Konsep Pendidikan “Gaya Bank” Sebagai Alat Penindasan Menurut Paulo Freire dalam Bukunya Pedagogy of the Oppressed

BAB I

PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang Masalah

Eksistensi suatu bangsa sangat ditentukan oleh karakter yang dimiliki. Serta regulasi bidang ilmu pengetahuan dan kebudayaan adalah sebuah kebijakan tertinggi yang dilakukan oleh sebuah Negara dalam rangka manajemen politik sebuah masyarakat,[1] karena hanya bangsa yang memiliki karakter kuat yang mampu menjadikan dirinya sebagai bangsa yang bermartabat dan disegani oleh bangsa-bangsa lain. Oleh karena itu, menjadi bangsa yang berkarakter adalah keinginan kita semua. Keinginan menjadi bangsa yang berkarakter sesunggungnya sudah lama tertanam pada bangsa Indonesia. Para pendiri negara menuangkan keinginan  itu dalam Pembukaan UUD 1945 alinea ke-2 dengan pernyataan yang tegas, ”…mengantarkan rakyat Indonesia ke depan pintu gerbang kemerdekaan  negara Indonesia yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur”.[2] Para pendiri negara menyadari bahwa hanya dengan menjadi bangsa yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmurlah bangsa Indonesia menjadi bermartabat dan dihormati bangsa-bangsa lain.

Situasi sosial, kultural masyarakat kita akhir-akhir ini memang semakin mengkhawatirkan. Ada berbagai macam peristiwa dalam pendidikan yang semakin merendahkan harkat dan martabat manusia. Hancurnya nilai-nilai moral, merebaknya ketidakadilan, menjamurnya kasus korupsi, terkikisnya rasa solidaritas telah terjadi dalam dunia pendidikan kita. Dari sini kemudian muncul pertanyaan ada apa dengan pendidikan kita? Rupanya usaha perbaikan di bidang pendidikan dirasa tidak hanya cukup dengan perbaikan sarana dan prasarana pendidikan saja, melainkan membutuhkan perencanaan kurikulum yang sangat matang yang sesuai dengan kondisi dan kebutuhan bangsa.

Selain persoalan di atas, akhir-akhir ini telah terjadi perubahan nilai yang sangat cepat dan terjadinya ekspektasi yang tidak terduga sebagai dampak kemajuan teknologi, informasi dan globalisasi yang menciptakan orang-orang yang mengatakan bahwa kebenaran dan kesalahan itu relatif.[3] Oleh sebab itu bagaimanakah mempersiapkan dan membangun karakter bagi peserta didik dalam menghadapi pengaruh global. Untuk itu perlu disusun suatu perencanaan kurikulum pendidikan karakter untuk diterapkan di setiap satuan pendidikan kita mengingat berbagai macam perilaku yang tidak mendidik telah merasuk dalam sendi-sendi penyelenggaraan pendidikan dan kehidupan masyarakat kita.

Untuk itu perlu dicari jalan terbaik untuk membangun dan mengembangkan karakter manusia dan bangsa Indonesia agar memiliki karakter yang baik, unggul dan mulia. Upaya yang tepat untuk itu adalah melalui pendidikan, karena pendidikan memiliki peran penting dan sentral dalam pengembangan potensi manusia, termasuk potensi mental. Melalui pendidikan diharapkan terjadi transformasi yang dapat menumbuh kembangkan karakter positif, serta mengubah watak dari yang tidak baik menjadi baik. Ki Hajar Dewantara dengan tegas menyatakan bahwa ”pendidikan merupakan daya upaya untuk memajukan bertumbuhnya budi pekerti (kekuatan batin, karakter), pikiran (intellect), dan tubuh anak”. Jadi jelaslah, pendidikan merupakan wahana utama untuk menumbuh kembangkan karakter yang baik. Di sinilah pentingnya pendidikan karakter.

Dalam Undang-undang No. 20 tahun 2003 tentang Sistem pendidikan Nasional pasal 3 telah ditegaskan bahwa “Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab”.[4] Namun tampaknya upaya pendidikan yang dilakukan oleh lembaga pendidikan dan institusi belum sepenuhnya mengarahkan dan mencurahkan perhatian secara komprehensif pada upaya pencapaian tujuan pendidikan nasional.

