Analisis Terhadap Pengetahun

A.    Pengetahuan

knowledge3Apa yang kita sebut dengan pengetahuan (knowledge) umumnya timbul dalam pengalaman, muncul dari perenungan (reflection), dan berkembang melalui kesimpulan (Inference). Namun apakah sebenarnya yang disebut pengetahuan itu? Jika pengetahuan itu muncul sebagaimana cara yang telah dideskripsikan tadi, maka mengetahui itu paling tidak adalah meyakini. Akan tetapi sekedar meyakini saja tentulah tidak cukup. Karena keyakinan yang salah bukanlah merupakan pengetahuan. Sebuah keyakinan yang berdasarkan pada tebakan mujur pun (lucky guess) bukanlah merupakan pengetahuan sama sekali, meskipun jika keyakinan itu benar. (Robert Audi, 2002; 214).

1.     Definisi Pengetahuan

Dalam Islam, istilah pengetahuan disebut juga sebagai ma’rifah. Ma’rifah dalam bahasa Arab mempunyai banyak penggunaan, tetapi umumnya ia berarti pengetahuan (knowledge), keasadaran (awareness), dan informasi. Kadang-kadang ia juga dipakai dalam arti ilmu yang sesuai dengan kenyataan dan melahirkan kepastian dan keyakinan. Meskipun masih juga terdapat perdebatan filologis dan etimologis mengenai padanan kata ini.

Bertrand Russell mengatakan bahwa kita mungkin saja membayangkan bahwa pengetahuan dapat didefinisikan sebagai “keyakinan yang benar”. Ketika yang kita yakini benar, mungkin kita menganggap bahwa kita telah mencapai suatu pengetahuan yang kita yakini. Akan tetapi keyakinan yang benar belum tentu merupakan pengetahuan. Russell menyimpulkan bahwa suatu keyakinan yang benar bukanlah pengetahuan jika disimpulkan dari keyakinan yang sesat.[1] Secara teknis dapat dikemukakan, apakah definisi pengetahuan (knowledge) yang amat erat hubungannya dengan pendidikan. Menurut Webster’s New World Dictionary, Pengetahuan adalah semua yang telah diamati atau dimengerti oleh jiwa (pikiran), belajar, dan sesuatu yang telah jelas. Menurut “Dictionary of philosophy” oleh Runes, Pengetahuan adalah sesuatu yang Berhubungan dengan tahu (yang diketahui) kebenaran yang dimengerti.

Watloly dalam bukunya Tanggung Jawab Pengetahuan mengatakan bahwa secara kodratnya, pengetahuan adalah wahana dengan mana manusia mencapai kebenaran. Sedangkan J. Sudarminta dalam bukunya Epistemologi Dasar mengungkapkan bahwa pengetahuan seringkali dimengerti sebagai kepercayaan yang benar dan yang kebenarannya dapat dipertanggungjawabkan secara rasional.

Ayatullah Murtadha Muthahhari menjelaskan bahwa pengetahuan dan pemahaman adalah sama dengan keyakinan, karena keraguan bukanlah merupakan pemahaman atau pun pengetahuan. Pengetahuan dan pemahaman adalah ketika kita sampai pada titik tertentu dimana kita berpikir bahwa ini adalah demikian, dan saya yakin bahwa itu adalah benar. Saya tak meragukan kebenarannya, karena bila saya meragukannya maka itu bukanlah pengetahuan melainkan “apakah”, “saya tak tahu”, “mungkin ada”, “mungkin tidak”, dan ungkapan-ungkapan sejenis seperti “saya tidak tahu” (la ’adri). Pada hakikatnya, suatu pengetahuan dapat disebut sebagai pengetahuan yang hakiki, jika disitu tidak terdapat sedikitpun keraguan, namun jika terdapat keraguan maka ia menjadi “saya tidak tahu” (la ’adri).[2]

Pengertian knowledge (Pengetahuan) diatas ialah meliputi semua ilmu, apakah ilmu sosial, ilmu eksakta, ilmu filsafat, dan sebagainya. Jadi setelah penulis amati dari berbagai pendapat mengenai pengertian Pengetahuan maka penulis dapat menyimpulkan bahwa PENGETAHUAN adalah suatu pemahaman yang dapat diperoleh seseorang melalui panca indra, rasio, atau hati dengan dibuktikan kebenarannya, serta mempunyai ciri-ciri spesifik mengenai apa (ontologi), bagaimana (epistimologi) dan untuk apa (aksiologi) pengetahuan tersebut disusun. Meskipun dalam filsafat Islam juga dikatakan bahwa pengetahuan itu tidak bisa didefinisikan karena tidak ada kata yang tepat untuk mendefinisikannya. Sebagaimana definisi-definisi tadi bahwa pengetahuan berkaitan erat dengan keyakinan yang benar, dalam ilmu logika, pengetahuan didefinisikan sebagai “penangkapan bentuk (shurah atau form) sesuatu dalam pikiran”, yang tujuan dari definisi ini adalah untuk mendefinisikan ‘pengetahuan hushuli’[3].

