‘Abu al-Futuh Yahya bin Habasy bin ‘Amirak as-Suhrawardi al-Kurdi__ “Suhrawardi”

BAB I

PENDAHULUAN

 

I.1. Latar Belakang

ali_shahLatar belakang pembuatan makalah ini adalah untuk mendeskripsikan sejarah perjalanan filsafat Suhrawardi, yang mana Suhrawardi adalah seorang Sufi yang mensintesiskan dua pendekatan burhani dan ‘irfani dalam sebuah sistem pemikiran yang solid dan holistik. Dalam aliran iluminasionis, memberikan ruang bagi intuitif dan bahkan menjadi bahan utama dalam proses penalaran social. Dalam pencarian kebenaran, Suhrawardi membagi dalam pemcarian kebenaran:

1) Mereka yang memiliki pengalaman mistik yang mendalam -seperti para sufi- tetapi tidak mempunyai kemampuan untuk mengungkapkan pengalaman itu secara diskursif.

(2) Meraka yang memiliki nalar diskursif tetapi tidak memiliki pengalaman mistik yang cukup mendalam. Pengalaman mistik sangatlah penting untuk mengenal secara langsung realitas sejati sehingga tidak hanya bersandar pada otoritas  masa lalu saja, seperti yang dapat ditemukan pada para filosof peripatetik, dan (3) yang terakhir adalah mereka yang disamping memiliki pengalaman mistik yang mendalam dan otentik, juga memiliki kemampuan nalar dan bahasa diskursif, seperti yang terjadi pada diri Plato dan Suhrawardi pada masanya.

Illuminasionis dan pemikiranya, yaitu aliran filsafat Islam yang didirikan oleh Suhrawardi al-Maqtul, sebuah mazhab baru dalam filsafat yang berbeda dengan mazhab Paripatetik. Sebagai salah satu aliran filsafat, filsafat Iluminasi tentu memiliki beberapa karakteristik yang membedakanya dengan aliran-aliran yang lain, ditinjau dari sudut metodologis, ontologis, dan kosmologis.

Berbeda dengan aliran Paripatetik, yang lebih menekankan penalaran rasional sebagai metode berpikir dan pencarian kebenaran, filsafat illuminasionis mencoba memberikan tempat yang penting bagi metode intuitif (‘Irfani), sebagai pendamping bagi penalaran rasional. Suhrawardi mencoba mensintesiskan dua pendekatan ini, burhani dan ‘Irfani dalam sebuah sistem pemikiran yang solid dan holistik[1].

Gagasan tentang suatu Illuminasionis dalam pikiran, yang merupakan inti aliran Illuminasionisme telah berkembang dalam sejarah, baik dalam konteks filosofis maupun keagamaan. Seringkali aliran ini membangun salah satu kaitan diantara kedua tipe pemikiran ini. Seringkali pula ia membawa nuansa keagamaan bahkan dalam penerapan-penerapanya yang lebih filosofis. Aliran ini dipercaya dimulai oleh Plato, meskipun deskripsi yang lebih akurat menunjukkan bahwa aliran ini sesungguhnya telah lahir jauh lebih dini dari itu, yakni dalam masa-masa Sokratik dan pra-Sokratik. Para filosof Israqiyyah berbicara tentang suatu kaitan-mendadak dalam bentuk pemahaman atau ilham dalam pikiran sebagai suatu arus cahaya. Dalam sejarah filsafat Islam perkembangan ini menemukan bentuk-khasnya dalam Israqiyyah Suhrawardi[2].

Namun dalam titik berat makalah ini adalah sejarah berdirinya aliran ini dan sejarah tokoh pendirinya yaitu Suhrawardi al-Maqtul, biografi dan jalan hidupnya, latar belakang dan juga aliran-aliran yang mempengaruhi pemikirannya.

BAB II

PEMBAHASAN

 1.      Suhrawardi

1.1.             Latar Belakang Pra-Suhrawardi

Filsafat parepatetik – yang telah mencapai puncak kesempurnaannya bersama Ibn Sina dan yang disebarluaskan setelahnya oleh sejumlah murid-nya yang handal, diantaranya bahmanyar dan Abu al-‘Abbad al-Lukari – telah dikeritik sejak kelahirannya oleh para ahli hukum (fiqih) dan kaum Sufi yang menentang kecenderunagan rasionalisme yang inheren dalam filsafat Aristoteles[3].

Ditambah lagi serangan pemikiran dari Al-Ghazali, membuat filsafat itu sendiri mengalami degradasi didalam dunia Islam, Al-Ghazali adalah seorang ahli hukum dan teolog yang memahami filsafat dengan baik, dan pada titik yang sama, kejatuhanya pada keraguan religius telah mengantarkan pada sufiisme untuk mengobati penyakit spiritualnya. Disana ia menemukan kepastian dan penyelamatan tertinggi. Akibatnya, dengan seluruh karunia pengetahuan yang niscaya, kefasihan dan pengalamannya, ia mulai meruntuhkan kekuasaan rasionalisme dalam masyarakat Islam. Untuk tujuan ini pertama-tama ia merangkum filsafat Peripatetik dalam karyanya Maqashid al-Falasihfah (Tujuan-Tujuan para Filosof) yang merupakan salah satu rangkuman terbaik tentang Filsafat Paripatetik, dan kemudian dilanjutkan dengan menyerang dasar-dasar pandangan para filosof yang bertentangan dengan ajaran-ajaran wahyu Islam, didalam karya terkenalnya yaitu Tahafut al-Falasifah (kerancuan para Filosof)[4].

Dengan kemunculan al-Ghazali, Filsafat Paripatetik mulai surut di kawasan Timur Islam dan beralih ke Barat, Andalusia, tempat serangkaian filosof terkenal – Ibnu Bajjah, Ibnu Tufail dan Ibnu Rusyd – membangunnya dari abad keabad. Ibnu Rusyd, sang kampiun besar filsafat Aristotelian murni dalam Islam dan komentator sejati (par excellence) tulisan-tulisan para filosof Stagira pada periode pertengahan, berusaha membalas serangan al-Ghazali dalam karyanya Tahafut al-Tahafut (kerancuan buku Al-Tahafut). Tapi pembelaanya tidak banyak memberikan pengaruh dalam dunia Islam dan justru di Baratlah ia didengar[5].

