“Aspek Apriori dalam Pengetahuan”

BAB I

1.1.                         Rasionalisme vs Empirisme[1]

knowledge_venn_diagramDalam membahas masalah a priori dan a posteriori, pastinya tidak terlepas dari dua aliran besar yang mempoengaruhinya, yakni rasionalis dan empiris.Teori-teori pengetahuan bila didasarkan menurut sifat teoristis dan historis dapat dikelompokkan menjadi dua aliran besar, yaitu rasionalisme dan empirisme. Rasionalisme meyakini bahwa sejumlah ide atau konsep adalah terlepas dari pengalaman dan bahwa kebenaran itu dapat diketahui hanya dengan nalar. Sementara empirisme berpendapat bahwa semua ide dan konsep berasal dari pengalaman dan bahwa kebenaran hanya dapat dibangun berdasarkan pengalaman.Baik raasionalisme maupun empirisme tidak saling  mempermasalahkan prinsip dasar pemikiran aliran satu sama lain. Masalahnya hanya sekitar pengetahuan multak (necessary)dan pengetahuan empiris.

  • Pengetahuan mutlak atau utama (a priori) adalah penegetahuan yang tidak didasarkan pengalaman, seperti kucing adalah hitam, yang secara mutlak benar menurut definisininya. Ini merupakan statemen analitik (atau secara umum dikatakan demikian, sebuah tautologi) penolakan terhadap kebenarannya dapat muncul dari kontradiksi
  • Pengetahuan empiris atau a posteriori adalah pengethuan yang bersal dari  atau tergantung pada pengalaman, seperti” meja-meja itu berwarna coklat” yang merupakan statemen sintetik. Berbeda dengan statemen analitik “kucing hitam adalah berwarna hitam” maka statemen sintetik “meja-meja itu berwarna cokelat “ adalah tidak benar terkecuali jika semua meja didefinisikan berwana coklat. Dan untuk membantah kebenarannya tidak akan muncul dari kontradiksi-diri. Hal itu akan kita temukan melalui penglaman.

Kemudian datanglah Kant yang mencoba untuk mensisntesiskan keduanya, karena menurutnya kita tidak bisa memperoleh pengetahuan hanya dari salah satu diatas, sehinga teori pengetahuannya dikenal dengan sintesis a priori

 

 

A priori

A posteriori

 

 

 

                                                    

 

 

 

 

 

  1. A.    David Hume dan pemikirannya[2]

Di karenakan nantinya Immanuel Kant telah dibangunkan oleh David Hume dan ia juga mengkritik apriori yang nantinya berhubungn dengan David Hume, oleh karena itu alangkah baiknya kami paparkan sedikit tentang David Hume dan pemikirannya.

David Hume adalah salah seorang filsuf empiris. bahkan bisa dibilang berkat Hume empiris inggris menjadi radikal. Ia menulis karya termasyhur A Treatise of Human Nature . karya yang terdiri dari tiga buku ini lama tidak mendapat kritik dari publik, sehingga mengecewakannya. Hume bahkan sempat merasa muak dengan filsafat dan berpaling ke sejarah dan politik. Bukunyadalam bidang ini adalah Essay,Moral and Political .Banyak orang menyalahpahami pandangan-pandangan hume, seolah-olah dia ingin menghancurkan filsafat. Sebetulnya ingin melangapi filsafat dengan sebuah metode ilmiah yang rigorus dan dalam usaha berani itu  dia mengambil sikap skeptis. Skeptis dasar dalam pikiran Hume dapat dilukiskan sebagai serangan terhadap tiga fron pemikiran

  • Pertama, Hume ingin melawan ajaran-ajaran rasionalistis tentang idea-idea bawaan serta anggapanya bahwa jagat terdiri dari sebuah keseluruhan  yang saling bertautan
  • Kedua, Hume menyerang pemikiran-pemikiran religius, entah dari katolik,Anglikan maupun dari para penganut deisme yang percaya bahwa Allahmembiakan alam semesta berjalan mekanis tanpa campur tangannya, agama masih mempercaya sebab tertinggi dan Hume melawan ide kaualitas
  • Ketiga, serangan diarahkan kepada empirisme sendiri yang masih percaya pada adanya substansi.
  1. B.     ‘Kritik akan Substansi’

Didalam rasionalisme diyakini adanya substansi material diluar diri kita, John Locke meskipun mempersoalkan pendekatan rasionalistis, tetep mengandaikan adanya substansi dengan membedakan antara substansi dan objek. Hume tidak setuju dengan pandangan tersebut,menurutnya yang bisa diketahui pikiran hanyalah persepsi dan bukan objek. Kita tidak tahu bagaimana kaitan antara persepsi dan objek-objek diluar diri kita. Bukti untuk itu juga tidak ditemukan secara empiris. selanjutnya Hume berusaha menjelaskan baghaimana berfikir bahwa substansi ada. Menurutnya pikiran mengamati ciri-ciri  yang senantiasa ada bersama-sama. Imajinasi lalu membuat kesatuan artifisial atas ciri-ciri itu dan pikiran pun mendapat kesan seakan-akan substansi itu ada. Misalnya kita menangkap ciri-ciri hitam, kasar,berat,padat yang selau ada bersama-sama sehingga pikiran menyimpulkan bahwa ‘batu ‘ yang memiliki ciri itu tetap ada. Menurut Hume, kesatuan ciri yang kemudian  disebut substansi  itu hanyalah fiksi belaka,khayal. Substansi hanayalah kumpulan persepsi belaka (a bundle of perceptions)

1.2.                         Masalah kausalitas

Baik dalam filsafat maupun agama, mereka meyakini ada nya hukum kausalitas yang terjadi di jagad raya ini. Agama memetafisikan kausalitas sebagai sebuah keyataan akhir yang disebut Allah, dan dalam filsfat menanganinya sebagai  masalah tentang dunia luar. Dalam konsep kausalitas diandaikan bahwa kalau ada peristiwa A tejadi lalu B terjadi disimpulkan bahwa ada hubungan niscaya antara A dan B. Hume berpendapat bahwa pendapat tentang hubungan niscaya itu tidak benar  dan didasarkan pada sebuah kebingungan belaka. Menurutnya , segala peristiwa yang bisa kita amati memilki hubungan tetap itu , tak boleh dianggap sebagai hubungan sebab-akibat. Dalam kasus kertas api menyala, menyentuh kertas, dan kemudian kertas terbakar (proper hoc) ,sebab kita ketahui hanyalah bahwa gejala yang satu menyusul  gejala yang lain, sedangkan kausalitas tidak dapat kita amati. Hume mengatakan bahwa konsep kausalitas hanyalah “ animal faith” (kepercayaan naif) kita belaka yang tidak punya dasar.

Dengan menyerang konsep kausalitas, ia juga sebananya mengkritik metode induksi yang dirintis sejak Francis Bacon. Metode ini didasarkan  pada pengamatan atas gejala khusus yang satu disusul oleh gejala khususyang lain, lalu disimpulkan adanya gejala kausalitas universal diantara keduanya. Karena suatu gejala muncul lagi dan lagi, lalu orang menyimpulkan bahwa gejala itu pasti bersifat umum dan suatu hukum alam dapat disimpulkan darinya. Induksi menurut Hume , juga didasarkan pada animal faith, karena orang mengambil kesimpulan gegabah dengan cara melompat dari  hal-hal khusus ke hal-hal yang umum. padahal dari penjumlahan bebrapa kasus khusus (betapapun banyaknya), kita tak bisa menyimpulkan suatu hukum umum yang mencakup semua kasus yang  ada dan mungkin ada. Karena itu pengetahuan tak akan pernah mencapai taraf keniscayaan. Paling-paling ilmu pengetahuan hanya berada pada taraf probabilitas.

