Pembagian Subtansi dan Aksiden

gerakansubstansial

Beberapa filosof membagi esensi-esensi wujud mumkin kepada subtansi dan aksiden. Esensi yang tidak membutuhkan objek disebut subtansi, sedangkan yang membutuhkan objek disebut aksiden. Contohnya seperti, esensi ‘manusia’ adalah subtansi, sedangkan esensi ‘sedih’ adalah aksiden. Karena ‘sedih’ mewujud dalam subtansi manusia, tetapi manusia tidak butuh pada ‘sedih’.

Lima Subtansi

Terdapat perbedaan pendapat diantara para filosof mengenai jenis-jenis substansi material dan immaterial. Peripatetic membagi substansi kedalam lima jenis:

  1. Intelek yaitu substansi immaterial murni yang tidak mempunyai dimensi waktu dan tempat, subtansi ini tidak melekat pada eksistensi material apapun. Perlu dicatat bahwa penggunaan kata ‘intellect’ pada eksistensi tersebut tidak terkait dengan intellect dalam pengertian potensi yang mempersepsi konsep universal dan penggunaan term “intellect” terhadap substansi-substansi immaterial murni itu termasuk jenis homonym sebagaimana penggunaan kata intellect oleh para ahli etika dalam pengertian yang ketiga.
  2. Jiwa yaitu substansi yang secara esensi immateri, akan tetapi menempel pada tubuh atau berkaitan pada tubuh dalam hubungan tindakanya. Jiwa itu sendiri terbagi pada tiga bagian: jiwa nabati, jiwa hewani dan jiwa manusia.
  3. Jism (corporeal) yaitu substansi yang mempunyai dimensi ruang dan waktu dan kita mengindra penampakanya dalam bentuk aksiden warna dan bentuk sementara kita membuktikan eksistensinya dengan akal. Peripatetic menganggap bahwa setiap subtansi tubuh itu terdiri dari dua substansi lainya yaitu ‘materi’ dan ‘bentuk’.
  4. Materi (hayula) yaitu substansi potensial yang tanpa aktualitas. Materi merupakan potensi murni dan juga sebagai wadah untuk menerima aktualitas yang diberikan oleh bentuk.
  5. Bentuk adalah substansi yang memberikan aspek aktualitas pada materi. Bentuk memiliki jenis yang berbeda-beda karena bentuk tidak bisa dipisahkan dari materi.

Sembilan Aksiden

Sebagian filosof meyakini jumlah esensi aksiden adalah Sembilan, disini kita akan menjelaskan definisi dan  bagian-bagainnya, yaitu:

  1. Kuantitas (kontinu dan diskontinu), seperti garis, permukaan, volume dan angka.

Kuantitas Kontinu, yaitu antara bagian-bagian yang diasumsikan bisa diambil batasan yang sama. Seperti pada sebuah garis bisa kita asumsikan sebuah titik sebagai batasan yang sama yang berlaku sepanjang garis tersebut. Jika kita mengasumsikan pada pertengahan garis terdapat titik, maka kita dapat mengasumsikan hal tersebut sebagai ‘titik awal’ pada garis yang satu dan ‘titik akhir’ pada garis lainnya.

Kuantitas Diskontinu, kita tidak bisa mengasumsikan batasan yang sama, seperti angka. Angka didapatkan dari perulangan satu dan ‘satu itu sendiri menurut Filosof tidak termasuk angka.

Kuantitas Kontinu Statis dan Non-Statis

  1. Kuantitas Kontinu Statis, adalah bagian-bagian yang di asumsikan padanya, mewujud secara bersamaan, setiap garis permukaan dan volume. Seperti hadirnya seluruh bagian-bagian sebuah garis/permukaan/volume secara bersamaan.
  2. Kuantitas Kontinu Non-Statis, adalah bagian-bagian yang diasumsiskan padanya, satu persatu mewujud, dalam artian tidak hadir secara bersamaan. Seperti waktu.

Kata kuantitas, dalam bahasa latin disebut dengan Pozon dan mereka mendefinisikan bahwa kuantitas adalah aksiden yang secara esensi bisa dibagi.

  1. Kualitas adalah aksiden yang secara esensi tidak bisa dibagi-bagi dan dalam dirinya tidak terdapat makna ‘relasi atau nisbat’.
    1. Kualitas jiwa seperti ilmu, iradah, takut, berani, putus asa, hadaran dan seterusnya.
    2. Kualitas tertentu untuk kuantitas-kuantitas seperti positif dan negative dalam bidang, bengkok pada garis dan lembar, bentuk pada permukaan dan dimensi.
    3. Kualitas potensial biasa juga disebut dengan potensi dan non-potensi seperti berpotensi secara penuh dalam menerima bentuk seperti lilin mainan atau berpotensi secara penuh menolak bentuk seperti kekerasan kekuatan batu.
    4. Kwalitas indrawi seperti warna, rasa, tebal, keras, dan seterusnya.

 Kategori Relasi

  1. Kategori Tempat, yaitu kategori yang didapatkan melalui penisbatan wujud materi dengan tempat dimana ia berada.
  2. Kategori Waktu, yaitu kategori yang didapatkan melalui penisbatan suatu wujud melalui penisbatan suatu wujud materi pada waktunya, seperti kata tahun sebelumnya, tahun ini, hari ini, dan seterusnya.
  3. Kategori Posisi, yaitu kategori yang di dapatkan melalui penisbatan bagian-bagian sesuatu pada sesuatu lainnya dengan melihat sisi yang ada padanya. Seperti posisi berdiri, dimana posisi badan tersusun dari atas kebawah dan sebaliknya.
  4. Kategori Kepemilikan, yaitu kategori yang didapatkan melalui penisbatan sesuatu pada suatu lainnya dimana sesuatu tersebut melingkupi sesuatu lainnya. Seperti memakai pakaian, memakai topi dan lainnya.
  5. Kategori Aktif menjelaskan pengaruh gradual pelaku material pada materi yang dipengaruhi, seperti pemindahan panas oleh matahari kepada segala objek yang berhadapan dengan matahari.
  6. Kategori Pasif menjelaskan tentang pengaruh gradual materi yang dipengaruhi dari agen materi yang mempengaruhi, seperti panasnya air yang dipengaruhi oleh panasnya matahari.
  7. Kategori Relasi merupakan nisbat yang dihasilkan secara berulang-ulang antara dua wujud.
    1. Relasi Simetri, seperti relasi persaudaraan diantara dua orang yang bersaudara.
    2. Relasi Asimetri, seperti relasi ayah-anak, atau lebih jelasnya relasi lebih awal dan lebih akhir diantara keduanya.

 Daftar Pustaka:

  1. Gharawiyan, Mohsen, 2012, Filsafat Islam (Pengantar Memahami Buku Daras), Sadra Press: Jakarta.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s