Meskipun filsafat mengalami degradasi didalam dunia islam akibat serangan-serangan kaum teolog, namun tetap saja para pemikir-pemikir islam masih tetap eksis dan memberikan andil didalam kemajuan peradaban Islam. Sehingga terlahirlah pemikiran baru didalam filsafat yang mengkolaburasikan antara pemikiran filsafat dan mistisisme tasawuf.  Adalah Suhrawardi al-Maqtul seorang filosof muslim yang memperkenalkan aliran baru tersebut didalam filsafat, yaitu aliran yang terkenal dengan nama Iluminasionisme (Isyraqiyah).

Sebagai pengantar menuju pemaparan hikmah, dalam karyanya Al-Talwihat, dia menjelaskan bahwa kaum paripatetik pada zamanya telah gagal memahami maksud pendirinya, Aristoteles, “Guru pertama dan Ahli Hikmah”. Konon, Aristoteles mendatangi Suhrawardi dalam sebuah mimpi. Pada saat itu, Suhrawardi terlibat diskusi denganya mengenai watak pengetahuan, hubungan dan kesatuan, atau kedudukan para filosof Islam dan tokoh-tokoh sufi yang telah mencapai derajat “pengetahuan konkret dan hubungan Visual”. Mereka ini adalah para Filosof dan guru sufi sejati[6].

1.2.             Suhrawardi: Biografi dan Jalan Kehidupanya

Nama lengkap Suhrawardi ialah ‘Abu al-Futuh Yahya bin Habasy bin ‘Amirak as-Suhrawardi al-Kurdi, lahir pada tahun 549 H./ 1153 M., di Suhraward, sebuah kampung dikawasan Jibal, Iran Barat Laut didekat Zanjan. Ia memiliki sejumlah gelar: Syaikh al-‘Isyraq; Master of Illuminasionist; al-Hakim; asy-Syahid; The Martyr, dan al-Maqtul. Akan tetapi Suhrawardi lebih terkenal dengan sebutan al-Maqtul. Penyebutan al-Maqtul dibelakang namanya, terkait dengan proses meninggalnya.  Disamping itu, al-Maqtul ialah gelar yang membedakan dari dua tokoh tasawuf yang memiliki nama serupa, yakni Suhrawardi; pertama, ‘Abd al-Qohir Abu Najib as-Suhrawardi (w. 563 H./ 1168 M) ia adalah murid dari Ahmad Ghazali (adik imam Ghazali). Ia merupakan pemuka mistisisme yang menulis kitab ‘Adab al-Muridin (moralitas santri); kedua, adalah Abu Hafs ‘Umar Shihab ad-Din as-Suhrawardi al-Baghdadi (1145-1234). Dia adalah keponakan dan sekaligus murid dari Abu Najib Suhrawardi. Dia adalah pengarang kitrab ‘Awarif al-Ma’arif[7].

Pada umumnya, para filosof atau sufi, gemar menuntut ilmu dengan cara mengembara, merantau untuk memperdalam ilmu dan menambah pengalamannya. Di usianya yang terbilang sangat muda, Suhrawardi telah mengunjungi sejumlah tempat untuk menemui sang guru dan pembimbing rohaninya. Suhrawardi al-Maqtul melanglang buana ke Persia, Anatolia, Syiria dan berakhir di Aleppo. Tradisi jalan jauh (musafir) tampaknya sudah menjadi cirri khas cendikiawan muslim zaman dulu. George Maqdisi, misalnya, menyatakan bahwa setiap muslim yang dikenal sebagai penuntut ilmu mestilah juga seorang perantau yang ulung. Wilayah yang pertama kali dikunjungi Suhrawardi adalah Maragha, yang berada dikawasan Azerbaijan. Ditempat inilah ia belajar hukum, falsafah, dan teologi kepada Majd ad-Din al-jili. Setelah berguru kepada Majd ad-Din al-jili Suhrawardi kemudian memperdalam kajian falsafah kepada Fakhr ad-Din al-Mardini (w. 294 H/1198 M). Tampaknya al-Mardini merupakan tutor falsafah terpenting bagi Suhrawardi[8].

Setelah belajar di Maragha, Suhrawardi kemudian meneruskan perjalanan ke Isfahan, Iran Tengah, kota yang terkenal dengan keindahan alam dan keagungan lingkunganya. Di kota inilah tumbuh dan berkembangnya beragam pemikiran, khususnya falsafah Ibn Sina. Disini Suhrawardi belajar logika kepada Zhahir ad-Din al-Qari. Dia mempelajari logika melalui buku Al-Bhasa’ir an-Nashiriyyah karya Umar ibn Salhan as-Sa wi (w.540 H/ 1145M). Dari Isfahan, Suhrawardi meneruskan petualangan menuju Anatolia Tenggara dan ia diterima dengan baik oleh sejumlah pangeran bani saljuq Romawi. Para penguasa Bani Saljuq sudah terbiasa dengan para cendikiawan, merekapun sangat perduli terhadap berbagai kegiatan ilmiah.

Setelah memperoleh pengetahuan formalnya, Suhrawardi pergi menuju Persia, yang dikenal sebagai tempat awal munculnya gerakan sufi dan gudang tokoh-tokoh sufi. Suhrawardi tertarik pada ajaran dan doktrin tasawuf dan akhirnya ia menekuni mistisisme. Dalam hal ini Suhrawardi tidak sekedar mempelajari teori-teori dan metode-metode untuk menjadi sufi, akan tetapi langsung mempraktekanya sebagai sufi sejati. Akhirnya didalam diri Suhrawardi terkumpul dua keahlian sekaligus, yakni falsafah dan tasawuf, sehingga ia menjadi seorang filusuf dan sekaligus seorang sufi.