2.     Sumber-sumber Pengetahuan

Jika kita mulai berbicara mengenai sumber pengetahuan, terdapat dua kelompok yang mempunyai perspektif berbeda, kelompok yang hanya percaya pada satu sumber dan kelompok yang berpegang kepada beberapa sumber. Terdapat tiga aliran yang hanya berpijak pada satu sumber saja, yakni Positivisme, Rasionalisme, dan Iluminasionisme. Positivisme adalah suatu aliran yang hanya percaya pada indra-indra lahiriah sebagai sumber ilmu dan pengetahuan. Rasionalisme merupakan paham yang hanya berpegang pada akal dan proposisi-proposisi rasional sebagai asal makrifat hakiki. Sementara Iluminasionisme sebagai suatu isme yang memandang bahwa hanya hati dan kalbu serta pensucian jiwa adalah satu-satunya sumber bagi manusia untuk menggapai pengetahuan, makrifat, dan ilmu hakiki terhadap objek-objek dan realitas-realitas eksternal. Dan ada tiga aspek pengalaman perspektual yang perlu dibedakan satu sama lain,[4] yaitu pengalaman perspektual yang secara actual dihayati, persepsi, dan pengindraan.

a.     Pengetahuan Indrawi

Tak diragukan bahwa indra-indra lahiriah manusia merupakan alat dan sumber pengetahuan, dan manusia mengenal objek-objek fisik dengan perantaranya. Setiap orang yang kehilangan salah satu dari indranya akan sirna kemampuannya dalam mengetahui suatu realitas secara partikular. Bahkan menurut Aristoteles, “Barangsiapa yang kehilangan satu indera, maka ia kehilanagn satu ilmu”.[5] Misalnya seorang yang kehilangan Indra penglihatannya maka dia tidak akan dapat menggambarkan warna dan bentuk sesuatu yang fisikal, dan lebih jauh lagi orang itu tidak akan mempunyai suatu konsepsi universal tentang warna dan bentuk. Begitu pula orang yang tidak memiliki kekuatan mendengar maka dapat dipastikan bahwa dia tidak mampu mengkonstruksi suatu pemahaman tentang suara dan bunyi dalam pikirannya.

Pengetahuan yang bersumber langsung dari indra-indra lahiriah seperti melihat, mendengar, meraba, mencium, dan merasa adalah suatu jenis pengenalan dan pemahaman yang bersifat lahiriah, permukaan, dan tidak mendalam. Karakteristik lain dari pengetahuan-pengetahuan indrawi ialah pengenalan-pengenalan atas objek-objek fisikal yang diperolehnya itu bersifat partikular dan tidak universal, Batasan-batasan lain yang berhubungan dengan indra-indra lahiriah adalah terbatas dengan waktu dan zaman bentuk sekarang, yakni tidak terkait dengan zaman lampau dan akan datang. Indra-indra itu hanya mampu merasakan benda-benda dan objek-objek fisik pada saat sekarang dan fenomena-fenomena yang berada masa lampau dan akan datang sama sekali di luar dari ranah dan domain pengenalan dan pengetahuan indrawi. Kelemahan lain yang dimiliki oleh indra-indra lahiriah tersebut adalah berada di bawah pengaruh dan kekuasaan tubuh serta juga terimbas oleh syarat, kondisi, dan keadaan kejiwaan seseorang.

Pengaruh-pengaruh indra lahiriah dan emperimental dalam perolehan suatu ilmu, makrifat, dan pengetahuan telah menarik begitu banyak perhatian para filosof, termasuk Francis Bacon dan filosof lainnya yang sangat menekankan pengaruh fundamental indra-indra dan eksperimen dalam menggapai pengenalan dan pengetahuan yang benar terhadap objek-objek fisik, dan persoalan inilah yang menyebabkan kemajuan dan perkembangan yang pesat dalam dunia keilmuan. Akan tetapi ini tidak berarti bahwarasionalisme sama sekali ditolak[6] oleh Bacon. Dapat dikatakan rasionalisme dipergunakan dalam rangka empirisme, atau rasionalisme dilihat dalam rangka empirisme.

Aliran Positivisme yang beranggapan bahwa seluruh konsepsi dan sumber persepsi manusia bersumber dari indra-indra lahiriah, dengan demikian, sumber pengetahuan manusia tidak lain adalah indra-indra tersebut. Pandangan-pandangan seperti ini kemudian melahirkan dua penyikapan teoritis dan praktis, diantaranya:

1.     Positivisme Ektrim

Kecenderungan aliran pemikiran ini memandang bahwa asal dan sumber segala pengetahuan dan makrifat manusia adalah indra lahiriah serta menafikan secara mutlak konsep-konsep universal rasionalistik, dan juga menegaskan bahwa konsep-konsep yang tak berdasarkan dan berpijak pada observasi empiris dan penginderaan lahiriah adalah tidak valid dan tidak bermakna.

Positivisme ekstrim pada abad kesembilan belas memandang bahwa persepsi-persepsi non indrawi tidaklah bermakna dan berarti samasekali. Oleh karena itu, dalam perspektif mereka ini proposisi-proposisi filsafat dan etika serta matematika adalah samasekali tidak valid dan tidak pula bermakna.

2.     Positivisme Moderat

Mereka ini juga berpandangan bahwa seluruh pengetahuan dan makrifat manusia bersumber dari indra, namun tidak menolak keberadaan konsep-konsep universal rasionalistik pada tahapan berikutnya, yakni terjadinya perubahan dari konsep-konsep indrawi menjadi konsep-konsep rasional dan universal atau akal hanya mampu mengkonstruksi konsep-konsep universal tersebut setelah hadirnya di alam pikiran bentuk dan gambaran objek-objek fisikal yang dicerap oleh indra-indra lahiriah untuk pertama kalinya.

John Locke ialah seorang positivis moderat yang beranggapan bahwa semua makrifat dan pengetahuan manusia bersumber dari indra dan empirisitas, dia menafikan seluruh sumber dan alat pengetahuan selain indra, namun indra itu dia tidak dibatasi hanya pada kelima indra lahiriah tersebut. Dia menolak segala rasionalitas dan konsep-konsep fitriah serta memandang bahwa pikiran pada awalnya sama sekali tidak mempunyai bentuk-bentuk persepsi dan pengetahuan, pikiran sama seperti kertas putih dimana indra-indra kita menggambarkan sesuatu di atasnya dan keseluruhan persepsi yang hadir dan terwujud di alam pikiran kita berasal dari panca indra lahiriah dan indra-indra batiniah, lantas akal akan mengolah “bahan mentah” yang bersumber dari alam eksternal ini dengan metode mengabstraksi, menggabungkan, dan membandingkannya sehingga menjadi suatu konsepsi-konsepsi universal dan keyakinan.

