) di tengah-tengah penguasa dan masyarakat muslim yang mayoritasnya menganut Sunni, sebagian lain tetap menyatakan ia seorang Afghanistan sebagaimana yang tercantum di belakang namaya.

Menurut L.Stoddard ia dilahirkan di Asadabad, dekat Hamazan di Persia, namun ia berkebangsaan Afghanistan. Gelar sayyid, ada nama depannya menunjukkan bahwa ia keturunan Rasulullah dan darahnya bercampur dengan keturunan Arab. Sementara orang Syiah mengklaim bahwa ia berkebangsaan Iran (Persia). Muhammad Hasan I’timadiddin, salah seorang pengikut Syiah, seperti dikutip oleh Hamka, menegaskan  Jamaluddin sebagai orang Iran , dilahirkan di Asadabad di wilayah Iran. Bahkan Murtadha Muthahhari tidak maun menggunakan’ Al-afghani’ di belakang namanya. Ia menulis namanya dengan Sayyid Jamaluddin Asadabadi.  [1]

Al-Afghani menghabiskan masa kecil dan remajanya di Afghanistan, namun banyak berjuang di Mesir, India hingga sampai ke Perancis Sejak kecil Jamaluddin menekuni berbagai cabang ilmu keislaman, seperti tafsir, hadist, tasawuf dan filsafat islam. Selain itu ia juga belajar bahasa Arab dan Persia.  Pada usia 18 tahun di Kabul, Jamaluddin tidak hanya mengusai ilmu keagamaan, tetapi juga mendalami filsafat, hukum, sejarah, metafisika,, kedokteran, sains, astronomi dan astrologi. Dia seorang yang sangat cerdas jauh melampaui remaja-remaja seusianya. [2]. Ia pun mempelajari flsafat dari beberapa tokoh Syiah terkemuka, sepeti Murtadha Anshori, Mulla Husein Al-Hamidi, Sayyid Ahmad Teherani dan Sayyid Habubi. Beliau menghabiskan sisa umurnya dengan bertualang keliling Eropa, seperti Paris, Amerika Serikat, Inggris- London, hingga Uzbekistan untuk berdakwah. Bapak pembaharu Islam ini memang tak memiliki rintangan bahasa karena ia menguasai enam bahasa dunia (Arab, Inggris, Perancis, Turki, Persia, dan Rusia).

Afghani menghembuskan nafasnya yang terakhir karena kanker yang dideritanya sejak tahun 1896 dalam penjara rumah tahanan yang di lakukan oleh Sultan Hamid.  Beliau pulang keharibaan Allah pada tanggal 9 Maret 1897 di Istambul Turki dan dikubur di sana. Jasadnya dipindahkan ke Afghanistan pada tahun 1944. Ustad Abu Rayyah dalam bukunya “Al-Afghani; Sejarah, Risalah dan Prinsip-prinsipnya”, menyatakan, bahwa Al-Afghani meninggal akibat diracun dan ada pendapat kedua yang menyatakan bahwa ada rencana Sultan untuk membinasakannya. [3]

Kemudian dalam buku Dr.Hamka disebutkan bahwa Kuburannya tidak diperdulikan orang dan dilupakan dimana letaknya, sampai datang seorang sarjana Penyelidik filsafat islam bangsa Amerika bernama Charles Craine yang dapat mengetahui kuburan itu pada tahun 1926, lalu diperbaikinya kuburan itu dnegan biaanya sendiri. Orientalis Amerika itu menulis pada kuburannya itu dengan biayanya sendiri. Ia menulis “ kuburan ini diperbaiki kembali oleh seorang sahabat setia kaum muslimin, Charles Craine, 1926 ”. Setelah lama baru timbullah kesadaran baru dalam kalanagn pemimpin-pemimpin islam seluruh dunia. maka dengan persetujuan dua negara islam, Turky dan Afghanistan, maka tulang-tulang Sayyid Jamaluddin bin Saftar Al-Afghany di pindahkan pada tahun 1944 ke negeri tempat ia dilahirkan di Afghanistan.[4]

