Seputar Epistemologi dan Posmodernis__

BAB I

PENDAHULUAN

234Postmodernisme adalah salah satu paham atau aliran yang sering terdengar ditelinga kita yang ikut meramaikan dunia ilmu pengetahuan dan banyak diperbincangkan, Namun banyak orang yang salah paham tentang pengertian yang dimaksud dan bahkan tidak mengerti sama sekali. Untuk dapat memahaminya tentunya kita harus merujuk kepada teks-teks yang berkaitan terlebih dahulu dan mengetahui tokoh-tokoh yang termasuk dalam postmodernisme, agar mendapat pemahaman yang jelas apa yang dimaksud denganya.

Istilah postmodernisme yang begitu kontroversial membuat kita harus lebih teliti dalam memahaminya. Banyak orang memahami bahwa postmodernisme adalah masa sesudah era modern, mengingat kata ‘post’ itu berarti sesudah dan ‘modern’ yaitu era modern. Namun ada yang beranggapan bahwa pemahaman ini adalah salah, karena salah satu gerakan yang termasuk dalam postmodernisme yang berkecenderungan ingin mendekonstruksi pandangan dunia modernisme yang dianggap  totaliter dan filsafat modernisme ini yang berpusat pada epistemologi yang bersandar pada subjektifitas dan objektifitas, bukan hanya itu Gerakan modernisme juga kurang menghargai atau memandang rendah nilai keagungan budaya karena segalanya harus melalui analisis dan mengedepankan objektifitas.

Kata ‘post’ awalan dari istilah postmodernisme ini apakah berarti pemutusan atau penolakan terhadap pemikiran-pemikiran modern secara total? Apakah hanya merivisi pola-pola atau aspek-aspek kemodernan?. Dan kata ‘isme’ dalam postmodernisme itu apakah mengartikan sistem pemikiran yang tunggal dan universal? Sementara postmodernisme itu menolak segala hal yang bersifat universal.

Maka dari itu pemakalah merasa penting untuk membahas tema ini agar kita bisa mendapat pemahaman yang benar dan jelas mengenai apa yang dimaksud dengan postmodernisme, selain itu untuk mengetahui pengaruhnya dalam bidang ilmu pengetahuan yang akan dibahas pemakalah berikut.

 BAB II

  1. A.   Definisi dan Penjelasan Seputar Epitemologi

Manusia dengan latar belakang, kebutuhan-kebutuhan dan kepentingan-kepentingan yang berbeda mesti akan berhadapan dengan pertanyaan-pertanyaan seperti, dari manakah saya berasal? Bagaimana terjadinya proses penciptaan alam? Apa hakikat manusia? Tolak ukur kebaikan dan keburukan bagi manusia? Apa faktor kesempurnaan jiwa manusia? Mana pemerintahan yang benar dan adil? Mengapa keadilan itu ialah baik? Pada derajat berapa air mendidih? Apakah bumi mengelilingi matahari atau sebaliknya? Dan pertanyaan-pertanyaan yang lain. Tuntutan fitrah manusia dan rasa ingin tahunya yang mendalam niscaya mencari jawaban dan solusi atas permasalahan-permasalahan tersebut dan hal-hal yang akan dihadapinya.

Pada dasarnya, manusia ingin menggapai suatu hakikat dan berupaya mengetahui sesuatu yang tidak diketahuinya. Manusia sangat memahami dan menyadari bahwa:

1.      Hakikat itu ada dan nyata;

2.      Kita bisa mengajukan pertanyaan tentang hakikat itu;

3.      Hakikat itu bisa dicapai, diketahui, dan dipahami;

4.      Manusia bisa memiliki ilmu, pengetahuan, dan makrifat atas hakikat itu. Akal dan pikiran manusia bisa menjawab persoalan-persoalan yang dihadapinya, dan jalan menuju ilmu dan pengetahuan tidak tertutup bagi manusia.

Apabila manusia melontarkan suatu pertanyaan yang baru, misalnya bagaimana kita bisa memahami dan meyakini bahwa hakikat itu benar-benar ada? Mungkin hakikat itu memang tiada dan semuanya hanyalah bersumber dari khayalan kita belaka? Kalau pun hakikat itu ada, lantas bagaimana kita bisa meyakini bahwa apa yang kita ketahui tentang hakikat itu bersesuaian dengan hakikat eksternal itu sebagaimana adanya? Apakah kita yakin bisa menggapai hakikat dan realitas eksternal itu? Sangat mungkin pikiran kita tidak memiliki kemampuan memadai untuk mencapai hakikat sebagaimana adanya, keraguan ini akan menguat khususnya apabila kita mengamati kesalahan-kesalahan yang terjadi pada indra lahir dan kontradiksi-kontradiksi yang ada di antara para pemikir di sepanjang sejarah manusia? Persoalan-persoalan terakhir ini berbeda dengan persoalan-persoalan sebelumnya, yakni persoalan-persoalan sebelumnya berpijak pada suatu asumsi bahwa hakikat itu ada, akan tetapi pada persoalan-persoalan terakhir ini, keberadaan hakikat itu justru masih menjadi masalah yang diperdebatkan. Untuk lebih jelasnya perhatikan contoh berikut ini. Seseorang sedang melihat suatu pemandangan yang jauh dengan teropong dan melihat berbagai benda dengan bentuk-bentuk dan warna-warna yang berbeda, lantas iameneliti benda-benda tersebut dengan melontarkan berbagai pertanyaan-pertanyaan tentangnya. Dengan perantara teropong itu sendiri, ia berupaya menjawab dan menjelaskan tentang realitas benda-benda yang dilihatnya. Namun, apabila seseorang bertanya kepadanya: Dari mana Anda yakin bahwa teropong ini memiliki ketepatan dalam menampilkan warna, bentuk, dan ukuran benda-benda tersebut? Mungkin benda-benda yang ditampakkan oleh teropong itu memiliki ukuran besar atau kecil?. Keraguan-keraguan ini akan semakin kuat dengan adanya kemungkinan kesalahan penampakan oleh teropong. Pertanyaan-pertanyaan ini berkaitan dengan keabsahan dan kebenaran yang dihasilkan oleh teropong. Dengan ungkapan lain, tidak ditanyakan tentang keberadaan realitas eksternal, akan tetapi, yang dipersoalkan adalah keabsahan teropong itu sendiri sebagai alat yang digunakan untuk melihat benda-benda yang jauh.