BAB II

2.1. Immanuel Kant dan Pemikirannya

Immanuel Kant  (1724-1804) adalah salah seorang filsuf zaman pencerahan (abad ke 18) yang terkemuka. Pada abad ini ilmuwan/filsuf pada umumnya mendukung penerapan metode-metode ilmu alam (paradigma newtonian) untuk ilmu pengetahuan  dan intelektual.Umumya pemikiran pencerahan bebas dan cenderung anti agama. Pada tahun 1775 Kant menjadi dosen di universitas Koenisberg, kemudian menjadi profesor logika dan metafisika pada tahun 1770  di universitas yang sama.Melalui bukunya Critique of Pure Reason (1781), ia mencoba mengemukakan satu pemikiran yang tercerahi tentang ilmu pengetahuan.

Kant menolak posisi ekstrem empirisme dan rasionalisme dengan mencoba mengatasinya dengan menggabungkan keduanya, dan ia menyebutnya dengan “  idealisme transendental” . Kant menyatakan bahwa ilmu pengetahuan bersumber  dari pengalaman  (aposteriori) namun tidak dapat direduksi pada apa yang kita alami. Pengetahuan kita hanya mengenai penampakan/ fenomena (appearance) dan bukan mengenai realitas apa adanya (noumena) karena berdasarkan prinsip empiris tidak ada sesuatu yang dapat kita ketahui tanpa menglaminya. [3]

2.2.    Epistemologi immannuel Kant

David Hume telah membangunkan Kant dari tidur dogmatisnya,karena sebelumnya kant adalah seorang rasionalis yang soleh. Meskipun ia dipengaruhi oleh Hume , akan tetapi ia tidak menerima skeptisisme Hume, dengan menyatakan  bahwa kita dapat memperoleh pengetahuan yang pasti seperti yang dikemukakan kaum rasionalis. Kant menyatukan antara gagasan empirisme dan rasionalisme. Dengan demikian ia mengemukakan bahwa kita menangkap atau memahami objek, akan tetapi justru pengetahuan/ pemahaman itu merupakan konstruksi  atau hasil kerja subjek.

  1. A.    Uraian umun tentang filsafat Kant[4]

Buku terpenting kant adalah “ The Critique of Pure Reason” yang mana tujuan dari karya ini adalah untuk membuktikan bahwa kendati pengetahuan kita tak satupun yang mampu malampaui pengalaman, ia sebagian a priori (teoritik) dan tidak disimpulkan secara induktif dari pengalaman. Menurutnya, bagian pengetahuan kita yang a priori tidak hanya meliputi logika, namun juga banyak hal yang tidak dimasukkan kedalam logika atau disimpulkan darinya. Dia memisahkan dua pembedaan yang  dalam karya Leibniz, bercampur aduk. Di satu sisi, ada perbedaan antara proposisi analitik dan sintetik . Disisi lain ada pembedaan antara proposisi apriori dan empirik . ada yang mesti dijelaskan tentang masing-masing pembadaan ini.

Proposisi analitik adalah adalah yang prediketnya merupakan bagian dari subjek. Contoh : segitiga sama sisi adalah segitiga , pria yang tinggi adalah seorang pria. Proposisi seperti mengikuti hukum kontadiksi. Pendapat bahwa pria yang tinggi bukan seorang pria dengan sendirinya merupakan pendapat kontradiktif. Proposisi sintetik adalah yang tidak analitik. Semua proposisi yang hanya kita ketahui melalui pengalaman adalah sintetik. Dengan hanya menganalisa konsep kita bisa menemukan kebenaran , misalnya “Napolen adalah panglima besar”, namun Kant berbeda dengan Leibniz dan semua filsafat terdahulu , tidak akan mengakui yang sebaliknya, bahwa semua proposisi sintetik hanya diketahui melalui pengalaman.

Proposisi empirik (a posteriori) adalah yang tidak dapat diketahui kecuali dengan bantuan indera-persepsi, baik milik kita sendiri maupun milik orang lain yang kesaksiannya dapat kita terima. Fakta-fakta sejarah dan geografi termsuk dalam jenis ini, demikian pula dengan hukum ilmu pegetahuan, bila pengetahuan kita tentang kebenarannya bergantung pada data observasi. Disisi lain, sebuah proposisi a priori adalah yang dipandang ,manakala kita mengetahuinya ,memiliki basis selain dari pengalaman. Selanjutnya Hume membuktikan bahwa hukum sebab-akibat tidaklah analitik. Dan  menyimpulkan bahwa kita tidak bisa merasa pasti akan kebenarannya. Kant menerima pendapat bahwa hukum ini adalah sintesis, namun juga bersikukuh bahwa ia bisa a priori.

Bagaimana penelitian  sintesis yang a priori dimungkinkan ??

Jawaban tersebut beserta konsekuensinya merupakan tema utama dalam “ The Critique of Pure Reason “. Ruang dan waktu menurut Kant, bukanlah konsep, melainkan bentuk dari intuisi  ( dalam bahasa Jerman Anschauung / memandang). Namun ada pula konsep-konsep apriori, yakni dua belas kategori yang diperoleh Kant dari bentuk-bentuk silogisme. Kedua belas kategori tersebut dibagi menjadi empat bagian, yang masing-masing terdiri dari tiga ketegori:

  1. Kuantitas : kesatuan (unity), kemajemukan (plurality), keseluruhan (totality)
  2. Kualitas : realitas, negasi, limitasi
  3. Relasi : substansi& aksidensi, sebab-akibat, timbal-balik
  4. Modalitas : kemungkinan (possibility),keberadaan(existence), kepastian (nesessity)

Kemudian dijelaskan juga untuk menjawab hal itu Kant mulai dengan membedakan dua macam (Urteil).[5] Putusan analitis adalah putusan yang  prediketnya sudah terkandung dalam subjek, sehingga prediketnya hanya merupakan analitis atas subjek saja. Dan Putusan sintesis yakni putusan yang prediketnya tidak terkandung dalam subjek, sehingga preediketnya merupakan sebuah informasi baru. Putusan analitis bersifat apriori murni dan sintesis bersifat a posteriori . persoalan yang diajukan Kant di atas (Bagaimana penelitian  sintesis yang a priori dimungkinkan ) dimulai dulu dengan menjawab bagaimana pengetahuan a priori dimungkinkan??   Persolan yang dijukan Kant atas hal itu, bukanlah mengenai dua macam putusan itu; dengan putusan a priori yang dimaksudnya adalah pengetahun yang terkandung dalam putusan jenis ketiga yang disebutnya “sintesis  a priori “ putusan “ semua peristiwa  memiliki sebab “ besifat sintesis karena prediket (memiliki sebab)tidak termuat dalam subjek  (semua peristiwa)dan bukan analisis atasnya. Namun putusan itu sekaligus bersifat  apriori karena kita tak perlu menyelidiki segala peristiwa lebih dahulu sebelum menyimpulkannya.

Selanjutnya, bagaimana putusan a priori dimungkinkkan ??

