Aliran Paripatetik__

  1. A.     PENDAHULUAN

ibnu-maskwih21Aliran Peripatetic merupakan aliran yang pertama muncul di dunia filsafat. Hal ini sangat menarik untuk di kaji mengingat dalam Aliran-aliran ini terdapat berbagai masalah yang perlu di kritisi. Awal mula dikenalnya istilah filsafat peripatetik, adalah setelah meninggalnya salah satu tokoh besar filsafat yunani kuno, yaitu Aristoteles atau dengan kata lain orang-orang biasa menyebutnya dengan pasca Aristoteles. Yang dimana setelah meninggalnya Aristoteles yang meneruskan ajaran-ajarannya adalah para muridnya, kemudian dinamakan kelompok peripatetik. Istilah peirpatetik ini merujuk pada kebiasaan Aristoteles dalam mengajarkan filsafatnya kepada murid-muridnya. Dalam bahasa arab peripatetik disebut dengan istilah masya’i atau masya’iyin, yang berarti ia yang berjalan memutar atau berkeliling. Adapun yang mengatakan bahwa istilah peripatetik dalam nuansa sejarahnya lebih menunjukan kepada pengertian tempat Aristoteles mengajar, bukan kepada kebiasaan Aristoteles mengajar sambil berjalan-jalan

Aliran Peripatetic ini  tidak hanya dikalangan barat saja, melainkan di dunia Islam memiliki tokoh-tokoh yang sangat luar biasa yang cukup berpengaruh di dunia, seperti Al-Kindi,  Al-Farobi, Ibnu Sina dan para-pemikir-pemikir yang lain yang termasuk dalam Aliran filsafat peripatetic.

Ada berbagai masalah yang di kritisi Oleh Al-Ghazali mengenai pemikiran Peripatetik yang memahami tentang Keabadian alam, Tentang tuhan tidak mengetahui hal-hal yang juz’I atau yang particular, dan juga pemahaman tentang kebangkitan kembali jasad manusia di alam yang baru atau di Alam akhirat. Al-Gozali memiliki banyak argument untuk menanggapi permasalahan ini.

Namun  Dalam makalah ini mungkin tidak banyak yang di bahas, namun pemakalah berusaha untuk memunculkan ide-ide baru bagi siapa yang membacanya sehingga timbul gagasan-gagasan baru yang lebih baik. dan bisa termotifasi untuk mencari kembali yang bisa menambah pengetahuan tentang peripatetic.

 

 

BAB II

  1. A.    Sejarah Lahirnya Madzhab Peripatetik 

Pada masa awal peripatetik, khususnya ketika baru ditinggal oleh Aristoteles, pandangan filsafat Yunani yang bercirikan Aristotelian tidak banyak mengalami benturan-benturan yang berarti. Akan tetapi, ketika semangat peripatetik atau semangat mempertahankan corak berfikir Aristoteles masuk kedunia islam pada abad pertengahan, dan bertemu dengan ortodoksi, batang tubuh ajaran islam, maka munculah gesekan-gesekan untuk menjelaskan ajaran “agama dengan logika.”

 

  1. 1.      Awal Lahirnya Madzhab Peripatetik

Awal mula dikenalnya istilah filsafat peripatetik, adalah setelah meninggalnya salah satu tokoh besar filsafat yunani kuno, yaitu Aristoteles atau dengan kata lain orang-orang biasa menyebutnya dengan pasca Aristoteles. Yang dimana setelah meninggalnya Aristoteles yang meneruskan ajaran-ajarannya adalah para muridnya, kemudian dinamakan kelompok peripatetik. Istilah peirpatetik ini merujuk pada kebiasaan Aristoteles dalam mengajarkan filsafatnya kepada murid-muridnya. Dalam bahasa arab peripatetik disebut dengan istilah masya’i atau masya’iyin, yang berarti ia yang berjalan memutar atau berkeliling. Adapun yang mengatakan bahwa istilah peripatetik dalam nuansa sejarahnya lebih menunjukan kepada pengertian tempat Aristoteles mengajar, bukan kepada kebiasaan Aristoteles mengajar sambil berjalan-jalan.

Dr. Ahmad Fuad al-Ahnawi menjelaskan tentang interpretasi yang sebenarnya atas peripatetikisme dan corak yang membedakannya dengan Aristotelisme. Ia mengatakan bahwa: antara aliran Aristotelisme dan Masyaiyyah (peripatetikisme) terdapat perbedaan, walaupun kedua-duanya merupakan filsafat Aristoteles. Aliran Aristotelisme mempunyai corak khusus (rujukannya) tidak sampai keperguruannya, dan tidak sampai pula ketangan para murid dan penafsirnya. Sedangkan Masyaiyyah merupakan suatu aliran dari perguruan yang didirika oleh Aristoteles. Dimana tulisan-tulisannya menjadi pelita yang menerangi jalan perguruannya yang berlangsung sejak abad keempat sebelum masehi hingga zaman Ibn Rusyd yakni abad ketiga belas Masehi.

Perkembangan peripatetik, secara sederhana dapat dikatakan relatif sejajar dengan perkembangan akademia. Artinya, bahawa pada awalnya peripatetik hanya meneruskan dari prinsif-prinsif filsafat Aristoteles, sebagaimana akedemia meneruskan karya-karya warisan Plato dengan terutama mementingkan ajaran tentang idea-idea dan matematika. Demikian juga para murid Aristoteles meneruskan usaha-usaha gurunya, khususnya melakukan penyelidikan ilmiah yang sangat empiristik dan logis. Akan tetapi berbeda dengan Plato didalam mempengaruhi masa kuno yang akan mendatang. Karena Plato tetap dikenal masa kuno Yunani dan Romawi dekemudian hari. Sedangkan pengaruh filsafat Aristoteles sempat mengalami masa jeda, baru pada abad pertengahan, pengaruh Aristoteles atas pemikiran filsafat islam dan pada giliran selanjutnya atas modern barat mulai menampakkan pengaruh yang besar, bahkan melebihi pengaruh Plato sendiri. Sebagaimana Al-Ahnawi mengatakan bahwa ”Filsafat Islam lebih banyak diwarnai aliran mayaiyyah.”