Di tengah kegelisahan yang menghinggapi berbagai komponen bangsa, sesungguhnya terdapat beberapa lembaga pendidikan atau sekolah yang telah melaksanakan pendidikan karakter secara berhasil dengan model yang mereka kembangkan sendiri-sendiri. Mereka inilah yang menjadi tulang punggung dalam pelaksanaan pendidikan karakter di Indonesia. Namun, hal itu tentu saja belum cukup, karena berlangsung secara sporadis[5] atau parsial dan pengaruhnya secara nasional tidak begitu besar. Oleh karena itu perlu ada gerakan nasional pendidikan karakter yang  diprogramkan secara sistemik dan terintegrasi.

Menteri Pendidikan Nasional, Mohammad Nuh menegaskan,  bahwa “tidak ada yang menolak tentang pentingnya karakter, tetapi yang lebih penting adalah bagaimana menyusun dan menyistemasikan, sehingga anak-anak dapat lebih berkarakter dan lebih berbudaya”. Dalam upaya menyusun dan menyistemasikan pendidikan karakter tersebut, maka penulis berupaya untuk meneliti ‘konsep pendidikan “gaya bank” sebagai alat penindasan menurut Paulo Freire dalam bukunya Pedagogy of the Oppressed’.

  1. Rumusan Masalah

Berdasarkan judul penelitian, penulis membatasi masalah penelitian pada rumusan masalah sebagai berikut:

  1. Apa yang dimaksud dengan pendidikan menurut pandangan Paulo Freire?
  2. Mengapa Paulo Freire menilai konsep pendidikan “gaya bank” sebagai alat penindasan?
  3. Konsep apa saja yang ditawarkan oleh Paulo Freire dalam mengatasi problematika pendidikan?

 

  1. Tujuan Penelitian

Adapun tujuan dari penelitian ini adalah:

  1. Memahami hakikat sebuah pendidikan.
  2. Mengetahui keunggulan dan kelemahan konsep-konsep pendidikan yang telah di kritisi oleh Paulo Freire.
  3. Memahami konsep pendidikan yang ditawarkan oleh Paulo Freire.
  1. Manfaat Penelitian

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan referensi pemikiran filsafat pendidikan serta memperkaya khazanah pemikiran dan keilmuan khususnya yang dibawakan oleh Paulo Freire dalam bukunya Pedagogy of the Oppressed. Sehingga dapat memberikan cermin positif khususnya kepada penulis dan pembaca, umumnya kepada para pelaku pendidikan.

  1. Studi Pustaka

Buku pertama Paulo Freire dalam bidang pendidikan yang cukup penting berjudul Educacao como Practica de Liberdade (Pendidikan Sebagai Pelaksanaan Pembebasan). Dalam bukunya itu, dia melihat bahwa gejala dikucilkannya orang-orang yang tak berdaya baik dibidang ekonomi, sosial, budaya maupun politik bukan hanya monopoli Dunia Ketiga, tetapi juga terdapat di negara-negara yang sudah maju. Namun tidak dapat disangsikan, buku Paulo Freire yang paling terkenal adalah Pedagogy of the Oppressed (Pendidikan Kaum Tertindas).

Buku Pedagogy of the Oppressed karangan Paulo Freire yang diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia oleh Tim Redaksi dari LP3ES dengan judul Pendidikan Kaum Tertindas, secara tidak langsung mampuh menggelitik pemikiran penulis yang sedang melakukan penelitian. Meski pun tidak sedikit para pengkaji konsep-konsep pendidikan di Indonesia berkenalan dengan pemikiran dan karya-karya Paulo Freire khususnya setelah pudarnya orde baru (1998).