Suhrawardi mengakhiri pertualanganya di Syiria. Dari Damaskus ia kemuadian pergi menuju Aleppo, Malik azh-Zhahir, putera dari Salahuddin al-Ayyubi al-Kurdi, yang dikenal sebagai bintang perang salib. Malik merupakan tipe pemimpin yang sangat mencintai Ilmu pengetahuan, falsafah dan mistisisme. Di dalam istana Malik azh-Zhahir selalu diadakan pertemuan ilmiah untuk berdiskusi dan mengkaji ilmu pengetahuan. Malik azh-Zhahir sangat menghargai dan menghormati para ulama, cendikiawan, dan ahli pikir. Kecenderungan Malik Azh-Zahir itu menyebabkan sangat tertarik serta merasa sangat cocok dengan cara berpikir Suhrawardi. Atas dasar ketertarikanya itu, Malik azh-Zhahir mengundang Suhrawardi ke istananya untuk menjelaskan ide-ide pemikiranya. Didalam gubernur Aleppo inilah Suhrawardi menunjukkan kepiawaiannya dalam falsafah dan tasawuf. Ketika menghadapi berbagai pertanyaan, Suhrawardi dapat memberi argumen-argumen yang jitu sehingga mampu menangkis segala serangan yang diarahkan peserta diskusi kepadanya[9].

Keberhasilan Suhrawardi melahirkan aliran Illuminasionis ini berkat penguasaanya yang mendalam tentang filsafat dan tasawuf ditambah kecerdasanya yang tinggi, terbukti ia dikalangan teman seangkatanya dikenal sebagai pemikir di dunia islam yang “tak tertandingi” dikala itu. Namun kepiawaian Suhrawardi mengeluarkan pernyataan esoteris yang tandas, dan kritik yang tajam terhadap ahli-ahli fikih menimbulkan reaksi keras yang dimotori oleh Abu al-Baghdadi yang anti-Aristetolian. Akhirnya pada tahun 587 H/1191 M atas desakan fuqha’ kepada pangeran Malik azh-Zhahir Syah anak dari Sultan Shalal al-Din al-Ayyubi al-Kurdi – yang pada waktu itu sangat membutuhkan dukungan dari kaum fuqaha’ untuk menghadapi tentara salib – Suhrawardi diseret kepenjara[10].

Namun tidak hanya itu landasan para kaum fuqaha waktu itu untuk menuntut Suhrawardi agar dipenjarakan. Ada unsur politis yang berlandaskan kecemburuan karena kenaikan pesat Suhrawardi keposisi istimewa. Para hakim dan wasir pun tidak senang dengan status guru yang meroket dari tutor terkemuka itu mustahil dapat membantu meringankan perkaranya. Surat-surat kepada Saladin yang ditulis oleh ahkim terkenal Qadhi Al-Fadhil yang menurut Suhrawardi dieksekusi mengakhiri nasib pemikir muda itu. Sultan memerintahkan pangeran agar gurunya itu dibunuh[11].

Para sejarawan Abad pertengahan menyebut “zindiq” (anti agama), “merusak agama” dan menyesatkan pangeran muda, Malik azh-Zhahir. Sebagai tuduhan-tuduhan terhadap Suhrwardi. Namun, validitas tuduhan ini sangat kontroversial. Karena alasan eksekusi Suhrawardi yang lebih masuk akal didasarkan atas doktrin politik sang filosof yang terungkap dalam karya-karyanya tentang filsafat iluminasi. Tahun eksekusi Suhrawardi bersamaan dengan gejolak konflik politik dan militer. Raja Inggris, Richard Hati Singa mendarat di Arce, dan pertempuran-pertempuran besar berlangsung antara Muslim dan Kristen merebutkan Tanah Suci. Sultan besar Saladin jelas memberikan perhatian lebih besar pada urusan ini daripada menghiraukan eksekusi sang mistikus pengembara yang tidak dianggap sebagai ancaman nyata bagi keamanan politik[12].

  1. 2.     Filsafat Iluminasionis[13]

Dalam jalan pemikiran iluminasionis, aliran ini memberikan ruang kepada penalaran intuitif (irfani) sebagai pendamping bahkan sebagai dasar utama bagi penalaran rasional. Dalam pemikiran iluminasionis, Suhrawadi mencoba untuk memperpadukan antara burhani dan irfani dalam suatu pemikiran yang solid.

Pengalaman mistik adalah pengalaman yang secara langsung melihat realitas sejati, karena dalam pengalaman mistik, “objek” penelitian telah “hadir “ dalam diri seseorang. Dalam arti yang terpenting pengalaman mistik ini bagi para pencari adalam bahwa memalui pengalaman tersebut para penceri dapat menemukan kebenaran yang sejati. DR. Haidar Bagir berkata bahwa kemampuan untuk mengungkapkan pengalaman mistik secara diskursif merupakan criteria benar atau tidaknya pengalaman mistik .

Suhrawardi dengan filsafat iluminasionis merupakan seseorang yang telah memaksimalkan pemanfaatan simbolisme cahaya untuk menjelaskan filsafatnya. Baginya Tuhan merupakan satu-satunya realitas sejati yang kemudian digabungkan dengan konsep cahaya, maka Tuhan merupakan Cahaya dari segala cahaya (Nur al-Anwar). Segala sesuatu yang berada didalam dunia ini terdiri atas cahaya dan kegelapan yang dimana cahaya memiliki wujud yang positif dan kegelapan berwujud negative. Jika cahaya datang maka kegelapan yang ada sirna. Setiap benda yang ada dibedakan dari intensitas cahayanya, semakin terang cahayanya semakin tinggi derajatnya.

