Gejolak Pemikiran Hamzah Fansuri Dengan Al-Raniri dan Al-Sinkili

By. Nur Jannah & Taufik Rahmatullah

BAB II

PEMBAHASAN

  1. I.                   PerkembanganTasawuf Falsafi dan Tasawuf Sunni

ilustrasi-_120511194605-778Penyebaran Islam ke Nusantara tak lepas dari peran para sufi. Ketiga tokoh yang coba dinagkat dalam makalah ini, Hamzah Fansuri, al-Raniri, Singkili merupakan tokoh perintis tasawuf di masa awal Indonesia. Haidar Bagir dalam memberikan pengantar di buku “Antara Tasawuf Sunni & Falsafi: Akar Tasawuf di Indonesia” mengatakan bahwa tasawuf Sunni bersifat suluki, tasawuf akhlaqi, tarekat, dan penyimpangan-penyimpangan darinya. Tasawuf falsafi sempat menjadi pesaing yang tangguh bagi tasawuf Sunni. Kedua aliran tasawuf ini meski dalam beberapa hal berbagi pemahaman dan keyakinan yang sama, tetap saja tak terhindar dari konflik. Diantara perdebatan yang hangat adalah perdebatan Hamzah Fansuri—yang mawakili tasawuf falsafi, sedangkan al-Raniri dan al-Singkili mewakili Tasawuf Sunni.

Perlu diketahui bahwa  tasawuf Sunni lebih banyak memberikan kontribusi dalam proses Islamisasi di Indonesia. Para pelopor dakwah menjabarkan ajaran-ajaran Islam dengan cara praktik, keteladanan, serta pengakaran yang lebih baik. Orientasi seperti ini terikat oleh tradisi dan petunjuk-petujukn Nabi. Oleh karena itu model pengajaran tasawuf Sunni  yang diperkanalkan para da’i Alawiyyin yang memotori proses islamisasi d  Nusantara sejak abad ke -13 di Sumatera mengalami kemajuan pesat di Jawa pada abad 15-16 M dengan tokoh-tokoh sentral Wali Songo. Satu abad mendatang, muncul tulisan-tulisan dalam tasawuf yang berorientasi filosofis di Sumatera. Perkembangan ini mencerminkan pergelutan pemikiran dan ideology antara tasawuf Sunni dan falsafi di Indonesia.

Pigeand,  seorang orientalis, memandang perlu mengklasifikasikan umat Islam Indonesia periode 15 & 19 ke dalam dua golongan, yakni golongan sufi dan ahl Sunnah wa ahl Sunnah wa al-jamaah. Kelompok pertama di atas merupakan penganut tasawuf falsafi, seperti Hamzah Fansuri dan Syamasuddin al-Sumaterani dari Sumatera, serta Ronggo Warsito di Jawa yang semuanya penganut Panteisme atau Wahdah al-Wujud. Ironisnya al-Ghazali menurut Micholson bukan sufi karena tidak meilki pandagan panteisme. Oleha krenanya pembatsan seprrti itu tidak dapat diterima. Menurut al-Ghazali, tasawuf adalah wahana pendidikan moral dan jembatan menuju akhirat serta gerakan revitalisasi pengetahuan agama dalam taraf teoritis dan praksis.

I a. Pengertian

Adapun yang dimaksud dengan tasawuf Sunni adalah tasawuf yang dikembangkan para sufi abad ke-3 dan ke-4 H oleh al-Ghazali dan pengikutnya yang berwawasan moral praktis dan bersandarkan kepada al-Quran dan Sunnah. Sedangkan tasawuf falsafi menggabungkan tasawuf dengen berbagai aliran msitik dari lingkungan di luar Islam. Seperti Hinduisme, kependetaan Kristen, teosofi, dan Neo Plationisme. Meskipun demikian, Nicholson dan Spencer Trimingham tetap mengakui adanya sumber Islam dalam tasawuf.

Tasawuf Sunni dapat disebut juga dengan tasawuf akhlaqi.  Ia berkembang dari zaman klasik hingga modern. Tasawuf ini juga banyak berkembang di dunia Islam, terutama di Negara-negaa bermazhab Syafi’i.

Ciri-ciri tasaswuf Sunni adalah:

  • Melandaskan diri pada al-Quran dan Sunnah
  • Tidak menggunakan terminologi-terminologi filsafat sebagaimana terdapat pada ungkapan syathohat
  • Bersifat mengajarkan dualisme dalam hubungan antara Tuhan dan manusia
  • Kesinambungan antara hakikat dan syariat
  • Lebih berkonsentrasi pada persoalan pembina’an, pendidikan akhlaq, serta pengobatan jiwa dengan cara riyadhah (latihan mental), dan langkah takholli, tahalli dan tajalli.[1]

Jika kita menilik sejarahnya dapat diketahui pada abad III dan IV H, terdapat dua aliran, yakni tasawuf Sunni dan tasawuf semi falsafi.  Pertarungan Tasawuf akhirnya  dimenangkan oleh tasawuf Sunni dengan tokohnya Abu Hasan al-Asyari dan al-Ghazali. Perkembangan tasawuf pada tersebut yang berlansung sekitar abad V H mengalami reformasi. Tokoh yang paling menonjol dalam hal ini adalah Imam al-Qusyairi (w. 465 H) yang berperan melapangkan jalan bagi al-Ghazali untuk memenangkan tasawuf Sunni di Dunia Islam. Kemenangan itu juga terlihat dari sosok  pelopor dakwah Islam di Indonesia yang ternyata adalah anak cucu Imam Ahmad ibn Isa al-Muhajir. Garis keturunan al-Muhajir berkesinambuungan sampai kepada Imam Ja’far al-Shadiq, yang menurut al-Qusyari dan al-Attar meruapkan peletak dasar tasawuf.

Dari situ pula sejarawan, Orientalis, dan peneliti menyimpulkan bahwa tasawuf merupakan faktor terpenting bagi tersebarnya Islam secara luas di Asia Tenggara. Akan tetapi ada perbedaan pendapat mengenai kedatangan tarekat dan tasawuf falsafi yang diasumsikan menjadi sumber inspirasi dalam penyebaran Islam tersebut. Namun tasawuf Sunni lah yang memberikan kontribusi dalam proses Islamisasi di Indonesia.

  1. II.                Riwayat dan Pemikiran  Hamzah Fansuri

II a. Biografi

Hamzah FansuriRiwayat hidup Hamzah Fansuri masih dipersoalkan oleh para peneliti dan sangat sulit diketahui. Sampai sekarang tidak ditemukan bukti-bukti tertulis yang memaparkan masa dan perjalanan hidupnya, apa saja risalah tasawuf dan berapa banyak jumlah puisi asli yang telah ditulis olehnya. Valentinj, sarjana Belanda yang berkunjung ke Barus pada awal abad ke-18 telah melaporkan dalam catatan perjalananya bahwa masyarakat Melayu di Sumatera memberi penghargaan yang tinggi kepada puisi-pusi Hamzah Fansuri. Hanya berdasarkan fakta yang terbatas, pengkaji memastikan bahwa Hamzah Fansuri hidup antara pertengahan abad ke-16 hingga awal ke-17

Kreamer (1921) mengemukakan bahwa nama Fansuri tidak disebut di dalam Hikayat Aceh, karena tokoh ini sering mengembara dan jaranag sekali berada di Aceh. Bahkan Nur al-Din al-Raniri, penulis kitab Bustan, sebenarnya menegetahui bahwa Hamzah Fansuri ialah tokoh penting pada zamannya dan banyak sekali muridnya. Untuk mencantumkan nama Hamzah Fansuri dengan tinta emas dalam lembaran sejarah Aceh, sama saja maknaya dengan mencoreng nama baik kerajaan yang begitu harum sebagai pusat syiar dan kebudayaan islam.

