Pengetahuan “Epistemologi”

BAB 1

Definisi Fikr

 Fikr merupakan ‘’aktivitas pikiran‘’ manusia yang paling menakjubkan. Pikiran mampu melakukan serangkaian perbuatan, disini kita terangkan serangkai aktivitas tersebut secara berurutan, agar kerja pikiran menjadi jelas dan dihasilkan suatu gambaran tentang definisi fikiran yang jelas bagi kita.

  1. Pertama-tama kerja pikiran adalah menerima gambaran dari alam luar. Pikiran berhubungan dengan hal-hal di alam luar dari jalur panca indera, dan mengumpulkan gambaran dari hal-hal tersebut. Kondisi pikiran saat ini, seperti kamera yang memantulkan gambaran-gambaran pada permukaan film. Bayangkan saja anda untuk pertama kalinya  mengunjungi satu kota tertentu, pada pikiran anda akan tercetak sejumlahnya gambaran dari pemandangan-pemandangan kota tersebut. Pikiran kita pada kerja ini hanya ‘’bereaksi’’; artinya kerja pikiran kali ini tidak hanya sekedar ‘’menerima’’.
  2. Pikiran kita, setelah mengumpulkan serangkaian gambaran dari jalur panca indera, tidak tinggal diam : kerja pikiran kita tidak hanya menimbun ‘’ bundelan-bundelan ‘’ gambaran saja tetapi terkadang pada kesempatan-kesempatan tertentu, menampakan gambaran yang tersimpan tersebut pada sebuah layar yang jelas di pikiran kita, nama kerja ini adalah ‘’mengingat’’. Pikiran kita disamping menerima gambaran, yang sifatnya reaktif, juga memiliki kerja yang sifatnya aktif,  yaitu berdasarkan serangkaian  aturan psikologis.
  3. Kerja pikiran ketiga adalah  tajziyah ( penguraian ) dan tarkib ( penyusunan ). Yakin  pikiran juga mengerjakan hal lain; yaitu menguraikan suatu gambaran tertentu yang tertangkap dari dunia luar; membagi dan menguraikan  gambaran saat di alam luar tiada penguraian atau pembagian tersebut.
  4.  Tajrid ( abstraksi ) dan Takmin ( generalisasi ). Kerja lain pikiran adalah mengabstrasikan gambaran-gambaran  yang telah didapatkan melalui panca indera; yakin memisahkan beberapa hal yang senantiassa bersamaan di alam luar,  juga disaat diterima oleh pikiran.

Takmim adalah membentuk sebuah gambaran kulli, dari sejumlah gambaran juz’i yang di dapatkannya, misalnya melalui panca indera pikiran mengenali pribadi-pribadi Zaid, Ahmad, Hasan, dan sebagainya, tetapi kemudian ia membentuk suatu pengertian kulli yang general yaitu’’manusia’’.

  1. Kerja pikiran kelima  yang keterangan mengenainya merupakan tujuan asli  kita adalahtafakur dan argumentasi; yang artinya menghubungkan serangkaian maklum untuk menemukan suatu hal majhul.

 BAB 2

Kesadaran pada Umumnya

Kesadaran secara umum adalah kegiatan mental. Dan ketika kita menyadari sesuatu maka kita dapat membedakan kegiatan sadar tersebut dengan isi atau sesuatu yang disadarinya. Berdasarkan dua hal tersebut, ada dua macam kesadaran yaitu kesadaran langsung dan tak langsung. Kesadaran langsung itu fokus pada isi atau objeknya sedangkan kesadaran tak langsung focus pada kegiatannya.