Filsafat iluminasionis memberikan kritik yang tajam atas prinsipialitas wujud yang diyakini Ibn Sina. Misalnya, wujud adalah yang real, yang fundamental, bagi Suhrawardi esensi(nawiyah)-lah yang real, sedangkan wujud tidak memiliki hubungan yang realistic dengan realitas. Sebagai pengikut Plato, Suhrawardi mempercayai bahwa esensilah yang sejati, sedangkan wujud hanya abstraksi subjektif manusia. Menurut Suhrawardi, esensilah yang lebih prinsipil, bukan ekstensi(wujud), sebuah ajaran yang sering disebut Islahat al-mahiyyah atau prinsipialitas esensi. Menurut Suhrawardi, esensilah yang lebih prinsipil, bukan eksistensi(wujud), sebuah ajaran yang sering disebut islahat al-mahiyyah atau principialitas esensi, sebagai lawan dari ishalat al-wujud, yang menyatakan bahwa wujudlah yang prinsipil, yang lebih fundamental, sedangkan esensi hanyalah persepsi mental saja. Dalam menguatkan argumennya tentang ketidaknyataan eksistensi, suhrawardi bertanya kepada kaum eksistensialis dan mendapat kesimpulan bahwa wujud pada hakikatnya bukan wujud, tetapi esensi, yaitu esensi wujud bukan wujud itu sendiri, esensi bukan wujud, sekalipun berbicara tentang wujud(eksistensi).

Teori emanasi merupakan ajaran kosmologi yang lebih ekstensif dari  teori emanasi kaum peripatetic. Persis seperti kaum peripatetic, Suhrawardi pun percaya bahwa alam semesta memancar dari Tuhan. Teori emanasi yang dibawakan oleh Suhrawardi mempunyai banyak perbedaan bukan hanya dari istilah, tetapi juga dari struktur kosmik yang berbeda dalam jumpahnya maupun tatanannya. Berbeda dengan Ibn Sina, yang menyebut Tuhan dengan wajib al-wujud (wujud niscaya), Suhrawardi menyebutnya Nur al-anwar­ (cahaya dari segala cahaya).

Dalam teori emanasi Iluminasionis berbeda dalam struktur dengan peripatetic, yang dimana dalam peripatetic alam semesta dibagi menjadi dua bagian: langit dan dunia bawah bulan (Bumi), maka didalam iluminasionis diatas langit ditambah satu wilayah dunia spiritual murni yang disebut timur (Orient/Masyriq). Sedangkan langit dan bumi disebut barat tengah (Middle/maghrib) dan bumi dengan barat (Occident). Di dunia timur hanya ada entitas-entitas murni (cahaya/malaikat), barat tengah adalah tempat bercampurnya cahaya dan kegelapan (bintang-bintang dan matahari) dan barat adalah dunia kegelapan berupa benda-benda material.

Struktur emanasi Suhrawardi juga berbeda dengan Parepatetik, karena Suhrawardi membagi cahaya yang memancar dari tuhan menjadi dua jenis, cahaya yang bersifat vertical (thuli), yang memancar dari Tuhan secara vertical melalui serangkaian cahaya yang merentang cahaya pertama hingga barat tengah. Dalam teori emanasi Iluminasionis ini dikenal gradasi cahaya dilihat dari intensitasnya, yang disebabkan hadirnya barzakh-barzakh yang menyekat diantara dua cahaya: cahaya yang ada diatas dan cahaya yang ada dibawah. Hubungan antara cahaya diatas terhadap dibawah diatur dengan prinsip dominasi sedangkan cahaya dibawah terhadap diatas diatur melalui prinsip cinta. Munculnya cahaya horizontal, tidak muncul secara langsung dari tuhan melainkan dari cahaya-cahaya vertical.

Dalam sudut jumlah, emanasi Suhrawardi berbeda dengan emanasi peripatetic, yaitu dalam jumlah akal-akal atau malaikat-malaikat yang muncul dalam bagan teori emanasinya. Dalam teori peripatetic, hanya memiliki 10 akal, sedangkan dalam emanasi Suhrawardi memiliki jumlah yang tak terbatas, yang dimana benda angkasa yang ada bukan hanya 10 planet melainkan benda angkasa lainnya selain planet yang jumlahnya tak terbatas.

  1. 3.     Peranan Illuminasionis

3.1.             Metode dan Ciri Filsafat Illuminasionis

Prinsip metodologi sangat penting dibangun oleh Suhrawardi ketika untuk pertama kalinya dalam sejarah filsafat, ia membedakan secara gamblang dua pembagian metafisika: metaphysica generalis dan metaphysica specialis. Yang pertama sebagaimana yang dipegang pandangan oleh pandangan filsafat yang baru, melibatkan diskusi-diskusi standar tentang subjek-subjek seperti eksistensi, kesatuan, substansi, aksiden, waktu, gerak dlsb. Kedua, menggunakan pendekatan ilmiah yang baru untuk menganalisis masalah-masalah suprarasional, seperti eksistensi-eksistensi dan pengetahuan Tuhan, pembuktian terhadap hal yang riil, keberadaan objektif alam yang terpisah, dan masih banyak lagi. [14] Secara umum metode yang digunakan oleh illuminasionisme adalah tak jauh dari sufisme atau teosofi yakni metode intuitif atau eksperiensial (berasal dari kata experience = pengalaman). Berbeda dengan aliran Peripatetik, yang lebih menekankan rasional sebagai metode  berpikir untuk mencari kebenaran, filsafat illuminasionis mencoba memberikan tempat yang penting bagi metode intuitif (‘irfani), sebagai pendamping bagi, atau malah dasar penalaran rasional. Di sini, Suhrawardi mencoba mensintesiskan dua pendekatan ini, burhani dan ‘irfani dalam sebuah sistem pemikiran yang solid dan holistik.