Bab pertama pada buku Pedagogy of the Oppressed (Pendidikan Kaum Tertindas), berbicara mengenai kebutuhan akan suatu pendidikan bagi kaum tertindas, dan masalah sentral bagi manusia yang tidak lain adalah humanisme.[6] Bab kedua membahas bagaimana proses pendidikan kaum tertindas. Dalam hal ini Paulo Freire menyebut pendidikan lama sebagai pendidikan dengan “sistem bank”. Dalam pendidikan itu guru merupakan subjek yang memiliki pengetahuan yang diisikan kepada murid. Murid adalah wadah atau suatu tempat laksana deposit belaka, dan dalam proses tersebut murid semata-mata merupakan objek. Sistem ini senantisa dirobohkan oleh Freire dengan menciptakan sistem baru yang dinamakan problem-posing education (pendidikan hadap masalah).[7]

Dalam bab ketiga, Paulo Freire menyajikan dialog sebagai unsur pendidikan kaum tertindas, karena inti dialog adalah kata.[8] Dimana kata mempunyai dua dimensi yaitu refleksi dan aksi. Dalam bab terakhirnya, Paulo Freire menunjukan bahwa teori pendidikan dialogik bertentangan dengan teori tindakan antidialogik. Tindakan dialogik selalu bersifat kooperatif yang menandakan adanya kesatuan antara pemimpin dan masyarakat.

Selain buku Pedagogy of the Oppressed (Pendidikan Kaum Tertindas), terdapat beberapa buku yang juga menjadi rujukan utama dalam penulisan skripsi ini, diantaranya adalah karya Murtadha Muthahhari yaitu Tarbiatul Islam.  Dalam buku tersebut Murtadha Muthahhari lebih cenderung fokus dan titik tekannya pada dasar-dasar epistemologi pendidikan Islam, akan tetapi dalam bab ketiga secara khusus ia membahas pengembangan potensi yang sama halnya dengan konsep yang ditawarkan oleh Paulo Freire yaitu sistem problem-posing education (pendidikan hadap masalah), dimana sesungguhnya hati dapat menerima dan menolak.[9]

Buku lain yang juga menjadi rujukan utama dalam penulisan skripsi ini adalah karya Paulo Freire sendiri yaitu, Pedagogy in Process (Pendidikan Sebagai Proses) dan Pedagogy of the City (Pendidikan Masyarakat Kota). Kedua buku tersebut secara tidak langsung menjadi jembatan dalam memahami dan menjelaskan bagaimana proses terbangunnya konsep pendidikan sistem bank hingga berganti pada sistem problem-posing education (pendidikan hadap masalah) yang ditawarkan Freire.

Karya-karya yang menjelaskan konsep-konsep pendidikan mungkin sangat banyak, namun yang menjelaskan secara khusus karya Paulo Freire mengenai pendidikan, terutama konsep pendidikan “gaya bank” dalam bukunya Pedagogy of the Oppressed sepengetahuan penulis belum ada. Sebagai mana dalam sebuah jurnal studi keislaman yang diterbitkan oleh Islamica karya Nur Ahid yang berjudul ‘Konsep dan Teori Kurikulum dalam Dunia Pendidikan’, disana di jelaskan bagaimana membentuk sebuah sistem pendidikan dan model-modelnya.

Dalam menjelaskan dan memaparkannya ia senantiasa menyajikan model-model yang pernah dibawakan oleh Paulo Freire. Namun satu sisi, bagi penulis jurnal tersebut memiliki sedikit kekurangan, karena sama sekali tidak memberikan informasi mengenai kondisi masyarakat yang menjadi subjek sekaligus objek bagi sebuah pendidikan yang ditawarkan.

Dengan demikian, penulis ingin mempertegas bahwa penelitian ini berbeda dengan penelitian yang telah dilakukan oleh penulis-penulis sebelumnya. Penulis memfokuskan pada pendekatan dan pengkajian yang lebih khusus yaitu ‘konsep pendidikan “gaya bank” sebagai alat penindasan menurut Paulo Freire dalam bukunya Pedagogy of the Oppressed’.