Daalam Hujjat al-Shiddiq secara tersirat al-Raniri menilai kedudukan ulama-ulama lokal seperti Hamzah Fansuri dan Syams al-Din Pasay masih rendah dalam penguasaan ilmu agama dan keruhanian. Penjelasan-penjelasan mereka tentang ilmu ketuhanan dan ontology sufi dianggap menyesatkan pemahaman masyarakat awam.  Hamzah Fansuri juga dianggap sebagai pembawa ajaran wujudiyah dlalalah, yakni wujudiyah yang mulhid lagi zindiq.

Kraemer (1921) mengemukakan bahwa Hamzah Fansuri hidup hingga tahun 1636. Kemudian menurut Winstedt, Fansuri wafat 1630 M. Syed M. Naquib al-Attas dan Brakel mengemukakan bahwa Hamzah Fansuri hidup setidak-tidaknya sampai awal abad ke-17. Pendapat ini agak dapat diterima akal jika dicocokkan dengan beberapa fakta:

  • Muncul kitab al-Tuhfah pada awal abad-17 di Aceh dan cepatnya ajaran ‘martabat tujuh’ tersebar luas tidak berarti bahwa peranan Hamzah Fansuri dan pengaruh ajaran tasawufnya berkurang, apalagi menambahkan dia sudah wafat.

Secara prinsipil tidak ada perbedaan yang berart dan penting antara ajaran ‘martabat tujuh’ dengan ‘martabat lima’. Dua ajaran tasawuf ini dalam banyak aspek tetap setia pada sumber asalnya, yakni ajaran Ibn ‘Arabi, Sadr al-Din al-Qunawi, Fakh al-Din Iraqi, Abd Karim al-JiIli, dan Abd al-Rahman Jami.

  • Pada zaman tersebar luiasnya ajaran ‘martabat tujuh’ di Sumatera dan Jawa, setidaknya pada akhir abad ke-17, ada dua karya Hamzah Fansuri, yaitu al-Muntahi dan Syarah al-Asyiqin diterjemahkan ke dalam bahsa Jawa dan Banten (Drewes dan Brakel 1986,226-77)
  • Hamzah Fansuri sering menyebut nama kota Barus yang mungkin merupakan tempat dia paling banyak menghabiskan sebagian besar hidupnya  dan menjalankan kegiatan kesufiannya. [2]

Dalam salah satu syairnya disebutkan bahwa ia lahir di suatu desa bernama Syharu Nawi di Siam, yaitu yang sekarnag disebut Thailand. Ia hidup pada masa Sultan Alauddin Ri’ayat Syah dan awal pemerintahan Sultan Iskandar Muda  di kerajaan Aceh  antara 1550-1605. Salah satu muridnya yang terkenal adalah Syam al-Din al-Sumaterani.

II b. Latar Belakang Pemikiran

Pemikiran Hamzah Fansuri banyak dipengaruhi olah ajaran sufi Arab dan Persia sebelum abad ke-16 seperti Bayazid Busthami, Mansur al-Hallaj, Faridud din al-Attar, Syaikh Junaid al-Baghdadi, Ahmad  Ghazali, iBn Arabi, Rumi, Maghribi, Mahmud Shabistari, iRaqi, jami, dan al-Qunawi. Namun menurut pemakalah pengaruh dari Ibn Arabi lah yang terlihat cukup besar dalam pemikiran tasawufnya, terutama dalam pemikiran wahdah al-Wujud.

III c. Peran Hamzah Fansuri

Fansuri bukan hanya seorang ulama dan sastrawan terkemuka, tetapi seorang perintis dan pelopor. Sumbangannya sangat besar bagi perkembangan kebudayaan Islam, khususnya dalam bidang keruhanian, keilmuwan, filsafat, bahasa, dan sastra.  Selain itu ia juga berani melancarkan serangan kritiknya kepada raja dan bangsawan, sehingga tidak mengherankan kalangan istana kurang suka padanya hingga menyebabkan namanya tak tertulis di dua sumber penting sejarah Aceh, baik Hikayat Aceh, maupun Bustan al-Salatin.

Berikut penjelasan besarnya peran Hamzah Fansuri, terutama untuk Nusantara:

ü  Di bidang keilmuan, ia mempelopori penulisan risalah tasawuf/keagamaan yang demikian sistematis dan bersifat ilmiah.

ü  Di bidang sastra, ia mempelopori penulisan puisi-puisi filosofis dan mistis bercorak Islam. Fansuri juga merupakan orang yang pertama kali mencetuskan puisi empat baris dengan skema sajak akhir a-a-a-a. Selain itu, masih dalam bidang sastra, ia juga berhasil meletakkan dasar-dasar puitika dan estetika melayu yang mantap dan kukuh.

ü   Di bidang kebahasaan, ia berhasil mengangkat martabat bahasa Melayu dari sekedar lingua franca menjadi suatu bahasa intelektual dan ekspresi keilmuan yang canggih dan modern.[3]  Dengan demikian kedudukan bahasa Melayu begitu penting, bahkan mengungguli bahasa Jawa yang sebelumnya telah jauh bekembang.

Di dalam syarah al-Asyiqin, yang menurut Sayed M. Naquib al-Attas (1970) merupakan risalah tasawuf pertama Hamzah Fansuri, secara tersirat penulisnya mengatakan bahwa karyanya ditulis untuk memenuhi tuntutan masyarakat Melayu di Aceh pada saat itu, yakni memberikan jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan musykil berkenaan dengan masalah al-A’yan al-Tsabitah atau tasawuf wujudiyah. Dari situ kita bisa mengetahui bahwa belum ada buku tasawuf yang ditulis dalam bahasa melayu. Kitab-kitab yang ada masih bahasa Arab dann Parsi. Dengan karyanya tersebut, Hamzah Fansuri tebukti bukan hanya seorang pembaru spiritual  pada masanya, tetapi juga perintis penulisan kitab keagamaan dan keilmuan dalam bahasa Melayu[4]

ü  Di bidang filsafat, tafsir, dan telaah sastra beliau juga mempelopori penerapan metode ta’wil atau hermeneutika keruhaniahan. Hal itu dapat dilihat dalam karyanya Asrar al-Arifin (rahasia orang-orang ‘Arif), sebuah risalah tasawuf klasik yang pernah dihasilkan oleh ahli tasawuf Nusantara. Di situ ia membahas tafsir dan ta’wil atas puisinya sendiri, dengan analisis yang tajam dan dengan landasan pengetahuan yang luas mencangkup metafisika,teologi, logika, epistemology, dan estetika. [5]

II d. Karya

Karya Hamzah Fansuri yang dapat dijumpai peneliti adalahTiga buah Risalah berbentuk prosa dan 32 kumpulan syair yang menggunakan bahasa melayu.

Ketiga risalah tersebut yakni:

  • Asrar al-Arifin (rahasia orang-orang ‘Arif): berisi uraian atau penafsiran terhadap 15 bait puisi-puisi sufistik yang ia ciptakan sendri mengenai masalah metafisika dan ontology wujudiyah.
  • Syarah al-Asyiqin (minuman segala orang yang berahi): berisi tentang ringkasan ajaran wahdah al-Wujud dan cara mencapai makrifat. Pada akhir abad-17 Syarah diterjemahkan ke dalam bahasa Jawa bersamaan dnegan tersebarnya paham wujudiyah di pulau Jawa. Syarh ini juga ditulis sebagai panduan bagi pemula ilmu suluk.
  • Mentahi (ufuk terjauh): berbicara tentang bagaimana penciptaan alam, bagiamana Tuhan memanifestasikan diri-Nya, dan bagiamana upaya manusia untuk kembali ke asalnya.