Suhrawardi pernah mengklasifikasi pencari kebenaran ke dalam tiga kelompok: (1) Mereka yang memiliki pengalaman mistik yang mendalam -seperti para sufi- tetapi tidak mempunyai kemampuan untuk mengungkapkan pengalaman itu secara diskursif; (2) meraka yang memiliki nalar diskursif tetapi tidak memiliki pengalaman mistik yang cukup mendalam. Pengalaman mistik sangatlah penting untuk mengenal secara langsung realitas sejati sehingga tidak hanya bersandar pada otoritas  masa lalu saja, seperti yang dapat ditemukan pada para filosof peripatetik, dan (3) yang terakhir adalah mereka yang disamping memiliki pengalaman mistik yang mendalam dan otentik, juga memiliki kemampuan nalar dan bahasa diskursif, seperti yang terjadi pada diri Plato dan Suhrawardi pada masanya.[15] Maka illuminasionis ini merupakan sintesis yang brilian dari Suhrawardi yang menggabungkan antara filsafat dan intuisi(mistik) yang mana untuk mengungkap pengalaman mistik justru harus diuji kebenarannya melalui bahasa yang diskursif. Kita bisa melihat karya beliau yang berjudul Hikmah al Isyraq, ketika beiau ditanya oleh muridnya apakah buku Hikmah al Israq ini karya mistik atau filsafat, maka Suhrawardi menjawab bahwa Hikmah al Israq ini adalah karya filsafat yang didasarkan pada pengalaman mistik. Selain itu, dia juga memiliki karakteristik yan g khas. Antara lain:

  • Pemakaian khas bahasa teknis.

Kosakata khas yang digunakan oleh Suhrawardi adalah dengan menggunkan simbolisme cahaya untuk menggambarkan masalah-masalah ontologis dan kosmologis. Yang akan dibahas lebih mendalam pada sub bab nya tersendiri.

  • Prinsip dasarnya adalah intuisi langsung atas hakikat sesuatu.

Prinsip dasar illuminisme, seperti halnya Sufisme, bahwa mengetahui sesuatu adalah untuk memperoleh suatu pengalaman tentangnya, yang berarti intuisi langsung atas hakikat sesuatu. Bahwa pengetahuan eksperiental tentang sesuatu dianalisis -yakni, secara diskursif (logos) demonstrasional – hanya setelah diraih secara total intuitif, dan langsung (immediate). Namun yang membedakannya dengan Sufisme -dalam hal ini adalah ‘irfan (teosofi) – adalah bahwa, meskipun sama-sama mengandalkan pada pengalaman langsung , illuminasinisme – tak seperti (non-irfani)- percaya pada kemungkinan pengungkapan pengalaman tersebut melalui bahasa-bahasa diskursif logis (untuk kepentingan verifikasi publik).[16] dan adapun arti penting pengalaman mistik bagi pencarian kebenaran adalah bahwa melalui pengalaman tersebut seseorang (filosof atau sufi)dapat secara langsung menyaksikan kebenaran sejati (al-Haqq) yang tidak dapat diperoleh dengan menggunakan pendekatan apapun baik indra ataupun akal.[17]

  • Dalam hal pemikiran, Suhrawardi dipengaruhi oleh beberapa aliran, yaitu:
  1. Tasawwuf, khususnya sebagaimana yang diungkapkan oleh al Ghazali dan al Hallaj;
  2. Peripateisme, khususnya Ibn Sina;
  3. Neoplatonisme dan Phytagoreanisme, yaitu paham filsafat Yunani yang lebih bersifat mistis;
  4. Hermeneisme, yakni pemikiran yang biasa disandarkan kepada naskah-naskah Corpus Hermeneticus yang dikembangkan oleh seorang tokoh bernama Hermes, yang dalam filsafat islam bisa dinisabatkan kepada Nabi Idris sebagai bapak pengetahuan;
  5. Kepercayaan terhadap Zoroasterian Persia.

Namun dalam poin terakhir ini terdapat beberapa catatan penting,

Pertama, Suhrawardi mempercayai adanya Perennial wisdom, dalam arti bahwa sebenarnya hikmah (wisdom) itu bersifat perenial atau bersumber dari Tuhan yang diturunkan lewat utusanNya. Bahkan Suhrawadi tidak “alergi” untuk mengambil pemikiran dari tradadisi lain-dalam hal ini Persia dan Yunani. Atas dasar keyakinan inilah maka Suhrawardi meramu pemikiranya dari berbagai sumber. Menurutnya, hikmah atau teosofi diturunkan tuhan melalui Nabi Idris atau Hermes yang dianggap sebagai pembangun falsafah dan sains. Hikmah tersebut kemudian terbagi ke dalam dua cabang, yakni cabang Persia dan cabang mesir. Hikmah dari mesir kemudian menyebar ke Yunani. Pada giliranya, sumber hikmah dari Persia dan Yunani pun masuk kedalam peradapan Islam. Berdasarkan atas pembagian asal usul falsafah dan sains itulah Suhrawardi menganggap dirinya sebagai pemersatu dua cabang peradaban manusia yang datang dari Tuhan. Secara skematis, Hossein Nasr menggambarkan alur pertemuan hikmah universal melalui tokoh-tokoh klasik – diantaranya adalah tokoh-tokoh bijak dan raja-raja dari Persia – sebagai berikut[18]:

Hermes

Agathedemon (Seth)

Asclepieus                                                                               Persian priest-kings

Pythagoras                                                                              Kayumarth

Empeodocles                                                                           Faridun

Plato (and The Neo-Platonists)                                               Kai Khusraw

Dhu an-Nun al-Mishri                                                             Abu Yazid al-Busthami

Abu Sahl at-Tustari                                                                 Manshur al-Hallaj

Abu’l-Hasan al-Kharraqani

Suhrawardi

Kedua, menurut para ahli filsafat yang mempelajari Suhrawardi, sesungguhnya beliau hanya menggunakan terminologi Zoroasterianisme Persia yang dianggap cocok dengan pemikirannya. Zoroasterianisme. Sebuah aliran yang dirintis oleh Zoroaster (hidup sekitar 628 – 551 SM). Dia adalah pengajar yang semasa dengan Solon dan Thales. Zoroaster mewarisi dua prinsip dasar dari leluhurnya, yakni pertama, ada hukum didalam alam, dan kedua, ada konflik didalam alam. Penegakan hukum dan adanya konflik yang terjadi dialam raya ini secara terus menerus membentuk sistem filosofisnya. Dari landasan itu, maka muncullah problem baru, bagaimana mempersatukan kejahatan dengan kebaikan abadi Tuhan. Zoroasterianisme mengembangkan suatu sistem pemikiran yang berbasis pertentangan antara cahaya dan kegelapan. Sehingga terminologi Zoroasterianisme Persia ini dianggap cocok untuk mengungkapkan pemikiran Suhrawardi. Karena filsafat wujud Suhrwardi juga berbasis kepada hal yang sama, atau pencerahan (iluminasionis)

3.2.             Aspek-Aksiologis dari Illuminasionis

Illuminsionis memiliki peran yang cukup besar dalam bidang semantik(‘ilm dalalah al-alfadz). Suhrawardi boleh jadi diilhami oleh tren kecil Stoik-Megarik dalam filsafat islam.

