Akal dan Jiwa

Demi mencapai kesempurnaannya, manusia akan berusaha mengaktualitaskan akalnya. Dimana akal adalah lawan dari jahl (kebodohan atau kejahilan). Dalam segala tahapnya kedua poin ini berlawanan dalam ranah ontologis, epistemologis, dan aksiologis. Meskipun kejahilan mempunyai semacam eksistensi subyektif dan reflektif, tetapi ia tidak memberikan efek-efek obyektif dan aktual. Bahkan Akal praktis dalam lisan Imam Shadiq As merupakan sentral penghambaan manusia dan modal dasar untuk meraih surga. “Al-Aql ma ‘ubida bihi al-rahman wa uktusiba bihi al-jinân.[1]

Allamah Majlisi dalam kitab Mir’at al-‘Uqul menyatakan bahwa ’aql (akal) secara bahasa berarti pengikatan dan pemahaman terhadap sesuatu. Secara istilah, akal digunakan untuk menunjukkan salah satu definisi berikut ini:

  1. Kemampuan untuk mengetahui sesuatu.
  2. Kemampuan memilah-milah antara kebaikan dan keburukan yang niscaya juga dapat digunakan untuk mengetahui hal-ihwal yang mengakibatkannya dan sarana-sarana yang dapat mencegah terjadinya masing-masing dari keduanya.
  3. Kemampuan dan keadaan (halah) dalam jiwa manusia yang mengajak kepada kebaikan dan keuntungan dan menjauhi kejelekan dan kerugian.
  4. Kemampuan yang bisa mengatur perkara-perkara kehidupan manusia. Jika ia sejalan dengan hukum dan dipergunakan untuk hal-hal yang dianggap baik oleh syariat, maka itu adalah akal budi. Namun, manakala ia menjadi sesuatu yang mbalelo dan menentang syariat, maka ia disebut nakra` atau syaithanah.
  5. Akal juga dapat dipakai untuk menyebut tingkat kesiapan dan potensialitas jiwa dalam menerima konsep-konsep universal. An-nafs an-nathiqah (jiwa rasional yang dipergunakan untuk menalar) yang membedakan manusia dari binatang lainnya.
  6. Dalam bahasa filsafat, akal merujuk kepada substansi azali yang tidak bersentuhan dengan alam material, baik secara esensial (dzaty) maupun aktual (fi’ly).

Penjelasan definisi-definisi yang dilakukan oleh Allamah Majlisi di atas mengandung ketumpang tindihan terminologis. Bahkan menurut Musa Kazhim, M.Si, kita bisa mendapatkan persamaan makna pada tiap-tiap definisi yang diberikan. Seperti kita bisa mengatakan adanya keidentikan dari definisi kesatu, kedua, dan ketiga meski dari sudut pandang yang berbeda. Definisi kelima berupaya mengembalikan makna akal sebagai suatu potensi pencerapan yang bersifat pasif. Definisi keenam memandang akal dari sisi penalarannya yang bersifat aktif. Dan definisi ketujuh, agak berbeda dari yang sebelumnya, memandang akal dari perspektif ontologisnya. Namun definisi-definisi ini tidak dapat dipertentangkan.

Mulla Shadra mensyarahi hadis yang sama dengan memaknai aql di sini sebagai kepribadian Nabi Muhammad Saw. Karena Mulla Shadra memandang semua sifat yang diberikan Allah kepada akal itu identik dengan sifat-sifat Nabi Muhammad Saw, yang berupa:

  1. Dalam hadis ini digambarkan bahwa Allah mengajak akal “berbicara”. Dan ini sama halnya dengan Allah mengajak Nabi berbicara dalam perjalanan Mikraj beliau.
  2. Hadis ini menegaskan ketaatan akal kepada Allah. Ketaatan Nabi kepada Allah itu bersifat aksiomatis.
  3. Dalam hadis di atas Allah menandaskan kecintaan-Nya yang luar biasa kepada akal. Dalil-dalil rasional dan riwa`iy (riwayat) menegaskan bahwa Nabi adalah makhluk yang paling dicintai Allah.
  4. Keimanan terhadap wujud Nabi atau kepada kenabian beliau ialah syarat mutlak kesempurnaan tauhid. Dan kesempurnaan tauhid adalah anugerah agung dan luas yang tidak Allah berikan kecuali kepada para kekasih-Nya.
  5. Dan sifat terakhir yang tercantum di dalam hadis ini adalah bahwa kepada akal-lah Allah menyuruh, melarang, menyiksa, dan memberi pahala. Allah berfirman dalam surat Ali’ Imran ayat 81, yang artinya:

“(Ingatlah) ketika Allah mengambil janji para nabi (yaitu), sungguh apa yang Aku datangkan kepada kalian berupa kitab dan hikmah. Kemudian, datanglah kepada kalian utusan yang membenarkan apa yang ada pada kalian dan berkata, ‘Hendaklah kalian beriman kepadanya dan menolongnya.[2]’ Allah berkata, ‘Adakah kalian akui dan ambil janji-Ku itu!’ Mereka menjawab, ‘Kami mengakuinya.’ Berkata Allah, ‘Bersaksilah! Sesungguhnya Aku beserta kalian akan menjadi saksi.’” (QS Ali’ Imran, 3:81).

