Filsafat Pertama (Metafisika) Being As Such

Filsafat pertama atau lebih dikenal dengan metafisika adalah merupakan sebuah bidang ilmu yang menjelaskan tentang segala sesuatu yang ada diluar fisik dan bentuk-bentuknya. Segala sesuatu yang ada pastilah berubah-ubah dan senantiasa tunduk kepada ‘menjadi’ dan perubahannya itu tersusun dari prinsip potensial dan prinsip aktual yang lebih dikenal dengan materi dan forma.

Dari berbagai perubahan yang terjadi pada sesuatu, ‘menjadi’ bukanlah awal dari sesuatu yang sama sekali baru yang tidak ada sebelumnya, melainkan hanya sekedar perubahan esensial saja. Karena materi yang diduga merupakan bagian yang kekal, tak diciptakan, dapat menentukan, kehilangan bentuk esensial awalnya, dan dibawah pengaruh sebuah sebab efisien mendapat bentuk yang lain, dalam artian determinasi formal yang baru.

Filsafat pertama atau metafisika bisa dikatakan sebagai kebijaksanaan, ilmu pengetahuan yang mencari prinsip-prinsip fundamental dan penyebab-penyebab pertama. Filsafat pertama atau metafisika sebagai ilmu yang bertugas mempelajari yang ada sebagai yang ada (being qua being) adalah merupakan keseluruhan kenyataan. Dan filsafat pertama atau metafisika sebagai ilmu tertinggi yang mempunyai objek paling luhur dan sempurna dan menjadi landasan bagi segala sesuatu yang ada.

Dari sana dapat kita lihat bahwa dalam filsafat pertama atau metafisika terdapat objek kajian yang urgen untuk di ketahui, yaitu yang ada sebagai yang ada (being qua being) dan yang ilahi. Dan sebenarnya ada banyak makna dalam memahami bahwa segala sesuatu itu bisa dikatakan ‘menjadi’ dengan sebuah titik pusat yang pasti bukan hanya sekedar ‘menjadi oleh ambiguitas belaka.

Contohnya seperti sebuah pertanyaan, apakah Socrates dan Socrates duduk adalah hal yang sama, atau apakah setiap satu hal memiliki sesuatu yang bertentangan dengannya, atau apakah yang kontradiksi itu, atau berapa banyak makna itu?. Dan dalam menyelesaikan berbagai pertanyaan itu, hendaklah kita berangkat dari penyelidikan terhadap esensi dari konsep-konsep ini dan sifat mereka.

Bagi seorang filosof sebuah penyelidikan tentu akan sering berbenturan dengan keanehan dan kemerataan, keseimbangan dan keserataan, kelebihan dan kecacatan, dan problem ini sering hadir dalam diri sendiri atau dalam hubungnnya dengan yang lain.

Hal ini cenderung memberikan sebuah penilaian, dimana dialektika dianggap kritis dimana filsafat mengklaim tahu, dan sopis adalah apa yang tampaknya menjadi filosofi padahal tidak, dalam artian wisdom yang hanya ada di dalam kemiripan saja (menjadi seperti).

Singkatnya, bahwasannya kebenaran tidak dapat mereka miliki, karena kebenaran yang satu itu selalu memiliki beberapa arti, sebagai mana pikiran dan pandangan seseorang terhadap satu objek yang sama, selalu berujung pada perbedaan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s