Skeptisisme__

BAB II

PEMBAHASAN

 

Struktur pengetahuan itu ada tiga, yaitu skeptisisme, subjektivisme, dan relativisme. Ketiganya merupakan sarana mengenai pengetahuan ataupun klaim kebenaran. Dan pembahasan mengenai ini banyak diperdebatkan oleh para saintis dan filosof  karena merupakan paham pendapat mengenai pengetahuan, dimana pendapat antara satu saintis dan filosof  itu berbeda-beda. Jadi wajar kalau banyak perdebatan dan pengkoreksian.

Masalahnya ialah fakta tentang adanya kekeliruan ini telah menimpa para pakar dalam bidangnya, nah bagaimana dengan mereka yang awam?. Sungguh merupakan hal yang mengusik pikiran dan menimbulkan teka-teki.

Problem pengetahuan itu telah melahirkan banyak sekali aliran yang mengemukakan pendapat dan ajarannya mengenai pengetahuan, kebenaran dan kepastian. Pertumbuhan epistemologi dibentuk oleh terjadinya banyak konflik dan benturan teoretikal mengenai hal-hal tersebut[1]. Sudah menjadi keyakinan kita bersama bahwa salah satu topik kajian epistemologi adalah penyelidikan tentang hakikat dan ruang lingkup pengetahuan yang dimiliki manusia. Diungkapkan oleh J. Sudarminta bahwa salah satu alasan utama yang telah mengilhami para filsuf dalam menyelidiki hakikat dan ruang lingkup pengetahuan manusia adalah fakta adanya kekeliruan. Dan adanya fakta ini menjadikan resah dan teka-teki. Resah karena apakah kita masih dapat keliru setelah dengan sangat teliti mengerjakan sesuatu hal? Problema yang sangat miris terjadi dikehidupan para pakar adalah tidak sepakatnya dalam menentukan mana yang benar dan mana yang salah, yang betul dan yang keliru.[2]

II. 1. Skeptisisme

Skeptisisme merupakan aliran yang perlu untuk diperhatikan dengan cermat, karena skeptisisme adalah satu-satunya paham atau aliran yang secara radikal dan fundamental tidak mengakui atau meragukan atau menolak adanya kepastian dan kebenaran pengetahuan.

Istilah skeptisisme berasal dari bahasa Yunani “skeptomai” yang berarti memperhatikan dengan cermat, meneliti. Kemudian dari situ diturunkan arti yang biasa dihubungkan dengan kata tersebut yaitu “saya meragukan”. Para skeptis pada awalnya adalah orang-orang yang mengamati segala sesuatu dengan cermat serta mengadakan penelitian terhadapnya.[3]

Seringkali banyak kepercayaan yang dianggap benar, kemudian ternyata salah. Lalu apakah yang menjadikan kepercayaan itu benar atau salah? Apakah kita dapat merasa pasti bahwa kita telah mengungkapkan kebenaran? Apakah akal manusia dapat mengungkapkan atau menemukan pengetahuan yang benar?

Skeptisisme dapat juga diartikan sebagai pernyataan ragu-ragu. Dalam makna sempit, skeptisisme adalah pengingkaran tentang kemungkinan mengetahui. Sedangkan dalam makna luas, berarti sikap menunda pertimbangan sampai analisis yang kritis selesai dan bukti-bukti yang mungkin diperoleh.[4]

Sedangkan dalam buku Epistemologi Fundasional, Akhyar Y. Lubis mengatakan bahwa skepticism secara sederhana berarti pertimbangan, keraguan. Secara istilah berarti paham yang menyatakan ketidakmampuan untuk memperoleh kebenaran objektif  – akhir, final – sebuah ilmu pengetahuan.[5]