Kita dapat lihat bahwa dalam kesadaran terdiri dari 2 komponen penentu, atau dalam istilah yang digunakan Sudarminta adalah dwikutub, yaitu subjek dan objek; yang menyadari dan yang disadari. Mengenai posisi subjek dengan objek, itu masih diperdebatkan oleh banyak filsuf hingga saat ini. Ada yang menganggap subjek dan objek bagaikan telur dalam keranjang dimana objek tidak akan keluar dari kesadaran mental objek. Di sini berarti kesadaran akan suatu objek berada dalam alam subjek yang sadar, menyebabkan ungkapan “dalam kesadaran saya..”. Ada pula yang menganggap subjek dan objek itu terpisah.  Objek itu berada di luar subjek, sebagimana yang Edmund Husserl katakan bahwa kesadaran selalu merupakan kesadaran akan sesuatu, itu artinya menyadari sesuatu yang ada di luar.

Bagaimanapun juga, setiap kesadaran berusaha untuk dapat menemukan ketepatan dan sebisa mungkin sesuai dengan objeknya, atau dapat disebut juga objektif. Ada beberapa klaim mengenai objektivitas kegaitan sadar, al:

  1. Yang pertama lekat sekali dengan teori realisme. Realisme meyakini bahwa subjek di sini dan objek ada di sana, maksudnya objek adalah realitas eksternal terhadap subjek. Objek dan subjek itu berbeda dan terpisah.
  2. Lalu ada lagi yang menekankan bahwa objek itu pasti bersifat fisik. Maksudnya supaya jelas bahwa objek itu sebagai realitas fisik di luar subjek, bukan karena hasil ciptaan kesadaran mental manusia.
  3. Kemudian yang satu ini ingin menunjukkan bahwa untuk menemukan kesadaran yang paling tepat sebagaimana adanya si objek dapat diperbincangkan secara terbuka. Subjek tidak hanya memihak dan memberi pendapat mengani objek namun dapat sama-sama memeriksa kembali kebenarannya.
  4. Terakhir, dikatakan bahwa rasio berperan penting untuk menemukan kesepakatan bahwa pengetahuan suatu objek itu benar.[1]

 BAB 3

Alam Bawah Sadar

  Kajian terhadap manusia dapat dibagi menjadi dua sisi; sisi jasmani (tubuh) dan sisi rohani  (jiwa). Hal yang berhubungan denngan sisi jasmani manusia akan dianalisa dalam ‘’ilmu kedokteran‘’, sedangkan segala sesuatu yang berhubungan dengan sisi rohaninya akan dianalisa dalam ‘’ ilmu jiwa’’

Akhir-akhir ini, berkaitan dengan masalah roh dan jiwa manusia, muncul sebuah ilmu yang itu merupakan suatu jenis psikologi, tetapi terdapat perbedaan yang cukup besar dengan psikologis dan ilmu jiwa yang ada pada masa lalu. Oleh karena itu, maka ilmu itu disebut dengan ‘’ psikoanalisa ‘’

Psikoanalisa adalah suatu jenis ilmu  (psikologis) yang berhubungan dengan ‘’alam bawah sadar’’ (jiwa tidak sadar)  manusia dan bukan dengan ‘’jiwa sadar’’. Perbedaan antara ‘’jiwa sadar’’ dengan ’’alam bawah sadar (jiwa tidak sadar )”: Jiwa sadar adalah berbagai bagian dari jiwa dan roh kita, yang kita dapat merasakan keberadaannya dan juga kita menyadari  akan keberadaanya,

–          Dua Ciri Alam bawah Sadar

Alam bawah sadar memiliki dua ciri-ciri khusus. Ciri-ciri pertama ialah menguasai ‘’jiwa sadar’’; ‘’alam bawah sadar’’ mengeluarkan sebuah perintah dan ‘’jiwa sadar’’ akan menerimanya. Dikarenakan hal inilah maka mereka mengatakan bahwa keduanya itu laksana sebuah pabrik besar, yang mesin penggerak  dan alat-alat produksi ini terletak di bawah tanah, dan yang ada di atas hanyalah, alat-alat yang berfungsi menyempurnakan hasil produksi itu.

