Logika Dalam Pandangan Suhrawardi

Pendahuluan

P1040552 Filsafat Islam merupakan suatu ilmu yang masih diperdebatkan pengertian dan cakupannya oleh para ahli. Akan tetapi di sini saya cendenrung condong kepada pendapat yang mengatakan bahwa Filsafat Islam itu memang ada dan terbukti exis sampai sekarang. Meskipun beberapa keberatan telah dilayangkan terhadap sebutan filsafat islam. [1]Dalam dunia filsafat Islam terdapat berbagai aliran, dua aliran besar diantaranya yaitu aliran peripatetik dan iluminasi. Mengerti dan mengetahui kedua aliran ini adalah hal yang sangat penting ketika kita ingin mengkaji filsafat, karena semua filsuf khususnya muslim pada akhirnya merujuk dan berkaitan kepada dua aliran ini. Aliran peripatetis merupakan aliran yang pada umumnya diikuti oleh kebanyakan filsuf, sedangkan aliran iluminasi di sini merupakan tandingan bagi aliran peripatetis. Aliran iluminasi ini dipelpori oleh seorang tokoh filsuf muslim yaitu Suhrawardi al Maqtul, dengan nama lengkap Syhab al-Din Ibn Habsy Ibn Amirak Ibn Abu al-Futuh al-Suhrawardi[2] yang dikenal juga dengan sebutan bapak iluminasi.

Suhrawardi dikenal dalam kajian Filsafat Islam karena kontribusinya yang sangat besar dalam mencetuskan aliran iluninasi sebagai tandingan aliran peripatetis dalam filsafat, walaupun dia masih dipengaruhi oleh para filsuf barat sebelumnya. Hal ini tidak dapat dipungkiri karena sebagian atau bahkan keseluruhan bangunan Filsafat Islam ini dikatakan kelanjutan dari filsafat barat yaitu Yunani.

Hal pemikiran Suhrawardi dalam filsafat yang paling menonjol adalah usahanya untuk menciptakan ikatan antara tasawuf dan filsafat. Dia juga terkait erat dengan pemikiran filsuf sebelumnya seperti Abu Yazid al Busthami dan al Hallaj, yang jika diruntut ke atas mewarisi ajaran Hermes, Phitagoras, Plato, Aristoteles, Neo Platonisme, Zoroaster dan filsuf-filsuf Mesir kuno. Kenyataan ini secara tidak langsung mengindikasikan ketokohan dan pemikirannya dalam filsafat. Seperti berbagai konsep yang dibawakan olehnya mencerminkan pemikiran Hermes, yang menjelaskan berbagai konsep dengan hukum-hukum alam dan mengibaratkan ontologi seperti cahaya.[3]

Dalam tulisan ini, saya hendak membatasi pemikirannya dalam ranah logika, karena logika yang di sajikan oleh Suhrawardi berbeda dengan logika yang banyak dikenal dan di pahami oleh halayak umum, yaitu logika paripatetik. Selain itu, pentingnya pembahasan logika suhrawardi karena salah satu ilmu pengetahuan daru dunia luar yang kemudian masuk kedalam lingkungan kebudayaan Islam, mendapat penerimaan secara umum, bahkan–sebagai pintu masuk–dianggap sebagai salah satu dari ilmu agama, adalah ilmu mantiq (logika).[4]

Pembahasan

Dalam memulai pembahasan ini, saya bermaksud mengkaji dan menelaah uraian eksplisit Suhrawardi tentang hakikat dan cakupan logika dalam At-Talwihat, Al-Masyari wa Al-Mutharahat, dan Hikmah Al-Isyraq.

A. Bahasa Logika dalam At-Talwihat

Dalam kitab ini kita bisa perhatikan bahwa logika yang digunakan oleh Suhrawardi sama seperti logika yang digunakan oleh Ibn Sina dalam karyanya As-Syifa. Dimana Suhrawardi membagi pengetahuan kedalam dua jenis yaitu, konsep (tashawwur), dan penilaian (tashdiq). Kedua jenis tersebut masing-masing memiliki dua unsur yaitu, bawaan (fitri) dan perolehan (ghair fitri). Secara tidak langsung disini ada empat bangunan epistemologi yaitu konsep bawaan, konsep perolehan, penilaian bawaan, dan penilaian perolehan.

Pembagian keempat epistemologi ini, sama dengan Ibn Sina. Namun Suhrawarni lebih menekankan perbedaan antara pengetahuan bawaan dan pengetahuan perolehan, dan senantiasa menggunakan istilah fitri untuk bawaan.