Ada beberapa macam skeptisisme di sini. Pertama, solipsisme ialah pandangan egosentrisme epistemologi yang berpendapat bahwa saya hanya tahu diri saya ada, tapi saya tidak mengetahui sesuatu pun di luar saya. Kedua, skeptisisme sensoris ialah sensasi atau persepsi bersifat relative tidak reliable. Sensasi hanya sebagian dan modifikasi dari objek yang diamati. Ketiga, skeptisisme rasional ialah keraguan yang disebabkan paradoks – zeno – atau antimoni – kant – pada kesimpulan dan argumen. Antimoni di sini berarti dua pernyataan yang bertentangan dan tidak dapat dibuktikan kebenarannya, misal pernyataan telur lebih dulu daripada ayam, atau ayam lebih dulu daripada telur. Ini semua bergantung kepada kepercayaan masing-masing. Keempat, skeptisisme metodologis ialah keraguan sistematis dan sementara yang tujuannya untuk menemukan pengetahuan dan fondasi pengetahuan yang kuat dan terpercaya – metode keraguan Descartes – dahulu.[6]

Di buku lain, disebutkan dua macam skeptisime yaitu skeptisisme mutlak atau universal dan skeptisisme nisbi atau partikular. Skeptisisme mutlak atau universal secara mutlak mengingkari kemungkinan manusia untuk tahu dan untuk memberi dasar pembenaran. Jenis skeptisisme yang mengingkari sama sekali kemampuan manusia untuk tahu dan meragukan semua jenis pengetahuan macam ini dalam prakteknya jarang diikuti orang, sebab dalam kenyataannya mustahil untuk dihayati. Dalam prakteknya pun jarang diikuti karena memang suatu posisi yang sulit dipertahankan. Posisi ini secara eksistensial bersifat kontradiktif dan berlawanan dengan fakta yang eviden – langsung tampak jelas dengan sendirinya –. Mengapa secara eksistensial bersifat kontradiktif? Karena, seperti sudah ditunjukkan oleh Socrates dalam wawancara polemisnya dengan kaum sofis. Seorang skeptisis secara implisit – dalam praktek – menegaskan kebenaran dari apa yang secara eksplisit – dalam teori – diingkarinya. Sedangkan skeptisisme nisbi atau partikular tidak meragukan segalanya secara menyeluruh. Varian ini hanya meragukan kemampuan manusia untuk tahu dengan pasti dan memberi dasar pembenaran yang tidak diragukan lagi untuk pengetahuan dalam bidang-bidang tertentu saja. Paham skeptisisme nisbi ini, walaupun tidak bersifat menggugurkan diri sendiri – self defeating – sebagaimana skeptisisme mutlak, namun biasanya dianut karena salah paham tentang ciri-ciri hakiki pengetahuan manusia dan kenenarannya.

II. 2. Subjektivisme

Dalam arti kamus, subjektivisme itu sangat menekankan unsur subjektif pengalaman individual. Sedangkan subjektif  berarti mengacu ke pikiran, ego, persepsi, putusan pribadi, kesadaran, bukan sumber-sumber objektif  luar.[7]

Akhyar mengatakan bahwa subjektisisme merupakan pandangan yang menekankan peran subjek dalam menghasilkan pengetahuan yang merupakan ide-ide dalam pikiran the knomer – orang yang mengetahui – karena tidak mungkin kita mengetahui sesuatu – objek, fenomena – di luar ide-ide tersebut.[8]

Dalam kacamata epistemologi, subjektivisme diartikan sebagai sumber dan keabsahannya pengetahuan tentang apapun yang dinyatakan objektif dan real secara eksternal ditentukan oleh the knower. Sehingga pengetahuan itu merupakan produk yang distruktur secara selektif dan diciptakan oleh the knower.

Banyak filsuf sesudah Descartes mengandaikan bahwa satu-satunya hal yang dapat kita ketahui dengan pasti adalah diri kita sendiri dan kegiatan kita yang kita sadari. Paling tidak, hal itulah yang secara langsung dapat kita ketahui. Sedangkan pengetahuan tentang “yang bukan aku” atau segala sesuatu di luar diri sendiri pantas untuk diragukan kebenarannya. Telah menjadi suatu ironi ketika usaha keras Descartes untuk menolak dan membantai skeptisisme malah mengakibatkan pembelokan ke arah subjektivisme dalam filsafat.