  1. Definisi Operasional

Dalam penelitian ini, penulis akan menggunakan beberapa konsep-konsep sebagai acuan untuk menjelaskan pemikiran Paulo Freire mengenai ‘konsep pendidikan “gaya bank” sebagai alat penindasan’. Konsep-konsep yang akan digunakan adalah sebagai berikut:

  1. Konsep Filsafat

Filsafat pertama muncul di Yunani kira-kira abad ke 7 SM. Filsafat muncul ketika orang-orang mulai berpikir dan berdiskusi tentang keadaan alam, dunia, dan lingkungan di sekitar mereka. Orang yang mula-mula sekali menggunakan akal secara serius adalah orang Yunani yang bernama Thales (624-546 SM), orang inilah yang digelari Bapak Filsafat.[10] Filosof-filosof Yunani berikutnya yang populer ialah: Sokrates, Plato dan Aristoteles. Sokrates adalah guru Plato sedangkan Aristoteles adalah murid Plato. Ada sebagian yang mengatakan bahwa sejarah filsafat tidak lain hanyalah komentar-komentar karya Plato. Hal ini menunjukkan pengaruh Plato yang sangat besar pada sejarah filsafat.

Filsafat berasal dari kata arab yang berhubungan erat dengan kata Yunani, bahkan memang asalnya dari kata Yunani yaitu, philosophia. Dalam bahasa Yunani kata philosophia merupakan kata majemuk yang terdiri atas philo dan sophia; philo artinya cinta dalam arti yang luas, yaitu ingin, dan karena itu lalu berusaha mencapai yang diinginkan itu; sophia artinya kebijakan yang artinya pandai, pengertian yang mendalam.  Definisinya, filsafat sebagai sejenis pengetahuan yang berusaha mencari sebab sedalam-dalamnya dari segala sesuatu berdasarkan pikiran belaka.[11]

Jadi, filsafat berarti cinta pada pengetahuan atau kebijaksanaan. Cinta disini berarti ingin mencapai atau mendalami sesuatu hal yang diinginkan.[12] Orang yang cinta kepada pengetahuan atau kebijaksanaan disebut philosophos atau dalam bahasa Arab disebut failasuf (filsuf). Dan yang dimaksud dengan pecinta pengetahuan atau kebijaksanaan adalah orang yang menjadikan pengetahuan sebagai usaha dan tujuan hidupnya, atau orang yang mengabdikan hidupnya kepada pengetahuan. Dalam bukunya Seyyed Hossain Nasr secara singkat berhasil mengumpulkan definisi filsafat yang diambil dari Yunani dan lazim bagi kalangan filosof Islam sebagai berikut:[13]

  1. Filsafat adalah pengetahuan tentang segala yang ada qua maujud-maujud (assya’ al maujudah bi ma hiya maujudah).
  2. Filsafat adalah pengetahuan tentang yang ilahiyah dan insaniyah.
  3. Filsafat mencari perlindungan dalam kematian, maksudnya, cinta pada kematian.
  4. Filsafat adalah (upaya) menjadi seperti Tuhan dalam kadar kemampuan manusia.
  5. Filsafat adalah seni (shina’ah) tentang seni-seni dan ilmu tentang ilmu-ilmu.
  6. Filsafat adalah prasyarat bagi

Plato menyatakan bahwa filsafat ialah pengetahuan yang berminat mencapai kebenaran asli, dan bagi Aristoteles filsafat adalah ilmu yang mencari kebenaran pertama, segala yang maujud dan ilmu segala yang ada yang menunjukkan adanya penggerak pertama.[14]

Bagi Al-Farabi filsafat adalah pengetahuan tentang alam ujud bagaimana hakikat yang sebenarnya. Al-Kindi berpendapat filsafat merupakan pengetahuan tentang hakekat segala sesuatu, dan ini mengandung teologi (al-rububiyah), ilmu tauhid, etika dan seluruh ilmu pengetahuan yang bermanfaat.[15] Ibnu Sina mengaitkan filsafat dan kesempurnaan diri: filsafat adalah penyempurnaan jiwa manusia melalui pengkonsepsian hal ihwal dan penimbangan kebenaran-kebenaran teoritis dan praktis dalam batas-batas kemampuan manusia.[16]

Dari berbagai keterangan di atas bisa dikatakan bahwa “filsafat” adalah studi yang mempelajari seluruh fenomena kehidupan dan pemikiran manusia secara kritis, untuk mencari hakekat kebenaran sesuatu, baik dalam logika, etika maupun metafisik. Untuk itu studi falsafi mutlak diperlukan logika berpikir dan logika bahasa. Hal itu membuat filasafat menjadi sebuah ilmu yang pada sisi-sisi tertentu berciri eksak di samping nuansa khas filsafat, yaitu spekulasi, keraguan, dan couriousity ‘ketertarikan’.