Karya berbentuk syair:

  • Syair Ikan tongkol/ tunggal
  • Syair Si Burung Pingai
  • Syair Bahr al-Haq

II e. Pemikirannya:

a)      Syariat, Tarekat, Hakekat, dan Makrifat :

Hamzah Fansuri menganggap pentingnya syariat dalam perjalanan tasawufnya. Sebagai seorang Syaikh, ia memperingatkan pengikutnya yang menempuh jalan tarekat agar tidak melecehkan syariat. Ia mengatakan “ barang siapa mengerjakan sembahyang fardhu, puasa fardhu, makan halal, meninggalkan haram, tidak dengki, tidak ujub, tidak takabbur, dll, berarti ia menggunakan syariat”. Karena perbutan-perbuatan tersebut adalah perbuatan Rasulullah seyogyanya kita masuk ke dalam tarekat, karena ia tidak lain daripada syariat. Perlu diketahui bahwa tarekat merupakan hakikat, karena tarekat merupakan permualan hakikat sebagaimana syariat permulaam taarekat. Selanjutnya ia juga mengatakan bahwa alan hakikat itu jalan Nabi Muhammad Rasulullah, kesudahan jalannya. Barang siapa memakai ketiganya (syariat, tarekat, hakikat) maka ia kamil mukammal.

Sementara padngannya tentang makrifat, menurutnya, makrifat adalah rahasia Nabi. Tidak sah sembahyang tanpa makrifah. Makrifat ialah mengenal Allah dengan sebenarnya, mengenal bahwa ia tidak terhingga dan berkesudahan, esa, bukan dua, kekal, tidak fana, tidak putus, tidak kekal, tidak mitsal dan sekutu, tidak bertempat, tidak bermasa dan tidak berakhir”[6]

b)      Wujudiyyah

Ketika membicarkan wujud Allah dan wujud alam ia membedakan pandangannya bagi Ahl al-Suluk. Bagi ulama syariat, zat Allah dan wujud Allah dua hukumnya, begitu juga dengan wujud  ilmu dan alim, alam dan wujud Allah. Sementara menurut ahl-as-Suluk, zat Allah dan Wujud Allah esa hukumnya, Wujud alam dan wujud Allah esa juga hukumnya, karena alam tidak berwujud  dengan dirinya sendri, tetapi wujudnya adalah wujud yang diberikan oleh Tuhan, seperti cahaya bulan yang bercahaya tidak dengan cahayanya sendiri, tatapi cahaya yang dipantulkan dari matahari.

Berkaiatan dengan menyatunya Tuhan dan alam, ia mengatakan “Sebagaimana laut tidak bercerai dengan ombaknya, demikian juga Allah tidak bercerai dengan alam. Akan tetapi keberadaanya bukan di dalam alam, bukan pula di luar alam, ia bukan di atas dan bukan di bawah, bukan di kanan alam, bukan pula di kiri alam, bukan di hadapan bukan pula di belakang alam, Ia tidak berpisah dan tidak pula bersatu dengan alam, tidak dekat dan tidak jauh.

c)      Nur Muhammad

Nur Muhammad merupakan pengetahuan Tuhan yang meliputi semua yang ada dan masih berada di alam ghaib. Ia dinamakan hakikat Muhammadiyah atau awal manisfestasi Zat Tuhan/ roh Idhofi/ akal paripurna/ nur/ qolam yang Maha TInggi.  Dalam hal ini Rasulullha bersabda:

“Yang pertama diciptakan Allah adlah ruh; yang pertama diciptakan Allah adalah akal; yang pertama diciptakan Allah adalah al-Qolam,”

Menurut Fansuri yang dimaksud Rasulullah adalah ilmu Tuhan yang karena ia adalah kehidupan, maka dinamakan  ruh; atau karena makna inforasi yang nyata, maka ia dinamakan cahaya; atau karena informasi termuat  dalam huruf-huuf maka ia dinamakan al-Qolam, pena; atau karena ruh dan cahya atau karena keduanya menampakkan informasi yang diketahui. Itu sebabnya Allah berifman dalam hadist Qudsi, “kalau bukan karenamu Muhammad , niscaya Aku tidak menciptakan alam. Jadi kalau bukan karena Nur Muhmaad, niscaya alam ini  tidaka tercipta, sesuai dengan hadist Qudsi “ Aku menciptakan semua karena engkau, dan Aku menciptakan engkau karena Aku. [7]

d)     Martabat penciptaan

Dalam bab V kitab Syarh al-ASyiqin disebutkan tentang prinsip-prinsip ontology wujudiyah, yaitu mengenai tajalli zat Tuhan. Ia menerjemahkan tajallli sebagai penampakan pengetahuan Tuhan melalui penciptaan alam semesta dan isinya. Penciptaan secara turun men urn tersusun dari lima martabat, yaitu dari atas ke bawah, dari yang tinggi ke yang rendah, sesuai peringkat keruhanian dan luas-sempit sifatnya, dari yang umum ke yang khusus.

Zat Tuhan disebut la ta’ayun, karena akal pikiran, perkataan, pengetahuan dan makrifat menusia tidak akan sampai kepada-Nya. Pandangan ini didasarkan pada hadist Nabi “tafakkaru fi khalqi lah, wa la tafakkaru fi dzati lah.. (Pikirkan apa saja yang diciptakan Tuhan, tapi jangan pikirkan tentang Zat-Nya). Dari hadist tersebut kita mengetahi bahwa pikiran, perkataan, pengetahuan, dan makrifat manusia mustahil mengetahui dan memahami Zat-Nya. Apabila para sufi berbicara tentang prinsip-prinsip penciptaan, mereka tidak membicarakan Zat-Nya melainkan jalan penciptaan secara bertingkat, dimulai dari yang paling dekat kepada-Nya sampai yang paling jauh dari-Nya secara spiritual. Walaupun Zat Tuhan itu la ta’ayun, namun ia ingin dikenal, maka ia menciptakan alam semesta dengan maksud agar Dirinya dikenal. “Kehendak untuk dikenal” inilah yang merupakan permulaan tajalli ilahi. Sesudah tajalli dilakukan maka Dia dinamkan ta’ayyun, yang berarti nyata. Keadaan ta’ayun inilah yang dapat dicapai pikiran, pengetahuan, dan makrifat.