b.    Pengetahuan Intelektif

Sebagian filosof yang menganut paham Rasionalisme telah menempatkan akal sebagai sumber pengetahuan dan makrifat. Dan disamping itu, mereka tidak mengingkari pengaruh indra-indra itu dalam perolehan pengetahuan, namun memandang bahwa makrifat hakiki hanya dapat dicapai dengan aktivitas akal. Menurut mereka ini, apa-apa yang dipersepsi oleh indra-indra adalah bersifat kabur, tidak jelas, tidak berhubungan satu sama lain, dan tidak bermakna, dan perolehan dengan karakteristik seperti ini sama sekali tak akan menghasilkan suatu pengetahuan dan makrifat. Apa yang diperoleh dari indra sama halnya sebuah potongan-potongan gambar yang tidak berkaitan satu sama lain, namun dengan efek aktivitas akal maka potongan-potongan gambar tersebut menjadi jelas, bermakna dan berhubungan satu sama lain, dan berbagai pemilihan dan penguraian akal adalah untuk mengklarifikasikan objek-objek tertentu dalam kategori berbeda-beda yang disebut dengan pemilahaan (tajziah).[7] Menurut Kant, persepsi-persepsi indrawi merupakan bahan mentah suatu makrifat dan pengetahuan, dan pikiran kita akan mengolah bahan-bahan tersebut sedemikian sehingga terwujudlah suatu keyakinan dan pengetahuan. Sebab setiap benda dengan cara yang sama tercakup dalam segala penampakannya, pengetahuan kita tentang lilin bukan karena wahyu, bukan karena pengamatan atau sentuhan atau khayalan, melainkan karena pemerikaan rasio.[8]

Perlu diperhatikan bahwa subjek dan ranah pengetahuan kita pada umumnya adalah konsepsi-konsepsi, kaidah-kaidah, hukum-hukum, dan teori-teori yang tanpa diragukan, tidak bisa diperoleh melalui indra-indra. Kant sangat menekankan peran fundamental dari indra dan akal, akan tetapi yang menjadi sasaran kritikan atas pemikirannya ialah ia tidak menegaskan perbedaan masing-masing fungsi akal dan indra, mengkhususkan perolehan konsepsi-konsepsi ruang dan waktu dari indra, dan kategori pemahaman dan argumen disandarkan kepada akal.

Karakteristik-karakteristik Pengenalan Rasional

  1. Salah satu karakteristik dan sifat pengenalan rasional adalah bahwa akal manusia dapat mengetahui hakikat dan dimensi batin objek-objek dan realitas-realitas dengan berpijak pada aspek-aspek lahiriahnya, atau yang menurut Kant, dari fenomena-fenomena. Akal mampu menyelami makna-makna terdalam suatu objek dan fenomena yang tidak dapat dijangkau oleh indra-indra lahiriah dan menembus batas-batas fisikalnya. Semuanya ini mustahil dilakukan oleh indra. Indra-indra hanya sanggup menginformasikan peristiwa-peristiwa yang terjadi itu secara susul menyusul dan berantai, akan tetapi, memahami adanya suatu kausalitas dan proses sebab-akibat yang mendasari kejadian-kejadian tersebut adalah aktivitas daya akal. Mungkin karena keberadaan kausalitas yang tak bisa terindra menyebabkan kaum empiris menafikannya secara mutlak.
  2. Sifat lain yang dimiliki oleh akal manusia adalah kemampuannya dalam “menguraikan” dan “menggabungkan” makrifat-makrifat dan pengetahuan-pengetahuan yang dikandungnya. Kekuatan akal ini memberikan kontribusi, manfaat, faedah, dan hasil yang sangat penting di antara pengetahuan-pengetahuan yang terdapat dalam pikiran manusia akan bertambah banyak dan beragam atau makrifat manusia terhadap segala sesuatu akan menjadi logis.
  3. Kemampuan lain yang dipunyai oleh akal adalah abstraksi, yakni setelah akal memperoleh beberapa gambaran-gambaran dan bentuk-bentuk partikular dia mempunyai kekuatan untuk mengabstraksi dan memisahkan gambaran-gambaran tersebut dari sifat-sifat dan karakter-karakter khususnya dan menggabungkan dimensi-dimensinya yang homogen, dan dari aspek-aspek yang homogen inilah dibentuk makna-makna universal dan kemudian dipredikasikan kepadanya.
  4. Kekhususan lain yang dimiliki oleh akal adalah mengglobalkan dan menguniversalkan pengetahuan-pengetahuan indrawi yang partikular itu. Dengan kemampuan akal ini, manusia bisa menarik suatu konsepsi universal dari objek-objek particular yang disaksikan atau menformulasi suatu teori dan kaidah universal dari observasi-observasi terhadap beberapa kasus-kasus tertentu dan terbatas. Indra-indra lahiriah manusia mustahil membentuk suatu konsepsi-konsepsi universal.

c.     Pengetahuan Intuitif

Para filosof beranggapan bahwa sumber dan alat pengetahuan yang paling penting adalah akal, sementara para urafa dan Sufi meletakkan intuisi dan hati sebagai sumber pengetahuan dan makrifat hakiki. Sebagian urafa, kaum Iluminasi, dan filosof Barat seperti Henry Bergson menempatkan pensucian hati, pencerahan jiwa, dan intuisi sebagai satu-satunya alat dan sumber makrifat serta jalan menuju kepada penerimaan hakikat-hakikat transenden.

Ibn Arabi menyatakan bahwa hati merupakan alat untuk memperoleh makrifat-makrifat tentang Tuhan dan rahasia-rahasia Ilahi, bahkan alat untuk mendapatkan segala sesuatu yang berkaitan dengan ilmu-ilmu batin.

