Theodicy “Mystery of Evil”

Is he willing to prevent evil, but not able? Then he is impotent.

Is he able, but not willing? Then he is malevolent.

Is he both and willing? Whence then is evil?

_Epicurus’s Paradox

images

Tuhan dan Adanya Kejahatan dan Penderitaan

  1. A.    Introduction “Mystery of Evil”

Adanya kejahatan dan penderitaan merupakan tantangan terbesar bagi orang yang percaya akan adanya Tuhan. Menurut Leahy dua kenyataan ini merupakan sebab utama orang menjadi ragu-ragu apakah orang yang diimaninya benar dan malah merasa mau memberontak melawan Allah. Dan yang menjadi pertanyaan mendasar dalam isu ini adalah: apa sebabnya Allah mengizinkan adanya kejahatan dan penderitaan dalam dunia? Mengapa ada kejahatan didunia ini? Mengapa sesuatu yang buruk menimpa orang baik? Bumi dikotori dan dikutuk, kata Philo dalam dialog termashur pada natural religion. Yang jelas dikatakan, inti dari argument evil adalah menolak keberadaan Tuhan.

Gottfried Wilhelm Leibniz (1646-1716) seorang Filosof Jerman menganggap isu ini dengan teodise, dari “theos”, Allah, dan “dike”, keadilan. Teodise berarti Pembenaran Allah. Dalam artian adanya kejahatan dan penderitaan kelihatan bertentangan dengan eksistensi Allah yang Mahatahu, Maha Kuasa dan Mahabaik, seakan-akan perlu dibenarkan, karena yang bersalah dan tidak bersalah dibinasakanNya, dan penderitaan orang yang tidak bersalah adalah scandalum, batu sandungan paling gawat, bagi orang yang mau percaya pada Allah.

Dari sanalah awal mula tuntutan akan sebuah pembenaran, meskipun Allah tidak memerlukan pembenaran kita, tapi orang yang percaya akan Allah tidak dapat menghindari pertanyaan tentang bagaimana keadilan dan kebaikan Allah dapat disesuaikan dengan segala macam malapetaka di alam ciptaanNya. Sehingga tidak sedikit orang-orang yang menagih pertanggung jawaban iman kepada Allah, menjadi orang yang tidak lagi percaya pada Allah.

Dalam isu ini, ada dua masalah yang mesti dituntaskan, diantaranya:

a. Ma’lum Morale, keburukan morale, mengenai sikap moral manusia. Dalam artian, manusia bisa berkemauan dan berbuat jahat.

b. Ma’lum Physicum, keburukan fisik, menyangkut suatu ketidak beresan objektif di alam. Dalam artian, segala macam kerusakan.

1. Masalah Kejahatan

a. Letak Masalah

Kejahatan disini, dalam artian inti keras dan jahat di dalam perbuatan-perbuatan manusia. Bukan sekedar kelemahan seseorang sehingga ia mengikuti nafsu dan emosinya, yaitu sikap yang betul-betul menolak tarikan hati nurani, yang nekat secara bohong, keji, kejam, tidak adil meskipun menyadari bahwa sikap-sikap itu jahat, dan kejahatan adalah yang dalam bahasa agama kita sebut dosa.

Mengapa adanya kejahatan menjadi masalah bagi orang yang percaya akan Tuhan? Karena Allah yang Mahasuci dan membenci kejahatan, lalu mengapa Ia tidak mencegah adanya kejahatan. Padahal secara hakiki Allah zero-tolerance terhadap kejahatan, seperti hati nurani memilih yang baik dan menolak yang buruk secara mutlak, begitu pula yang jahat mutlak harus tidak ada. Karena kejahatan terletak dalam kehendak seseorang yang tidak mau bersikap baik. Kejahatan ini selalu jahat dan yang jahat tidak boleh ada. Lalu mengapa Allah yang berkuasa untuk mencegahnya, membiarkannya?

b. Bagai mana mendekati masalah kejahatan?  

Sama halnya dengan masalah kebebasan manusia yang berhadapan dengan kemahakuasaan Allah, dan adanya kejahatan yang diijinkan oleh yang Mahasuci tidak mungkin dapat dimengerti dalam arti sebenarnya. Namun disisi lain dapat dikatakan:

  1. Adanya kejahatan tidak seakan-akan membuktikan bahwa Allah tidak mungkin ada. Karena yang melakukan kejahatan bukanlah Allah, melainkan manusia, dan Allah mengijinkannya meskipun Ia menolaknya.
  2. Sangat masuk akal jika Allah ingin menciptakan sesuatu, dalam artian Allah menciptakan mahluk yang berakal budi karena hanya mahluk yang berakal budi dapat mengakui anugrah penciptaan.