  1. Latar Belakang Sosial-Politik[5]

Dalam usia 18 tahun Ia berangkat ke India ketika berusia  dan tinggal disana selama setahun. Dari India ia bertolak ke tanah suci Mekkah untuk melakukan ibadah haji. Setelah itu ia kembali ke Afghanistan. Pulang dari  Mekkah ketika berusia 22 tahun, ia sudah diangkat menjadi pembantu pangeran Dost Muhammad Khan  di Aghanistan. Setelah Muhammad Khan meninggal dunia pada 1864, penggantinya Sir Ali Khan menganggkat Jamaluddin sebagai penasihatnya, setelah itu ia pun diangkat menjadi perdana mentri  pada pemerintahan Muhammad Azham Khan. Namun ini tidak lama karena Azham Khan dijatuhkan oleh kelompok oposisi yang didukung Inggris yang saat itu mulai menancapkan kekuasaanya di negri itu. Untuk menghindari  pengaruh buruk yang mungkin akan menimpanya, ia bertolak kembali ke India dan pergi haji lagi tahun 1869.

Pada awalnya Jamaluddin mencoba menjauhkan diri dari politik dengan memusatkan diri dari politik dengan memusatkan diri mempelajari ilmu pengetahuan dan sastra Arab. Rumahnya dijadikan tempat pertemuan para pengikutnya. Disinilah dia memberikan kuliah dan berdiskusi dengan berbagai kalangan, termasuk intelektual muda, mahasiswa dan tokoh-tokoh pergerakan. Salah seorang muridnya adalah Muhammad Abduh dan Saad Zaglul, pemimpin kemerdekaan Mesir. Melihat campur tangan Inggris di Mesir, ia akhirnya kembali ke politik. Dia melihat Inggris tidak menginginkan Islam bersatu dan kuat. Kemudian ia memasuki perkumpulan Freemason, suatu organisasi yang beranggotakan tokoh-tokoh politik Mesir. Dari sini ,1879 terbentuk partai politik bernama Hizb AL-Wathoni (partai kebangsaan). partai ini menamakan kesadaran berbangsa, memperjuangkan pendidikan universal dan kemerdekaan pers. Aktivitas politik Jamaluddin memberikan pengaruh besar bagi umat Islam. Dia mendorong bangkitnya gerakan berfikir sehingga Mesir mencapai kemajuan.

Selama delapan tahun  bermukim di Mesir, Al-Afghani telah memberikan pengaruh yang besar disana.ia membangkitkan gerakan berifkir sehinga negara ini dapat mencapai kemajuan. Mesir modern, menurut Ibrahim Madkur (filsuf Mesir) adalah hasil usaha Jamaluddin Al-Afghani. Dari Mesir, Al-Afghani pindah ke Perancis. Disinilah ia mendirikan perkumpulan Al-Urwah Al-Wusqo. Tujuannnya antara lain memperkuat rasa persaudaraan islam, membela islam dan membawa umat islam ke kemajuan.

Melihat kegiatan dan pemikirannya, dapat diismpulkan bahwa Al-Afghani lebih terkenal sebagai pemimpin politik dari pada sebagai pemikir pembaruan islam. Ia sedikit sekali memikirkan masalah-masalah agama, ia lebih memusatkan pemikiran  dan aktivitasnya di bidang politik. tetapi menurut Harun Nasution, kegiatan politiknya sebenarnya didasarkan pada ide-idenya tentang pembaruan dalam islam. Ia adalah pemimpin politik sekaligus pemimpin pembaruan. Pemikiran pembaruannya didasarkan atas keyakinan bahwa islam adalah agama yang sesuai untuk semua bangsa, semua zaman dan semua keadaan. Kalau kelihatan ada pertentangan antara ajaran islam dengan kondisi yang dibawa perubahan , penyesuaian dapat diperoleh dengan mengadakan interpretasi baru atas ajaran islam yang tercantum dalam AL-Quran dan hadist. [6]

Kemudian Sebab-sebab kemunduran umat islam di bidang politik menurut pendapatnya adalah:

  • munculnya perpecahan yang terdapat dikalangan umat islam
  • pemerintah  yang absolut
  • mempercayakan kepemimpinan kepada orang yang tidak dapat dipercaya
  • mengabaikan pertahanan militer
  • menyerahkan administrasi negara kepada orang-orang yang tidka kompeten
  • adanya campur tangan asing.

