Ketunggalan (Oneness)

Dari berbagai corak yang disajikan oleh para filosof Timur maupun Barat, memiliki ciri khas tersendiri dalam menyajikan pandangannya terhadap konsep ketunggalan (Oneness). Disini saya akan mencoba mengambil tiga pandangan dari tiga orang filosof Timur, dimana ketiganya memiliki warna yang berbeda dalam memparkan pengetahuannya tentang Tuhan Yang Maha Tunggal.

Ibn Arabi

Ibn Arabi adalah seorang sufi yang dianggap sebagai orang yang mendirikan konsep wahdah al-wujud meskipun tidak ditemukan sama sekali penggunaan kata wahdah al-wujud dalam setiap karya yang ia ciptakan. Dalam karya Ibn Arabi, dikatakan bahwa wujud alam adalah Al-Haqq itu sendiri. Zat Al-Haqq sama sekali tidak terbatas. Ketidakterbatasan ini dengan sendirinya menafikan keberadaan yang lain sebab jika ada sesuatu ruang yang tidak diliputi-Nya berarti Al-Haqq dibatasi oleh ruang tersebut. Oleh sebab itu Ibn Arabi meyakini bahwa perbedaan itu ada dikarenakan adanya keterbatasan, jika keterbatasan itu diangkat maka tidak ada lagi perbedaan kita dengan Al-Haqq.

Berbeda dengan uraian para filosof, konsep yang dibawakan oleh Ibn Arabi menolak prinsip kausalitas. Dimana para filosof menjelaskan relasi antara unitas dan pluralitas dengan prinsip kausalitas. Dan prinsip ini ditolak karena prinsip kausalitas ini akan meniscayakan adanya dualitas. Apalagi dalam prinsip kausalitas meniscayakan adanya keidentikan antara sebab dan akibat. Jika sebab itu wujud maka akibat pun niscaya wujud. Oleh karena itu dalam pandangan dunia irfan, prinsip kausalitas ini pun tidak dapat diterima karena meniscayakan adanya dualitas dalam wujud.

Singkatnya dapat dikatakan bahwa konsep Wahdah al-Wujud ini hanya sesuai dengan prinsip tajalli, karena tajalli merupakan bayangan dari Al-Haqq. Jika konsep Wahdah al-Wujûd ini meniscayakan konsep tajalli maka hal ini juga akan menegaskan asumsi sebelumnya mengenai Ibn Arabi sebagai pendiri konsep Wahdah al-Wujud karena inti dari seluruh pembahasan Ibn Arabi ingin menjelaskan konsep tajalli sebagai salah satu unsur yang utama  setelah Wahdah al-Wujud  dalam pandangan dunia irfan.

Selanjutnya, yang mesti juga dibedakan dari Wahdah al-Wujûd adalah istilah pantheisme. Sebagian menganggap bahwa istilah Wahdah al-Wujûd sama dengan istilah pantheisme yang ada dibarat. Istilah pantheisme itu sendiri adalah terbilang istilah ambigu disebabkan tidak adanya penafsiran yang sama terhadapnya dan hampir aliran pemikiran di Barat memiliki penafsiran sendiri terhadap panteisme.

Suhrawardi Al-Maqtul

Suhrawardi meyakini bahwa seluruh realitas itu adalah cahaya yang memiliki level-level intensitas yang beragam. Cahaya ini tidak membutuhkan definisi, karena seseorang akan selalu berusaha untuk mendefinisikan sesuatu yang samar-samar melalui bukti-bukti, sementara tidak ada lagi yang lebih real dan lebih jelas dibanding dengan cahaya itu sendiri, jadi tidak ada istilah apapun yang mampu mendefinisikan cahaya ini. Bagaimanapun, pada kenyataannya segala sesuatu itu tampak jelas melalui cahaya, dan oleh karena itu ia harus didefinisikan dengan merujuk kepadanya. Cahaya murni (Pure Light), yang dinamakan Suhrawardi sebagai Cahaya di atas cahaya (Nur al-Anwar), adalah esensi Tuhan yang cahayanya membutakan karena kebegitu benderangannya dan intensitasnya. Cahaya tertinggi ini merupakan sumber dari segala maujud, selama alam semesta dalam keseluruhan latar realitasnya hanyalah terdiri dari cahaya dan kegelapan. Suhrawardi mengatakan:

“Esensi dari Cahaya pertama yang absolut, Tuhan, memberikan pancaran (Illumination) yang tetap, di mana cahaya itu termanifestasikan dan membawa segala sesuatu menjadi maujud (existence), yang juga memberikan kehidupan bagi mereka dengan cahaya-cahayanya. Segala sesuatu di dunia ini diturunkan dari cahaya esensi-Nya, begitu pula dengan kesempurnaan dan keindahan adalah hadiah atas karunia-Nya, dan mencapai pancaran ini secara total adalah penyelamatan (salvation).”