Jenis Putusan

Definisi

Contoh

Putusan Analitis Prediket adalah analisis subjek belaka (a priori) Semua benda adalah keluasan
Putusan Sintesis Prediketnya adalah informasi baru (a psteriori) Semua benda itu berat
Putusan Sintesis

(a priori)

Prediket bukan analisis subjek, namun penginderaan tak perlu Semua peristiwa memiliki sebab.

Perlu diketahui bahwa Kant menemukan bahwa dalam beberpa cabang ilmu putusan itu  dipakai dengan berhasil, maka putusan itu mungkin. Misalnya dalam matematika, kalimat “5+2 =7” adalah tidak empiris sekaligus tidak analitis. Konsep 7 tidak terkandung dalam 5+2, bukan analisis atasnya. Kita sampai pada konsep 7 lewat intuisi. Jadi putusan tersebut bersifat sintesis sebagaimana contoh lain dalam buku Sudarminta[6]misalnya 7+5 adalah 12. Proposisi itu bersifat sintesis karena prediket angka 12 bukan merupakan suatu yang dengan sendirinya sudah terkandung dalam subjek (angka 7+5). Tidak ada analisis 7+5 dengan sendirinya  menghasilkann angka 12. Angka 12 misalnya dapat dihasilkan dari 8+4 atau 6+6, angka 12 baru bisa diperolah berdasarkan pengalaman menghitung . walau demikian kebenaran tersebut bersifat niscaya. Dan kebenaran yang bersifat niscaya tersebut bersifat apriori. Jadi contoh diatas merupakan putusan sintesis apriori yakni putusan yang  dihasilkan oleh penyelidikan akal terhadap bentuk-bentuk pengalamannya sendiri dan penggabungan unsur-unsur yang tidak saling bertumpu. Kant yakin bahwa sebagian besar kebenaran matematika bersifat semacam itu

Dalam geometri, putusan ‘ sebuah garis lurus diantara dua titik adalah terpendek’ bersifat sintesis, sebab konsep ‘terpendek’ yang merupakan kuantitas tidak terkandung dalam konsep ‘lurus’ yang merupakan kualitas, dan putusan itu juga a priori. Dalam fisika , putusan “ dalam semua perubahan materi, kuantitas materi tidak berubah “ bersifat sintesis. sebab konsep ‘tak berubah’ tak terkandung dalam konsep materi ; yang terkandung didalamnya adalah konsep ruang. Putusan itu juga apriori, sebab berlaku universal dan tidak empiris. jadi dalam ilmu pengetahuan putusan sintesis a priori itu mungkin .

 

 

 

No

Jenis putusan

Sifat

1 Analitis
  • Bersifat  a priori
  • Prediketnya terkandung di dalam subjek
  • Prediket hanya analisis atas subjek
  • Memuat kebenaran logis yakni : secara niscaya memang benar namun tetapi tidak memberi informasi kepada kita tentag dunia.
  • Analitis adalah hasil analisa
2 Sintesis
  • Hampir semuanya bersifat a posteriori
  • Prediketnya tidak terkandung didalam subjek
  • Bisa diketahui melalui pengalaman
  • Memuat kebenaran faktual yakni : memberi informasi  baru kepada kita tentag dunia, namun tidak pernah benar secara niscaya
  • Sintesis merupakan hasil keadaan yang mempersatukan  dua hal yang biasanya terpisah.

 

BAB III

3.1. Aspek Apriori Pengetahuan Menurut Kant [7]

Dalam kajian epistemologis Kant , kegiatan mengetahui suatu objek merupakan suatu kegiatan aktif subjek untuk mengetahui sesuatu dengan memekai kategori-kategori pemikiran yang bersif apriori. Kant sangat menekankan peran aktif subjek penahu dalam kegiatan manusia mengetahui. Subjek bukan dipahami sebagai sebagai penonton pasif yang hanya mencatat apa yang digoreskan dlam pikiran oleh objek dan kemudian melaporkan kembali sebagimana adanya, tetapi ia mengkostitusikan atau membentuk objek sendiri  sebagaimana dikatahui.

Seluruh unsur formal atau struktur dalam objek berasal dari subjek atau pikiran manusia. dibandingkan dengan para pemikir sebelumnya, pendapat Kant ini dapat dikatakan bersifat revolusioner. Ia sendiri menyebutnya dengan  sebagi suatu “revolusi kopernikan “ dalam filsafat. Sebagaimana Kopernikus membalikkan pendapat yang sebelumnya berlaku dalam astronomi dengan menyatakan bahwa bukan matahari mengelilingi bumi, tetapi bumi mengelilingi matahari , demikian juga Kant mengatakan bahwa bukan subjek yang tergantung pada objek, tapi objek tergantung pada subjek. Objek sejauh menempakkan diri (fenomenon) dan sejauh diketahui , distrukturkan oleh subjek. Objek sebagaimana adanya atau “ benda dlam dirinya sendiri “ (noumena) dan yang melulu merupakan “bahan mentah” bagi pengetahuan dan tidak dapat diketahui.

Kant menganggap pembalikan  ( yang asalnya dari objek ke subjek menjadi dari subjek ke objek, dari peran dominan objek dalam menentakan pikiran ke peran dominan subjek dalam menentuka objek) ini merupkan jalan satu-satunya untuk menjamin kebenaran. Kebenaran bagianya adalah kesesuaian objek dengan pikiran. Ia menyebut posisi epistemologisnya sebagai suatu bentuk “ realisme empiris” (bagi kita benda adalah sebagaimana mereka menampakkan diri kepada kita  ) dan sekaligus “idealisme transendental” (benda-benda sebagaimana diketahui, bagi kita,dikonstitusikan oleh pikiran kita).

Dengan kata lain, pikiran kita sebagaimana subjek memang tidak mencipta objek pada dirinya, tetapi objek sebagimana kita ketahui,distrukturkan  secara a priori oleh pikiran kita. Bagi Kant semua unsur formal atau struktural dalam objek yang diketahui , datang dari struktur pikiran. Sedangkan semua unsur material merupakan sesuatu yang pada dirinya tak dapat diketahui, unsur-unsur formal yang secara a priori berasal dari  struktur pikiran, bagi Kant  merupakan suatu syarat yang bersifat niscaya bagi dimungkinkannya pengalaman kognitif. Dengan demikian, stuktur a priori itu sendiri tidak pernah dialami pada dirinya dan juga tidak berasal dari pengalaman. Dalam rumusan Kant setiap unsur dalam kegiatan mengetahui muncul bersama pengalaman , tetapi tidak setiap unsur  didalamnya berasal dari pengalaman. Unsur-unsur formal muncul bersama pengalaman , karena sebagai syarat-syarat bagi dimungkinkannya pengalaman akan objek, unsur-unsur itu terberi  sebagai terpenuhi dalam pengalaman; tetapi unsur-unsur formal tersebut tidak berasal dari pengalman, karena persis merupakan syarat-syarat bagi dimungkinkannya pengalmaan. Oleh karenya bagi Kant , semua unsur formal atau struktural dalam kegiatan manusia mengetahui bersifat  a priori.