Menurut para peneliti modern, aliran ini dipandang sebagai suatu sistem yang yang lengkap dan rigoris. Menurut Henry Corbin, illuminasionis Suhrawardi telah membuka jalan bagi suatu dialog dengan wacana-wacana dan upaya modern untuk mencarikan tempat bagi pengalaman religius dan atau mistis dalam dunia ilmiah.[19] Selain itu, dia telah menghidupkan kembali sebagian bentuk filsafat Persia kuno walaupun kurang dapat dipertanggungjawabkan. Tidak ada bukti tekstual bagi tradisi filsafat Persia yang independen.

Pemikiran Suhrawardi berkembang pesat di daerah-daerah yang secara historis dan peradaban mereka memiliki latar belakang intelektual yang sama. Sejak eksekusi mati dijatuhkan kepada beliau, pada 1191 di Aleppo ajarannya terus menyebar ke Timur dan Barat.Persia  dan sekitarnya  merupakan kawasan yang secara keseluruhan sejalan dengan alam pikiran Suhrawadi. Pemikiran Suhrawardi juga menyebar ke anak benua India-Pakistan , Syiria, Anatolia dan bahkan masuk Eropa meski sangat lamban.[20]

Yang jelas filsafat illuminasi adalah merupakan konstruksi tematis dan filosofis khas yang dirancang untuk menghindari inkonsistensi- inkonsistensi logis epistemologis dan metafisis yang dirasakan oleh Suhrawardi dalam filsafat Peripatetik pada saat itu. Kritik Suhrawardi atas persoalan tertentu dalam logika, epistemologi, fisika,matematika dan metafisika dalam filsafat illuminasi menggunakan teks-teks Peripatetik yang sudah mapan. Diduga tidak ada sumber tekstual lainnya yang tersedia baginya. Fakta bahwa ia merumuskan kembali masalah filsafat, menolak sebagian dan memperbaikinya disuga merupakan indikasi akan tujuan filsafatnya itu sendiri – yaitu, merekonstruksi sistem metafisika yang bertujuan untuk antara lain menerapkan keunggulan modus intuitif dalam mencari pengetahuan.[21]

Nilai penting dari pemikiran Isyraqiyah Suhrawardi pada masa modern dibuktikan oleh kenyataan bahwa sejak awal abad ke-20, para orientalis dan sejarahwan filsafat telah mengenali Suhrawardi sebagai seorang yang penting dalam filsafat islam Ibn Sina.

Namun poin paling penting adalah bahwa Suhrawardi hanyalah salah satu tokoh dari ribuan atau mungkin lebih pemikir-pemikir di dunia ini. Yang mana mreka mendedikasikan hidup mereka untuk   mencari dan mendalami ilmu pengatahuan. Selain itu, kita juga bisa mengambil pelajaran bahwa kebenaran adalah objek yang tak pernah dilupakan oleh pencari kebenaran itu sendiri. Maka komitmen atas kebenaran itulah yang menjadi modal untuk selalu mengkaji lebih dalam keluasan ilmu yang dimiliki oleh Nya. Bahkan tak jarang mereka merasa tak puas terhadap teori-teori yang ada sebelumnya, kritikan-kritikan dilontarkan untuk mengantarkan kepada keyakitanatas suatu teori  yang benar yang akhirnya bisa dijadikan dasar bagi penelitian masa mendatang. Sebagus apapun teori yang telah diciptakan oleh sang penemu, maka akan sia-sia jika kita tidak mengamalkannya.

  1. 4.     Pemikiran Suhrawardi

4.1.             Keberatan –keberatan Suhrawardi terhadap Kaum Paripatetik[22].

Dalam bagian pertama al-Masyari’ wa al-Mutharahat, Suhrawardi mengemukakan posisinya dalam membagi pengetahua ke dalam konsepsi dan pembenaran, posisi filosofis ini berbeda dari Paripatetik berkenaan dengan tiga hal:

  1. Paripatetik membagi pengetahuan secara umum kedalam persepsi dan konfirmasi, sementara bagi Suhrawardi setiap “objek pencarian” (mathlub) yaitu persoalan atau pertanyaan – itulah yang harus dibagi. Tidak jelas, mengapa Suhrawardi bersiteguh kepada pendapat ini, kecuali untuk menunjukkan keyakinanya bahwa, dalam beberapa hal, pengetahuan intuitif tentang “objek pencarian” adalah konsepsi yang mengandung konfirmasi, sementara dilain-lainya konfirmasi dapat dipisahkan dari, dan mengikuti, konsepsi.
  2. Paripatetik membahas pembagian itu secara panjang lebar, dan membahas berbagai-bagai syarat yang harus dipenuhi oleh konsepsi dan konfirmasi dalam predikasi. Sebaliknya pembahasan Suhrawardi singkat, terutama pembahasan mengenai deskripsi, yang ditujukan untuk menjelaskan kesalahan-kesalahan Paripatetik.
  3. Definisi konsepsi sebagai “pencapaian bentuk-bentuk wujud dalam pikiran yang diindikasikan dengan ungkapan sederhana,” dan konfirmasi sebagai “penilaian atas dua wujud, apakah yang satu sebagai yang lain atau tidak,” dikatakan salah oleh Suhrawardi.