Mengikuti Paripatetik, Suhrawardi mengikuti argument Ibn Sina mengenai Wajib al-Wujud. Menurut Suhrawardi, Wajib al-Wujud itu mesti satu, karena Dia adalah Nur al-Anwar, Nur al-Mujarrad dan tidak ada sekutu bagi-Nya. Selain tunggal (esa) dalam dzatnya, Wajib al-Wujud juga esa dalam sifat-Nya. Artinya, Wajib al-Wujud tidak memiliki banyak sifat, sebab keragaman sifat yang melekat pada dzat-Nya menyebabkan penilaian logis yang menujukkan bahwa zat-Nya juga beragam, dan, menurut Suhrawardi, hal tersebut sangat bertolak belakang dengan prinsip tauhid dalam Islam. Suhrawardi juga berpendapat bahwa Tuhan tidak dapat diliputi aksiden (‘ardh) maupun substansi (Jauhar), sebab hal itu pasti akan mengurangi keesaan Tuhan.  Menurutnya, untuk memurnikan ketauhidan Tuhan, maka cahaya pertama mesti satu (Esa, Tunggal), baik dzat maupun sifat-Nya. Selain itu Suhrawardi juga menegaskan bahwa selain cahaya terdapat juga kegelapan. Bagi Suhrawardi, konsep gelap dan terang merupakan runtutan intensitas dari pancaran cahaya, dimana semakin jauh dari sumber cahaya maka ia akan semakin meredup dan akhirnya sampai pada kegelapan. Oleh karena itu, status ontologis dari segala sesuatu itu tergantung kepada tingkatan yang mana mereka mendekati Cahaya Tertinggi dan diri mereka pun terpancari (illuminated).

Dalam hal ini Suhrawardi menentukan pembagian wujud berdasarkan tingkat keseluruhan dan kesadaran mereka. Suatu wujud, boleh jadi ia menyadari akan dirinya sendiri atau tidak menyadari akan dirinya sendiri. Jika ia sadar, maka kesadaran itu inheren dalam dirinya, sebagaimana pada kasus Cahaya Tertinggi atau Tuhan, malaikat-malaikat, jiwa manusia, dan arketip-arketip, atau justru ia bergantung pada sesuatu yang lain untuk membuatnya sadar, seperti bintang-bintang dan api. Begitu pula jika wujud itu tidak sadar akan dirinya, maka ia bisa berada dengan dirinya sendiri dan menjadi keburaman (obscurity), seperti seluruh benda-benda alam, atau ia bergantung pada yang selain dirinya, seperti warna dan bau.

Lebih jauhnya lagi, Sauhrawardi mengatakan bahwa Cahaya di atas cahaya memiliki wakil pengawasnya dan simbol langsung dalam setiap domainnya. Suhrawardi menyebut wakil agen ini sebagai anwar al-mudabbirah atau kadang-kadang disebut anwar ispahad.

Mulla Sadra

Mulla Sadra adalah seorang filosof yang membangun pemikiran filsafatnya dengan prinsip fundamental wujud (ishalatul wujud). Pembahasan fundamental wujud menandakan bahwa posisi pembahasan ini berada pada realitas eksternal dan telah terpisah dari pembahasan konsep wujud. Pemilahan antara pemahaman wujud dan realitas wujud salah satu kunci untuk memahami beberapa pembahasan penting dalam filsafat. Sebab selain wujud hanya ada dua kemungkinan yaitu quiditas dan ketiadaan dimana keduanya tidak mungkin menjadi dasar bagi alam eksternal. Sebab ketiadaan memang niscaya tiada, sedangkan quiditas hanya bersifat I’tibari yaitu sesuatu yang mengaksiden pada wujud atau yang menempel pada wujud (bi al-ta).

Dalam filsafat hikmah muta’aliyah juga mengakui bahwa wujud di alam eksternal memiliki gradasi, wujud tersebut terjadi secara hakiki dan bukan hanya sekedar terjadi dialam mental semata. Berdasarkan prinsip fundamental wujud, maka wujudlah yang menjadi dasar realitas objektif di alam eksternal. Oleh sebab itu baik perbedaan maupun kesamaan akan kembali kepada hakikat wujud, karena tidak ada sesuatu yang lain kecuali wujud. Gradasi dalam filsafat hikmah muta’aliyah disebut dengan gradasi partikular atau tasykik al-khass (particular gradation).

Dalam menjelaskan prinsip gradasi Mulla Sadra mesti ada beberapa unsur yang harus diperhatikan, diantaranya; pluralitas wujud adalah hakiki, unitas wujud adalah hakiki, pluralitas akan kembali kepada unitas, dan unitas mengalir dalam pluralitas. Dalam menggambarkan gradasi partikular tersebut, biasanya dianalogikan dengan cahaya dan sumber cahaya. Di sini kita lihat perbedaan intensitas cahaya, ada yang kuat dan ada yang lemah, namun pada saat yang sama semuanya adalah cahaya. Perbedaan dan kesamaan kembali pada satu perkara yaitu cahaya. Perbedaan terjadi disebabkan oleh cahaya karena adanya intensitas pada cahaya, dan juga kesamaan terjadi disebabkan oleh cahaya karena tidak ada yang lain kecuali cahaya itu sendiri.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s