Selanjutnya dalam buku Sudarminta dijelaskan bahwa dalam kegiatan mengetahui adanya dua aspek yang tak dapat direduksikan ke satu sama lain, yakni aspek yang secara hakiki bersifat aktif dan aspek yang secara hakiki bersifat pasif atau reseptif. Aspe yang aktif ini disebut pengertian (understanding) sedangkan yang pasif ia sebut indera (sense) . indera kita yang bersifat reseptif terhadap rangsangan dari luar, menurut Kant memiliki struktur atau unsur formal yang bersifat a priori, yakni struktur ruang dan waktu. Dengan kata lain pikiran kita , melalui kemapuan inderawi , menata pelbagai macam sajian inderawi di bawah kerangka ruang dan waktu. Hasilnya adalah intuisi inderawi dari objek fisik yang bersifat spasio-temporal atau berada dalam ruang dan waktu. Kant mamahaminya sebagai intusi karena objek yang tersaji begitu adalah suatu yang bersufat partikular (ini-disini-sekarang). Penangkapan kita atas struktur atau bentuk a priori ruang dan waktu juga merupakan suatu intuisi , karena bentuk-bentuk itu sendiri juga bersifat partikular.

3.2. Sintesis a priori dalam metafisika

Jika kami bandingkan pembahasan masalah” aspek a priori pengetahuan menurut imanuel Kant” dalam buku Sudarminta dengan pembahsan “estetika transendental, analitika transendental dan dialektika transendental” dalam buku filsafat modern karya Budi Hardiman, saya pikir tidak jauh beda , dan pembahasan dalam buku Budi Hardiman dengan tema diatas justru masuk dalam pembahsan “aspek a priori pengetahuan menurut imanuel Kant” oleh karena itu kami membahas hal tersebut dalam kajian sintesis a priori dalam metafisika karya Budi Hardiman .

Masih berkaitan dengan masalah sintesis a priori yang telah dirumuskan oleh Immanuel Kant  sebelumnya, namun kali ini ia mempermaslahkan masalah metafisika. Bagaimana dengan metafisika?? Menurut Kant , kalau metafisika mau menjadi ilmu pengetahuan,ia harus memiliki putusan sintesis a priori . kalau kepada matematikadan fisika, Kant hanya bertanya “ bagaimana kedua ilmu itu mungkin? Kepada metafisika  dia bertanya “ bagaimana dan apakah metafisika itu mungkin sebagai ilmu ?

Ia berusaha menjawab dalam buku Kritik der reinen Vernunth, buku ini dibagai  dalam dua bagiam , namun disini akan dijelaskan bagian pertamanya saja. Bagian pertama memuat ajarannya mengenai unsur-unsur apriori pengetahuan. Dan bagian ini dibagi dua sub-bagian,  dalam sub bagian yang disebut ‘estetika transendental’ Kant menjelaskan bentuk-bentuk a priori dari pengeinderaan dan bagaimana matematika itu mungkin. Sub bab kedua ‘logika transendental’  yang dibagi dua lagi yakni , analitika tansendental yang mmebahas kategori-kategori a priori dan bagaimana fisika itu mungkin dan dialektika transendental, disini ia akan menjelaskan revolusi kopernikan. Dan bagian kedua membahas metode transendental.

  1. Unsur-unsur Apriori Pengetahuan                        Estetika Transedental

Logika Transendental

  • Analitika Transendental
  • Dialetika Transendental
  1. Metode Transendental
  1. A.    Estetika Transendental : Pengetahuan pada Taraf Indera[8]

Kant menerima pandangan para filsuf empiris inggris bahwa pengetahuan berhubungan dengan pengalaman inderawi, tetapi menurut Kant, tidak seluruh pengetahuan berasal dari pengalaman. Bagaimana kita berhubungan dnegan objek di luar diri kita?? Jawab Kant dalam ‘estetika transensdental’ adalah melalui intuisi langsung, tetapi lalu Kant menambahkan bahwa intuisi kita mangandaikan bahwa kita dipengaruhi objek dengan cara tertentu. Kemampun subjek untuk menerima representasi objek disebut “sensibilitas” atau “kemampuan mengindrawi”. Jadi intuisi manusia adalah” intuisi indrawi”. Efek sebuah objek pada kemampuan representasi  atau pikiran (Gemut ) sejauh dipengaruhinya disebut  penginderaan (Empfindung ). objek penginderaan disebutnya penampakan (Ercscheinung) .

Namun,Kant menolak anggapan empirisme bahwa penginderaan bersifat murni a posteriori. menurutnya ada dua unsur dalam penampakan objek, yaitu unsur materi ( materia) dan unsur bentuk (forma ). Unsur materi adalah sesuatu yang berhubungan dengan (isi) penginderaan itu, sedangkan forma adalah sesuatu yang memungkinkan berbagai penampakan itu tersusun dalam hubungn-hubungan tertentu. Jadi forma merupakan unsur  a priori dari  penginderaan sedangkan materi merupakan unsur aposteriori. Kant mengatakan ada dua forma murni pengindraan, yakni : Ruang (Raum ) dan waktu (Zeit).

Manurut Kant “penampakan objek” bukanlah “objek”. Objek diluar kita itu tidak kita ketahui , dengan istilah Kant “ das Ding an sich”  (benda pada dirinya) tidak kita ketahui. Yang kita tangkap sebagai penampakan itu sudah ada merupakan sintesis antara efek objek pada subjek dan unsur a priori,yakni forma ruang dan waku yang sudah ada pada subjek .lalu Kant juga membedakan antara ‘penginderaan eksternal’ yakni persepsi atas objek dari luar diri kita, dan ’pengindraan internal’ yakni persepsi atas keadaaan-keadaan internal kita. Forma ruang adalah bentuk penampakan  dari penginderaan internal sedang forma waktu adalah penginderaan internal itu . dengan mengatakan bahwa uang dan waktu bersifat a priori, Kant tidak memaksudkan bahwa keduanya tidak real. Pembahsan msalah ruang dan waktu agarlebih jelasnya, akan sedikit kami bahas setelah ini.

Selanjutnya, dalam estetika transendental ini, Kant juga membuktikan kesahihan matematika sebagi ilmu. Alasannya bahwa matematika itu mungkin , menurut Kant adalah karena matematika bersifat sintesis a priori dan runag dan waktu bersifat a priori. Dalam putusan  “ segitiga adalah bentuk yang tersusun dari tiga garis lurus, prediketnya (bentuk yang tersusun dari tiga garis lurus) adalah hasil konstruksi a priori, sebab kita tak bisa membangun segitiga pada dirinya. Di lain pihak, prediket itu tidak sekedar analisis atas subjek, sebab ruang adalah “ penginderaan eksternal”, hasil persepsi atass objek dari luar. Dalam arti ini , matematika bersifat sinesis a priori dan karenanya juga matematika mungkin sebagai ilmu. Menurut Kant , matematika bukanlah ilmu analitis murni.

Seperti yang sempat kami  singgung sebelumnya, yakni mengenai masalah ruang dan waktu, oleh karena itu kami sedikit akan membahsnya yang mana telah kami kutip dari buku Russel tentang hal itu.

  1. B.     Teori Kant tentang ruang dan waktu

Menjelaskan teori Kant tentang ruang dan waktu tentu tidak mudah , karena teori ini tidak jelas. Teori ini disajikan dalam The Critique of Pure Reason dan dalam Prolegomena , penkelasan dalam karya kedua lebih mudah dipahami dibanding Critique.