Keraguan-keraguan tentang hakikat pikiran, persepsi-persepsi pikiran, nilai dan keabsahan pikiran, kualitas pencerapan pikiran terhadap objek dan realitas eksternal, tolak ukur kebenaran hasil pikiran, dan sejauh mana kemampuan akal-pikiran dan indra mencapai hakikat dan mencerap objek eksternal, masih merupakan persoalan-persoalan aktual dan kekinian bagi manusia. Terkadang kita mempersoalkan ilmu dan makrifat tentang benda-benda hakiki dan kenyataan eksternal, dan terkadang kita membahas tentang ilmu dan makrifat yang diperoleh oleh akal-pikiran dan indera. Semua persoalan ini dibahas dalam bidang ilmu epistemologi. Dan jika kita lihat dari segi bahasa, epistemologi berasal dari Yunani, episteme (pengetahuan) dan logos (ilmu, pikiran, perkataan). Dan epistemologi sering di sebut dengan suatu disiplin ilmu yang bersifat evaluative, normative, dan kritis.[1]

Dengan demikian, definisi epistemologi adalah suatu cabang dari filsafat yang mengkaji dan membahas tentang batasan, dasar dan pondasi, alat, tolak ukur, keabsahan, validitas, dan kebenaran ilmu, makrifat, dan pengetahuan manusia.[2]

  1. B.   Definisi dan Penjelasan Seputar Postmodernisme

Kata postmodernisme telah lazim terdengar dalam tiga dekade terakhir. Padahal, hingga kini kamus yang biasa dipakai pun belum memiliki kesamaan pandangan. Karna tak seorangpun benar-benar tahu apa arti istilah postmodernisme.[3] Istilah postmodernisme, pertama kali dilontarkan oleh Frederico de Oniz pada tahun 1934 dalam sebuah konsep peralihan (dalam sastra) dari modernisme awal ke modernisme dengan kualitas lebih tinggi.
Sementara Arnold Toynbee pada tahun 1947 menggunakan kata postmodern sebagai ciri peralihan politik dari pola pemikiran Negara nasional ke interaksi global. Dan perlu di ketahui Bapak spiritual posmodernisme—menurut sebagian—adalah Nietzsche (1844-1900 M ), filsuf ‘gila’ kelahiran Jerman; sang destruktif. Dikalangan pendukung modernisme, Ia dianggap tokoh yang paling gila, namun, dikalangan pendukung posmodernisme, Ia adalah inspirator utama. Kendati sampai saat ini belum ada kesepakatan dalam pendefinisiannya, tetapi istilah tersebut berhasil menarik perhatian banyak orang di Barat. Pada tahun 1960, untuk pertama kalinya istilah itu berhasil diekspor ke benua Eropa sehingga banyak pemikir Eropa mulai tertarik pada pemikiran tersebut. J. Francois Lyotard, salah satu contoh pribadi yang telah terpikat dengan konsep tersebut dan dianggap sebagai orang yang mempopulerkan istilah tersebut dalam dunia filsafat. Ia berhasil menggarap karyanya yang berjudul “The Post-Modern Condition” sebagai kritikan atas karya “The Grand Narrative” yang dianggap sebagai dongeng hayalan hasil karya masa Modernitas. Ketidakjelasan definisi-sebagai mana yang telah disinggung menjadi penyebab munculnya kekacauan dalam memahami konsep tersebut. Tentu, kesalahan berkonsep akan berdampak besar dalam menentukan kebenaran berpikir dan menjadi ambigu. Sedang kekacauan akibat konsep berpikir akibat ketidak jelasan-akan membingungkan pelaku dalam pengaplikasian konsep tersebut.

Postmodern bila diartikan secara harfiah, kata-katanya terdiri atas “Post” yang artinya masa sesudah dan “Modern” yang artinya era Modern, karena itu dapat disimpulkan bahwa Postmodern adalah masa sesudah era  Modern (era diatas tahun 1960-an).

Banyak versi dalam mengartikan istilah postmodernisme ini. Foster menjelaskan, sebagian orang seperti Lyotard beranggapan, postmodernisme adalah lawan dari modernisme yang dianggap tidak berhasil mengangkat martabat manusia modern, karena modernisasi yang eksploitatif menimbulkan perasaan umum akan hilangnya makna kehidupan yang hakiki. Ketiadaan makna dianggap suatu hal yang sangat serius, karena makna merupakan dasar nilai. Pengertian ini membawa kepada sebuah pemahaman bahwa postmodernisme itu adalah sebuah eliminatif dan dekonstruktif  yang ingin menciptakan sebuah pandangan dunia baru dengan gerakan anti-pandangan dunia lama. Sedang sebagian lagi seperti Jameson beranggapan, postmodernisme adalah pengembangan dari modernitas seperti yang diungkap Bryan S. Turner dalam Theories of Modernity and Post-Modernity-nya. Pengertian kedua ini membawa kepada sebuah kesimpulan bahwa postmodernisme itu adalah sebuah istilah konstruktif dan revisioner, yaitu suatu pengertian yang memperkenalkan pandangan dunia baru yang diciptakan melalui revisi terhadap premis-premis modern serta konsep-konsep tradisional. Dengan kata lain postmodern itu adalah kelanjutan dari modernism.

Dapat dilihat, betapa jauh perbedaan pendapat antara dua kelompok tadi dalam memahami Postmodernisme. Satu mengatakan, konsep modernisme sangat berseberangan dengan postmodernisme bahkan terjadi paradoks, sedang yang lain menganggap bahwa postmodernisme adalah bentuk sempurna dari modernisme, di mana seseorang tidak mungkin dapat masuk ke jenjang postmodernisme tanpa melalui tahapan modernisme. Dari pendapat terakhir inilah akhirnya postmodernisme dibagi menjadi beberapa bagian, antara lain: Postmodernism Ressistace, Postmodernism Reaction, Opposition Postmodernisme dan Affirmative Postmodernism.