Ta’ayyun zat Tuhan dibagi empat martabat:

  • Ta’ayyun awal/ ahad: kenyataan Tuhan dalam peringkat pertama yang terdiri dari ilm (pengetahuan), wujud (ada), syuhud (melihat), dan Nur (cahaya). Dengan adanya pengetahuan maka dengan sendirinya Tuhan itu ‘Alim (maha megetahui) dan ma’lum (yang diketahui), karena dia wujud maka dengan sendirinya Dia adalah yang mengada, mengadakan, atau yang ada. Karena Cahaya maka dengan sendirinya Dia yang menerangkan (dengan cahaya-Nya) dan yang diterangkan (oleh cahaynya)
  • Ta’ayyun Tsani/ ta’ayun ma’lum: kenyataan Tuhan dalam peringkat kedua, yakni kenyataan menjadi dikenal atau diketahui. Pengetahuan atau ilmu Tuhan menyatakan diri dalam bentuk yang dikenal. Pengetahuan Tuhan yang dikenal disebut “al-Ayan al-Tsabitah, yakni kenyataan segala sesuatu. Al-ayan al-Tsabitah disebut juga suwar al-Ilmiyah, yakni bentuk yang dikenal atau hakikat al-Asyya, yakni hakikat segala sesuatu di alam semesta dan ruh idhafi, yani ruh yang terpaut.
  • Ta’ayun Tsalis, kneyataan Tuhan dalam peringkat ketiga ialah ruh manusia dan mahluk-mahluk
  • Ta’ayun rabi’ dan khamis, kenyataan Tuhan dalam peringkat ini adalah pencptaan alam semesta, mahluk-mahluk, termasuk manusia. Penciptaan ini taida berkesudahan dan tiada berhingga.  [8]

II f. Puisi Hamzah Fansuri

ikan tunggal bernama fadhil

dengan air daim ia washil

isyqinya terlalu kamil

di dalam laut tiada bersahil

ikan itu terlalu ali

bangsanya nurur-rachmani

angganya rupa insani

da’im bermain di lautan baqi

bismil-lahi akan namanya

ruhul-lahi akan nyawanya

wajhul-lahi akan mukanya

zhahir dan batin da’im sertanya

Nurul-lahi nama bapainya

khalqul-lahi akan sakainya

raja sulaiman akan pawainya

da’im bersembunyi dalam balainya

empat bangsa akan ibunya

shummun bukmun akan tipunya

kerjaan Allah yang ditirunya

mengenal Allah dengan ilmunya

Fana fil-lahi akan sunyinya

inni all-lah akan bunyinya

memakai dunia akan ruginya

radhi kan mati da’im pujinya

tarkud-dunya akan labanya

menuntut dunia akan maranya

abdul-wachid asal namanya

da’im anal-haqq akan katanya

kerjanya mabuk dan ‘asyiq

ilmunya sempurna fa’iq

mencari air terlalu shadiq

didalam laut bernama khaliq

ikan itulah terlalu zhahir

diamnya da’im di dalam air

sungguh pun ia terlalu hanyir

washilnya da’im di laut halir

ikan achmaq bersuku-suku

mencari air ke dalam batu

olehmu taqshir mencari guru

tiada ia tahu akan jalan mutu

jalan mutu terlalu ali

itulah ilmu ikan sultani

jangan kau ghafil jauh mencari

washilnya da’im di laut shafi

jalan mutu yogya kau pakai

akan air jangan kau lalai

tinggalkan ibu dan bapai

supaya dapat syurbat kau rasai

hamzah syahranawi sungguhpun hina

tiada ia radhi akan thur sina

diamnya da’im di laut cina

bermain-main dengan gajah mina[9]

 

  1. III.             Riwayat Hidup dan Pemikiran Nuruddin Al-Raniri

III a.          Biografi

Al-RanirMenjelang akhir abad ke – 16 al-Raniri dilahirkan di Ranir, yang merupakan sebuah Kota pelabuhan tua di Pantai Gujarat, India. Dalam Ensiklopedi Tasawuf Jilid II, disebutkan bahwa nama lengkapnya adalah al-Syakh Nuruddin Muhammad ibn Ali ibn Hasanji al-Humaydi al-Aydarusi al-Raniri. Namun dalam buku ”Ilmu Tasawuf” M. Solihin dan Rosihon Anwar dijelaskan sedikit berbeda, yakni Nuruddin Muhammad bin Hasanjin Al-Hamid Asy-Syafi’I Ar-Raniri.

Dalam hal pendidikan ia mengikuti keluarganya, dan Ranir adalah kota pertama ia mendapatkan pendidikan, yang kemudian ia melanjutkan pendidikannya ke wilayah Hadramaut. Al-Raniri adalah merupakan tokoh pembaru di Aceh, dan ia mendapatkan posisi keagamaan terhormat di istana setelah Iskandar Tsani dilantik sebagai sultan pada 1637 M.

Al-Raniri termasuk orang yang sangat produktif dalam menulis, terbukti selama 7 tahun di istana Aceh ia banyak menulis karya, sebagian karyanya adalah untuk memenuhi sultan dan sultanah, sebagian berisi sanggahan terhadap pengikut Hamzah al-Fansuri dan Syamsuddin al-Sumatrani. Para pengikut kedua syakh itu disebutnya kaum wujudiyah yang sesat,[10] ia sering melakukan perdebatan dengan kaum wujudiyah yang dianggapnya sesat itu, bahkan disaksikan oleh Sultan Iskandar Tsani.

Sultan Iskandar Tsani dapat dipengaruhi oleh al-Raniri, sehingga ia pun ikut andil dalam pengkafiran kaum wujudiyah, sehingga tidak sedikit mereka yang berfaham wujudiyah itu dihukum mati. Banyak buku mereka yang dirampas dan dibakar di halaman Masjid Raya Bayt al-Rahman Banda Aceh. Bahkan al-Attas menuduh al-Raniri melakukan distorsi atas pemikiran al-Fansuri dan Syams al-Din, serta melancarkan “kampanye fitnah” menentang mereka. Disisi lain, al-Attas tampaknya mengubah tafsiran dalam buku barunya, dan memuji al-Raniri sebagai “Orang yang dikaruniai kebijaksanaan dan diberkati dengan pengetahuan autentik”, yang berhasil menjelaskan doktrin-doktrin keliru dari para ulama Wujudiyyah yang disebutnya “sufi-gadungan” (pseudo-sufi).[11]

Namun, paham itu tidaklah lenyap melainkan bangkit setelah kembalinya Syaf al-Rijal dari Surat, India, pada 1644 M, setelah ia memperdalam ilmunya di sana. Karena kealiman dan kepribadiannya, ia mendapat simpati, penghormatan dan perlindungan dari Sultanah Tajul Alam Shafiyah al-Din, yang kemudian mendapat posisi keagamaan tertinggi di istana. Sejak itu al-Raniri terpaksa menyingkir dan kembali ke Raner, Gujarat. Dan tetap menulis hingga ajalnya tiba pada Sabtu, 22 Dzu al-Hijjah 1068/21 September 1658 M. Sumber ini berasal dari Takeshi Ito yang menerbitkan artikel pendek yang ditulis oleh Peter Souriji, yang pada 1053/1643 M dikirim VOC (Verenigde Oost-Indische Companie) sebagai komisaris, ia membuat artikel itu sebagai ekspresi keluhan karena terjadinya penundaan dalam urusan dagangnya. Disisi lain, al-Raniri memberikan penjelasan mengenai situasi itu:

Kemudian dari itu, maka datanglah Sayf Al-Rijal, maka berbahaslah ia dengan kami seperti bahas mereka itu yang dahulu jua. Maka jawab kami: “Betapa kau benarkan akan kaum yang berkata: wa Allah bi Allah ta Allah, insan itulah Allah dan Allah itulah insan (sic)?”… maka sahutnya (Sayf Al-Rijal): “Inilah Iktikadku dan iktikad segala ahli Makkah dan Madinah…” Maka berlanjutanlah perkataannya, maka kembalilah kebanyakan orang kepada iktikad yang sesat itu juga.

Namun sumber lain yang berasal dari Daudy mengatakan bahwa, kepergian al-Raniri yang tiba-tiba karena ketidak sukaannya terhadap kebijakan Sultanah Shafiyyah Al-Din yang berencana menghukum mati orang-orang yang menolak diperintah wanita.