 

  1. c.       Pengaruh Jamaluddin

Di Afghanistan

Meskipun bangsa Afghanistan itu satu keturunan dengan bangsa Persia, yaitu sama-saama Iran, namun karena perbedaan mazhab yang di anut, bangsa Afghanistan  merasa dirinya lebih dekat kepada bangsa Turky yang berdarah tauran itu. Umumnya bangsa Afghanistan memeluk mazhab Ahlussunnah wal Jamaah dan mengikuti ajaran imam Hanafi, sama dengan orang Turky.

Ketika Afghanistan di bawah pimpinan Ahmad Zahir Syah, Afghanistan terus menerus dibawa kepada keamajuan. Meskipun ia bukanlah sebuah negara islam yang besar, namun ia kaya dengan sejarah pembnagunan islam. Nama Afghany akan sennatiasa tersebut di liidah orang. Apabila orang menyebut kebangunan islam kembali  setelah terbenam beratus tahun, karena jassa pembangunan islam di pertengahan abad ke sembilan belas, sayyid Jamaluddin AL-Afghany. Karena terjadinya perang saudara antara Ayir Ali Khan dengan saudara-saudarnya A’zam dan Afdhal ,  Al-Afghany ikut dalam peperangan itu  dan berpihak kepada A’zam Khan. Usaha-usaha Inggris mengadu domba raja-raja bersaudara itu dan percobaan Inggris menanamkan pengaruh ke dalam tanah airnya, sangatlah brkesan dalam jiwa  Jamaluddin yang meyenbabkan menjadi pendangan hidup dan perjuangan politiknya selama hidupnya.

Sampai-sampai ia mengembara ke seluruh negeri islam, ke Mesir,Hijaz,Iran, India, Turky _sebagaimana telah disebutkan di atas, untuk menyadarkan kaum muslimin  atas bahaya yang menimpa mereka dari kaum penjajah, kemudian menerbitkan majalah Al-Urwatul Wustqo di Paris. Sampailah ia tinggal di Istambul, karena mengharap dapat bekerjasama dengan Sultan Abdul Hamid untuk membangkitkan umat islam dan menentang pengaruh Barat. Tetapi karena Sultan Hamid takut akan pengaruh Ulama besar Politikus ini  akan mengurangi  pengaruhnya sendiri, di akhir hayatnya dia seakan-akan ditawan dalam rumahnya, sampai diameninggal disana pada hari selasa 9 Maret 1897/ 5 Syawal 1314. [7]

Di  Iran        

Pada masa Afghanistan menduiduki Iran, terutama pada Nasirudin Syah. Muhammad Syah digantikan oleh putranya Nasiruddin Syah. Lama sekali SYAh yang masyhur ini memerintah, ialah 50 tahun. Dia pun memegang kekuasaan dengan tangan besi. Dia sezaman dengan Ratu Victoria di Ingggris dan Sultan Abdul Hamid di Turky. Pangkal kedua dari abad ke sembilan belas adalah zaman yang pahit bagi seluruh Dunia Islam. Perebutan kekeuasaan dan pengaruh diantara kerajaan-kerajaan Besar, Rusia, Inggeris dan Perancis di negeri-negeri Islam. Dan pemuda-pemuda di negeri itu mulai membuka matanya tentang bahaya yang menimpa negeri-negeri islam karena Imperalisme Barat. Pada zaman itu pula muncul lah “Sayyid Jamaluddin Al-Afghani “ yang besar pengaruhnya di Iran, meskipun dia berasal dari Afghanistan.  Rakyat sudah mulai disadarkan akan haknya. Raja-raja yang memerintah tidak boleh lagi berlaku sewenang-wenang, memerintah sekehendak hati, memeras, membunuh dan menyingkirkan orang-orang yang terbuka matanya.[8]