Ciri-ciri kedua ialah selain peringat bahwa jiwa kita, (yakni) ‘’alam bawah sadar‘’ bertugas sebagai pemberi perintah, dan ‘’jiwa sadar’’ adalah penerima perintah; bagian ‘’alam bawah sadar’’ itu  jauh lebih luas dari bagian ‘’jiwa sadar’’, dan ‘’jiwa sadar’’  ini hanya berada pada bagian yang remeh dan ringan. Sedangkan bagian yang penting dan berat terletak di ‘’alam bawah sadar’’. Mereka membuat sebuah perumpaman bahwa jika buah semangka atau sebongkah es dilemparkan ke dalam air, maka sebagian kecil dari buah semangka  atau es itu akan muncul di permukaan air, sedangkan bagian yang lebih besar ada di dalam air. Mereka mengatakan bahwa sebagaimana bagian yang sedikit berada di permukaan air sedangkan bagian yang banyak tenggelam di dalam air, Jiwa kita pun semacam itu juga. Sedangkan besar dari jiwa kita ini tersembungyi, tidak kita ketahui dan tidak kita rasakan, dan hanya bagian kecil dari jiwa kita yang dapat kita ketahui serta kita rasakan keberadaanya.

 BAB 4

Kegiatan Mengetahui

Sebagaimana yang telah dijelaskan sebelumnya, mengetahui adalah salah satu dari kegiatan kesadaran. Mengetahui adalah tahap lanjutan dari menyadari. Mengetahui, agar sampai pada pengetahuan dalam pikiran seorang manusia, perlu melalui beberapa tahap.

Sebelumnya, ada pertanyaan yang patut dijawab terlebih dahulu. Selain menyadari dan mengetahui, masih ada kegiatan pikiran lainnya seperti memahami, menalar, meyakini, mempercayai, mengingat, memutuskan. Bagaimana dengan kegiatan-kegiatan itu? Mengapa di sini hanya membicarakan kesadaran dan mengetahui?

Kegitan-kegiatan lain dari pikiran semuanya berakar dari 2 gerbang tadi, menyadari dan mengetahui. Hal pertama pikiran adalah menyadari. Lalu, pada tahap-tahap tertentu, seperti yang akan dibahas selanjutnya, akan sampai pada kegiatan mengetahui. Dan dari mengetahui lah banyak kegiatan pikiran berkembang. Contohnya dari mengetahui sesuatu manusia akan mempercayai hal tersebut sebagai kebenaran. Adapun berikut ini akan dijelaskan tentang tahapan menuju pengetahuan.

Pada awal pembahasan dijabarkan tentang kesadaran. Lalu dijelaskan adanya dwikutub yaitu subjek dan objek. Orang menyadari sesuatu diusahakan sebisa mungkin tepat dengan objeknya. Itulah pengetahuan, pengetahuan adalah hasil dari kegiatan yang berusaha menemukan objek dengan tepat. Untuk memperolehnya, Surdaminta mengatakan bahwa ada 3 tahap.

–          Pengalaman Indrawi (sense perception)

Sebagai makhluk jasmani, manusia tidak pernah berhenti mealakukan kontak dengan materi-materi terindra. Baik melalui penglihatan, pendengaran, rabaan, penciuman maupun ketika mengecap. Dan dari pengindraan tak terhenti ini banyak hal masuk menuju pikiran dan mulai mengajak manusia untuk berpikir dan memunculkan ide. Yang paling semangat membahas bagian ini adalah kaum empiris, dan akan dijelaskan pada bab terakhir.

Dengan adanya indra, beraneka macam objek pengetahuan tersaji untuk si objek, dan mengasilkan pengalaman keindraan. Sudarminta mengatakan bahwa ada yang berupa ingatan, imajinasi, dan juga persepsi.

Pandangan yang terlalu berlebihan terjadi pada bagian ini, terutama di dunia barat. Ada kelompok yang amat mengagungkan pengalaman indra sampai menganggapnya sebagai awal dari segala pengetahuan, asal mula pengatahuan, titik awal dari segala objek bagi kesadaran mental. Ya, itulah empirisme dan sekarang berkembang menjadi positivisme.