Ruang dan waktu adalah bentuk apriori yang berada pada lapisan pertama yang memungkinkan pengamatan berlangsung. Apapun yang kita tangkap sebagai hasil pengamatan selalu kita tangkap sebagai eksistensi (ada) selalu berada dalam ruang dan waktu. Ruang dan waktu bukanlah sesuatu yang ada diluar kita (subjek atau sesuatu yang ada dalam dunia eksternal) melainkan cara apriori daya inderawi menangkap/ memahami segala sesuatu objek eksternal itu sebagai sesuatu yang mempunyai ruang dan waktu

Kant berpendapat bahwa obyek persepsi langsung sebagian disebabkan karena aparatus persepsi kita sendiri. Locke telah memperknalkan dunia  dengan gagasan bahwa kualitas sekunder (warna,suara, aroma dll) adalah subjektif dan tidak tergolong kedalam objek, sedangkan Kant seperti halnya Berkeley dan Hume meski tidak dengan cara yang serupa, melangkah lebih jauhh dan membuat kualitas-kualitas primer juga menjadi subjektif. Kant acapkali tidak mempertanyakan  bahwa sensasi kita memiliki sebab,yang dia sebut “ sesuatu-dalam-dirinya-sendiri-“ atau “nomena”.

Apa yang mengemuka dalam persepsi kita yang dia sebut fenomena terdiri dari dua  bagian : yang diakibatkan oleh objeknya, yang disebut sensasi dan yang disebabkan oleh aparatus subjektif kita yang katanya menyebabkan beraneka macam hal yang menjadi  tertata dalam hubunan tertentu, bagian kedua ini disebut fenomena. Bagian ini dengan sendirinya bukanlah sensasi dan karena itu tidak bergantung pada kejadian sekitar; ia selalu sama karena kita membawanya kemana-mana  dan ia bersifat  a priori dalam arti tidak tergantung pada pengalaman. Bentuk murni dari dari sensabilitas disebut “ intuisi murni” (Anschaung ) ada dua bentuk, yakni ruang dan waktu , yang satu untuk indera luar dan yang satu lagi untuk dalam.

Untuk membuktikan bahwa ruang dan waktu merupakan bentuk apriori, kant memiliki dua kelompok argumen: yang pertama metafisis yang kedua epistemologis atau sebagaimana ia menyebutnya transendental. Kelompok argumen pertama diambil langsung dari sifat ruangan waktu, kelompok kedua dari posibilitas ,matematika murni. Argumen-argumen tentang ruang diberikan secara lebih penuh ketimbang tentang waktu. Karena diyakini bahwa yang kedua pada dasarnya sama dengan yang pertama.

Ada empat argumen metafisis mengenai ruang :

  • Ruang bukanlah konsep empirik yang diabstraksikan dari pengalaman luar, karena ruang dimisalkan keberadaannya dengan merujuk  pada sesuatu yang eksternal,dan pengalaman eksternal hanya dimungkinkan  melalui kahadiran ruang.
  • Ruang merupakan kehadiran apriori mutlak, yang mendasari semua persepsi eksternal,karena kita tidak dapat membayangkan tentang ketiadaan ruang, kendati kita dapat membayangkan bahwa dalam ruang itu tidak ada apa pun.
  • Ruang tidaklah diskursif dan bukan konsep umum mengenai hubungan benda secara umum, karena yang ada hanyalah satu ruang ,sedangkan yang selama ini kita sebut ruangan hanyalah bagian-bagiannya, bukan keutuhannya.
  • Ruang tersaji sebagai ukuran besar yang tak terhingga, yang melingkupi seluruh bagian ruang; hubungan ini berbeda dengan hubungan antara konsep dengan contohnya, dan kerana itu ruang bukan konsep, melainkan intuisi (Anschauung)

Argumen-argumen tentang waktu pada dasarnya sama,kecuali bahwa aritmetika menggantikan geometri dengan pernyataan bahwa penghitungan membutuhkan waktu. Selanjutkan dalam kaitannya dnegan waktu terdapat kesulitan yang cukup besar lantaran masuknya hukum kausalitas . saya mengindera kilat sebelum aya mengindera guntur; sesuatu A memicu persepsi saya tentang kilat, dan sesuatu B memicu persepsi saya tentang guntur, namun A tidak mendahului B, karena waktu hanya eksis dalam kaitannya dengan persep (objek persepsi). Lantas mengapa dua benda nis-masa A dan B menghasilkan efek waktu yang berbeda?? Efek ini tentu berubah-ubah jika Kant memang benar, dan tentunya tidak ada hubungan antara A dan B yang menyerupai fakta bahwa persepsi yang ditimbulkan oleh A lebih awal dibanding yan ditimbulkan oleh B.

  1. C.    Analitika Transendental : Pengetahuan pada Taraf Intelek

Dalam analitika transendental, Kant menjelaskan bagaimana data-indrawi itu menjadi pengetahuan. Menurut Kant , dalam diri subjek terdapat dua kemampuan, yakni untuk menerima data-indrawi dan untuk membentuk konsep. Kemampuan menginderai sudah disebut sebagai sensibilitas. Lalu Kant menyebut kemampuan untuk menghsilkan konsep sebagai pemahaman, atau dengan istilah Kant “Verstand” hubungan kedua kemampuan ini erat sekali. Tanpa sensibilitas objek tak dapat masuk dlam subjek, dan tanpa akal objek tak dapat dipikirkan. Disini pun jelas bagaimana Kant mendamaikan empirisme dan rasionalisme. Sementara rasionalisme memutlakkan rasio dan empirisme memutlakkan sensibilitas, Kant memperlihatkan bagaimana pengetahuan merupakan sintesis keduanya.

Selanjutnya pembahsan berlanjut ke masalah  asas-asas akal budi, yakni logika. Logika disini bukanlah logika formal yang mengabstraksi objek-objek sampai lepas dari isi empirisnya, melainkan “ logika transendental” yang meskipun sama a priorinya ,namun tetap menjaga kaitannya dengan objek empiris. dengan kata lain , logika tansendental memusatkan diri pada asas-asas a priori pikiran kita atas objek sejauh menentukan pemahaman kita, dan bukan pada asas-asas a priori yang lepas dari objek. Logika transendental inilah yang menurut Kant merupakan forma a priori dalam akal budi.

Bagaimana unsur a priori dalam akal budi ini melakukan tugasnya??

Dalam putusan ,terjadi sintesis

antara data-data Indrawi dan

unsur-unsur a priori akal budi.

Kant mengatakan bahwa kegiatan intelek tampil dalam putusan. Intelek itu sendiri  tak lain adalah kemampuan untuk membuat putusan (urteilbildung). Berfikir adalah membuat putusan. Dalam putusan (sebagaimana digambarkan di atas ) terjadi sintesis antara data-data indrawi  dan unsur-unsur a priori akal budi. Yang mana unsur-unsur akal budi itu  ia sebut “ kategori-kategori”. Tanpa sintesis itu, kita bisa mnegindrai penampakan, tapi tidak mengetahuinya. Dengan kata lain kategori-kategori itu merupakan syarat  a priori pengetahuan kita. Kant lalu  menyebutkan adanya 12 kategori yang berkaitan dengan 12 macam putusan. (Walau di awal pembahasan sudah diberikan 12 kategori,namun disini dengan 12 macam putusan)

No JENIS PUTUSAN KATEGORI
  1. KUANTITAS
  2. KUANTITAS
1 Universal Kesatuan
2  Partikular Pluralitas
3  Singular Totalitas
  1. KUALITAS
  2. KUALITAS
4 Afirmatif Realitas
5 Negatif Negasi /penyangkalan
6 Tak Terbatas Pembatasan
  1. RELASI
C. RELASI
7 Kategoris Substansi
8 Hipotesis Penyebab/kausalitas
9 Disjungtif/memisah Komunitas
  1. MODALITAS
D.MODALITAS
10 Problematis Kemungkinan
11 Assertoris Eksistensi
12 Apodiktis Keniscayaan