Selain dua tempat di atas, masih banyak sekali pengaruh Jamaluddin di berbagai dunia, seperti di India, dan Mesir. Al-Afghani berjuang keras untuk menghapus pengaruh kolonial Inggris di sana, bahkan ia sampai bergabung dalam peperangan kemerdekaan India pada tahun 1857. Ia juga membangun kesadaran bahwa umat islam itu satu untuk melawan penjajah,sehingga jangan sampai kesatuan umat islam  di sekat-sekat oleh Nasionalisme.

 

BAB III

Pemikiran Jamaluddin Al-Afghani

 

  1. a.      Majalah anti penjajahan al-Afghani

Majalah anti penjajahan ini bernama al-‘Urwah al- Wutsqa yang diterbitkan di Paris. Ini adalah salah satu bukti dari kejeniusan al-Afghani, dan ia mendapat dukungan dari murid sekaligus teman Mesir bernama Muhammad Abduh. Keduanya bekerjasama menerbitkan majalah al-‘Urwah al-Wutsqa sekitar tahun 1884 di Paris. Mereka berdua bersama-sama mendirikannya. Ini adalah sebuah majalah yang banyak memuat tema-tema kebangkitan islam dan penolakan terhadap pemerintahan imperialisme barat di negara-negara muslim.

Majalah ini terbit pertama kali pada Jumadil Ula 1301 atau Maret 1884 dan berakhir pada 26 Dzulhijjah 1301 atau 17 Oktober 1884[9]. Kemunculan majalah ini mengguncang dunia islam yang pada saat itu banyak dijajah. Dan berdampak pula pada kegelisahan dunia barat yang dominan melakukan penjajahan ke dunia islam dan timur tersebut. Publikasi majalah ini sekitar tujuh bulan dan hanya bertahan sampai 18 edisi, karena penjajah barat di beberapa wilayah islam melarang penyebarannya. Majalah ini dianggap berbahaya bagi kepentingan kolonialisme dan imperialisme barat. Sehingga, akhirnya harus berhenti karena dibinasakan oleh penguasa Inggris. Bahkan di Mesir dan India saat itu dilarang untuk terbit dan edar. Akan tetapi, penerbitan dan peredaran tetap saja terus berjalan meski dengan jalan gelap. Di Indonesia pun, majalah ini berhasil masuk melalui pelabuhan besar. Ia berhasil masuk melalui kiriman gelap di pelabuhan kecil sekitar pantai utara yaitu pelabuhan Tuban.

Majalah ini berisi komentar, opini, dan analisis dari tokoh-tokoh islam dunia dan para ilmuwan barat yang kagum dengan kejeniusan al-Afghani. Tulisan dari para ilmuwan barat itu didapatkan al-Afghani dengan bolak-balik Paris dan London untuk diskusi di markas International Lord Salisbury di London misalnya.

Penulisan majalah ini merupakan upaya dari al-Afghani untuk melawan kolonial barat, terutama kolonialis Inggris yang menjajah negeri-negeri atau dunia islam. Bahkan al-Afghani pernah mengikuti peperangan kemerdekaan melawan penjajah di India tahun 1857. Dan dia juga rajin mengunjungi negeri-negeri islam yang saat itu berada di bawah tekanan imperialis dan kolonialis barat untuk senantiasa menyemangati dan membantu peperangan, karena kemerdekaan adalah hak segala bangsa, maka penjajahan harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan pri-kemanusiaan dan pri-keadilan.