Empirisme sendiri sudah mengalami perjalanan panjang sebagai salah satu dampak terjadinya sekularisasi pada masa Rennaissans. Sebagai reaksi dari pengekangan gereja, akhirnya sekulerisme terbentuk dan melahirkan empirisme yang berusaha menghindari hal-hal yang metafisik spiritual terutama yang berbau keagamaan dan ketuhanan.

Sebenarnya empirisme sudah banyak dikritik oleh banyak ilmuwan baik dari Barat sendiri maupun oleh ilmuwan-ilmuwan Islam. Diantaranya adalah Prof. M.T. Mishbah Yazdi, dia menindih empirisme dengan konsep ilmu huduri dalam bukunya Duku Daras Filsafat Islam.

–          Pemahaman (understanding)

Pada tahap kedua ini, pikiran merusaha memahami dari apa yang didapat dari pengindraan. Banyaknya pengalaman indrawi mengundang pikiran untuk mencoba memahaminya dalam suatu konsep tertentu, menjadi suatu struktur pengertian.

Menjabarkan, membuat konsep dan menstrukturkan adalah pekerjaan favorit akal. Posisinya di nomor dua  memberi isyarat seakan berpikir rasional adalah ekor dari pengalam indrawi.

Tahap ini jelas dibantah oleh kaum rasionalis karena bagi mereka akal yang pertama kali mengajak manusia untuk mencari pengetahuan sebelum pengalaman indrawi.

–          Penegasan Putusan (judgement)

Pada tahap puncak ini manusia sudah dapat member penilaian. Manusia dapat membenarkan lalu meyakininya, atau mungkin juga menyangkalnya. Setelah 2 tahap sebeulmnya, manusia juga dapat melakukan penalaran. Dan, bisa juga manusia pada bagian ini justru menemukan pertanyaan baru lagi.

Kurang lebih begitulah pandangan Surdaminto mengenai tahap-tahap mengetahui[2]. Dia melanjutkan bahwa kegiatan di atas terus berlansung sehingga pengetahuan pun terus berkembang. Semakin banyak, maka manusia ditintut untuk semakin cerdik mengolah pengetahuan sehingga dapat menemukan yang benar.

Namun Sudarminto tidak menyinggung sedikitpun tentang pandangan Islam. Islam memiliki pernyataan yang agak berbeda. Dalam Islam ada yang disebut dengan intuisi. Dalam memperoleh pengetahuan ada yang dapat langsung dengan satu tahap saja, yaitu langsung dari intuisi. Dimulai dari konsep subjek-objek yang menyatu, maka proses mengetahui pun menjadi tanpa perantara lagi dan langsung diperoleh pengetahuannya. Letaknya ada pada hati, jadi tanpa tahap apapun lagi sudah mendapatkan pengetahuan.

BAB 5

Asal Usul Ide

Dari mana kah ide itu berasal? Dan sejak kapan?

Pertanyaan di atas menjadi pertanyaan besar para filosof sejak ratusan abad lalu. Mereka mempertanyakan ini karena ingin menemukan secara radikal asal mula pikiran ini dapt bekerja. Setidaknya, apakah sesuatu yang membuat manusia terpikirkan untuk berpikir??

Jawabannya ada beragam, banyak filosof yang mencoba menjawab pernyataaan ini.

  1. Kaum Rasonalis

Kelompok ini meyakini bahwa gagasan adalah bawaan sejak lahir. Beberapa tokoh yang menyuarakan rasionalisme adalah Descartes, Spinoza, dan Leibiniz.

Konsep amat kukuh mengatakan bahwa pengetahuan berasal dari rasio, kekuatan akal. Bahkan katanya, pengetahuan berdasarkan indra itu lemah dan tidak memiliki nilai apapun. Plato juga menyinggung tentang kemampuan rasio. Pada bagian akhir akan saya kutip menganai teori Plato.

Muhammad Baqir Sadr menjelasakan tentang teori rasionalis dengan agak berbeda dalam bukunya Falsafatuna. Pertama, ia menjelaskan bahwa konsep itu ada dua sumber yaitu indra dan fitrah.