Akibat dari perdebatan antara dua pendapat di atas, muncullah pendapat ketiga yang ingin menengahi antara dua pendapat yang kontradiktif tadi. Zygmunt Bauman dalam karyanya “Post-Modern Ethics” berpendapat, kata “Post” dalam istilah tadi bukan berarti “setelah” (masa berikutnya) sehingga muncullah kesimpulan-kesimpulan seperti di atas tadi. Menurut Bauman, postmodernisme adalah usaha keras sebagai reaksi dari kesia-siaan zaman modernis yang sirna begitu saja bagai ditiup angin. Adapun penyebab dari kesia-siaan zaman modernis adalah akibat dari tekanan yang bersumber dari prasangka (insting,wahm) belaka.

Kaitannya postmedrnisme yang dianggap berseberangan dengan modernisme, era posmodern diawali dengan konsep adanya suatu wilayah yang tidak lagi dibatasi oleh satu negara, melainkan sistem informasi dan komunikasi yang dapat menembus dinding geografis dan politik. Postmodern menunjuk kepada suasana intelektual dan sederetan wujud kebudayaan yang meragukan ide-ide, prinsip-prinsip dan nilai-nilai yang dianut oleh modernisme.

Postmodernisme merupakan konsep periodiasi yang berfungsi untuk menghubungkan kemunculan bentuk-bentuk formal baru dalam sendi kultural dengan kelahiran sebuah tipe kehidupan sosial dan sebuah orde ekonomi yang baru; apa yang secara eufismistis disebut sebagai modernisasi masyarakat pasca industri atau konsumer, masyarakat media atau tontonan atau kapitalisme multinasional.

Bila modernisme mengarahkan pengembangan ilmu ke pengembangan teori dan pengembangan paradigma, atas dasar rasionalitas, maka postmodernisme mengkritik bahwa modernisme telah mengendalikan manusia secara teknis dengan membuat manusia untuk menggunakan prinsip, sistem pembuktian, model logika, serta cara-cara tertentu dalam berpikir rasional, sehingga manusia menjadi obyek sistem, bukan menjadi dirinya sendiri.

Ini berarti postmodernisme tetap mengakui rasionalitas, tetapi memberi kebebasan kepada manusia untuk menempuh jalan kritis-kreatif divergen dalam mencari kebenaran. Posmo bukan hendak membuktikan kebenaran, melainkan hendak mencari kebenaran.

Oleh karena itu, dapat dipahami bahwa perbedaan rasional antara era modern dan era postmodern adalah rasional pada era modern telah dimaknai pada kepentingan kerja dan direduksi menjadi efisiensi atas kriteria untung-rugi serta direduksi lebih lanjut menjadi pragmatik. Sedangkan pada era postmodern kebebasan tampil dalam wujud manusia selaku subyek pencari kebenaran. Manusia bukan obyek yang dikendalikan oleh struktur dan sistem tertentu untuk mencari kebenaran.

Bila perupa modernis mencari hal-hal yang bersifat universal, maka perupa posmodernis malahan berupaya mengidentifikasikan perbedaan. Kalau modernis percaya pada kemungkinan seni sebagai komunikasi universal, posmodernis justru tidak percaya bahwa seni mampu mengemban misi sebagai bahasa komunikasi universal. Mereka bukan mencari hal-hal yang bersifat universal seperti yang dilakukan perupa modernis melainkan mencari perbedaan spesifik dan khusus dengan memperlihatkan pluralisme pandangan, profesional, variabel, pergeseran dan perubahan. Gerakan modernisme kurang menghargai atau memandang rendah nilai keagungan budaya, mereka merasa terpisah dari peristiwa nyata di tengah masyarakat dan peradaban. Sementara gerakan posmodernisme, kendati memiliki sikap skeptis dan kritis terhadap zamannya, tetapi sangat aktif merespons situasi sosial dan politik.

Medium dalam seni posmodern yang terjadi adalah anything goes, yaitu segala material bisa dijadikan sebagai media dalam berkarya, berbagai materi menjadi simbol untuk menemukan petanda-petanda yang baru. Implikasinya hasil karya seni rupa cenderung bisa menusuk tatanan yang telah dibakukan dan cenderung tidak lazim dan aneh bahkan membingungkan dalam menafsirkan.

  1. C.   Proses Lahirnya Postmodernisme serta Keberhasilannya Membentuk Karakter Sendiri

Postmodern sering didefinisikan sebagai krisis modernisme atau krisis yang disebabkan oleh modernisasi. Postmodern muncul karena budaya modern menghadapi suatu kegagalan dalam strategi visualisasinya. Kegagalan modernisasi bukan terletak pada tekstualitasnya tetapi pada strategi visualisasinya yang seragam dan membosankan. Jika sebelumnya budaya ‘barat’ didominasi oleh budaya verbal maka kini budaya visual menggantikannya. Program aplikasi komputer yang sebelumnya banyak menggunakan bahasa verbal dan sulit dihafal, kini bahasa gambar atau ikon banyak digunakan sebagai pengganti bahasa tersebut dan ternyata mudah dipahami.

Fucault, seorang tokoh pemikir radikal postmodernisme mengatakan bahwa budaya itu dikonstruksi oleh subjeknya (manusia) yang bebas, tidak lagi oleh agama dan masyarakat. Intinya ialah kebebasan. Inilah semangat yang tampak akhir-akhir ini setelah modernisme. Dua aliran utamanya ialah dekonstruksionisme dan relativisme.

Semangat postmodernisme mencoba mendekonstruksi kembali konstruksi-konstruksi yang ada namun tanpa memberikan konstruksi yang baru sebagai alternatif, karena bagi kaum postmodernisme segala sesuatu adalah relatif, atau di dunia ini tidak ada yang mutlak. Suatu konstruksi (baik konstruksi pemikiran) akan terus dipertanyakan tentang kebenarannya, dan bisa berubah-ubah setiap saat, karena mustahil menemukan kebenaran yang hakiki.