Sedangkan menurut Amin, majalah ini bertujuan[10]:

  1. Menyamarkan umat islam terhadap kewajiban yang harus mereka lakukan dalam menghilangkan kelemahan-kelemahan mereka dan menunjukkan jalan yang harus mereka tempuh untuk mengatasi kelemahan tersebut.
  2. Memperkuat rasa percaya diri dan menghilangkan sikap putus asa umat islam.
  3. Mengajak kepada salafisme.
  4. Menolak pandangan sebagian orang-orang timur dan umat islam khususnya bahwa umat islam tidak akan maju bila berpegang pada dasar-dasar agama mereka.
  5. Menginformasikan kepada umat islam tentang perkembangan politik yang terjadi.
  6. Memperkuat solidaritas umat islam.

Salah satu cuplikan cerita simbolis al-Afghani yang ditampilkan dalam majalahnya al-‘Urwah al-Wutsqa tentang sebuah kuil di pinggiran sebuah kota. Kuil ini menjadi tempat berteduh dan menginap para musafir yang sedang dalam perjalanan. Namun setiap orang yang masuk ke dalamnya, pasti mati secara mistrerius. Berita kematian misterius ini menyebar ke mana-mana, sehingga tidak ada orang yang mau singgah lagi ke sana. Akhirnya ada seorang laki-laki yang masuk ke dalamnya dengan berani. Ia ditakut-takuti oleh bunyi-bunyian suara yang meyeramkan dari seluruh penjuru kuil. Tak mau kalah, si laki-laki tadi malah memekikkan suaranya lebih keras lagi. Tiba-tiba terjadilah ledakan besar di kuil tersebut. Dinding-dinding kuil retak dan dari retak kuil itu akhirnya keluarlah berbagai harta perbendaharaan kuil yang begitu banyak.[11]

Di sini al-Afghani mengisyaratkan bahwa yang membunuh para musafir tidak lain adalah rasa takut mereka. Lalu mereka mencari perlindungan ke dalam kuil yang disimbolkan sebagai inggris. Namun rasa takut yang tak beralasan itu menghantui mereka sehingga mematikan pikiran mereka sendiri untuk keluar dari rasa takut itu. Al-Afghani menidentifikasikan dirinya sebagai laki-laki yang berani membongkar misteri kuil tersebut dan menghancurkan tembok-temboknya.[12]

  1. b.      Pemikiran Pan-Islamisme al-Afghani

Dalam kehidupannya, al-Afghani menghadapi dua musuh sekaligus, yaitu penguasa-penguasa muslim yang korup yang hanya menjadi boneka dari imperialisme barat dan penjajah barat sendiri. memang ketika itu hampir tidak ada wilayah islam yang tidak dikuasai barat. Inggris menguasai Mesir, demikian juga India setelah kehancuran dinasti Mughal. Inggris juga menjajah Afghanistan. Selain itu, di Afrika, Perancis menjajah Aljazair, dan wilayah-wilayah lain. Italia juga menguasai Libia. Sementara Asia Tenggara pun dikuasai oleh Inggris dan Belanda. Penguasa-penguasa muslim, karena takut kehilangan kedudukan mereka, rela bekerja sama dengan imperialisme barat. Sistem khilafah yang mengikat seluruh umat islam, secara perlahan mengalami kemerosotan dan berganti dengan ideologi nasionalisme yang diadopsi dari barat.[13]

Melihat kenyataan demikian, al-Afghani menekankan perlunya dunia islam bersatu padu melawan kekuatan asing dalam wadah Pan-Islamisme. Al-Afghani menilai bahwa sumber kelemahan dunia islam adalah lemahnya solidaritas umat islam. Barat tidak lebih kuat dari umat islam bila saja mereka mau bersatu menghadapinya. Persatuan dan kesatuan umat islam sudah lemah sekali. Antara satu pemimpin negara islam dengan yang lain kadang-kadang terjadi saling menjatuhkan. Diantara ulama juga sering tidak memiliki komunikasi. Karena itu, umat islam harus bersatu dalam Pan-Islamisme.[14]

