Sekilas Mengupas Tuntas “Awaridh Adz Dzatiyah”

Sebagai salah satu ilmu pengetahuan dari dunia luar yang kemudian masuk ke dalam lingkungan kebudayaan Islam, mendapat penerimaan secara umum, bahkan – sebagai  pintu masuk – dianggap sebagai salah satu dari ilmu agama, adalah ilmu mantik (Logika). Ilmu mantik ini didapatkan dari berbagai terjemahan karya-karya teks Yunani, pencetus dan penyusun ilmu ini adalah Aristoteles dari Yunani. Ilmu yang satu ini sangat cepat untuk meresap, menyebar, dan bertambah hingga mencapai batas kesempurnaan di kalangan kaum Muslim.

Secara sederhana mantik adalah ‘aturan berfikir benar’, dalam artian hukum serta aturan mantiqi (logis) laksana perangkat yang dengannya kita mengukur argumentasi mengenai topic-topik ilmiah maupun filosofis, sehingga kesimpulan yang kita dapatkan tidak sampai salah. Atau, seringjuga mantik di anggap sebagai, alat berupa undang-undang atau aturan, dan mematuhi serta menjalankannya akan menjaga pikiran dari kesalahan dalam berfikir.

Jika kita perhatikan dengan seksama, jelas bagi kita bahwa keuntungan mantik adalah menjaga pikiran dari kesalahan dalam berfikir; tetapi belum jelas bagai mana mantik menjaga terjadinya kesalahan dalam suatu pemikiran. Karenya kita mesti terlebih dahulu mengetahui makna dari Fikr, dimana fIkr adalah menghubungkan beberapa hal yang diketahui (maklum) untuk menghasilkan maklum baru dengan mengubah hal yang tak diketahui (majhul) menjadi maklum. Namun pada hakikatnya fikr merupakan bergeraknya pikiran, proses berfikir, yang bertolak dari sebuah target majhul menuju serangkaian mukadimah (premis) yang diketahui.

Oleh karenanya, mereka mendefinisikan fikr sebagai, penyusunan maklumat untuk mengubah hal yang tak diketahui, atau merenungi hal yang rasional, untuk menyuling hal yang tidak diketahui. Juga sebagai gerak dari arah dank e arah mukadimaat menuju target.

Pada dasarnya, fikr ialah menyusun maklumaat dan menjadikannya dasar demi menemukan hal baru. Ketika kita mengatakan mantik adalah ‘aturan kerja’ fikr yang benar, dan dari segi lain kita mengatakan bahwa fikr adalah gerak (pikiran) dari mukadimaat menuju hasil (target), maka program kerja mantik adalah menunjukan jalur gerak pikiran yang sebenarnya. Singkatnya kerja mantik adalah mengendalikan gerak pikiran saat berfikir.

Setiap ilmu pasti memiliki subjek (maudhu), dan maudhu setiap ilmu adalah sesuatu yang ilmu tersebut membahas disekitarnya. Setiap pembahasan ilmu tersebut, kalau kita amati, akan terlihat sebagai keterangan mengenai salah satu dari disposisi, kesan, atau hal-hal di sekitar maudhu tersebut. Teks yang digunakan para logikawan dan filsuf untuk mendefinisikan maudhu setiap ilmu adalah, sesuatu yang ilmu tersebut membahas awaridh  dzatiyah-nya (afeksi esensial), atau disebut juga dengan aradh dzati.

Aradh dzati, dapat kita jelaskan secara terperinci. Berawal dari aradh yang dibagi menjadi dua macam; yaitu aradh dzati dan aradh garibah.  Dan yang di maksud dengan aradh dzati adalah arad yang predikatnya secara dzati. Dalam mengenal kedua aradh ini, kita bisa mendapatkannya dengan pernyataan sehari-hari.

Ketika kita menyaksikan sebuah kapal yang berjalan mengapung diatas air, tentu pasti di dalamnya ada seorang nahkoda yang mengatur arah perjalanan kapal tersebut. Dan senantiasa kita katakana bahwa kapal bergerak di air, dan nahkoda kapal pun ikut bergerak karena terbukti dengan bergeraknya kapal tersebut. Begitu juga dengan bergeraknya sebuah mobil, dan kita mengatakan supir itu telah bergerak (berpindah) dari satu kota ke kota lainnya. Karena ketika mobil bergerak secara otomatis supirnya pun ikut bergerak juga karena bergeraknya mobil tersebut.