Kategori –kategori tersebut merupakan syarat a priori yang memungkinkan suatu keputusan tentang objek. Keputusan “ Socrates adalah seorang Yunani “ , misalnya diperoleh karena benak kita menyediakan kategori partiklular dan universal.[9] Socrates (partikular) diputuskan sebagai bagian dari bangsa Yunani (Universal). Keputusan “ Air apabila dipanaskan pada suhu 100 C mendidih” hanya  mungkin apabila fakultas pemahaman memaksakan kategori kausalitas kepada elemen-elemen pengalaman. Manusia memang tidak bisa memastikan universalitas dan keniscayaan dari relasi kausalitas (setiap air apabila dipanaskan 100 C niscaya mendidih ) dari pengalaman-penglaaman yang sifatnya “kini dan disini”. Namun manusia tidak bisa menyangkal bahwa ia selalu mengalami objek dalam relasi kausalitas , sehingga menurut Kant kategori kausalitas harus dimiliki secara a priori  oleh fakultas pemahaman sebagai syarat keabsahan suatu keputusan.

Dan dengan menegaskan adanya kategori-kategori itu, Kant menunjuk keshihan matematika sebagai ilmu. Fisika itu mungkin, karena sebab dan akibat  merupakan kategori intelek. Alam yang diteliti sebagai objek fisika merupakan proses yang kompleks yang bisa kita ketahui  sesudah kategori kausalitas dalam subjek menatanya. Lalu kita mengenali adanya hukum-hukum alam. Hukum-hukum ini  disatu pihak dimasukkan oleh subjek (kategori kausalitas) kedalam gejala-gejala ilmiah itu, sekaligus merupakan hukum objektif, sebeb memungkinkan pengalaman akan alam. Disini fisika juga menghasilkan sintesis dan a priori.

  1. E.     Dialektika Transendental : Pengetahuan pada Taraf Rasio

Dalam dialektika transendental, Kant membedakan rasio (Vernunth) dari akal budi (Verstand ). Istilah “Vernunth” ini mengacu pada kemampuan lain yang lebih tinggi daripada intelek. Rasio ini menghasilkan ide-ide transendental yang tidak bisa memperluas pengetahuan  kita tetapi memiliki fungsi mengatur (regulatif) putusan-putusan kita kedalam sebuah argumentasi. Sementara intelek langsung berkaitan dengan penampakan, rasio berkaitan,  secara tidk langsung , yakni dengan mediasi intelek.

 

Rasio  menerima  konsep-konsep dan putusan-

Putusan akal-budi untuk menemukan kesatuan

Dalam terang asas    yang lebih tinggi.

Misalnya putusan  :

Semua binatang itu bisa mati

Manusia adalah binatang

Manusia bisa mati.→ silogisme

Putusan ketiga yang dihasilkan silogisme itu dihasilkan dari dua putusan lain dan merupakan kesatuan dari keduanya. Putusan ketiga itu tidak langsung berdasarkan penampakan. dalam hal ini rasio mengsahakan kesatuan yang makin besar, makin menuju kepada akhir yang tidak dikondisikan atau murni. Kant menyebutkan ada tiga tipe kesimpulan silogisme yang mungkin, yaitu : kesimpulan kategoris,hipotesis dan disjunktif. Ketiganya berkaitan dengan dengan tiga kategori akal-budi y.ang diterangkan di atas, yaitu : substansi, kausalitas dan komunitas . ketiga kesimpulan itu berkaitan dengan tiga macam kesatuan tanpa syarat yang merupakan postulat(dalil) dari rasio. Ketiga macam kesatuan akhir itu menjadi asumsi terakhir yang mutlak, maka hanya dipostulatkan (tanpa syarat), ketiganya disebut “idea-idea rasio murni”, yakni :

  • Idea pertama, menjadi kesatuan akhir dalam pengalaman subjek (kesadaran/cogito) dalam hubungannya dengan dirinya sendiri dan disebut ‘Idea Jiwa’
  • Idea kedua, menjamin kesatuan akhir dalam hubungan-hubungan kausal dalam penampakan objek  dan disebut ‘Idea Dunia’
  • Idea ketiga, menjamin kesatuan akhir dari segala sesuatu yang dapat dipikirkan, entah yang tampak atau tidak, dan disebut ‘Idea Allah’

Kemudian ketiga rasio murni itu mendasri tiga cabang pokok metafisika menurut klasifikasi Wolff.

  • Jiwa atau cogito menjadi objek penelitian  psikolgi (psychologia rationalis)
  • Seluruh penampakan objek menjadi objek penelitian kosmologi (cosmologia rationalis)
  • Kenyataan terakhir menjadi objek penelitian teologi (theologia transcendentalis)

 

Sekarang , pertanyaan yang pernah di ajukan di awal, “ apakah dan bagaimanakah metafisika itu mungkin sebagai ilmu pengetahuan” ??

Jawaban atas pertanyaan itu sudah implisit dalam penjelasan diatas. Idea-idea rasio murni itu  tidak langsung berhubungan dengan objek empiris, maka tidak memberi kita pengetahuan tentang objek. Ketiganya tidak memiliki fungsi konstitutif (penetapan pengetahuan tentang kenyataan), melainkan regulatif (mengtur putusan-putusan). Karena tidak berfungsi konstitutif seperti akal budi, idea-ide itu idak dapt memperluas pengetahuan kita. Kalau metafisika ingin menjadi ilmu pengetahuan , dia tentu memiliki objek-objek yang berhubungan dengan idea-idea transendental, tetapi tidak ada objek-objek pengalamantentang ketiganya. Dengan demikian metafisika tidak mungkin sebagai ilmu pengetahuan.

Sebagaimana disebutkan juga dalam buku Dony Gahral Adian, bahwa filsafat Kant adalah filsafat yang menolak klaim metafisika ats pengetahuan tentang semesta dibalik penampakan. kant menyatakan bahwa metafisika sebelumnya bersifat dogmatis, karena mengklaim pengetahuan tentang objek  sebagimana adanya tanpa melekukan kritik pemdahuluan terhadap kemampuan yang dimilikinya, oleh karena itu Kant mengembangkan suatu filsafat transendental yang menyelidiki cara benak manusia memahami objek atau fakultas-fakultas dalam benak manusia.

3.3. Aspek Apriori Pengetahuan Menurut Lonergan [10]

Dalam buku insight , Lonergan juga mencoba memberi perhatian yang wajar pada aspek apriori pengetahuan. Sebagaimana Kant berusaha mnetapkan kategori pengertian(akal-budi) melalui suatu “ deduksi transendental “ demikkian juga Lonergan mengambil langkah yang sama. Walaupun demikian , Lonergan mencoba mendeduksikan syarat-syarat a priori bagi dimungkinkannya putusan fakta daripada syarat-syarat bagi dimungkinkannya pengetahuan kita tentang objek fisik. Lonergan bertanya tentang apa yang membuat tindak pengenalan seperti itu  (membuat kepuusan fakta) dapat dilakukan; sedangkan Kant bertanya tentang apa yang membuat pengetahuan akan objek itu mungkin. Karena pertanyaanya berbeda, maka tak mengherankan kalau hasilnya berbeda.

