Sekilas Mengupas Tafsir Surah _ Al A’la

Berawal dari usaha untuk menguji dan menganalisa bagaimana Mulla Sadra menuangkan prinsip-prinsip filsafatnya ke dalam framework teologi atau pun kitab suci. Tulisan ini diharap bisa menjadi suatu upaya untuk membuktikan akan adanya keselarasan antara prinsip-prinsip filsafat Hikmah Mutaʿaliyah dengan wahyu. Sebagai mana penjelasan yang dibawakan oleh Dr. Abdul Aziz Abaci bahwa aspek-aspek penting filsafat Hikmah Mutaʿaliyah Mulla Sadra dengan beberapa karya komentarnya atas Al Quran, khususnya Surah Al Aʿla. Pada tafsir ini permasalahan fondasi penting agama (uṣuluddīn) seperti ketuhanan, kenabian dan ma’ād bertemu dengan klaim-klaim filosofis dan dapat diidentifikasi secara jelas.

Dan dalam tafsir surah Al A’la ini diawali dengan ‘tasbīh’ (sebuah deklarasi atas transendensi dan pemujaan atas kesucian Tuhan), dan setiap ‘tasbih’ dikhususkan untuk satu atau beberapa kumpulan ayat Al Quran. Walaupun tafsir ini memaparkan beragam pokok persoalan terkait prinsip-prinsip pokok agama, tapi keseluruhan tema tersebut tetap diulas disini dalam kesatuan tema pokok, yakni tentang ‘tasbīh’. Tasbih itu sendiri terdiri dari beberapa bagian, diantaranya; tasbih fi’li, qauli dan hali. Tasbih fi’li dalam artian setiap segala perbuatan haruslah brdasarkan pada hakikat kebenaran yang sebenarnya, yang tidak lain adalah setiap tindakan hadir dengan fitrahnya yang sesuai dengan penciptanya. Sementara tasbih qauli berarti, segala sesuatu itu hendaklah di awal dengan ucapan bismillah dan di akhiri oleh Alhamdulillah. Kemudian tasbih hali berarti meniscayakan bahwa kita senantiasa menyadari bahwa diri ini adalah sebagai manifestasi dari nama-nama yang mulia.

Dalam ketiga ranah tasbih tersebut, kita bisa dapatkan dua kriteria yang dapat mengaflikasikannya yaitu dalam ranah mencapai dan mendapat. Dalam artian, mencapai berarti dalam memperolehnya haruslah dengan usaha untuk dapat menjadi sesuatu yang di inginkan itu. Sementara, mendapat berarti kesanggupan atau kemampuan  dalam memperoleh sesuatu yang kita harapkan tersebut. Karena itu pulalah, tasbih mengindikasikan seoarang subjek harus memiliki ilmu yang berbicara dalam keuniversalan sesuatu dan ma’rifah yang berbicara mengenai kepartikularan sesuatu.

Pembahasan selanjutnya, yaitu berkaitan dengan Tasbih pertama dan kedua dalam Tafsīr Surah Al Aʿlā menjelaskan argumentasi atas kesucian Dzat Tuhan dan sifat imaterialitas-Nya berlandaskan pada wujud makhluk (hewan dan tumbuh-tumbuhan), hikmah dibalik penciptaan dan kondisi-kondisi natural lainnya. Selanjutnya pada tasbih ke-tiga, Sadra memaparkan beberapa burhān atas kesucian Dzat dan Sifat Tuhan dari segala macam cacat dan kekurangan dengan media penetapan fungsi kenabian. Ada 3 tujuan utama yang menjadi inti pembahasan, yakni; pertama tentang esensi, sifat dan substansi Nabi sebagai realitas Insan Kamil. Kedua, berkaitan dengan tugas dan fungsi kenabian Ketiga, kondisi manusia terkait dengan kanabian dan insan kamil sebagai manifestasi sempurna nama-nama Tuhan.

Pada bab-bab selanjutnya Sadra mengulas tentang isu-isu eskatologi, keadaan jiwa manusia paska kematian, penetapan segala urusan kebangkitan dan penggolongan manusia dan jaza’ sesuai dengan ilmu dan amal masing-masing.

Selain argumentasi filosofis, prinsip-prinsip filsafatnya juga bisa dilihat walaupun prinsip-prinsip yang utama dari filsafat Hikmah Mutaʿaliyah Sadra seperti aṣalatul wujud, tasykik al wujud dan harakah jauhariyah tidak tampak secara eksplisit. Prinsip kausalitas dan qaidah al imkan al asyraf mendominasi seluruh argumentasi Sadra tentang Ketuhanan. Sedangkan ittihat ilm, alim wa ma’lum, al nafs jismaniatul hudust wa ruhaniatul baqa’ dan aktualisasi antara ‘aql naẓari dan ‘aql amali bisa diidentifikasi dalam ulasan Sadra tentang kenabian dan eskatologi.

Yang menjadi perhatian penting lainnya ketika menela’ah tafsir ini adalah argumentasi-argumentasi yang bersifat teologis dan mistik masih tercampur di dalamnya. Argumentasi yang bersifat filosofis mendominasi seluruh uraian dalam tafsir ini, tapi Sadra juga mewarnainya dengan burhan mistik dan penyingkapan mukasyafahnya. Pada beberapa pembahasan, Sadra hanya mengulas secara singkat karena ulasan-ulasan terkait kaidah-kaidah penting memerlukan ruang yang lebih luas dan mendalam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s