Al-Afghani adalah seorang filosof pertama di era modern islam yang melihat posisi islam dan barat secara komprehensif yang dimana terjadi perpecahan di dunia islam dan bahaya penetrasi barat. Baginya, islam adalah satu umat besar yang memiliki kebudayaan yang kaya, namun telah membiarkan dirinya merosot dan kini terancam dari segala arah oleh kaum kafir barat yang sangat maju. Dan di sini, al-Afghani tidak hanya berbicara secara teori saja, namun ia pula berusaha untuk mencari solusinya agar dunia islam bisa bangkit dari keterpurukan tersebut dan kemudian merebut kembali kejayaan dan kemerdekaan mereka, salah satu solusinya yaitu dengan Pan-Islamisme.

Karena semangat kata di atas lah yang mendorongnya untuk mengeluarkan program intelektual, spiritual, politis, khususnya ide Pan-Islamisme yang segera ia dakwahkan setelah perjanjian Berlin. Baginya, itu adalah kesempatannya untuk menyemangati islam dan membangkitkan spiritual dan intelektual guna memperkukuh perlawanan terhadap budaya dan kekuatan barat.

Pemikiran Pan-Islamisme al-Afghani merupakan ide pembaharuan di bidang politik. Ide ini mengajarkan agar seluruh umat islam seluruh dunia bersatu melawan penjajah dan perbudakan asing. Bersatu di sini bukan berarti leburnya kerajaan-kerajaan islam menjadi satu dalam wilayah, tetapi mereka harus bersatu dalam pandangan hidup dan tujuan. Pan-Islamisme lebih berbentuk solidaritas antara seluruh muslim di dunia internasional untuk merasakan senasib sepenanggungan untuk semangat melawan kolonialisme dengan berpegang pada tema-tema ajaran islam sebagai rangsangannya. Dengan demikian, apapun yang dihadapi oleh satu negara islam yang sedang dijajah atau mengalami masalah, seluruh negara islam yang lain harus saling bahu-membahu membantu menyelesaikan masalah tersebut.

Nah, ide Pan-Islamisme inilah yang dituangkan dalam tulisan-tulisannya di majalah al-‘Urwah al-Wutsqa-nya dengan Muhammad Abduh, murid sekaligus teman terbaiknya dari Mesir. Dan dalam sebuah tulisannya yang berjudul “Persatuan Islam”, ia mengatakan bahwa umat islam pernah bersatu dalam kesatuan umat di bawah pemerintahan yang gemilang. Pada masa itu, umat islam mencapai kemajuan dalam ilmu dan sains. Mereka terkemuka di bidang filsafat dan ilmu-ilmu yang lain. Apa yang kita capai pada waktu itu, kini menjadi pusaka dan kebanggaan umat islam sampai sekarang. Umat islam harus sadar bahwa dalam keadaan apa pun, mereka tidak boleh berdamai dan bekerja sama dengan orang yang menjajah mereka. Sedangkan, ilmu pengetahuan di barat sebenarnya hanya perkembangan dari khazanah warisan islam di masa lampau dengan filsafat yang meliputi segalanya. Ia mengatakan bahwa tanpa ruh filsafat, ilmu pengetahuan yang lain layu[15]. Dan sesungguhnya barat tidak lebih kuat dari islam.

