Hubungan Jiwa dan Badan

Pandangan Ibn Sina

Ibn Sina berpendapat bahwa jiwa adalah kesempurnaan primer bagi raga yang organis dari segi melakukan berbagai aktifitas yang ada dengan dasar ikhtiar fikri dan mengambil kesimpulan dengan nalar, serta dari segi mengetahui hal-hal yang universal. Ibn Sina menyebut jiwa sebagai kesempurnaan karena jiwa itu dipandang sebagai kamal dari segi potensi yang memberikan kesempurnaan pada persepsi serta sebagai sumber berbagai aktifitas. Jiwa yang dianggap kesempurnaan primer adalah kesempurnaan sebagai kausal bagi spesies menjadi spesies, sementara kesempurnaan skunder merupakan atribut pengikat pada spesies.

Dari pemikiran tersebut Ibn Sina mengemukakan beberapa alasan untuk mendukung pendirianny bahwa jiwa memiliki eksistensi sendiri, tidak inheren dan sebentuk dengan raga. Dalam hal ini Ibn Sina memberikan empat dalil yang dianggap cukup mumpuni, diantaranya:

Pertama, Natural Psychology yang merupakan dalil yang berpijak pada perlawanan terhadap gerak natural, dan dalil berikutnya yang berpijak pada capaian pengetahuan. Diantara berbagai gerak, terdapat suatu gerak yang melawan hukum alam, seperti manusia berjalan, burung terbang. Gerakan demikian menghendaki adanya penggerak khusus yang melebihi unsur-unsur benda yang bergerak, yaitu jiwa. Karenanya, idrak tidak dimiliki semua makhluk, tetapi hanya untuk makhluk yang memiliki jiwa saja.

Kedua, Istimrar yang merupakan suatu dalil yang menyatakan bahwa berbeda dengan raga yang mengalami perubahan, jiwa tidak pernah mengalami perubahan dan pergantian seperti itu.

Ketiga, Manusia Terbang adalah suatu dalil yang menyatakan bahwa andaikan seseorang yang secara organic sempurna berada diangkasa dalam keadaan mata tertutup tidak mengetahui apa-apa, tidak merasakan sentuhan apa pun, termasuk anggota badan sendiri, ia akan tetap yakin terhadap eksistensi dirinya. Ini membuktikan bahwa wujud jiwa itu berbeda dengan raga.

Keempat, ke-Aku-an dan penyatuan gejala kejiwaan, dalil ini menyatakan bahwa pemilikan dengan formulasi. Ketika suatu aktifitas terjadi sebenarnya yang pantas menyandang bahwa itu aku adalah jiwa. Meskipun dalil penyatuan kejiwaan menyatakan bahwa perasaan dan aktifitas manusia sangat beragam, bahkan saling bertentangan.

Dari dalil-dalil tersebut Ibn Sina ingin membuktikan bahwa jiwa manusia memiliki eksistensi sendiri, suatu eksistensi yang bersifat immateri yang memberikan kesempurnaan terhadap raga yang bersifat materi.  Singkatnya raga dan jiwa memiliki kerelasi yang sangat kuat, saling bantu membantu tanpa henti-hentinya. Dan jiwa tidak akan pernah mencapai tahap fenomenal tanpa adanya raga. Ketika raga mendapat kelayakannya untuk dihuni aleh jiwa, maka jiwa akan menjadi sumber hidup, pengatur, dan potensial raga, seperti nakhoda begitu memasuki kapal ia menjadi pusat penggerak, pengatur dan potensi bagi kapal itu.

Pandangan Mulla Sadra

Bagi Mulla Sadra jiwa adalah gambara dari substansi yang secara zatnya non-materi akan tetapi dalam setiap aktivitasnya senantiasa terikat dengan materi. Dalam hal ini Mulla Sadra menunjukan bahwa antara jiwa dan raga bukanlah sesuatu yang satu secara dimensional, dalam hal ini Mulla Sadra menjelaskannya dengan argument Arsyiyyah, dimana bahwa persepsi merupakan hadirnya objek pada diri subjek. Sekiranya terjadi persepsi pada daya fisik sedangkan jiwa merupakan daya fisik, maka yang akan terjadi adalah aksiden berdiri dengan dirinya sendiri dan hal ini tidaklah mungkin.

Dalam hal ini, mulla Sadra memberikan penjelasannya, bahwa jika jiwa mempersepsi daya fisik dan daya fisik merupakan cara bagaimana merasakan sesuatu merupakan aksiden. Dari sana kita bisa lihat bahwa subjek yang mempersepsi bukanlah daya fisik itu sendiri tetapi dia berada pada lokus yang lain.

Dengan argumentasi ini Mulla Sadra membuktikan dualisme pada diri manusia dan keduanya memiliki perbedaan secara dimensional, namun demikian dualism ini bukan sebagaimana yang dipahami Ibn Sina, bahwa jiwa  dan raga merupakan dua substansi yang berhubungan sejak awal keberadaannya. Dualisme dalam pengertian Mulla Sadra ini mengatakan bahwa jiwa sekalipun berkembang bersama raga pada awalnya namun kemudian menjadi lokus bagi seluruh daya dan potensi, berbeda dengan raga fisik yang hanya bersifat bagi aktualisasi seluruh daya dan potensi tersebut.

Jiwa akan tetap ada setelah kehancuran raga mengingat bahwa jiwa bersifat transenden dan jiwa tidak tergantung kepada raga kecuali sebagai identitas bagi dirinya. Keberadaannya justru menjadi lokus bagi keberadaan raga namun tidak sebaliknya. Mulla Sadra menolak bahwa kebersamaan antara jiwa dan raga hanyalah kebersamaan kebetulan dan diantara keduanya tidak terjadi ikatan fundamental. Baginya ikatan diantara keduanya adalah ikatan keharusan bukan kebersamaan kesetaraan dan bukan pula kebersamaan dua akibat untuk satu sebab dalam wujud.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s