Aspek a priori pengetahuan bagi Lonergan bukan suatu perangkat struktur atau bentuk penginderaan atau seperangkat kategori pengertian , tetapi struktur imanen dari intelegensia manusia sendiri. Dengan demikian,aspek a priorinya dapat mengartikulasikan  apa yang secara kabur apa yang sudah dikemukakan oleh Thomas Aquinas “ apapun yang diterima , diterima dengan cara penerimaan atau kemampuan “. Caa penerimaan atau kemampuana itu diuraikan sebagai struktur tetap dan tak berubah (invariant) dari kegiatan mengetahui objek apapun, yaitu persentasi data, pemahaman, dan penegasan keputusan.

Lonergan membuat perbandingan  antara deduksi yang ia buat dan yang dibuat oleh Kant yaitu :

  • Kant mencoba mendeduksikan syrat-syarat yang memungkinkan sesuatu menjadi objek pengetahuan. Lonergan mencoba mendeduksikan syarat-syarat bagi dimungkinkannya kegiatan menegaskan putusan fakta.
  • Kant secara tajam membedakan fenomena dan noumenon, sedangkan Lonergan membedakan antara “benda-benda bagi kita” dan benda-benda-pada-dirinya”
  • Kant secara khusus menaruh perhatian  pada putusan  yang bersifat niscaya (yakni sintesis a priori), sedangkan  Lonergan secara khusus menaruh perhatiannya pada putusan fakta, karena putusan macam itu menambah  pengetahuan kita tentang dunia.
  • Kant mendasarkan penegsan putusan secara langusung pada skematisme dari kategori-kategori, Lonergan mendasarkan pada penangkapan oleh pikiran apa yang pada prinsipnya tak bersyarat.
  • Pada tatanan pengalaman , Kant hanya mengenal kesadaran empiris. maksudnya kesadaran yang menyertai kegiatan mempersepsi,membayangkan ,menegaskan putusan dll.ia mendeduksikan kesatuan dari apa yang dicerap indra (yakni : saya berfikir) sebagai suatu syarat a priori  dari apa yang memungkinkan semua pengenalan. Sedangkan Lonergan mengenali bahwa pada tataran pengalaman, pikiran bersifat polimorfik (berbentuk banyak) artinya tidak hanya sadar akan apa yang secara empiris terberi, tetapi juga akan kegiatan memahamo dan merefleksikan yang menghasilkan, baik semua konsep dan sistem maupun semua penangkapan tentang apa yang pada prinsipnya tak bersyarat. Mengenal

BAB IV

4.1.                         Realisme Moderat Dalam Bingkai Konseptual

Aposteriori  ini berdasarkan pengalaman langsung melalui inderawi untuk mencapai pengetahuan.

Data-data yang ditemui indera itu sendiri lebih satu per satu, contohnya yaitu seseorang melihat batu, dan dia langsung mengkonsepkan bahwa batu itu agak halus lewat dari pegangan tangannya, dan berwarna hitam lewat dari penglihatan dia, bentuk lonjong leawat dari penglihatan juga, terus dia mengayunkan batu tersebut agak berat, dan dia melemparnya bunyinya lumayan terdengar di pendengarannya. Ini yang disebut pengalaman inderawi.

Disini David Hume dengan Immanuel Kant berbeda pemahamannya, menurut Kant pengalaman itu berdasarkan sebab dan akibat, sedangkan Hume pengalaman itu berdasarkan yang dilihat secara langsung melalui inderawi.[11]

David Hume juga mengatakan tentang substansi, kekekalan jiwa, dan diri merupakan ide-ide yang tidak absah dan itu didapati dari atas inderawi. Aposteriori yang menurut Hume juga melalui pengamatan faktual

Data inderawi itu diambil dari proses akal dan budi disebut pengetahuan. Eksistensi benda itu harus dipertahankan dahulu keberadaannya dari materi, bentuk, dan data inderawinya maupun kategorinya.

Menurut John Locke ide itu berdasarkan pengalaman, dan ide manusia itu terbagi menjadi dua yaitu ide sederhana dan ide kompleks. Ide sederhana adalah ide yang secara langsung kita peroleh dari pengamatan.Contohnya api kalau disentuh panas. Sedangkan ide kompleks adalah refleksi terhadap ide sederhana tersebut sehingga kita mampu membentuk pengetahuan tentang dunia.Contohnya besi kalau dipanaskan memuai.

Konseptualisasi selalu memuat proses abstraksi sebagai kegiatan pengayaan. Pandangan yang abstraksi itupula sebagai pengayaan pengalaman. Pertama, abstraksi itu menuntut lebih sekedar penyajian data inderawi.[12]

Abstraksi melibatkan peran wawasan pikiran dengan menyikapkan apa yang berarti, relavan dan penting dalam data yang tersaji. Jika tidak relavan diabaikan. Abstraksi melalui data yang terindera terus disingkapi oleh wawasan pikiran .

Konseptual ini berdasarkan makna. Bingkai konseptual ini adalah titik pandang atau perspektif dalam mengalami, memahami, dan bersikap terhadap realitas. Perspektif ini ditentukan oleh matriks konseptual.

Matriks konseptual ini digunakan untuk menata pengalaman dan mengarah tanggapan terhadap dunia. Matriks konseptual ini juga bisa dari tulisan maupun lisan. Tulisan dan lisan ini berdasarkan bingkai konseptual linguistik.

Bingkai konseptual linguistik ini merupakan dari hasil perkembangan budaya dan sejarah yaitu merupakan nilai-nilai sekelompok orang atau bangsa pula (etos bangsa)

Perspektif dalam memandang dan memahami kenyataan ada konsep peranan dalam mengetahui. Bingkai konseptual ini terkait dengan kegiatan mengetahui.

Hume menolak argumentasi Locke dari adanya ide yang merupakan representasi.Namun didalam buku Hume yang An Enquiry Concerning Human Understanding. Disini ia menjelaskan bahwa representasi itu adanya hubungan sebab akibat dari contoh baso, baso ini dari presepsi kualitasnya seperti warna,bau, berat, dan lain sebagainya, namun tidak pernah terpresepsi “ data tersembunyi” yang membuat perut Anto kenyang, karena setiap ia memakan baso pasti kenyang perutnya, ini mencerminkan hubungan sebab-akibat.

Pengetahuan tentang dunia maupun seluruh kenyataan yang kita hadapi selau hanya bisa kita kenali dan ketahui secara perspektif yang ditentukan oleh bidang konseptual yang kita miliki dan pakai, maka baik proses  maupun hasil pengetahuan  kita selalu tergantung pada bingkai konseptual kita miliki dan kita pakai pula.

Menurut Aristoteles, pengenalan inderawi memberi pengetahuan tentang hal-hal yang kongkrit dari suatu benda. [13]Kegiatan mengetahui ini terkait dengan pengalaman, kekaguman atau keheranan akan apa yang di alami. Tidak akan ada pemahaman kalau sebelumnya tidak ada sesuatu yang dialami secara inderawi atau tersaji untuk dipahami.

John Locke dalam bukunya yang berjudul “Essax Concerning Human Understanding” bahwa pengetahuan di dapat dari pengalaman inderawi. Tanpa mata tidak ada warna, tanpa telinga tak bunyi, dan sebagainya. Pengalaman inderawi ini bertatapan dengan dunia fisiklah yang bisa menulis sesuatu didalamnya, seperti tak ada sesuatu pikiran manusia yang tidak sebelumnya  sudah dialami secara inderawi.Melalui pengalaman inderawi itu pelbagai gagasan masuk dalam pikiran kita.