  1. Sistem Bank

Sistem bank adalah sebuah sistem pendidikan yang menjadikan guru sebagai subjek yang memiliki pengetahuan yang diisikan kepada murid. Murid merupakan sebuah wadah atau suatu tempat deposit belaka. Disana dapat kita lihat, proses belajar seorang murid semata-mata merupakan objek, dan sangat jelas dalam sistem tersebut tidak terjadi sebuah komunikasi yang sebenarnya antara guru dan murid.

Dalam konsep pendidikan gaya bank ini, pengetahuan merupakan sebuah anugrah yang dihibahkan oleh mereka yang menganggap diri berpengetahuan kepada mereka yang dianggap tidak memiliki pengetahuan apa-apa.[17] Dalam artian, seorang guru menampilkan dirinya di hadapan murid-muridnya sebagai orang yang berada pada pihak yang berlawanan, dengan menganggap murid mutlak bodoh, dengan mengukuhkan keberadaan dirinya sendiri. Dalam gaya bank senantiasa memelihara dan bahkan mempertajam kontradiksi itu melalui cara-cara dan kebiasaan-kebiasaan sebagai berikut:[18]

  1. Guru mengajar, murid diajar.
  2. Guru mengetahui segala sesuatu, murid tidak tahu apa-apa.
  3. Guru berfikir, murid dipikirkan.
  4. Guru bercerita, murid patuh mendengarkan.
  5. Guru menentukan peraturan, murid diatur.
  6. Guru memilih dan memaksakan pilihannya, murid menyetujui.
  7. Guru berbuat, murid membayangkan dirinya berbuat melalui perbuatan gurunya.
  8. Guru memilih bahan dan isi pelajaran, murid (tanpa diminta pendapatnya) menyesuaikan diri dengan pelajaran itu.
  9. Guru mencampuradukan kewenangan ilmu pengetahuan dan kewenangan jabatannya, yang dia lakukan untuk menghalangi kebebasan murid.
  10. Guru adalah subjek dalam proses belajar, murid adalah objek belaka.
  11. Problem-Possing Education

Problem-Possing Education (pendidikan hadap masalah), adalah sebuah konsep pendidikan yang ditawarkan oleh Paulo Freire dalam melawan konsep pendidikan gaya bank. Dimana guru danmurid bersama-sama menjadi subjek dan disatukan oleh objek yang sama. Sehingg tidak ada lagi yang memikirkan dan yang tinggal menelan, tetapi mereka berfikir bersama.

Dalam konsep Problem-Possing Education (pendidikan hadap masalah), guru belajar dari murid dan murid belajar dari guru. Guru menjadi rekan murid yang melibatkan dirinya dan merangsang daya pemikiran kritis para murid. Sehingga membuat kedua belah pihak bersama-sama mengembangkan kemampuan untuk mengerti secara kritis dirinya sendiri dan dunia tempat mereka berada.

  1. Buku Pedagogy of the Oppressed (Pendidikan Kaum Tertindas)

Buku Pedagogy of the Oppressed (Pendidikan Kaum Tertindas) adalah merupakan buku hasil pengamatan Paulo Freire selama enam tahun dalam pengasingan politik dan pengamatan yang diperkaya oleh apa yang telah lebih dahulu dihasilkan lewat kegiatan-kegiatan kependidikan Paulo Freire di Brasil. Buku ini berakar langsung dari situasi konkret dalam membangkitkan “penyadaran“[19] yang mewakili reaksi kaum pekerja (petani maupun buruh perkotaan) serta masyarakat kelas menengah yang telah Freire amati secara langsung maupun tidak langsung sepanjang pekerjaan pendidikannya.