III b. Guru yang Mempengaruhi Al-Raniri

Sebelum al-Raniri menjadi seorang tokoh terkemuka di Aceh, ia belajar kepada Syaikh Tarekat Rifa’iyyah, yaitu Abu Hafs ‘Umar b. ‘Abd Allah Ba Syayban Al’Tarimi Al-Hadrami (w. 1066H/1656M), yang dikenal dengan nama Syaikh Ba Syayban. Setelah dianggap cukup oleh Gurunya, ia diperintahkan untuk melanjutkan pendidikannya ke Tarim di Jazirah Arabia bagian selatan. Tepatnya ia belajar kepada Sayyid Abd Al-Qadir Al-Idrus, keturunan Arab.

Al-Raniri dikenal sebagai orang yang sangat tekun, sehingga ia berhasil menjadi ulama yang berpengaruh cukup luas, dan ia adalah salah seorang syaikh dalam Tarekat Rifa’iyah, Tarekat Aydarusiyah, Tarekat Qadariyah, dan penganut Mazhab Syafi’iyah dalam bidang fikih.

III c. Murid-Murid Al-Raniri

Dari berbagai buku yang kami pelajari, hanya satu murid al-Raniri yang menonjol di Nusantara yaitu al-Makassari yang telah nulis buku yang berjudul Safinat Al-Najah. Dalam tulisannya itu ia menyatakan bahwa al-Raniri adalah syakh dan gurunya. Dan terdapat kemungkinan besar bahwa orang yang melanjutkan karya al-Raniri yang berjudul Jawahir Al-Ulum fi Kasyf Al-Ma’lum.

Selain al-Makassari, dikatakan murid al-Raniri adalah Syaikh Yusuf namun kebenaran tentang ini masih banyak di perdebatkan, karna disaat Syaik Yusuf berada di Aceh pada 1644, saat itu pula al-Raniri kembali ke Gujarat. Tampaknya, Nur al-Din al-Raniri yang juga memperkenalkan Syaikh Yusuf kepada gurunya sendiri, Sayyid Abu Hafsh Umar b. Abd Allah Ba Syaiban, yang dalam sebagian besar masa hidupnya tinggal di Bijapur, India.[12]

III d. Karya-Karya Al-Raniri

Al-Raniri sangat produktif dalam menulis, beberapa karyanya dibidang pengetahuan fikih, hadits, akidah, sejarah, perbandingan agama, tasawuf dan lain-lain. Dalam ranah kalam dan tasawuf ia mengikuti al-Ghazali, Ibn Arabi, al-Qunyawi, al-Qasyani, al-Firuzabadi, al-Jili, Abd al-Rahman al-Jami, Fadhl Allah al-Burhanfuri dan ulama terkemuka lainnya. Sedangkan dalam bidang fiqih, dia mendasarkannya pada buku-buku Syafi’i karya Nawawi, Al-Anshari, Ibn Hajar, Al-Ardabili dan Syams al-Din al-Ramli. Dan karya beliau yang masih dapat dikenali sekitar 30 karya, diantaranya:

  1. Al-Sirat al-Mustaqim (Jalan Lurus), yang membahas mengenai salat, zakat, puasa, haji, qurban, berburu, dan makan.
  2. Durrar al-Fara’id bi Syarh al-Aqa’id (Permata Berharga dengan Uraian tentang akidah).
  3. Bustan al-Salatin fi Dzikr al-Awwalin wa al-Akhirin (Taman Para Sultan tentang Riwayat Orang-Orang Awal dan Akhir).
  4. Asrar al-Insan fi Ma’rifat al-Ruh wa al-Rahman (Rahasia Manusia dalam Mengenal Ruh dan Tuhan).
  5. Tibyan fi Ma’rifat al-Adyan (Penjelasan untuk Memahami Agama-Agama).
  6. Ma’u al-Hayat li Ahl al-Mamat (Air Kehidupan Bagi Orang-Orang Mati).
  7. Jawahir al-Ulum fi Kasyf al-Ma’lum (Permata dalam Menyingkapkan Objek Ilmu).
  8. Hujjah as-Siddiq li Daf’ al-Zindiq (Argumen Orang Benar untuk Menolak Orang Zindik), dan lain-lain.

Peran penting al-Raniri bukan hanya menjelaskan dasar-dasar pokok keimanan dan ibadah Islam, tapi juga dalam mengungkapkan kebenaran Islam dalam perspektif perbandingan dengan agama-agama lain. Serta ia adalah penulis pertama di tanah Melayu yang menyajikan sejarah dalam konteks universal dan sejarah bangsa Persia, Yunani, dan Arab dimasa pra-Islam, diikuti dengan sejarah analistik Islam hingga tahun penghukuman mati al-Hallaj pada 309/921.

III e. Pemikiran Nuruddin Al-Raniri

  1. Tentang Tuhan

Dalam ranah ini al-Raniri berupaya untuk menyatukan paham Mutakallimin dengan paham para sufi yang diwakili Ibn Arabi, karena itulah ia dianggap bersifat kompromis. Ungkapan “wujud Allah dan Allah Esa” adalah bahwa alam ini merupakan sisi lahiriah dari hakikatnya yang batin, yaitu Allah, itulah yang dimaksud Ibn Arabi. Dan ungkapan itu pada hakikatnya adalah alam ini tidak ada, yang ada hanyalah Allah itu Esa. Jadi tidak bisa dikatakan, bahwa alam ini berbeda atau bersatu dengan Allah. Al-Raniri pun sama memandang alam ini merupakan tajalli Allah. Namun, tafsiran di atas membuatnya lepas dari label panteisme Ibn Arabi.

  1. Tentang Alam

Bagi al-Raniri alam ini diciptakan Allah melalui tajalli, dan ia menolak teori al-Faidh (emanasi) al-Farabi karena akan membawa pengakuan bahwa alam ini qadim sehingga dapat jatuh pada kemusrikan. Bagi dia alam dan falak, merupakan wadah tajalli asma dan sifat Allah dalam bentuk yang konkret.[13]

  1. Tentang Manusia

Sama halnya dengan pandangan Ibn Arabi tentang insan kamil, al-Raniri menganggap manusia adalah makhluk Allah yang paling sempurna di dunia. Sebab, manusia merupakan khalifah Allah yang sesuai dengan citra-Nya. Juga karena ia adalah mazhar (tempat kenyataan asma dan sifat Allah paling lengkap dan menyeluruh).

  1. Tentang Wujudiyyah

Al-Raniri memandang inti ajaran wujudiyyah berpusat pada wahdat al-wujud, yang disalah artikan kaum wujudiyyah dengan arti kemanunggalan Allah dengan alam. Ia menganggap pendapat Hamzah Fansuri akan membawa kekafiran. Ia berpendapat jika benar Tuhan dan makhluk hakikatnya satu, dapat dikatakan bahwa manusia adalah Tuhan dan Tuhan adalah manusia, sehingga jadilah seluruh makhluk itu Tuhan. Buruk ataupun baik yang dilakukan manusia Allah ikut serta melakukannya.

  1. Tentang Hubungan Syariat dan Hakikat

Al-Raniri berpendapat bahwa pemisahan syariat dan hakikat tidaklah benar. Sebagai mana yang dikatakan oleh Syekh Abdullah al-Aidrusi yang menyatakan bahwa tidak ada jalan menuju Allah, kecuali melalui syariat yang merupakan pokok dan cabang Islam.