Setelah melihat perbedaan keduanya, Suhrawardi membahas proses memperoleh pengetahuan dalam pikiran dan ia menyebut proses ini dengan “kognitasi” atau “pemikiran”. Kognitasi adalah sebagai proses yang didefinisikan di bagian At-Talwihat, hanya diterapkan pada aktivitas pikiran saat mengabstraksi pengetahuan yang berdasarkan data tertentu dari konsepsi ke penilaian.[5] Jenis pengetahuan ini mesti dibuktikan, sementara pengetahuan bawaan diberi status apriori (independen) dari data indrawi, serta terbukti dengan sendirinya, contohnya seperti ke-apa-an.

Suhrawardi memandang selain pemikiran, ada perangkat lain. Mengapa? Karena pemikiran bagi parepatetik adalah “ilmu logika”, dan logika merupakan subordinat dari kemampuan potensi jiwa untuk mengenal Ilahi, yang mengawali manusia dari berbagai penilaian palsu. Pada dasarnya Suhrawardi menawarkan konsep yang dianggapnya lebih unggul dari paripatetik, yaitu dengan kearifan (intuisi, ilham, wahyu) yang diperoleh melalui iluminasi atau pencerahan dan dikawal sebagian dengan logika.

Dalam logika At-Talwihat, saya melihat bahwa Suhrawardi senantiasa memandang logika dengan menekankan beberapa aspek, diantaranya:

  1. Menekankan pembagian pengetahuan, bawaan dan perolehan. Dengan logika yang hanya bisa diterapkan pada pengetahuan jenis kedua.
  2. Menegaskan bahwa intuisi, ilham personal, dan inspirasi pada dasarnya ada sebelum bukti-bukti yang dibangun dengan metode formal.
  3. Membagi logika menjadi proposisi penjelas dan bukti-bukti.

B. Logika dalam Al-Masyari Wa Al-Mutharahat

Tidak jauh berbeda dengan At-Talwihat, dalam Al-Masyari Wa Al-Mutharahat Suhrawardi dalam penjelasannya lebih mendalam lagi. Dan di sini Suhrawardi menyanggah paripatetik dalam prinsip-prinsip logika mendasar, sambil menawarkan alternatif-alternatif iluminasi pada persoalan yang formal.

Dalam Al-Masyari Wa Al-Mutharahat Suhrawardi membahas berbagai pertanyaan-pertanyaan tentang, apakah logika adalah bagian dari filsafat, atau hanya bagian dari pengetahuan saja, atau merupakan sebuah disipin ilmu yang berdiri sendiri?. Yang mana pertanyaan ini mungkin tidak pernah di singgung oleh paripatetik sbelumnya.

Hal yang paling mendasar dalam Al-Masyari Wa Al-Mutharahat, adalah kritikan yang dilakukan oleh Suhrawardi terhadap paripatetik mengenai definisi, dan ia pun senantiasa menolak definisi paripatetik tentang gagasan-gagasan tashawur dan tashdiq. Karna inilah Suhrawardi dianggap sebagai pragmatis logika, bukan ahli logika teoritis meski pun tidak bisa dipungkiri ia adalah seorang yang pandai dalam berlogika.

C. Logika dalam Hikmah Al-Isyraq

Berbeda dengan At-Talwihat dan Al-Masyari Wa Al-Mutharahat, Suhrawardi menyusun Hikmah Al-Isyraq dengan lebih singkat dan padat dalam menjelaskan logikanya. Hal tersebut merupakan sebuah bukti bahwa Suhrawardi tidak bertujuan untuk menjelaskan logika seperti paripatetik, karena ia menganggap menjelaskan logika dalam ilmu filsafat tidaklah memberikan banyak manfaat, melainkan hanya menghabiskan waktu saja.

Dalam Hikmah Al-Isyraq, Suhrawardi secara terang-terangan memperlihatkan perbedaaan yang amat bersebrangan dengan paripatetik, serta ia berusaha membuktikan kekeliruan mereka (paripatetik) dan merumuskan pandangan alternatifnya. Seperti, menekankan berbagai problematikayang berkenaaan dengan sanggahan sofistik, problem definisi, teori anggapan atau pengandaian, negasi dalam kuantifikasi dalam negasi, serta reduksi kerangka silogisme kedua dan ketiga menjadi kerangka pertama.[6]

[1] Mulyadhi Kartanegara, Gerbang Kearipan (Sebuah Pengantar Filsafat Islam), hlm. 19

[2] Husein Ziai, Suhrawardi dan Filsafat Iluminasi (Sang Pncerah Pengetahuan dari Timur), hlm. 1

[3] Diambil berdasarkan diskusi bersama, Dr. Muhsin Labib, Tgl. 17-04-2014

[4] Murtadha Muthahhari, Pengantar Ilmu-Ilmu Islam, hlm. 101

[5] Husein Ziai, Suhrawardi dan Filsafat Iluminasi (Sang Pncerah Pengetahuan dari Timur), hlm. 69

[6]Husein Ziai, Suhrawardi dan Filsafat Iluminasi (Sang Pncerah Pengetahuan dari Timur), hlm. 78

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s