Jadi madzhab peripatetik ini adalah aliran yang memiliki hubungan “Benang Merah” dengan Aristoteles. Karena kelahiran ini dilatarbelakangi oleh semangat meneruskan dan menghidupkan filsafat Aristoteles. Sebagaimana dengan Akademia Plato yang melahirkan Neo-Platonisme pada akhir abad keempat Masehi

Sekalipun filsafat peripatetik mengalami masa jeda yang lumayan sangat lama, dan pengaruhnya yang dominan baru terjadi pada abad pertengahan, namun sebelum menyebutkan tokoh-tokoh besar peripatetik didunia islam, pada abad pertengahan masehi, karena baik peripatetik awal maupun peripatetik islam, keduanya, sebagaimana Aristoteles memiliki corak yang relatif sama, yaitu, sama-sama menonjol dalam bidang filsafat alam. Adapun diantara tokoh-tokoh awal itu adalah, Theophrastos, Dikaiarkhos, dan Strato.

Adapun beberapa beberapa filosof yang dikategorikan kapada aliran peripatetik lainnya, diantaranya adalah al-Kindi (w. 866), al-Farabi (w. 950), Ibn Sina (w. 1030), Ibn Rusyd (w. 1196), dan Nashir al-Din Thusi (w. 1274). [1] Adapun ciri khas dari aliran peripatetik ini dipandang dari sudut metodologis dan epistemologisnya dikenal dengan beberapa hal: 1) modus ekspresi atau penjelasan dari para filosof peripatetik bersifat sangat diskursif (bahtsi), yaitu menggunakan logika formal yang didasarkan pada penalaran akal. 2) karena sifatnya yang diskursif, maka filsafat yang merka kembangkan bersifat tak langsung. Dikatakan tak langsung karena untuk menangkap objeknya mereka menggunakan symbol, baik berupa kat-kata atau konsep maupun representasi. 3) penekanan yang sangat kuat dari rasio-rasio sehingga kurang memprioritaskan pengenalan intuitif, yang sangat dikenal dalam aliran lain, seperti Isyraqi (Iluminasionis) mauopun Irfani (gnostik). Adapun cirri khas lain dari aliran peripatetik yang berkaitan dengan aspek ontologis. Misalnya, dalam ajaran mereka yang biasa disebut hylomorfisme, yaitu ajaran yang mengatakan bahwa apapun yang ada di dunia ini terdiri atas dua unsur utamanya, yaitu materi dan bentuk.

Kelompok peripatetik ini merupakan aliran filsafat yang menekankan kepada pembahasan tentang alam, atau bisa juga disebut dengan filsafat alam. Menurut kesaksian masa kuno, Aristoteles mengarang banyak karya, yang banyak memuat dokumentasi ilmiah dan empiris. Dan sebagian karya-karyanya itu adalah disusun oleh Aristoteles sendiri, dan sebagian yang lainnya lagi oleh para murid-muridnya dibawah naungan peripatetik.

  1. Tokoh- tokoh Peripatetik Awal

Sekalipun filsafat peripatetik ini mengalami jeda dan pengaruhnya yang dominan baru terjadi pada abad pertengahan, namun kita wajib mengetahui beberapa tokoh angkatan pertama dari madzhab peripatetik sebelum disebut tokoh-tokoh besar peripatetik di dunia islam pada abad pertengahan Masehi, karena baik peripatetik awal maupun peripatetik islam. keduanya, sebagaimana Aristoteles, memiliki corak yang relatif sama, yaitu sama-sama menonjol dalam bidang filsafat alam. Adapun tokoh-tokoh awal filsuf peripatetik yaitu sebagai berikut (ada dua kelompok, yang terkenal dan yang kuraang terkenal).

  1. Theophrastos

Ia berasal dari Eresos (tepatnya di pulau lesbos), yang menggantikan Aristoteles sebagai kepala madzhab peripatetik pada tahun 323-2 sebelum masehi. Menurut perkiraan ahli sejarah filsafat, ia meninggal pada tahun 288-7 sebelum masehi, atau 287-6 sebelum masehi. Dibawah kepemimpinannya madzhab peripatetik berkembang relatif pesat. Theophrastos telah mengerjakan segala bidang keahlian yang dikuasi oleh gurunya, Aristoteles. Akan tetapi kebanyakan karangan yang ditulisnya saat ini sulit untuk dapat dijumpai lagi. Sedikit yang masih tersimpan adalah dua karya besarnya tentang ilmu tumbuh-tumbuhan di samping beberapa karangan kecil lainnya.

Memang tidak banyak yang bisa diketahui tentang perjalanan filsafatnya, hanya ada catatan yang perlu disampaikan disini, ialah bahwa Theophrastos termasuk salah satu tokoh yang boleh dianggap sebagai historigrafer filsafat yang pertama, karena ia sempat menulis satu karya yang berisi kumpulan beberapa pendapat filsuf, khususnya dalam bidang filsafat alam. Namun, seperti biasanya, karya besar ini tidak dapat ditemukan lagi secara utuh, kecuali hanya di temukan beberapa fragmen saja dari karangannya yang masih ada.

  1. Dikaiarkhos

Ia lahir dan dibesarkan di Messene. Tidak banyak yang dapat diketahui tentangnya. Termasuk apakah ia satu murid langsung dari Aristoteles, ataukah hidup sezaman dengan Aristoteles.

Mengingat tahun lahirnya dan meninggalnya tidak di ketahui secara pasti. Sejarah filsafatnya bisa kita ketahui, karena ia meninggalkan sebuah karangan besar yang banyak dikutip oleh beberapa filsuf selanjutnya. Dan dari para pengutipnya itulah, ia dikelompokkan ke dalam madzhab peripatetik sesudah Theophrastos. Karangan besar dari Dikaiarkhos ini merupakan salah satu karya tentang perkembangan kebudayaan Yunani, sejak masa mitologi yunani kuno, sampai pada masa aristoteles.