Dalam konteks kontemporer sekarang, gagasan-gagasan al-Afghani sangat pentinga dikembangkan dalam rangka menghadapi percaturan global. Umat islam tidak akan bisa maju tanpa persatuan dan kesatuan. Tanpa memiliki komitmen persatuan, mereka akan sulit berkompetisi menghadapi kekuatan ekonomi dan kemajuan teknologi bangsa-bangsa lain, terutama bangsa-bangsa barat. Kekayaan sumber daya alam yang mereka miliki hanya akan menjadi sasaran empuk para kapitalis modern untuk dikuras dan dieksploitasi demi kepentingan negara-negara maju. Dengan dalih liberalisasi, globalisasi dan ekonomi pasar, pasar bebas dan segala dalih lainnya, kekuatan-kekuatan pemodal raksasa dari barat akan dengan mudah menanamkan modalnya di negara-negara muslim yang kaya sumber daya alamnya. Akhirnya, yang terjadi adalah penjajahan model baru bangsa-angsa barat terhadap dunia islam, yaitu eksploitasi sumber daya alam bangsa-bangsa muslim oleh barat. Kalau pada zaman al-Afghani di akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20 barat menjajah dunia islam secara territorial, sekarang barat tidak perlu melakukan hal demikian. Mereka cukup menciptakan ketergantungan dunia islam terhadap barat, mengendalikan pemerintahan di negara-negara muslim, lalu memperoleh konsesi-konsesi[16].

KESIMPULAN

 

Sayyid Jamaluddin Al-Afghani adalah seorang  tokoh pembaharu, politik sekaligus seorang filosof kontemporer yang memiliki pengaruh cukup besar di berbagai negara. Ia memegang peranan yang begitu penting dalam gerakan politik islam modern. Ia pun di kenal luas baik di dunia Islam dan Syiah serta sangat berpangaruh terhadap dunia islam, terutama karena perhatiannya sangat serius terhadap kolonialisme bangsa-bangsa Barat dan absolutisme penguasa-penguasa muslim.

Tindakan beliau memang sangat berani untuk menolak setiap bentuk kolonialisme dan penjajahan di berbagai negara. Perjuangannya yang tak kenal lelah ia jalankan hingga ke berbagai negara demi tegaknya Islam. Dari pengembarannya yang luas itu membuat wawasannya semakin luas, sehingga ia menawarkan berbagai alternatif dari permasalahan-permsalahan umat islam, untuk itu ia menggerakkan rakyat untuk mengadakan revolusi dan perombahan terhadap pemrintahan yang absolut sekaligus memperbaiki akidah umat islam yang sudah terkontaminasi dengan mengemballikan mereka kepercayaan akidah islam yang benar. [17]

Salah satu bukti kecerdasannya ialah tulisan-tulisannya di majalah anti penjajahan al-‘Urwah al-Wutsqa bersama murid sekaligus teman akrabnya dari Mesir. Majalah ini terbit pertama kali pada Jumadil Ula 1301 atau Maret 1884 dan berakhir pada 26 Dzulhijjah 1301 atau 17 Oktober 1884[18].

Dan salah satu pemikiran terkenalnya yang ia tampilkan pula dalam majalahnya ia pemikiran Pan-Islamisme. Pemikiran Pan-Islamisme al-Afghani merupakan ide pembaharuan di bidang politik. Ide ini mengajarkan agar seluruh umat islam seluruh dunia bersatu melawan penjajah dan perbudakan asing. Bersatu di sini bukan berarti leburnya kerajaan-kerajaan islam menjadi satu dalam wilayah, tetapi mereka harus bersatu dalam pandangan hidup dan tujuan. Pan-Islamisme lebih berbentuk solidaritas antara seluruh muslim di dunia internasional untuk merasakan senasib sepenanggungan untuk semangat melawan kolonialisme dengan berpegang pada tema-tema ajaran islam sebagai rangsangannya. Dengan demikian, apapun yang dihadapi oleh satu negara islam yang sedang dijajah atau mengalami masalah, seluruh negara islam yang lain harus saling bahu-membahu membantu menyelesaikan masalah tersebut.

