Pengetahuan Tentang Diri

Pendahuluan

Sejak berabad-abad silam para filosof selalu memberikan penjelasan tentang jiwa manusia, karena jiwa merupakan bagian yang paling dekat dengan kita dan sangat misterius. Namun semakin para pemikir itu mendalami, mengetahui, menyingkap rahasia dan mengenali esensi jiwa, ternyata yang mereka dapati hanyalah ilmu laksana fatamorgana yang ternyata semakin menarik untuk diperbincangkan.

Phenomena yang miris pada zaman ini adalah bahwa ilmu pengetahuan modern tidak mengkaji hakikat jiwa, tetapi merasa cukup dengan hanya melakukan analisis terhadap fenomena-fenomena kejiwaan, sehingga mereka menyerahkan bidang ini kepada para filosof. Dari dulu hingga kini memang para filosof sudah menjadikan jiwa sebagai salah-satu poin terpenting dalam pengkajiannya seperti Ibn Sina yang mencari pengetahuan tentang jiwa karena berlandaskan pada sebuah kalimat legendaris “siapa yang mengenal diri (jiwa)-nya berarti mengenl Tuhannya”.

Sekitar abad pertengahan pemikiran Ibn Sina mengenai jiwa sangat berpengaruh besar hingga diterjemahkan kedalam bahasa Latin dan tersebar luas dikalangan filosof Eropa. Bahkan Rene Deskartes dalam membuktikan keberadaan jiwa adalah dengan mengutif argumentasi yang dibawakan oleh Ibn Sina. Karena itulah mengapa pembahasan jiwa sangatlah penting dalam menata dan memperbaiki problematika yang melanda para remaja saat ini. Jiwa adalah sesuatu yang misterius, karena sesungguhnya hakikat darinya adalah dirinya sebagai mana dirinya.

  1. Al-Ghazali

Berawal dari seorang ulama Islam terkemuka yang memulai filsafat dan alirannya berangkat dari keraguan yaitu Al-Ghazali, dimana tatkala ia hendak memulai untuk menuntut ilmu, ia meragukan segala sesuatu yang ada, dalam artian ia telah meragukan semua yang telah ia peroleh dan ia mengatakan; ”sekarang saya duduk disini, buku ada didepan saya, pena dan kertas ada di tangan saya, saya sedang melihat angkasa, saya tengah mendengar berbagai suara, sekalipun saya ragu terhadap berbagai hal, tetapi saya tidak dapat ragu terhadap keraguan saya ini.”[1] Kemudian ia memberikan jawaban pada dirinya sendiri; “wahai Ghazali!!! Sampai sekarang ini engkau masih tengah bermimpi. Seperti dalam mimpi engkau duduk dan menulis buku, berbicara dengan rekan-rekanmu, engkau dengarkan pembicaraannya, dan di alam mimpi itu engkau melihat semuanya dengan mata kepalamu sendiri, memakan makanan yang lezat, dan semua itu tak ubahnya seperti yang dikatakan oleh Nasim mengenai keluhan si fakir yang hidup sengsara:

Suatau malam aku bermimpi mengenakan pakaian baru

Kudengar alunan music dan aku di ranjang yang hangat dan lembut

Sakuku penuh dengan uang yang tak terhitung

Saat terjaga, aku melihat sebagian anggota tubuhku tapa busana

Wahai Ghazali!! Bukankah di alam mimpimu engkau telah melihat hal-hal yang semacam ini?? Sebagai mana sekarang ini engkau tidak merasa ragu bahwa ini benar, di alam mimpi pun engkau tidak merasa ragu terhadap apa yang engkau lihat itu. “mungkinkah seluruh kehidupanku ini bukan mimpi besar? Dari mana saya tahu kalau ini bukan mimpi? Adakah bukti yang memperkuat bahwa kehidupan saya sekarang ini, dimana sekarang ini saya duduk sebagai filosof dan hendak menemukan suatu dasar pemikiran, adalah bukan merupakan lanjutan dari sebuah mimpi panjang?

“andaikan (manusia) mengetahui segala sesuatu tapi ia tidak tahu akan Allah SWT maka ia bagaikan tidak mengetahui sesuatu”.[2] Singkatnya, pengetahuan yang benar tentang segala sesuatu bermula dari pengetahuan akan Allah,[3] sebab ia adalah maujud yang rill. Sementara segala sesuatu yang selain diri-Nya, apabila ia memandang dirinya dari segi dirinya maka ia sepenuhnya tiada. Sedang apabila ia memandang dari segi wujud dari Yang Awal Yang Benar yang ditujunya maka ia akan melihat maujud  yang tidak dalam dirinya, tapi dari segi yang berada di bawah Dzat Yang mengadakannya.