Gambarannya realnya bisa diungkapkan dalam berbagai contoh sebagai berikut: apakah mencuri itu salah, tentu akan dijawab relatif, tergantung penilaian masing-masing. Apakah aborsi itu salah, akan dijawab relatif, tergantung siapa yang menilai. Intinya ialah, jawaban dikembalikan kepada masing-masing individu, salah atau benar kembali kepada pertimbangan individu. “Jangan Anda paksakan kebenaran Anda pada orang lain, kebenaran Anda belum tentu benar menurut saya.” Demikianlah gejala relativisme.

Berdasarakan keterangan di atas, kembali pemakalah pertegas bahwa lahirnya postmodernisme terlepas dari sifatnya yang dekonstruktif atau revisioner adalah sebuah respon terhadap kegagalan modernism serta konsekuensi buruk bagi kehidupan manusia dan alam pada umumnya. Di antara berbagai konsekuensi negatif dari modernism itu adalah; pertama, pandangan dualistiknya yang membagi seluruh kenyataan menjadi subyek-obyek, spiritual-material, manusia-dunia, telah mengakibatkan objektivisasi alam secara berlebihan dan penguasaan alam semena-mena, sehingga terjadilah krisis ekologi. Kedua, cenderung menjadikan manusia seolah-olah obyek juga dan masyarakatnya pun direkayasa bagaikan mesin sehingga masyarakat bersifat tidak manusiawi. Ketiga, dalam modernism, ilmu-ilmu positif-empiris menjadi standar kebenaran tertinggi sehingga nilai-nilai moral-religius kehilangan wibawa. Keempat, materialism, yang kemudian berujung pada konsekuensi kelima, yaitu militerisme dan tribalisme atau mentalitas yang mengunggulkan suku dan kelompok sendiri.

Puncak dari era pencerahan atau modernisme adalah kejenuhan akal budi manusia. Ternyata akal budi bukanlah segala-galanya yang dapat menjadi tumpuan harapan manusia. Akal budi bukanlah Tuhan yang memiliki nilai kekekalan. Akal budi hanya akan membawa manusia kepada kegilaan. Intelektualitas yang menjadi kebanggaan dan kesombongan manusia hanya bagai embun pagi yang akan sirna ketika matahari bersinar terang. Akal budi manusia hanya seperti sebutir pasir yang kecil bila dibandingkan dengan dunia ini.

Pertobatan manusia terhadap kemampuan akal budi telah melahirkan postmodern. Kebenaran objektif yang diciptakan oleh akal budi telah menjadi kandas dan tidak percaya kepada rasio manusia. Kegagalan manusia menyelidiki Tuhan membuat manusia sadar atas kegilaannya. Manusia tidak mampu menciptakan sebuah kebenaran tradisi yang objektif terkeculai Firman Tuhan yang sudah diberikan kepada manusia.

Setelah lama berkiprah di dalam dunia, era modernisme mengakhiri riwayatnya dengan semua akibat yang telah dirancang dan dibuatnya. Keraguan-raguan mereka terhadap firman Tuhan dan Tuhan sendiri telah mengubur mereka dalam ketidakpastian dan lahirlah era baru dengan sebutan era postmodern dengan segala versinya.

Kejenuhan rasional atau akal budi adalah merupakan latar belakang lahirnya era postmodern. Pada era postmodern akan terjadi pertentangan antara natur dan kultur, fakta dan nilai, ideal dan realistis. Dalam kejenuhan rasional paradigma antropologis menjadi alternatif yang terbaik. Filasafat humanisme menjadi kebutuhan dan tata nilai baru.

Hal ini sangat dipengaruhi oleh gerakan Hak Azasi Manusia. Setiap orang dituntut untuk menghargai pendapat orang lain meskipun salah. Manusia postmodern dituntut untuk tidak mencapuri urusan orang lain. Setiap orang mempunyai hak yang tidak boleh diganggu gugat oleh siapa pun. Orang yang hidup dalam era ini harus memiliki kedewasaan intelektual, emosional dan spiritual. Masalah pribadi tidak boleh diurusi dan dicampuri oleh siapa pun.

Keculai mereka melanggar hukum dan harus diselesaikan berdasarkan hukum yang berlaku dan harus mempunyai dasar hukum yang kuat. Kebebasan memilih dan bertindak dijunjung tinggi dan dihargai secara hukum. Etika pastoral dalam era ini ditekankan kepada menolong orang lain agar ia mampu menolong dirinya sendiri dalam mengambil sebuah keputusan.

Orang-orang yang hidup dalam era postmodern mempunyai kecenderungan untuk menolak hal-hal yang bersifat struktural. Postmodernisme hampir sama dengan poststrukturalisme dan seperti mereka yang menganut aliran kebebasan.

  1. D.   Isu-isu dalam Posmodernisme

Posmodernisme memiliki keragaman gerakan, sebagai akibat-akibat negatif yang ditimbulkannya. Kategori pertama, adalah gerakan posmodernisme yang digagas oleh Nietzsche, Derrida, Foucault, Vattimo, Lyotard, dan lain-lain. Gerakan ini menggagas pemikiran-pemikiran yang banyak berurusan dengan persoalan linguistik. Kata kunci yang populer untuk kelompok ini adalah “dekonstruksi”. Mereka cenderung hendak mengatasi gambaran dunia (worl-view) modern melalui gagasan yang anti world-view sama sekali. Mereka mendekonstruksi atau membongkar segala unsur yang penting dalam sebuah world-view seperti : diri, Tuhan, tujuan, makna dan dunia nyata. Awalnya strategi dekonstruksi ini dimaksudkan untuk mencegah kecenderungan totalitarisme pada segala sistem; namun akhirnya cenderung jatuh ke dalam relativisme dan nihilisme.