Jelas bahwa kepada Nabi Muhammad Saw. Allah memberi perintah dan larangan dan karena beliau pulalah Allah menurunkan pahala dan siksa.[3] Disisi lain dengan pandangan yang berbeda, Allamah Thabathaba’I menjelaskan dalam karyanya yaitu Tafsir Al-Mizan, Ia mengatakan, dengan menyebut hadis yang termashur, bahwa akal adalah sesuatu yang dengannya Allah di sembah. Dengan kata lain, akal adalah lentera yang dengannya seseorang dapat mengenali “Wajah“ Allah. Pernyataan ini mengindikasikan bahwasannya peran akal itu sama dengan peran yang dibawa oleh Nabi.[4] Dan pendapat ini tidak jelas sama dengan pendapat Mulla Shadra yang mengatakan bahwa akal itu identik dengan Nabi Muhammad Saw.

Dari sudut yang berbeda, dapat kita katakan bahwa akal adalah manifestasi dan petunjuk internal dari keberadaan Nabi. Muhammad adalah inti wujud segenap nabi dan senjata pamungkas kerasulan. Bagaimanapun juga, manifestasi mesti mencerminkan obyek dasarnya. Dengan demikian, semua ucapan, amalan, dan penegasan Nabi Muhammad Saw. pasti bersifat rasional. Lebih jauh, Nabi Muhammad Saw. adalah kriteria rasionalitas dan irasionalitas segala sesuatu.

Dan Alquran yang merupakan tajally yang paling sempurna dari haqiqah muhammadiyyah (hakikat ke-Muhammad-an) dapat pula memainkan peran yang sama. Inilah metode penggabungan sisi intelektual, rasional, dan teoretis manusia atau masyarakat dengan sisi individual, sosial, dan praktisnya dalam pandangan-dunia Islam. Pandangan-dunia Islam menggunakan metode ini untuk membangun infrastruktur (rasio), struktur (masyarakat), dan suprastruktur (pemerintahan) sosial kemasyarakatan.

Selain akal, dalam diri manusia terdapat jiwa yang menjadi salah satu tolak ukur kesempurnaan seseorng. Berbicara tentang jiwa maka tidak akan lepas dari yang namanya psikologi, dimana psikologi dikenal sebagai ilmu dalam mempelajari prilaku atau tingkah laku manusia. Psikologi merupakan ilmu yang mempelajari manusia yang begitu rumit untuk di pecahkan. Dalam al-Qur’an, sekurang-kurangnya ada sebelas istilah kunci yang digunakan al-Qur’an untuk menjelaskan manusia. Kesebelas istilah itu adalah:

البشر, الانس, الإنسان, الانس, الناس, بنى ادم, النفس, العقل, القلب, الروح,   الفطر

masing- masing istilah memiliki makna yang berbeda.[5] Al-Qur’an menyebut nafs dalam bentuk-bentuk kata jadian تنفّس, يتنافس, متنافسون, نفس, نفوس, انفس.. dalam bentuk mufrad, nafs disebut 77 kali tanpa idhafah dan 65 kali dalam bentuk idhafah. Dalam bentuk jamak nufus disebut 2 kali, sedang dalam bentuk jamak anfus disebut 158 kali. Sedangkan kata tanaffasa-yatanaffasu dan al-mutanaffisun masing-masing hanya disebut satu kali.[6]

Dalam bahasa Arab, nafs mempunyai banyak arti, dan salah satunya adalah jiwa. Oleh karena itu, ilmu jiwa dalam bahasa Arab disebut dengan nama Ilmu an-Nafs dalam arti jiwa telah dibicarakan para ahli sejak kurun waktu yang sangat lama. Dan persoalan nafs telah dibahas dalam kajian filsafat, psikologi, dan juga ilmu tasawwuf.

Dalam filsafat, pengertian jiwa diklasifikasi dengan bermacam-macam teori, antara lain:

  1. Teori yang memandang bahwa jiwa itu merupakan subtansi yang berjenis khusus, yang dilawankan dengan subtansi materi, sehingga manusia dipandang memiliki jiwa dan raga.
  2. Teori yang memandang bahwa jiwa itu merupakan suatu jenis kemampuan, yakni semacam pelaku atau pengaruh dalam kegiatan-kegiatan.
  3. Teori yang memandang jiwa semata-mata sebagai sejenis proses yang tampak pada organism-organisme hidup.
  4. Teori yang menyamakan pengertian jiwa dengan pengertian tingkah laku.[7]

Berdasrkan pola tingkah laku seseorang, tiga komponen psikologis yaitu kognisi, afeksi, dan konasi yang bekerja secara kompleks merupakan bagian yang menentukan sikap seseorangterhadap suatu objek, baik yang berbentuk konkret maupun objek yang abstrak. Komponen kognisi akan menjawab tentang apa yang dipikirkan atau dipersepsikan tentang objek. Komponen afeksi dikaitkan dengan apa yang dirasakan terhadap objek (senang atau tidak senang). Sedangkan, komponen konasi berhubungan dengan kesedian atau kesiapan untuk bertindak terhadap objek.[8]

[1] Kulaini, Ushûl al-Kâfi, jil. 1, hal. 11, hadis ke-3

[2] Para Nabi berjanji kepada Allah s.w.t. bahwa bilamana datang seorang Rasul bernama Muhammad mereka akan iman kepadanya dan menolongnya. Perjanjian nabi-nabi ini mengikat pula Para ummatnya.

[3] Mulla shadra, Syarh ushul al kafi, kitab al aql wa al jahl, haditsh pertama.

[4] Allamah Thabatabai, tafsir al mizan, surah al baqarah ayat. 130

[5] Baharuddin, Paradigma Psikologi Islam, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2004, hlm. 2.

[6] Achmad Mubarok, Jiwa dalam Al-Qur’an, Jakarta: Paramadina, 2000, hlm. 42-43.

[7] Achmad Mubarok, Jiwa dalam Al-Qur’an, Jakarta: Paramadina, 2000, hlm. 25-26

[8] Jalaluddin, Psikologi Agama, Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2010, hlm. 260.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s