Sementara itu apabila subtansi manusia dan wujudnya membentuk dualisme maka subtansi Allah dan Wujud-Nya membentuk kesatuan yang satu.[4]

Pengetahuan tentang diri ialah bahwa manusia seperti diketahui secara khusus adalah makhluk berakal, sementara tubuhnya tidak lain hanyalah merupakan sarana atau alat dirinya saja. Dan subtansi manusia sesungguhnya adalah jiwa yang berfikir, berakal, dapat memahami, dan aktif.[5] Dan jiwa bukanlah tubuh dan bukan pula terdapat dalam tubuhnya atau salah satu bagiannya. Seperti, saat seseorang kehilangan salah satu bagain tubuhnya, maka jiwanya tidak tertimpa kekurangan apa pun.

Sementara, tubuh manusia itu materi sebagai mana alam materi bisa terentang dan terbagi-bagi. Namun jiwa itu mengikuti alam ketuhanan, karenanya ia tidak terentang dan terbagi-bagi. Segala sesuatu yang dapat diukur, dihitung, dan dijumlah termasuk alam makhluk, sedang kalbu tidak memiliki ruang dan tidak dapat diukur, karenanya ia tidak dapat dibagi. Disamping itu, jiwa merupakan substansi yang dapat diketahui secara langsung tanpa media. Sehingga ia tetap dipahami tanpa media dan anda tetap memahami diri anda dengan diri anda.

Setiap orang yang memiliki kecerdasa, kecerdikan, dan kepandaian akan tahu bahwa diri merupakan substansi yang lepas dari materi dan segala hal yang berkenaan dengannya dan ia tidak memisahkan dirinya dari dirinya. Sebab berfikir adalah upaya untuk meraih substansi abstrak bagi si orang yang berfikir dan esensinya diikhtisarkan bagi esensinya. Bukan substansi kemudian kerasionalannya, tapi substansi adalah kerasionalannya dan kerasionalannya adalah substansinya.

Kontemplasi tentang diri dapat mengantarkan pada pengetahuan bahwa diri merupakan substansi yang berbeda dari tubuh dan materi. Seperti, apabila seseorang memejamkan kedua matanya dan melupakan langit, bumi, dan segala sesuatu yang dapat dilihat mata, maka dengan sendirinya ia akan memiliki pengetahuan tentang wujudnya dan kesadaran tentang dirinya, meski andaikan ia tidak memiliki kesadaran tentang tubuhnya, langit, bumi, dan segala sesuatu yang terdapat didalamnya. Dan apabila seseorang   benar-benar merenungkan hal tersebut ia akan tahu bahwa andaikan tubuhnya di hancurkan maka ia akan tetap ada dan sama sekali tidak menjadi tiada.

  1. Descartes

Berangkat dari sebuah pertanyaan dari dirinya, Deskartes mulai terperosok pada jalan skeptis. Diman pertanyaannya itu adalah;

Dengan dalil apa saat saya menyatakan bahwa alam ini adalah demikian, Tuhan itu ada, jiwa itu ada, dunia ini ada, kota Paris itu ada, agama al-Masih adalah demikian?

Kemudian ia menuju pada alat dan instrument epistemology, ia melihat semuanya masih dapat diperdebatkan lagi. Seperti indra, ia melihat bahwa indra adalah yang paling lemah dan rapuh dibandingkan yang lain. Ia hendak bersandar pada rasio, dan ia melihat rasio pun terdapat kelemahan. Sehingga tak tersisa lagi keyakinan dalam dirinya. Namun tiba-tiba ia disadarkan pada poin dimana ia mengatakan;

Meskipun saya meragukan segala sesuatu yang ada, tetapi saya tidak ragu bahwa saya sedang dalam keadaan ragu.

Bahkan untuk meyakinkan dirinya Descartes berdiri diatas sebuah batu besar di alam terbuka dan berkata; “saya telah menemukan sesuatu, saat saya meragukan indra saya, meragukan berbagai pengetahuan rasio saya, atau bahkan meragukan keberadaan diri saya sendiri, juga meragukan keberadaan Tuhan, meragukan agama dan kehidupan saya, semua itu adalah benar. Namun saya tidak merasa ragu pada satu hal saja yaitu, saya tidak ragu bahwa saya sedang merasa ragu. Bahkan sekalipun saya meragukannya, saya tetap mengetahui bahwa saya sedang merasa ragu”. Dengan pernyataannya itu, Socrates menyatakan; “saya sekarang tengah merasa ragu, dan karena saya merasa ragu berarti saya yang sedang merasa ragu ini, adalah ada”. Pernyataan Descartes ini sama halnya dengan yang di alami oleh Ibn Sina.

