Dialektika Hegel

Jika kita perhatikan, diaklektika Hegel hadir sebagai pereduksi dan pengembangan dari filsafatnya Kant. Sebagai sebuah penjelasan atas proses-proses tertentu, dialektika itu sendiri sudah jauh dari apa yang dimaksudkan oleh Kant. Dialektika terdiri dari tiga ritme, diantaranya: Thesis, AntiThesis, dan Sintesis. Thesis secara sederhana sering dipahami sebagai, suatu pernyataan atau pendapat yang diungkapkan untuk sesuatu keadaan tertentu. Contohnya seperti, “tanah ini basah karena hujan”. Sementara AntiThesis adalah pernyataan lain yang menyanggah pernyataan atau pendapat tersebut. Contohnya seperti, “hari ini tidak hujan”. Dan Sintesis adalah, rangkuman yang menggabungkan dua pernyataan yang berlawanan tersebut sehingga muncul rumusan pernyataan atau pendapat yang baru. Contohnya seperti, “karena hari ini tidak hujan, tanah ini tidak basah karena hujan”.

Thesis dan AntiThesis dikembangkan oleh Hegel dari Antinomi-antinominya Immanuel Kant yang membahas mengenai batas-batas dari rasionalitas kita atau merupakan kritik atas rasionalitas kita yang mengatakan bahwa kita tidak akan mampuh memahami sesuatu yang sifatnya seperti ketakberhinggaan dan bersifat dua kutub, bipolar. Selain itu, Hegel pun terinspirasi dari dua orang lainnya yaitu, Johan Gottlieb Fichte dan Friedrich Wilhelm.

Hegel berangkat dari model dialektika pola fikir Fichte yang terumus dengan, aku ini sadar (thesis) – ada aku lain (antithesis) – aku dan aku lain saling membatasi (sintesis). Sementara pola fikir Schelling berupa, aku yang lain atau alam (thesis) – aku individu atau manusia (antithesis) – aku yang bukan materi dan roh (sintesis). Dari perbedaan kedua pola tersebut Hegel merumuskan sesuatu yang lebih sederhana. Dengan mengkritik pandangan Fichte yang tidak menyelesaikan masalah pertntangan antara aku dengan aku yang lain. Sementara pada sisi yang lain, Hegel berpendapat bahwa pendapat Schelling memiliki kelemahan karena tidak menjelaskan  apa yang dimaksud dengan aku absolut itu sendiri. Dari sana Hegel merumuskan pemahamannya, yaitu menjadi: ide (thesis) – alam (antithesis) – roh (sintesis).

Penjelasan lain untuk hal itu, Hegel berangkat dari pendapat yang dibawakan Kant, dimana kita akan menemukan jalan buntu yang berlawanan satu sama lain ketika berusaha memahami sesuatu, seperti waktu dan ruang. Akan tetapi, Hegel mengambil jalan lain. Dengan mengatakan bahwa Kant memang benar bahwa dalam banyak hal di kehidupan kita adalah merupakan antinomi-antinomi (kenyataan yang kontropersial) akan tetapi diantara dua buah kutub tersebut bisa muncul gabungan dari dua kutub tersebut.

Disini dapat kita katakana, bahwa Hegel telah membuat antinomi Kant menjadi melebar dan menyentuh apa yang tidak ingin disampaikan oleh Kant. Jika kita perhatikan lagi, bahwa Thesis merupakan sesuatu yang pada dasarnya berkebalikan dengan AntiThesis. Dan dalam sebuah ide AntiThesis merupakan lawan atau kutub yang berkebalikan dengan Thesis. Namun, apabila Thesis dan AntiThesis ini bergejolak dan bertemu di dunia nyata maka suatu saat akan timbul hal baru yang merupakan akomodasi atau hasil-hasil dari benturan keduanya, yang ia sebut sebagai Sintesis. Sintesis ini kemudian bisa menjadi Thesis dan kemudian menemukan AntiThesis dan melahirkan Sintesis baru.

Dari sana dapat kita lihat bahwa, dialektik bagi Hegel adalah merupakan sebuah proses yang mati. Dan hukum dialektika ini kalo tidak salah dikenal dengan hukum sosial yang berlaku untuk semua waktu dan semua tempat, Karen pengertian yang terkandung di dalamnya berasal dari kata-kata sehari-hari, spontan, bukan reflektif, sehingga terkesan abstrak, umum, statis, dan konseptual. Pengertian tersebut diterangkan secara radikal agar dalam proses pemikirannya kehilangan ketegasan dan mencair.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s