  1. Strato

Strato merupakan seorang tokoh filsuf peripatetik yang berasal dari Lampsakos. Ia mengepalai madzhab peripatetik setelah meninggalnya Theophrastos. Dalam karya-karyanya, Strato banyak memusatkan perhatiannya pada fisika, dimana ia sangat dipengaruhi oleh ajaran demokritos, seorang tokoh utama atomisme dari zaman yunani kuno. Sekalipun ia menolak teologi dalam alam, dan tetap mencoba menerangkan kejadian alam secara mekanistis, sebagaimana halnya demokritos, akan tetapi ia berbeda pendapat dengan demokritos dan tidak menerima ajaran atomismenya, karena Strato berkeyakinan bahwa materi dalam alam dapat dibagi-bagi secara terus-menerus.

 

  1. Tokoh- tokoh Lain

Dari masa kuno, kita telah banyak mewarisi karya-karya Aristoteles atau diinstinbatkan kepada Aristoteles. Daftar karya-karya Aristoteles yang tertua disusun oleh Diogenes Laertions. Dari daftar yang disusun oleh diagones itulah, terlihat bahwa Aristoteles dan para kelompok peripatetik, merupakan aliran filsafat yang menekankan kepada pembahasan tentang alam inderawi, atau bisa pula disebut dengan para filsuf alam. Menurut kesaksian kuno, Aristoteles mengarang banyak karya, yang banyak memuat dokumentasi ilmiah dan empiris. Kiranya dapat diandaikan bahwa sebagian karya-karya itu memang disusun oleh Aristoteles sendiri, dan sebagian lagi oleh murid-muridnya aristoteles dibawah naungan madzhab peripatetik. Namun, kebanyakan dari karya-karya besar itu, adalah berasal dari periode Aristoteles sewaktu ia mengajar dalam Lykeion hampir semua karya-karya itu sekarang hampir tidak ada lagi.

Yang perlu dicatat dari penuturan para historiografer tersebut adalah bahwa materi bahasan filsafat peripatetik pada masa-masa awal, tidak banyak mengalami perubahan yang berarti, yaitu lebih menekankan pada materi pembahasan di dalam wilayah “filsafat alam” sebagaimana yang lazim dilakukan oleh penadahulu mereka, Aristoteles. Sekalipun Aristoteles sendiri tidak pernah mengesampingkan sama sekali obyek-obyek di luar alam fisik, atau yang di istilahkan oleh Aristoteles di dalam banyak karyanya sebagai metafisika atau sesuatu yang “berada di luar yang fisik”. Aristoteles tidak pernah secara khusus menulis satu buku pun tentang metafisika, kecuali ia hanya pernah menyinggung bahwa ada sesuatu obyek bahasan di luar yang fisik, yang ia istilahkan dengan metafisika itu.

  1. Peripatetik di Dunia Islam

Para ilmuan arab, sebagaimana yang telah di singgung dalam beberapa pertemuan yang lalu, para ilmuan arab sudah mengadakan usaha yang berarti untuk menyelaraskan, bukan hanya filsafat yunani dengan ajaran islam, akan tetapi juga dengan unsur-unsur campuran yang terdapat di dalam filsafat yunani sendiri. Walaupun tidak secara langsung semangat patriskisme berperan untuk mendamaikan pertentangan yang terjadi antara ilmuwan dengan agama, pada sisi lain terjadi peralihan besar-besaran dari dunia filsafat yunani kedalam dunia islam dalam semangat keilmuwan murni. Hal ini ditandai dengan penterjemahan buku-buku yunani, yang berpusat di bait al hikmah khususnya, ke dalam bahasa timur, terutama bahasa arab. Upaya penerjemahan ini membawa pengaruh yang sangat besar dengan di tandai lahirnya banyak tokoh filsuf di dunia islam.

Tanpa bermaksud mengurangi kebesaran tokoh yang lain, kami hanya mengambil tiga tokoh saja, karena menurut kami ketiganya ini sudah dapat mewakili yang memilki korelasi yang relevansi yang baik.

  1. Tokoh-tokoh Peripatetik Islam 
  2. Al Kindi

Nama lengkap al-Kindi adalah Abu Yusuf Yaqub Ibn Ishaq ibn al-Shabah Ibn Imran Ibn Ismail Ibn Muhammad Ibn al-Asy”ats Ibn Qeis al-Kindi. Beliau di kenal sebagai filsuf muslim keturunan arab pertama, atau meminjam istilah madjid fakhry dengan gelar “filosof dari arab” .

Al-Kindi hidup pada masa kejayaan pemerintahan daulah Abbasiyah, di mana dia hidup pada lima periode pemerintahan Abbasiyah yang populer, di mulai sejak pemerintahan al-Amin (809-813 M), al-Ma’mun (813-833 M), al-Mutashim (833-842 M), al-Watsiq (842-847 M), dan al-Mutawakkil (847-861 M). pada lima periode, dinasti Abbasiyah ini dikenal suatu masa kejayaan dengan adanya minat yang besar terhadap ilmu dan perkembangannya intelektual, khususnya faham muktazillah sebagai pengajar di bait al hikmah yang mengusai bahasa suryani dengan baik, ia banyak menerjemahkan dan mengarang buku-buku ilmiah. Melalui lembaga bait al hikmah, ia sangat di kenal dan berjasa dalam gerakan penerjemahan, di samping dikenal sebagai pelopor yang memperkenalkan tulisan-tulisan Yunani, Suriyah, dan India kepada dunia islam. Pada saat al-Mutawakkil memerintah dinasti abbasiyah, al-Kindi sempat dicurigai sebagai orang yang kurang memiliki hormat kepada agama. Karena ia mengajarkan filsafat Aristoteles dari Yunani, bahkan perpustakaan miliknya, Kindiyah sempat ditutup. Namun akhirnya kindiyah di buka kembali, setelah al-Mutawakkil mengetahui bahwa tuduhan terhadap al-Kindi hanyalah fitnah dan hasutan yang dilakukan oleh dua putra Ibn Syakir, Muhammad dan Ahmad.