Suhrawardi menerima pembagian pengetahuan formal Paripatetik kedalam konsepsi dan konfirmasi. Tetapi, karena pengetahuan tentang sesuatu harus lebih dari sekedar validitas formal, ia harus didasarkan pada inspirasi Ilahi. Proses Illuminasi menegaskan bahwa pertolongan Tuhan memungkinkan seseorang sampai pada mengetahui wujud sebagaimana adanya. Karakteristik epistemologis pengetahuan yang dibangun diatas inspirasi ini adalah pengetahuan dengan kehadiran, dan meliputi konsepsi sesuatu bersama dengan konfirmasi langsung. Pengetahuan dengan kehadiran ini membedakan pengetahuan epistemoligi Illuminasi dari teori Paripatetik. Lebih jauh, pembagian pengetahuan kedalam terbukti dengan sendirinya (Badihi) – juga disebut primer (awwali) – dan spekulatif (nazhari) atau perolehan (muktasab), yaitu pembagian Paripatetik ke dalam konsepsi dan konfirmasi, dipisahkan Suhrawardi dalam pembagian kesukaanya, fitri dan perolehan. Pembagian ini menunjukkan arah epistemology yang berbeda dengan epistemologi kaum Paripatetik. Sesuatu yang dapat diketahui secara fitri berperan sebagai dasar “penglihatan” atau “visi” (musyahadah) khusus, yang melaluinya sesuatu itu benar-benar dapat diketahui. Kepastian dalam pengetahuan, sebagai tujuan ilmu, karenanya didasarkan pada visi dan intuisi fitri yang, disisi lain, berperan sebagai dasar-dasar psikologis kepastian dalam pengetahuan.

Suhrawardi bertolak belakang dengan Paripatetik mengenai penurunan ruang lingkup dan fungsi konsepsi bagi konfirmasi, karena yang demikian itu membatasi bentuk pengetahuan tertinggi (‘ilm atau ma’rifah) ke sekedar formal definisi esensialis. Suhrawardi menegaskan bahwa metode Paripatetik semacam itu gagal mengantarkan kepada dasar kepastian yang kuat sesuai dengan pengetahuan. Pengetahuan ini, tegasnya, merupakan hubungan yang benar dan tinggi (muthabaqah) antara subjek dan objek sebagai akibat hubungan dua hal dalam kesadaran diri (‘ana’iyyah) subjek. Posisi illuminasi ini mensyaratkan bahwa konfirmasi harus disubordinasikan ke dalam konsepsi (dalam pengetahuan intuitif). Suhrawardi juga memperkenalkan seluruh bagian konsepsi yang mengandung konfirmasi yang melampaui konsepsi yang terbukti dengan sendirinya dengan skema Paripatetik, dan yang mengandung pengetahuan tertinggi tertinggi tentang “diri” yang mengetahui dan esensi sesuatu sebagaimana adanya.

Melalui kritiknya terhadap kaum Paripatetik, Suhrawardi mengarahkan perhatian pembaca kepada kepada rumusan baru pembagian ganda pengetahuan. Mengantisipasi “pengetahuan illuminasi (al-‘ilm al-isyraqi), suatu jenis pengetahuan yang hanya didasarkan pada konsepsi dan kondisi diri tempat konsepsi dan konfirmasi berjalan secar simultan.

4.2.             Hikamh al-Isyraq[23]

Karya suhrawardi yang paling terkenal adalah Hikmah al-Isyraq. Karya yang didalamnya prinsip-prinsip filsafat illuminasi secara sistematik, meskipun singkat, diketengahkan dalam bentuk yang indah dan sempurna. Ia adalah karya yang disebut Suhrawardi memuat pengertian intuitifnya sendiri tetang dasar filsafat. Juga karya yang secara sistematis menformalisasikan hasil-hasil yang diperoleh dari pengalaman-pengalaman mistis Suhrawardi sendiri dan menggabungkannya dalam membangun kembali filsafat. Karya ini memuat formulasi terakhir sistem baru Suhrawardi dengan secara jelas dan dalam satu bentuk simbolik, rincian-rincian yang telah dikemukakan dalam ketiga karya yang telah disebutkan. Bahkan karya ini juga memuat metodologi, kaidah-kaidah dan prinsip-prinsip filsafat diskusif dan illuminasi. Percampuran antara filsafat diskusif (al-hikmah  al-bahtsiyyah) dan filsafat intuitif (al-hikmah al-dzawq) yang harmonis dan sempurna adalah tujuan dan tanda khas filsafat illuminasi.

Hanya al-Talwihat dan al-Lamahat yang ditunjuk Suhrawardi dalam Hikmah al-Isyraq. Quthb al-Din al-Syirazi, dalam Syarh Hikmah al-Israq, menegaskan bahwa ini menunjukkan Suhrawardi telah memulai menulis, meskipun belum sempurna, karya-karyanya yang lain sebelum menyusun Hikmah al-Isyraq, Suhrawardi pasti telah memulai menulis atau merevisi karya-karyanya yang penting bersamaan. Suhrawardi tidak menyebut al-Masyari ‘wa al-Mutharahat dalam Hikmah al-Isyraq secara khusus, tetapi siknifikasi karya tersebut telah diketahui. Namun, Quthb al-Din yakin bahwa, pernyataan Suhraward, “Saya telah menyusun al-Talwihat dan berikutnya al-lamahat, dan lain-lain yang mengikuti metode Paripatetik”, Suhrawardi memaksudkan “lain-lain”adalah al-Masyari’ wa al-Muharahat dan al-Muqawamat. Dengan menyebut al-Talwihat, Suhrawardi, pada dasarnya, telah merujuk kepada al-Mukawamat, karena yang terakhir adalah penjelas bagi yang pertama. Al-Masyari’ wa al-Mutharahat bukan karya yang disusun hanya menurut “metode Paripatetik”. Dengan meninjau pertanyaan-pertanyaan Suhrawardi yang di ulang-ulang menggambarkan pentingnya al-Masyari’ wa al-Mutharahat bagi satu pemahaman yang benar tentang filsafat illumionas, kita tidak dapat menempatkan karya tersebut dalam katagori yang sama dengan al-Lamahat, dan yang demikian itu tidak menguranginya sebagi tidak relevan untuk mempelajari filsafat illuminasi. Dengan tidak menyebut al-Masyari’ wa al-Muhtarahat pada bagian “Pendahuluan” Hikmat al-Isyraq, Suhrawardibarangkali ingin menunjukkan apa yang telah jelas bagi sahabat-sahabatnya bahwa karya tersebut tidak harus dimasukkan ke dalam karya-karya yang disusun sebagai ringkasan didaktik filsafat illuminasi.