Melalui kerja inderawi, gambaran perseptual suatu objek fisik  terterakan dalam pikiran manusia. Konsep merupakan hasil abstraksi pikiran manusia dari objek yang dialami secara inderawi sebagai representasi umum dan abstrak.[14]

Kelemahan dari teori abstraksi realisme moderat ini karena dari konsep-konsep  berdasarkan Aristoteles selaku kaum realisme moderat yang telah mengabaikan dimensi apriori,hal-hal yang penting yang dibahas, dan secara inderawi termasuk dalam hal tersebut, hanya saja karena ia termasuk kaum realisme moderat ini dari abstraksi juga butuh wawasan pikiran bukan data inderawi saja,dan mengingatkan seakan-akan objekdengan pikiran itu tiruan nyata dari objek real yang salah,karena daya jadi mereduksi (dibatasi

Penutup

Membicarakan masalah aspek pengetahuan a priori merupakan hal yang cukup penting dalam mengkonsepsikan  ilmu pengetahuan, dimana bangunan pengetahuan terpengaruh diantara dua aliran besar, yakni rasionalis dan empiris. mereka adalah dua aliran besar yang sangat berpengaruh. Rasionalis dengan kekeh dengan putusan a priori dan Empiris dengan putusan a postetetiori nya. Dan disinilah peran besar Immmanuel Kant dalam mensinteiskan kedua putusan tersebut menjadi sintesis a priori. selain itu, menurutnya ilmu pengetahuan tidak bisa terpisah antara rasional dan empiris, tidak bisa kita mengindera tanpa akal begitu juga sebaliknya. Jadi kita tidak bisa mengandalkan rasio saja, maupun akal saja.

Immanuel Kant juga terkenal dengan “revolusi copernican” karena sebagaimana copernikus yang pernah merubah posisi astronomi dengan menyatakan bahwa bukan matahari yang mengelilingi bumi, tapi sebaliknya bumilah yang mengelilingi matahari. Oleh karena itu dalam filosof Kant, bukan subjek yang tergantung pada objek, tapi objeklah yang tergantung pada subjek, sehinggi hal ini cukup mempengaruhi dalam ‘aspek a priori pengetahuan ‘ Immanuel Kant. Kemudian di dlam makalah ini dijelaskan juga pembuktian sintesis a priori dalam pengetahuan, misalnya dalam matematika, fisika dll, sedangkan metafisika tidak dapat di katakan sebagai pengetahuan , disertai dengan berbagai alasan Kant terhadap hal itu . dan juga berkaiatan dengan 12 kategori Kant. Yang mana katgori tersebut pada dasrnya sudah ada pada diri manusia dan digunakan dalam mempersepsikan secara objektif suatu objek.Kemudian dalam buku Sudarminta , tidak hanya ada teori a priori Kant saja, namun ada juga dari Lonergann dan didalmnya juga diperbandingkan dengan Kant

Selanjutnya, masuk ke dalam pembahasn abstraksi ,realisme moderat dan bingkai konsep. Dalam abstraksi, yang mana ia melibatkan peran wawasan pikiran dengan menyikapkan apa yang berarti, relavan dan penting dalam data yang tersaji. Jika tidak relavan diabaikan. Abstraksi melalui data yang terindera terus disingkapi oleh wawasan pikiran. Dan berdasarkan realisme moderat itu yang menunjukan ke abstraksi itu juga berdasarkan ontologis.

Konsep merupakan hasil abstraksi pikiran manusia dari objek yang dialami secara inderawi sebagai representasi umum dan abstrak dan melalui itu konsep ini mempunyai bingkai konseptual, bingkai konseptual ini adalah titik pandang atau perspektif dalam mengalami, memahami, dan bersikap terhadap realitas. Perspektif ini ditentukan oleh matriks konseptual.

Pengetahuan tentang dunia maupun seluruh kenyataan yang kita hadapi selau hanya bisa kita kenali dan ketahui secara perspektif yang ditentukan oleh bidang konseptual yang kita miliki dan pakai, maka baik proses  maupun hasil pengetahuan  kita selalu tergantung pada bingkai konseptual kita miliki dan kita pakai pula.Matriks konseptual ini digunakan untuk menata pengalaman dan mengarah tanggapan terhadap dunia. Matriks konseptual ini juga bisa dari tulisan maupun lisan. Tulisan dan lisan ini berdasarkan bingkai konseptual linguistik.

Hal itu semua , baik a priori, a posteriori sampai bingkap konseptual merupakan konstruksi penting dalam pembangunan ilmu pengetahuan.kita bisa membuat konsep sampai memutuskan keputusan dari hal-hal di atas. Selain itu,  Dengan pemahaman kita akan hal itu maka kita bisa memiliki proses /analisa yang lebih tepat dalam memandang suatu objek. Tidak hanya sekedar memandang objek saja seperti yang selama ini kita lakukan.

Daftar Pustaka

Adian, Dony Gahral  “ menyoal objektivisme ilmu pengetahuan : dari David Hume sampai Thomas Kuhn” . Jakarta .Teraju . 2002

Sudarminta, Jujun “ epistemologi dasar: pengantar filsafat pengetauan.Yogyakarta .Kanisius 2002

Hardiman,  F. Budi “ Filsafat Modern: dari Machievelli sampai Neitche “ Jakarta . Gramedia Pustaka Utama

Yusuf Lubis, Akhyar  “ epistemologi fundasional : isu-isu teori pengetahuan, filsafat ilmu pengetahuan dan metodologi “ Akademia, Bogor 2009

Russell, Bertrant .  “ sejarah filsafat barat: kaitannya dengan kondisi sosial-politik dari zaman kuno hingga sekarang “ pustaka pelajar. 2002

D Hunex ,Milton ” peta filsafat islam : pendekatan kronologis dan tematis “ . Jakarta. Teraju . 2004

 

 


[1] Milton D Hunex ,” peta filsafat islam : pendekatan kronologis dan tematis

[2] F.Budi Hardiman “ Filsafat Modern: dari Machievelli sampai Neitche “ hal 85-89

[3] Dr . Akhyar yusuf lubis “ epistemologi fundasional : isu-isu teori pengetahuan, filsafat ilmu pengetahuan dan metodologi “ Akademia, Bogor 2009

[4] Bertrand Russell.  “ sejarah filsafat barat: kaitannya dengan kondisi sosial-politik dari zaman kuno hingga sekarang “ hal 920-924

[5] F. Budi Hardiman “ Filsafat Modern: dari Machievelli sampai Neitche “ hal134

[6] J.Sudarminta “ epistemologi dasar: pengantar filsafat pengetauan” hal 105

[7] J.Sudarminta “ epistemologi dasar: pengantar filsafat pengetauan” hal 111-112

[8] F. Budi Hardiman “ Filsafat Modern: dari Machievelli sampai Neitche .hal 137

[9] Dony Gahral Adian “ menyoal objektivisme ilmu pengetahuan : dari David Hume sampai Thomas Kuhn” hal 61

[10] [10] J.Sudarminta “ epistemologi dasar: pengantar filsafat pengetauan hal 114

[11] Donny Gahral Adian, Pengantar Filsafat Ilmu Pengetahuan. Hlm. 52

[12] J.Sudarminta, Epistemologi dasar. Hlm. 109

[14] makalah-ibnu.blogspot.com/2009/10/empirismejohnlocke.html

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s