Al-Kindi merupakan orang pertama yang merintis jalan upaya penyesuaian filsuf yunani dengan prinsip-prinsip ajaran Islam (ortodoksi), sementara filsuf Arab atau Islam selanjutnya bisa disebut hanya meneruskan apa yang telah di lakukan al -Kindi. Jalan pertama yang di rintis al-Kindi ini merupakan titik awal lahirnya filsafat Islam, sekalipun filsafat islam masih dalam “tanda petik “. Mengingat al -Kkindi sendiri kurang jelas dan tegas memilih, ketika menghadapi lebih-lebih saat menginplementasikan aliran filsafat Aristoteles (baca masyaiyah peripatetik) dan aliran filsafat neoplatinus (aliran platinus). Kerancuan ini terjadi akibat beredarnya revisi yang dilakukan Proclus terhadap karya tulis Platinus, yang terkenal dengan nama Enneade (tasu’at) atau Rububiyah (ketuhanan). Sebagaimana yang di jelaskan oleh al-Ahwani, ketika al-Kindi mengulas masalah-masalah tentang kecakapan jiwa, banyak pengamat menilai bahwa ia sedikit menyimpang dari tradisi Aristoteles sendiri. Karena ia membedakan antara kecakapan-kecakapan vegetatif, sensitif, rasional dan motif. Dengan demikian, konsep tiga bagian platonik tentang jiwa sering kali disatukan tanpa pemilihan sebagaimana mestinya.[2] Ia menggambarkan penginderaan sebagai tindakan memisahkan bentuk indera dari obyek indera, dengan bantuan indera. Sementara akal, menurut al-Kindi mempunyai analogi tertentu dengan sensai (penginderaan). Dengan syarat bahwa:

  1. Akal melepaskan bentuk obyek-obyek spestes dan genera.
  2. Akal menjadi identik dengan obyeknya dalam tindakan berfikir. Dalam risalahnya tentang akal, al kindi mengembangkan pandangan Aristotelian tentang akal, yang ia yakini sama hakikatnya dengan pandangan Plato. Dengan demikianlah, menurut Madjid Fakhry, letak perbedaan antara al -kindi denga Aristoteles, Nampak dalam pengantarnya tentang akal.

Menurut al-Kindi, realitas itu di bangun di atas dasar pengetahuan manusia yang berbeda. Pertama adalah saluran pengalaman indera, yang berkaitan erat dengan saluran penangkapan manusia terhadap obyek-obyek lahir dengan cara yang mudah dan langsung melalui indera manusia. Kedua, pengalaman saluran rasional, yaitu pengenalan secara intuitif dengan cara mengambil kesimpulan secara logis dan niscaya dari obyek pertama pengenalan. Obyek pengenalan seperti itu bersifat universal, juga immaterial, lagi pula baik pembayangan (representasi) maupun bayang-bayang inderawi tidak pernah di bentuk, karena penginderaan maupun pembayangan keduanya berkaitan erat dengan hal-hal yang partikular.

Sekalipun al kindi tidak menyetujui pendapat plato yang mengatakan bahwa jiwa berasal dari alam idea, akan tetapi argumennya tentang pemilihan jiwa dari tubuh, dan jiwalah yang mengatur tubuh, lebih dekat kepada pemikiran plato dari pada aristoteles. Dimana aristoteles menyebut bahwa jiwa adalah baharu dan berubah, karena ia merupakan form (bentuk) bagi tubuh (materi). Bentuk tidak bisa tinggal. Tanpa materi, keduanya membentuk kesatuan sensual, dan kemusnahan badan berbanding lurus dengan kemusnahan jiwa. Sementara Plato mengatakan bahwa kesatuan antara jiwa dan badan adalah kesatuan accidental dan bersifat temporal. Binasanya badan tidak mengakibatkan lenyapnya jiwa. Menurut al-Kindi, jiwa adalah prinsip kehidupan yang mempengaruhi tubuh organik untuk beberapa saat lamanya, kemudian melepaskannya tanpa mempengaruhi kejasmaniannya. Menurutnya, jiwa disertai oleh tiga daya.

  1. Al-Quwwah al-Ayahwaniyah adalah daya nafsu
  2. Al-Quwwah al-Ghadabiyah adalah daya marah
  3. AlQuwwah al’-Aqilah adalah daya fikir
  4. Al Farabi

Nama lengkapnya adalah Abu Nashr Muhammad Ibn Muhammad Ibn Tarkhan Ibn Auzalagh. Sebutan “al-Farabi” diambil dari nam Kota “Farab”, tempat di mana ia dilahirkan pada tahun 257 H/870 M. atau tepatnya di daerah Wasij, termasuk wilayah distrik atrar. Oleh karena itu, al-Farabi di kalangan orang-orang Latinabad tengah, sering disebut dengan nama Abu Nashr (abunaser, diambil dari nama aslinya). Ayahnya, seorang jenderal ternama di Persia dan ibunya seorang berkebangsaan Turki.

Sejak kecil, al-Farabi memiliki kecakapan yang luar biasa di dalam bahasa, ia telah mengusai bahasa Persia, Turkistan dan Kurdistan dengan baik kecuali bahasa Yunani dan Suryani[3], yaitu bahasa – bahasa ilmu pengetahuan dan filsafat, ia kurang menguasainya. Ia memperdalami semua ilmu yang telah diselidiki al-Kindi. Tidak mengherankan apabila pandangan filsafatnya tidak jauh berbeda dengannya,[4] karena ia mempelajari dan mengenal filsafat dari buku-buku al-Kindi, baik buku terjemahan-terjemahan dan komentar-komentar al-Kindi atas filsafat yunani maupun faham-faham al-Kindi sendiri. Untuk ilmu tata bahasa dan sastra arab, ia pelajari dari Abu Bakar al-Saraj, seorang ilmuan Baghdad yang kemudian juga berguru pada al-Farabi dalam bidang logika.

Sementara untuk ilmu logika, al-Farabi memperoleh dari ilmuan Baghdad lainnya, yaitu Abu Bisyr mattinus Ibn Yunus, yang juga memberikan pelajaran tentang filsafat. Abu bisyr ini adalah seorang Kristen Nestorian yang banyak menterjemahkan karya-karya filsafat yunani, di samping itu al-Farabi juga belajar filsafat kepada Yuhana Ibn Hailan.[5]

Para ahli sepakat untuk memberikan pujian setinggi-tingginya kepada al-Farabi, terutama sebagai ahli logika yang mashyur dan juru bicara Plato serta Aristoteles pada masanya, karena ia dengan tekun telah berusaha memperbaiki studi logika, meluaskan dan melengkapi aspek-aspek yang lebih rumit yang telah diabaikan oleh al-Kindi, dimana al-Kindi memang dalam bidang logika (manthiq) agak lemah dan sering melakukan telaah yang cenderung, asal saja terhadap logika. Kelebihan al -Farabi di bidang logika dapat di ukur dari jumlah dan kelengkapan-kelengkapan komentar dan para phrase-phrasenya tentang logika Aristoteles.