Mengikuti konsep tajalli yang dikemukakan Ibn Arabi, al-Raniri memandang Tuhan bertajalli pada tiga martabat. Penjelasan yang lebih jelasnya akan dijelaskan pada halaman berikutnya di pembahasan “Martabat Perwujudan Tuhan” di pembahasan al-Sinkili, karena pemikiran mereka dalam hal ini tidak jauh berbeda. Dari berbagai pemikirannya, dapat kita tarik benang merah bahwasannya al-Raniri sangat menentang aliran panteisme, yang menurutnya sesat bahkan ateis. Terhusus pendapat-pendapat Hamzah Fansuri, tuduhan-tuduhannya bersandar pada dasar-dasar pemikiran sebagi berikut:

  1. Hubungan antara khalik dan makhluk bagi panteisme, persis sama dengan filosof, agama Zoroaster, dan ajaran Reinkarnasi. Hal ini tercermin dalam ungkapan mereka, “Tiada perbedaan antara Khaliq dan makhluk.”
  2. Percaya bahwa Tuhan berada “di dalam makhluk” adalah pemikiran panteisme yang mempraktikkan ajaran al-hulul-nya orang-orang ateis. Faham wujudiyyah Hamzah Fansuri sama dengan faham panteisme karena dia melihat Tuhan sepenuhnya immanen (tasbih), padahal Tuhan itu transenden (tanzih).
  3. Panteisme percaya bahwa wujud Allah Swt, adalah basith (simple).[14]
  4. Panteisme mengikuti aliran Mu’tazilah yang menganggap “Al-Qur’an adalah sebuah makhluk”.
  5. Sama halnya seperti sebagian filosof, panteisme percaya bahwa “alam bersifat qadim.”
  6. Hamzah Fansuri dikatakan melantunkan ungkapan-ungkapan syathiyat seperti al-Hallaj dan Bayazid dalam keadaan tidak mabuk dan fana.
  7. Hamzah Fansuri cenderung mengabaikan syari’at, bahkan menganjurkan pengikutnya meninggalkan syariat. [15]

Sementara menurut Dr. Hadi W.M dalam bukunya Tasawuf yang tertindas, disana dikatakan tuduhan al-Raniri terhadap Hamzah Fansuri hanya berdasarkan al-Muntahi dan syair-sayair Fansuri didalam Syarah Ruba’I Hamzah Fansuri karangan Syams al-Din Pasay. Dan ia menafsirkan symbol-simbol syair tersebut secara harfiah. Bahkan tuduhan al-Raniri mengenai syariat tidaklah terbukti, karena Fansuri telah mengatakan didalam kitab Asrar, “Hubaya-hubaya jangan keluar dari kandang syari’at, karena (syari’at upama) kulit, haqiqat (upama) otak; jika tiada kulit binasa otak….”

  1. IV.             Riwayat Hidup dan Pemikiran Abdurrauf Al-Sinkili

IV a. Biografi

al-sinkilPada abad ke – 17 (1606-1637 M) Kerajaan Aceh memiliki seorang ulama yang sekaligus adalah seorang mufti besar yaitu Abdurrauf al-Sinkili. Nama lengkap beliau adalah Syekh Abdurrauf ibn Ali al-Jawi al-Fansuri al-Sinkili.

Sebagaimana yang dikutif oleh Azyumardi Azra, dari Hasyimi bahwa ayah al-Sinkili berasal dari Persia yang datang ke Samudra Pasai pada akhir abad ke-13, kemudian menetap di Fansur, Barus, yang merupakan sebuah Kota Pelabuhan Tua di pantai barat Sumatera. Tahun kelahirannya tidak diketahui secara pasti karena didalam karya-karyanya maupun dalam karya murid-muridnya, namun menurut Azyumardi Azra, dengan mengutip hasil kalkulasi Rinkes dari tahun kembalinya al-Sinkili dari timur tengah, memperkirakan 1024 H/1615 M sebagai tahun kelahirannya, beliau wafat sekitar 1105 H/1693 M dan dikuburkan dekat kuala atau mulut sungai Aceh.

Al-Sinkili memulai pendidikannya dari ayahnya di Simpang Kanan (Sinkili). Dari ayahnya beliau belajar ilmu-ilmu agama, sejarah, bahasa Arab, mantiq, filsafat, sastra Arab/Melayu, dan bahasa Persia.[16] Setelah beliau menguasai pelajaran yang diberikan oleh ayahnya, Al-Sinkili melanjutkan pendidikannya ke Samudra Pasai dan belajar di Dayah Tinggi pada Syekh Syamsuddin al-Sumatrani, yang kemudian melanjutkan perjalanannya ke Arabia dan belajar disanah selama 19 tahun. Di Arabia al-Sinkili belajar kepada 19 orang guru sebagai tempat menimba ilmu keislaman dan 27 orang ulama yang mempunyai kontak pribadi dengannya.

Berawal dari Dhuha, Yaman, Jeddah, Mekkah, dan akhirnya Madinah adalah merupakan rute perjalanan haji sekaligus rute guru-guru dan ulama-ulama yang di temui oleh al-Sinkili.

IV b. Guru yang Mempengaruhi Pemikiran Al-Sinkili

  1. Ahmad Qusyasyi (w.1071 H/1660 M)

Ahmad Qusyasyi adalah seorang ulama terkenal di Madinah, al-Sinkili banyak belajar ilmu-ilmu batin dan ilmu-ilmu terkait lainnya sampai ia mendapat ijazah dan diangkat menjadi khalifah Tarekat Syattariyah dan Qadiriyah. Dengan kata lain Ahmad Qusyasyi adalah guru spiritual bagi al-Sinkili.

  1. Ibrahim al-Kurani (w. 1101 H/1660 M)

Setelah wafatnya Ahmad Qusyasyi, al-Sinkili melanjutkan perjalanan menuntut ilmunya kepada Ibrahim al-Kurani dalam ilmu-ilmu keislaman selain tasawuf, al-Kurani juga bisa disebut sebagai guru intelektual bagi al-Sinkili. Menurut Azra, hubungan pribadi al-Sinkili dan al-Kurani sangatlah dekat. Hal ini dibuktikan dengan kesediannya sang guru untuk menulis Ithaf al-Dzaki atas permintaan ashab al-Jawiyyin yang tidak lain adalah al-Sinkili.[17]

IV c. Murid-Murid Al-Sinkili

  1. Burhanuddin Ulakan (w. 1104H/1692M)

Burhanuddin Ulakan adalah salah satu murid al-Sinkili yang menyebarkan Islam di Sumatra, dan ia adalah orang yang mendirikan surau Syattariyah yang berfungsi sebagai lembaga pendidikan sejenis ribat di Ulakan.

Surau Ulakan dapat dikenal dengan cepat dalam waktu yang cukup singkat, karena surau ini merupakan satu-satunya pusat keilmuan Islam di Minangkabau.

  1. Abdul Muhyi

Abdul Muhyi berasal dari Pamijahan, Jawa Barat, yang juga merupakan murid dari al-Sinkili. Abdul Muhyi adalah orang yang menyebarkan tarekat Syattariyah di Jawa Barat.

Beliau berguru kepada al-Sinkili sebelum menunaikan ibadah haji ke Mekkah, dan dia juga pernah mengadakan perjalanan ke Baghdad untuk mengunjungi pusaran Syaik ‘Abd al-Qadir al-Jilaani, pendiri Tarekat Qadiriyah.