Dari berbagai persoalan itu, dapat kita simpulkan bahwa gerakan mobil ketika dia bergerak dari satu kota ke kota lain, serta begitu juga dengan gerakan kapal yang mengapung di atas air merupakan dzati, yakni dipredikatkan pada subjek awal dan dzati. Akan tetapi gerakan yang dilakukan oleh nahkoda dan supir yang berbarengan dengan kapal dan mobil merupakan relasi dengan arad dan bukan dzat. Karena keduanya tidak bergerak melainkan kapal dan mobilnyalah yang bergerak.

Dengan demikian, dapat kita katakana bahwa sannya, penetapan sebuah gerakan dengan aradh merupakan sebuah penetapan garibah, dan disebut aradh garibah. Karena, yang pertama bergerak adalah kapal atau mobil kemudian disusul dengan nahkoda atau mobil.

Disisi lain, yang dimaksud dengan aradh dzatiyah, seperti dalam definisinya yang di bawakan oleh Syaik Nashirudin Thusi dalam kitab al-Isharah Wayanbihat, “aradh dzatiyah adalah sesuatu yang diambil dari batasan subyeknya atau diambil subjek dari batasnya”. Singkatnya, aradh dzati adalah aksiden sesuatu bagi dzatnya saja, dan dalam membedakannya yaitu dengan mengabil aradh dari batasan sesuatu itu.

Penjelasan lainnya seperti sebuah proposisi yang menyatakan bahwa manusia adalah hewan yang tertawa. Disini dapat kita katakana bahwasannya aksiden tertawa pada manusia diperantarai dengan adanya proses keta’ajuban. Dalam artian, ketika manusia merasa ta’ajub terhadap sesuatu maka dia pun serentak akan tertawa. Karena itulah manusia diambil dari batasan ta’ajub (kekaguman).

Berangkat dari sana kita bermaksud untuk mendefiniskan ta’ajub “kita menyebutnya sebagai batasanya mantiq,” dan kita mengambil aksidena tersebut dari batasan manusia. Maka ta’ajub adalah manusia dan bukan sesuatu yang lain. Sebagaimana manusia yang ta’ajub diambil dari batasan tertawa, maka ketika kita bermaksud mendefinisikan tertawa, maka kita mengatakan manusia yang tertwa.

Oleh karena itu, kita pun bisa mengatakan bahwa aradh dzati adalah aksiden sesuatu bagi dzatnya sendiri. Dan subyek yang diambilnya adalah dari batasanya. Oleh sebab itu, dikatakan bahwa makna aradh dzati adalah apa yang diambil dari batasannya subyek. Sebagaimana yang dikatakan secara popular, bahwa arad dzati adalah sesuatu yang diambil dari batasannya subyek.

Seperti tertawa adalah aradh dzati dengan dinisbatkan pada manusia. Tertawa diambil dari batasannya  manusia. Maka dari itu tertawa adalah merupakan manusia yang telah melewati proses ta’ajub. Atau bisa dikatakan juga “sesuatu yang diambilnya adalah dari batasanya subyek.

Kembali pada permasalahan maudhu, bahwa suatu hal yang jelas jika hubungan antara permasalahan-permasalahan suatu ilmu tidak selalu serupa. Satu kelompok permasalahan seperti satu keluarga, kelompok lainjuga seperti kelompok lain. Sekelompok keluarga mewujudkan sebuah marga, dan kelompok lain mewujudkan marga lain. Dengan demikian, jelaslah bahwa antara permasalahan-permasalahan suatu ilmu memang terdapat  hubungan-hubungan tertentu.

Hal yang paling mendasar bagi permasalahan tersebut, menghasilkan dua pandangan yaitu; pertama, masalah-masalah suatu ilmu pada akhirnya membahas sekitar hakikat tertentu. Kedua, hubungan masalah-masalah suatu ilmu disebabkan kesan dan keuntungan yang dihasilkan dari mereka.

Namun pada akhirnya, pandangan yang kedua ini tidak benar. Karena, sekumpulan masalah yang mendapat kesatuan dari kesamaan mereka pada kesan, keuntungan, dan tujuan, tak lain disebabkan keserupaan esensial di antara mereka. Dan keserupaan esensial ini pasti berdasarkan satuan maudhu’,  yang telah dibahas awaridh dzatiah-nya.

Dengan demikian, cukup kita ketahui bahwa dalam setiap disiplin ilmu, kedua proses tersebut secara keseluruhan pasti berlangsung; namun sebagian hal di definisikan, dan diberikan argumentasi untuk serangkaian  hukum. Dan setiap kerancuannya pun, senantiasa dijawab oleh awaridh dzaiyah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s