Kategori kedua, posmodernisme adalah segala pemikiran yang hendak merevisi modernisme, tidak dengan menolak modernisme itu secara total, melainkan dengan memperbarui premis-premis modern di sana-sini saja. Di sini, tetap diakui sumbangan besar modernisme seperti : terangkatnya rasionalitas, kebebasan, pentingnya pengalaman dan sebagainya.

Oleh karena itu gejala-gejala yang timbul di era postmodernisme tersebut,  antara lain:

  1. Perkawinan tidak dianggap lagi sesuatu yang sakral, sehingga kawin-cerai menjadi hal yang biasa;
  2. Seks itu banyak, tidak hanya satu (suami-isteri), sehingga punya wanita idaman lain atau pria idaman lain adalah yang hal biasa;
  3. Seks pra-nikah itu tidak masalah karena dianggap sebagai hak untuk dinikmati;
  4. Seperti penyalahgunaan narkoba dan meningkatnya angka beragam bentuk kejahatan.

Jadi hal ini sesuai dengan apa yang dinyatakan oleh kaum postmodernisme bahwa manusia di jaman ini tidak mungkin lagi patuh dengan nilai-nilai, walaupun dulu memang nilai-nilai itu ada namun sekarang itu semua telah berubah.

Perlawanan terhadap peradaban atau nilai-nilai agama dan kemasyarakatan. Itulah semangat postmodernisme. Anti otoritas (nilai-nilai agama, budaya, dan hukum) dan mengagungkan pola hidup individualistik adalah gejalanya. Kalau hal ini yang terjadi maka kehidupan manusia akan mengarah pada kekacauan dan kebimbangan karena tidak ada lagi pengakuan atas standar-standar kebenaran yang ada.

Terlebih lagi berbagai isme dan aliran pemikiran lain di Barat selalu bertumpu dan berakhir pada empat pola pemikiran; epistemologi materialisme, humanisme, liberalisme dan sekularisme. Tidak terkecuali dengan postmodernisme. Dikarenakan manusia Barat berpikir atas dasar epistemologi materialis sehingga berakhir pada anggapan bahwa (jenis) manusia adalah simbol kesempurnaan. Dikarenakan manusia adalah eksistensi sempurna, maka ia dianggap tolok ukur dan kutub semua eksistensi dan sebagai micro-cosmos. Dari sinilah muncul pemikiran Humanisme. Ungkapan “aku berpikir, maka aku ada” adalah perwujudan dari pemikiran di atas. Karena manusia memiliki rasio, maka ia bisa menjadi poros alam. Jadi Rasiolah yang menjadi pusat kesempurnaan manusia.

  1. a.      Sandaran Posmodernisme

Walaupun muncul berbagai persepsi yang berbeda-beda tentang postmodernisme, namun ada satu kesamaan di antara semua persepsi tadi, asas-asas pemikiran postmodernisme. Selain bertumpu pada empat hal di atas, aliran ini juga bertumpu pada enam hal dibawah ini, yang mana antara satu dengan yang lain terdapat kaitan yang amat erat:

Pertama, penafian atas ke-universal-an suatu pemikiran (totalism). Para penganut postmodernisme beranggapan, tidak ada realita yang bernama rasio universal. Yang ada adalah relativitas dari eksistensi plural. Oleh karenanya, mereka berusaha merubah cara berpikir dari “totalizing” menuju “pluralistic and open democracy” dalam segala aspek kehidupan, termasuk berkaitan dengan agama. Dari sini dapat diketahui, betapa postmodernisme sangat bertumpu pada pemikiran individualisme sehingga dari situlah muncul relativisme dalam pemikiran seorang postmodernis.

Kedua, penekanan akan terjadinya pergolakan pada identitas personal maupun sosial secara terus-menerus, sebagai ganti dari permanen (tsabat) yang amat mereka tentang. Manusia postmodernis beranggapan, hanya melalui proses berpikir yang dapat membedakan manusia dengan makhluk lain. Oleh karena itu, jika pemikiran manusia selalu terjadi perubahan, maka perubahan tadi secara otomatis akan dapat menjadi penggerak untuk perubahan dalam disiplin lain. Dari sini jelas sekali bahwa postmodernisme menolak segala bentuk konsep fundamental—bersifat universal—yang memiliki nilai sakralitas dan yang menjadi tumpuan konsep-konsep lainnya. Manusia postmodernis diharuskan selalu kritis dalam menghadapi semua permasalahan, termasuk dalam mengkritisi prinsip-prinsip dasar agama.

Ketiga, pengingkaran atas semua jenis ideologi. Selayaknya dalam konsep berideologi, ruang lingkup dan gerak manusia akan selalu dibatasi dengan mata rantai keyakinan prinsip yang permanen. Sedang setiap prinsip permanen dengan tegas ditolak oleh kalangan postmodernis. Oleh karenanya, manusia postmodernis tidak boleh terikat pada ideologi permanen apapun, termasuk ideologi agama.

Keempat, pengingkaran atas setiap eksistensi obyektif dan permanen. Atas dasar pemikiran relativisme yang mereka yakini, manusia postmodernis berusaha meyakinkan bahwa tidak ada tolok ukur sejati dalam penentuan obyektifitas dan hakekat kebenaran. Tuhan yang dianggap sakral oleh manusia agamis pun mereka ingkari. Ungkapan Nietzsche “God is Dead” atau ungkapan lain seperti “The Christian God has ceased to be believable”, terus merebak dan semakin digemari oleh banyak kalangan di banyak negara Barat, sebagai bukti atas usaha propaganda mereka.[4] Ingat, ungkapan mereka tidak hanya berkaitan dengan agama Kristen, namun akan mereka generalisasi kesemua agama termasuk Islam.