  1. Abdul Malik ibn Abdullah (w. 1149 H/1736 M)

Abdul Malik ibn Abdullah adalah salah satu murid dari al-Sinkili yang dikenal dengan Tok Pulau Mas dari Trengganu. Setelah ia belajar kepada al-Sinkili ia meneruskan pendidikannya di Haramayn.

  1. Dawud al-Jawi al-Fansuri ibn Ismail ibn Agha Mustafa ibn Agha Ali al-Rumi

Dawud al-Jawi adalah salah satu murid dari al-Sinkili yang berasal dari Turki dengan ibu dari Melayu. Diperkirakan ayahnya adalah serdadu bayaran Turki yang dating ke Aceh untuk membantu kesultanan Aceh dalam melawan Portugis.

Dawud al-Jawimerupakan khalifah utama al-Sinkili, karena dia pernah mendirikan sebuah dayah, yang merupakan lembaga pendidikan Islam tradisional Aceh bersama al-Sinkili.

IV d. Karya-Karya Al-Sinkili

  1. Bidang Fiqih
    1. Mir’ah at-Tullab fi Taysir al-Ahkam al-Syar’iyyah li al-Malik al-Wahhab (Cermin Para Penuntut Ilmu untuk Memudahkan Mengetahui Hukum-hukum Syara’ Tuhan-bahasa Melayu).
    2. Bayan al-Arkan (Penjelasan Rukun-rukun Bahasa Melayu).
    3. Bidayah al-Balighah (Permulaan yang Sempurna Bahasa Melayu).
    4. Fatihah Syaikh Abd al-Ra’uf (Metode Bacaan Fatihah Syaikh Abdurrauf – Bahasa Melayu).
    5. Sekaratul Maut (Tentang hal-hal yang Dialami manusia Menjelang Ajalnya).
    6. Bidang Tasawuf
      1. Tanbih al-Masyi al-Mansub ila Tariq al-Qusyasyi (Pedoman bagi orang yang menempuh tarekat al-Qusyasyi).
      2. Umdat al-Muhtajin ila Suluk Maslak al-Mufradin (Pijakan Bagi Orang-orang yang Menempuh Jalan Tasawuf).
      3. Kifayah al-Muhtajin ila Masyarab al-Muwahhidin al-Qailin bi wahdah al-Wujud (Bekal Bagi Orang-orang yang Membutuhkan Minuman Ahli Tuhid Penganut Wahdah al-Wujud).
      4. Bayan Tajalli (Penjelasan Tajalli).
      5. Risalah A’yan al-Tsabitah (Penjelasan tentang A’yan al-Tsabitah).
      6. Bidang Tafsir
        1. Tarjuman al-Mustafid bi al-Jawiy, yang merupakan Tafsir Pertama di dunia Islam dalam bahasa Melayu. Selama hamper tiga abad, Tarjuman al-Mustafid merupakan satu-satunya tafsir di tanah Melayu, meski sebelumnya sudah ada sepenggal tafsir atas QS al-Kahf/18 yang ditulis pada masa Hamzah Fansuri.
        2. Al-arbain Haditsan li al-Imkan al-Nawawiyyah (Penjelasan Terperinci atas Kitab Empat Puluh Hadis Karangan Imam Nawawi). Hadits Arbai’in ini ditulis al-Nawawi atas permintaan Sultan Zakiyyat al-Din.
        3. Al-Mawa’idz al-Badi’ah (Petuah-petuah Berharga).

IV e. Pemikiran Abdur Rauf Al-Sinkili

  1. Kesesatan Ajaran Tasawuf Wujudiyyah

Tasawuf wujudiyyah yang kemudian dikenal dengan nama Wahdat Al-Wujud, adalah ajaran tasawuf falsafi yang telah berkembang di Aceh, jauh sebelum al-Sinkili membawa ajaran tasawufnya. Ajaran tasawuf wujudiyyah ini dianggap sebagai ajaran yang sesat dan penganutnya dianggap murtad oleh al-Raniri.

Pada masa al-Raniri banyak terjadi proses penghukuman bagi mereka, dan tindakan al-Raniri dinilai al-Sinkili sebagai perbuatan yang terlalu emosional. Dan al-Sinkili menganggapi persoalan aliran wujudiyah dengan penuh kebijaksanaan. Al-Sinkili menolak pendapat kaum wujudiyyah karena menekankan imanensi Tuhan dalam ciptaan-Nya.

  1. Rekonsiliasi antara Tasawuf dan Syariat

Ajaran tasawuf yang dibawakan oleh al-Sinkili tidak jauh berbeda dengan tasawuf yang dibawakan oleh Syamsuddin dan Nuruddin, yaitu berusaha merekonsiliasi antara tasawuf dan syariat. Lebih jelasnya, yaitu menganut paham satu-satunya wujud hakiki, yakni Allah, sedangkan alam ciptaannya-Nya bukanlah merupakan wujud hakiki, tetapi bayangan dari yang hakiki. Menurutnya jelaslah Allah berbeda dengan alam. Walaupun demikian, antara bayangan (alam) dengan yang memancarkan bayangan (Allah) tentu memperoleh keserupaan. Sifat-sifat manusia adalah bayangan-bayangan Allah, seperti yang hidup, yang tahu, dan yang melihat. Pada hakikatnya, setiap perbuatan adalah perbuatan Allah.

  1. Dzikir

Dalam pandangan As-Sinkili, dzikir adalah merupakan suatu usaha untuk melepaskan diri dari sifat lalai dan lupa. Dengannya hati selalu mengingat Allah. Dan bagi as-Sinkili tujuan dzikir adalah mencapai fana’ (tidak ada wujud selain wujud Allah), berarti wujud yang berdzikir bersatu dengan wujud-Nya, sehingga yang mengucapkan dzikir adalah Dia.[18]

  1. Martabat Perwujudan Tuhan

Bagi As-Sinkili, ada tiga martabat perwujudan Tuhan. Diantaranya, martabat ahadiyah atau la ta’ayyun, martabat wahdah atau ta’ayyun awwal, martabat wahdiyyah atau ta’ayyun tsani.

  1. Martabat ahadiyah atau la ta’ayyun, yaitu alam pada saat itu masih merupakan hakikat gaib yang masih berada di dalam ilmu Tuhan.
  2. Martabat wahdah atau ta’ayyun awwal, yaitu sudah tercipta haqiqah Muhammadiyah yang potensial bagi terciptanya alam.
  3. Martabat wahdiyyah atau ta’ayyun tsani, yang disebut juga dengan a’yan tsabitah, dan dari sinilah alam tercipta.

Singkatnya, a’yan tsabitah yaitu potensi alam raya, yang menjadi sumber dari pola-pola dasar luar (al-a’yan al-kharijiyyah),ciptaan dalam bentuk konkretnya. Al-Sinkili menyimpulakan, meski a’yan al-kharijiyyah merupakan emanasi dari Wujud Mutlak, mereka berbeda dari Tuhan itu sendiri hubungan keduanya adalah seperti tangan dan bayangannya.