Di dalam karya pertamanya tentang filsafat Plato, al-Farabi memperlihatkan pengetahuannya yang luas tentang kumpulan tulisan (corpus) platonic. Mengenai kumpulan tulisan tersebut, ia bukan saja memaparkan semua dialog, akan tetapi juga surat-surat (epistles) Plato, dan memberikan suatu penjabaran yamg singkat tentang materi pokok filsafatnya. Kadar pengetahuannya tentang pemikiran filsafat Plato, diperlihatkan saat ia memberikan ringkasan terhadap salah satu karya Plato tentang hukum (the laws), yang menunjukan apresiasi dan minatnya yang besar terhadap filsafat moral dan politik dari seoarng filsuf besar, Plato.

Sedangkan karya keduanya al-Farabi, yang memuat pemikiran Aristoteles (dalam edisi bahasa inggris M. Mahdi menterjemahkan: al farabi’s philosophy of Aristoteles), dimana konon Aristoteles menyatakan bahwa “pengetahuan ilmiah” merupakan cara untuk mencapai “kebahagiaan” manusia dan bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan yang baik, yang harus manusia usahakan. Karya ini memuat penelitian al farabi terhadap seluruh bidang filsafat Aristotelian, dimulai dengan logika dan diakhiri dengan metafisika yang memuat teori-teori tentang “kebahagiaan”.

  1. Ibnu Sina

Nama lengkapnya adalah Abu Ali al-Husain Ibn Abdillah Ibn Hasan Ibn Ali Ibn Sina, atau di kenal dengan seoarng filsuf islam terbesar dengan sebutan “syek al rais” di lahirkan di desa Afsyanah (Efshene), dekat Bukhora, transoxiana/Persia pada tahun 370 H/980 M. Ayahnya berasal dari kota balakh dan pindah ke Bukhara, sedangkan ibunya berasal dari kota Khairmatsu, satu wilayah dengan kota Bukhara. Di Khairmaitsu ayah Ibnu Sina pernah diangkat oleh Nuh Ibn Manshur sebagai penguasa di Kota itu. Hasil perkawinan dengan sattara, ia di karuniai tiga orang anak: yaitu Ali, Husein (ibn sina) dan Muhammad.[6]

Pada usia dua puluh tahun, ayahnya meninggal dunia. Kemudian ia meninggalkan Bukhara menuju Jurjan. Di Kota ini, ia mengajar dan mengarang, dan seorang muridnya yang bernama Abu Ubaid al-Juzajani telah menulis sejarah hidup Ibnu Sina. Karena adanya kekacauan politik, Ibnu Sina pindah ke Khawarazan dan bertemu dengan penguasa setempat, Syamsuddaulah, yang kemudian mengangkatnya menjadi menteri karena jasa-jasa mengobati penyakit yang di derita oleh penguasa itu. Di kota ini, Ibnu Sina menulis suatu buku yang lengkap mengenai masalah-masalah filsafat Aristoteles tentang “bagian alam” yaitu dalam kitabnya Al Syifa, di samping melanjutkan tulisannya tentang ilmu kedokteran, dalam Al Qanun Fi al Thibb, yang bagian pertamanya telah ditulis di Jurjan.

Sebagaimana al farabi dan pendahulunya yang lain, semisal al-Kindi, maka Ibnu Sina sekalipun banyak dipengaruhi Aristoteles, namun tak urung dalam teori “emanasi”nya sempat diwarnai neoplatonisme, unsur yang berasal dari filsafat Aristoteles dan Platonik berusaha di padukan, untuk tidak mengatakan dicampur baurkan, atau menurut istilah Nurkholis Madjid; Ibn Sina telah menegakkan bangunan neoplatonis di atas dasar kosmologi Aristoteles-ptolemi, yang di dalam bangunan itu di gabungkan konsep menurut paham emanasi. Hal ini bisa di lihat dari pandangannya tentang “akal”. Ibnu Sina, para filsuf peripatetik lainnya, mengatakan bahwa tuhan itu adalah akal (Al-Aql). Akal ini samping memikirkan dirinya, ia juga memikirkan sesuatu hal di luar sebab timbulnya akal lain yang disebut akal pertama.

  1. B.     Karakteristik Aliran Peripatetik 

Istilah “peripatetik” merujuk kepada kebiasaan Aristoteles dalam mengajar murid-muridnya. Peripatetik yaitu “ia yang berjalan memutar”, ini menunjukkan pada kebiasaan Aristoteles yang biasa mengajar muridnya sambil berkeliling berjalan ketika ia sedang mengajarkan filsafat, maka istilah peripatetik ditujukan kepada pengikut setia Aristoteles.

Yang membedakan aliran peripatetic dengan aliran lainnya yaitu dari sudut metodologis atau epistemologis, ontologis, dan emanasi. Berikut diantaran beberapa cirri dari segi metodologisnya; a). Modus penjelasan para filosof peripatetic yang bersifat diskursif yang menggunakan logika formal yang didasarkan pada penalaran akal. Metode yang mereka gunakan adalah metode penarikan kesimpulan dari pengetahuan yang telah diketahui dengan baik dan mereka biasa menyebutnya dengan premis mayor dan minor, dan jika telah ditemukan term dari kedua premis tersebut biasa disebut dengan “middle term”. Dalam filsafat istilah seprti itu biasa disebut dengan “silogisme”. b). Dikarenakan sifat aliran ini yang diskursif, maka filsafat yang mereka kembangkan bersifat tidak langsung karena dalam menangkap objeknya mereka biasanya menggunakan symbol, baik yang berupa kata-kata atau konsep maupun representative. Modus perolehan ini biasa disebut dengan istilah hushuli (perolehan) yang diperoleh secara tidak langsung atau melalui perantara yang biasa disebut dengan “inferensial” dan buiasanya dikontraskan dengan modus pengenalan lain yang disebut debngan istilah hudhuri yang menangkap objeknya secara langasung. c). penekanan yang sangat kuat pada pengenalan rasio sehingga kurang memprioritaskan pengenalan intuitif yang biasa dilakukan pada aliran filsafat lain. Karena terlalu mengggunakan penekanan yang kuat terhadap penalaran daya akliah, maka aliran ini sering dikatakan sebagai aliran yang tidak mendapatkan pengetahuan yang otentik namun hanya bergantung kepada pendahulu mereka saja, namun dengan demikian tidak berarti bahwa mereka tidak mengakui adanya intuisi suci, tetapi bagi mereka itu hanya dapat dimiliki oleh para Nabi atau Wali. Dengan demikian mereka sendiri lebih menggantungkan pada daya-daya atau kekuatan semata.