Fitrah lah yang dia tekankan dalam teorinya ini. Fitrah ia artikan sebagai akal masunia yang dapat memperoleh konse-konsep dan pengertian-pengertian tanpa menggunakan indra[3]. Dia mengatakan bahwa pemahaman memang dapat diperoleh dengan kekuatan indra , namun masih ada sumber lagi sebagai sumbernya yaitu konsepsi akal dan itu didorong oleh fitrah.

  1. Empirisme

Sebagaimana tahap mengetahui dimulai dari pengalawan indrawi, maka ada lah kamu empiris yang meyakini ide berawal saat manusia memperoleh pengalaman indrawi. Empirisme sangat berbeda dengan rasionalis, mereka justru mengatakan bahwa tidak ada yang dimilki oleh manusia ketika lahir di atas bumi ini. Salah satu tokohnya adalah John Locke, dia mengumpamakannya dengan tabula rasa, yaitu manusia lahir dalam kondisi bersih seperti kertas putih yang kosong. Lalu, karena manusia memperoleh pengalaman indra lah  sehingga memberikan coretan pada kertas itu yang berawal dari ide-ide.

Dikatakan lagi bahwa segala yang tidak dapat diindra adalah khyalan belaka dan tidak berguna. Ketika memperoleh sesuatu melalui indra lah yang dapat diyakini benar adanya, selain itu tidak.

Bila ada yang menyanggah bahwa empiris tidak dapat lepas sepenuhnya dari rasio, maka mereka membenarkan hal ini. Namun bagaimanapun juga, nilai rasional digunakan manusia setelah mendapat ide dari pengalaman indrawi, seperti pada tahapan mengetahui dalam penjabaran sebelumnya. Maka tetap saja pengalaman menang lebih dulu. Ini sangat dikenal sebagai bentuk pembelaan yang diajukan oleh John Locke.

  1. Intuitif

Tokoh yang amat dikenal di sini adalah Bergson. Baginya, pengetahuan berasal dari hati.

  1. Menurut Filosof Islam

Dari 3 pandangan di atas kita dapat lihat bahwa masing-masing meyakini hanya ada satu tahap untuk sampai pada pengetahuan. Kenapa hanya satu tahap? Mengapa harus menafikan yang lainnya?

Islam, ternyata  memiliki pandangannya sendiri tentang pengetahuan di sini. Walaupun pandangan tokoh-tokoh Islam beragam namun pada dasarnya Islam berbicara bahwa ketiga hal tersebut tidak perlu saling meruntuhkan, masing-masing memiliki peran.

Kita sudah tahu bahwa ada Suhrawardi yang bernuansa Pemikiran Plato, Ada Ibnu Sina yang kental dengan gaya Rasionalis, dan juga terdapat pembelaan Islam terhadap ilmu-ilmu empiric. Semua ini bukan menjadi pertetangan sengit dalam Islam. Justru Islam tidak memihak. Bukan Berarti Islam tidak memiliki pendirian, namun Islam mengenai pengetahuan sendiri memandang bahwa ada beragam tingkatan. Dan tingkatan tertinggi adalah ‘Irfan.

  • Epistemologi ‘Irfani

Dalam epistemologi irfan, pengetahuan tidak hanya berupa satu tahapan saja. Jumlahnya sangat banyak. Untuk mencapai pengetahuan ini perlu melewati beragam tingkatan hingga akhirnya ditinggkat tertinggi di peroleh ilmu huduri dimana hati adalah tahap dalam memeperoleh pengetahuan baginya. Jadi, memang secara garis besar dalam epistemologi irfan menggunakan tahap intuitif.

Namun, tidak semudah membalikkan tangan. Murtadha Muthahhari menyebut post tingkatan-tingkatan menuju ilmu huduri dengan Manzil (rumah). Untuk sampai pada tiap postnya, banyak sekali langkah-langkahnya. Langkah tersebut bukan teoritis seperti yang lain-lainya, namun bersifat praktis. Dan jumlahnya bila ditotal bisa mencapai ribuan.