Tidak berhenti disana, Descartes pun memberikan kesimpulan lain yaitu; “aku adalah makhluk maka aku ada”, dan dalam kontemplasinya yang lebih lanjut, muncul problematika baru. Aku adalah mahkluk maka aku ada: inilah keyakinanku. Tapi sampai kapan? Aku ada selama aku berfikir. Kadang-kadang terpikirkan kapan aku terputus sepenuhnya dari berpikir, sehingga aku sepenuhnya terputus dari wujud. Kini aku tidak mau menerima sesuatu selain yang benar. Dengan demikian, aku ini tidak lain adalah sesuatu yang berfikir, yakni ruh, atau benak, atau akal budi.

Karena itulah, bagi Descartes wujud diri adalah pikiran, yaitu akal budi atau ruh. Dan pengetahuan yang tertuang dalam “cogito ergo sum” aku berfikir maka aku ada – ia sebut dengan pengetahuan pertama.[6] Apabila seseorang telah berhasil mengetahui dirinya, dan ia tahu bahwa salah satu karakteristiknya adalah menuju kesempurnaan, maka pada saat yang sama ia akan mengetahui dua realitas: pertama, ia tahu bahwa ia adalah sesuatu yang tidak sempurna dan mendasarkan diri pada yang selainnya; kedua, ia tahu bahwa maujud yang menjadi dasar bagi dirinya memiliki kesempurnaan yang tanpa akhir.

Dalam hal ini Descartes, menyatakan: “keserupaan yang mengandung ide Allah ini aku bayangkan dengan kemampuanku dalam membayangkan diriku, yakni pada waktu aku menjadikan diriku sebagai objek pikiranku. Tidak hanya tampak gamblang kepadaku bahwa aku adalah sesuatu yang tidak sempurna, kurang, mendasarkan diri pada Yang selainku, dan cenderung serta rindu pada sesuatu yang lebih baik dan agung dariku, malah pada saat yang sama aku tahu bahwa sesuatu yang aku jadikan dasar memiliki dalam diri-Nya segala sesuatu yang agung yang aku rindukan dan yang dalam diriku aku dapatkan pikiran-pikiran mengenai-Nya, dan Ia memiliki semuanya itu tidak dalam bentuk tertentu atau dengan kekuatan saja, malah dalam kenyataannya Ia benar-benar menikmati semuanya itu dan sampai kebatas yang tanpa akhir. Maka dari itu aku tahu Ia adalah Allah.”

Dari sana Descartes meyakini bahwa, “sebelum aku mengetahui Allah aku tidak dapat mengetahui segala sesuatu selain-Nya secara sempurna.” Namun, ada yang berpendapat bahwa pendapat Descartes ini “melingkar-lingkar” tasalsul, dimana ia tidak dapat mengasaskan landasan realitas. Namun di sanggah kembali oleh Descartes, bahwa pengetahuan intuitif yang aksiomatis tidak membutuhkan pembenaran Ilahi, dan pengetahuan deduksi sajalah yang membutuhkan penalaran Ilahi tersebut. Serta tuduhan itu sebenarnya berangkat dari ketidak pahaman terhadap karyanya Meditations, dalam ranah metodenya karna hanya menggunakan metode analitis saja. Namun sebenarnya metode ini hanya untuk mempermudah dalam meraih pengetahuan awal.

  1. Perbandingan Al Ghazali dan Descartes

Al Ghazali dan Descartes, meyakini bahwa ide tentang Tuhan merupakan pikiran alamiah yang pertama, karena kejelasan dan kepastiannya melebuhi konsepsi-konsepsi lainnya. Pengetahuan tentang diri akan berjalan seiring dengan pengetahuan akan Tuhan, karena sesuai dengan citra-Nya. Ide yang dikemukakan oleh al Ghazali selaras dengan ide Descartes. Dimana al Ghazali menyatakan;

tidak mendapatkan wujudnya dari dirinya sendiri. Tapi wujud dirinya, kelangsungan wujudnya, dan kesempurnaan wujudnya dari Tuhan, kepada Tuhan, dan dengan Tuhan”.[7]

Begitu juga Deskartes yang menyatakan;

“pada waktu pengetahuan tersebut dimiliki seseorang maka pada waktu itu ia tahu bahwa ia adalah maujud yang tidak sempurna bila disandingkan dengan kesempurnaan wujud Ilahi dan sepanjang hayatnya wujudnya didasarkan pada wujud Tuhan.[8]

Perbedaan keduanya sebenarnya hanya terletak pada prinsip filosophis secara khusus berkaitan dengan cara keduanya dalam mengemukakannya dan tidak berkaitan dengan makna esensialnya. Atau dengan kata lain lebih berkaitan dengan bentuk ketimbang dengan materi. Contohnya seperti problema “Tuhan yang menyesatkan” atau syetan yang memperdaya menurut al Ghazali diuraikanny dalam keraguan mutlak. Sementara Descartes mendapatkan jalan pemecahan pertama dengan metodenya “aku berfikir maka aku ada”.