Subjektivisme adalah pandangan bahwa objek dan kualitas yang kita ketahui dengan perantaraan indera kita adalah tidak berdiri sendiri, lepas dari kesadaran kita terhadapnya. Realitas terdiri dari kesadaran serta keadaan kesadaran tersebut, walaupun tidak harus kesadaran kita dan akal kita.[9]

Dahulu subjektivisme merupakan anathema bagi Popper sebab melihat subjektivisme dalam dirinya mengandung benih-benih untuk mengarah kepada otoritarianisme, relativisme, dan irasionalisme. Padahal Popper sangat mengandalkan objektivitas dan rasionalitas.[10]

Untuk memiliki subjektivisme yang tinggi, diperlukan pendekatan sunjektivis. Ciri-cirinya yaitu:[11]

  1. Dapat menggagas pengetahuan sebagai suatu keadaan mental yang khusus atau semacam kepercayaan yang istimewa.
  2. Pengalaman subjektif kokoh terjamin secara istimewa sehingga cocok sebagai titik tolak atau dasar yang aman.
  3. Menganut prinsip subjektif tentang “alasan cukup” yaitu semacam pengalaman atau kepercayaan atau pendapat personal.
  4. Tidak hanya melalaikan perbedaan antara pengetahuan objektif dan pengetahuan subjektif, melainkan juga menerima, sadar, atau tak sadar bahwa pengetahuan objektif  yang bisa dibuktikan.

Dalam lingkaran epistemologis, subjektivisme berarti: teori bahwa seluruh pengetahuan mempunyai sumber dan keabsahannya dalam keadaan mental subjektif orang yang tahu – the knower –, pengetahuan tentang apapun yang objektif  atau real secara eksternal didasarkan pada penyimpulan dari keadaan mental subjektif  ini. Sedangkan segala sesuatu yang diketahui adalah produk yang distruktur secara selektif dan diciptakan oleh yang tahu. Tidak dapat dikatakan bahwa ada suatu dunia nyata secara eksternal yang berkorespondensi dengan yang tahu.[12]

Ada empat aturan pokok filsafat Descartes yang harus ditaati dalam metodenya, yaitu:[13]

  1. Intuisi dan evidensi
  2. Perincian atau pelarutan
  3. Pendeduksian
  4. Penginduksian

Aturan yang pertama yaitu intuisi dan evidensi, ia menyampaikan berbagai argumentasi, yakni:

  1. Tidak mau menerima begitu saja apa yang dianggap benar
  2. Berusaha menghindari ketergesa-gesaan atau praduga
  3. Hanya apa yang tersajikan secara jelas dan bernas dalam pikiran sajalah yang dapat diterima, karena tidak ada keraguan lagi
  4. Hal di atas hanya dapat dilakukan melalui intuisi: langsung, simpel, self-evident
  5. Itulah pengertian mutlak menurut Descartes bagi segala hal
  6. Pengertian yang jelas dan bernas/terpilah-pilah

Aturan yang kedua yaitu perincian dan pelarutan, yakni:

  1. Membagi-bagi persoalan yang diteliti menjadi bagian-bagian sebanyak mungkin
  2. Pengertian yang baru harus didasarkan pada pengertian yang telah lebih dahulu diketahui secara clear dan distinct
  3. Jadi, harus ada pertautan antara pengertian yang baru dan pengertian yang lebih dulu
  4. Intinya, pengertian-pengertian tersebut harus berjalin-kelindan

Aturan yang ketiga yaitu pendeduksian demi keruntutan berpikirnya Descartes memulai gerak laju pikirnya dari hal-hal sederhana dan mudah menuju hal-hal yang lebih kompleks dan relative. Dan dari yang simpel dan absolut ke makin kompleks. Jadi, bertahap dan berangsur-angsur umum ke khusus.