Oleh Karena itu, hati dan kalbu merupakan perantara dan media persepsi dan penyingkapan hakikat segala sesuatu, hati bukan hanya sebagai sentral cinta dan kasih sayang, terkadang hati itu dinamakan sebagai “jiwa yang berakal”.

1.     Pensucian Jiwa dan Perolehan Makrifat

Minimalnya terdapat dua peran mendasar dari pensucian hati dan pencerahan jiwa yang dapat dikemukakan di sini, antara lain bahwa “kotoran” yang melekat pada hati dan jiwa merupakan penghalang bagi manusia untuk “menyaksikan” hakikat-hakikat yang terdalam dan kendala untuk mendapatkan pengetahuan yang benar. Pensucian hati bertujuan untuk menyingkirkan hijab-hijab kegelapan dan menyirnakan segala bentuk hawa nafsu. Dan dengan lahirnya kesucian dan kecerahan batin tersebut, manusia akan mendapatkan suatu pandangan dunia baru dalam memandang dan menafsirkan realitas-realitas hakiki dan objek-objek eksternal.

Apabila manusia mendapatkan taufik untuk menjinakkan dan menyeimbangkan seluruh sifat dan kondisi kejiwaannya maka dia pasti mampu meraih puncak kesempurnaan dan kebahagiaan serta akalnya akan senantiasa memberikan padanya ilham-ilham yang baik. Poin lain yang perlu ditekankan di sini adalah bahwa dalam diri manusia terdapat “indra” lain di samping fakultas akal dan indra-indra lahiriah, “indra” itu bisa kita namakan dengan “indra penerima ilham”. Pengetahuan modern pun telah menegaskan dan mengesahkan bahwa pada diri manusia terdapat “indra” utama yang mandiri dan bebas dari pengaruh indra-indra lahiriah. “Indra” ini terdapat pada semua individu manusia dengan intensitas yang berbeda-beda dan dapat pula mengalami perkembangan dan penyempurnaan sebagai mana indra-indra lain manusia. Posisi dan keberadaan “indra” ini dalam hati dan kalbu manusia.

2.     Perbedaan Pengetahuan Rasional dan Intuitif

Pengetahuan rasional atau pengetahuan yang bersumber dari akal adalah suatu pengetahuan yang dihasilkan dari proses belajar dan mengajar, diskusi ilmiah, pengkajian buku, pengajaran seorang guru, dan sekolah. Hal ini berbeda dengan pengetahuan intuitif atau pengetahuan yang berasal dari hati. Pengetahuan ini tidak akan didapatkan dari suatu proses pengajaran dan pembelajaran resmi, akan tetapi, jenis pengetahuan ini akan terwujud dalam bentuk-bentuk “kehadiran” dan “penyingkapan” langsung terhadap hakikat-hakikat yang dicapai melalui penapakan mistikal, penitian jalan-jalan keagamaan, dan penelusuran tahapan-tahapan spiritual. Pengetahuan rasional merupakan sejenis pengetahuan konsepsional atau hushuli, sementara pengetahuan intuisi atau hati adalah semacam pengetahuan dengan “kehadiran” langsung objek-objeknya atau hudhuri yang berarti menemukan kenyataan itu sendiri, dan karenanya ia tidak mungkin diragukan atau dibimbangkan.[9] Dalam artian rangkaian pemikiran ini sampai secara langsung, dan tak terhindarkan, pada gagasan mengenai swaobjektivitas ilmu huduri.[10]

Menurut Ayatullah Jawadi Amuli, “Perbedaan pertama antara kedua pengetahuan tersebut adalah bahwa apa-apa yang dipersepsi oleh akal merupakan gambaran-gambaran dan konsepsi-konsepsi universal, sementara hati menyaksikan dari dekat maujud-maujud “partikular” (yakni maujud yang memiliki keluasan wujud tertentu). Perbedaan kedua adalah akal mempunyai keterbatasan dalam mempersepsi hakikat-hakikat, sedangkan hati dan kalbu memiliki jangkauan yang lebih luas dan mampu menyingkap rahasia-rahasia segala sesuatu baik secara “universal” maupun “partikular” dengan metode syuhudi dan penyaksian mistikalnya.”

B.    Metode untuk Memperoleh Pengetahuan

Disadari atau tidak, sebenarnya setiap problematika yang kita hadapi pasti memiliki sebuah persoalan yang perlu kita perbincangkan, demi mencari sebuah kebenaran akan sebuah pengetahuan. Seandainya seorang berkata kepada kita bahwa dia tahu bagaimana cara bermain gitar, maka seorang lainnya mungkin bertanya, apakah pengetahuan anda itu merupakan ilmu? Tentusa ja dengan mudah dia akan menjawab pengetahuan bermain gitar itu bukanlah ilmu melainkan seni.[11]

1.     Metode Empiris

Menurut paham empirisme, metode untuk memperoleh pengetahuan didasarkan pada pengalaman yang bersifat empiris, yaitu pengalaman yang bisa dibuktikan tingkat kebenarannya melalui pengamalan indera manusia. Seperti petanyaan-pertanyaan bagaimana orang tahu es membeku? Jawab kaum empiris adalah karena saya melihatnya (secara inderawi/panca indera), maka pengetahuan diperoleh melalui perantaraan indera.

2.     Metode Rasionalisme

Berbeda dengan penganut empirisme, karena rasionalisme memandang bahwa metode untuk memperoleh pengetahuan adalah melalui akal pikiran. Bukan berarti rasionalisme menegasikan nilai pengalaman, melainkan pengalaman dijadikan sejenis perangsang bagi akal pikiran untuk memperoleh suatu pengetahuan. Menurut Rene Descartes (Bapak Rasionalisme), bahwa kebenaran suatu pengetahuan melalui metode deduktif melalui cahaya yang terang dari akal budi. Maka akal budi dipahamkan sebagai:

a. Sejenis perantara khusus, yang dengan perantara itu dapat dikenal kebenaran.

b. Suatu teknik deduktif yang dengan memakai teknik tersebut dapat ditemukan kebenaran-kebenaran yaitu dengan melakukan penalaran.