Sedangkan dalam konteks kontemporer sekarang, gagasan-gagasan al-Afghani sangat penting dikembangkan dalam rangka menghadapi percaturan global. Umat islam tidak akan bisa maju tanpa persatuan dan kesatuan. Tanpa memiliki komitmen persatuan, mereka akan sulit berkompetisi menghadapi kekuatan ekonomi dan kemajuan teknologi bangsa-bangsa lain, terutama bangsa-bangsa barat. Kekayaan sumber daya alam yang mereka miliki hanya akan menjadi sasaran empuk para kapitalis modern untuk dikuras dan dieksploitasi demi kepentingan negara-negara maju. Dengan dalih liberalisasi, globalisasi dan ekonomi pasar, pasar bebas dan segala dalih lainnya, kekuatan-kekuatan pemodal raksasa dari barat akan dengan mudah menanamkan modalnya di negara-negara muslim yang kaya sumber daya alamnya. Akhirnya, yang terjadi adalah penjajahan model baru bangsa-angsa barat terhadap dunia islam, yaitu eksploitasi sumber daya alam bangsa-bangsa muslim oleh barat. Kalau pada zaman al-Afghani di akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20 barat menjajah dunia islam secara territorial, sekarang barat tidak perlu melakukan hal demikian. Mereka cukup menciptakan ketergantungan dunia islam terhadap barat, mengendalikan pemerintahan di negara-negara muslim, lalu memperoleh konsesi-konsesi[19].

 DAFTAR PUSTAKA

 

  •  Sucipto,Hery . Ensiklopedi Tokoh Islam : Dari Abu Bakar, Nasr dan Qordhawi
  • Prof.Dr.Hamka.Sejarah Umat Islam. Pustaka Nasional  PTE LTD Singapura.
  • Iqbal, Muhammad dan Amien Husein nasution. 2010. “pemikiran politik islam: dari masa klasik hingga indonesia kontemporer. Jakarta : Kencana
  • Ensiklopedia tematis dunia islam jilid 4, pemikiran dan peradaban . Pt Ichtiar Baru Van Hoeve
  • Nasution, Harun. 1975. “Pembaruan dalam Islam”. Jakarta : Bulan Bintang
  • Black, Anthony. “Pemikiran Politik Islam”. Jakarta : Serambi
  • http://fospi.wordpress.com/2007/09/24/jamaluddin-al-afghani-dan-kontribusinya-pada-kebangkitan-dunia-islam/

[1] Muahmmad Iqbal dan Amien Husein nasution. “pemikiran politik islam: dari masa klasik hingga indonesia kontemporer. Hal 59

[2] Hery Sucipto,” Ensiklopedi Tokoh Islam : Dari Abu Bakar, Nasr dan Qordhawi ” hal 241

[4] Prof.Dr.Hamka “ sejarah umat isalm”. Pustaka Nasional  PTE LTD Singapura. 2005 hal 540

[5] Muahmmad Iqbal dan Amien Husein nasution. “pemikiran politik islam: dari masa klasik hingga indonesia kontemporer. Kencana, 2010, jakarta .Hal 58

[6] Ensiklopedia tematis dunia islam jilid 4, pemikiran dan peradaban . Pt Ichtiar baru van hoeve hal 398-399

[7] Prof.Dr.Hamka “ sejarah umat isalm”. Pustaka Nasional  PTE LTD Singapura. 2005 hal 539

[8] Ibid hal 474

[9] Harun Nasution, Pembaruan dalam Islam, (Jakarta : Bulan Bintang, 1975), h. 53

[10] Muhammad Iqbal dan Amin Husein Nasution, Pemikiran Politik Islam, (Jakarta : Kencana, 2010), cet. 1, h. 62-63

[11] Ibid., h. 65

[12] Ibid., h. 65-66

[13] Ibid., h. 64-65

[14] Ibid., h. 65

[15] Anthony Black, Pemikiran Politik Islam, (Jakarta : Serambi, 2006), cet 1, h. 545

[16] Muhammad Iqbal dan Amin Husein Nasution, op cit., h. 67

[17] Iqbal, Muhammad dan Amien Husein nasution. “pemikiran politik islam: dari masa klasik hingga indonesia kontemporer

[18] Harun Nasution, Pembaruan dalam Islam, (Jakarta : Bulan Bintang, 1975), hlm. 53

[19] Muhammad Iqbal dan Amin Husein Nasution, op cit., hlm. 67

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s