Aturan yang keempat yaitu penginduksian atau enumerasi yakni:

  1. Descartes tidak puas dengan aturan 1, 2, 3, melainkan malah mengontrolnya dengan aturan yang keempat
  2. Yakni dengan mengadakan pembilangan atau penyebutan pada setiap hal secara komprehensif dan meninjau kembali secara umum, sehingga muncul keyakinan bahwa tidak ada sesuatu hal yang terlewatkan
  3. Langkah ini menjadi “aspek induktif” metode Descartes dan menjadi semacam verifikasi yaitu pemeriksaan terakhir apakah pengetahuan yang clear dan distinct telah diperoleh

Ternyata pandangan subjektivisme – terutama pasca Descartes – menelurkan berbagai akibat cukup signifikan bagi dialektika selanjutnya.

Beberapa asumsi paradigma Cartesian-Newtonian. Ada 6 macam asumsi paradigma Cartesian-Newtonian yang dapat dilihat, yakni:

  1. Subjektivisme-Antroposentristik

Dalam hal ini, manusia dipandang sebagai pusat dunia. Descartes melalui pernyataanya cogito ergo sum, mencetuskan kesadaran subjek yang terarah pada dirinya sendiri, dan ini adalah basis ontologis terhadap eksistensi realitas eksternal di luar diri si subjek. Selain itu, subjektivisme ini juga tampak pada pandangan Francis Bacon mengenai dominasi manusia terhadap alam. Letak subjektivisme Newton ada pada ambisi manusia untuk menjelaskan seluruh fenomena alam raya melalui mekanika yang dirumuskan dalam formula matematika.

  1. Dialektika

Pandangan mengenai dualisme ini tampak pada pemikiran Descartes. Dalam hal ini, realitas dibagi menjadi subjek dan objek. Subjek ditempatkan sebagai yang superiortas atas objek. Dengan ini, manusia (subjek) dapat memahami dan mengupas realitas yang terbebas dari konstruksi mental manusia. Subjek pun dapat mengukur objek tanpa mempengaruhi dan tanpa dipengaruhi oleh objek. Paham dualisme ini kemudian mempunyai konsekuensi alamiah dimana seolah-olah “menghidupkan” subjek dan “mematikan” objek. Hal didasarkan pada pemahaman bahwa subjek itu hidup dan sadar, sedangkan objek itu berada secara diametral dengan subjek, sehingga objek haruslah mati dan tidak berkesadaran.

  1. Mekanistik – Deterministik

Alam raya dipandang sebagai sebuah mesin raksasa yang mati, tidak bernyawa dan statis. Malahan, segala sesuatu yang di luar kesadaran subjek lalu dianggap sebagai mesin yang bekerja menurut hokum matematika yang kuantitatif, termasuk tubuh manusia. Dalam pandangan mekanistik ini, realitas dianggap dapat dipahami dengan menganalisis dan memecah-mecahnya menjadi bagian-bagian kecil, lalu dijelaskan dengan pengukuran kuantitatif. Hasil dari penyelidikan terhadap bagian-bagian yang kecil itu lalu digeneralisir untuk keseluruhan. Dengan demikian, keseluruhan itu berarti sama atau identik dengan penjumlahan atas bagian-bagiannya. Pandangan yang deterministik juga tampak pada sikap dimana alam sepenuhnya itu dapat dijelaskan, diramal, dan dikontrol berdasarkan hukum-hukum yang deterministic – pasti – sedemikan rupa sehingga memperoleh kepastian yang setara dengan kepastian matematis. Dengan kata lain, masa depan suatu system, pada prinsipnya dapat diprediksi dari pengetahuan yang akurat terhadap kondisi system itu sekarang. Prinsip kausalitas pada dasarnya merupakan prinsip metafisis tentang hukum-hukum wujud. Determinisme ini juga didukung oleh Laplace. Ia mengatakan bahwa jika kita mengetahui posisi dan kecepatan setiap partikel di alam semesta, kita akan dapat atau sanggup memprediksi semua kejadian pada masa depan.