3. Metode Fenomenalisme

Immanuel Kant adalah filsuf Jerman abad 20 yang melakukan kembali metode untuk memperoleh pengetahuan setelah memperhatikan kritikan-kritikan yang dilancarkan oleh David Hume terhadap pandangan yang bersifat empiris dan rasionalisme. Menurut Kant, metode untuk memperoleh pengetahuan tidaklah melalui pengalaman melainkan ditumbuhkan dengan pengalaman-pengalaman empiris disamping pemikiran akal rasionalisme. Syarat dasar bagi ilmu pengetahuan adalah bersifat umum dan mutlak serta memberi pengetahuan yang baru. Menurutnya ada empat macam pengetahuan:

a. Pengetahuan analisis a priori yaitu pengetahuan yang dihasilkan oleh analisa terhadap unsur-unsur pengetahuan yang tidak tergantung pada adanya pengalaman, atau yang ada sebelum pengalaman.

b. Pengetahuan sintesis a priori, yaitu pengetahuan sebagai hasil penyelidikan akal terhadap bentuk-bentuk pengalamannya sendiri yang mempersatukan dan penggabungan dua hal yang biasanya terpisah.

c. Pengetahuan analitis a posteriori, yaitu pengetahuan yang terjadi sebagai akibat pengalaman.

d. Pengetahuan sintesis a posteriori yaitu pengetahuan sebagai hasil keadaan yang mempersatukan dua akibat dari pengalaman yang berbeda.

Pengetahuan tentang gejala (phenomenon) merupakan pengetahuan yang paling sempurna, karena ia dasarkan pada pengalaman inderawi dan pemikiran akal, jadi Kant mengakui dan memakai empirisme dan rasionalisme dalam metode fenomenologinya untuk memperoleh pengetahuan.

4.     Metode Intuisionisme

Metode intuisionisme adalah suatu metode untuk memperoleh pengetahuan melalui intuisi tentang kejadian sesuatu secara nisbi atau pengetahuan yang ada perantaraannya. Menurut Henry Bergson, penganut intusionisme, intuisi adalah suatu sarana untuk mengetahui suatu pengetahuan secara langsung. Metode intuisionisme adalah metode untuk memperoleh pengetahuan dalam bentuk perbuatan yang pernah dialami oleh manusia. Jadi penganut intuisionisme tidak menegaskan nilai pengalaman inderawi yang bisa menghasilkan pengetahuan darinya. Maka intuisionisme hanya mengatur bahwa pengetahuan yang diperoleh melalui intuisi.

5.     Metode Ilmiah

Pada metode ilmiah, untuk memperoleh pengetahuan dilakukan dengan cara menggabungkan pengalaman dan akal pikiran sebagai pendekatan bersama dan dibentuk dengan ilmu. Secara sederhana teori ilmiah harus memenuhi 2 syarat utama yaitu harus konsisten dengan teori-teori sebelumnya dan harus cocok dengan fakta-fakta empiris.

C.    Pengetahuan yang benar

Pengetahuan yang benar umumnya diketahui sebagai suatu keyakinan yang benar dan yang kebenarannya dapat dijamin atau dipertanggungjawabkan secara rasional. Dalam istilah bahasa Inggris kita biasa mengenalnya dengan sebutan ‘True Justified Knowledge’.  Mengingat pengertian umum dari pengetahuan adalah suatu keyakinan yang benar, maka yang menjadi pertanyaan adalah apakah sekedar keyakinan yang benar saja sudah cukup untuk membangun atau membentuk sebuah pengetahuan? Ataukah ada elemen lain yang ikut berperan dan tak terpisahkan dalam membentuk suatu pengetahuan yang benar?

Salah satu filosof Yunani yang dikenal telah mengemukakan soal teori pengetahuan yang benar dalam pembahasan mengenai analisa terhadap pengetahuan, adalah Plato. Plato lah salah satu filosof yang memberikan pertanyaan yang signifikan mengenai hal-hal apakah yang mampu ditambahkan pada suatu keyakinan yang benar sehingga membentuk suatu pengetahuan yang benar? Bagaimanapun, sekedar keyakinan saja tentulah tidak cukup. Beberapa terminologi yang berhubungan dengan keyakinan seperti kepastian, keyakinan, dan pemahaman bisa saja membawa konsepsi yang lebih dekat dengan pembentukan pengetahuan yang benar.[12]

Pada hakikatnya, apa yang kita sebut dengan pengetahuan atau pengetahuan yang benar itu tidak bisa lepas dari 3 komponen atau 3 elemen yang membentuknya, yakni keyakinan, kebenaran dan justifikasi. Adapun dalam Dictat of Epistemology[13] dikatakan bahwa pengetahuan paling tidak harus memiliki tiga atribut epistemik dalam dirinya yakni belief (keyakinan), justified (terjustifikasi), and true (benar). Oleh karena itu dalam pembahasan ini akan dijelaskan tiap elemennya satu persatu serta hubungannya dalam membentuk pengetahuan.