Kelima, kritik tajam atas semua jenis epistemologi. Kritik tajam secara terbuka merupakan asas pemikiran filsafat postmodernisme. Pemikiran ataupun setiap postulat—yang bersifat prinsip—yang berkaitan dengan keuniversalan, kausalitas, kepastian dam sejenisnya akan diingkari. Berbeda halnya pada zaman Modernis, semua itu dapat diterima oleh manusia modernis. Tentu, hal itu bukan berarti bahwa semua pemikiran yang dulu terdapat pada masa modernisme ditolak mentah-mentah oleh postmodernisme. Rencana postmodernisme pada kasus tersebut adalah dalam rangka mengevaluasi kembali segala pemikiran yang pernah diterima pada masa modernisme, dengan cara mengkritisi dan menguji ulang. Henry Girao, seorang interpretator postmodernisme mengatakan, “Tugas filsafat adalah untuk meminimilir kedekatan jarak antara modernisme dan postmodernisme, terutama dalam bidang tujuan maupun target pendidikan dan pengajaran.”[5]

Keenam, pengingkaran akan penggunaan metode permanen dan paten dalam menilai maupun berargumen. Dengan kata lain, para manusia postmodernis cenderung menggunakan metodologi berpikir “asal comot” tanpa dasar standar logika yang jelas. Konsep berfilsafat dalam era postmodernisme adalah hasil penggabungan dari berbagai jenis pondasi pemikiran. Mereka tidak mau terkungkung dan terjebak dalam satu bentuk pondasi pemikiran filsafat tertentu. Hal ini mereka lakukan demi menentang kaum tradisional yang selama ini mereka anggap tidak memiliki pemikiran maju karena mengacu pada satu asas pemikiran saja. Padahal tanpa mereka sadari, pengadopsian berbagai pondasi pemikiran sangat rawan dalam kesalahan berpikir. Berapa banyak paradok terjadi antara pemikiran filsafat satu dengan yang lain. Itulah yang sekarang ini dihadapi oleh para pendukung postmodernisme, paradoksi pemikiran. Untuk menutupi rasa malunya, para pendukung postmodernisme –seperti Rorty- menganggap bahwa apa yang mereka dapati sekarang ini adalah apa yang disebut dengan post philosophy, puncak perbedaan dengan filsafat modernis. Dengan jenis filsafat inilah, mereka ingin meyakinkan masyarakat Barat bahwa dengan berpegangan dengan konsep dan ideologi tersebut mereka akan dapat meraih berbagai hal yang menjadi impian dalam kehidupannya.[6] Namun, mereka tetap tidak dapat lari dan bersembunyi dari segala bentuk paradoksi pemikiran yang selalu menghantui dan menghadangnya.

  1. b.      Ciri Karakter Sosiologis Posmodernisme

Jika kita terperosok dalam pemikiran-pemikiran para pencetus posmodernis tentu kita tidak akan terlepas dari problematika sosiologisnya yang mana memiliki beberapa karakter diantaranya:

Pertama, timbulnya pemberontakan secara kritis terhadap proyek modernitas, memudarnya kepercayaan pada agama yang bersifat transenden dan semakin diterimanya pandangan pluralisme-relativisme kebenaran.

Kedua, meledaknya industri media massa, sehingga ia seolah merupakan perpanjangan dari  system indera, organ dan syaraf manusia. Kondisi ini pada gilirannya  menjadikan dunia dan ruang realitas kehidupan terasa menyempit. Lebih dari itu, kekuatan media massa telah menjelma menjadi Agama dan Tuhan baru yang menentukan kebenaran dan kesalahan perilaku manusia.

Ketiga, munculnya radikalisme etnis dan keagamaan. Fenomena ini muncul sebagai reaksi manakala orang semakin meragukan kebenaran ilmu, teknologi dan filsafat modern yang dinilai gagal memenuhi janji emansipatoris untuk  membebaskan manusia dan menciptakan kehidupan yang lebih baik.

Keempat, munculnya kecenderungan baru untuk menemukan identitas dan apresiasi serta keterikatan romantisme dengan masa lampau.

Kelima, semakin menguatnya wilayah perkotaan (urban area) sebagai pusat kebudayaan dan sebaliknya, wilayah pedesaan (rural area) sebagai daerah pinggiran. Pola ini juga berlaku bagi menguatnya dominasi negara maju (Negara Dunia Pertama)  atas negara berkembang (Negara Dunia Ketiga).

Keenam, semakin terbukanya peluang bagi pelbagai kelas sosial atau kelompok minoritas untuk mengemukakan pendapat secara lebih bebas dan terbuka. Dengan kata lain, era postmodernisme telah turut mendorong proses demokratisasi.

Ketujuh, munculnya kecenderungan bagi tumbuhnya ekletisisme dan pencampuradukan berbagai diskursus, nilai, keyakinan dan potret serpihan realitas, sehingga sekarang sulit untuk menempatkan suatu objek budaya secara ketat pada kelompok budaya tertentu secara eksklusif.

Kedelapan, bahasa yang digunakan dalam diskursus postmodernisme seringkali mengesankan tidak lagi memiliki kejelasan makna dan konsistensi, sehingga bersifat paradoks.[7]

  1. c.       Posmodernisme di Mata Islam

Jika posmodernisme mengatakan keberanan objektif tidak lagi dipercayai sebagai kebenaran absolut, maka mekanisme kebenaran yang bekerja adalah kebenaran subjektif atau relatif. Tidak ada lagi nilai yang diakui sebagai nilai tertinggi. Suatu konsep tidak lagi didasarkan pada sesuatu hal yang bersifat divine dan metafisis. Lalu, dimana posisi agama dalam dunia posmodernisme?

Posisi agama dalam dunia posmodernisme tidak lagi berhak mengklaim punya kuasa lebih terhadap sumber-sumber nilai yang dimiliki manusia seperti yang telah diformulasikan oleh para filosof.[8] Jadi, agama dipahami sebagai sama dengan persepsi manusia sendiri yang tidak memiliki kebenaran absolut. Oleh sebab itu agama mempunyai status yang kurang lebih sama dengan filsafat dalam pengertian tradisional. Dari kesalahan epistemologi, posmodernisme kemudian menjadi tantangan berat bagi umat Islam.