  1. Reduksionis

Dalam hal ini, alam semesta hanya dipandang sebagai mesin yang mati, tanpa makna simbolik dan kualitatif, tanpa nilai, tanpa cita rasa etis dan estetis. Paradigma ini memandang alam raya – termasuk di dalamnya realitas keseluruhan – tersusun dari balok-balok bangunan dasar materi yang terdiri dari atom-atom. Perbedaan antara materi yang satu dengan lainnya hanyalah soal beda kuantitas dan bobot. Selain itu, pandangan reduksionis ini berasumsi bahwa perilaku semua entitas ditentukan sepenuhnya oleh perilaku komponen-komponen terkecilnya. Pada jaman phytagoras maupun Plato, matematika itu mempunyai symbol kualitatif. Namun pada masa modern ini, matematika hanya dibatasi pada soal numerik-kuantitatif, unsur-unsur simbolik ditiadakan.

  1. Instrumentalisme

Focus pertanyaan di sini adalah menjawab soal “bagaimana” dan bukan “mengapa”. Newton bersikukuh dengan teori gravitasi karena ia sudah dapat merumuskannya secara matematis meskipun ia tidak tahu mengapa dan apa penyebab gravitasi itu. Yang lebih penting menurutnya adalah dapat mengukurnya, mengobservasinya, membuat prediksi-prediksi berdasarkan konsep itu, daripada soal menjelaskan gravitasi. Modus berpikir yang instrumentalistik ini tampak pada kecondongan bahwa kebenaran suatu pengetahuan atau sains itu diukur dari sejauh mana hal itu dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan atau kepentingan material dan praktis. Semuanya diarahkan pada penguasaan dan dominasi subjek manusia terhadap alam.

  1. Materialisme – Saintisme

Saintisme adalah pandangan yang menempatkan metode ilmiah eksperimental sebagai satu-satunya metode dan bahasa keilmuan yang universal sehingga segala pengetahuan yang tidak dapat diverifikasi oleh metode tersebut dianggap tidak bermakna. Pada Descartes, Tuhan itu bersifat instrumentalistik karena sebagai penjamin kesahihan pengetahuan subjek terhadap realitas eksternal. Pada Newton, Tuhan hanya diperlukan pada saat awal pencitpaan. Tuhan menciptakan partikel-partikel benda, kekuatan antar partikel, hukum gerak dasar, dan sesudah tercipta lalu alam ini terus bergerak seperti sebuah mesin ayng diatur oleh hukum-hukum deterministi. Bagi kaum materialis, pada prinsipnya setiap fenomena mental manusia dapat ditinjau dengan menggunakan hukum-hukum fisikal dan bahan-bahan mentah yang sama, yang mampu menjelaskan fotosintesis, nutrisi dan pertumbuhan.

II. 3. Relativisme

Dalam paham ini, individu menjadi ukuran segala hal. Protagoras merupakan tokoh relativisme epistemologis. Dan dia mengatakan bahwa relativisme epistemologi menyatakan kerelatifan nilai kebenaran pengetahuan, kebenaran relative terhadap subjek yang mengetahui, terhadap kelompok masyarakat dan paradigma tertentu.