1.     Kepercayaan (Belief)

Elemen yang pertama dalam pengetahuan yang benar di mulai dari keyakinan. Namun keyakinan yang dimaksud di sini bukanlah semata-mata keyakinan yang tak bisa dijustifikasi. Keyakinan di sini mestilah bisa di justifikasi apakah ia benar atau tidak. Karena tidaklah cukup dengan sekedar mengatakan “Saya tahu ini”, sebab pernyataan itu tak bisa kita justifikasi. Akan tetapi akan lebih baik dengan mengatakan, misalnya, “Saya tahu ini adalah meja”, maka kita bisa menjustifikasi pernyataan ini apakah ia benar ataukah berkoresponden atau tidak dengan objek pengetahuan di realitas eksternal. Jika misalnya pernyataan itu ternyata bisa dijustifikasi akan tetapi terbukti bahwa keyakinannya itu salah, maka ia bukanlah keyakinan. Singkatnya, pengetahuan itu bukanlah persoalan semata-mata keyakinan saja, atau keyakinan yang bisa dijustifikasi (justified belief), akan tetapi harus menjadi keyakinan yang benar dan dapat dijustifikasi (justified true belief). Karena keyakinan yang salah bukanlah merupakan pengetahuan dan sebuah keyakinan yang berdasarkan pada tebakan mujur pun (lucky guess) bukanlah merupakan pengetahuan sama sekali, meskipun jika keyakinan itu benar.

2.     Kebenaran (Truth)

Kita dapat mengatakan bahwa kebenaran adalah suatu kondisi objektif dari pengetahuan, yakni keadaan objektif yang independen dari perseorangan, selama kondisi yang benar di sini berarti suatu kondisi yang berkorespondensi dengan realitas.

Meletakkan kata benar (true) adalah kriteria esensial pengetahuan yang menyiratkanproposisi yang digunakan untuk mengungkapkan pengetahuan (“saya tahu bahwa…”), adalah pasti benar. Kita tidak bisa menyangka ada sedikit pun keraguan untuk proposisi sejenis itu.

Namun jika kita telaah soal kebenaran dalam epistemologi, maka kita akan dihadapkan pada kesimpulan bahwa kebenaran itu dibedakan ke dalam tiga bagian yakni kebenaran epistemologis, kebenaran ontologis, dan kebenaran semantis. Kebenaran epistemologis adalah pengertian kebenaran yang berhubungan dengan pengetahuan manusia. Istilah lain dari kebenaran epistemologis adalah veritas cognition atau veritas logica. Sedangkan kebenaran ontologis adalah adalah kebenaran sebagai sifat dasar yang ada di dalam objek pengetahuan itu sendiri. Dan kebenaran dalam arti semantis adalah kebenaran yang terdapat serta melekat dalam tutur kata dan bahasa. Biasanya kebenaran semantis ini dapat disebut sebagai kebenaran moral (veritas moralis).

Secara epistemologis, kebenaran epistemologis adalah kemanunggalan antara subjek dan objek. Pengetahuan itu dikatakan benar apabila di dalam kemanunggalannya yang bersifat intrinsik, terdapat kesesuaian antara apa yang ada di dalam pengetahuan subjek dengan apa yang ada di dalam objek. (Watloly, 2001; 158).

Namun di sisi lain, kita juga akan menemukan ambiguitas dalam kebenaran yang terbagi ke dalam dua bagian, yakni kebenaran logis (Logical Truth) dan kebenaran etis (Ethical Truth). Kebenaran Logis adalah hubungan atau korespondensi antara proposisi yang dinyatakan dengan fakta. Sedangkan kebenaran etis adalah relasi yang berkorespondensi antara perkataan kita dan keyakinan kita dalam pikiran. Akan tetapi kita tekankan bahwa kebenaran epistemologis adalah kebenaran logis. Karena dengan menggabungkan atau mencampur-campurkan antara kedua kebenaran itu malah akan mengakibatkan kebingungan dan membawa seseorang pada jawaban yang salah mengenai permasalahan kebenaran disebabkan oleh identifikasi yang salah masalah.

Beberapa teori muncul dari para filosof dalam menjawab apakah esensi dari kebenaran yang sebenarnya. Terdapat 3 teori kebenaran yang umumnya sudah kita kenal, diantaranya adalah Koherensi, Pragmatis, dan Korespondensi. Adapun penjelasan secara ringkasnya adalah sebagai berikut:

a.     Teori Korespondensi

Teori kebenaran korespondensi ini adalah salah satu teori yang paling popular. Teori ini digagas oleh Plato dan Aristoteles dalam Metaphysic nya. Sebelum adanya pengaruh dari Hegel maupun Kant, teori korespondensi ini masih merupakan teori yang paling berpengaruh hingga abad ke 19. Poin utama dari teori korespondensi adalah: “untuk suatu proposisi p, maka p itu benar hanya apabila p koresponden dengan fakta”. Jika dianalisis, maka ada dua elemen yang membangun pengetahuan menurut teori korespondensi, yaitu:

  1. Fakta
  2. Proposisi

Berdasarkan dua elemen ini, maka kita dapat menyimpulkan bahwa menurut teori korespondensi, pengetahuan kita tentang realitas secara tidak langsung berkembang melalui mediasi, yakni proposisi. Jika proposisi itu berkoresponden dengan fakta, maka hal itu menunjukkan bahwa proposisinya adalah benar. Sebaliknya, jika proposisi tidak koresponden dengan fakta, maka ia tidak benar.

b.    Teori Pragmatis

Teori kebenaran pragmatis memiliki keyakinan bahwa “sebuah keyakinan atau proposisi adalah benar jika (jika dan hanya jika) ia bermanfaat untuk mempercayai atau jika dan jika hanya jika ia bermanfaat dalam tindakan”.  Adapun filosof yang mencetuskan teori pragmatis ini adalah C.S. Peirce dan William James.