Cirri lain dari aliran ini dari segi ontologism bisa dilihat dari ajaran mereka yang biasa disebut dengan istilah hylomorfysme yang mengatakan bahwa apa pun yang ada di dunia ini terdiri dari dua bentuk utama yang materi dan bentuk. Dalam sejarahnya, ajaran ini dirumuskan dengan jelas oleh Aristoteles dari ajaran gurunya Plato yang mengatakan bahwa apa yang ada di dunia ini tidak lain hanya bayang-bayang dari ide-ide yang ada di dunuia atas yang kemudian biasa disebut dengan Platonic Ideas. Yang dimaksud bentuk disini bukanlah bentuk fisiknya melainkan semacam esensi (hakikat) dari sesuatu sedangkan yang disebut materi adalah bahan yang tidak akan mewujud kecuali setelah bergabung dengan bentuk tadi.

Dalam dunia Islam, hampir seluruh filosof yang beraliran peripatetic seperti al-Kindi, al-Farabi, Ibn Sina dan Ibn Rusyd memiliki pandangan hylomorfysme yang dengan demikian para filosif tersebut dapat disebut filosof peripatetic.

Cirri yang kuat dari hylomorfysme ini dapat kita lihat dari ajaran para filosof peripatetic seperti al-Farabi dan Ibn Sina yang menyebut bahwa akal aktif sebagai pemberi bentuk. Ajaran ini mengatakan bahwa alam fisik ini terdiri atas materi dan bentuk dan materi yang disebut disini harus dipahami sebagai bahan yang memiliki potensial dalam menerima bentuk apa pun, namun tidak dapat atau belum berbentuk fisik dan Ibn Sina menyebut meteri ini sebagai mumkin al-wujud, yaitu suatu kemungkinan atau potensi dari sesuatu untuk mewujud namun belum mewujud. Agar potensi ini dapat mewujud maka pelu ditambahkan kepadanya bentuk. Seperti yang kita ketahui bahwa semua benda yang dapat kita lihat di alam semesta ini tentunya telah mendapat bentuk masing-masing, dan menurut keyakinan mereka akal aktiflah yang telah memberikan mereka bentuk- bentuk tertentu kepada benda-benda tersebut.

Kemudiaan cirri lainnya yaitu dari teori emanasi yang dimana cirri ini agak menyimpang dari Aristotelianisme murni. Kelahiran teori ini dikarenakan al-Farabi yang merasa kecewa terhadap buku Metafisika Aristoteles yang berisi bahwa kitab metafisik tersebut tidak banyak membahas tentang Tuhan yang dalam Islam merupakan tema pokok dalam metafisika. Dan dikatakan pula bahwa hanya dalam kitab Lambda dari bukunya itu Aristoteles berbicara tentang Tuhan, namun tidak ada keterangan yang memuaskan tentang bagaimana Tuhan menciptakan alam.

Setelah al-Farabi, kemudian Ibn Sina dalam aspek lain dari teologi Aristoteles merasa kecewa. Kemudian al-Farabi mencari keterangan yang kiranya dapat memuaskan rasa ingin tahunya tersebut. Maka dengan demikian, ketika al-Farabi mengenal teori emanasi Plotinus, pendiri aliran Neo-Platonik ini, ia menjadikannya solusi dari persoalannya tersebut. Karena menurut al-Farabi, teori emanasi ini telah dapat menjawab pertanyaan yang mendasar yaitu bagaimana dari Tuhan Yang Esa muncul dunia yang beraneka. Dan disesuaikan juga dengan teori astronomis yang berkambang saat itu yang didominasi oleh teori Ptolemius, seprti yang diajarkannya dalam kitab Almagest, maka al-Farabi menghasilkan teori emanasi yang lebih canggih dari teori asli Plotinus.

Seperti yang telah diceritakan tadi bahwa persoalan utama yang melandasi munculnya teori emanasi adalah bagaimana dari Tuhan yang satu muncul alam semesta yang beraneka, padahal ada dictum filosofis yang telah diterima secara umum yangmenyatakan bahwa bahwa dari yang satu akan muncul yang satu juga. Misalnya sebuah planet tidak akan muncul jika tidak memiliki “sufficient reason” untuk keberadaanya. Karena itulah al-Farabi Dan Ibn Sina berusaha keras dalam menjelaskan sebab efisiensi dari apa pun yang muncul di alam semesta.

Berikut akan kami jelaskan sedikit tentang perbadaan antara teori emanasi al-Farabi dan Ibn Sina.

a)      Teori emanasi al-Farabi

Menurut al-Farabi, yang pertama muncul tentunya yaitu Tuhan Yang Maha Esa. Al-farabi menggambarkan Tuhan sebagai “akal” yang tugasnya adalah berpikir, dan dari konsekuensi pemikiran-Nya ini adalah munculnya akal pertama yang dari sudut wujud dan sifatnya sangat dekat dengan Tuhan. Karena Tuhan itu Esa maka dari-Nya hanya akan muncul satu akal saja dan sebagai akibatnya yang kemudian disebut dengan akal pertama. Sampai sini belum terjadi adanya keanekaragaman alam, tetapi ketika alam pertama terbentuk maka potensi keanekaraan pada selain Tuhan (yang disebut alam) sudah terbentuk karena akal pertama menurut al-Farabi telah bisa berpikir bukan hanya tentang Tuhan melainkan juga tentang dirinya sendiri.sementara Tuhan hanya memiliki satu objek pemikiran yaitu dirin-Nya sendiri. Dari sinilah kita dapat melihat bahwa akal pertama memiliki dua jenis prinsip, yaitu yang pertama adalah prinsip keesaan, yang bisa menghasilkan akal berikutnya, dan yang kedua prinsip keanekaan, karena memikirkan dirinya muncullah benda-benda samawi. Hal ini juga terjadi pada akal-akal berikutnya yang dari akal kedua sampai akal kesepuluh. Dengan demikian al-Farabi telah dapat menjelaskan bagaimana dati Tuhan Yang Esa muncul alam yang semesta.