Hikmah al-Isyraq sendiri merupakan puncak tujuan filsafat Suhrawardi: Suatu rekonstruksi filsafat yang sistematis. Ini telah diawali dengan al-Talwihat, disempurnakan lebih jauh dalam al-Muqawamat. Hikmah al-Isyraq hanya dapat dipahami jika dianggap sebagai bagian rentetan rekontruksi filsafat yang secara hati-hati disusun Suhrawardi dalam keempat karyanya yang penting, meskipun ia sebagai karya terpenting dalam rentetan itu. Karya tersebut dianggap oleh Suhrawardi sendiri sebagai yang terbaik dalam “pendahuluan”-nya.

“Pendahuluan” Hikmah al-Isyraq menguraikan tiga subjek yang mendasari rekonstruksi filsafat illuminasi; ia juga mengemukakan tujuan-tujuan pengarangnya. Subjek pertama menguraikan alasan-alasan Suhrawardi menyusun karya tersebut dan kelompok orang-orang yang menjadi tujuan buku ini. Kedua mengarahkan persoalan metodologi. Ketiga menguraikan sejarah filsafat, begitu juga tempat filsafat illuminasi dan kedudukan para filosof “yang bijak” dalam sejarah.

BAB III

PENUTUP

 III.1. Kesimpulan

Nama lengkap Suhrawardi ialah ‘Abu al-Futuh Yahya bin Habasy bin ‘Amirak as-Suhrawardi al-Kurdi. Yang memiliki gelar al-Maqtul berhubungan dengan kematiannya.

Dengan filsafatnya, Suhrawardi memberikan ruang bagi penalaran intuitif sebagai pendukung bahkan bahan untuk melakukan penalaran rasional. Dalam filsafat iluminasionis terdapat teori emanasi. Dalam teori ini teori emanasinya, Suhrawardi menjelaskan bahwa Tuhan merupakan cahaya dari segala cahaya. Cahaya yang ada bersifat positif dan kegelapan bersifat negative, yang kemudian jika cahaya datang maka kegelapan akan hilang. Setiap benda dibedakan dari intensitas cahaya, semakin terang cahaya yang dimiliki semakin tinggi derajatnya. Jumlah akal dalam silsafat iluminasionis adalah tak terhingga karena benda langit itu bukanlah hanya planet, melainkan bintang dan matahari, berbeda dengan emanasi perypatetik, yang dimana hanya memiliki 10 akal yang merujuk kepada jumlah planet yang ada.

Suhrawardi mencoba mensintesiskan dua pendekatan burhani dan ‘irfani dalam sebuah sistem pemikiran yang solid dan holistik. Dalam aliran iluminasionis, memberikan ruang bagi intuitif dan bahkan menjadi bahan utama dalam proses penalaran social. Dalam pencarian kebenaran, Suhrawardi membagi dalam pemcarian kebenaran:

1) Mereka yang memiliki pengalaman mistik yang mendalam -seperti para sufi- tetapi tidak mempunyai kemampuan untuk mengungkapkan pengalaman itu secara diskursif.

(2) Meraka yang memiliki nalar diskursif tetapi tidak memiliki pengalaman mistik yang cukup mendalam. Pengalaman mistik sangatlah penting untuk mengenal secara langsung realitas sejati sehingga tidak hanya bersandar pada otoritas masa lalu saja, seperti yang dapat ditemukan pada para filosof peripatetik, dan.

(3) Terakhir adalah mereka yang disamping memiliki pengalaman mistik yang mendalam dan otentik, juga memiliki kemampuan nalar dan bahasa diskursif, seperti yang terjadi pada diri Plato dan Suhrawardi pada masanya.


[1] Dr. Mulyadhi Kartanegara, Gerbang Kearifan, hal. 43

[2] Haidar Bagir, Buku Saku Filsafat Islam, hal 145

[3] Sayyed Hossein Nasr, Suhrawardi dan kaum Iluminasionis., hal. 97

[4] Ibid., hal. 99

[5] Ibid., hal 100

[6] Majid fakhry, Sejarah Filsafat Islam. Hal.,130

[7] SUHRAWARDI: Kritik Falsafah Paripatetik. Hal., 29

[8] Ibid. hal., 30

[9] Ibid. hal., 33

[10] Hasyimsyah Nasution. Filsafat Islam. Hal., 144

[11] Seyyed Hussein Nasr, Oliver Leaman. Ensiklopedia Tematis Filsafat Islam. Hal., 545

[12] Ibid. hal., 546

[13] Dr. Mulyadhi Kartanegara, Gerbang Kearifan, hal. 45

[14]Sayeyd Hossein Nasr, Oliver Leaman, Ensiklopedi Filsafat Islam, hal. 554

[15]Dr. Mulyadhi Kartanegara, Gerbang Kearifan, hal. 45

[16]Haidar Bagir, Buku Saku Filsafat Islam, hal 89

[17]Dr. Mulyadhi Kartanegara, Gerbang Kearifan, hal. 46

[18] SUHRAWARDI: Kritik Falsafah Paripatetik. Hal., 39

[19]Haidar Bagir, Buku Saku Filsafat Islam, hal 132

[20]Dr. Amroeni Drajat, M. A. , Suhrawardi; Kritik Falsafah Peripatetik, hal. 60

[21]Sayeyd Hossein Nasr, Oliver Leaman, Ensiklopedi Filsafat Islam, hal. 558

[22] Ziai, Hossein,  Suhrawardi dan Filsafat Illuminasi, hal., 13

[23] Ibid., 32

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s