Karena sedemikian pentingnya manusia bagi Allah, Allah mengambil risiko bahwa manusia memakai kebebasannya untuk menolak Allah, untuk berbuat jahat. Allah tidak menghendaki kejahatan itu sendiri, tetapi demi manusia Allah bersedia mengambil risiko bahwa kejahatan akan terjadi.

  1. Kejahatan: tidak dapat dipahami

Dalam poin ini kita bisa memulainya dengan pertanyaan mendasar yaitu: Mengapa manusia mau bersikap jahat, mau menolak ajakan Allah? Disisi lain, mungkin kita bisa mengerti segala macam alasan sampingan, seperti emosi, nafsu, putus asa, malas dsb. Tetapi inti kejahatan, penolakan terhadap ajakan nurani untuk membuka diri kepada kebaikan, adalah gelap bagi kita. Menurut Weissmahr manusia yang mau melakukan kejahatan, mau mendewakan diri. Ia tidak mutlak dan terbebas menempatkan diri sebagai mutlak. Karena itulah mengapa agama-agama percaya bahwa orang yang bertahan dalam kejahatan, tidak mungkin menerima keselamatan abadi di sisi Allah, karena ia menempatkan diri dengan bebas melawan Allah. Keadaan itupun dihormati Allah, itulah neraka.

2. Masalah Penderitaan

a.      Letak Masalah

Penderitaan adalah masalah yang sungguh menantang iman, karena mengapa Allah dapat mengijinkan penderitaan. Masalah mengapa Allah mengijinkan adanya dosa (kejahatan), bisa dikatakan adalah masalah Allah sendiri. Kita tidak perlu pusing memikirkan Allah yang Mahasuci mengijinkan manusia melakukan sesuatu yang bertentangan dengan dirinya.

Penderitaan adalah hal lain, karena kitalah yang merasakannya, hingga mungkin terbersit dalam pikiran kita secara sepontan bertanya: “Bagai mana Allah dapat mengijinkan sesuatu seperti itu terjadi?.” Masalah ini sudah diberi rumusan baku lebih dari 2000 tahun lalu oleh Epikuros yang menganjurkan agar orang hidup tanpa peduli dewa-dewi. Dan ia menyatakan ada empat kemungkinan:

  1. Allah mau menghapus keburukan didunia, tetapi Ia tidak mampuh.
  2. Allah mau menghapus keburukan didunia, Ia mampuh, tetapi tidak mau.
  3. Allah mau menghapus keburukan didunia, Ia tidak mau dan tidak mampuh.
  4. Allah mau menghapus keburukan didunia, Ia mau dan mampuh.

Tiga kemungkinan pertama tidak dapat diterima karena bertentangan dengan hakekat Allah yang maha kuasa dan maha baik, dan kemungkinan keempat tidak mungkin karena banyak sekali penderitaan disekeliling kita. Berangkat dari sana, salah satu dokumen protes manusia religious terhadap penderitaan adalah Kitab Ayub.

Pernyataan tersebut masih menjadi problema dan menghasilkan pertanyaan baru, mengapa ada penderitaan: apakah Allah tidak dapat menciptakan tanpa menyiksa? Apa Allah tidak bisa atau tidak mau?.

  1. b.      Penjelasan-penjelasan yang tidak memadai

Masalah diatas sudah mendapatkan sambutan hangat oleh filsafat dan teologi, kedua term ini memberikan jawaban-jawaban terpenting untuk memecahkan masalah itu:

  1. Penderitaan adalah hukuman Allah atas dosa-dosa yang bersangkutan.
  2. Penderitaan akan lebih daripada diimbangi oleh ganjaran di surga.
  3. Melalui penderitaan Allah mencobai mutu manusia; hanya manusia yang bertahan dalam penderitaan pantas menerima kebahagiaan abadi di surga.
  4. Penderitaan memurnikan hati, jadi bernilai secara moral.
  5. Dilihat secara keseluruhan, dunia yang ada penderitaannya adalah lebih baik daripada yang tidak ada penderitaannya.
  6. Manusia tidak seimbang dengan Allah; karena itu ia tinggal menerima saja segala apa yang terjadi sebagai kehendak Allah dengan tak perlu bertanya, apalagi protes.

Empat butir pertama mencoba membenarkan perlunya penderitaan, butir kelima sebenarnya mengatakan, dunia tanpa penderitaan tidak mungkin, butir keenam menegaskan bahwa manusia tidak dalam posisi mempersoalkan Allah –namun semuanya tidak memadai.