  1. Teori Plato

Pambicaraan tentang ide dan gagasan sedari tadi adalah seputar awal dari segala pengetahuan, tahap yang pertama pada manusia sehingga manusia mulai mengisi pikirannya dengan pengetahuan. Saya rasa semua itu masih dapat dipahami dan tergambar dalam pikiran. Namun, kali ini ada teori tentang ide yang berbeda dari yang lain.

Tokoh utamanya bernama Plato. Sebenarnya masih sama tentang yang awal dari pengisi pikiran manusia, namun rupanya lebih non-materi. Palto meyakini bahwa manusia sebelum ber-badan sudah memilki realitas yang lebih sejati berupa jiwa yang memiliki ide. Lalu, manusia diselubungi oleh tubuh sehingga pengetahuan sebelumnya tertutup. Selanutnya, melalui indra manusia mulai mengingat kembali. Adapun pengetahuan rasional adalah pengetahuan yang tetap dan sudah ada di alam jiwa. Plato menyebutnya archeitypes. Jadi, apa yang dilakukan manusia sekarang di dunia ini adalah sekadar mengingat kembali apa yang sebenarnya sebelumnya sudah diketahui.

Namun, teori ini masih diperdebatkan, yaitu bagaimana bisa manusia bisa turun dari alam jiwa yang tinggi ke alam jasmani ini.

Kesimpulan

Berpikir adalah karakteristik manusia. Adapun objeknya diantara lain adalah alam indrawi. Namun, konsep berpikir banyak sekali pandangannya. Islam juga memiki pandangannya sendiri, yaitu berpikir adalah pekerjaan yang dilakukan oleh sesuatu yang mental dan non-materi. Alam bawah sadar adalah alam paling dasar yang menjadi komandan tertinggi dari segala kegiatan sadar manusia terutama kegiatan berpikir.

Selain itu, ada juga pandangan-pandangan tentang kesadaran yang akan berujung pada pandangan objektivisme dan subjektivisme. Dan lagi, ada peranakan dari objektivisme.

Pembicaraan tentang pengetahuan dapat dijabarkan dengan luas dan berketerusan tak jelas ujungnya. Namun ada satu hal lagi yang selalu ramai diperdebatkan yaitu bagaimana pengetahuan bisa diperoleh dan dianggap benar adanya. Dan juga,  apakah hal yang paling awal menjadi dasar pengetahuan manusia sampai bisa berkembang tak terhingga?

Pembahasan-pembahasan ini cukup bagus dan menarik untuk dibahas karena amat menentukan pada pembicaraan tentang pengetahuan selanjutnya secara spesifik. Namun, jangan sampai hanya terpaku pada pembicaraan ini karena pendalaman pengetahuan penting juga, selain memperluas pengetahuan sebagaimana yang sudah kita bicarakan di sini. Sehingga kitapun bisa memberi keputusan terhadap pengetahuan dan konsepnya yang paling tepat.

Daftar Pustaka

  1. Ash Shadr, Muhammad Baqir. Falsafatuna. Bandung: Penerbit Mizan. 1993.
  2. Mutahhari, Murtadha. Pengantar Epistemologi Islam. Jakarta: Shadra Press. 2010
  3. Muthahhari, Sayyid Murtadha. Pengantar Menuju Logika. Bangil: Yayasan Pesantren Islam. 1994.
  4. Sudarminta. Epistemologi Dasar. Yogyakarta: Penerbit Kanisius. 2002.

[1] Sudarminta, Epistemologi Dasar, Yogyakarta: Penerbit Kanisius, 2002. Hal 64.

[2] Sudarminta, Epistemologi Dasar, Yogyakarta: Penerbit Kanisius, 2002. Hal 65.

[3]  Baqir  Ash Shadr, Muhammad. Falasafatuna. Bandung: Penerbit Mizan. 1993. Hal 29.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s