Tantangan posmodernisme bagi umat Islam semakin berat ketika paham ikutan yang dibawa posmodernisme, kemudian dijadikan sebagai landasan berpikir para sarjana Islam semacam Muhammad Abid al-Jabiri, Mohammad Arkoun, Hassan Hanafi, Nashr Hamid Abu Zayd, Muhammad Syahrur, dan lain-lain. Di tangan para sarjana Islam kontemporer ini, posmodernisme berhasil menancapkan pengaruhnya dalam kajian Islam.

Mengapa banyak sarjana Muslim yang tertarik pada rayuan posmodernisme? Disisni kita bisa lihat beberapa faktor yang mendorong para sarjana Islam menggunakan framework posmodernisme dalam kajian Islam; yakni : frustasi atas kemunduran umat Islam dan bangsa Arab pada khususnya, kekalahan bangsa Arab atas Israel pada Perang Enam Hari tahun 1967, frustasi terhadap pemerintah Arab yang semakin otoriter, dan frustasi atas maraknya gerakan kebangkitan Islam.[9] Doktrin-doktrin posmodernisme yang menjadi tantangan berat bagi Islam antara lain :

1. Nihilisme

Doktrin yang digunakan para posmodernis adalah konsep mereka tentang nilai. Program posmodernisme adalah penghapusan nilai dan penggusuran tendensi yang mengagungkan otoritas. Hal ini dengan mereduksi makna nilai yang dijunjung tinggi dan dinilai sebagai absolute oleh agama dan masyarakat. Nihilisme atau penghapusan nilai (dissolution of value) pertama kali diperkenalkan oleh Nietzsche (1844-1900). Dalam karyanya, Will To Power, Nietzsche menggambarkan nihilisme sebagai situasi dimana “manusia berputar dari pusat ke arah titik X”; artinya, nilai tertinggi mengalami devaluasi dengan sendirinya.

Nietzsche melakukan penghancuran tatanan nilai lama yang diartikannya sebagai kepalsuan dan kebohongan. Tetapi karena nilai-nilai tradisional itu berkaitan langsung dan tak terpisah dengan agama, Nietzsche memproklamirkan “kematian Tuhan” sebagai peristiwa paling penting zaman ini. Tuhan hanyalah gagasan manusia yang tidak berani mengikuti dorongan daya hidupnya sendiri.

Heidegger (1889-1976) dengan nada yang sama mendefinisikan nihilisme sebagai “suatu proses dimana pada akhirnya tidak ada lagi yang tersisa”. Bagi Heidegger, tetap ada perbedaan ontologis antara Being (sang Ada) yang sesungguhnya dengan being (para pengada). Artinya, semua hal adalah tentang penafsiran. Itulah sebabnya kebenaran pun harus dilihat sebagai sesuatu yang ambigu.

Nietzsche dan Heidegger, keduanya menuju satu titik dimana manusia tidak lagi berpegang pada struktur nilai; nilai tidak lagi mempunyai makna. Suatu konsep tentang apapun tidak lagi berdasarkan pada sesuatu yang metafisik, religius, ataupun mengandung unsur ketuhanan. Hal ini memposisikan posmodernisme vis a vis agama.

2. Relativisme

Ernest Gellner menyatakan bahwa posmodernisme Nampak jelas mendukung paham relativisme. Kebenaran bagi posmodernisme adalah elusive (kabur), subjektif dan internal. Oleh sebab itu mereka tidak bisa menerima ide tentang kebenaran tunggal, eksklusif, eksternal, dan transenden.

Relativisme terutama diusung dan diolah oleh Derrida. Sambil menarik kesimpulan-kesimpulan radikal dari Nietzsche, Husserl, dan Heidegger, lewat post-strukturalisme, ia sampai pada gagasan, bahwa pada akhirnya bahasa dan kata-kata adalah kosong belaka, dalam arti mereka sebetulnya tidak menunjuk pada sesuatu apa pun selain pembedaan (differance) : pembedaan arti yang dimungkinkan oleh system lawan kata. ‘Makna’, tiada lain adalah permainan semiologik, permainan tanda-tanda.

3. Pluralisme

Pluralisme merupakan ‘dampak bawaan’ atau konsekuensi logis dari doktrin subjektivitas dan relativisme. Lagi-lagi Derrida menyumbangkan kerangka berpikir pluralisme. Konsepnya tentang ‘Differance’ berbicara mengenai penolakan terhadap adanya petanda absolute atau ‘makna absolut’, ‘makna transendental’, dan ‘makna universal’. Penolakan ini mesti dilakukan, dan menurut Derrida sudah pasti terjadi, karena dengan adanya proses ‘Differance’ tadi, apa yang dianggap sebagai petanda absolute akan selalu berupa jejak di belakang jejak. Selalu ada saja celah antara penanda dan petanda, antara teks dan maknanya.Celah inilah yang menyebabkan pencarian makna absolute mustahil dilakukan. Setelah kebenaran ditemukan, ternyata masih ada lagi jejak kebenaran lain yang ada di belakangnya. Karna‘Pluralisme’ adalah teori yang seirama dengan relativisme dan sikap curiga terhadap kebenaran.[10]

John Hick memberikan definisi yang fenomenal dan menegaskan bahwa sejatinya semua agama adalah “manifestasi-manifestasi dari realitas yang satu”. Dengan demikian, semua agama sama dan tak ada yang lebih baik dari yang lain. Dengan gagasan ini, maka masing-masing agama mempunyai metode, jalan, atau bentuk untuk mencapai “Tuhan”.

4. Liberalisme

Paham liberalisme berawal dari kebebasan berpikir. Kebebasan berpikir, berarti berpusat pada kebebasan individu, yang memiliki hak dalam pemerintahan, termasuk persamaan hak dihormati, hak berekspresi dan bertindak serta bebas dari ikatan-ikatan agama dan ideologi.

Liberalisme dianggap bersikap positif terhadap manusia, kemampuan dan kesempurnaannya. Liberalisme menekankan pada hak-hak individu, menentang kekuasaan dan otoritas resmi. Di sini pengaruh Barat modern dan postmodern yang individualistis begitu nyata dan radikal. Karena radikalnya itu mereka percaya bahwa manusia mampu menjadikan segala sesuatu menjadi lebih baik. Semua ini mengawali upaya pemarjinalan agama atau memisahkan agama dari urusan sosial dan politik secara perlahan-lahan. Agama tidak diberi tempat di atas kepentingan sosial dan politik.