b)     Teori emanasi Ibn Sina

Teori emanasi Ibn Sina memiliki dasar yang sama denga teori emanasi al-Farabi, hanya saja di sini ada penjelasan yang lebih lengkap berkenaan dengan beberapa hal, diantaranya; Pertama , tentang pemilihan wujud yang menjadi tiga macam yaitu, wajib al-wujud, mumtani’ al-wujud, dan mumkin al-wujud.

Mumtani’ al-wujud tentunya tidak merujuk pada apa pun karena kemustahilannya, sedangkan mumkin al-wujud merujuk kepada alam semesta yaitu alam ssemesta ketika berbentuk potensi daninilah yang dimaksud oleh Arisstoteles dengan materi awal. Tetapi ketika alam semesta telah mewujud maka Ibn Sina tidak lagi menyebutnya sebagai mumkin al-wujud tetapi wajib al-wujud. Namun untuk membedakannya dengan wajib al-wujud yang pertama (Tuhan) maka Ibn Sina menyebutnya dengan wajib al-wujud lighairihi (wujud actual karena yang lain) sementara Tuhan disebut oleh Ibn Sina Sebaga wajib al-wujud lidzatihi (actual selalu karena diri-Nya sendiri).

Kedua, karena akal pertama dan juga akal-akal selanjutnya dapat berpikir tentang tiga objek yaitu Tuhan sebagai wajib al-wujud linafsihi, atau wujud niscaya karena diri-Nya sendiri, kemudian alam sebagai mumkin al-wujud linafsihi, dan alam sebagai wajib al-wujud lighairihi (yang actual karena sebab yang lain) maka, akibat yang muncul dari pemikiran akal-akal tersebut adalah juga tiga macam. Tiga hal yang muncul dari akal pertama tersebut ialah: 1. Akal kedua, 2. Jiwa (Malaikat) Langit Pertama, 3. Tubuh Langit Pertama, dan seterusnya.  Namun kekecualian terjadi pada akal kesepuluh karena ia tidak mampu lagi memikirkan akal yang kesebelas, tetapi justru dengan memberikan bentuk pada materi menimbulkan alam yang fana’ yang dalam istilah Aristoteles disebut dunia generasi dan korupsi, yaitu duinia yang kita kenal dimana tempat munculnya batu-batuan, hewan dan kita manusia, atau yang biasa disebut dengan Dunia Bawah Bulan (The Sublunar World).

  1. C.    Kritik Al-Ghazali Terhadap  Peripatetic

Pada dasarnya kritik yang dilakukan oleh Al-Ghazali yang terdapat dalam buku tahafut al-falasifah terdapat 20 permasalahan yang di soroti, namun Al-ghazali mengatakan bahwa 17 diantara permasalahan tersebut hanyalah menambahkan, dan 3 hal penting yang sangat dan paling disoroti adalah yang pertma, sanggahan Al-Ghazali tentang Keabadian Alam, kedua sanggahan terhadap hal yang particular ataupun juz’I, dan ketiga adalah mengenai kemunculan kembali adanya kebangkitan jasmani.

Berikut ini penjelasan masing-masing.

  1. Untuk menjelaskan keabadian

Untuk menjelaskan ini, Al-Gshazali terlebih dahulu menjelaskan perbedaannya dengan peripatetic, mengenai maslah waktu dan gerak. Dimana menurut para pilusuf peripatetic, ala mini azali tanpa adanya permulaan waktu bagi wujudnya dan tanpa ada batas akhirnya. Berarti dari pernyataan tersebut adanya kehancuran alam semesta (fana’) adalah suatu hal ketidak mungkinan. Serta ala mini akan tetap begini adanya.

Selain itu juga, jikalau kita lihat dari pendapat peripatetic ini, menurut akal kita secara rasional sendiripun, jikalau tidak ada penghancuran, atau tidak adanya fana atau kemusnahan, mana mungkin kita bisa menyaksikan bagaimana pohon-pohon roboh dan mati, daun-daun berjatuhan atau berguguran, serta ketika api melalap atau membakar hutan-hutan kayu-kayu kering, maka itupun merupakan sebuah tanda kemusnahan atau ke fana’an alam semesta.

Tapi dari kalangan peripatetic ini tetap mengatakan bahwasanya alam sebagai akibat, dan sebabnya adalah azali dan abadi. Oleh karena itu jikalau sebab abadi atau azali, maka akibatpun akan azali. Pendapat tersebut dipengaruhi oleh hal yang priora dan pasteriora. Alasan lain adalah bahwa apabila alam fana, maka ketiadaan akan terjadi sesudah wujudnya. Dengan demikian, kata sesudah akan melekat pada alam. Ini berarti mengafirmasi waktu. Alasan selanjutnya, masalah wujud tidak akan pernah berhenti, karena wujud yang mungkin harus.

Menurut Al-Ghazali, alasan ketiga bisa dijawab dengan setiap yang baru (hadits) dan perbuatan (fi’il) meski tercipta dan berpermulaan waktunya, dan semua masa mendatang tidak termasuk wujud bagi kita meskipun datangnya berturut ataupun secara bersamaan, namun masa lalu adalah wujud yang nyata dan datangnya berturut-turut meskipun tidak scara bersama-sama.