  1. B.     The Argument From Evil

Masalah kejahatan muncul dari sebuah paradok, mengapa Tuhan yang Maha baik mengizinkan kejahatan? Dari pertanyaan tersebut tradisi Kristen Yahudi (The Judeo-Christian) meyakini sebuah proposisi yaitu:

  1. God is all-powerful (including omniscient).
  2. God is perfectly good.
  3. Evil exists.

Bagi Epicirus ketiga proposisi tersebut, paradok bahkan lebih buruknya kontradiksi yang implisit, tidak konsisten antara proposisi satu dan yang lainnya. Sehingga menimbulkan sebuah pertanyaan, jika Tuhan baik, mengapa Tuhan tidak menciptakan dunia yang lebih baik, tanpa adanya kejahatan?. Dan ia pun menambahkan tiga proposisi baru.

  1. If God exixts, there would be no evil in the world.
  2. There is evil in the world.
  3. Therefore: God does not exist.

Proposisi (1) merupakan landasan teologi kristten sejak abad 1 di Gereja, yang diambil dari metafisikanya plato dan aristoteles. Para filosof dan teolog seperti John Stuar Mill, Willam James, Alfred North Withead, Charles Hartdhorne and John Cobb telah melepaskan atribut dari maha kuasanya Tuhan, dan menerima Tuhan yang terbatas. Mereka memang mengakui Tuhan paling besar, tapi tidak maha kuasa dan maha mengetahui. Karena jika Tuhan maha mengetahui masa yang akan datang, maka kita tidak bebas melakukan sesuatu, karna pengetahuanNya telah menetapkan masa depan.

Seperti yang diyakini orang-orang teisme bahwa Tuhan Maha Kuasa, otomatis Tuhan dapat melakukan segala sesuatu. Tapi Tuhan tidak bisa membuat batu yang tidak bisa ia angkat. itulah kritikan bagi kaum teisme, sama halnya dengan Tuhan tidak bisa menjadikan 2 + 2 = 5.

Proposisi (2) merupakan tradisi dari Kristen Yahudi (The Judeo-Christian), Islam dan Hindu, yang menimbulkan sebuah pertanyaan berupa: apa perbedaan Tuhan dengan iblis/setan? Jika esensi Tuhan itu hanya pada kekuatannya, kenapa Tuhan harus disembah? Bukankah hal tersebut dilakukan karna rasa takut saja. Disini mereka menjawab, Tuhan itu memang pantas untuk disembah, karena Tuhan tidak hanya kuat dan maha tahu, tapi karna Tuhan adalah kebaikan yang lengkap dan Tuhan tidak akan melakukan kejahatan.

Proposisi (3) merupakan proposisi yang ditolak oleh agama dari timur, karna proposisi ini dianggap merupakan ilusi saja, tapi tradisi Kristen Yahudi (The Judeo-Christian), menganggap poin ini sebagai dasar fundamental untuk diatasi, seperti adanya penderitaan dan rasa sakit, penyakit dan kematian, kekejaman dan kekerasan, pemerkosaan dan pembunuhan dll, yang dipandang sebagai musuh kebaikan. Dari sanalah barat membagi evil kepada dua jenis yaitu:

  1. Moral evil, dalam artian manusialah yang melakukan kejahatan dan penderitaan.
  2. Natural evil, dalam artian alamlah yang menciptakan kejahatan dan penderitaan.

Akan tetapi orang-orang teisme menganggap kejahatn hanyalah moral evil, dan kadang orang-orang beranggapan kejahatan itu harus ada karna kebaikan. Dalam artian Tuhan tidak bisa menghilangkan semua kejahatn dan kebaikan. Karena keduanya sangatlah dekat seperti kepala dan ekornya, tanpa kejahatan maka tidak akan ada kebaikan.

Jadi penjelasan yang tadi itu falasi (kesalahan berfikir), karena sebuah property (evil) tidak butuh lawan untuk ada, dalam artian keduanya bisa berdiri sendiri, dan kita bisa menilai kebaikan tanpa harus membandingkan dengan keburukan. Seperti yang diyakini Kristen dan Muslim tentang adanya surga dan neraka, (disurga tidak ada neraka, dan dineraka tidak ada surge) kebaikan bisa ada tanpa kejahatan.

Daftar Pustaka

  1. Suseno, Franz Magnis, 2006, Menalar Tuhan,Yogyakarta: Kanisius.
  2. Pojman, Louis P, 2001, Philosophy of Religion, London: Mayfield Publishing Company.

2 thoughts on “Theodicy “Mystery of Evil”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s