Pada kenyataannya isi buku ini sangat mungkin akan membangkitkan reaksi negatif dari sejumlah pembaca. Beberapa orang mungkin akan menganggap posisi Freire yang berhadapan langsung dengan masalah pembebasan manusia itu sebagai sesuatu yang murni idealistik, atau bahkan mungkin menganggap pembahasan tentang panggilan ontologis, cinta kasih, dialog, harapan, kerendahan hati, dan simpati, sebagai omong kosong reaksioner. Selain itu mungkin sama sekali tidak menerima keterusterangan Freire tentang adanya situasi penindasan yang menguntungkan kaum penindas.

Bagi penulis, buah pikiran Paulo Freire mewakili jawaban dari sebuah pikiran kreatif dan hati nurani yang peka akan kesengsaraan dan penderitaan luar biasa kaum tertindas di sekitarnya. Perasaan terlibat yang sangat dini terhadap kehidupan orang miskin juga telah membimbingnya kearah penemuan apa yang kemudian digambarkannya sebagai “kebudayaan bisu” dikalangan orang-orang yang tersisihkan itu. Dia menyadari kelalaian dan kebodohan mereka adalah akibat langsung dari keseluruhan situasi perekonomian sosial dan pengekangan polotik dimana merekalah yang menjadi korban-korbannya.[20] Bukannya memiliki keberanian dan kemampuan untuk memahami dan menjawab realitas-realitas konkret dari dunia mereka, melainkan tetap saja tenggelam dalam suatu keadaan di mana kesadaran kritis dan jawaban semacam itu praktis tidak mungkin. Hal ini menjadi acuan yang jelas bagi Freire bahwa  pendidikan yang ada merupakan salah satu perangkat utama kebudayaan bisu.

  1. Metodologi Penelitian
  2. Metode Penelitian

Sebagai suatu analisis filosofis terhadap pemikiran seorang tokoh dalam waktu tertentu, maka dalam penelitian ini penulis akan menggunakan metode analisis isi (content analysis), dalam artian penelitian yang bersifat pembahasan mendalam terhadap isi suatu informasi tertulis atau tercetak dalam media massa/teks. Metode analisis ini biasanya senantiasa digunakan untuk mendeskripsikan pendekatan analisis yang khusus, tetapi adakalanya digunakan sebagai metode yang meliputi semua analisis mengenai teks yang menjadi sumber utama. Namun dalam pengumpulan dan menyususun data penelitian ini akan menggunakan metode deskriptif analisis yaitu usaha.

Proses penelitian ini dimulai dengan menyusun asumsi dasar aturan berfikir yang akan digunakan dalam penelitian. Dalam penjelasannya lebih menekankan pada kekuatan analisis data pada sumber-sumber data yang ada. Sumber-sumber tersebut diperoleh dari berbagai buku-buku dan tulisan-tulisan lain dengan mengandalkan teori yang ada untuk diinterpretasikan secara jelas dan mendalam untuk menghasilkan tesis dan anti tesis.[21] Studi ini mendasarkan kepada studi pustaka (library research), di mana penulis menggunakan penelitian deskriptif dengan lebih menekankan pada kekuatan analisis sumber-sumber dan data-data yang ada dengan mengandalkan teori-teori dan konsep-konsep yang ada untuk diintepretasikan dengan berdasarkan tulisan-tulisan yang mengarah kepada pembahasan.

  1. Sumber Data

Penelitian ini diambil dari beberapa sumber data primer dan skunder. Sumber primer adalah karya asli Paulo Freire yang menjadi objek penelitian, diantaranya:

  1. Freire, Paulo, Pendidikan Kaum Tertindas, Jakarta: LP3ES, 2013.
  2. Freire, Paulo, Pedagogi Pengharapan (Menghayati Kembali Pedagogi Kaum Tertindas), Yogyakarta: Kanisius, 2001.
  3. Preire, Paulo, Pendidikan Sebagai Proses (Surat-menyurat Pedagogis dengan Para Pendidik Guinea-Bissau), Yogyakarta: Pustakapelajar, 2008.