Pada proses penciptaan, dari ketiadaan, dimana dari ketiadaan itu sendiri tidak dapat diandaikan “akan tiada”, “sedang tiada”, dan “telah tiada”, karena pengandaian tersebut sekaligus bersamaan dan sekaligus penciptaan dengan waktu. Apabila hal ini dilihat dari sudut pandang rasional semata, maka tidak memustahilkan mengandaikan pada keabadian alam, namun brikutnya bisa diterima tentang kebakaannya, beserta dengan ketiadaannya. Karena menurut mereka, apabila alam lenyap, kemungkinan wujud harus tetap ada, dan yang mungkin tidak pernah berubah menjadi mustahil. Akan tetapi harus di ingat, bahwa kemungkinan itu adalah sangat relative. Mereka sangat dipengaruhi bahwa segala Sesutu yang ada di pengaruhi oleh materi, demikian juga Sesutu yang lenyap juga memerlukan suatu materi. Dan yang karena materi itu,iya akan lenyap.argumen ini muncul dan adanya karena muncul prinsip bentuk dan materi. Dimana suatu bentuk materi-materi dan mnyatakan bahwa setiap yang berbentuk fisik tidak akan lenyap. Tapi yang lenyap adalah bentuk-bentuk dan aksiden-aksiden (arra’dah). Jadi bentuk silogis dari argument tersebut adalah:

  1. Apabila materi rusak, maka keruskan harus terjadi
  2. Tapi konsekwensi itu mustahil.
  3. Oleh sebab itu, kata yang pertama (1) itu mustahil.

Menurut Alghazali, disinilah adanya kesimpulan yang tidak lazim, karena kata-kata yang pertama menjadi tidak benar, kecuali apabila disusul dengan kata “apabila materi rusak”, maka kerusakan tak dapat dihindarkan. Alasan ini disebabkan oleh adanya kemustahilan, bahwa kerusakan itu adalah satu-satunya cara yang mana Sesutu merusak. Sebaliknya kerusakan adalah sutu keadaan dimana kehancuran terjadi. Dan tidak diragukan bahwa sesutau bisa rusak ketika Sesutu tersebut dalam keadaan sempurna.

Sebenarnya argument tentang keabadian alam hanyalah kekhawairan yang ada dalam madzhab peripatetic akan adanya sebuah kekosongan waktu. Yang mana ketika alam sebelum dicipta dan sesudah dicipta maka ada sebuah kekosongan waktu, namun hal ini tidak mungkin, mengingat tuhan adalah sang pencipta. Dan bahkan seperti yang kita ketahui bhwa tuhan pula lah yang menciptakan waktu.

Jadi kesimpulannya adalah alam ini azali sebagaiman wujud tuhan yang tidak berpermulaan dan tidak berpenghabisan serta begitu seterusnya. Jelas bisa dilihat bahwa teori peripatetic ini sangat di pengaruhi teori emanasi Plotinus.

  1. 2.      Sanggahan Al- Ghazali Mengenai Tuhan tidak Memiliki Pengetahuan yang Juz’i

Mengenai hal ini Al-Ghazali masih menganggap bahwa pemikiran dari madzhab peripatetic ini masih dipengaruhi oleh tentang berjalannya waktu dari ‘telah’, ‘sedang’, dan ‘akan’. Pengetahuan juz’iah didapat dan harus diketahui dari waktu yang lampau atau telah, sekarang atau masa akan datang secara masing-masing. Sementara menurut penganut faham peripatetic, bahwa tuhan tidak pernah berubah dengan keadaannya. Sedangkan seperti kita ketahui bahwa pengetahuan kita berubah jika objek yang kita ketahui berubah.

Jadi menurut pendapat madzhab ini, kesimpulannya adalah, tuhan tidak pernah berubah, sehingga Dia tidak mengetahui hal yang terperinci dan hanya mengetahui yang general saja.

Urutan-urutan analogi dan logika mereka sangat bersifat empiris, karena mereka tidak bisa membedakan yang diciptakan dan yang menciptakan.

  1. 3.      Sanggahan Al-Ghazali Terhadap Kebangkitan Kembali Jasad Tubuh

Banyak argument-argument rasional yang telah membuktikan tentang kemustahilan adanya kebangkitan kembali tubuh-tubuh, bahkan mereka telah berhasil membuktikannya dengan adanya sifat antromorfis yng dimiliki oleh tuhan. Mereka telah menguraikan dari berbagai segi entang teori mereka. Pertama, kebangkitan kembali, berarti adanya perbaikan tubuh yang dilakukan oleh tuhan terhadap suatu hal yang sudah lenyap eksistensinya, dan bahkan kebangkitan kembali terhadap kehidupan yang telah tiada. Dengan kaa lain menurut mereka, bahwa material tubuh tetap sebagia tanah, dan jika adanya konsep dibangkitkan kembali, maka manusia diciptakan kembali dan disusun seperti manusia pertama kembali diciptakan.

Kedua, jiwa adalah maujud yang tetap hidup, meskipun tubuh telah mati, sedangkan yang ketiga adalah manusia hidup bukan karena tubuh manusia itu sendiri, melainkan karena jiwa yang bersemayam dalam tubuh.

Namun menurut peripatetic ketiga kemungkinan diatas tidak dapat diterima, karena itu bertentangan dengan prinsip-prinsip umum teori penciptaan, yaitu terdiri dari bentuk dan wujud.

Al-ghazali menyatakan bahwa jika ada suatu kemungkinan kembali bangkitnya tubuh yang telah hidup didunia, maka bagaimana dengan manusia yang dilahirkan atau dengan manusia yang cacat, jika ketika mereka dimasukan ke surge, apakah mereka akan ditampilkan dengan keadaan seperti semula. Bukan hal yang mustahil menurut al-Ghazali bahwa tuhan menciptakan materi-materi yang lain yang lebih sempurna.


[1] Mulyahadi Kartanegara “Gerbang Kearifan” hal. 27

[2]Abu ridla, M. Rasail al kindi al falsafiyah, Cairo 1953. Hal 294-295, 258, 273 dan bandingkan dengan pandangan piomandres dalam nock, A D. Dan festungiere,  A J, corpus Hermetikum, 1, paris, hal 25 dst. Dalam fakhry, Madjid, hal 135.

3]Lihat Drs. Poerwantana dkk, seluk beluk filsafat Islam, remaja rosdakarya, abndung, 1994, hal, 133.

[4]T. Akhyar D. sebuah kompilasi filsafat Islam, Dina Utama, Semarang, 1993, hal. 26.

[5]Ibid

[6]Op cit, Nasution. H, Filsafat Islam, hal 67.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s