Jika kita analisa akan definisi mengenai teori pragmatis di atas, maka kita akan menemukan bahwa teori pragmatis meliputi 2 elemen, yakni:

  1. Keyakinan (belief)
  2. Fungsi dari Tindakan yang bermanfaat  (The Function of Benefit Action)

Maka dari kedua elemen di atas dapat kita simpulkan bahwa ketika sebuah keyakinan itu bermanfaat dalam tindakan, maka ia adalah benar. Dan jika sebuah keyakinan tidak bermanfaat, maka ia tidak bisa dianggap sebagai kebenaran.

c.     Teori Koherensi

Teori koherensi muncul sebagai reaksi ketidaksepakatan atas teori korespondensi yang dilontarkan oleh Hegel dan Kant. Kant misalnya mengatakan bahwa kita tidak bisa mengandaikan adanya pengetahuan yang koresponden pada realitas sebagaimana adanya (das ding an sich), yang Ia sebut sebagai noumena. Kita hanya bisa mencerap fenomena, yakni realitas sebagaimana yang kita persepsi, dalam bentuk kategori-kategori mental manusia. Dengan alasan inilah kita tidak bisa menyatakan ataupun menegaskan bahwa kebenaran itu berkorespondensi dengan realitas.

Teori koherensi adalah salah satu alternatif jalan keluar dari teori korespondensi itu. Teori koherensi menyatakan bahwa sebuah keyakinan atau proposisi adalah benar apabila ia koheren dengan beberapa proposisi-proposisi. Berbeda dengan teori korespondensi yang relasi antara proposisi-proposisi dan kondisi-kondisi kebenarannya koresponden, berdasarkan teori koherensi, hubungannya adalah koheren. Jika kondisi-kondisi kebenaran dari proposisi-proposisi teori koresponden adalah keunggulan objektif di dunia luar, maka kebenaran di teori koherensi terkandung di proposisi-proposisi yang lain. Pastilah tidak akan ada kontradiksi antara proposisi satu dengan proposisi lainnya. Untuk mengklaim bahwa kedua proposisi kontradiktif benar adalah mustahil, karena pastilah salah satu dari keduanya ada yang salah.

3.     Justifikasi (justification)

Sebagaimana yang kita tahu bahwa, yang terjutifikasi (justified) adalah berhubungan dengan koneksi antara kondisi subjektif (yakni keyakinan, hubungan antara pikiran seseorang dengan proposisi) dan kondisi objektif (yakni kebenaran, hubungan antara proposisi dan realitas) yang independen dari perseorangan (individual).[14]

Namun perlu juga kita ketahui apakah arti dari pembenaran (justifikasi) secara terminologi. J. Sudarminta (2002; 138) menjelaskaan bahwa justifikasi atau pembenaran dalam Bahasa Indonesia dapat mempunyai dua arti. Arti pertama, pembenaran adalah menganggap atau mengklaim benar apa yang sebenarmya salah. Dalam arti pertama ini pembenaran sama dengan rasionalisasi. Arti kedua dari kata pembenaran adalah melakukan pertanggungjawaban rasional atas klaim kebenaran kepercayaan atau pendapat yang dipegang. Nah, Justifikasi yang kita maksud adalah dalam definisi yang kedua, yang berhubungan dengan pertanyaan ‘bagaimana klaim kebenaran pengetahuan dapat dipertanggungjawabkan secara rasional?’

Berhubungan dengan bagaimanakah cara untuk menjustifikasi sebuah proposisi, maka muncullah beberapa teori pembenaran (justifikasi). Adapun teori pembenaran yang populer adalah teori foundasionalisme dan koherentisme. Untuk itu, di sini akan dibahas teorinya satu persatu.

1.     Koherenstisme (Coherentism)

Dalam menjelaskan teori koherentisme ini, marilah kita buat suatu ilustrasi. Misalnya ada sebuah proposisi A seperti ini, “Dia lapar”. Maka proposisi ini akan terjutifikasi oleh proposisi B, “Dia mau makan”. Ketika proposisi B ingin dijustifikasi, maka proposisi B akan mengambil proposisi A sebagai justifikasi, yakni “Dia mau makan” karena “Dia lapar”. Dengan demikian, setiap proposisi dari ruang lingkup proposisi-proposisi terliputi dengan justifikasinya sendiri. Jadi, proposisi A meliputi pembenaran untuk proposisi B, begitu juga proposisi B untuk pembenaran proposisi A. Sehingga dapat disimpulkan bahwa A koheren dengan B, begitu juga sebaliknya. Nah, inilah yang disebut dengan teori koherentisme.

2.     Fundasionalsme (Foundationalism)

Berbeda dengan teori koherentisme yang mengatakan bahwa tetaplah logis apa bila memberikan justifikasi kepada pernyataan apapun, teori foundasionalisme justru menyatakan bahwa tidaklah selalu atau niscaya untuk menjustifikasi suatu pernyataan pasti, dalam arti untuk proposisi-proposisi yang tidak perlu lagi dijustifikasi (self-justifying). Proposisi pasti yang dimaksud di sini adalah dalam arti ia menjadi pondasi bagi proposisi-proposisi lain yang bersifat non self-evident. Adapun teori foundasionalisme mencakup poin-poin berikut:

  1. Seluruh proposisi itu dibagi kedalam dua jenis:
    1. Proposisi Self-evident (badihi)

Proposisi jenis ini tidaklah membutuhkan kepada jenis penjustifikasian apapun. Selama ia bersifat self-justifying, maka ia menjadi pondasi bagi proposisi-proposisi lain yang berdasar padanya.

  1. Proposisi non-evident (Nazhari/ spekulatif)

Proposisi ini bukanlah proposisi yang bersifat self-justifying, oleh karena itu ia membutuhkan kepada pembenaran (justification) melalui cara kesimpulan (inference), atau proposisi ini membutuhkan kepada proposisi yang self-evident untuk menjustifikasinya ataupun dengan proposisi non self –evident lain yang kebenarannya (truth) itu didemonstrasikan oleh proposisi self-evident.

  1. Untuk mendapatkan kebenaran pada proposisi atau keyakinan yang non self –evident, maka kita membutuhkan pada penalaran, kesimpulan, atau demonstrasi.
  2. Untuk menjadi sebuah pengetahuan, sebuah proposisi atau keyakinan yang bersifat non self –evident, harus didasarkan kepada pengenalan proposisi yang self –evident, atau pada proposisi lain yang non self –evident yang kebenarannya bisa dibuktikan dengan proposisi self –evident.