Sementara sumber sekunder yang terdiri dari buku-buku, artikel-artikel yang relevan dengan poko permasalahan, diantaranya:

  1. Muthahhari, Murtadha, Dasar-dasar Epistemologi Pendidikan Islam, Jakarta: Sadra Press, 2011.
  2. Kheradmardi, Husain R, Manajemen Politik(Perspektif Khajeh Nashiruddin Thusi), Jakarta: Sadra Press, 2012.
  3. Vaezi, Ahmed, Agama Politik (Nalar Politik Islam), Jakarta: Citra, 2006.
  4. Muthahhari, Murtadha, Manusia dan Agama (Membumikan Kitab Suci), Bandung: Mizan, 2007.
  5. Mowlana, Hamid, Masyarakat Madani (Konsep, Sejarah dan Agenda Politik), Jakarta: Sadra Pres, 2010.
  6. Kazhim, Musa, The Secret of Your Spiritual DNA ( Mengelola Fitrah Untuk Kesuksesan dan Kemuliaan Hidup), Jakarta: Hikmah, 2007.
  7. Falsafi, Muhammad Taqi, Anak Antara Kekuatan Gen Pendidikan, Bogor: Cahaya, 2003.
  8. Harefa, Andrias, Menjadi Manusia Pembelajar, Jakarta: Kompas, 2000.
  9. Deporter, Bobbi dan Hernacki, Mike, Quantum Learning, Bandung: Mizan, 2003.
  10. Mazhahiri, Husain, Pintar Mendidik Anak, Jakarta: Lentera, 1999.
  11. Karni, Asrori S, Etos Studi Kaum Santri, Bandung: Mizan, 2009.
  12. Fadjar, A. Malik, Holistik Pemikiran Pendidikan, Jakarta: PT. Raja Grafindo, 2005.
  13. Chan, Sam M dan Sam, Tuti T, Analisis SWOT (Kebijakan Pendidikan Era Otonomi Daerah), Jakarta: PT. Raja Grafindo, 2005.
  14. Paedia Group, Silabus Pendidikan Humanistik, Indonesia Publising, 2009.
  15. Bagheri, Khosrow, Islamic Education, Tehran: Al Hoda, 2001.
  16. Safitri, Nurani Galuh, Panduan Manajemen Kerelawanan, Depok: Pita Media, 2005.
  17. Thoha, Miftah, Ilmu Administrasi Negara, Jakarta: PT. Raja Grafindo, 2005.
  18. Agus, Budi dan Syamsudin, M, Hak Kekayaan Intelektual dan Budaya Hukum, Jakarta: PT. Raja Grafindo, 2005.
  19. Koentjaraningrat, Kebudayaan Mentalitas dan Pembangunan, Jakarta: Gramedia, 2004.
  20. Khur, MS Anis Masy, MA, Menakar Modernisasi Pendidikan Pesantren, Parung: Barnea Pustaka, 2010.
  21. Sirozi, M, PolitikPendidikan, Jakarta: PT. Raja Grafindo, 2005.
  22. Sukardi, H.M, Metode Penelitian Pendidikan Tindakan Kelas Implementasi dan Pengembangannya, Jakarta: Bumi Aksara, 2013.
  23. Zuhairi, Filsafat Pendidikan Islam, Jakarta: Bumi Aksara, 2012.
  24. Rahmat, Jalaluddin, Belajar Cerdas, Bandung: MLC, 2005.
  25. Tim (Sumarji, Soehakso, Like dll), Pendidikan Sains yang Humanistik, Yogyakarta: Kanisius, 1998.
  26. Teknik Pengumpulan Data

Dalam penelitian ini, penulis akan melakukan teknik pengumpulan data dengan melakukan penelitian perpustakaan (Library research). Dimana peneliti melakukan serangkaian pengumpulan sumber kepustakaan yang terkait dengan topik penelitian yang dilakukan. Selanjutnya, untuk mengetahui dan memperoleh data yang valid serta aktual, khususnya yang berkaitan dengan pembahasan skripsi ini maka dipandang perlu kiranya penulis mengunakan dan menerapkan beberapa teknik pengumpulan data yang sudah diatur dalam sistematika penulisan penelitian ataupun karya ilmiah. Agar kemudian penulisan ini dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah dan rasional sesuai dengan standar tulisan.