Menurut As-Sinkili, ucapan “Aku Engkau, Kami Engkau, dan Engkau Ia” hanya benar pada tingkat wahdah atau ta’ayyun awwal karena unsur Tuhan dan unsur manusia pada tingkat itu belum dapat dibedakan. Tingkatan itulah yang dimaksud Ibn ‘Arabi dalam sya’ir-sya’irnya. Akan tetapi, pada tingkataan wahidiyyah atau ta’ayyun tsani, alam sudah memiliki sifat sendiri, tetapi Tuhan adalah cermin bagi insan kamil dan sebaliknya. Namun, Ia bukan ia, bukan pula yang lainnya. Bagi As-Sinkili, jalan untuk mengesakan Tuhan adalah dengan dzikir la ilaha illallah sampai tercipta fana.[19]

 

KESIMPULAN

Tasawuf Sunni adalah tasawuf yang dikembangkan para sufi abad ke-3 dan ke-4 H oleh al-Ghazali dan pengikutnya yang berwawasan moral praktis dan bersandarkan kepada al-Quran dan Sunnah. Sedangkan tasawuf falsafi menggabungkan tasawuf dengen berbagai aliran msitik dari lingkungan di luar Islam. Seperti Hinduisme, kependetaan Kristen, teosofi, dan Neo Plationisme. Meskipun demikian, Nicholson dan Spencer Trimingham tetap mengakui adanya sumber Islam dalam tasawuf.

Perkembangan tasawuf pada tersebut yang berlangsung sekitar abad V H. Tokoh yang paling menonjol dalam hal ini adalah Imam al-Qusyairi (w. 465 H) yang berperan melapangkan jalan bagi al-Ghazali untuk memenangkan tasawuf Sunni di Dunia Islam, hingga masuk ke Nusantara.

Selaanjutnya masuk ke dalam pembahasan tokoh-tokoh awal tasawuf Nusantara, yakni Hamzah Fansuri. Sumbangan beliau sangat besar bagi perkembangan kebudayaan Islam, khususnya dalam bidang keruhanian, keilmuwan, filsafat, bahasa, dan sastra. Beberapa pemikiran Hamzah Fansuri, seperti pemikirannya tentang syariat, tarekat, hakikat dan makrifat, ia pun menganggap penting akan peran syariat. Selain itu ada pemikirannya tentang Nur Muhammad, dan pemikiran wujudiyah yang dikritik Nuruddin al-Raniri.

Secara garis besar pemikiran al-Raniri tidaklah jauh berbeda dengan Hamzah Fansuri, namun dalam sisi lain ia banyak melakukan tuduhan-tuduhan yang bisa di bilang tidak sesuai dengan fakta. Seperti tuduhan bahwa Hamzah Fansuri tidak mementingkan syariat bahkan meninggalkannya, yang ternyata dalam bubu- Hamzah Fansuri sendiri syariat sangatlah dikedepankan.

Selain itu, sosok al-Sinkili yang menjadi panutan banyak pemikir pemikirannya pun tidak jauh berbeda hanya saja, ia tidak memberikan penolakan keras terhadap Hamzah Fansuri, seperti yang dilakukan oleh al-Raniri dengan pengkafirannya.

DAFTAR PUSTAKA 

  1. Solihin, M dan Rosihon Anwar. 2008. Ilmu Tasawuf. Bandung: Pustaka Setia.
  2. W.M, Abdul, Hadi. 2001. Tasawuf yang Tertindas (Kajian Hermenetika terhadap Karya-Karya Hamzah Fansuri. Jakarta: Paramadina.
  3. Azra, Azyumardi. 2008. Ensiklopedi Tasawuf. Jilid I A-H, Bandung: Angkasa.
  4. Azra, Azyumardi. 1995. Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantar Abad XVII dan XVIII. Bandung: Mizan.
  5. Azra, Azyumardi. 2002. Jaringan Global dan Lokal Islam Nusantara. Bandung: Mizan.
  6. Nasution, Harun. 1992/1993. Ensiklopedi Islam di Indonesia. Jilid I, Jakarta: Abdi Utama.
  7. Shihab, Alwi. 2009. Akar Tasawuf di Indonesia (Antara Tasawuf Sunni & Tasawuf Falsafi). Bandung: Mizan.
  8. Amin, Samsul Munir. 2012. Ilmu Tasawuf. Jakarta: Amzah
  9. Abdul HAdi W.M. 1995. “Risalah TAsawuf dan Puisi-puisinya ”. Jakarta. MIzan
  10. http://id.wikipedia.org/wiki/Lingua_franca
  11. http://sastra-muslim.blogspot.com/2011/11/syair-ikan-tongkol-hamzah-fansuri.html

 


[1] Samsul Munir Amin. 2012. Ilmu Tasawuf. Jakarta: Amzah. Hal 141-143

[2] Abdul HAdi WM. 2001. Tasawuf yang tertindas; Kajian Hermeneutika terhdap karya-karya Hamzah FAnsuri. Paramadina. Jakarta. Hal 115-120

[3] Lingua franca (bahasa Latin yang artinya adalah “bahasa bangsa Franka“) adalah sebuah istilah linguistik yang artinya adalah “bahasa pengantar” atau “bahasa pergaulan” di suatu tempat di mana terdapat penutur bahasa yang berbeda-beda. Ayatrohaedi menerjemahkan istilah ini dengan istilah basantara, dari kata “basa” atau “bahasa” dan  “antara”.Sebagai contoh adalah bahasa Melayu atau bahasa Indonesia di Asia Tenggara. Di kawasan ini bahasa ini dipergunakan tidak hanya oleh para penutur ibunya, namun oleh banyak penutur kedua sebagai bahasa pengantar. Contoh yang lain adalah bahasa Inggris di pentas internasional. http://id.wikipedia.org/wiki/Lingua_franca

[4] Ibid. hal 135

[5] Abdul HAdi W.M. 1995. “Risalah TAsawuf dan Puisi-puisinya ”. Jakarta. MIzan. Hal 14-17

[6] Abdul Aziz Dahlan dalam Azyumardi Azra. Ensiklopodia tasawuf I. Jakarta. Amzah. Hal 443-444

[7] Alwi Shihab. 2009. Antara tasawuf Sunni dan Falssafi. Jakarta. PUstaka IIMaN. Hal 156-157

[8] Abdul HAdi Wm. 2001. TAsawuf yang tertindas: KAjian HErmeneutika  terhadap karya-karya HAmzah FAnsuri. Jakarta. PAramadina. Hal 149-150. Dalam “ensikopedia TAssawuf “ juga disebutkan bahwa HAmzah FAnsuri memeiliki lima martabat wujud, satu martabat la’ ta’ayun dan empat martabat ta’ayun. (Abdul Aziz Dahlan dalam Azyumardi Azra.  Ensiklopedia tSawuf. Jakarta. MAzah. Hal 446)

[9] http://sastra-muslim.blogspot.com/2011/11/syair-ikan-tongkol-hamzah-fansuri.html

[10] Azyumardi Azra, M.A, Ensiklopedi Tasawuf Jilid II, Hlm. 956

[11] Azyumardi Azra, Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantar Abad XVII dan XVIII, hlm. 201

[12] Azyumardi Azra, Jaringan Global dan Lokal Islam Nusantara, hlm. 102

[13] M. Solihin dan Rosihon Anwar, Ilmu Tasawuf, hlm. 251

[14] Alwi Shihab, Akar Tasawuf di Indonesia: Antara Tasawuf Sunni & Tasawuf Falsafi, hlm. 89

[15] Abdul Hadi W.M, Tasawuf yang Tertindas : Kajian Hermenetika terhadap Karya-Karya Hamzah Fansuri), hlm. 163

[16] M. Solihin dan Rosihon Anwar, Ilmu Tasawuf, hlm. 252

[17] Azyumardi Azra, M.A, Ensiklopedi Tasawuf Jilid I A-H, hlm. 55

[18] Harun Nasution, Ensiklopedi Islam di Indonesia, Jilid I, hlm. 33

[19] Azyumardi Azra, Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantar Abad XVII dan XVIII,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s