Baik penganut Foundasionalisme maupun Koherentisme kebanyakan menganut teori kebenaran Internalisme. Dalam arti ketat, Internalisme adalah pandangan bahwa orang selalu dapat menentukan dengan melakukan introspeksi diri apakah kepercayaan atau pendapatnya dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya secara rasional atau tidak. (J. Sudarminta, 2002; 150). Motivasi yang mendorong kaum internalis adalah bahwa manusia sebagai mahluk rasional secara fitrahnya mempunyai kewajiban untuk mempertanggungjawabkan secara rasional atas apa yang kita percayai atau yang menjadi pendapat kita. Karena jika kita tidak mampu untuk mempertanggungjawabkan secara rasional atas apa yang kita percayai, maka kita dikatakan sebagai orang yang tidak bertanggungjawab. Kaum internalis beranggapan bahwa manusia juga memiliki akses ke persyaratan yang menentukan apakah suatu kepercayaan atau pendapat yang ia pegang dapat dibenarkan atau tidak.

Lawan dari teori kebenaran internalisme adalah eksternalisme. Teori eksternalisme yang dimaksud disini lebih menekankan kepada proses penyebaban dari factor-faktor eksternal seperti dapat diandalkan tidaknya proses pemerolehan pengetahuan yang terjadi, berfungsi tidaknya secara normal sarana-sarana yang ada di dala diri kita untuk mengetahui. Demikian juga lingkungan, sejarah, dan konteks sosial yang mempengaruhi proses pemerolehan pengetahuan menjadi bagian dari factor penentu dibenarkan tidaknya suatu kepercayaan. Salah satu bentuk Eksternalisme adalah Reliabilisme. Menurut paham ini, kepercayaan seseorang, misalnya bahwa awan itu berwarna putih, dapat dibenarkan apabila kepercayaan ini dihasilkan oleh proses mengetahui yang dapat diandalkan (reliable cognitive process). Misalnya kepercayaan itu didasarkan atas daya penglihatannya sendiri yang normal.

BAB III

Kesimpulan

Pada kesimpulannya, dalam permasalah epistemology mengenai analisis terhadap pengetahuan adalah bahwa pengetahuan yang benar yang dikenal sebagai justified true belief tak akan lepas dari 3 elemen yang mesti ada di dalamnya yakni keyakinan, kebenaran dan justifikasi. Jika salah satu elemen menghilang atau tidak ada, maka ia tidak bisa dikatakan sebagai pengetahuan. Meskipun dalam salah satu teori pembenaran seperti teori foundasionalisme mengatakan bahwa ada suatu proposisi yang sudah bersifat self-evident, dan oleh karena itu ia tidak membutuhkan kepada justifikasi karena ia sudah merupakan self-justifying dan menjadi pondasi bagi pembenaran proposisi-proposisi lainnya yang bersifat non self-evident.

Adapun adanya beberapa teori kebenaran dan pembenaran memiliki keunggulan dan kelemahannya masing-masing. Memang tidaklah mudah untuk menetapkan suatu kebenaran secara objektif dan disepakati oleh semua orang dengan bersandarkan hanya kepada salah satu teori saja. Pada hakikatnya, teori kebenaran adalah teori yang menjelaskan benar salah secara formal atau pun structural. Adapun teori pembenaran adalah membenarkan proposisi secara material. Namun, bagaimanapun, terlepas dari berbagai teori beserta keunggulan dan kelemahannya, pada akhirnya tetaplah pengetahuan yang benar itu harus mencakup tiga elemen yang sudah disebutkan.


[1] Bertrand Russell. The Problems of Philosophy. 2002. Yogyakarta: Ikon Teralitera. Hal. 126.

[2] Ayatullah Murtadha Muthahhari. Pengantar Epistemologi Islam. 2010. Jakarta: Shadra Press. Hal. 15.

[3] M.T. Misbah Yazdi. Buku DarasFilsafat Islam (Jakarta: Shadra Press, 2010), hal. 113.  Pengetahuan Hushuli (acquired knowledge/al ‘ilm al-hushuli), adalah pengetahuan yang ditangkap lewat perantaraan atau santiran konseptual.

[4] J Sudarminta, Epistemologi Dasar (Pengantar Filsafat Pengetahuan), hlm. 73

[5] Ayatullah Murtadha Muthahhari, Pengantar Epistemologi Islam, hal. 38

[6] DR. Harun Hadiwijono, Sari Sejarah Filsafat Barat 2, hlm. 32

[7] Ayatullah Murtadha Muthahhari, Pengantar Epistemologi Islam, hal. 40

[8] DR. Harun Hadiwijono, Sari Sejarah Filsafat Barat 2, hlm.

[9] Prof. M.T. Misbah Yazdi, Buku Daras Filsafat Islam (Orientasi ke Filsafat Islam Kontemporer), hal. 123

[10] Mehdi Ha’iri Yazdi, Menghadirkan Cahaya Tuhan (Epistemologi Iluminasionis dalam Filsafat Islam), hlm. 69

[11] Jujun S. Suriasumantri, Filsafat Ilmu (Sebuah Pengantar Populer), hlm. 104

[12] Robert Audi. Epistemology. 2002. Routledge: London. Page. 214 (Chapter analysis of knowledge). Pada paragraf kedua dalam introduction dikatakan bahwa Plato memformulasikan mengenai True Justified Belief.

[13] Hadi Kharisman. Dictat of Epistemology. Epistemology Class, Semester II, March – June 2010, led by Sayyed Ahmad Fazeli. Jakarta: Belum diterbitkan. Hal. 19.

[14] Hadi Kharisman. Dictat of Epistemology. Epistemology Class, Semester II, March – June 2010, led by Sayyed Ahmad Fazeli. Jakarta: Belum diterbitkan. Hal. 69.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s