Relativisme epistemologis merupakan suatu paham yang mengingkari adanya dan dapat diketahuinya kebenaran yang objektif dan universal oleh manusia. Sebaliknya, paham ini mengajarkan bahwa kebenaran yang ada dan yang dapat diketahui oleh manusia adalah kebenaran yang bersifat relative. Relative terhadap subjek yang bersangkutan, terhadap masyarakat dan budaya tertentu, terhadap paradigma yang dipakai, dan sebagainya.[14]

Bentuk relativisme yang terkait dengan kemajemukan budaya dan kemajemukan pandangan hidup dan berdasar pada kekhasan dan perbedaan yang terdapat dalam masyarakat ada tiga yaitu.[15]: Pertama, relativisme subjektif ialah kebenaran pengetahuan dipahami sebagai suatu yang relatif terhadap subjek yang bersangkutan. Contohnya, apa yang benar untuk si A, belum tentu benar untuk si B.

Kedua, relativisme budaya ialah menolak kebenaran objektif dan universal karena pengetahuan manusia selalu relatif terhadap kebudayaan tempat pengetahuan itu dikembangkan atau berasal yang selalu bersifat lokal, etnis, gender. Kriteria benar dan salah relatif terhadap kesepakatan – konsensus – social dalam masyarakat.

Ketiga, relativisme konseptual ialah benar dan salah tidak ada ukuran objektif dan universal, tergantung kepada kerangka konsep atau teori atau paradigma yang digunakan. Ini dianut oleh Wittgenstein, Hillary Putnam, dan Kuhn. Dan relativisme jenis ini mendasari relativisme budaya.

Lubis mengatakan bahwa kita tidak mungkin memahami realitas dari satu paradigma atau perspektif saja. Oleh sebab itu, berbagai paradigma diperlukan untuk semakin memahami makna realitas itu.

Cara mengatasi dua pendapat yang saling kontradiksi adalah mencari bukti yang lebih kuat atau rasional. Dan biasanya sebab dari adanya kontradiksi itu adalah adanya asumsi-asumsi yang salah – gagal untuk membedakan antara keyakinan semata dengan keyakinan yang benar – contohnya, ada pendapat bahwa bumi itu bulat dan diciptakan oleh tuhan. Kemudian pendapat lain mengatakan bumi datar dan terjadi secara sendirinya. Pendapat yang benar adalah pendapat yang kuat yaitu pendapat pertama.


[1] A. M. W. Pranarka, “Epistemologi Dasar: Suatu Pengantar”, (Jakarta: Yayasan Proklamasi CSIS, 1987), hlm 97.

[2] J. Sudarminta, “Epistemologi Dasar”, (Yogyakarta: Kanisius, 2002), hlm 46.

[3] Ibid., hlm 47.

[4] Titus, “Persoalan-persoalan Filsafat (terjemahan H.M. Rasjidi)”, (Jakarta: Bulan Bintang, 1984), hlm 251.

[5] Akhyar Yusuf Lubis, “Epistemologi Fundasional”, (Bogor: Akademia, 2009), cet. 1, hlm 66.

[6] Ibid., hlm 66-67.

[7] Lorens Bagus, “Kamus Filsafat”, (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2002), cet. 3, hlm 1067-1068.

[8] Akhyar Yusuf Lubis, “Epistemologi Fundasional”, (Bogor: Akademia, 2009), cet. 1, hlm 66.

[9] Titus, “Persoalan-persoalan Filsafat (terjemahan H.M. Rasjidi)”, (Jakarta: Bulan Bintang, 1984), hlm 218.

[10] Alfons Taryadi, “Epistemologi Pemecahan Masalah, Menurut Karl R. Popper”, (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 1991), cet. 2, hlm 92-93.

[11] Ibid., hlm 112-113.

[12] Lorens Bagus, “Kamus Filsafat”, (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2002), cet. 3, hlm ……

[13] Http://aliflukmanulhakim.wordpress.com/2008/09/07/skeptisisme-subjektivisme-dan-relativisme/

[14] J. Sudarminta, “Epistemologi Dasar”, (Yogyakarta: Kanisius, 2002), hlm 55.

[15] Akhyar Yusuf Lubis, “Epistemologi Fundasional”, (Bogor: Akademia, 2009), cet. 1, hlm 67-68.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s