Adapun teknik pengumpulan data yang dimaksudkan dan dikehendaki adalah dengan menggunakan metode dokumentasi. Suharsimi Arikunto berpendapat bahwa: Metode dokumentasi yaitu mencari data mengenai hal-hal atau variabel yang berupa catatan, transkrip buku, surat kabar, majalah, prasasti, metode cepat, legenda dan lain sebaginya.[22]

  1. Teknik Analisis Data

Dalam penelitian ini, setelah data terkumpul langkah selanjutnya adalah pengolahan data menyaring dan mengatur data, kemudian data tersebut disusun, dijelaskan dan di analisa.[23] Hal itu dilakukan demi untuk mendapatkan kongklusi. Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan filosofis dengan metode deskriptif analisis yaitu usaha untuk mengumpulkan dan menyususun suatu data, kemudian dilakukan analisis terhadap data tersebut.[24] Setelah itu penulis juga akan menggunakan metode content analysis atau analisis isi, dimana metodologi ini memanfaatkan seperangkat prosedur untuk menarik kesimpulan yang soheh dari sebuah dokumen. Menurut Hostli bahwa analisis isi adalah teknik apapun yang digunakan untuk menarik kesimpulan melalui usaha untuk menemukan karekteristik pesan, dan dilakukan secara objektif dan sistematis.[25]

Dengan kata lain penelitan ini, menggambarkan secara sistematis konsep yang dikemukakan oleh tokoh dalam penulisan skripsi ini yaitu Paulo Freire. Dengan penjabaran yang teratur dan sistematis sehingga bisa memudahkan pemahaman dalam analisis penulisan ini. Kemudian setelah semua data dan konsep-konsep yang di kemukakan Freire terkumpul mulailah penulis membuat kesimpulan yang soheh berdasarkan dokumen dan data-data yang di dapatkan.

[1] Husain R. Kheradmardi, Manajement Politik (Perspektif Khajeh Nashirudin Thusi), hal. 203

[2] Kabul Budiono, Pendidikan Pancasila (Untuk Perguruan Tinggi), hal. 69

[3] Murtadha Muthahhari, Pengantar Epistemologi, hal. 251

[4] Presiden Republik Indonesia Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 78, Hal. 2

[5] Keadaan penyebaran di suatu daerah yang tidak merata dan hanya dijumpai di sana sini secara tidak tentu; kadang-kadang.

[6] Paulo Freire, Pedagogy of the Oppressed (Pendidikan Kaum Tertindas), hlm. 11

[7] Ibid, hlm. 53

[8] Ibid, hlm. 81

[9] Murtadha Muthahhari, Tarbiatul Islam (Dasar-dasar Epitemologi Pendidikan Islam), hlm. 39

[10] Ahmad Tafsir, Filsafat Umum (Akal dan Hati sejak Thales sampai Capra), hal. 1

[11] Ibid, hal. 9

[12] Sirajuddin Zar, Filsafat Islam: Filosof dan Filsafatnya, hal. 2

[13] Seyyed Hossein Nasr, Ensiklopedi Tematis Filsafat Islam (Cet 1. Bandung: Mizan, 2003), hal 30

[14] Abu Bakar Atjeh, Sejarah Filsafat Islam, hal. 8

[15] Abuddin Nata, Ilmu Kalam (Filsafat dan Tasawuf), hal. 111

[16] C.A. Qadir, Filsafat dan Ilmu Pengetahuan dalam Islam, hal. 8

[17] Paulo Freire, Pendidikan Kaum Tertindas, hal. 53

[18] Ibid, hal. 54

[19] Istilah “penyadaran” ini diartikan sebagai belajar memahami kontradiksi sosial, politik dan ekonomi, serta mengambil tindakan untuk melawan unsur-unsur yang menindas dari realitas tersebut.

[20] Ibid, hlm. xxxi

[21] Soejono dan Abdurrahman, Metode Penelitian Suatu Pemikiran dan Penerapannya, hlm. 25

[22] Sutrisno Hadi, Metode Research I, hlm. 36

[23] Sudarto, Metodologi penelitian filsafat, (Jakarta: Rajawali, 1996), hlm.  64

[24] Winarno Surachman, pengantar Penelitian Ilmiah (dasar, Metode, Teknik), hlm. 139

[25] Lexy J. Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatif, hlm. 6

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s