Problema yang disajikan al Ghazali dalam karyanya al-Munqidz min al-Dhalal. Keraguan mutlak merurutnya dicapai lewat ide (hukum lain) yang apabila tampak akan mendustakan akal budi, dan lewat ide keterjagaan baru. Seperti pernyataannya; “apabila seseorang memejamkan kedua matanya dan melupakan langit, bumi, dan segala sesuatu yang dapat dilihat mata, maka dengan sendirinya ia akan memiliki pengetahuan tentang wujudnya dan kesadaran tentang dirinya, meski andaikan ia tidak memiliki kesadaran tentang tubuhnya, langit, bumi, dan segala sesuatu yang terdapat didalamnya. Dan apabila seseorang   benar-benar merenungkan hal tersebut ia akan tahu bahwa andaikan tubuhnya di hancurkan maka ia akan tetap ada dan sama sekali tidak menjadi tiada”.

  1. Suhrawardi

Berbicara mengenai kesadaran diri, suhrawardi sebagai pelopor filsafat iluminasi telah menyuguhkan teori iluminasi tentang kesadaran diri. Dimana ia menyatakan bahwa persepsi seseorang tentang kesadaran dirinya, sama dengan persepsi langsung tentang apa sesuatu itu dalam dirinya, dan bukan persepsi melalui ide kesadaran diri.[9] Dan sesungguhnya ini berlaku untuk semua hal yang menjadi dan menyadari eksistensinya. Bahkan Suhrawardi menyatakan, engkau, tidak pernah tidak menyadari esensimu”. Ia membuktikan ini dengan menegaskan bahwa kesadaran diri tidak bisa dibenarkan melalui sesuatu yang jasmani, yang pada giliran selanjutnya-menunjukan bahwa yang dengan caranya ‘engkau adalah engkau’ adalah sesuatu yang mengetahui esensinya, dan bahwa sesuatu itu adalah kesadaran dirimu”.

Dalam artian, kesadaran diri sama artinya dengan tampak atau jelas, yang di identifikasi dengan “cahaya murni”. Karena itu, kesadaran diri diidentifikasikan dengan “ketampakan (manifestasi) dan cahaya”. Oleh sebab itu, dalam hal kesadaran, bisa dikatakan bahwa setiap “aku” pada dasarnya sama dengan “aku” yang lain, karena pada dasarnya masing-masing dari mereka pun sadar diri. Akan tetapi, mereka bisa berbeda sesuai dengan tingkat kesadaran diri masing-masing.

Cahaya yang disebut cahaya pengatur (an-nur al-mudabbir), adalah cahaya abstrak yang “mengontrol” apa yang berada di bawah peringkatnya; ia mengendalikan aktifitas-aktifitas jasmani hewan dan fakultas jiwa mereka, mengarahkan kembali pancaran cahaya yang diberikan kepadanya dengan cahaya-cahaya pengendali (al-anwar al-qahirah) ke jasmani manusia, dan selanjutnya memberikan kendali (qahr) dan cinta (mahabbah). Dalam kosmologi paripatetik disebut sebagai akal aktif dan dididentifikasi oleh Suhrawardi sebagai Ruh Kudus, yang menjadi penghubung antara manusia dan alam kosmik (yakni, antara yang jasmani dan yang non rohani). Dengan demikian, penghubung antara yang kosmik dan yang manusiawi adalah prinsip kesadaran diri dan pengetahuan diri. Bentuk persepsi dan pengetahuan iluminasi khas bergantung pada:

  1. Subjek, pengalamannya tentang esensi.
  2. Objek, ketampakan dan manifestasinya serta kehadirannya.
  3. Hubungan iluminasi, antara subjek dan objek yang aktif ketika subjek dan objek “hadir” dan “tampak” di hadapan esensi mereka masing-masing.

Inilah proses yang berawal dengan dan dalam subjek yang mengetahui dan menghasilkan pengetahuan tentang objek, serta disifati dengan aktivitas dalam kesadaran diri subjek.

[1] Murtadha Mutahhari, Pengantar Epistemologgi Islam, hlm. 11

[2] Abu Hamid Al-Ghazali, Ihya Ulumuddin, vol.3, hlm. 61

[3] J. Obermann, Der Philoshophische und religiose Subjektivismus Ghazalis, hlm. 218

[4] Abu Hamid Al-Ghazali, Ma’arij al-Quds, hlm. 191

[5] Abu Hamid Al-Ghazali, al-MA’arif al-Aqliyyah, hlm. 289

[6] Rene Descartes, Oeuvres de Descartes, Vol. 9, hlm. 27

[7] Al Ghazali, Ihya Ulum al-Din, vol. 4, hlm. 293

[8]Rene Descartes, Oeuvres de Descartes, Vol. 9, hlm, 39

[9] Hossein Ziai, Suhrawardi dan Filsafat Iluminasi, hlm. 220

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s