Terlebih lagi Islam kemudian banyak dimaknai hanya dengan makna generic atau makna bahasa sebagai “tindakan pasrah kepada Tuhan” (submission to God) tanpa melihat, bagaimana cara pasrah kepada Tuhan itu – apakah kepasrahan kepada Tuhan itu menggunakan ajaran Nabi Muhammad SAW atau bukan. Upaya dekonstruksi makna Islam sebenarnya merupakan bagian dari upaya dekonstruksi istilah-istilah atau konsep-konsep kunci dalam Islam. Jika makna Islam didekonstruksi, maka akan terdekonstruksi juga makna “kafir”, “murtad, “munafik”, “al-haq”, “dakwah”, “jihad”, dan lain-lain.

 BAB III

PENUTUP

  1. 1.      Kesimpulan

Didalam istilah postmodernisme yang sampai saat ini belum ada   pendefinisian  yang telah disepakati bersama apa postmodernisme itu sebenarnya, yang dimana inilah yang membuat kebanyakan orang salah paham dalam memahami postmodernisme. Namun, kita bisa memahaminya lewat gerakan-gerakan yang mengatas namakan dirinya sebagai postmoderisnme dengan berbagai macam bentuk dan tujuan salah satunya seperti; gerakan yang ingin mendekonstruksi atau mengkritik pandangan modernism secara total Mereka mendekonstruksi atau membongkar segala unsur yang penting dalam sebuah world-view. Disampinng  itu  dengan mengetahui karakter atau cirri-ciri postmodernisme dan gejala-gejala-gejala sosiologis yang muncul didalamnya yang telah dipaparkan oleh pemakalah diatas.

Tentunya pembicaraan postmodernisme ini belum selesai sampai disini. Berbagai pandangan mengenai postmodernisme juga telah banyak dikemukakan bahkan  filosof-filosof barat seperti Derrida, Lyotard, Foucault dan yang lainya, dalam karya-karya mereka telah membahas banyak mengenai ini dalam bentuk-bentuk gerakan yang refisioner maupun dekonstruktif.

Sebagai pencari kebenaran dalam meniliti sesuatu, baik dalam bentuk kelompok (aliran, paham) ataupun dalam bentuk karya kita harus bersifat kritis, kreatif dan inovatif agar kita bisa menemukan pengetahuan yang benar, dimana tidak ada yang dicintai lagi oleh setiap pencari kebenaran selain kebenaran itu sendiri. Maka dari itu  kritik dan saran diperlukan untuk membangun pemakalah agar lebih hati-hati lagi dan untuk menemukan pengetahuan yang hakiki.

  1. 2.      Penutup

Alhamdulillah, akhirnya makalah yang berjudul “Zakat” ini dapat terselesaikan juga. Semua itu tidak lepas dari izin, pertolongan,  dan juga rahmat Allah Subhanahu Wata’ala. Dan juga berkat dukungan dan motivasi dari teman-teman yang tercinta yang telah banyak memberikan support dalam penyelesaian makalah ini. Pemakalah juga mengucapkan terima kasih kepada dosen yang terhormat yang telah memberikan tugas ini yang insya Allah dapat menjadi pelajaran bagi pemakalah sendiri maupun bagi yang lainnya.

Pemakalah mengakui dan menyadari bahwa dalam penulisan makalah ini masih terdapat kekurangan yang tidak lain adalah dari keterbatasan pemakalah. Untuk itu, pemakalah berharap kepada para pembaca makalah ini bila di dalam makalah ini masih terdapat kekurangan dimohon untuk memberikan masukan, kritik, dan saran yang membangun sehingga dapat menjadi masukan yang berharga bagi penyusun dan menjadi lebih baik dalam menyelesaikan tugas-tugas berikutnya.

DAFTAR PUSTAKA

Sudarminta, J. Epistemologi Dasar: Pengantar Filsafat Pengetahuan. 2002. Yogyakarta: Kanisius.

Suseno, Franz Magnis. Pijar-Pijar Filsafat. 2005. Yogyakarta: Kanisius.

Sugiharto, I. Bambang. Posmodernisme: Tantangan Bagi Filsafat. 1996.Yogyakarta: Kanisius.

Zarkasy, Hamid Fahmy. Liberalisasi Pemikiran Islam: Gerakan Bersama Missionaris, Orientalis, dan Kolonialis. 2008. CIOS-ISID-Gontor: Ponorogo.

Akbar S. Ahmed. Postmodernism and Islam. 1992.


[1] J. Sudarminta, Epistemologi Dasar, hal. 18

[2] Syapur ‘Itemod, Tarikh Ma’rifat Syenosi, hal. 2. Syahid Muthahhari, Syenokht-e dar Quran, hal. 29. Taqi Mishbah Yazdi, Omusyes Falsafeh, jilid pertama, pelajaran kesebelas. Mahdi Dahbosy, Nazariyeh-e Syenokh, hal 32.

[3] Dave Robinson, Nietzsche dan Posmodernisme, hlm. 35

[4] Lihat Michael Luntley, Reason, Truth and Self, The Post-modern Reconditioned.

[5] Lihat Howard Ozmon and Samuel Craver, Philosophical Foundations of Education.

[6] Lawrence E Cahoone, From Modernis to Post-Modernis.

[7] Akbar S. Ahmed, dalam bukunya Postmodernism and Islam (1992)

[8] Hamid Fahmy Zarkasy, Liberalisasi Pemikiran Islam : Gerakan Bersama Missionaris, Orientalis, dan Kolonialis, (CIOS-ISID-Gontor : Ponorogo, 2008), hal. 14.

9] Menurut, Nirwan Syafrin Manurung, dalam sebuah perkualiahan.

[10] Oxford Dictionary of Philosophy.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s